Baju berantakan, cek.
Penampilan berantakan kayak orang gila kabur dari RSJ, cek.
Terluntang-lantung tanpa arah, cek.
Kesasar ditempat yang tidak pernah gue pijak sebelumnya, cek.
Terus mau tau apa lagi yang lebih parah? Gue beritahu.
Gue—ralat! Kita berdua, Futaba Aoi dan kakak laki-laki gue Futaba Hiroki, mendadak berganti spesies jadi karakter 2D yang biasa si Asep tonton tiap minggu di chanel televisi Spacetoon. Apa tuh namanya? Oh iya! Miki Momo! Ya, kita berdua menjadi seperti itu. Waras gak sih? Apa iya ini efek akibat benturan keras dikepala ditambah lagi sempat terjepit di dalam mobil yang ringsek macam roti lapis?
Oh, Gue belum memberitahu?
Begini ceritanya; jadi kita itu korban tabrakan beruntun Tol arah Jawa-Jakarta. Hah, kok bisa? Jelas bisa lah. Coba deh dipikir lagi kalau sedang berada di dalam sebuah mobil yang tengah melaju dengan kecepatan diatas 100km/jam kemudian tanpa aba- aba mobil di depan injek rem dadakan bagaimana? Yang belakang pasti reflek mengumpat dulu, injek rem, lalu tarik rem tangan tapi naas mulut mobil udah nabrak pantat mobil depan. Eitss, tapi belum selesai sampai sana. Jangan lupakan korban php yang lain dibelakang. Mending semisalnya langsung is ded ditempat sodara-sodara! Coba bayangkan sama yang harus nahan rasa sakit kejepit besi koyak, gimana tuh? Yah gitu deh, rasanya kayak keram bulanan tapi lebih dasyat 10 kali lipat.
Eh, sialnya nih! Pas ambulance datang bukannya angkut yang kritis dulu, si kecebong idup malah nerobos duluan. Alasannya takut lumpuh dan geger otak padahal cuma lecet doang itu dahi yang lebarnya macam landasan pacu pesawat terbang. Iya jadi gitu teman-teman sekalian! Gue dan abang gue harus bertahan tanpa peralatan seadanya di mobil ringsek selama dua jam sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Hiroki sempat nyumpahin si kecebong idup agar nyusruk ke liang lahat. Kalo gue? Mendoakan semoga lubang kuburnya disempitkan sesempit lobang WC.
Oke! Kembali lagi ke permasalahan. Sekarang ini kita berdua sudah berjalan, atau lebih tepatnya muter-muter persis kayak anak hilang yang jadi korban pengacuhan emak ketika sibuk milih baju baru di Tanah Abang buat lebaran. Sampai gue menemukan sesuatu yang jelas sangat salah pada gedung di sebrang jalan sana.
"Oi, Hiroki! Coba lIhat ke seberang jalan sana deh! Gue agak curiga sama desain gedungnya!" Seru gue yang langsung saja menarik kasar lengan abang gue.
"Semua bentuk gedung yang sudah kita lewati semuanya terlihat sama buat gue, lah elu mau gue liat gedung yang diseberang juga? Hey, nona berkacamata minus, situ mabuk?" Jawab Hiroki dengan nada kesal karena habis gue tarik tadi. Emang mental bocah dia itu, kasar sedikit otw ngambek.
"Yaelah bang! Ngambekkan amat sih jadi orang? Kan gue cuma minta tolong di tengok, kalau tidak maupun tinggal lirik saja, kan beres! Kenapa mendadak mood swing sih??" Sembur gue yang tidak terima habis dinistakan. Denger yah kawan, gue itu pake kacamata bukan karena minus tapi karena tulisan Pak Wahyu yang mirip ulet bulu kalo lagi menerangkan di papan tulis; ditambah gue duduk di barisan kedua dari buntut, yah wajar dong? Dasar! Untung abang gue kalo gak udah gue pites dari kapan tau.
"Iya! iya! Nih, gue lakukan demi lu, puas?" Tanpa banyak bacot lagi Hiroki menoleh kearah kanan; lebih tepatnya ke gedung seberang jalan yang terlihat rimbun ditutup hijau dedaunan serta terkesan dikucilkan dari dunia luar. Belum lagi bentuk bangunannya, kalo ditelaah lebih lanjut mengingatkan gue akan rumah-rumah tua yang biasanya sering muncul di film horror.
"Eh?" Hanya itu kata yang lolos dari mulut Hiroki. Sontak gue menatap balik dengan bingung.
