Disclaimer: All Character belongs to Hajime Isayama
Minggu malam adalah hari favorit Armin. Walau hanya sejenak, Ia dapat melupakan pekerjaan yang menumpuk dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Kalau tidak pergi mengunjungi ortu, mereka akan bermalas-malasan di atas kasur seperti sekarang.
Lengan Armin melingkari tubuhnya, kaki bertaut. Annie menyandarkan kepalanya di dalam pelukan Armin. Hembusan nafas mereka membuat helai mungil rambut mereka menari-nari.
Telapak Armin yang tadinya bersandar di pinggang Annie, sekarang pergi menjelajahi area perut bawah, dengan lembut, Armin membelai perut Annie yang sedikit, membulat?
Armin tersenyum kecil. Selama 3 tahun pernikahannya, akhirnya Tuhan memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk menjadi orangtua. Di dalam kepalanya, Armin membayangkan ribuan skenario yang mungkin terjadi jika si kecil sudah datang ke dunia ini.
Dia bisa membayangkan seorang anak kecil yang berwajah mirip dengannya, oh!, Atau mirip seperti Annie? berlarian di rumah, di taman, makan bersama, bertamasya, mengusili Annie, dan masih banyak lagi.
Annie mengamati Armin. Sejak pulang dari rumah sakit, Ia selalu mencari kesempatan untuk mendaratkan tangannya di atas perut Annie. Dan sekarang, Armin tertawa kecil sambil menatap tangannya yang diletakkan di perut istrinya.
Annie tidak mengira bahwa Armin begitu senang mengetahui dia akan menjadi seorang ayah. Armin tidak pernah membuka topik soal anak. Bahkan ketika orangtuanya menyinggung perihal tersebut, Armin tidak pernah melanjutkan argumen yang dimulai ayah dan ibunya.
Annie menggenggam tangan yang Armin letakkan di atas perutnya. Sambil tersenyum, Annie menempelkan dahinya di dada Armin. perlahan, Annie terlelap.
Matanya terbuka, menatap ke depan, Annie melihat Armin tertidur pulas dengan telapak di atas dadanya. Melihat suaminya yang masih tertidur, Annie mencari tahu pukul berapa dia terbangun.
04.00
"oh."
terbangun pada pukul empat pagi adalah kebiasaan yang Annie dapat sejak bekerja di patisserie. Annie berangkat kerja pagi sekali untuk menyiapkan dapur dan memanggang stok roti baru. tetapi, sejak Annie memiliki tokonya sendiri, Ia dapat pergi bekerja di waktu makan siang.
Terduduk, Annie menghela nafas, ia merasakan panas di seluruh wajah dan hidungnya. kepalanya terasa sedikit pusing dan perutnya mual. Dengan cepat, Annie menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.
"huurrrkkkhhhhhhh!!"
Annie sangat bersyukur bisa sampai ke tujuan dengan tepat waktu. Saat ini, kepalanya terasa berat dan berputar, gejolak di kerongkongan nya menandakan gelombang kedua yang akan segera datang.
Masih terduduk di atas lantai kamar mandi, Annie mendengar suara langkah kaki menuju ke lokasi tempat Ia berada.
"Annie...?" Armin masuk ke dalam kamar mandi dan ikut berjongkok di sebelahnya. sambil menepuk punggungnya, Armin menyisir rambut ke belakang telinga Annie.
"huurrrkkkhhhhhhh".
"huerrkkkkkk"
"uuughh"
Akhirnya, Annie merasa baikan.
Armin membersihkan kamar mandi dan menyuruhnya untuk kembali tidur. Tanpa perlawanan, Annie segera kembali ke kamar untuk melanjutkan lelapnya. Sakit kepala yang dialaminya semakin mereda, dan rasa mualnya sudah berkurang.
Armin kembali ke dalam kamar. Ia masih mengantuk. Wajar saja, sangat jarang Armin bangun sepagi ini. Kemarin malam, Orangtuanya menelpon, dalam rangka memberitahu rencana mereka untuk datang ke rumah Armin.
Karena Ayah dan ibunya akan datang, Armin memutuskan untuk tidak tidur supaya tidak bangun terlalu siang. Ia memeluk Annie dari belakang, mendaratkan tangan kirinya di perut Annie, dan tangan kanannya di pinggang. Armin menggali tempat di belakang leher Annie, menghirup aroma samponya yang berbau buah beri.
"Annie, nanti ayah sama ibu mau ke sini."
Annie membuka matanya, merasa sedikit terganggu karena Armin mengelus dan menciumnya, walau sebenarnya suka, sekarang Ia sangat mengantuk. Ditambah lagi mertuanya akan datang ke rumah sedangkan, Annie belum membersihkan atau menyiapkan makanan untuk menyambut mereka.
"kok kamu nggak bilang dari kemarin sih?, aku belum masak apa-apa loh"
Nadanya agak kesal, fakta bahwa banyak pekerjaan dadakan yang harus diselesaikan menambah pening kepalanya. Seketika, rasa kantuknya sudah tak memperdayai matanya.
"Ibu bilang, ngga usah masak, nanti dibawain makanan."
"oke deh,...tapi kalo kamu peluk gini terus kapan beresin rumahnya?'
" nanti aku bantu."
menyadari sikap Annie yang tiba-tiba sensitif, Armin bangkit dari kasur, sekarang kedua tangannya menyangga berat badannya. wajah Armin berada tepat didepan perut Annie dan berbisik,
"nak, kamu jangan rewel dong, kalau gini kan, papa yang kena marah.."
Melihat tingkah laku suaminya, Annie mendorong wajah Armin dan mendekatkan kepalanya di depan wajah Annie.
