Disclaimer All Character belongs to Hajime Isayama.

.

.

.

.

Hai pembaca setia, karena kondisi author yang kurang baik, fanfic ini baru bisa diupdate sekarang, terimakasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu buat membaca. let's Go!!:D

brrtt...brrttt..brrttt—

pip.

"Halo Nnie?"

" Aku udah di depan toko."

" oh, oke ini aku di perempatan"

Armin baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantor, dan membawa sisa berkas untuk dikerjakan di rumah nanti. Sekarang, saatnya mengantar Annie ke dokter. Janji temu yang ditetapkan hari ini tepatnya pada pukul 5 sore. Karena sekarang masih jam setengah 4, Armin ingin mengajak Annie makan siang, kesibukannya di kantor sudah menyita cukup banyak quality time mereka.

Tak memerlukan perjalanan jauh, karena tempat mereka berdua bekerja hanya terpisah sejauh 1 blok. dari ujung jalan, Armin bisa melihat Annie sedang memainkan ponsel sambil berdiri di depan toko.

Pria berusia 28 tahun ini segera menepi, menghentikan mobilnya di depan toko dan membuka jendela kursi penumpang.

" Hai Nnie... "

dengan senyuman hangat, pria ini menyapa kekasihnya.

sambil membukan pintu, Armin mempersilahkan Annie untuk masuk.

" kok agak lama Ar?"

"oh, tadi ada revisi berkas. Kita makan dulu aja yuk Nnie"

ujar Armin sambil menggenggam telapak sang wanita.

Sebenarnya, sekarang belum jam makan malam, tapi Annie tidak menolak tawaran suaminya. Kalau boleh jujur, sekarang Ia merasa lapar walau baru saja melahap beberapa potong roti.

"Tumben ada revisi?"

" ah, nggak papa kok. Annie mau makan apa?"

" Aku mau chinese food boleh?

" oke sayang, nanti makan yang banyak ya."

Armin tersenyum, menautkan jarinya di telapak Annie. Sekarang perutnya sudah lebih besar, kemeja yang dipakainya menonjolkan sedikit bulatan perut Annie. Sambil mengobrol, Armin mengelus dan menempatkan tangannya di perut istrinya, penasaran sejauh apakah sang buah hati sudah berkembang.

" Annie, bayinya udah gerak belum? "

Armin bertanya sambil menatap jalan didepannya.

" kayaknya belum sih, kan masih 3 bulan."

Wanita pirang ini menjawab sambil menatap suaminya yang merespon dengan tawa kecil.

Annie menempatkan tangannya di atas lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Armin. Sambil melalui jalan raya yang sibuk, Pasangan ini berbincang mengenai pekerjaan, dan tentang anak mereka.

Mobil mereka menepi, terparkir di depan restoran. Armin dan Annie keluar dari kendaraan menuju ke dalam rumah makan.

"Annie, Kamu cari tempat duduk ya, aku yang pesenin di kasir, kamu mau apa?"

" Aku mau yang biasanya Ar, Ayamnya tambah sepiring ya"

"Oke Nnie"

Armin menjauh dari meja yang mereka tempati meninggalkan Annie untuk memesan di kasir.

Wanita pirang ini duduk dan menunggu suaminya selesai memesan makanan. Annie menghela nafas panjang, kepalanya yang pusing sejak tadi pagi masih belum hilang, di kantor pun dirinya sempat muntah-muntah. menangani pekerjaan saat sedang mengandung sangat melelahkan.

"Annie.."

Armin kembali membawa nota dan nomor pesanan yang didapat dari kasir.

"Hari ini nggak rame Nnie, sebentar lagi pesenan kita jad—

"Armin, kamu nyembunyiin sesuatu dari aku ya?

kata Annie asal tebak.

Armin terkejut dengan pertanyaan istrinya, Jangan sampai Annie mengetahuinya, setidaknya sampai kondisinya stabil.

"H,hah? nyembunyiin apa?"

Annie menatapnya ketus, wanita didepannya bersiap melanjutkan interogasinya.

" pesanan meja 20,"

seorang pelayan datang menyela perbincangan mereka membawa makanan yang dipesan.

Dari sudut matanya, lelaki ini menangkap mimik wajah Annie yang seketika berubah ketika melihat porsi favoritnya disuguhkan di atas meja.

" Selamat makan Ar.."

Annie mengambil sendok dan garpu, melahap menu yang dipesankan untuknya. Armin pun mulai melahap makanannya dengan keadaan jantung yang hampir copot.


.

.

.

.

.

.

"Aku nggak mau makan."

Lengan yang dipakainya untuk memegang sendok dan piring sudah lemas dirasanya. Sudah satu jam berlalu sejak perawat mengantarkan sarapan ke dalam ruangan Annie, tapi makanan yang disediakan di atas nampan hanya habis separuh.

Akhirnya, Armin menyerah.

Ia meletakkan nampan itu di atas meja, tak mau melihat Annie muntah lagi. Karena semalam, Ia sedikit memaksa Annie untuk menghabiskan makanan yang disediakan, sayangnya perutnya tidak kuat dan mengeluarkan makan malamnya saat itu juga.

Annie baru dipindah ke ruang rawat inap setelah berhasil menghabiskan 2 malam melewati masa kritisnya di ICU. Dan sekarang sampai 4 hari ke depan, Annie harus menjalani masa pemulihan sebelum diperbolehkan istirahat di rumah.

"Armin?"

"hn?"

Pria ini tersadar dari lamunannya, membalas tatapan dari wanita di depannya ini.

" ayam gorengnya bawa sini "

"oh, oke"

Armin mengambil piring berisi lauk dan memberikannya pada Annie, dan Armin kembali melanjutkan makan siang dengan cemas.

.

.

.

pukul 6 sore, mereka berdua baru saja sampai di rumah. Hasil pemeriksaan kandungannya bagus, tidak ada gangguan kesehatan pada janin dan ibu. Armin merapikan barang belanjaan yang baru saja di beli, dan menyuruh Annie untuk mandi terlebih dahulu sebelum beristirahat.

Setelah meletakkan tas di ruang kerjanya, Armin menyusul Istrinya ke dalam kamar untuk mandi juga. Tak hanya lelah, tapi ia juga merasa gerah dan lengket, otot bagian punggungnya sudah meraung minta di istirahatkan di atas kasur.

Saat membuka pintu kamarnya, Armin menjumpai Annie yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. T shirt dan celana pendek menjadi piyama favorit wanita pirang itu.

"Armin, nggak mandi? "

"iya habisini Ann, kamu tiduran dulu aja. Masih mual? obat yang tadi dikasih dokter sudah diminum belum?"

"sudah Ar, pusingnya udah hilang."

"Oke aku mandi dulu ya Ann."