"Kenapa? Ada dedemit? Banyak gak? Bilang ke gue kalo gak ada guling loncat disitu!" Ujar gue sembari ikutan melirik setiap jengkal gedung tua itu dari kejauhan. Soalnya gue sudah cukup trauma dengan guling loncat. Ini bukan masalah serem atau tidak, cuma sempat shock berat saja. Waktu itu sehabis menyelesaikan kegiatan klub disekolah, gue terus pulang ke rumah. Niatnya mau naik ke kamar di lantai dua tapi tebak apa yang mata gue tangkap? Sebuah guling loncat lagi ditengah-tengah proses percobaan bunuh diri. Ceritanya itu dedemit mau loncat dari anak tangga yang ada diatas buat turun kebawah. Siapa yang gak kejang-kejang pas liat begituan? Bagus jantung gue gak berpulang lebih awal ke rumah Tuhan.
Hiroki menoleh sebentar kearah gue terus menyahut,"Ada banyak banget dedemit, gak bisa gue hitung satu persatu tapi justru itu yang buat gue aneh.."
"Aneh kenapa? Dedemitnya homoan gitu?" Celetukan gue lantas dihadiahi tatapan datar Hiroki sebelum raut mukanya menampakkan rasa jijik yang kentara. Mirip dengan meme yang biasa kalian temui secara kebetulan di sosmed.
"Tobat woi!! Jangan banyakin lagi dosa! Nanti gak diizinkan untuk nyebrang sama pengkayuh perahu sungai dunia bawah baru tau lu!" Gue mendengus kasar kala mendengar ocehan mode ibu-ibukos milik Hiroki dan lantas mengibas ringan telapak tangan gue dalam artian 'iya-iya gue paham' kearahnya.
Hening. Diantara kita berdua tidak ada yang angkat suara. Dan itu membuat gue gak nyaman.
"Jadi tadi aneh kenapa?" mula gue untuk membuak pembicaraan sementara Hiroki sendiri reflek mengusap tengkuknya. Ini sih fix kalo abang gue udah reflek megang leher pasti ada yang tidak beres sama itu gedung. Gini-gini dia punya sixth sense. Kata orang pinter sih bawaan dari lahir. Awalnya gue sempat gak percaya, apalagi sama sesuatu yang berbau mistis atau supranatural tapi berhubung sekarang gue bisa, mau tidak mau prinsip-prinsip yang pernah gue percayai sukses terpatahkan.
"Sepertinya gue gak perlu berkata pun kayaknya lu sudah paham deh! Iya kan, Aoi?" Gue mengangguk terpatah-patah, sedikit ragu namun tau dengan jelas Hiroki tengah menunjuk pada apa.
Walau samar, tapi gue bisa merasakannya. Ada penghalang yang menyelubungi gedung tersebut dan dari wavelength yang gue tangkap si penaruh bukanlah orang sembarangan. Setidaknya ia orang yang berpengetahuan dalam untuk hal-hal spiritualis. Mungkin seorang professional? Entahlah.
"Lalu apa sekarang kak? Masuk untuk singgah atau cari tempat yang lain?" Hiroki mengendikkan bahu.
"Ada pepatah yang berkata bahwasannya 'Tidak bertanya maka sesat di jalan'. Jadi kupikir tidak ada salahnya mengetuk pintu bertanya tentang daerah sekitar, menggali sebanyak-banyaknya info mengenai daerah kita berada dan tentunya gedung tersebut. Lagipula bukan hanya gue aja yang penasaran, lu juga kan?" Timpal Hiroki dengan cengiran lebar bak bocah sd saat dijanjikan hadiah untuk setiap nilai 100 yang didapat.
"…yah memang sih gue juga agak penasaran." Sahut gue jujur. Toh gak ada gunanya bohong didepan seseorang yang jelas-jelas adalah psikis dari masih bayi merah.
Lalu tanpa banyak omong lagi kami berdua melesat mendekat kearah gedung tua. Selangkah, dua langkah dan tibalah kami didepan gerbang bata merah tak berpagar. Jika melangkah lebih jauh lagi sudah bisa dipastikan kami akan masuk, melewati penghalang dan berakhir di halaman gedung. Dan tekad bulat kami untuk melaju harus pupus saat sebuah suara muncul dari belakang.
"Kalian ini…. Siapa?"
Sebenarnya tergiur sih untuk nengok ke belakang tapi, eh baru ingat kalau lagi sakit leher jadi gue urungkan. So, kita berdua memutuskan untuk balik badan buat bicara sama si empu pemilik suara tadi. Dan yah tidak disangka-sangka akan berhadapn langsung sama sang orang penting di dunia 2D ini.
"Kak, gue lagi gak mimpi kan?"
"Gak, lu gak mimpi. Soalnya gue juga liat orang didepan lu. Udah gitu dia juga nafas, punya banyangan terus kaget pas liat kita."
"Oh, Wokeh."
Gak pake babibu gue langsung mengulurkan tangan gue kearah si cowo bersurau coklat pendek, dia menatap bingung. Ada sedikit rasa takut terpancar dari sorot matanya saat memandang gue serta kakak gue. Yah, mungkin kalo gue di posisi dia gue akan punya reaksi yang sama. Dan bisa saja lebih parah.
