Disclaimer: Bukan punya saya.
Warning: Gaje, Bahasa tidak baku, OOC, Typo, AR, AU, Fic pertama.
Summary: Naruto seorang siswa Konoha Highschool pada suatu hari sepulang dari kegiatan klub bertemu seorang gadis yang yang berdiri di tiang lampu sendirian sambil melihat toko Hamburger, ternyata pertemuan Naruto dengan gadis itu malah membuat dia dalam masalah yang berbahaya bagi jantungnya.
Matahari pagi mulai terbit di Kota Konoha dan mulai menyinari setiap sudut dari Kota ini. Konoha kota kecil yang terkenal akan keindahan alamnya menjadi tempat yang cocok bagi seseorang yang ingin menjauh dari keramaian kota besar. kota ini juga terkenal dengan masakan khasnya yaitu Ramen Konoha dan obyek wisata yang disebut Tebing Wajah Hokage, dimana wajah para pemimpin Konoha terpajang disana dimulai dari zaman Hasirama Senju sampai pemimpin saat ini. tradisi untuk mengukir wajah para pemimpin Konoha yang disebut Hokage masih dipertahankan sampai sekarang.
Disebuah rumah bergaya Jepang kuno, disebuah kamar, diatas futon Namikaze Naruto masih terbaring lemas diatas tempat tidurnya, membayangkan kejadian yang terjadi kemarin malam wajar baginya jika dia ingin menganggap semua itu hanya mimpi tapi sepertinya dia tidak bisa karena.. disebelah kirinya ada gadis berpakaian maid yang telah setia duduk sambil menunggu dia bangun.
"Bangun Master. kalo enggak nanti aku tembak pake Atomic beam kearahmu." Ophis gadis misterius yang dia pungut di bawah tiang lampu dan mengaku sebagai naga ini, tengah duduk santai di pinggir futon Naruto.
"Atomic beam? itu jurus Godzilla, kan? jangan bilang karena kalian sama-sama kadal kalian bersaudara?" Naruto pun segera bangun dari tempat tidurnya, lebih baik dia bangun daripada jadi daging gosong karena ditembak Atomic Beam
Ophis tidak menjawabnya dia hanya masih diam sambil memperhatikan Naruto dengan intens. jujur Naruto merasa risih diperhatikan sepert itu.
"Cuci mukamu, aku akan segera membuat sarapan." Naruto sendiri ragu apa Naga ini bisa masak?
Dengan malas Naruto bangun dan segera membasuh mukanya di wastafel di dapur.
"Nah Ophis-chan masakan apa yang akan kamu masak, itu bukan masakan aneh seperti daging ekor Naga giling, kan?" Naruto harap Ophis tidak membuat masakan yang aneh-aneh untuk dirinya.
"Huh? untuk apa aku memasak ekorku sendiri memangnya Master mau? tapi aku ga jamin kalo kamu ga bakalan keracunan sih." Ophis dengan santai menjawab sembari memotong sayuran.
"A-ah ga aku cuma nanya jadi ekor Naga itu beracun?" Naruto terkejut dengan apa yang Ophis katakan.
"Mhm bukan cuma ekor tapi seluruh daging kami juga itu sebabnya para ksatria atau petualang lebih memilih sisik, cakar atau taring kami untuk dibuat menjadi sebuah perlengkapan." Ophis kini mulai memasak sesuatu. dari cara memasak Ophis dia terlihat seperti Chef profesional.
"Ya, wajar sih kamu, kan tergolong Rare Monster, Ophis aku akan mandi dulu apapun yang kamu masak aku harap itu bukan sejenis masakan dari dunia lain."
Naruto memutuskan untuk mandi daripada dia telat masuk sekolah hari ini, tapi tanpa Naruto sadari Ophis kini terlihat memikirkan sesuatu.
"Mhm.. Master terlihat lesu mungkin aku akan membuat masakan yang akan meningkatkan stamina." Tiba-tiba sebuah lampu muncul di atas kepala Ophis, sepertinya dia sudah mendapatkan ide untuk membuat masakan yang pas untuk Naruto.
Lalu kalo dia baru memutuskan akan membuat apa, Ophis sebenarnya ngapain dari tadi?
Ophis segera membuat sebuah lingkaran sihir berwarna hijau di lantai dan perlahan lingkaran sihir itu menelan Ophis.
Setelah selesai mandi dan memakai seragam Naruto segera keruang makan dan seketika dia dibuat terkejut dengan sajian makanan yang ada di atas mejanya.
