disclaimer: all Character belongs to Hajime Isayama.
Hai! saya mau ngucapin Terimakasih buat kalian yang sudah menyukai dan mereview cerita ini! much love dari saya wkwk
WARNING! chapter ini mengandung NSFW !
09.00
Pada pukul sembilan pagi, Armin harus berangkat kerja. Tetapi, karena Ayah dan Ibunya akan segera datang, kemarin malam Armin sudah menyempatkan diri untuk meminta izin kepada atasannya untuk mengambil cuti selama 2 hari. Jadi, selama menunggu kedatangan mereka, Armin menghabiskan waktu untuk membaca.
Tiba-tiba, Annie datang membawa boks donat dan duduk di pangkuannya. Untuk menjaga mood istrinya yang sudah membaik, Armin tidak berusaha untuk mengusirnya.
Dengan Annie yang duduk di pangkuannya, Armin tidak bisa membaca buku dengan nyaman.
Ia berusaha mencari sudut pandang yang pas untuk membaca, walau badan Annie sangat mungil, tetap saja buku yang Ia baca tertutup oleh mahluk ini.
Diletakkannya buku itu, Armin melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, mengecup pundak dan leher.
"Ar, geli tau,"
masih fokus pada tv dan donatnya, Annie menghiraukan Armin dan melanjutkan aktivitasnya.
Tak terima, Armin menggigit pelan telinga Annie dan menyelipkan telapaknya, menggali daerah di bawah sweatshirt Annie
"Hn! Ar,! "
Armin memutar bola matanya untuk menemui Annie. Alis bertekuk, bibir menyudut dan protes keras adalah ekspresi yang Armin kira akan muncul di wajah Annie, Tapi Ia salah.
Pipinya merona, dan matanya menggambarkan ekspresi setuju akan apa yang dilakukannya. Tak menunggu lama, Armin menidurkan Annie di sofa. Telapak kanannya melanjutkan penggalian lebih dalam, sedangkan telapak kirinya membawa jemari Annie ke mulutnya.
Jari-jari nya terasa seperti coklat. Armin melanjutkan aksinya dan terus melumuri jemari mungilnya dengan saliva dan menggigit pelan. Mimik wajah Armin meningkatkan gairah, matanya terselubung nafsu. Annie hanya bisa melihat, membiarkan suaminya memimpin kegiatan kali ini.
Annie menarik tengkuknya untuk memulai ciuman. Lidah mereka bergelut, saat ini Annie mengalah dan membiarkan Armin menguasai teritori. Telapak kanannya meremas lembut milik Annie
"Ah!"
Kepala Annie sedikit terangkat. membuyarkan pergelutan mereka, Ia mengekspos leher bawahnya. Armin menyambar nadinya, mengecup dan menggigit rahang bawahnya, tangan kanan berpindah, menelusuri jalan tulang belakangnya.
"Ting .. tong..."
ugh.
Bel rumah yang berbunyi memberi sinyal bubar. Dalang dari berbunyi nya bel rumah itu pasti Ayah dan Ibunya, Armin harus segera membukakan pintu untuk mereka. Dengan enggan, Armin dan Annie beranjak dari sofa, merapikan pakaian mereka, dan menuju ke sumber suara.
Di balik pintu, terungkap dua orang yang mereka tunggu untuk datang hari ini. Annie dan Armin mempersilahkan masuk, tak lupa pelukan pelepas rindu.
Ibu meletakkan masakan yang ia olah sendiri di rumah, bersama Annie Ia menyiapkan peralatan makan. Sedangkan Armin menyiapkan meja makan dengan Ayahnya.
Mereka duduk bersama, menikmati hidangan yang tersaji di meja makan. Yang terdengar hanya suara peralatan makan yang berdenting. Masakan dari Nyonya Arlert memang sederhana, hanya pasta dan sup jagung. Tetapi, bahan yang dia gunakan sangat segar, karena mereka menggunakan hasil ladang mereka.
Setelah menyelesaikan santapan , Armin membereskan piring kotor dan Annie membersihkan meja, tak lupa Armin juga membersihkan sisa busa yang tercecer.
