Disclaimer: All Character belongs to Hajime Isayama
sebelum membaca, penulis minta maaf apabila banyak kesalahan karena jujur, ini pertama kalinya saya nyoba nulis. enjoy!
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua malam, namun Armin enggan menyingkir dari kursi kerja di studionya. Belakangan ini, beban kerjanya semakin bertambah karena promosinya di awal bulan lalu.
Memang sedikit berat untuk beradaptasi dengan volume pekerjaan yang kian bertambah, tetapi pria berusia 28 tahun ini sangat bersyukur bisa mendapat kerja tetap dan gaji bulanan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kilau redup dari lingkaran perak di jari manisnya menyilaukan kedua manik Armin yang mulai sayu. Seakan menyuruhnya untuk istirahat sejenak dari aktivitas begadang nya yang kurang sehat itu.
3 Tahun lalu, ia meresmikan hubungannya dengan Kekasihnya.
"Hoooaaahmm..."
Tubuhnya sudah menyerah rupanya.
Armin beranjak dari kursinya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya. Dengan rasa kantuk yang menyerang, Pria berusia 28 tahun ini berjalan di koridor dengan mata membelalak supaya tidak tersungkur dan tertidur di lantai rumah.
Kamar utama tidak terpisah jauh dari ruang kerja rodi nya, hanya membutuhkan sekitar 5 meter perjalanan saja.
"Cklek, Krieet..."
Armin membuka pintu dengan perlahan, takut akan membangunkan Istrinya yang sedang terlelap di atas kasur.Sudah lebih dari seminggu, Annie pulang kerja dengan wajah kelelahan dan lemas, bahkan Armin sudah menawarkan kepada istrinya untuk berkunjung ke klinik. Wanita itu sudah terkulai atas matras putih. Nafas lembutnya meniup surai pirang pucat yang menutupi hidung dan pipinya.
Cantik.
Armin mengelus dan menyisir surai pirang Istrinya ke belakang telinga. Dengan sengaja ia membelai pipi pucatnya dan merasakan suhu yang lebih tinggi dari biasanya.
Kelopak mata Armin yang tadinya terasa berat, tiba-tiba kehilangan niat untuk mengistirahatkan kedua bola mata sang pemuda itu.
Armin mengurungkan keinginannya untuk tidak membangunkan istrinya di pagi buta, dengan segera, ia mendaratkan telapak di keningnya.
Armin...?
"Annie... badan mu panas, ada apa?"
"Nngghh... nggak enak badan aja.. nggak papa kok."
Armin menawarkan obat untuk meringankan demam, tetapi Annie lebih memilih untuk melanjutkan lelapnya dan meninggalkan suaminya pergi ke dunia mimpi.
Armin terlalu lelah untuk memaksa Annie meminum obatnya. Sambil merebah, ia melingkarkan lengannya untuk merangkul sambil menepuk dan mengelus punggung Annie.
Dengan lemah lembut, ia mendekatkan kepala Annie ke dadanya, membelai rambutnya, dan perlahan-lahan menyusul Annie ke dunia mimpi.
07.15
Armin membuka matanya, mendapati matras di sampingnya tidak berpenghuni, ia terduduk dan mengusap wajahnya.
"Anniee? "
Hari ini Armin bangun terlalu siang, tetapi peduli setan, sekarang hari Minggu, hehe..
Tak ada jawaban dari Annie. "Apa dia pergi ke pasar?" Armin beranjak dari kasur, meregangkan tangan ke atas dan memutar lehernya perlahan.
"Huurrrkkkhhhhhhh!..."
Ha. Itu dia.
Armin berlari kecil, menuju sumber suara dan mencari keberadaan wanita yang ia cari.
Saat membuka pintu kamar mandi, Armin menjumpai sang istri yang sedang tertunduk di dekat kloset. Wajah dan bibirnya pucat, bulir-bulir keringat melintas di atas pelipisnya.
"Annie?!"
Agak panik, Armin segera menghampiri Annie dan mengusap-usap punggungnya.
"Annie?... Apa masih nggak enak badan?"
"Hn, iya kayaknya karena kebanyakan makan deh... "
Hhh.. pantas saja, satu lusin donat yang dibeli Armin langsung lenyap ditelan oleh mahluk berkepala kuning ini. Kesukaannya akan adonan bertoping manis itu sudah melebihi batas, sepertinya Armin harus mengurangi porsi donat mingguan untuk si pendamping hidup.
"Huerrkkkkkk...!"
Dengan cekatan, Telapak Armin menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Annie dan menepuk-nepuk punggungnya.
Setelah merasa baikan, Annie beranjak untuk membersihkan isi perutnya yang dikeluarkan secara paksa. Tetapi Armin segera menyuruh Annie untuk membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya.
Selesai bersih-bersih, Annie berjalan menuju kamar tidur, sambil memegangi kepalanya, ia merasakan kakinya lemas bagai puding syukuran. Sepertinya aktivitas tadi menguras habis tenaganya.