"Nah Ophis-chan.. bisa jelaskan masakan apa ini?" Naruto terkejut dengan masakan yang dibuat Ophis, ini bukan ekor Naga atau semacamnya tapi ini justru masakan mewah beraneka ragam dan sangat banyak, saking banyaknya mejanya pun sama tidak muat.
"Mwee?" Ophis sepertinya tidak paham dengan maksud Naruto dia hanya memiringkan kepalanya dengan imut.
Sebenarnya Ophis ini sengaja pura-pura tidak tahu atau mungkin dia emang lemot itu yang Naruto pikirkan saat ini.
"Ini masakan ini, Ikan Gurame Bakar, Sate Kambing, Opor ayam, Sayur Lodeh dan segala antek-anteknya ini, bahan-bahannya dapet dari mana!" Saking banyaknya Naruto sendiri sudah mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan semua masakan yang ada di mejanya ini. jika Naruto mau mungkin dia bisa memulai usaha Warteg dengan masakan sebanyak ini.
"Oh, itu aku dapet dari kulkas kok~" Ophis membuang muka menghindari tatapan Naruto sembari menunjuk kearah kulkas.
"Jangan bohong terakhir aku liat kulkas tuh isinya gada bahan-bahan yang bisa bikin beraneka ragam masakan kaya gini!" Naruto heran apa Ophis memiliki semacam sihir atau Magic Item yang bisa membuatnya memanggil bahan-bahan makanan dari tempat jauh sehingga dia bisa memasak masakan seperti ini? dan kenapa dia juga baru sadar sekarang.
Yare, yare.
"Nah ga usah banyak omong mending cicipin dulu." Ophis yang panik pun segera mengambil sumpit dan dengan paksa menyuapi Naruto masakannya.
"Eh jang—" Perkataan Naruto terhenti ketika Ophis menjejalkan masakannya.
Seketika itu pun Naruto merasakan sebuah perasaan yang belum pernah Naruto rasakan sebelumnya, masakan yang dijejalkan Ophis ini memiliki rasa yang bahkan mungkin membuat Chef terkenal akan terkejut dan jika Ophis mengikuti kompetisi masak mungkin dia akan langsung menang. oke itu berlebihan.
"Apa-apaaan masakan ini, entah kenapa aku merasa memiliki cukup tenaga untuk mendaki gunung Fuji dan berenang di Samudera Pasifik!" Selain memiliki rasa yang kelewat enak masakan Ophis juga ternyata memiliki kemampuan untuk menambah tenaga.
"Ya, itu wajar masakan ini memiliki kemampuan untuk meningkatkan Health Point, Mana Point, dan juga meningkatkan kekuatan fisik, daya tahan tubuh serta meningkatkan kekuatan serangan fisik dan juga Magic." Ophis menjelaskannya dengan bangga walaupun ekspresi tetap datar.
"Keren! jika aku di Isekai mungkin aku akan memiliki kemampuan yang hebat!" Naruto dengan lahap memakan masakan Ophis. ya selama masakannya enak enggak apa-apalah!
"Ya, tapi manusia yang kekuatannya meningkat drastis secara singkat biasanya meledak." Ophis sepertinya baru saja mengatakan hal yang berbahaya.
"Nah, Ophis-chan barusan sepertinya kamu mengatakan hal yang penting?" Naruto berhenti makan dan meminta penjelasan ke Ophis.
"Enggak apa-apa! ayo makan masih banyak hahahaha!" Ophis tertawa datar dengan ekspresi yang datar entah kenapa Naruto merasakan semacam bahaya darinya.
Yare, yare.
Naruto melihat kearah ponsel lipatnya untuk melihat jam dan sekarang sudah hampir jam masuk sekolahnya.
"Gawat! aku hampir telat! Ophis makasih atas makanannya, aku berangkat." Untung Naruto sudah menyiapkan semuanya dari malam walaupun semalam Naruto mengalami kejadian yang tidak bisa dibilang indah, Naruto tetap menyiapkan keperluannya untuk sekolah. Murid teladan gitu lho~
Naruto kini tengah bersiap berangkat sekolah dan hampir selesai memakai sepatunya.
"Nah, Master mau pakai gerbang teleportasi seperti kemarin?" Ophis kini tengah memegang tas selempang milik. Ophis berdiri dibelakang Naruto.
"Ya, aku mau sih itu praktis banget kayak pintu kemana saja, tapi efeknya lho pusing, sakit kepala dan muntah-muntah kaya gejala hamil." Kemarin saat Ophis dan Naruto hendak pulang, Naruto yang sudah tidak sabar terus mengeluh dan akhirnya Ophis menggunakan kemampuan sihirnya untuk berteleportasi secara singkat dengan hanya mengatakan alamat. sungguh praktis dan serba guna emang Naga satu ini.
