…1 Bulan Setelah Itu…
Musim gugur tiba, Alice berangkat ke sekolah dengan sebuah syal merah hitam di lehernya. Setibanya di sekolah dia tak sengaja melihat orang berpakaian aneh berjalan menuju ruangan wakasek, namun dia tidak menghiraukannya, dia tidak tahu bahwasanya pria yang tidak sengaja dia lihat adalah salah satu pesuruh Sora yang bertugas mencari asal-usul Alice. Pria itu membawa sebuah amplop di tangannya yang berisikan data-data Alice yang akan dia serahkan kepada Sora.
KNOCK KNOCK KNOCK
Pria tersebut mengetuk pintu ruangan wakasek, dan tak lama terlihatlah Sora dari balik pintu, pria itu langsung memberikan amplop tersebut kepada Sora lalu Sora tersenyum sambil berbisik di telinga orang tersebut.
"Baiklah nona.." Jawab pria itu
CKLIK
Pintu tertutup, pria itu melangkah pergi menjauh dari ruangan itu. Pada Malam harinya media eletronik dikejutkan oleh orang yang mengaku mengetahui siapa sebenarnya Alice juga Kaname. Tentu saja berita itu disiarkan di stasiun tv milik kenalan keluarga Sora. Orang tersebut mengatakan bahwa Kuran Kaname dari keluarga Kuran juga Alice Alicia dari keluarga Kiryu adalah saudara kandung yang sudah lama terpisah. Alice adalah putri kandung dari keluarga Kuran. Seorang wanita muda di hari hujan deras menyerahkan seorang bayi kepada sebuah pantai asuhan sambil berlinang air mata, wanita itu meminta kepada salah salah seorang pengurus pantai asuhan untuk memberikan nama bayi tersebut Alice Alicia serta sebuah cincin dengan mainan daun semanggi kecil di atas. Beberapa minggu setelah kejadian itu, sepasang suami-istri datang ke pantai asuhan itu ingin mengadopsi seorang bayi perempuan, kebetulan hanya ada Alice pada saat itu, maka pihak pantai asuhan memberikannya kepada wanita muda tersebut untuk diadopsi menjadi putri mereka. Selain itu pihak televisi juga menunjukkan sepasang cincin yang dipakai Alice juga Kaname. Seluruh orang yang menonton berita di stasiun tv Y pada saat itu terkejut setengah mati, begitu juga Kaname, dia pun bergegas pergi meninggalkan Alice yang sedang tertidur seorang diri di kamar menuju rumah kedua orang tuanya, di sisi lain keluarga Kuran memerintahkan orang untuk menangkap orang yang sudah menyebarkan berita tersebut di stasiun tv.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya..kau juga tidak boleh memilikinya Alice sayang hahahaha." Sora seorang diri tertawa terbahak-bahak di ruang makan
…Saat Itu Di Apartemen…
Alice mendadak terbangun, tiba-tiba saja dia ingin menonton tv dan tanpa sengaja dia memilih sebuah siaran yang di dalamnya terlihat ayah angkatnya sedang melakukan konferensi pers, ayah angkatnya mengakui kalau Alice adalah anak angkat mereka, namun sayangnya mereka tidak akan menyerahkan Alice kepada keluarga Kuran karena secara hukum mereka adalah orang tua dari Alice. Suasana dalam aula mulai ricuh, sedangkan Alice masih terperanjat di depan tv. Dia juga melihat Zero muncul di dalam konferensi pers tersebut dan menolak Alice sebagai adiknya. Alice yang pada saat itu masih kebingungan mengapa keluarganya sampai mengadakan konferensi pers langsung mengambil handphonenya dan mencari penyebab berita itu di pencarian. Tangan Alice mulai dingin ketika dia mendapati berita masa kecilnya, dia seperti orang depresi memandang sekitar lantai. Satu jam kemudian pulanglah Kaname ke apartemen, ketika Alice mendengar suara pintu terbuka dia langsung lari mengejar pintu tersebut.
DRAP DRAP DRAP DRAPPP
"Pak guru….." Tangis Alice memeluk Kaname. "Hiksss…."
