Shimura-san ingin datang kesini?"ulang Hinata setelah Sasuke mengatakan berita ini saat sarapan pagi, "kenapa?"
"Tidak tahu"jawab Sasuke kelihatan kesal. Suaminya itu sudah rapi dengan pakaian kantornya, berupa kemeja biru langit dan celana kain berwarna biru tua, " dia memaksaku terus menerus sampai rasanya kepalaku mau meledak"
Hinata tertawa kecil. Dirinya mengenal Shimura-san. Si pria pucat yang suka tersenyum dan ramah. Teman kantor yang suka diceritakan oleh Sasuke setiap malam sebelum mereka tidur.
"Oh ya dia bilang akan mengajak kekasihnya kesini juga"tambah Sasuke yang membuat Hinata mulai berpikir akan memasak apa bagi kedua tamunya.
"Aku pergi"pamit Sasuke setelah memberi elusan pada perut Hinata.
"Hati-hati"sahut Hinata sembari melambaikan tangan kepada Sasuke yang mulai berjalan menjauh.
Karena suaminya sudah pergi, Hinata langsung ke dapur dan memeriksa kulkas, melihat bahan makanan yang ada. Dirinya sudah menetapkan memasak apa saja dan untungnya semua bahan yang diperlukan masih ada.
Dirinya akan menunjukkan kebolehannya dalam memasak dengan menyiapkan makanan yang pastinya mengugah selera dan enak.
Oh ya dia juga harus menata ruang tamu rumahnya yang terlihat suram karena jarang dipakai. Mereka jarang kedatangan tamu karena keduanya sama-sama pribadi tertutup.
Makanya, Hinata merasa bersemangat sekali bisa menerima tamu dirumahnya. Akhirnya, dia bisa merasakan peranan tuan rumah yang diinginkannya.
Menyibukkan diri dari pagi sampai sore, Hinata merasa harus mandi dan berpakaian rapi untuk menyambut tamunya. Dia memilih dress berwarna biru muda sebagai pakaiannya.
Pukul enam, Hinata menunggu dengan perasaan campur aduk. Selain bersemangat dan gugup, sebenarnya ada perasaan lain yang hinggap di hatinya. Dia mengenal perasaan ini. Sepertinya akan terjadi sesuatu dan berhubungan dengan Shimura-san.
Tapi apa? Semoga saja bukan kejadian buruk.
Pintu rumahnya terdengar dibuka. Hinata buru-buru bangun dari kursinya, berjalan dengan hati-hati ke depan dan melihat suaminya masuk ke dalam.
"Tadaima"salam Sasuke saat melihat dirinya.
"Okae-"
"Keluargamu. Bagaimana dengan keluargamu?"tanya Sasuke saat keduanya duduk di bangku taman dekat apato milik Hinata.
Hinata sudah mengundurkan diri dari kantor dua hari yang lalu sementara Sasuke baru saja mengundurkan dirinya. Keputusan mereka untuk pindah dari Tokyo dan membangun kehidupan baru sudah bulat.
Sasuke memang sering datang ke apato Hinata. Sekedar memastikan kondisi wanita yang sedang mengandung anaknya.
Hinata diam seribu bahasa.
Sasuke mengerti. Banyak gossip yang beredar mengenai Hinata di kantor mereka termasuk anak yatim piatu. Tapi Sasuke ingin mendengar sendiri dari mulut wanita bersurai indigo ini.
"Kita akan menikah. Aku ingin bertemu orang tuamu, meminta restu..."
"Orang tuaku sudah lama meninggal"sela Hinata dengan suara pelan.
Sasuke diam.
Langit malam menjadi penonton bagaimana dua anak manusia yang akan terikat benang takdir, saling diam dan tenggelam pada diri masing-masing.
Yah, kalau orang tua Hinata memang sudah tidak ada, berarti Sasuke cukup beruntung. Tidak ada makian atau pukulan yang diterimanya karena menghamili anak gadis dari orang tua yang menyayanginya.
"Uchiha-san..."
Sasuke mengangkat pandangannya dan matanya bertemu dengan mata Hinata, "hn?"
"Apa kau yakin... Mau menikahiku?"tanya Hinata yang membuat Sasuke tertegun. Bukan karena pertanyaannya tapi ekspresi dan sorot mata Hinata yang terlihat sakit dan terluka.
Rasanya ada luka menganga yang terlihat sekilas di depan matanya. Sasuke merasakan perasaan sedih yang teramat sangat hanya karena melihat mata amesthy milik Hinata.
"Ya. Aku yakin"jawab Sasuke tanpa keraguan.
Hinata terlihat terkejut sebentar namun akhirnya wanita itu tersenyum, "hmm.. arigatou"
Suasana rumah Sasuke terasa berat. Dua pria sedang duduk di meja makan, berhadapan, ditemani ocha hangat. Mereka tidak bicara. Hanya diam dengan pikiran yang sibuk.
