Sasuke akhir-akhir ini sangat menyukai bagaimana wajah memerah milik istrinya yang sering muncul ketika mereka melakukan skinship. Entah itu saat Sasuke menyapa anak mereka, menyentuh secara tidak sengaja kulit Hinata atau saat dirinya merasa terdorong untuk mencium bibir istrinya.

"Mmmm..."lenguhan Hinata saat Sasuke mengabsen setiap gigi yang ada di mulutnya menggunakan lidah.

Sasuke menghimpit badan Hinata ke dinding dapur dan menahan badan istrinya supaya tidak merosot ke bawah.

Merasa butuh udara, Sasuke melepaskan ciuman posesifnya sejenak. Dia melihat bagaimana merahnya wajah Hinata akibat perbuatannya. Sangat lucu dan menggemaskan.

Terlihat seperti buah tomat, kesukaannya.

"Ke-kenapa me-mencium se-se-seperti i-itu, Sa-sasuke-san?"tanya Hinata mengap-mengap.

"Hanya ingin"jawab Sasuke enteng. Dia menyingkirkan anak rambut dari wajah Hinata, " apa kau suka?"

"A-apa?"

Sasuke terkekeh. Menganggu Hinata jadi hobi barunya.

"Ja-jangan mengangguku, Sasuke-san!"

"Oh, kau ingin diganggu ya?"

Wajah Hinata terlihat syok, "a-apa si-sih?!!" Dia memukul pelan dada Sasuke, "ka-kau jadi ja-jahil se-sekarang"

Sasuke menjawab dengan senyuman jahilnya. Kembali mencondongkan badan, niat ingin mencium istrinya lagi, bel rumahnya terdengar.

"Kakak ipar!! Kami datang!!!"suara teriakan menyusul.

Sasuke mendecih kesal. Penganggu!

"Ah, mereka sudah datang, Sasuke-san"ujar Hinata dengan wajah berbinar-binar.

Sasuke mendengus.

Hinata melepaskan diri dari Sasuke dan berjalan penuh semangat ke pintu rumah. Sasuke menyusul dari belakang sambil mendumel.

"Tadaima, neechan!"sapa Hanabi sambil menubruk Hinata yang belum siap. Gadis yang punya sifat yang sangat bersemangat ini, memeluk kakaknya erat.

"Okaeri, Hana-chan"salam balik Hinata memeluk Hanabi sama eratnya.

"Ah, rasanya iri melihat mereka berdua, bukan, kakak ipar?"

Siang ini, rumah Sasuke-Hinata terlihat ramai karena kedatangan Hanabi dan Shimura-san. Setelah makan siang, keempatnya duduk di ruang tamu, bertukar cerita.

Hinata duduk bersama adiknya. Semenjak bertemu, Hanabi tidak akan pernah jauh-jauh dari Hinata. Seperti anak ayam mengikuti ibunya. Menunjukkan kedekatan mereka.

Tapi hal ini membuat Sasuke gerah. Awalnya dia menoleransi karena tahu bagaimana kehidupan dua bersaudari ini. Tapi lama-lama, dia merasa Hanabi memonopoli istrinya. Apalagi jika adik iparnya itu menginap... Niscaya, Sasuke akan tidur di bawah, kedinginan dan tidak bisa tidur.

"Nee-chan, aku boleh menginap ya?"tanya Hanabi sambil mendongak keatas karena posisinya saat ini dia sedang memeluk Hinata.

Hinata hendak mengiyakan namun disela Sasuke, " tidak. Kau pulang bersama calon suamimu ini"

Hanabi langsung cemberut, " bilang saja kau cemburu karena aku memonopoli neechan kan?"

"Sudah tahu kenapa bertanya?" Sasuke menghela napas, " kapan kalian akan menikah?"

"Tanyakan pada Sai-kun"jawab Hanabi menunjuk Shimura-san yang duduk di sebelah Sasuke, " kapan dirinya akan menjadikanku Nyonya Shimura"

Shimura-san tersenyum canggung, " aku ingin tapi tidak semudah itu..."

"Alasan saja"sela Hanabi seraya melepaskan pelukannya dari Hinata dan menatap tajam kearah kekasihnya, "bilang saja kau tidak ingin menikahiku. Ada wanita lain, kan?"

"Hana-chan..."

Sasuk e diam. Keduanya memang suka bertengkar. Hanabi terlalu bersemangat sementara Shimura-san tipe orang yang santai dan let it flow.

"Aku ingin seperti neechan. Menikah dan hidup bahagia. Kita saling mencintai. Seperti neechan dan Sasu-nii"kata Hanabi yang membuat Sasuke dan Hinata terkejut.

Pasangan suami istri itu saling pandang. Tersentil dengan pernyataan Hanabi.

Sebelum pukul 10 malam, Hanabi dan Shimura-san mohon diri. Hinata dan Sasuke mengantar mereka sampai depan jalan karena syarat yang diajukan oleh Hanabi sebagai ganti tidak diijinkan menginap oleh Sasuke.

"Sampai jumpa, neechan"kata Hanabi melambaikan tangannya sebelum naik ke dalam bus. Bus yang ditumpangi Hanabi melaju, meninggalkan pasangan Uchiha.

"Ayo pulang"ajak Hinata setelah bus sudah jauh.

Sampai dirumah, mereka bersiap-siap tidur. Sasuke memilih memeriksa berkas kerja yang dibawanya pulang dulu sementara Hinata memilih tidur. Suasana diantara mereka berubah canggung kembali setelah kepergian Hanabi.

"Nah, Sasuke-kun, apa kau mencintaiku?"

