"Aku mau mandi dulu, ya, Sei," pamit Taiga yang sudah siap mandi dengan handuk mengalung di leher. "Nanti kalau kurir paketnya datang, minta tolong tanda tangannya."

Seijuro mengacungkan ibu jarinya ke udara. "Siap, Pak. Perintah diterima," balasnya dengan senyuman.

Taiga mengangguk, tampak tenang karena kekasihnya bersedia menerima paketnya apabila datang. Namun, ketenangan itu tidak mencapai persentase penuh. Ada yang mengganjal di hati, terutama melihat gawainya yang masih di-charge di dekat televisi. Seijuro sedang menonton sebuah drama yang ditayangkan, dan itu makin membuat Taiga tidak tenang.

"Kenapa?" Seijuro akhirnya menyadari Taiga yang masih belum masuk kamar mandi dan berdiri diam di dekat pintunya yang terbuka. "Mau mandi bareng? Aku sudah mandi tadi."

Sontak wajahnya memanas. Taiga menggelengkan kepala cepat, kemudian masuk kamar mandi dan menutup pintunya dengan cukup keras. "Besok aku ada kerjaan! Jangan pancing!"

Dari dalam, Taiga bisa mendengar suara tawa Seijuro yang harus diakui cukup besar. "Siapa juga yang mau pancing kamu, hah?!" Seijuro berseru dari luar. Tawanya masih terus terdengar hingga beberapa detik kemudian.

Seijuro berhenti tertawa dan mengintip pintu kamar mandi yang masih tertutup. Taiga belum ada dua menit masuk ke sana, jadi pastinya dia akan masih lama di dalam. Apalagi suara air dari shower baru ia dengar sekarang.

Senyum jahil terpasang di wajah manis Seijuro. "Sepertinya ini waktu yang tepat." Ia menaikkan sedikit volume televisi, lalu berjalan pelan ke mejanya. Ponsel Taiga yang masih di-charge menjadi sasaran.

Sekali lagi Seijuro melirik pintu kamar mandi, dan ia pastikan kalau ia menerima tanda-tanda kalau kekasihnya masih dalam. Seijuro menghela nafas, antara lega dan masih tegang. "Aku tahu aku tidak sopan—sering sekali melakukan ini, tapi menjahilimu itu memang yang nomor satu, Taiga."

Seijuro mencoba menyalakan ponsel kekasihnya dan memasukkan password, tapi ternyata tidak berhasil. Kelihatannya Taiga baru mengganti password-nya. Seijuro tersenyum saat memikirkan itu.

"Tapi aku pasti masih bisa menebaknya," gumam Seijuro dengan penuh keyakinan. Ia mencoba untuk memikirkan enam angka yang kemungkinan besar akan dipakai Taiga untuk membuat password baru.

Kalau kalian bertanya-tanya untuk apa Seijuro membuka ponsel Taiga tanpa izin—sekalipun mereka sepasang kekasih, itu karena seperti yang sudah Seijuro jelaskan; ia senang menjahili Taiga. Dan ia menjahili Taiga adalah dengan diam-diam mengganti wallpaper sang kekasih dengan wajah aibnya. Seijuro sudah melakukan ini dua kali, dan dua kali pula ia mendapat protes dari Taiga karena kolega-koleganya di kantor menertawainya saat melihat wallpaper Taiga tanpa sengaja.

Hampir Seijuro tertawa ketika teringat dengan aksi terakhirnya minggu lalu. Wajah Taiga benar-benar merah saat menceritakan pengalamannya di kantor. Apalagi yang melihat wallpaper Taiga yang menampakkan fotonya yang sedang mengorok, adalah calon ayah mertuanya, Akashi Masaomi. Masaomi sama sekali tidak marah, dan Seijuro sudah memastikan itu lewat telepon. Justru ayahnya itu tertawa sangat kencang ketika melihat wallpaper Taiga tanpa sengaja, ditambah saat Taiga kelepasan menyebut nama Seijuro sebagai pelaku kejahilan.

Ah, tidak bisa. Seijuro akhirnya kelepasan tertawa saat suara tawa ayahnya yang jarang sekali didengar, terputar kembali di kepala. Pewaris sah Akashi itu sebisa mungkin membuat suara tawanya tidak lebih kencang dari suara drama yang masih terputar di televisi.

Baik, jangan terlalu lama. Keburu Taiga selesai mandi, dan nanti rencananya malah tidak jadi terlaksana.

Seijuro masih berusaha memikirkan deretan angka yang mungkin dipakai Taiga. Sebelum ini, Taiga menggunakan tanggal lahir Seijuro sebagai password, yang mana itu cukup aneh. Yah, lebih baik daripada memakai tanggal lahirnya sendiri, sih. Justru kemungkinan untuk tertebak semakin tinggi.

Omong-omong soal tanggal, kalau Taiga menggunakan hari tertentu—yang kemungkinan berharga—untuk digunakan sebagai password, itu berarti dia tetap akan menggunakan pola yang sama. Dan entah kenapa muncul satu tanggal di kepala Seijuro, yang mana kalau sampai tanggal ini benar, maka Seijuro akan merasa sangat tersentuh.

Meski begitu, ia mencobanya. Ia masukkan tanggal jadi mereka—beserta tahunnya—dan, voila, kuncinya terbuka. Tidak sampai di situ. Ketika ia melihat wallpaper sang kekasih, seketika niatnya yang ingin menjahili, hilang begitu saja.

Di wallpaper itu terlihat siluet seseorang yang tengah melihat keluar melalui jendela yang ada di sisi kirinya. Sinar mentari sore tampak menyilaukan hingga menutupi bagian wajah siluet itu dengan sempurna. Hanya sosoknya yang tengah menopang dagu dengan satu tangan, serta mengangkat segelas jus alpukat di tangannya yang lain yang rasa manisnya bisa langsung Seijuro ingat.

