Saat ini seluruh kota memasuki musim dingin, butiran salju putih jatuh dari langit mulai menutupi seluruh kota. Jam sudah menunjukkan pukul 2pm, Alice sedang menunggu Zero di pinggir jalan penginapan.
"Huuuhh….dingin sekali….!" Alice hanya memakai syal berdiri menggenggamkan kedua tangannya. "kemana dia? Kenapa ponselnya dimatikan? dia juga tidak pamit padaku..mengatakan sepatah kata juga tidak."
TAP
"Alice?" Zero berhenti diujung jalan
Merasakan sesuatu Alice menoleh ke arah kanannya, tampaklah Zero berdiri di ujung jalan. Alice langsung berlari menghampiri Zero.
"Alice…"
"Hm? berikan aku seorang anak.."
DEGHH
"Zero….!?"
"Kau sangat berharga bagiku..aku tidak akan membiarkanmu pergi dengannya."
"Zero, tapi aku ….."
"Aku tidak peduli…dia telah mengatakan semuanya padaku, aku tidak peduli siapa yang pertama ataupun terakhir. Aku hanya ingin memiliki dirimu sekarang dan untuk selamanya. aku sadar ini sangat menyakitkan dan menyakitkan. Bercintalah..bercintalah denganku…tunjukkan sisi wanitamu, aku juga ingin melihatnya."
"Zero aku…"
"Aku terlalu mencintamu, Alice. Kau membuatku hampir gila. Melawan guruku sendiri. Melawan pewaris tunggal keluarga Kuran. Kau membuatku melakukan hal sejauh itu dan aku menyesal telah menutupi perasaanku selama ini."
"Zero…"
"Kalau kau mencintaiku, ciumlah aku. Hangatkan aku dengan tubuhmu, Alice."
"Zero?!"
Di pinggir jalan dijatuhi rintikan salju, Alice mencium Zero sambil melingkarkan tangannya di leher Zero.
...hhahhh…
"Zero…"
...ng...
Mereka kembali berciuman lagi, kali ini Zero menggendong Alice sambil berciuman. Dia membawanya masuk ke dalam penginapan dan kamar mereka. Zero membuka satu persatu bajunya begitu juga Alice. Alice mulai duduk di atas pangkuan Zero lalu menciumi leher Zero juga dadanya, tetapi Zero juga tidak mau kalah. Dia menghentikan Alice dan mencium leher Alice beserta dadanya. Alice hanya memejamkan matanya menikmati perlakuan Zero.
"Berbeda dengan pak guru…Zero lebih lembut." Ucap Alice dalam hati meremas rambut Zero
Ketika Zero sedang mencium juga menghisapi dada Alice, tiba-tiba ponsel Alice berbunyi. Itu adalah telepon dari Kaname, Alice hanya membuka matanya melirik ke arah ponselnya selanjutnya dia kembali memeluk erat Zero dan memejamkan matanya. Lama sekali mereka foreplay hingga akhirnya Alice tidak tahan lagi, dia meminta Zero menyetubuhinya secepatnya.
"Datanglah kepadaku Alice…." Zero setengah duduk menyandar di ranjang sambil mengulurkan tangannya
"Zero…." Alice merangkak lalu menduduki tubuh Zero
"Arghhh…." Alice merasakan sesuatu memasuki tubuhnya
"Ahhh.. Zero..aku…"
CUP
Belum sempat lagi Alice melanjutkan kalimatnya, Zero langsung mencium mesra bibir Alice. Dengan menutup kedua matanya, Alice merasakan suatu kenikmatan siang hari itu. Ia merangkul leher Zero sambil membalas ciuman Zero.
"aAhh…" desah Zero memegang pinggul Alice. "Arh….kau hangat sekali dan begitu rapat Alice."
"Shh…aku mencintai..mu ssh Zero…" desah Alice memeluk erat Zero
..ah…
…sh…
..shhh….
…auhh…. ….
Tak puas dengan posisi itu Zero membalikan tubuh Alice dan mendekap erat tubuh Alice sambil menghujam tubuh Alice dalam-dalam. Lama sekali mereka di posisi itu sampai akhirnya Zero tidak tahan lagi dan memuntahkan cairan hangat dalam tubuh Alice. Selesai menyemprotkan seluruh cairannya, Zero membalikan tubuh Alice hingga berada di atas tubunya.