Selesai mencuci piring, Ia meminta kepada Annie untuk membuatkan mereka teh hangat. Dengan senang hati, Annie merebus air dan menyiapkan dessert yang mereka beli di kios.
Pria muda ini menanjak ke lantai dua untuk mengambil sesuatu. Ia membuka lemari, mencari map coklat yang Annie dapatkan dari Rumah sakit.
Map itu berisi surat kesehatan dan hasil ultrasound pertama milik Annie.
Kembali ke ruang keluarga, Armin membawa secarik kertas yang baru saja Ia ambil dari kamar. Ia tak sempat memberitahu kepada orangtuanya di telepon, jadi Ia akan memberitakannya sekarang.
Menuruni tangga, Armin melihat Annie, Ayah dan Ibunya sedang menikmati teh hangat yang baru diseduh. Ia mempercepat langkahnya, ingin segera bergabung dan mengumumkan kabar baik yang telah ditunggu-tunggu.
Armin menempati tempat duduk di dekat ibunya. sebelum sang Ibu sempat menawarkan Anaknya untuk meminum teh yang tersaji di meja, Armin menyodorkan kertas yang Ia bawa dari lantai atas.
Ibunya terkejut, jantung serasa lompat bebas, mimik wajahnya yang ramah berubah jadi senyuman lebar. Segera, Nyonya Arlert memberi kertas itu kepada suaminya.
"Armin.. Annie... Kok ibu sama bapak nggak dikasih tau? Sejak kapan??"
Ibunya menginterogasi sepasang suami istri ini dengan penuh semangat, Ia sangat senang karena akan segera memiliki cucu.
"Kemarin, Annie muntah, terus keringat dingin, jadi kukira tipesnya kambuh, eh, ternyata hamil hehe.."
Tersenyum, Ibu dari anak tunggal ini menarik mereka berdua dan memeluknya, Ayahnya pun ikut bergabung dan tertawa.
Mereka menghabiskan waktu bersama. Berbincang, makan, dan bersantai. Orangtuanya sempat membahas topik tentang cucunya yang belum terlahir. mereka terus memandangi kertas berskala hitam putih itu dan Ibunya memberi saran soal pengalamannya waktu mengandung.
18.15
Ayah muda berambut pirang ini membawa gelas ke dapur untuk dicuci, sedangkan Annie sedang berbincang dengan Ibunya, Ayahnya berdiri mengamati macam tanaman yang Armin rawat. Melirik jam tangannya, pria tua ini bertanya kepada Istrinya.
"ibu, sekarang sudah jam 6."
Ibu Armin menoleh kearah Ayahnya dan mengangguk. Annie terheran dan bertanya kepada ibu mertuanya. "Ayah sama Ibu nggak nginep?", Ia sangat heran. Tentu saja, karena setiap datang kemari, Mereka akan menginap sampai dua minggu atau lebih.
"Maaf ya Annie, Ibu sama Ayah ada klien yang di luar kota, Karena lewat rumah kalian, jadi...kita mau mampir sebentar."
Nyonya Arlert menggali tasnya dan mengeluarkan sebuah toples kaca berisi madu. sambil tersenyum, Ia menyerahkan toples itu.
"Ini buat Annie, kemarin dapat tester dari temen ibu... ini madu murni kok enak buat campuran teh.
Annie menerima pemberian ibu mertuanya dan berterimakasih, Ibu dari suaminya ini mengerti akan selera sang menantu yang sangat menyukai makanan manis.
"lho? ibu sudah mau pulang? "
Armin bertanya dengan wajah bingung.
"iya nak, ibu sama bapak ada proyek nih, belum tahu kapan selesainya. "
Armin mengangguk, memaklumi pekerjaan orangtuanya. Waktu kecil, terkadang Ia dititipkan pada kakeknya ketika mereka berdua sedang bekerja. Dalam sebulan mereka hanya ada di rumah selama seminggu.
Selesai berpamitan, Armin dan Annie mengantar Ayah dan ibunya sampai ke mobil, dan menyuruh mereka untuk berhati-hati. Armin menunggu sampai mobil mereka tak terlihat dari blok yang mereka tinggali, sedangkan Annie membereskan gelas dan piring yang sudah dicuci.
