"Hari ini kau ada waktu luang, Uchiha-san?"
Sasuke tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berbicara padanya saat ini, "aku ada urusan dengan istriku"
"Oh" Shimura-san terdengar kecewa, " bagaimana jika..."
"Tidak"sela Sasuke melirik kearah Shimura-san, "jangan menganggu kami" dengan aura tidak bersahabatnya.
"Ah, begitu ya? Baiklah. Selamat bersenang-senang kalau begitu. Hmm.. sampaikan salamku kepada istrimu ya" dan Shimura-san buru-buru kabur.
Sasuke menggelengkan kepalanya. Shimura-san memang menyebalkan namun pria berkulit pucat itu sangat baik padanya. Pria itu banyak membantu dirinya saat baru tiba disini dan sangat perhatian pada Hinata.
Sasuke sempat curiga pada pria ini tapi lama-lama kecurigaan itu hilang.
Pukul lima, Sasuke sudah menyelesaikan pekerjaannya dan siap pulang. Dipakainya syal buatan Hinata, yang dibuat istrinya di sela waktu. Syal berwarna merah yang cocok di pakai di saat memasuki musim gugur yang berangin dan hujan yang selalu muncul.
Dia akan menjemput Hinata di halte bus dekat pusat kota. Mereka sepakat bertemu disana, setelah perdebatan panjang semalaman karena Sasuke bersikeras menjemput istrinya dari rumah tapi Hinata tidak ingin menyusahkan suaminya itu, jadi... Mereka sepakat bertemu di titik tengah.
Sasuke turun dari bus yang ditumpanginya lalu berjalan sedikit menjauh. Merogoh kantong coat hitamnya dan meraih handphone, mendiall nomor istrinya.
"Moshi-moshi..." Terdengar suara dari seberang setelah beberapa lama.
"Aku sudah di halte bus. Kau dimana?"tanya Sasuke sembari mundur ke belakang, memberi jalan pada orang-orang.
"Aku..."
"Hinata, kau dimana?"
"Hmm... Aku ada di tempat penjual dango dekat halte bus"
"Hn. Aku kesana"
Sasuke menaruh kembali handphonenya ke dalam kantong coat dan berjalan menuju tempat penjual dango yang kebetulan sering didatangi Hinata jika ada kesempatan ke pusat kota Konoha.
Netra hitam Sasuke sudah melihat Hinata yang sedang berbincang dengan pemilik dari tempat menjual dango tersebut. Tawa dan senyuman Hinata begitu lebar dan manis. Membuat Sasuke menghentikan langkahnya sebentar, menikmati pemandangan yang menurutnya indah.
Rambut panjang Hinata dibiarkan terurai. Wajahnya yang bulat tampak alami tanpa makeup apapun. Badannya yang sudah membesar terutama di bagian perut malah terlihat menggemaskan di mata Sasuke.
Sayangnya... Sasuke harus sadar bahwa kenyataan diantara mereka terlalu pahit untuk dijadikan harapan yang ingin diungkapkan oleh hatinya.
Menghela napas, Sasuke melanjutkan langkahnya, mendekati Hinata dan paman penjual dango, " selamat malam, paman"sapanya pada si paman penjual dango
"Oh, selamat malam, Sasuke-san"sapa balik paman penjual dango, " aku senang melihat kalian dalam keadaan baik-baik saja. Istriku sangat berharap bertemu kalian"
"Sampaikan salam kami pada bibi, paman"kata Hinata tersenyum lembut.
Setelah bincang sebentar, mereka mohon diri. Sasuke berjalan lebih dulu sementara Hinata di belakang. Jalanan kota Konoha di malam hari sedikit dipadati manusia.
Tanpa disadari oleh Sasuke, jaraknya dan Hinata semakin menjauh. Kakinya terus melangkah, melewati orang-orang asing yang entah bagaimana kebanyakan merupakan sepasang kekasih. Melihat hal ini, pikiran Sasuke mengawang ke angkasa. Mengingat masa lalunya yang manis bersama mantannya yang egois.
Kenapa pula dirinya harus memikirkan hal itu sekarang? Masa lalu adalah masa lalu. Dia sudah berjanji akan menjalani hidup dengan baik saat ini. Hidup bersama Hinata dan anak mereka nanti.
Omong-omong, kenapa Hinata tidak bersuara ya?
Sasuke berbalik dan terkejut karena tidak melihat Hinata di belakangnya. Sempat panik dan hendak mengejar Hinata yang mungkin saja mampir ke toko lain, ketika dirinya melihat wanita itu berjalan kearahnya sambil tersenyum lembut.
Tangan Hinata yang tidak memegang tas, terletak di perutnya yang buncit dan pandangan matanya mengarah kemana-mana.
Sasuke memutuskan mendekati Hinata yang sekarang sedang tertawa kecil, "ada apa?"tanyanya
Hinata terlihat terkejut lalu wajahnya memerah, " ah, gomen, Sasuke-san... Aku pasti membuatmu khawatir lagi. Maafkan aku"
Sasuke tidak mengatakan apa-apa. Dia mengerti bahwa saat ini Hinata mulai susah saat berjalan dan wanita ini paling senang diajak berjalan-jalan. Kebosanan dirumah yang mereka tempati membuat Hinata bahagia jika Sasuke mengajaknya keluar.
Sasuke meraih tangan Hinata yang bebas lalu menarik lembut wanita yang berstatus sebagai istrinya, "jangan buang-buang waktu"ucapnya sembari meremas lembut tangan istrinya.
Hinata tidak merespon apa-apa selain menunduk malu.
Hari ini adalah hari pernikahannya.
Hinata masih duduk di depan meja rias, melihat pantulan dirinya yang tampak cantik dengan dress simple berwarna gading.