"Aku..." Shimura-san membuka suara setelah mereka lama diam. Pria pucat itu terkekeh kering, " bagaimana bisa, Uchiha-san? Hanabi... Adalah adik istrimu?"
Sasuke merespon dengan diam. Dia merasakan hal yang sama seperti rekan kerjanya itu. Masih segar di ingatannya bagaimana tadi reaksi Hinata saat melihat kekasih Shimura-san datang.
Hinata terlihat tegang. Istrinya bahkan tidak berbicara apa-apa saat Hanabi menghampiri dan memeluknya sambil menangis.
Keduanya meminta waktu sebentar untuk berbicara. Hanya berdua.
"Hanabi pernah bercerita padaku mengenai kakaknya"Shimura-san membuka suara lagi, " kehidupan kecil Hanabi dan kakaknya sangat keras. Orang tua mereka menikah bukan atas dasar cinta dan mereka saling membenci satu sama lain. Mereka sering bertengkar dan kakak Hanabi selalu melindungi dirinya. Sampai akhirnya, karena kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, Hanabi dan sang kakak terpaksa diurus secara terpisah. Keduanya hilang komunikasi semenjak saat itu"
Sasuke mendengarkan dengan seksama dan mulai mengerti apa yang dialami oleh istrinya.
"Tapi kalau kulihat mereka sangat mirip, bukan?"
"Hn"
Berdiam diri sejenak, Hanabi muncul. Gadis berambut coklat dan mata yang mirip Hinata, masuk ke dapur dengan wajah kusut. Terlihat jelas gadis ini sehabis menangis hebat karena matanya masih berair dan jejak air mata di kedua pipinya belum kering.
"Hana-chan!"seru Shimura-san terkejut melihat kekasihnya. Dia bangun, menghampiri Hanabi dan memeluknya, "ada apa sayangku? Katakan sesuatu padaku"
Hanabi tidak mengatakan apa-apa selain kembali sesengukan. Gadis itu melap air matanya lalu berpaling pada Sasuke, " Sasu-nii.. aku titip neesan padamu"
Keduanya pulang setelah Hanabi mengucapkan hal itu. Sasuke mengantarkan kepergian mereka lalu masuk ke dalam. Dia membereskan makanan yang ada di meja makan dan naik ke kamar tidur.
Saat masuk, dia melihat Hinata duduk di pinggiran tempat tidur. Dia menghampiri istrinya dan duduk di sebelah.
Keheningan meliputi pasangan suami istri itu.
Sasuke melirik kearah Hinata dan melihat bahwa istrinya itu terus mengalirkan air matanya dalam diam.
Saat seperti ini, Sasuke merutuki dirinya yang tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghibur atau menenangkan. Ini salah satu kelemahannya.
Ah, sial.
"Hana-chan..." Suara pelan Hinata terdengar, "tumbuh dengan baik. Aku senang melihatnya. Dia menjadi gadis baik dan sukses seperti yang kuimpikan untuknya"
Sasuke diam.
"Aku kira tidak akan bertemu dengannya lagi. Anak yang malang. Lahir di keluarga yang..." Suara Hinata hilang, "... Tapi dia sudah mendapatkan kebahagian. Apakah Shimura-san bisa menjaga adikku, Sasuke-san?"
Sasuke tidak tahu harus menjawab apa. Kalau mendengar cerita dari Shimura-san selama ini, mungkin saja bisa, " bisa"jawabnya
Hinata berpaling padanya, " iya, aku yakin"katanya dengan air mata yang kembali mengalir, " dia harus lebih bahagia daripadaku. Dia tidak boleh mengalami apa yang terjadi padaku atau... Hatinya akan hancur"
Sasuke terenyuh melihat kondisi Hinata saat ini. Dia memotong jarak diantara mereka. Tangannya terulur kearah Hinata, menyeka air matanya dan tersenyum, "begitu juga denganmu. Kalian akan baik-baik saja dan bahagia"
Hinata kembali terisak. Istrinya menggumamkan kata terima kasih berkali-kali.
Entah dorongan darimana, Sasuke mencondongkan badannya. Bibirnya menyentuh bibir Hinata. Memberi kecupan penenang pada bibir yang selalu dimimpikannya setiap malam semenjak dicobanya pertama kali.
Sasuke membawa Hinata dalam pelukannya. Membiarkan istrinya itu menumpahkan perasaannya dan beristirahat sejenak.
Jadi seperti ini rasanya menjadi suami yang sebenarnya.
Tbc.
Gimana? Seru ga sih ceritanya? Apa biasa aja? Hahahaha ditunggu jejak kalian di kolom komen!