"Alice…" Kaname memeluk erat Alice
"Hikss…hiksss…katakan padaku, katakan apakah kau mencintaiku? apakah kau akan meninggalkanku?"
"Pulanglah." Jawab Kaname berwajah sedih
Mendengar perkataan Kaname barusan tangisannya berhenti seketika, dia seperti tersambar petir disiang bolong
"Pulanglah ke rumah Zero. Kembalilaah kepadanya. Kau sudah berjanji kepada Zero kalau kau akan pulang ke rumahnya." Jelas Kaname menahan perasaannya
"Pak guru…?!"
"Dalam perjalanan kesini aku sudah mengirimkan pesan ke ponselnya, dia akan menjemputmu mungkin sebentar lagi."
"Pak guru….?!
"Ku mohon jangan membuatku bingung Alice…"
"Pak guru…hiksss."
Setelah konferensi pers selesai, tak berapa lama kemudian datanglah Zero ke apartemen Kaname menjemput Alice, Kaname membukakan pintu tampaklah Zero di depan pintu. Zero mengulurkan salah satu tangannya mengajak Alice pulang. Dengan menelan air mata Alice berjalan ke arah pintu, dia tidak memandang Kaname sedikitpun yang berdiri di samping pintu. Pergilah Alice dari apartemen Kaname, tinggallah Kaname seorang diri dalam apartemennya. Kemudian dia menutup mengunci pintu apartemennya, berjalan menuju kamarnya dengan tatapan mata sayu. Sementara itu di dalam perjalan kembali ke rumah mewahnya Alice hanya melamun tidak mengeluarkan sepatah katapun di dalam mobil, Zero yang mengetahui hal itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya terus menyetir mobilnya.
"Hati itu…." benak Kaname, Alice serta Zero
Lima belas menit berlalu tibala Alice di kediaman mereka. Alice terburu-buru sekali keluar mobil dan Zero hanya melihatinya. Sedikitpun Alice tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya yang menyambut kedatangannya. Dia hanya berlari menuju kamarnya secepatnya, yang dia rasakan hanya kekecewaan terhadap Kaname.
...Keesokan Harinya…
Saat pergi ke sekolah Alice sengaja tidak pergi dengan Zero, Alice memerintahkan supir pribadinya mengantarnya ke sekolah. Alice datang lebih awal ke sekolah hanya untuk menunggu Kaname, sayangnya dia tidak bisa menemui Kaname sesuai dengan rencananya sebab seluruh murid yang melihat Kaname langsung mendatangi Kaname. Di dalam kelas juga Alice tidak dapat berbicara dengan Kaname sebab Kaname terus menjaga jarak dengannya. Di jam istirahat Alice tidak makan bersama dengan teman-temannya, ia malah mencoba menemui Kaname di kantor guru, namun sekali lagi dia tidak bisa menemui Kaname sebab Kaname tidak ada di kantor guru.
Hari demi hari Alice mencoba mencari serta menemui Kaname tanpa sepengetahuan Zero. Alice terus -menerus mencari Kaname di sekolah maupun di apartemennya, tetapi dia tidak kunjung menemukan Kaname, kalaupun dia menemukan Kaname selalu saja Kaname bersama orang lain sehingga dia tidak bisa mendekati Kaname, di kelas Kaname menganggapnya hanya sebagai murid biasa, tidak ada yang special seperti adik ataupun kekasih. Tiga minggu sudah berlalu begitu juga ujian semester yang telah usai, untuk terakhir kalinya Alice mendatangi kantor kepala sekolah, meskipun tidak ada harapan bisa menemui Kaname, tetapi dia ingin sekali mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada Kaname.
TAP
Tibalah Alice di depan pintu kantor kepala sekolah, dia mencoba mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada jawaban, dia pun mencoba sekali lagi dan muncullah seorang wanita cantik berambut lurus panjang dari balik pintu. Itu adalah Sora. Dia terlihat tersenyum.
"Masuklah." Perintah Sora di depan pintu.
"Kaname ada di dalam." Sora melirik ke belakang. "Ingatlah dia kakak kandungmu...aku tidak akan mengganggu kalian, jadi masuklah."
