Pintu kereta api jurusan Chohegan tertutup, kereta mulai melaju perlahan lalu kemudian bergerak cepat. Di dalam gerbong suasana kereta tidak terlalu ramai dan juga penuh sesak seperti biasanya mungkin dikarenakan hari ini masih banyak sekolahan yang masih libur, tetapi berbeda dengan seragam sekolah yang dipakai oleh seorang gadis yang duduk di samping seorang anak laki-laki tampan memakai earphone, tampaknya sekolah tersebut sudah memulai hari pertama sekolahnya.

"Jangan bertingkah manja di depan teman-temankku." Ucap anak lelaki tampan bernama Zero Kiryu melepaskan earphonenya dari telinganya

"Hah kenapa? bukankah aku adikmu?!" Tanya gadis di sebelahnya bernama Alice Alicia menoleh ke arah Zero.

"Posisikan sikap dan tingkah lakumu sesuai tempatnya, kau sudah kelas 1 SMA sekarang, bukan anak TK lagi."

"Huh..baiklah."

Zero kemudian memakai kembali earphone di telinganya, sedangkan Alice melirik ke sekeliling tempatnya duduk. 10 menit berlalu akhirnya kereta berhenti di stasiun Chohegan, pintu kereta terbuka, Alice beserta Zero berjalan keluar stasiun kereta bawah tanah tersebut menuju SMA Gerpinart yang tak jauh jaraknya dari stasiun. Disaat mereka berjalan menuju SMA Gerpinart terlihatlah banyak anak perempuan dan laki-laki berseragam sama menuju SMA Gerpinart.

"Huaaa….ramai sekali." Alice kagum menerawang kesekelilingnya

"Tentu saja inikan hari pertama masuk sekolah dan pembagian kelas." Jawab Zero melepaskan earphonenya

GYUTTT

"Begitu ya? Heheheh." Ejek Alice merangkul lengan Zero

"A..apa yang kau lakukan?!" wajah Zero memerah." Lepaskan tanganmu, ini di sekolah."

SRATT

"Baiklah." Jawab Alice tersenyum melihat Zero menarik tangannya

Alice kembali melanjutkan langkahnya berjalan di samping Zero. Selang beberapa langkah dari kejauhan samar-samar alunan music bethoven berjudul fur alice terdengar, Zero refleks menarik tangan Alice dan berlari secepatnya menuju gerbang pintu sekolah begitu juga murid lain.

DRAP DRAP DRAP DRAPPP

Mereka berlari secepat-cepatnya hingga akhirnya mereka sampai di halaman sekolah yang terbentang luas di kiri kanannya terdapat taman bunga mawar merah serta putih disaat bersamaan pintu gerbang utama sekolah tertutup secara otomatis. Pelan-pelan Alice berjalan sambil melihat ke kiri dan kanan halaman tersebut.

GRABB

"Ayo cepattt!" Zero menarik tangan Alice

DRAP DRAP DRAP

Dia menarik paksa tangan Alice dan membawanya masuk ke dalam gedung, sesampainya di dalam gedung sekolah, di sebelah kanan setelah pintu masuk terdapat papan pengumuman pembagian kelas. Zero melepaskan genggaman tangannya di tangan Alice lalu memerintahkan Alice melihat pengumuman yang ada di papan mading.

"Huh…ramai sekali." Keluh Alice dalam hati sambil memaksa masuk dalam kerumunan orang yang melihat papan madding juga.

Sambil berdesak-desakan Alice akhirnya sampai juga tepat di depan papan mading, dia melihat daftar nama di kolom 1-A ternyata namanya ada di urutan ke-15 pada kolom tersebut, langsung saja dia kembali mendatangi Zero yang sedang menunggu di belakang kerumunan.

"Kelas berapa?" Tanya Zero ketus

"1-A" Jawab Alice tersenyum sambil bergaya vis. "Kau akan menunjukkan kelasnya kan, kakak?"

"Kau sudah besar dan dewasa. Kau bisa mencarinya sendiri." Jawab Zero dengan nada ketus lagi, dia mulai berjalan meninggalkan Alice

"Huh…pelit sekali." Keluh Alice memajukan bibirnya. "Kenapa sikapnya ketus dan cuek akhir-akhir ini? Apa dia sudah punya pacar?