"Ya, kalo begitu ga masalah. Master, kan sudah makan masakanku jadi kurasa jika kamu bertarung melawan Orc sekalipun aku yakin Master pasti menang."
Naruto sendiri tidak ada keinginan untuk bertemu apalagi sampai bertarung dengan Orc.
"Nah, Ophis-chan aku berangkat jadi sini tasnya." Naruto sudah siap untuk berangkat sekolah apalagi dengan energi tambahan dari masakan Ophis, Naruto yakin jika tiba-tiba ada lomba lari disekolahnya dia pasti akan menang.
"Mhmm gabisa aku ikut sama Master sebagai maid aku tidak bisa meninggalkanmu!" Mata Ophis membara, sepertinya dia memang sudah melekat sebagai maid walaupun sebenarnya Naruto menganggap Ophis hanya sedang bercosplay.
"Enggak bisa Ophis lagian mana ada murid SMA normal yang ke sekolah sambil bawa maid." Naruto tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian jika bisa, apalagi jika tiba-tiba ada yang mengetahui identitas Ophis sebagai Naga bisa gawat.
Ophis pun berpikir sebentar dan akhirnya paham.
"Oh, oke baiklah aku akan menurut tapi aku akan memberikan perlindungan untukmu!" Ophis meletakan lengannya di dahi Naruto dan seketika sebuah lingkaran sihir berwarna hijau muncul dan memberikan semacam aura pada tubuh Naruto.
Yare, yare.
"Nah dengan begini walaupun kamu digigit oleh Fenrir sekalipun kamu tidak akan terluka." Ophis terlihat puas.
"Ohh, ya tapi aku tidak yakin akan bertemu dengan Fenrir tidak! aku harap aku tidak bertemu dengannya." Naruto sudah tidak ingin bertemu dengan mahluk mitologi lainnya.
Ophis pun melambaikan tangannya kearah Naruto yang sudah mulai berlari menuju sekolah.
Dalam perjalanan menuju sekolah Naruto melihat ke kiri dan kanan untuk melihat keindahan Kota Konoha. angin yang sejuk menerpa wajahnya dan membuat rambut kuning miliknya sedikit bergoyang. untuk mencapai sekolahnya Naruto harus mendaki jalan menanjak terlebih dahulu karena lokasi Konoha Highschool ada didekat Tebing Hokage dan kawasan sekitar sini memang dulunya adalah bukit.
Disekitar sini juga terdapat taman dimana Naruto duduk dan makan Hamburger bersama Ophis.
"Hoi! Naruto-kun!" Saat Naruto sedang menikmati pemandangan ada seseorang yang menyapanya dari belakang, dia adalah gadis yang memiliki rambut berwarna pink seperti bunga sakura gadis itu adalah Haruno Sakura teman masa kecil Naruto selain Sasuke.
"Yo, Sakura." Naruto melambaikan tangannya ke Sakura
"Ohayou Naruto-kun kamu seperti biasa ya berangkat pagi." Sakura tersenyum kearah Naruto sambil berlari kecil untuk menyusul Naruto.
"Tentu saja! oh iya Sakura kamu juga ikut gabung Akatsuki, kan?" Sebenernya Naruto ingin menanyakan ini sejak kemarin ke Sakura tapi dia lupa.
"Iya waktu pas pulang sekolah tiba-tiba aku dan Sasuke-kun diculik oleh segerombolan orang yang memakai pakaian aneh kami pada waktu itu sangat terkejut, kepala kami juga ditutupi kain dan setelah dilepas kami sudah ada diruangan yang mirip seperti tempat ritual sekte sesat." Ternyata mereka juga diculik dengan cara yang sama seperti Naruto dan soal ruangan klub Akatsuki ya! Naruto juga setuju jika ruangan itu disebut seperti tempat ritual sekte sesat.
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"
"Kemudian aku dan Sasuke-kun bertemu pemimpin mereka yang namanya kalo tidak salah Nagato-san dan dia bilang dia itu sepupumu Naruto-kun." Sakura sepertinya dia tidak tahu kalo Nagato itu sepupu Naruto.
"Iya memang begitu dia Uzumaki Nagato dia sepupuku." Ya, Naruto juga baru tahu kalo ternyata sepupunya ini sedikit Chunni dan bahkan sampai membuat klub Akatsuki.
Sakura pun melanjutkan ceritanya.