"Biarkanlah seperti ini.." Ucap Zero memeluk erat Alice di atas tubuhnya.
"Apa yang sudah pak guru katakan padanya?" Alice merasa sangat lelah dan juga mengantuk. "Aku bisa merasakan dia sangat cemburu pada pak guru.."
…Beberapa Bulan Berlalu Setelah Itu…
Alice dinyatakan hamil dan sudah mengandung seorang bayi. Perutnya terlihat membesar, ia mengambil homeschooling. Sedangkan Zero duduk di bangku universitas sambil menjalankan perusahaan juga saham ayahnya, Zero berada bersebrangan jalan dengan Kaname yang juga turun tangan menjalankan perusahaan ayahnya.
Saat memeriksakan kandungannya ke dokter diluar sepengetahuan Zero, Alice bertemu dengan Kaname di apartemen Kaname secara diam-diam.
"Pada saat lulus sma dan masuk universitas, kau harus mengambil bagian di beberapa perusahaan ayahmu dengan begitu kita bisa bertemu tanpa sepengetahuan Zero ataupun orang lain. Kita akan mempunyai alasan atas pertemuan kita." Kaname memeluk Alice di atas pangkuannya
"Baiklah, pak guru…" Jawab Alice lalu mencium bibir Kaname
Hari-hari berlalu begitu saja, bulan berganti bulan, Alice tetap menjalin hubungan dengan Kaname tanpa sepengetahuan Zero. Kini tibalah hari kelahiran sang buah cinta di perut Alice, seluruh keluarga datang ke rumah sakit, termasuk Kaname juga hadir pada saat itu. Kaname dan Zero saling memandang sinis satu dengan lain.
"Maaf..siapa dari anda yang merupakan suami dari nyonya ini?" Tanya seorang perawat
"Saya…" Jawab Zero
"Baiklah…ayo tuan anda harus masuk. Istri anda membutuhkan anda di dalam." Jelas perawt
Masuklah Zero kedalam ruangan persalinan, sementara yang lainnya menunggu dengan cemas diluar. Zero yang berada di dalam ruangan persalinan menemani Alice sambil menggenggam tangan Alice. Proses persalinan berjalan kurang lebih 18 jam saat itu.
"Arghhhhhh!" Alice berteriak sekencang mungkin
Tidak berapa lama seorang bayi lahir ke dunia, itu adalah seorang bayi perempuan. Perawat tersebut membawa bayi perempuan tersebut dan memandikannya.
"Zero…" Panggil Alice dengan suara lemah
"Jangan banyak berbicara." Kata Zero berwajah sedih
"Zero..berjanjilah padaku. Berjanjilah apapun yang terjadi ku mohon..cintai dirinya lebih dari kau mencintai dan menyayangi diriku. Jagalah dia dan selalulah berada di sisinya. Maafkan aku. Hiksss…hikss..." Tangis Alice merasa bersalah
"Alice?!" Zero tidak mengerti
Beberapa menit kemudian keluarlah Zero dari ruang persalinan bersama seorang dokter beserta dua orang perawat. Kedua orang tua Zero juga Kaname menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Alice juga sang bayi.
"Ibunya sudah tidak apa-apa. Bayinya juga sehat nyonya." Jelas sang dokter tersenyum.
Kaname lantas berlari menuju ruang persalinan diiringi mata Zero yang melirik ke arahnya. Di dalam ruang persalinan, Alice menggendong buah cintanya dengan Kaname.
"Ini putri kita pak guru…putri kita hiksss…"
"Iya..ini putri kita. Buah cinta kita."
CUP
Ujar Kaname mencium dahi Alice
…. ….. …..
Di saat kau membaca surat ini putriku, disaat itulah aku berani mengungkapkan semuanya. Tetapi aku tak memiliki keberanian yang besar untuk mengatakannya langsung. Aku sangat minta maaf telah menyembunyikan semua ini selama bertahun-tahun. Apakah kau tahu? aku yang egois ini meminta mereka untuk menyayangimu lebih dari diriku dan diri mereka, mereka berdua adalah ayahmu, ayah yang selalu ada untukmu dan menyayangimu sepenuh hati mereka. Kalau kau ingin membenci, bencilah aku ibumu yang terlalu serakah tak bisa melepaskan keduanya. Aku hanya ingin menjadi seorang putri dari kedua pangeran itu.
