Cloudy Shining Star

By AdorablEudoora

Bukan cerita romantic. Atau penuh drama yang membuat berbunga – bunga. Nyatanya, dunia tidaklah seindah itu. Banyak sisi gelap yang membuatnya jauh lebih muram dari kelamnya malam. Seperti sekarang.

DUAR!

Aku tahu negaraku bukan negara kaya. Meski sumber dayanya jauh lebih melimbah dari seluruh negara lainnya di Land of Dawn, nyatanya hal ini tidak bisa melunasi hutang negara yang semakin hari semakin membengkak saja.

Kenapa?

Korupsi tentu saja. Hanya segelintir orang yang bisa menikmati indahnya Cadia Riverlands. Yang lainnya bahkan harus mengais sampah hanya agar bisa menyumpal isi organ dalamnya.

DUAR!

"Ei! Apa yang kamu lakukan! Cepat Ambil Gambar!" orang gendut penuh keringat itu bosku. Ia tampak marah hanya saat memandangku dan beberapa 'pelayan' lainnya. Wajahnya selalu berseri ketika memandang tamu special kami.

Orang – orang dari kedutaan Agelta Drylands. Para konlomerat berkulit coklat itu memang mempesona dan kaya akan minyak yang membuat warganya selau lebih Bahagia dari mereka yang menetap di Cadia.

Saking kayanya, mereka bahkan bisa dengan mudah membunuh Singa hutan jantan yang sekarang sudah tergeletak tak bernyawa. Hewan itu dilindungi. Spesiesnya tinggal beberapa saja di dunia. Tapi karena negara kami – Cadia akan berhutang kepada Agelta, maka jamuan special seperti berburu binatang buaspun mudah tersedia begitu saja.

Singa jantan itu raja dari kawanan yang sekarang kehilangan tuannya. Para betina mulai membawa anak – anak mereka menjauh dari bangkai yang sebentar lagi juga tidak akan terpakai. Kecuali jika duta – duta negara kaya itu ingin mengawetkannya sebagai pajangan. Sebagai buah omongan ketika tamu berkunjung ke kediaman mereka. Sebagai barang kebanggaan yang menampakkan kekuasaan.

Tanpa singa jantan. Anak – anak itu akan segera dimangsa oleh singa jantan lainnya ketika mereka menjadi raja kawanan.

"Woi! Tunggu apa lagi! Sudah cukup panas disini!"

Tiga tamu dari Agelta berada di tengah. Bosku melipir ke samping dengan senyum gemilangnya. Senang karena para tamu besar tersebut 'nyaman' di tanah yang subur ini.

Inilah pekerjaanku. Tersenyum kepada para tamu. Melakukan apa yang mereka minta dan selalu tampil cekatan namun tetap enak dipandang.

Jepret! Jepret! Jepret!

Hanya tiga kali jepretan dan mereka mulai meninggalkan singa malang tersebut. Aku mendengar bahwa bos ingin aku dan anak buah lainnya membawa sang mayat singa ke resort. Si orang kaya ingin kepala singa itu diawetkan nantinya. Sementara kulitnya bisa dijadikan alas kaki di meja makan.

Kulihat mereka berjalan menjauh. Dari gayanya, cara berjalannya, terlihat sekali mereka berkelas. Berpendidikan. Tapi kelakuannya sama sekali tidak seperti yang kuharapkan.

"kurasa 'sekolah' bukanlah yang membentuk kepribadian seseorang"

Kututup mata hewan malang tertembak dibagian dada dan perutnya itu. Mengelus kepalanya pelan. Saat kecil, aku bahkan tidak pernah melihat mereka. Ibu tidak memiliki uang untuk membawaku dan adik ke kebun binatang manapun. Dan kali pertama aku melihatnya, di hutan belantara, tapi dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa.

"Semoga kau lebih Bahagia disana"

"Kau bicara dengan bangkai?" tanya seseorang dibelakangku. Aku yang mengenakan stocking ketat harus menyesuaikan agar bisa berdiri tetap dengan Gerakan sopan. Membungkuk tidak boleh menatap lama wajah tamu 'besar' dari Agelta.

"Kau bisu?" lanjutnya.

"Tidak tuan."