"gak usah nyalahin anakku Ar."
"loh!? ini kan anakku juga,"
Tanpa sadar, telapak kanan Armin mendarat di wajah Annie. Ia memberi kecupan singkat di bibir dan di atas hidungnya. merasa kecolongan, Annie mencubit pipi Armin dan membalas kecupannya.
"I love u Nnie,"
"hn, me too Ar."
Saat matahari terbit, Armin berinisiatif untuk membereskan rumah dan mengganti sprei kamar tamu. Sedangkan, Annie membersihkan ruangan dan mengepel lantai.
Rumah yang mereka tinggali tidak begitu besar, setidaknya cukup untuk tinggal berempat. karena itu, masalah membersihkan rumah bukanlah hal yang memakan banyak waktu dan tenaga. Furnitur yang mereka simpan juga tidak memiliki beban yang amat berat. Sehingga Armin dan Annie dapat menyusun ulang tata furnitur sesuka mereka.
Selesai berberes, tentu saja mereka akan mandi. Kali ini, Armin menyuruh Annie untuk mandi duluan karena Armin belum selesai merapikan meja kerjanya.
Meja itu penuh dengan kertas dan dokumen, hampir tidak ada tempat luang untuk meletakkan Laptopnya. Segera, Armin memilah kertas dan dokumen yang tidak dipakai.
Kertas yang sudah tidak terpakai Armin tumpuk menjadi satu dan mengikatnya dengan tali supaya rapi.
tumpukan kertas yang sudah terikat diletakkan di sudut ruangan. Setelah Armin merapikan buku-buku dan majalah yang berserakan di bawah, maka pekerjaannya sudah selesai.
Annie sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Mandi setelah penat dan berkeringat adalah salah satu hal yang Annie suka. Ia mengenakan sweatshirt favoritnya dan menyempatkan diri mencari buku untuk dibaca.
"Annie, kamu nggak ngasih kabar ke bapak?"
Armin masuk ke kamar dan mengambil handuk yang digantung di sebelah handuk Annie. Ia menanggalkan pakaiannya dan meletakkannya di keranjang cucian. dengan handuk yang dilingkarkan di pinggangnya, Armin duduk di kasur menunggu jawaban dari istrinya.
"Sudah aku sms Ar, tapi cuma dibaca. Telpon aja nggak diangkat kok.".
"hn, Mungkin bapak masih sibuk Nnie.. "
Annie hanya mengangguk, Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan Ayahnya yang sibuk. Sejak kelas 1 SMA, Annie sering ditinggal ke luar negeri oleh sang Bapak.
Entah mengapa tiba-tiba saja buku yang Ia baca tidak terlihat menarik lagi. Annie meletakkannya di atas meja dan merebahkan tubuhnya di kasur. Air mata jatuh ke bantal yang menyangga kepalanya. Tetapi semakin Annie berusaha menahan tangis, air mata mengalir semakin deras.
Armin keluar dari kamar mandi mendengar isakan tangis. Segera mengenakan pakaian, Armin merangkak di atas matras, Ia menghampiri Annie.
Armin menangkap pipi Annie dengan tangan kanannya, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Mata membengkak, dan bekas air mata melumuri paras Annie.
"Ann, kamu kok nangis?? "
"hnnh,?aku nggak tau.."
Armin mengerti. Terkadang, Annie merindukan ayahnya dan merasa kesepian. Ayahnya sangat jarang berkomunikasi dengannya. Tetapi, baru kali ini ayahnya hanya membaca pesan yang dikirim oleh Annie dan tidak menjawab teleponnya.
"Armin,". sambil terisak, Annie bertanya kepada Armin.
"Apa pekerjaan Ayah sepenting itu sampai nggak sempet merhatiin aku??"
Sambil menggenggam kaus suaminya, Annie masih terisak dan menangis. di Mata Armin, saat ini Annie terlihat seperti anak kecil yang kekurangan perhatian. Armin membaca di sebuah artikel bahwa, ibu mengandung akan mengalami mood swings.
Batin Armin tertawa kecil. Dengan sigap, Ia merangkul Annie dan menepuk pundaknya, Mencium dahi dan hidungnya. Saat Annie mulai tenang, Armin berusaha untuk mengembalikan mood istrinya.
"Annie.."
"Hn?"
"beli donat yuk, aku anterin ya."
Tanpa sadar, mata Annie bersinar penuh kegembiraan, tak mungkin Annie akan menolak tawaran Armin. Lagipula, di rumah tidak ada stok makanan, jadi mereka akan pergi mencari bahan makanan untuk Minggu ini.
Barang belanjaan mereka tidak terlalu banyak, hanya terdiri dari sayuran dan beberapa bahan hewani untuk melengkapi kebutuhan protein. Armin juga mewaspadai bahan makanan yang tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil seperti ikan dengan kadar merkuri tinggi, daging awetan, dan susu yang belum melalui proses pasteurisasi.
Kebetulan, jarak supermarket dari rumah tidak jauh. Jadi, Mereka tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor. Di ujung blok, Ada kios donat yang biasa mereka kunjungi.
Sesuai janjinya, Armin membelikan donat untuk Annie.
sesampainya di rumah, Annie melepas mantelnya dan mencuci tangan. Ia terduduk di atas kursi dan melahap adonan manis itu. Wajahnya bersinar ceria seakan tak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu. Banyak orang mengatakan padanya bahwa mimik wajah Annie sangat datar dan tidak berperasaan. Tapi, bagi Armin, lekukan tipis pada alis, bibir dan tatapan matanya jelas menggambarkan apa yang Ia rasakan.
