Sebetulnya, entah sejak kapan—visualku menangkap figurnya dalam imaji-imaji kurang ajar, tercetak jelas pada lobus otak.

"Besok adalah hari besar," Komandan Hange Zoe berujar. Kacamatanya terpulas cahaya lampu, berkilat. "Kita akan mengulas satu kali lagi apa yang harus dilakukan untuk menjemput Eren di Marley."

Sayang sekali—aku tidak berniat mendengarkan. Oh—lagipula, aku percaya diri bahwa segala taktik, strategi, serta rincian akan rancangan perebutan kembali Sang-Pencari-Mati itu—telah tertanam jelas di memoriku. Aku hapal. Dan paham—dan sedikit memiliki arogansi kalau aku akan melaksanakannya dengan baik.

Maka itu, kurasa hanya seperti biasanya—bola mataku berlabuh pada sosok sang Kapten yang terdiam mendengarkan. Alisnya bertaut, begitu fokus.

Entah sejak kapan isi pikiranku serupa sampah begini. Barangkali sejak awal masa latihanku sebagai kadet.

Sejak awal aku menaruh rasa kagum, hormat, serta afeksi inosen sederhana terhadap kapten dari Regu Penyelidik.

Namun, buana bergerak, zaman berubah, segalanya melangkah maju—dan aku perlahan dewasa. Kita semua melangkah pada kedewasaan.

Aku memahami apa itu hasrat, atau perkara keinginan duniawi, impulsi primal, sesuatu yang bercokol dalam kepala dan hormon sebuah makhluk hidup.

Sebab terkadang, melihat sosoknya dalam imajiku adalah satu dari sedikit hal yang bisa mengalihkanku dari segala ketidakwarasan dunia.

Dari titan, dari sekolosal masalah, dari medan pertempuran tempat mengadu sukma—dari segala itu.

Membayangkan ia yang merangkak di atasku, mengusap dahi serta menangkup rahangku. Membawaku dalam lumatan sederhana, memberi kecup dan hisap yang candu, yang ciptakan geraman rendah serta napas yang tertarik berat.

"Di sana, Armin akan berubah menjadi titan. Setelah itu—"

Tangan berurat yang akan menahan bahu agar tetap terhisap pada permukaan kasur. Jemarinya yang menjelajah, mengusap klavikula, turun pada dadaku, ibu jari menekan bulatan kecoklatan, memberi remasan, mencubit lembut.

Kepalanya yang akan begitu dekat dengan jantungku, bibir yang memberi jilatan—kirimkan sensasi listrik hingga ujung jemari kakiku. Gigi yang menyamankan dirinya pada ujung kecoklatan yang lain, mengulum, menggigit gemas hingga punggungku membusur.

Aku meneguk ludah.

Iris keabuan yang akan kembali memindai tubuhku. Lalu turun pada sisi di antara kedua pangkal kakiku. Jemarinya yang menggoda tonjolan merah muda, menekan, memijit, memberi gerakan melingkar. Jari telunjuk dan tengah yang merisak masuk di antara labia tebal, menggali halus, menarik-mendorong.

Memberi stimulasi hingga aku rengsa, hingga beberapa kali aku dekat dengan klimaksku, hingga aku merengek untuk dimasuki. Hingga aku basah dalam genggamannya.

Lalu, ia akan mencengkram hati-hati pahaku. Membuka—menagih akses dan meluaskan hak kepemilikian untuk diklaim serta dideklarasikan melalui organ kepunyaannya. Ia akan memosisikan tegakan yang berkedut—ingin dipuaskan dan memuaskan.

Ia akan menggoda dengan mengusapkan ujungnya, lalu mendorong perlahan. Kedua tangannya akan merangkap pinggulku, menyatukan. Pantatku akan terangkat, kakiku akan tertekuk dan lutut sejajar dengan rahangku.

Dan ia akan terus mengikuti nalarnya untuk menghentak sarat rasa. Memastikan tiap dorongannya menyentuh titik ujungku. Dan aku akan melenguh—tak mampu bahkan untuk membentuk suatu kata atau pun bahasa; hanya akan ada napas yang terputus-putus, serta erang lolos dari pangkal tenggorokanku. Hanya akan ada kepala yang terlentang ke belakang, kewanitaan yang keterlaluan sensitif, serta rasa panas pada perutku.

Hanya ada permohonan, kedua lengan yang menggantung pada tengkuknya. Akan ada suara yang serak, tangan besar yang menopang tubuhnya sendiri di atasku.

Akan ada satu atau dua dorongan keras pada jalur rahim sebelum aku memerangkap organ berujung tumpul di dalamku, membiarkan harum keringat meracuni olfaktoriku, sebelum pada akhirnya kurasakan likuid kental mengisi sesuatu di bawah sana, disusul suara yang melenting dariku.

Akan ada dia yang perlahan menarik organnya keluar dan menatap hasil kerjanya—

"Hey," Armin memanggil.

Aku mengerjap. Kulihat bola mata sebiru samudra mengarahkan pandangannya padaku—khawatir. Dan begitu sadar, kusadari seluruh insan pada ruangan sederhana itu memusatkan atensi padaku.

Kulihat sang Kapten Levi Ackerman menatapku tajam.

Menyenangkan.

"Kau baik-baik saja? Kau mendengarkan?"

Aku tersenyum tipis.

"Aku dengar. Begini, kan?"

Ah. Meeting berakhir seperti biasa.

Hanya seperti hari-hari lainnya.


Attack on Titan © Isayama Hajime

Gaze by Saaraa