TAP TAP TAP

Alice pun melangkahkan kakinya meninggalkan kerumunan orang yang ada di depan papan mading, sementara itu salah satu teman sekelas Zero merangkul pundak Zero dari belakang.

"Itu adikmu?!" Tanya Egan sang ketua kelas di 3-A

"Iya." Jawab Zero singkat

"Cantik ya? Hehehe."

Zero hanya melirik Egan tanpa mengatakan sepatah katapun, namun di dalam hatinya ia berkata: "Ya…dia sangat cantik dan begitu mengagumkan."

Zero berserta Egan berjalan menuju kelas mereka di lantai 2 sebelah selatan gedung sekolah, sementara itu Alice sedang berjalan ke gedung sebelah barat lantai 2 dimana kelasnya berada. Setibanya Alice di kelasnya, ia menduduki sebuah bangku di depan meja guru yang kebetulan sedang kosong dan tak lama kemudian pintu kelas terbuka, seorang guru tampan memakai kemeja dengan beberapa kancing kemeja bagian atasnya terbuka berjalan memasuki kelas.

"Tampannnn…." Puji seluruh murid perempuan memandang takjub guru pria tersebut tak terkecuali Alice

Guru pria itu meletakkan sebuah buku di atas meja lalu memperkenalkan dirinya. Ketika guru tersebut memperkenalkan dirinya, pandangan mata Alice jatuh pada jari manis kanan gurunya itu. Terdapat sebuah cincin dengan bentuk sama seperti mainan kalung yang dipakai oleh Alice.

"Mungkinkah?" Benak Alice kaget. "Dia kakakku? tapi tidak mungkin, itu hanya kebetulan. Tetapi, kalau hanya kebetulan bukankah seharusnya dia memiliki pasangan satunya lagi."

BRAK

Tiba-tiba Alice mendadak berdiri hingga mengejutkan seluruh orang yang ada di ruangan tersebut.

"M.. maaf…bisakah saya permisi sebentar, pak guru?" Tanya Alice

"Baiklah." Jawab Kaname tersenyum

"Kyaaaaaaaaa...tampannya." Seluruh murid perempuan teriak terpukau

DRAP DRAP DRAP DRAP

Alice berlari menuju lantai 1 pusat bangunan, ia mengeluarkan smartphonenya untuk menghubungi Zero, dia ingin menanyakan letak laboratorium komputer kepada Zero, namun di pertengahan jalan dia berhenti berlari sebab ada seorang wakil kepala sekolah dengan seorang guru wanita sedang berbicara di depan kantor kepala sekolah. Perlahan-lahan Alice berjalan, tak sengaja ia mendengar pembicaraan wakasek dengan guru wanita tersebut saat melewati mereka. Kini Alice sedang berjalan ke lantai 1 gedung sebelah timur, ia mendatangi ruangan di dekat pintu masuk gedung, itu adalah laboratorium. Suasana sangat sunyi juga sepi, tak seorangpun terlihat melewati lorong tersebut. Tanpa mengucapkan salam Alice membuka pintu laboratorium tersebut lalu memasukinya. Ia melihat kesekelilingnya ruangan sangat gelap.

"Apakah ini tombol lampu?"

Alice menekan 2 buah tombol dan hiduplah semua lampu dalam ruangan tersebut, kemudian dia berjalan mendatangi sebuah komputer terdekat dan duduk menghidupkan komputer tersebut. Ia memasukan sebuah id ke komputer tersebut lalu terbukalah portal sma Gerpinart.

KLIK

"Ini dia." Alice memasang wajah serius melihat biodata guru juga wali kelasnya itu di dalam portal. "Kuran Kaname sang guru fisika."

Dengan amat serius Alice membaca keterangan di depan matanya, ntah apa yang ingin dia lakukan dengan keterangan Kaname tersebut. Setelah ia selesai membaca seluruh keterangan mengenai Kaname, dia mengeluarkan id Zero, mematikan komputer juga lampu laboratorium dan berjalan kembali menuju kelasnya. Sesampai di kelasnya ternyata kelas sudah usai, hanya Kaname saja yang tertinggal duduk di bangku guru.

