…Pukul 8pm..
Makan malam telah dihidangkan di meja makan, Kaname juga telah selesai mandi, ntah apa yang terjadi mereka berdua makan malam bersama dalam satu meja makan, namun sayangnya Alice tidak bisa berkonsentrasi makan. Dia yang duduk berhadapan dengan Kaname terus melirik ke arah dada Kaname yang tak tertutupi kemeja. Berkali-kali dia mencoba berkonstrasi makan, tetapi dada Kaname jauh lebih menggiurkan, pemandangan dada itu telah menghancurkan konsentrasi serta keteguhan hatinya sebagai seorang gadis. Sesudah mereka berdua selesai makan malam Kaname mengantarkan Alice kembali pulang ke rumahnya, namun Alice lupa akan jas seragam sekolahnya sampai pada akhirnya dia menyadari jasnya tertinggal di mobil Kaname saat dia melepaskan kemejanya.
"Jasku...!" Teriak Alice histeris di dalam hati
…Sementara Itu Di Dalam Mobil…
"Gadis aneh…strawberry susu…parfum yang menganyutkan juga." Kaname tersenyum sambil menyetir mobilnya
…Kediaman Kiryu…
Selesai mandi Alice berbaring di ranjangnya melihat langit-langit kamarnya, dia membayangkan Kaname dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Tampan sekali..." Puji Alice
Sejenak dia terdiam terpaku memandangi langit-langit kamarnya, tak lama kemudian matanya mengantuk, dia pun menutup matanya tidur dengan nyenyak, sementara itu Zero juga Kaname duduk membaca sebuah buku di ranjang mereka hingga larut malam.
Keesokan harinya adalah hari libur nasional, pagi-pagi sekali Alice sudah mengendap-endap keluar rumah, dia menarik seluruh tabungannya juga mengambil uang dari beberapa kartu kreditnya hingga mencapai limit. Seluruh uang tersebut akan digunakannya membeli beberapa bangunan mewah beserta tanah cukup luas di luar kota. Dia pergi dengan pengacara pribadinya seorang wanita berambut pirang sebahu bernama Callen Smith ke beberapa kota untuk menghabiskan semua uang yang ditariknya. Siang harinya pukul 1pm Alice kembali ke rumah, ternyata kedua orang tuanya sudah menunggunya sejak 1 jam yang lalu, mereka bukanlah orang tua kandung Alice, melainkan orang tua angkat Alice. Kedua orang tuanya tidak habis pikir sebab tagihan kartu kredit secara beruntun mendatangi kedua orang tuanya ketika mereka mengadakan pertemuan di luar kota. Kini Alice mendapatkan bermacam-macam nasehat dari kedua orang tuanya, namun dia hanya tersenyum menerima nasehat kedua orang tuanya tanpa melawan sedikitpun.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Alice?" Ucap Zero dalam hati sambil memandang wajah Alice di sebelahnya
Kedua orang tua Alice menghukum Alice dengan menyuruh Alice bekerja paruh waktu untuk menembus semua kesalahannya, namun Zero menolak hukuman kedua orangtuanya karena bagi Zero hukuman itu terlalu berat untuk Alice yang baru saja menginjak SMA, bukannya menolak, Alice malah menerimanya, Alice juga mengatakan kepada orang tuanya kalau dia akan tinggal di luar rumah agar bisa menembus semua kesalahannya dan belajar menjadi gadis yang mandiri. Tak lama kemudian Alice meninggalkan rumahnya dengan beberapa baju di dalam tasnya, dia pergi dengan sebuah taksi menuju suatu tempat. Di dalam taksi tersebut tampak Alice sedang menelpon seseorang sambil tersenyum. Ntah apa yang ada di dalam pikiran Alice pada saat itu, kurang lebih lima belas menit berlalu sampailah Alice di depan sebuah pusat perbelanjaan di kota Chohegan. Alice terburu-buru keluar dari taksi berlari masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Dia sedang berlari menuju sebuah lift dalam pusat perbelanjaan tersebut.
