Tak berapa lama bel apartemen Kaname berbunyi, Kaname segera turun dari ranjangnya mendatangi pintu apartemennya. Dari pintu apartemen terlihatlah Sora membawa sebuah amplop.

"Bolehkah aku masuk?" Tanya Sora tersenyum

"Silahkan." Ucap Kaname membuka lebar pintu

"Ini data siswa bermasalah yang kau minta." Sora menyodorkan amplop

"Terima kasih." Jawab Kaname datar membuka amplop tersebut

"Bolehkah aku meminta segelas minuman?"

"Tentu saja. Tunggulah disini sebentar."

Diam-diam Sora melirik Kaname yang berjalan menuju dapur, dia mengendap-endap menerawang kesegala arah mencari kamar Kaname, dan akhirnya Sora menemukannya. Cepat-cepat Sora masuk kamar tersebut, betapa tekejutnya dia ketika berada di dalam kamar, dia menemukan Alice tertidur dibaluti selimut, Sora pun berjalan mendekati Alice, pelan-pelan diangkatnya selimut yang menutupi tubuh Alice dan betapa jantungnya mau copot mendapati sekitar selangkaan Alice penuh dengan cairan putih.

"Tutup kembali selimutnya." Perintah Kaname bersandar di dinding dekat pintu

"Kaname?!" Sora menoleh ke arah pintu. "Apa yang kau lakukan, Kaname?!"

"Seperti yang kau lihat." Jawab Kaname datar. "Dengan begini kau sudah tahu jawabannya, hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Tidak ada harapan ataupun kesempatan."

"Dia adikmu!" Bentak Sora kesal. "Kalian satu darah. Apakah kau sudah gila?!"

"Tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkannya dari hati dan pikiranku. Dia bukan adikku, dia hanya murid perempuanku yang jatuh cinta padaku." Jawab Kaname sinis.

"Kau sudah tidak waras Kaname.." Sora menggeleng-gelengkan kepalanya

"Bukan cinta yang membuatmu menjadi tidak waras, tetapi kekaguman." Jelas Kaname tersenyum. "Aku pernah melihat juga mendengarnya di tv, karena kekaguman seseorang bisa melakukan apapun demi orang itu sebab rasa kagum itu adalah emosi yang paling jauh dari pemahaman."

"Kaname…." Sora menitikan air mata sambil berjalan mendekati Kaname

"Berhentilah mengagumiku Sora." Kaname menyentuh pipi Sora. "Ini adalah fakta suram. Kau akan tersakiti."

"Hikss hikss hiksss… Kaname.." Tangis Sora memegang tangan Kaname di pipinya

"Pulanglah Sora. Ini sudah larut malam."

"…hiksss…"

Kemudian Kaname mengantarkan Sora sampai depan pintu lalu Kaname pun kembali ke kamarnya duduk di atas ranjang melanjutkan membaca buku.

…Keesokan Harinya…

Kaname mengantarkan Alice pulang sampai ke persimpangan di dekat rumahnya, sebelum Alice keluar dari mobilnya Kaname mendekati wajah Alice dan mengatakan sesuatu yang membuat Alice terkejut. Dengan perasaan sedih bercampur kecewa Alice keluar dari mobil Kaname lalu berjalan dengan tatapan mata kosong ke jalan.

"Selamat tinggal sayangku…." Ucap Kaname lalu menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan melewati Alice

Dua hari sesudah itu Alice-Zero melangsungkan pernikahan mereka, satu hari sebelumnya mereka terlebih dahulu melakukan pencatatan pernikahan mereka di kantor administrasi pernikahan. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah juga megah, seluruh tamu undangan turut bergembira dalam pesta tersebut. Seusai pesta pernikahan, Alice juga Zero berangkat ke kota Dyork, kota yang terkenal dengan keindahan bunga adelweisnya. Mereka akan menghabiskan bulan madu mereka di kota itu. Sepanjang perjalanan ke kota Dyork, jantung Alice berdebar-debar sekali, dia bingung harus berkata apa kepada Zero sebab Zero sudah resmi menjadi suaminya. Setelah menghabiskan banyak waktu di dalam perjalanan, sampailah mereka di sebuah penginapan sederhana. Mereka memasuki penginapan tersebut dan meletakan tas mereka di dalam kamar yang sudah dipesan sebelumnya, sesudah meletakkan tas mereka berkeliling kota dan makan malam di sebuah restoran mewah di pusat kota. Terlihat banyak orang memakai syal juga jaket sedang berlalu-lalang.