Atau tidak?
Sudah sekitar dua minggu, selama bekerja di patisserie miliknya, Annie menghindari pekerjaan di dapur dan pemanggangan. bau butter, semerbak tepung dan adonan membuatnya pusing dan mual sehingga ia memilih untuk mengawasi toko untuk sementara.
Setibanya di kamar, Annie segera berganti pakaian dan segera merebahkan badan diatas matras. Di saat yang sama, Armin masuk ke dalam kamar sambil membawa obat-obatan dan air segelas air.
"Nnie... Ayo minum obat...
Armin menyobek kemasan obat dan memberikannya pada Annie. Dengan lemas, Annie meminum tablet bulat itu dan meneguk air yang dibawakan oleh Armin.
"Apa masih mau muntah?" Armin menginterogasi Annie sambil membelai pipi pucat yang semakin kehilangan warnanya, sekarang ia berkeringat dingin dan bibirnya bergetar.
"Kita ke klinik aja yuk, sekarang ya aku anterin"
"Hm.. nanti siang aja ya"
"Oke, kalau gitu rebahan dulu aja nnie.."
Dengan gemulai, Annie kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi badannya. Sementara itu, Armin pergi ke dapur membuat sarapan untuk Annie.
Memasak bukanlah hal yang mudah, untuk membuat makanan yang layak konsumsi, kita harus mengerti betul akan peralatan dan sifat bahan yang digunakan. Karena itu, apabila ada kesempatan, Armin akan belajar memasak untuk keluarganya.
Makanan yang Armin buat tidaklah rumit, pagi ini ia memasak sup ayam dengan wortel dan jagung pipil. Pertama-tama, potong ayam, kupas wortel, potong-potong, sisihkan. Tumis bumbu dan ayam hingga berubah warna, tambahkan air, tunggu hingga mendidih, masukkan sayuran lalu tambahkan garam dll, rebus sampai mendidih, lalu jadi!
Armin segera mematikan kompor, mengambil mangkuk, meletakkannya di atas nampan dan tak lupa mengambil sendok. Dengan hati-hati, armin menanjak tangga menuju ke kamar utama.
"Annie... Ayo makan dulu, biar perutnya nggak kosong."
Armin meletakkan nampan di meja nakas, dan membantu Annie untuk bangun. Kemeja yang dikenakannya lembab karena keringat dingin, bibir pucat dan mata yang agak sayu. Sepertinya, Annie bukan hanya kebanyakan makan donat, Armin harus segera memeriksakannya ke dokter.
"Annie, selesai makan kita ke klinik ya?"
"Hn.."
Armin meraih mangkuk itu, dan mulai menyuapi Annie. Sang istri tidak protes dan segera melahap sesendok penuh yang disodorkan Armin.
"Hmm.."
"Gimana rasanya? Enak?"
"Iya, rasanya pas, tapi baunya terlalu tajam."
"Hmm, mau lagi nggak?"
"Mau."
Walau perlahan-lahan, Annie berusaha menghabiskan semuanya. Saat ini, perutnya sangat tidak bersahabat bahkan kepada makanan yang ringan sekalipun. Sendok demi sendok, Annie merasa penuh bahkan mual, tetapi ia tetap harus mengisi perutnya.
Armin meletakkan sendok dan mangkuk kembali di atas nampan.
Ia mengambil serbet dan mengusapnya di bibir Annie.
"Annie, ganti baju dulu ya, kita ke klinik sekarang."
Ia beranjak dari kamar mereka dan membawa nampan kembali ke dapur. Armin menyarankan kepada Annie untuk menggunakan mantel yang tebal. Walau Annie betah dingin, Armin tidak mau istrinya semakin sakit.
Selesai mencuci piring, Armin segera menyusul Annie dan mengenakan mantel dan sepatu, tak lupa juga kunci mobil. Dengan segera, Armin melesat masuk dan menyalakan mesin.
Selama perjalanan, Armin memperhatikan istrinya yang menutupi mulutnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya di atas paha.
" Annie masih mual?"
Annie menoleh dan menatap mata Armin. Matanya sayu dan alisnya tertekuk. Armin membalas tatapan Annie, meraih tangan mungil itu dan meremasnya dengan lembut.
Saat melewati perempatan, Armin melihat tulisan yang terpampang jelas di pintu klinik yang mereka tuju.
"Tutup".
Armin menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan dan berpikir sejenak. Ia membuka ponselnya dan menggunakan GPS untuk mencari rumah sakit terdekat.
"Annie, kliniknya tutup, kita langsung ke rumah sakit aja ya,"
"iya"
Tanpa basa-basi, pria muda ini segera menyalakan mesin mobil dan mengikuti arahan GPS menuju rumah sakit.