Ya, siluet yang ada di wallpaper itu, adalah dirinya. Seijuro ingat betul kalau sosoknya di foto itu adalah saat ia dan Taiga mampir ke sebuah kafe dekat bandara selepas pulang dari liburan mereka di Thailand. Mereka sedang sangat lelah, terutama Seijuro yang bahkan sampai sedikit ngambek karena tidak kunjung sampai ke rumah. Akhirnya, Taiga berinisiatif untuk membawanya ke kafe terdekat dan mentraktirnya yang manis-manis. Seijuro sempat menolak karena ia merasa kalau itu percuma, tapi karena senyuman Taiga yang tidak kalah memperlihatkan kelelahan, Seijuro tidak sampai hati untuk merajuk lebih lama. Ia pun menerimanya dan mereka menghabiskan hampir satu jam lamanya di kafe itu hanya untuk menghabiskan minuman masing-masing.

Siapa yang sangka kalau ternyata Taiga mengambil gambar saat itu. Seijuro ingat kalau Taiga sempat izin untuk ke toilet, dan kemungkinan besar ia mengambil gambarnya ketika kembali. Namun, sungguh, Seijuro tidak mendengar suara kamera atau bahkan langkah kaki Taiga. Apa mungkin karena ia terlalu lelah dan sedang fokus dengan apa pun yang ada di luar jendela itu?

Teringat akan itu semua, Seijuro kian mantap untuk membatalkan niat awalnya. Ia menaruh kembali ponsel Taiga ke atas meja televisi, dan masih memperhatikan wallpaper-nya hingga layar ponsel itu kembali terkunci. Senyum jahilnya yang tadi, berubah jadi senyum tulus dan lembut.

"… Bisa-bisanya."

"Hayo, mau ganti wallpaper-ku lagi, ya?"

Seijuro refleks memutar badan ketika hidungnya bersentuhan dengan dada telanjang Taiga. Aroma sabun langsung bisa ia cium dan itu membuat wajahnya memanas. "… Sudah selesai?" Kata-katanya terdengar seperti untuk mengobati salah tingkahnya.

Kali ini giliran Taiga yang tersenyum jahil. "Yep." Ia mencium hidung kekasihnya cepat, lalu kembali bicara, "Tampaknya rencanaku untuk menghalaumu mengganti wallpaper-ku berhasil."

"Huh?" Seijuro tampak tidak senang saat mendengar itu. Kedua pipinya menggembung menggemaskan. "Kau sengaja memakai fotoku yang kau ambil diam-diam agar aku tidak bisa berbuat jahil denganmu? Begitu?"

"Kalau iya, terus kenapa? Mau protes?" Tentu saja tidak. Mana bisa Seijuro protes di saat ia tahu betapa Taiga sendiri tanpa ragu memamerkan hubungan mereka pada semua orang. Setiap ada yang tidak sengaja melihat wallpaper ponselnya, mereka pasti akan langsung menguji keindahan siluet yang ada di dalamnya.

Muka tertekuk Seijuro, segera berubah menjadi senang. Ia menarik leher Taiga agar mereka bisa bertukar ciuman. Tentu Taiga akan membalasnya dengan senang hati.

Lidah keduanya beradu selama satu ronde, sebelum akhirnya Seijuro menarik diri, mengaku kalah. "… Maaf aku sudah membuatmu malu. Terlebih di depan Tou-san."

"Tidak apa, santai saja." Taiga meninggalkan satu kecupan singkat di pipi kenyal Seijuro. "Kau baru melakukannya dua kali, jadi aku tidak masalah. Hanya saja, kalau kau lakukan lagi, aku tidak akan segan-segan menghukummu. Janji untuk tidak jahil lagi?"

Seijuro tak kuasa tertawa ketika Taiga mengacungkan kelingkingnya. "Seperti anak kecil saja, dan aku malah mau dihukum. Bagaimana?"

Taiga menyeringai. "Yakin? Hukuman baru akan diterima kalau kau nakal tiga kali, sedangkan kau baru dua kali berbuat nakal. Yakin mau menerima hukumannya?"

"Hn." Seijuro menganggukkan kepalanya. Tangannya yang lain ikut mengalung ke leher kokoh Taiga. "Oh, tapi katanya kau ada kerjaan besok? Tidak apa-apa kalau kita mau hajar semalaman?"

"Heh, apa yang tidak untukmu?" Tanpa banyak bicara lagi, Taiga mengangkat Seijuro dan membaringkannya di atas kasur. Ia tidak langsung bertindak, dan membiarkan mata Seijuro termanjakan dengan lekuk tubuhnya terlebih dahulu.

Seijuro mengakhiri kegiatan memandangnya dengan meremat kedua lengan atas Taiga yang keras. "Aku tadi sempat bermain saat mandi. Kalau mau langsung masuk, sudah bisa."

Taiga terkekeh dan ia memberikan Seijuro ciuman cepat di bibir. Mulutnya bergerak ke telinga merah Seijuro dan membisikkan sesuatu, "Aku kesal saat kau menjahiliku, tapi rasanya tidak masalah juga kalau kau mau lanjut jahil. Biar aku bisa menghukummu lebih sering."

(A/N: Thank you for your visit! This one is inspired by a prompt that I found online. I hope you do like this one.

Have a nice day and take care wherever you are now!

With love,

Lampu Merah.)

Sekarang kalian juga bisa dukung aku dengan jajanin aku cendol di Trakteer atas nama "Rotlicht." Terima kasih!