"Kenalin gue Futaba Aoi terus yang disebelah kiri ini kakak gue, Futaba Hiroki. Salken." Ujar gue dengan mulus. What? First impression itu penting gais.
"Yo." Begitu sapa Hiroki sembari mengangkat tangan kemudian menurunkannya kembali.
Dengan ragu si cowo menjabat uluran tangan gue dengan hati-hati," Namaku Inaba Yushi, salam kenal juga Aoi-san, Hiroki-san." wah dek jangan canggug begitu napa? Kan gue jadi gak enak.
"Oh ya! Kita berdua kesini mau nanya soal daerah sekitar terus juga penasaran sama gedung tua ini, ngomong-ngomong lu tinggal disini, Inaba?" Gue gak berani memanggil nih anak pake given name pemberian ortunya jadi gue panggil aja nama keluarganya. Lagipula gue bukan tipe orang yang suka mencantolkan embel-embel di belakang. Ribet tau.
"...Iya, aku tinggal disini." Begitu sahut Inaba, masih dengan kecanggungan level max. Hem, orang jepang asli memang pemalu ternyata kalau bertemu dengan stranger. Beda urusan sama warga 62 yang kebarbaran-nya tak ada batas.
"Sendiri?" Kini giliran Hiroki yang bertanya sedangkan Inaba merespon dengan anggukan kecil.
"Wah, keren! Kalo dinegara asal gue dan kakak gue lu sudah pasti dicap anak yang mandiri!! Keren, keren! Patut dicontoh ini!" Inaba langsung gue lontari pujian beruntun. Yah, maklum gue ini orangnya gampang banget terinspirasi tapi bukan untuk hal-hal yang negatif loh ya.
Tanda tanya besar muncul di benak Inaba. Kok gue tahu? Ya, kan dari ekspresi wajahnya kelihatan kecuali kalo gue ini buta kawan.
"Jangan bingung. Walaupun kita ini terlihat seperti orang jepang dan memiliki darah jepang, negara kelahiran kami bukan disini melainkan di sebuah negara kepulauan di tenggara asia sana. Jadi jangan heran kalau semisal perilaku kita berdua ini terlihat aneh buat kayalak umum." Jelas Hiroki panjang lebar. Gue pun mangut-mangut mengiyakan.
"Ayah kami orang jepang asli sementara ibu merupakan warga dari negara dimana kami dilahirkan, yah bisa di bilang kita berdua ini punya kewarganegaraan ganda, hehe.." Lanjut gue sembari melemparkan senyum tipis.
"Begitu yah! Aku tidak tahu. Lalu kenapa memutuskan untuk datang ke Jepang?" Tanya Inaba pada kita berdua. Em, alasan yang cocok kira-kira apa yak? Nyasar ke dimensi lain gitu? Ya kali jawabannya seperti itu.
"Kak, gimana? Si Inaba nanya! Jawab apa?? Udah kena isekaid gitu?"
"Hadeh, makanya kalo pinter jangan cuma pinter pelajaran aja! Punya otak sesekali lu ajak olahraga common sense napa?"
"..."
"Woi, dek! Denger gak sih?!"
"Hmm, iya denger; gue belom budek."
"Ya udah jujur aja kali ya? Menurut lu gimana kak?"
"Gue sih ikutin keputusan lu aja, males nyari alesan takut ketahuan gobloknya."
Eh, buset pesimis amat? Well, oke karena kakak gue juga udah bilang terserah suka-suka gue. Let's do it with my way, then.
"Kalau kami beritahu, Inaba jangan kaget ya? Janji?"
"...Um, oke aku janji."
"Nah, jadi begini… em kita berdua ini seharusnya gak disini. Gimana yah? Ceritanya panjang! Intinya—" Perkataan gue tiba-tiba disekat sama Hiroki.
"Lu kelamaan, Aoi. Keburu lumutan si Inaba kalo cara lu memberitahu kayak tadi. Langsung ke intinya aja kenapa sih??" Yeh ini satu saiton gak bisa sabar apa yak? Namanya menjelaskan harus detail terus pelan-pelan biar yang nerima info gak salah tanggap atau salah paham.
"Kalo lu banyak bacot lagi bang, gue mutilasi lu detik ini juga. Jadi diem, oke?" Biasa kawan, sudah mulai gondok saya meladeni tingkah laku kakak yang kurang ajar. Musti dimasukkin ke PAUD lagi kayaknya nih orang.
"Oke, gue kicep." Seraya meragakan gerakan men-zip mulut rapat-rapat.
"Nah, balik lagi kita-- sampai mana tadi?"
"Inti." Jawab Inaba singkat.
"Ohya! Intinya kita ini udah mati?? Ya, mati."
Hiroki nepuk jidat sekencang yang ia bisa sementara Inaba tercengang dengan pernyataan gue yang gak di filter.
.
.
.
.
a/n:
Oneshot selesai :) seperti biasa kalau penulis dapat ide bakal berubah jadi in-progress.
So, bai-bai.