"Tunggu disini sebentar, aku akan memberikanmu sebuah kejutan." Zero tersenyum beranjak berdiri

Dan Zero berjalan ke luar restaurant, sedangkan Alice menunggu Zero sambil menyuap es krim ke dalam mulutnya. Zero berjalan lurus ke depan hingga akhirnya hilang di balik kerumunan orang. Selang beberapa menit ada seorang anak laki-laki kecil memakai sweater masuk ke dalam restaurant memberikan Alice sepucuk kertas. Kemudian Alice membaca sepucuk kertas tersebut serta mengikuti perintah dalam kertas tersebut. Alice berjalan lurus seperti jalan yang diambil Zero ketika ingin memberikan Alice sebuah kejutan, setelah Alice berjalan sejauh 20 meter, dia menemukan sebuah simpang tiga dan memilih jalan ke kiri. Dia berjalan melewati taman air mancur dan terus berjalan sejauh 75 meter hingga sampailah dia di sebuah hotel mewah.

"Ini?" Alice bingung sambil berjalan memasuki hotel

Sekarang Alice sedang menuju kamar 408 lantai 4. Kurang lebih 5 menit kemudian tibalah dia di depan pintu kamar 408, dia mencoba membuka pintunya, ternyata tidak terkunci, Alice tanpa ragu masuk ke dalam kamar tersebut lalu mengunci pintunya. Kamar mewah yang cukup luas benak Alice saat itu. Ia terus berjalan sampai ke depan ranjang, dia melihat banyak sekali kelopak bunga mawar merah disana.

Tiba-tiba Alice merasakan sepasang tangan merangkul pinggangnya, ia pun buru-buru berbalik.

"Zero..aku…." Ucap Alice berbalik arah namun mendadak matanya seakan ingin keluar

"Apakah kau menyukainya?" Tanya Kaname tersenyum. "aku sangat merindukanmu, Alice."

"Aku sudah menjadi milik Zero..ku mohon hentikan semua ini."

"Kau adalah milikku.."

Mereka saling bertatapan dengan handuk masih melilit di pinggang Kaname. Selanjutnya Kaname langsung menggendong Alice dan menidurkan Alice di ranjang, dia juga melepaskan satu persatu pakaian Alice sampai Alice tak berbusana di depan matanya, tak hanya itu melalui ponsel Alice, Kaname mengirimkan pesan kepada Zero dan mematikan ponsel Alice agar Zero tidak bisa melacak Alice demi bercinta dengan Alice

…ah….

..uhh….

…hyaaaa…

ah… sh…ahh….

...arghh….

"Arghhh…..!" Teriak Alice mencengkram punggung Kaname

CRET CRETT CRETT CRETTT

Lelehan cairan kembali mengalir keluar dari selangkangan Alice, cairan itu mengalir membasahi sprei ranjang mereka.

"Zero menungguku."Alice merasa sangat kelelahan juga sangat mengantuk

"Tenanglah aku akan mengantarmu."

CUP

Ucap Kaname kemudian mencium dahi Alice. Setelah beristirahat 10 menit akhirnya Kaname mengantar Alice pulang ke penginapan. Dengan terhuyung-huyung Alice memasuki kamar penginapannya.

BUGHH

Alice tidur telungkup tak sanggup menahan tubuhnya yang terasa begitu berat. Dengan mata mengantuk berat Alice mengaktifkan kembali ponselnya dan menghubungi Zero untuk memberitahukannya kalau dia sudah berada di kamar penginapan, ternyata Zero masih menunggunya di restaurant. Dengan perasaan riang gembira Zero kembali ke penginapan dengan sebuah bunga adelweis di tangannya, tapi sesampainya dia di dalam kamar penginapan ternyata Alice sudah tertidur pulas. Zero hanya tersenyum, dia meletakkan bunga yang ada di tangannya di atas meja lalu datang menghampiri Alice.

CUPP

"Selamat tidur Alice.."

Ucap Zero mencium dahi Alice. Karena Alice sudah tertidur lelap, Zero juga memutuskan untuk tidur. Pada pukul 3am, Alice terbangun karena mimpi buruk. Dia melihat Zero tidur di sebelahnya, dilihatnya wajah Zero dalam-dalam, air matanya mengalir dengan sendirinya, dia merasa bersalah.