"Terima kasih atas semuanya." Ucap Alice tersenyum kesal
Namun Sora tidak mengatakan apapun, dari wajah Sora terlihat sebuah senyum lebar menandakan sebuah kemenangan dan Sora kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari kantor kepala sekolah, sedangkan Alice berjalan memasuki kantor kepala sekolah. Tanpa sepengetahuan Kaname, Alice mengunci pintu kantor kepala sekolah dan berjalan ke sebelah kiri dimana Kaname sedang duduk di sofa dengan kancing kemeja terbuka hingga memperlihatkan dadanya. Tidak ada seorangpun di dalam kantor kepala sekolah selain Kaname, jantung Alice berdetak semakin cepat bersamaan dengan langkah kakinya yang semakin dekat dengan Kaname. Dan tibalah Alice tepat di depan Kaname yang sedang duduk di sofa. Alice hanya menunduk tidak sanggup menatap mata Kaname, dengan memberanikan dirinya dia mulai berbicara sambil meremas roknya menandakan kalau dia sangat gugup juga takut.
"Lalu?" Tanya Kaname ketus
"Aku akan menikah dengan Zero." Ucap Alice
DEGH
Sejenak Kaname terperanjat, dia tidak menyangka bahwa Zero bersungguh-sungguh untuk menjadikan Alice menjadi istrinya.
"Iya aku sudah tahu. Selamat kalau begitu."
"Pak guru?!"
"Apakah hanya ini yang ingin kau katakan? Hanya untuk mengatakan ini kau berhari-hari mencariku?"
"Ternyata kau memang menghindariku. Aku seperti gadis bodoh juga gila mencari dan mencintai kakakku sendiri. Aku tidak menyangka kalau kau ternyata sekejam ini." Ucap Alice ketus tanpa sadar air matanya mengalir
"Alice?!" Kaname kaget melihat Alice menangis tanpa ekspresi
"Maaf sudah mengganggu. Permisi pak guru." Ucap Alice segera berlari meniggalkan kantor kepala sekolah
"Apa yang sudah ku lakukan?" Kaname memejamkan matanya sambil memegang dahinya
Pada malam harinya Alice seorang diri mendatangi apartemen Kaname, dia mengembalikan pakaian-pakain yang telah dibelikan Kaname untuknya, tidak hanya itu dia juga mengambil pakaiannya yang masih tertinggal di apartemen Kaname, ketika dia berada di kamar tak sengaja dia melihat kemeja hitam Kaname terletak di atas ranjang, dia pun segera menghampiri kemeja itu lalu mengambilnya.
"Hmm…harum tubuh pak guru." Alice mencium kemeja Kaname
Lalu Alice segera melepaskan kaos juga roknya, dia mulai memasangkan kemeja hitam Kaname ke tubuhnya. Sewaktu dia ingin mengancing kemejanya pintu kamar terbuka tiba-tiba, Alice tercengang melihat Kaname ada di depan matanya.
"Maaf..aku segera melepasnya." Alice refleks hendak melepaskan kemejanya
"Biarkan saja." Ucap Kaname berjalan menuju Alice
"Pak guru…" Wajah Alice merona seketika merasakan nafas Kaname di bawah telinganya
"Maafkan aku…" Ucap Kaname kemudian mencium leher Alice
Sebentar saja wajah Alice memerah. Kaname mencium leher Alice dari kanan ke kiri hingga turun di bagian dadanya, Alice yang tidak sanggup menahan ciuman Kaname di tubuhnya perlahan-lahan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan sekarang Kaname tepat di atas tubuhnya. Untuk beberapa saat mereka berdua saling memandang sambil Kaname menyentuh lembut bibir Alice dan berkata: "Kau adalah milikku…"
"Hyaaa….!" Teriak Alice menahan sesuatu, dia merasakan jemari Kaname menyentuh daerah terlarangnya.
"Hanya kau gadis yang ingin aku peluk, cium, dan aku ajak bercinta." Kaname berbisik di telinga Alice sambil memaninkan jemarinya di ms.v Alice. "Saat berada di dekatmu tanpa sadar dia hidup dan terkadang aku tidak bisa menahannya."