"Maaf..aku terlalu lama di kamar mandi pak guru." Ucap Alice menunduk di samping Kaname

"Ah tidak apa-apa." Jawab Kaname tersenyum

Tak berapa lama seseorang membuka pintu kelas, Alice dan Kaname menoleh ke arah pintu itu, ternyata seorang guru wanita muncul di hadapan mereka. Guru wanita itu bernama Sora Sheferlri, disaat Sora berlari ingin memeluk Kaname, tak sengaja Alice melihat jemari Sora, disana dia tidak melihat cincin yang sama dengan Kaname ataupun pasangan dari cincin Kaname, setelah selesai memeluk Kaname untuk melepaskan rasa rindunya Sora pergi meninggalkan kelas itu dan tinggallah Alice berdua saja dengan Kaname.

"Bolehkah aku mengatakan sesuatu, pak guru?" Tanya Allice memberanikan diri

"Ya tentu saja..." Kaname membalasnya dengan senyuman

Dengan segera Alice melepaskan kalung di lehernya lalu mengeluarkan cincin di kalung tersebut, Alice pun memberikannya kepada Kaname dan meminta Kaname memasangkan cincin tersebut dengan milik Kaname, ternyata hasilnya berpasangan. Alice juga memberitahukan Kaname kalau cincin itu adalah warisan kedua orang tuanya, mereka mengatakan kalau mereka memberikan setengah bagian kepada Alice dan setengah bagian lainnya kepada kakaknya sewaktu mereka masih bayi, sayangnya Kaname tidak mempercayai hal itu karena selama ini dia adalah anak tunggal di keluarganya, dia pun langsung melepaskan kedua cincin itu lalu berjalan meninggalkan Alice sendirian di kelas.

… 10 Menit Kemudian…

Sebuah mobil datang menjemput Alice diiringi Kaname berjalan keluar dari pintu utama sekolah. Alice hanya berdiri terpaku melirik Kaname yang berjalan ke area parkir mobil sekolah. Alice cepat-cepat masuk ke dalam mobil, dia meminta supirnya mengikuti mobil Kaname. Kurang lebih 8 menit mengikuti mobil Kaname tibalah mereka di sebuah apartemen mewah, Kaname memarkirkan mobilnya di lantai paling bawah apartemen, sementara Alice mengendap-endap mengikuti Kaname seperti seorang penguntit. Dengan santainya Kaname berjalan menghampiri apartemennya kemudian memasukkan password di pintu itu, pintu pun terbuka secara otomatis dan Kaname menginjakan kaki ke dalam apartemennya, tetapi sewaktu dia ingin menutup pintunya tiba-tiba saja Alice menahannya dengan sekuat tenaga.

"Tu tunggu..biarkan aku masuk..!" Alice menahan pintu sekuat tenaga

"A..apa yang kau lakukan disini?!" Kaname kaget setengah mati

"Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan kakakku..hehehehe."

"Aku bukan kakakmu."

"Tu..tunggu dulu. Lihat apa itu?!"

TAP TAP TAP

"Oke.. silahkan tutup." Alice tersenyum berhasil mengelabui Kaname

"Anak ini..?!" Kaname melirik tajam Alice

Kemudian Kaname menutup pintu apartemennya, dia mengikuti Alice berkeliling di apartemennya. Sepanjang jalan Alice berkeliling, sebuah senyuman manis selalu menghiasi wajahnya. Alice tidak menyangka kalau kakaknya adalah orang sangat kaya. Di sisi lain, Kaname masih belum bisa percaya kalau Alice adalah adiknya sebab selama ini kedua orang tuanya tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki seorang adik.

"Baiklah sebagai adik baik hati aku akan memasak untukmu kakak." Alice berbalik arah

"Aku tidak punya adik." Jawab Kaname ketus. "Tapi gadis kaya sepertimu apa bisa memasak?"

"Serahkan padaku…hihhih." Jawab Alice tersenyum merangkul Kaname

"Terserah sajalah..aku mau mandi." Kata Kaname melepaskan pelukan Alice berjalan menuju kamarnya

Selanjutnya Alice melepaskan jas seragamnya beserta mengendurkan dasinya. Ia bersiap untuk masak makan malam. Sementara Alice menyiapkan makanan di dapur, Kaname bergegas mandi. Malam itu untuk pertama kalinya Kaname kedatangan tamu seorang gadis, selama ini tidak ada seorang pun berkunjung ke apartemennya bahkan Sora sekalipun. Meskipun dia sudah bertunangan dengan Sora beberapa bulan lalu, namun dia tidak pernah mengajak Sora berkunjung ke apartemennya.

"Gadis aneh." Kaname tersenyum di kamar mandinya