"Sekarang dimana?" Tanya Alice
"Di lantai 4." Jawab seseorang dari telepon
"Dibagian?"
"Pakaian, nona Alice."
"Baiklah.. kau bisa kembali sekarang." Jawab Alice tersenyum
TING
Pintu lift terbuka, Alice keluar lift. Dia berjalan memasuki department store bagian pakaian, dia terus berjalan mengelilingi bagian pakaian dan akhirnya tibalah dia di depan pegawai bagian obat-obatan.
"Kalau anda ingin melakukannya dengan kekasih tercinta sebelum menikah alangkah baiknya kalau anda memilih merk alkea." Jelas Alice dari belakang seorang pria yang memegang sebuah bungkusan kecil. "Alkea adalah kondom yang di produksi di kwirz, kondom ini menjadi kondom paling tipis di dunia mengalahkan rekor kondom paling tipis sebelumnya yang dipegang oleh sebuah perusahaan Owern dengan merk oarn. Selain itu alkea juga mendapatkan pengakuan dari world records sebagai kondom paling tipis di dunia. alkea juga tidak mudah robek, alkea memiliki ukuran 0,036 mm. 2mm lebih tipis dari pemegang rekor sebelumnya, yaitu 0038mm. sebagai perbandingan rata-rata rambut manusia memiliki ketebalan 0,06mm, ketebalan ini sama dengan ukuran kondom arve ultra thin produksi trium. Heheheh."
"Apa yang dilakukan gadis ini disini?! apakah dia maniak seks?" Pikir Kaname memadang Alice curiga di belakangnya
"Nona ini…terima kasih." Ucap Kaname cuek mengembalikan kondom di tangannya
TAP TAP TAP
"Ah pak guru…tunggu…!" Alice berlari mengejar Kaname
"Tu tunggu…!" Alice menarik lengan kemeja Kaname
"Ada apa?" Kaname berbalik arah. "Jangan dekat-dekat. Aku tidak ingin dekat dengan gadis maniak seks sepertimu."
DHUARRR
"Apaaaa maniak sekssss?!" Alice histeris dalam pikirannya
"Heh tuan fisika…aku hanya menyukai pelajaran biologi, kebetulan saja bab terakhir biologi saat aku tamat sekolah dulu adalah mengenai organ reproduksi. Tidak salahkan aku hanya mencari tahu apa-apa saja yang menyangkut materi itu?!" Alice mengomel. "bukankah kau barusan…."
"Pelankan suaramu…" Kaname refleks membungkan mulut Alice.
"Ah tidak menyangka.."
"Iya tidak menyangka ya.."
"Ternyata pria tampan itu hahaha.'
Bisik wanita-wanita di pusat perbelanjaan pakaian tersebut melihat ke arah Kaname
DEGHH DEGHH DEGHH
"Wajah kami sangat dekat. Dia tampan sekali." Wajah Alice memerah. "Apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama? sepertinya aku sedang puber. Ataukah sedang jatuh cinta?"
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Aku melihat seorang pria cabul."
"Apa katamu? cabul?' Kaname tecengang. "Ayo…aku akan mengantarkanmu pulang ke rumahmu, tidak baik murid sma berkeliaran di mall"
"Tidakkk…tidakkk." Teriak Alice berjongkok meronta menarik tangannya. "Suamiku, jangan usir aku!"
ZTARRR
"Suami?!" Kaname seperti terhempas badai padang pasir. "Sejak kapan aku menjadi suaminya?!"
"Hah..kejam sekali ya.."
"Iya kejam…"
"Menikahi gadis muda setelah itu membuangnya."
"Pria tidak tahu malu."
"Tidak tahu diri.."
"Lebih baik hidup di dalam laut saja."
ZTARRR
"Hidup di dalam laut?" Kaname diam mematung tak berdaya.