"Kenapa? Menangis gara – gara hewan kesayanganmu mati?" tangan coklatnya mengangkat wajahku, membuat mataku bersinggungan langsung dengan miliknya. "Huh. Apa pelacur murahan sepertimu masih bisa mengkhawatirkan hal lain selain makan dan minum?"

"Maaf Tuan."

Dari samping mata kulihat bos berlari terpogoh – pogoh, ia melihat tamu besarnya yang tidak senang dengan wajah yang sangat marah – kepadaku, dan meminta maaf kepada orang di depanku.

"Maafkan dia tuan Vale. Bocah ini hanya senang mencari perkara. Tolong ampuni dia. Mari kita lanjutkan acar berburu yang tertunda."

"Urus bajingan pelacur satu ini dengan baik. Aku muak melihat wajahnya."

Dan. Tentu saja. Hari itu juga aku dipecat dari pekerjaanku. Bos gendut itu bahkan tidak mau mendengarkan sedikitpun penjelasanku mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Baginya, masih ada seratus orang lain yang siap menggantikan posisi rendahan seperti milikku.

-,

"Eomma, Aku Pergi."

Tidak ada sedikitpun air mata. Wajahnya hanya sekeras batu. Air mata bagi orang – orang seperti kami adalah barang yang mahal. Air itu mahal. Meski tanpa banyak berkata – kata. Aku tahu dia sebenarnya tidak ingin melepasku. Lilia masih sebelas tahun. Ia terlalu kecil untuk bisa menjaga ibu jika suatu keadaan tak terduga terjadi. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku hanya tersenyum sekilas dan membelai rambut hitamnya sebentar sebelum pergi.

Sebulan lebih – setelah dipecat, aku mencari pekerjaan di Cadia. Namun hasilnya nihil. Selama sebulan itu pula kami hanya makan dengan garam. Aku satu – satunya tulang punggung keluarga setelah ayah meninggal.

Berjlaan terus ke timur. Hingga sampailah aku di negara paling kaya di Land of Dawn. Agelta Drylands. Hanya disini tempat satu – satunya yang menyediakan banyak lowongan. Semua macam pekerjaan – pekerjaan 'kotor' selalu dilakukan oleh orang – orang dari luar Algata. Rakyat mereka tidak akan mau menyentuh apapun yang kotor atau menyusahkan.

Kota gerbang negara Agelta adalah Eurodito. Ia merupakan Ibu Kota dari Agelta dan termasuk kota bagian terluar dari negara gersang itu sendiri. Disana terdapat pusat pemerintahan sekaligus kekaisaran yang masih bertahan hingga sekarang. Seorang pewaris tahta dan semacamnya. Aku tidak terlalu peduli. Karena tujuanku disini hanyalah untuk bisa menghasilkan uang saja.

Saat masuk Eurodito, aku hanya perlu menyerahkan data – data yang diperlukan. Pihak orang sanalah yang akan memilihkan pekerjaan apa yang cocok untukku. Dari melihat Riwayat pekerjaan yang kumiliki sebelumnya.

"Kau beruntung mereka sedang membutuhkan banyak orang sekarang." Hanya itu yang dikatakan penjaga saat aku diberikan alamat tempat kerja baru. Aku hanya mengangguk berterima kasih. Jika di Cadia cuaca bisa dibilang sangat lembab dan dingin. Hal ini berbeda sekali dengan Agelta. Disini gersang dan panas. Kering hingga aku harus menggunakan penutup hidung dan mulut hanya agar tidak terbakar – terpanggang matahari.

Ternyata, tempat kerja baruku adalah biro pelatihan – trainee pelayan. Orang – orang yang ditempatkan disini biasanya adalah mereka yang akan menjadi pelayan Dari keluarga – keluarga kaya raya – super kaya raya. Keluarga biasa tidak akan sampai menggunakan pelatihan ketat semacam ini.

Sebulan penuh setelah pelatihan. Kami akhirnya ditempatkan ke masing – masing keluarga. Dan siapa sangka jika aku akan menjadi salah satu pelayan di dalam keluarga kerajaan Agelta yang ada di Eurodito. Keluarga WindFord. Dan aku harus dipertemukan lagi dengan orang yang paling kubenci meski hanya sekali berinteraksi. Vale WindFord. Putra mahkota kerajaan Agelta sekaligus calon raja yang akan memimpin daerah gersang tandus penuh minyak di Land Of Dawn.