Keesokan harinya pada pukul 1pm tidak terlihat matahari sedikitpun, cuaca begitu dingin sepertinya menandakan akan turun salju. Ponsel Zero di dalam saku celananya berbunyi, dilihatnya ponselnya itu adalah sebuah pesan dari Kaname. Matanya sedikit terkejut saat membaca pesan tersebut, tanpa berpamitan dengan Alice yang masih tertidur pulas, Zero langsung mengambil jasnya beserta syalnya berjalan terburu-buru keluar kamar penginapan. Diselimuti cuaca dingin sampai tulang-belulang Zero berlari menuju sebuah tempat yang tidak jauh jaraknya dari penginapannya. Dan tak berapa lama kemudian tibalah dia di depan sebuah rumah makan kecil, dari luar rumah makan itu tampak tak ada seorang pun disana, tapi tanpa ragu Zero memasuki rumah makan tersebut dan terlihatlah seorang pria sedang duduk membaca sebuah Koran. Zero pun langsung menghampiri pria tersebut. Disaat Zero telah tiba di sampingnya, pria dengan panggilan Kaname tersebut mempersilahkan Zero duduk di depannya.

"Minuman apa yang kau inginkan?" Tanya Kaname menuntup korannya

"Tidak perlu basa-basi." Jawab Zero ketus. "Langsung saja ke inti permasalahan."

"Baiklah kalau begitu." Jawab Kaname melirik sinis Zero

Kaname mengeluarkan salah satu ponselnya dari saku celana panjangnya, dia meletakkan ponselnya di atas meja dan menyalakan sebuah rekaman

…ah..

"ah…..pak guru…."

…aahh…..

"Alice?!" Zero kaget setengah mati mengetahui suara rintihan tersebut adalah suara Alice istrina

Kemudian Kaname mematikan rekaman tersebut, ia memasukannya ke dalam tasnya yang ada di sampingnya dan mengeluarkan handycamnya.

"Apakah kau tahu dari mana datangnya suara itu?" Kaname melirik Zero. "Dari sini…"

...Beberapa Bulan Lalu…

Malam hari pukul 1am saat Kaname dan Alice tinggal dalam 1 atap. Di dalam kamar apartemen Kaname menonton film dewasa sementara Alice sedang tidur di sampingnya. Kaname yang sedang ingin menghilangkan penatnya menonton sebuah film dewasa, dia tidak mengetahui kalau Alice berpura-pura tidur pada saat itu, ketika film itu selesai dan Kaname ingin ke kamar mandi tiba-tiba Alice menahannya. Kaname sangat terkejut sekali.

"Bisakah kita juga melakukannya, pak guru?" Tanya Alice menunduk malu

"Alice…" Kaname terperanjat.

"Bukankah kau mencintaiku, pak guru?"

"Hubungan guru dan murid dilarang apalagi sampai kontak fisik."

"Kalau hubungan guru murid dilarang, kenapa kau berulang kali menciumku? Memelukku? Bahkan setiap kau berangkat kerja selalu menciumku? Pulang kerja juga begitu. Ketika malam tiba, disaat aku memelukmu bahkan kau bukannya menjauh tetapi sebaliknya kau semakin erat memelukku."

"Benar.. itu adalah kontak fisik ringan. Kalau yang ini terlalu berat untukmu."

"Ah…begitu. Kau hanya memberikan harapan palsu padaku. Kau akan melakukannya dengan Sora juga. Ya dengan putri tunggal keluarga kaya raya itu. Dia cantik, seksi, dewasa, sedangkan aku hanya seorang anak sma. Kalau kau melakukannya dengan Sora, aku juga akan melakukannya dengan Zero."

BRUKK

"Pa..pak guru….?!" Alice terkejut Kaname menindih tubuhnya di atas ranjang

"Jangan sebut lagi nama Zero." Ucap Kaname di bawah telinga Alice

DEGH DEGH DEGHH

"Apakah dia cemburu terhadap Zero? kenapa?" Pikir Alice. "Aku bisa merasakan nafas beratnya di balik leherku. Apakah dia akan melakukannya?"

"Aku seperti pria bodoh bersaing dengan muridku sendiri." Kaname berlutut di depan Alice

"Pak guru..."

"Orang dewasa itu akan selalu menang jika melawan anak kecil. Gadis adelweis tetapi ternyata laba-laba." Satu persatu Kaname melepaskan pakaiannya, dia melemparkan pakaianya ke lantai

Baru kali ini Alice melihat pak gurunya tanpa pakaian. Alice malu sekali melihatnya, namun dia lebih malu kalau menunjukkan rasa malunya. Sebelumnya dia hanya melihat pria tak berbusana di dalam video, tetapi kali ini di depan matanya.