Kedua tangannya terkepal kuat di atas kedua pahanya. Menahan mati-matian segala gejolak emosi yang berperang di hati dan pikirannya.
Pintu kamarnya diketuk dari luar dan tak perlu repot-repot bertanya karena yang mengetuk adalah Uchiha Sasuke, calon suaminya.
Keputusannya sudah bulat.
Upacara pernikahan mereka berlangsung secara sederhana. Hanya seorang pendeta dan sepasang pengantin yang wajahnya tidak terlihat bahagia.
Sebelum pulang, pendeta memberi pesan kepada mereka " pernikahan bukanlah perkara main-main. Di dunia ini tidak ada orang yang cocok, melainkan adanya toleransi diantara dua orang manusia. Kudoakan yang terbaik untuk kalian dan keturunan kalian nanti"
Hinata mengemas pakaian sekembali dari kuil. Dengan keputusan bersama, mereka memilih pindah dari Tokyo ke sebuah kota kecil bernama Konoha. Kata Sasuke, leluhurnya berasal dari sana dan mereka akan menetap disana sementara waktu.
"Apa kau sudah siap, Hinata-san?"tanya Sasuke yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Umm"
Perjalanan ke Konoha ditempuh dengan kereta. Sepanjang perjalanan, dua insan yang punya sifat pendiam ini,tidak berbicara sama sekali. Sibuk dengan urusan masing-masing.
Hinata memperhatikan pemandangan di luar dengan pikiran yang sibuk. Saat ini dirinya sudah berubah status. Dari seorang gadis single menjadi seorang istri dan ibu dalam beberapa bulan. Kalau dipikir-pikir sangat aneh takdir yang mengikatnya.
Matanya bergulir kearah Sasuke yang duduk di hadapannya. Pria yang menjadi suaminya ini, sedang membaca buku dengan serius.
Memang aneh.
Dulunya mereka rekan kerja, sekarang suami istri.
Kereta yang membawa keduanya berhenti di stasiun Konoha. Hinata turun dari peron kereta dan menatap langit biru cerah yang menyambutnya.
Ah, langit ini akan menjadi temannya.
Sasuke menghentikan sebuah taksi ketika diluar. Mereka masuk ke dalam taksi dan suasana hening kembali menguar.
Hinata kembali melihat keluar. Melihat kota Konoha yang mirip seperti kota Tokyo. Bangunan tinggi ada dimana-mana dan sepertinya kehidupan orang-orang disini sama seperti di Tokyo.
Taksi keduanya membelah kota Konoha, naik ke atas dan berhenti di sebuah daerah pinggiran kota yang asri. Hinata turun dari taksi sementara Sasuke mengeluarkan isi bagasi.
Matanya memantulkan lingkungan baru yang akan dihuninya. Suara bergemuruh terdengar dari dalam dirinya. Kalau mau jujur, Hinata juga mendambakan kehidupan baru, dimana dirinya pergi ke sebuah kota, menggunakan identitas baru dan hidup damai disana, tanpa ada seorang pun yang mengenal dirinya.
Kehidupan yang mungkin saja sempurna.
"Maaf, aku lama"
Sasuke mencoba mengatur napasnya sembari mengucapkan kalimat tersebut. Hinata, istrinya, menyahut dengan senyuman. Seakan-akan maklum dengan tindakannya.
"Apa kau sudah memilih ingin membeli yang mana?"tanya Sasuke lagi mencoba mencairkan suasana.
"Belum"jawab Hinata sambil menggelengkan kepalanya, "ano... Kenapa kita tidak membeli ini di pasar tradisional saja? Disana barangnya bagus-bagus"
Sasuke menghela napas. Menurutnya, Hinata ini aneh, " apa kau tidak suka barang-barang disini? Kita pindah toko saja"
"Ah, bukan begitu. Hanya saja aku merasa kita..." Kata-kata Hinata hilang setelah Sasuke mengeluarkan decihan.
Suasana diantara mereka langsung berubah tegang. Sasuke menyadari decihannya tadi diartikan lain oleh istrinya. Dirinya berniat menjelaskan namun melihat bagaimana kondisi Hinata saat ini, diurungkannya.
Sasuke menarik napas lalu meraih tangan Hinata, " Ayo, kita keluar dari sini"ajaknya
Hinata menurut.
Setelahnya mereka keluar masuk toko, mencari keperluan calon anak mereka dan pulang menggunakan taksi. Sasuke melirik Hinata yang kelihatan lelah. Dirinya juga lelah. Semestinya mereka belanja saat Hari libur saja.
Ketika tiba dirumah, menaruh semua barang-barang yang mereka beli di ruang tengah, keduanya bergerak langsung ke kamar tidur. Berbaring bersama.
Sasuke masih terjaga.
Hitungan hari, dirinya akan menjadi seorang ayah. Tanggung jawab baru dan pastinya lebih berat. Pikirannya berkecamuk. Apa dirinya sanggup? Saat ini saja rasanya berat. Pergi ke tempat asing dan hidup bersama orang asing.
Tapi dirinya sudah memilih jalan ini. Tak ada kata mundur baginya.
Sasuke berpaling pada Hinata yang sudah lebih dahulu pergi ke alam mimpi. Istrinya. Orang yang akan menemaninya sepanjang usia. Sasuke tidak tahu bagaimana takdir mereka ke depannya, tapi yang diyakininya Hinata adalah pilihan Kami-sama untuknya.
Ya.
Semua akan baik-baik saja jika Hinata ada disampingnya.
Malam itu, kehangatan lain muncul di hati Sasuke saat dirinya memeluk Hinata.
Tbc.
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Salam super,
Ken