Sambil menyetir, sekali-kali tangan kanannya menggenggam tangan Annie (apabila tidak dipakai untuk mengatur kopling).Tak lupa mencuri pandang, Armin menyadari bahwa Annie sudah tidak menutupi mulutnya dan alisnya tidak begitu kusut.
tanpa sadar, mereka telah sampai ke tujuan. Armin segera mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya. Seperti biasa, rumah sakit memang sepi di hari minggu. sedikitnya tenaga kerja yang tersedia, menyebabkan turunnya volume pengunjung yang datang pada hari Minggu.
Armin mencabut kunci mobil dan membawa tas pundaknya. Segera, ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Annie. Setelah mengunci mobil, Armin menggandeng tangan istrinya dan menuntun Annie masuk ke gedung rumah sakit.
Armin melepas genggamannya dan menyuruh Annie untuk duduk di tempat yang disediakan untuk menunggu antrian pasien. Tak menunggu lama, Armin segera pergi ke resepsionis rumah sakit untuk mengambil nomor antrian.
"selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
" err.. sepertinya sudah lebih dari seminggu Istri saya badannya lemas, dan tadi pagi dia mual dan muntah, Saya takut tifusnya kambuh"
Armin berusaha menjelaskan gejala yang dialami Annie dengan singkat dan jelas. Setelah mendapat informasi gejala dari Armin, petugas resepsionis meminta kartu ID milik Armin dan segera menelfon dokter dan mendapatkan nomor antrean untuk pasien.
"silahkan pak, atas nama siapa?"
"Annie Arlert."
Selesai mencatat, sang petugas memberi nomor antrean dan Armin mengucapkan terimakasih.
"Nomor antrean 5"
Armin berjalan menuju tempat Annie berada dan segera menempati kursi kosong di sebelahnya. Saat ini ia merasa sedikit gelisah, Waktu tifus Annie kambuh, ia dirawat selama 2 bulan di rumah sakit.
Keadaan Annie saat rawat inap dulu sangat memprihatinkan, ia tidak mau makan, sering muntah dan berat badannya menurun drastis. Armin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha untuk menghilangkan ketegangan yang memenuhi alis dan dahinya.
"min...Armin""Armin!?"
"hn?!
"
"Kita udah dipanggil."
Armin beranjak dari kursinya dan berjalan di belakang Annie. Di ujung koridor, Ada seorang Dokter yang berdiri di depan sebuah ruangan. Kelihatannya ia sedang membuang sampah kertas dan mengeluarkan koran bekas. menyadari suara langkah kaki, Dokter berambut jahe itu menoleh ke belakang dan menyapa.
"Selamat pagi, perkenalkan saya dokter Petra, silahkan masuk! "
Dokter Petra mempersilahkan Annie untuk masuk. Tetapi, saat Armin hendak memasuki ruangan, sang Dokter melarangnya untuk ikut. Melainkan ia dipersilahkan untuk duduk di kursi depan ruangan.
Demikian, Armin duduk di kursi besi sambil menatap jam tangannya. Lagi-lagi ia mengusap wajah dan memijit keningnya. Sepertinya dampak kurang tidurnya telah menampakkan wujudnya, mata terasa berat dan kepalanya agak pusing.
"hahhhhhh... "
Armin menghentikan lamunannya dan segera memutar bola matanya untuk mencari hal lain yang dapat menyegarkan pikirannya. Ia meneliti furnitur sambil melihat jam tangannya, ternyata 25 menit telah berlalu.
"krettt..."
Pintu ruangan Dokter Petra terbuka, dan Annie kembali dengan map coklat dan secarik kertas di genggamannya.
"gimana Ann?"
"sebentar, aku ambil resep obat dulu"
Selesai mengambil obat, sepasang suami istri ini menuju kembali ke kendaraan yang terparkir di halaman.
setelah terduduk di kursi pengemudi, Armin segera memeriksa obat apa saja yang diberi untuk Annie. Didalamnya terdapat obat muntah, dan suplemen??
"Annie?, tadi gimana? tifusmu nggak kambuh kan? tumben banget dokter ngasih suplemen."
"baik kok," sambil merogoh map coklat yang ia bawa, Annie mengeluarkan kertas berskala hitam putih. Annie menyodorkan kertas itu kepada suaminya yang sedang memeriksa kegunaan obat yang didapat dari rumah sakit. Tak menoleh sedikitpun, Armin mengambil kertas yang dipegang oleh Annie dan meletakkan obat itu di atas pangkuannya.
Ia meneliti selembar kertas berbentuk persegi panjang itu dengan mata yang sedikit melebar.
"Annie..? kamu.. "
Tersenyum tipis, Annie membalas tatapan Armin.
"Kamu hamil...?"
"dua bulan."
Wajah kusut yang dipasang Armin seketika hilang digantikan oleh senyuman yang lebar, semua kekhawatiran yang mengerubungi nya telah pergi jauh.
Segera, Armin merangkul Annie, mengecup pipinya, dan memencet hidung nya
"Armin!.. peluknya di rumah aja!!"
Sambil tertawa kecil, Armin melepaskan rangkulannya dan segera menyalakan mesin mobil.