"Pak guru..." Alice mencoba menahan perasaannya
Dua puluh menit kemudian Kaname selesai merangsang Alice dan juga melepaskan celana dalam Alice berserta pakaiannya sendiri. Meskipun dalam keadaan horny, Alice menyadari kalau Kaname akan menyetubuhinya, dia mencoba menjauhkan tubuh Kaname dari tubuhnya serta meronta-ronta, namun sayangnya Kaname malah menarik kedua kakinya dan melebarkannya.
"Bersabarlah..jangan melawan.." Ucap Kaname mulai mendorong masuk mr.p ke dalam ms.v Alice
Semakin dalam penetrasi tersebut, semakin dalam cengkram Alice di kasur hingga tak lama kemudian mata Alice seakan mau lepas disaat Kaname menancapkan dalam-dalam kejantanannya.
"Akh!" Alice terperanjat merasakan kejantanan Kaname seluruhnya masuk dalam tubuhnya
Beberapa menit kemudian tanpa sadar cengkraman Alice melemah, kedua kakinya yang semula mengejang kini lemas tak berdaya, selangkaannya terbuka lebar. Air mata mengalir membasahi pipinya, dia tidak menyangka kalau Kaname akan memaksanya melakukan ini. Sesudah merasakan seluruh miliknya masuk dalam tubuh Alice kemudian Kaname membawa Alice ke tengah ranjang dan membalikkan tubuh Alice menjadi di atasnya. Alice duduk di atas tubuh Kaname dengan air mata membasahi pipinya.
"Apakah aku hanya alat pemuas nafsumu?" Alice menoleh ke samping menahan air matanya
Suasana hening sejenak. Kaname tidak menjawab pertanyaan yang terlontar keluar dari bibir Alice. Kaname hanya menatap wajah Alice yang sudah dibasahi air mata.
"Kau kejam sekali.." Air mata Alice mengalir
JLEBB
"Hyaaa…" Teriak Alice refleks merasakan Kaname bergerak di dalam tubuhnya
Kaname hanya diam dan mulai menggerakkan tubuhnya dari bawah ke atas.
"Hyaa…." Teriak Alice tubuhnya ikut bergerak
"Hyaa…hentikannn!" Jerit Alice memejamkan matanya menahan kenikmatan yang diberikan Kaname. "he..hentikan..!"
Namun sayangnya Kaname malah duduk dan mencium bibir Alice.
"Mhm…." Alice kaget
Ukh...
...mhmm…
...ng...
...hhahaahh..
"Aku menjadi sangat bergairah. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih." Benak Kaname sambil menurunkan salah satu tali bra Alice. "Aku bahkan lupa kalau aku adalah gurunya dan dia adalah adikku. Hubungan terlarang antara guru dan murid, kakak dan adik..sangat menyiksaku."
"Shhhh ahhh...ahhh..Pak guru." Desah Alice di atas pangkuan Kaname
"Aku tahu. Tapi, suara, senyuman, tawa, sentuhan, dan kehangatanmu..semua itu meracuni pikiranku. Aku tidak dapat melihat yang lain selain dirimu, kau memaksaku melakukan semuanya bahkan sesuatu yang diluar kendaliku, Alice."
CUP
Benak Kaname mencium dada Alice.
"Aku tidak memakai kondom. Apakah kau ingin mencabutnya?" Tanya Kaname mendekatkan bibirnya pada bibir Alice
"Un.." Alice menggeleng, dia hanya merasakan nikmat di tubuhnya
Kaname hanya tersenyum tipis lalu mencium Alice dan langsung menjatuhkan Alice di atas ranjang dan menindihnya. Dia melakukan gerakan maju mundur.
..hhhaahh…
JLEB JLEBB JLEBBB
"Hyaa…" Teriak Alice sekencang mungkin
Beberapa jam setelah itu Alice tertidur nyenyak di samping Kaname, sedangkan Kaname duduk membaca buku memakai baju tidurnya sambil mengelus rambut Alice. Sebelumnya ponsel Alice berulang kali berbunyi, namun Kaname tidak mengangkatnya, Kaname hanya mengirim pesan kalau Alice sedang berada di kediaman orang tua kandungnya lalu mematikan smartphonenya.