"Permisi anak muda.." Sapa seorang setengah baya. "Meskipun istrimu banyak melakukan kesalahan, tetepi dia masih sangat muda, lebih baik kau memaafkannya karena aku melihat dia sangat mencintaimu."
"Huaaaa benar sekaliii…..hikssss" Alice menangis terharu bahagia. "Terima kasih nenek sarannya. Kau tahu isi hatiku, kau pantas menjadi paranormal."
"Gadis gila." Keluh Kaname menunduk memegang dahinya
Beberapa jam setelah kejadian di pusat perbelanjaan. Kaname akhirnya membawa Alice pulang ke apartemennya meskipun dia tidak ingin melakukannya. Sekarang Kaname sedang berlutut di depan Alice yang duduk di sofa, Alice memberitahukan kepada Kaname kalau dia sedang kabur dari rumah karena kedua orang tuanya tidak menyukai kedekatannya dengan Zero. Tentu saja semua itu adalah sebuah kebohongan Alice belaka.
"Dia adalah kakak angkatku. Ya mungkin aku berasal dari pantai asuhan atau dijual kepada mereka." Jelas Alice memasang wajah sedih
"Oh begitu…jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Kaname curiga
"Tinggal di rumahmu pak guru..hehehe." Jawab Alice tersenyum riang
TLAKKK
"Aww….!" Rintih Alice memegang dahinya. "Kenapa kau menyelentikku, hah?!"
"Kau bisa menghancurkan hubungan pertunanganku dengan Sora.." Jelas Kaname menoleh ke samping
"Ah benar…aku tidak boleh merusak hubungan orang lain meskipun aku tertarik padanya." Alice memegang dagunya
"Kecepatanmu berpikir mengenai cinta lebih cepat 1000x dari menjawab soal fisika." Ejek Kaname
"Kau sedang mengejek atau menghina, pak guru?" Alice memandang jengkel
"Tapi kalau kau ingin menghancurkan hubunganku lebih baik kau menjadi pelayanku, bukan seorang putri." Bisik mesra Kaname
"A..apakah kau tidak mencintainya?" Tanya Alice dengan wajah memerah
"Ternyata kau paham sekali mengenai cinta heheheh." Puji Kaname menepuk-nepuk pelan kepala Alice sambil tersenyum. "Baiklah..kau boleh tinggal disini, sebagai gantinya kau harus menjadi pelayan di rumah ini."
Alice diam terpukau melihat Kaname tersenyum kepadanya, dia juga tidak menyangka kalau rencananya berhasil tanpa ada hambatan sedikitpun, dari awal dia memang berencana tinggal di rumah Kaname seperti keinginannya. Selanjutnya Kaname menuntun Alice ke arah sebuah kamar tidur, tempat dimana Alice akan tidur mulai malam ini sampai seterusnya, itu adalah kamar tidur Kaname, mereka berdua akan tidur dalam satu kamar dan satu ranjang sebab tidak ada kamar tidur lain di apartemen milik Kaname selain kamar tidurnya, tentu saja hati Alice sangat berbunga-bunga karena itu.
Pada pukul 9pm bel pintu apartemen Kaname berbunyi, cepat-cepat Alice berlari membukakan pintu tersebut, ternyata orang yang ada di depan pintu adalah Zero kakaknya., dia menarik paksa tangan Alice untuk pulang ke rumah mereka, sayangnya Alice menolak pulang bersama Zero, dia lebih memilih tinggal bersama Kaname sebagai pelayan Kaname.
"Lepaskan tangannya…" Kaname tiba-tiba muncul memegang tangan Zero yang menggenggam tangan Alice.
"Pak guru?"
"Kau?" Zero terkejut
"Dia mengatakan kalau dia tidak ingin pulang." Jelas Kaname berwajah datar. "Ini kediamanku, dia pelayanku. Kau harus meminta izin kepada majikannya jika kau ingin membawanya."
"Baiklah kalau ini yang kalian inginkan." Ucap Zero menunduk. "Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun kalau kau tinggal dengan murid perempuanmu, Kaname."