Sasuke menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh damba. Siapapun yang melihat tatapan milik si bungsu Uchiha ini, pasti tahu bagaimana cinta Sasuke pada gadis bersurai pink yang duduk di hadapannya.

"Tidak"jawab Sasuke, sengaja menggoda.

"Benarkah? Wah kasihan betul diriku karena mencintaimu sendirian"sahut Sakura- nama gadis itu- ikut bercanda.

Sasuke tertawa.

Malam ini adalah malam perayaan peringatan hari jadian keduanya. Bertahan dalam hubungan kekasih selama 4 tahun, tentu saja harus dirayakan karena apa yang mereka lewati selama ini, tidaklah mudah dan menyenangkan. Ada waktunya mereka berselisih pendapat dan pertengkaran, yang untungnya, bisa diselesaikan dengan baik.

Sasuke sangat mengerti Sakura dan sebaliknya juga seperti itu. Mereka sangat cocok dari segi manapun.

"Makanan anda, Tuan dan Nona" seorang pramusaji datang, membawa baki makanan yang dipesan oleh mereka.

"Wah..." Sakura kelihatan senang melihat bagaimana makanannya terlihat mengugah selera dan cocok untuk diabadikan sebagai isi dari platform media sosial miliknya.

Sasuke senang melihat kekasih hatinya menikmati malam bersejarah ini. Tidak ada kata yang bisa diungkapkan olehnya atas hadirnya Sakura dalam hidupnya. Memberikan warna-warna baru yang belum pernah dikenalnya.

Mereka makan malam sambil bercanda ria. Sakura menceritakan pekerjaannya yang adalah seorang dokter di rumah sakit swasta. Gadis itu bercerita soal pasien-pasiennya yang aneh-aneh, teman-temannya yang tidak bisa ditebak dan keinginan Sakura untuk terus menanjak keatas.

Sasuke mendengarkannya dengan seksama. Apapun yang terjadi, Sasuke mendukung keputusan Sakura, termasuk ambisi gadis itu. Kenapa?

Karena dia sangat mencintai Sakura.

Namun...

Sebuah kenyataan menghantamnya dengan keras. Menjatuhkannya ke dasar bumi tanpa kenal ampun. Mencabik-cabik hatinya yang rapuh.

Sakura meninggalkannya demi ambisi. Ambisi ingin di atas. Menjadi nomor satu.

Putusnya hubungan mereka membuat Sasuke kehilangan arah. Meruntuhkan dunianya. Dia seperti zombie. Hidup tapi tidak hidup. Jiwanya sudah robek dan tidak bisa disatukan kembali.

Dalam keadaan ini, Sasuke mencari-cari kesalahannya. Apa selama ini dirinya kurang mendukung ambisi sang kekasih? Apa selama ini dirinya selalu protes ketika menjadi yang kedua di kehidupan sang kekasih? Apa dirinya kurang pengertian? Apa dirinya tidak berguna?

Berkubang dalam kesedihan yang luar biasa, Sasuke memutuskan tetap menjalani hidupnya. Walau harus tertatih-tatih, dia akan tetap hidup. Menunjukkan kepada Sakura bahwa tanpanya, Sasuke akan tetap hidup.

Atau begitulah yang dipaksakan Sasuke.

Hinata terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Lampu kamarnya sudah dimatikan, berarti Sasuke sudah tidur. Tekanan di area perutnya juga memberitahunya bahwa suaminya tidur sambil memeluknya.

Hinata merasa hangat namun perkataan Hanabi kembali terngiang. Ah, cinta ya? Mana ada cinta diantara mereka? Mereka menikah karena keadaan dan suatu saat akan berpisah karena tidak punya pondasi kuat dalam hubungan mereka.

Mengingat hal itu, Hinata merasa sedih. Dia mengangkat tangan Sasuke yang melingkari perutnya dan bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan ke bawah, ke dapur untuk mengambil minum.

Begitu air segar sudah mengalir masuk, Hinata merasa lega. Tapi hatinya tidak.

Memasuki bulan-bulan ingin melahirkan, Hinata jadi susah tidur. Mungkin bawaan dari jabang bayinya atau... Pikiran Hinata.

Saat menikahi Sasuke, diam-diam Hinata memutuskan akan meminta cerai dari pria itu setelah melahirkan anaknya. Menurutnya, sudah cukup pria itu bertanggungjawab dengan menikahinya demi nama baik Hinata. Dia sudah berpikir masak-masak dan mulai mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya nanti bersama sang anak.

"Iya, betul"kata Hinata sembari mengelus perutnya, " Kita tidak akan merepotkan Sasuke-san lagi, sayang. Dia pria yang baik. Dia menyelamatkan ibu dan kita tidak perlu merepotkannya lagi. Ayo, nak. Dukung ibumu ya"

Semestinya Hinata senang. Tapi kenapa dia ingin menangis? Apa sekarang Sasuke menjadi orang yang berharga baginya?

Duduk diam di dapur beberapa saat, setelah melepaskan emosinya, Hinata kembali ke kamar tidur. Dia melihat posisi Sasuke yang membelakanginya. Melihatnya begini saja sudah membuat jantung Hinata bergemuruh.

Apa Hinata mencintai Sasuke? Orang asing yang tiba-tiba menjadi suaminya?

Oh kami-sama...

Hinata naik ke atas tempat tidur dan merebahkan badannya, berharap tidak menganggu tidur suaminya.

Ketika hendak menutup mata, Hinata merasa hangat. Sasuke kembali memeluknya.

Kalau biasanya hanya Sasuke yang memeluknya biarlah kali ini Hinata memeluk balik Sasuke.

Tbc

Jangan lupa tinggalkan jejak, readers yang budiman.