"Jangan memancing pria dewasa yang bergairah. Kau tidak akan bisa menghentikannya." Kaname meraba-raba payudara Alice

Tanpa diperintahkan, Kaname langsung melepaskan pakaian tidur Alice beserta pakaian dalamnya kemudian dia meminta Alice ke kamar mandi untuk mengambil sebuah kondom di lemari obat di kamar mandi. Pada saat Alice mengambil sebuah kondom di kamar mandi, Kaname mempersiapkan sebuah handycam untuk merekam apa yang akan dia lakukan kepada Alice. Selesai Alice mengambil kondom, Alice kembali terperanjat saat melihat Kaname duduk di pinggir ranjang.

DEGH

"Be benda apa itu?!" Mata Alice mau copot.

"Ini terlalu nyata bagiku.." Tubuh Alice mendadak canggung

"Apa yang sedang kau lihat?" Kaname tersenyum

"Ti tidak ada pak guru…" Alice menunduk malu

Kaname tersenyum kecil lalu langsung menarik tangan Alice dan menjatuhkannya di ranjang.

"Ini adalah kontak fisik yang kau inginkan…aku akan segera memberikannya."

Kini tubuh keduanya sangat dekat, tak ada sehelai benangpun menutupi tubuh mereka, Kaname dengan penuh gairah serta semangat mencium tubuh Alice dari atas hingga ke bawah, tanpa sadar hal itu membuat Alice mendesah.

"Dia melakukannya seperti pamain handal…" Alice memejamkan matanya menahan ciuman serta jilatan Kaname di tubuhnya

Setelah puas mencium juga menjilati tubuh Alice, Kaname mengambil posisi di tengah Alice dan Alice pun terkejut setengah mati.

"Dia tidak memakai kondom?!"

"Bertahanlah…ini sedikit sakit."

"Un…." Alice mengangguk

Dengan amat pelan-pelan Kaname memasuki tubuh Alice, Alice merasakan sesuatu menyeruak masuk ke dalam tubuhnya dan itu sangat menyakitkan.

"Arghh…!" Alice mulai merintih

" Pak guru..!" Alice merintih kesakitan meremas seprei sekencang mungkin.

"Akhhh!

"Pa…"

"…pak guru….!"

Sayangnya Kaname tidak memperdulikan rintihan Alice yang kesakitan, Kaname tetap memaksa masuk ke dalam tubuh Alice hingga membuat Alice meronta mencoba menahan tubuh Kaname agar tidak masuk lebih dalam, sayangnya bukannya malah menghentikan Kaname, tetapi malah membuat Kaname mendekap erat Alice. Alice merasakan sesuatu memaksa masuk ke dalam tubuhnya, dengan sekuat tenaga ia mencengkram erat rambut Kaname juga mendekap erat Kaname.

"Akhhhh!" Alice memekik kesakitan merasakan suatu benda masuk memenuhi tubuhnya.

"Kau sangat hangat dan rapat." Ucap Kaname mencium dahi Alice."Kau adalah milikku sekarang dan untuk selamanya."

CKLIK

Tiba-tiba Zero mematikan rekaman video tersebut dan berkata : "Apa yang kau inginkan?"

"Kembalikan dia padaku." Kaname menatap Zero sinis

"Kalau kau menyuruhku datang hanya untuk mengatakan ini..kau sudah membuang-buang waktumu. Aku tidak akan mengembalikannya ke dalam pelukannya." Jawab Zero ketus kemudian berjalan meninggalkan Kaname duduk sendiri

"Kita lihat siapa yang akan tersakiti diantara kita berdua. Melihat ini saja kau pasti sudah seperti tersayat sebuah pecahan kaca." Kaname tersenyum sambil mengaduk tehnya

Bercampur perasaan sedih setiap langkah kaki Zero mengalir sebuah kekecewaan yang amat sangat mendalam terhadap Alice. Dia tidak menyangka gadis yang selama ini dia jaga dengan hati-hati juga penuh kasih sayang ternyata bercinta dengan pria lain, dan pria itu adalah kakak kandungnya sendiri.

"Aku terlalu kecewa…bahkan sangat kecewa, tetapi aku tidak bisa membencimu, sedikipun tidak bisa Alice." Zero mengankat wajahnya melihat langit gelap menurunkan butiran salju.