Armin kembali dari teras dan memeriksa madu yang diberikan oleh Ibunya dan menyimpannya di laci. Pria ini menjumpai Annie yang sedang merapikan meja. Armin berjalan ke arah Annie dan merangkulnya dari belakang.
"Annie, Lanjutin yuk?"
Annie merenggut kerah baju suaminya dan menariknya dalam ciuman. Kali ini, Ia tak memberi ruang pada Armin untuk beraksi, telapak menelusuri dada bidangnya, lidahnya menyusup ke susunan gigi bawah dan menjilat langit-langit rongga mulutnya.
Armin mengerang, membuyarkan ciuman dan mendorong Annie ke lantai. Ia menekan kedua tangan mungil Annie ke lantai, sehingga Ia tak dapat bergerak.
Sikap Annie yang barusan menggugah suatu yang lain di dalam dirinya. Tak biasanya Annie sangat bersemangat seperti ini, bahkan Ia sangat susah dimintai jatah.
Armin menggendong Annie. Ia membawanya ke kamar dan membaringkan tubuh istrinya di atas kasur. Kini, kedua lengannya berdiri tegak di samping sisi Annie, Armin meluangkan waktunya untuk mengapresiasi pemandangan ini. bibir tipis, Hidungnya yang mancung, kulitnya yang seputih porselen, dan matanya...
Melihat suaminya melamun, Annie mengangkat kakinya dan menyatukan pinggang mereka. Perlakuan Annie membuyarkan Armin dari lamunannya. Kini, Armin dapat merasakan miliknya yang semakin menegang, bersemangat untuk melakukannya.
Pria ini melepas baju dan celana, hingga hanya boxernya yang tersisa. Ia meraih sweatshirt Annie dan menariknya, mengungkap dadanya yang mulus. Armin menyisipkan ibu jarinya dan membebaskan buah dadanya dari bra yang dikenakannya.
Tangan Annie meraih leher Armin dan mendekatkan wajah Armin ke lehernya, sedangkan Armin melepaskan celana Annie.
Ia menghempaskan baju, celana serta dalaman istrinya ke lantai, fokus pada sesi yang mereka geluti. Annie mulai tidak sabar dan berulang kali memberi sinyal kepada rekannya untuk segera melakukan "itu".
Melihat istrinya yang tidak sabaran, Armin segera menuruti Annie dan memasukkannya.
"AnnhHa.. "
Annie menahan Armin, tangannya mengepal di depan dada suaminya, memberi isyarat untuk memperlambat geraknya.
"unhh..."
Annie menahan sakit dan sedikit perasaan terbakar di selangkangannya, perlahan, Annie membiarkan Armin untuk masuk, sedikit demi sedikit. Armin tidak keberatan untuk menunggu Annie menyiapkan diri.
"nggHhaaaa..."
Armin mulai bergerak perlahan, merespon sinyal yang ia tangkap dari Annie, saat rasa sakitnya berkurang, Annie ikut serta menggerakkan pinggangnya, mencari suatu yang lebih untuk memenuhi hasratnya.
Ia mempercepat gerakan di pinggulnya, menghantamkan kulit mereka berulang-kali, Armin memegang pipi Annie, menatap matanya dan menjejakkan ciuman di pipi kiri sampai rahang bawahnya.
Armin juga sempat menelusur lebih ke bawah, meninggalkan jejak di dada dan ulu hati, meraba bagian samping dan depan perutnya.
Armin menahan badannya agar tidak terjatuh di atas istrinya, penyelesaian yang baru saja dialaminya membuat sekujur tubuhnya lemas seperti jeli. Ia menarik selimut dan berbaring di sebelah Annie.
Nafas mereka terengah kelelahan, Armin memejamkan matanya dan menarik Annie ke dalam pelukan. Ia menyingkirkan surai Pirang yang menyembunyikan paras cantiknya. Armin kembali menyerang Annie dengan kecupan tipis di sekujur wajah dan rambutnya, berusaha menenangkan Annie yang baru turun dari tingginya.
Saat degup jantung mereka kembali stabil, matanya mulai mengantuk dan siap mengantarkan mereka berdua ke dunia mimpi.