Dengan perasaan kecewa Zero meninggalkan Alice beserta Kaname di depan pintu, namun Alice sedikit bersedih melihat kekecewaan di wajah Zero saat meninggalkannya, dia pun berlari mengejar Zero dan meraih lengan Zero dari belakang.
"Tunggu..!" Pinta Alice
"Alice?" Zero berbalik arah
"Drama apa ini?" Kaname bersadar di dinding pintu dengan handuk di pinggangnya
"Aku akan kembali ke rumah itu. Suatu saat aku akan kembali ke rumah itu, kakak." Wajah Alice memerah menatap Zero
CUP
"Eh?" Kaname kaget terpana mendapati Zero mencium bibir Alice
Alice diam tak bisa berkata-kata, matanya seperti ingin keluar saja. Ciuman pertamanya dengan Zero kakaknya.
…hhaahh….
"Tepati janjimu, Alice." Zero menunduk menyandarkan dagunya di pundak Alice. "Ini jawaban isi hatiku selama ini."
"Zero…." Wajah Alice merah merona
Akhirnya Zero pergi meninggalkan Alice di lorong apartemen, sedangkan Alice masih diam berdiri mematung melihat punggung Zero semakin jauh dari pandangannya dan akhirnya menghilang.
"Zero…" Alice meraba bibirnya
Selanjutnya Alice tersenyum kecil, ia berbalik arah dan ternyata dia melihat Kaname masih disana.
"Aku hanya ingin menonton drama incest kalian saja." Kaname tersenyum
"Drama ini tidak layak untuk dipertontonkan atau dilihat." Jawab Alice berjalan memasuki aparteman Kaname
"Kalau kau pemeran utama wanitanya, aku rasa aku ingin ikut masuk ke dalam drama tersebut." Ucap Kaname menunduk berbisik dari belakang tubuh Alice. "Aku sedikit cemburu melihat seorang gadis cantik sepertimu berciuman dengan kakaknya sendiri di depanku, sementara aku hanya bisa melihat."
DEGH DEGH DEGHH
"A...aku…." Alice berdebar-debar. "aku mau mandi..!"
Secepat kilat Alice berlari kabur ke kamar mandi dan Kaname hanya tertawa kecil melihat tingkah Alice. Di malam hari itu untuk pertama kalinya di sebuah rumah megah, Zero merasa sangat kesepian, tidak ada lagi Alice yang selalu menemaninya bercanda setiap malam, di sisi lain di sebuah apartemen mewah di Chohegan, Kaname dan Alice makan malam seperti tidak terjadi apapun. Selesai makan malam Alice bersama Kaname masuk ke kamar tidur.
SRAKKK
"Jangan melewati batas!" Alice meletakan sebuah guling di tengah ranjang. "Berhubung hanya ada satu kamar..kalau pak guru berani melewati zona aman teritorialku, aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib atas pelecehan seksual dan pembudakan anak di bawah umur."
TLAKKK
"Auuwww!" kenapa kau selalu menyelentik dahiku?" Alice kesal mengusap dahinya
"Agar ilmu reproduksimu hilang." Ejek Kaname mengambil sebuah buku dari atas meja di samping ranjangnya.
Selanjutnya Kaname membaca bukunya sampai pukul menunjukkan 2am, dia pun segera meletakkan bukunya di atas meja dan mematikan lampu hanya sinar rembulan saja yang menerangi kamar tidur mereka. Ketika Kaname ingin memperbaiki posisi gulingnya, tanpa sengaja dia melihat kaki jenjang Alice di balik roknya yang tersingkap. Wajah Kaname memerah merapikan rok Alice.
"Tidak akan ada yang tahan kalau kau memakai pakaian seperti ini di depan seorang pria." Wajah Kaname memerah mendekati wajah Alice yang sedang tertidur. "Terlebih lagi aku seorang pria dewasa.