Hanya satu pintaku, ketika kau melihat Kaname ayah biologismu, ku mohon panggillah dia dengan sebutan ayah karena sesungguhnya dia sudah menunggu untuk itu dalam waktu yang sangat lama.
Selamat tahun baru putriku tercinta.
Salam sayang
Ibumu Alice
…. ….. …..
"Selamat tahun baru juga ibu." Karthrend tersenyum melipat surat di tangannya
TENG TONG TENG TONG
Bel sekolah sekali lagi berdentang seluruh murid berhamburan keluar sekolah. Di halaman sekolah bleeding school Karthrend berdiri tersenyum melihat seseorang beberapa meter di depannya.
"Ayahhh…" teriak Karthrend tersenyum berlari mengejar Zero beberapa meter di depannya. "Aku merindukanmu…"
"Putriku tersayang.." Zero tersenyum memeluk erat Karthrend
Namun beberapa meter di belakang Zero, ternyata Kaname sedang berdiri tersenyum melihat putrinya sudah tumbuh remaja, hanya sebentar dia melihatnya selanjutnya dia memutuskan untuk kembali.
"Tunggulah disini sebentar Karthrend, ayah ingin menjumpai kepala sekolahmu." Perintah Zero mengelus kepala putrinya yang masih smp
"Baiklah…" Jawab Karthrend tersenyum
Disaat Zero berjalan menuju gedung sekolah, Karthrend melihat ke belakangnya sejenak kemudian dia berlari sekencang mungkin menuju gerbang sekolah.
"Ayahhhhh…!" Karthrend berlari mengejar Kaname
"Putrikuuu…." Kaname kaget refleks berhenti berjalan
"Ayah….aku merindukanmu. Ibu telah menceritakan semuanya. Dia juga memberikan fotomu, beserta tante Sora beberap tahun lalu.
"Begitukah?" Kaname tersenyum. "Selamat tahun baru putri kecilku. Maaf ayah harus pergi."
"Tunggu?! Apakah kau tidak kesepian? Apakah kau tidak kesepian selama beberapa tahun hidup sendiri, ayah?"
"Tidak. Ibumu selalu ada untukku. Kami menikah di luar Negara ini. Kalau ibumu telah menceritakan semuanya kepadamu, kau pasti tau alasan kenapa dia selama 3 hari tidak pernah ada di rumah. Dia ada bersamaku." Ucap Kaname tersenyum memegang pipi putri kecilnya. "Sampai jumpa putriku tersayang."
TAP TAP TAP TAP
Dengan senyuman di wajahnya Kaname berjalan menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang sekolah, sedangkan Karthrend berdiri melihat punggung ayahnya Kaname berjalan keluar sekolah.
"Meskipun kau adalah ayah biologisku, Kuran Kaname. Tapi aku lebih menyayangi ayahku yang secara hukum, Kiryu Zero. Seandainya waktu bisa terulang kembali, seandainya diposisi ibu adalah aku, aku pasti akan memilih ayah Zero." Karthrend berbicara seorang diri di halaman sekolah
"Aku mengerti Karthrend. Aku mengerti." Kaname tersenyum menyetir mobilnya
"Ayo pulang." Zero tersenyum mengulurkan tangannya dari samping Karthrend
"Ayoo…" Jawab Karthrend tersenyum bersemangat menggenggam tangan Zero ayahnhya
…Di Sma Gerpinart …
Memakai syal juga jas tebal, Alice berdiri di halaman sekolah melihat gedung sma Gerpinart. Salju turun menutupi bumi, suasana sekolah sangat sunyi juga sepi tak ada seorangpun terlihat di sekolah.
"Semuanya bermula dari sekolah ini." Alice melihat ke pintu utama gedung sekolah
"Aku bukan gadis adil, tetapi aku mencoba untuk adil." Alice menjatuhkan kalung semangginya dari tangannya
..FIN..