"Lalu saat itu Itachi-Nii bilang dia ingin kita untuk meneruskan klub ini dan tanpa pikir panjang Sasuke-kun langsung menyetujuinya." Mungkin saja Sasuke sudah tahu alasannya dari Itachi-Senpai itu yang Naruto pikirkan.
"Lalu kamu bergabung karena ada Sasuke, Sakura?" Naruto melihat ke arah Sakura disebelah kanannya.
"Ya, begitu. Sasuke-kun itu tidak peka sama sekali soal perasaanku dan dia lebih mementingkan game ketimbang aku! Sasuke-kun bodoh!!" Teriak Sakura kesal, Sakura sudah berusaha keras menunjukan kode ke Sasuke jika dia itu suka kepadanya tapi Sasuke tidak pernah menyadarinya.
"Huahah, ya aku rasa saat ini juga dia bangun siang karena semalam bergadang main game lagi." Naruto sedikit tertawa sambil membayangkan Sasuke yang selalu terlihat cool itu kelabakan ketika bangun kesiangan.
"Naruto-kun! kamu juga harus membantuku untuk membuat Sasuke-kun tidak terus-menerus main game!" Sakura menarik lengan Naruto yang membuatnya kehilangan keseimbanganan.
Yare, yare.
"Ah, ya aku tidak yakin bisa membantu dia, kan memang hobi banget sama game." Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Naruto dan Sakura pun akhirnya sampai di depan gerbang Konoha Highschool atau yang biasa disebut KHS.
Menguap, Naruto sama sekali tidak bisa fokus dengan pelajaran hari ini, alasannya adalah dia memikirkan Ophis dirumah dan yang membuatnya lebih tidak fokus lagi adalah ini pelajaran terakhir sebelum jam istirahat.
"Semoga saja dia tidak tiba-tiba berubah jadi Naga dan menghancurkan rumahku." Gumam Naruto pelan sambil memutar-mutar pulpennya.
"Namikaze-san apa kamu bisa menjawab pertanyaan ini?" Sepertinya guru mengetahui kalo Naruto sama sekali tidak memperhatikannya dan Naruto sendiri yang tiba-tiba ditanya menjadi gelagapan. namun suara bel pertanda istirahat berbunyi dan menyelamatkan Naruto.
Yare, yare.
"Ahhh.. sial gurunya emang killer." Naruto yang baru saja diselamatkan oleh suara bel istirahat kini terlihat lesu seperti zombie.
"Untung kamu diselamatkan oleh bel Dobe." Sasuke yang duduk dibelakang Naruto pun mengejek.
"Aku ga mau denger darimu Teme si tukang telat." Sasuke datang terlambat ke sekolah dan pada akhirnya dia mendapatkan hukuman dengan diomeli oleh Guru Iruka.
"Ya, Guru Iruka sih masih mending ketimbang diomeli guru killer kayak Pak Ibiki Morino yang tadi, lagian juga dia punya luka cakar dipipinya itu bekas apa?" Sasuke merasa heran kenapa orang yang terlihat seperti Prajurit bayaran itu jadi guru matematika di KHS.
"Ada yang bilang dia dapet luka itu pas gulat sama harimau di Afrika." Naruto juga sudah banyak mendengar gosip tentang guru sangar satu itu.
"Gosip tentang Pak Ibiki Morino emang ga pernah habis ya, Prajurit bayaran, lah, Intel, lah segala macem." Sasuke juga bingung dari mana semua gosip ini asalnya.
"Iya saking banyaknya males juga nyebutin satu-satu." Ya, Naruto bukanlah orang yang kurang kerjaan yang suka ngomongin orang.
Yare, yare.
"Naruto-kun! Sasuke-kun! ada Nagato-san datang kesini." Sakura memanggil Naruto dan Sasuke dari pintu.
Yang ada disana bukan cuma Sakura saja tapi ada orang lain, dia adalah mantan ketua klub Akatsuki Uzumaki Nagato.
Naruto merasakan perasaan akan timbulnya sebuah masalah dan perasaan ini mirip seperti ketika ia bertemu dengan Ophis. apa yang menunggu Naruto disana entahlah tapi Naruto yakin itu pasti masalah.
Yare, yare
"Jadi ada apa Nagato-Senpai?" Naruto bertanya.
"Jadi aku ingin memberikan kalian ini." Nagato terlihat sangat bersemangat dia pun memberikan sebuah buku bersampul merah yang terlihat menyeramkan.
"Jadi apa yang ada didalam buku ini, ilmu sihir, kah?" Sasuke penasaran dengan buku itu. Naruto sendiri tidak berharap itu adalah buku mantra sihir.
"Sayang sekali bukan itu adalah daftar tempat yang memiliki misteri dan belum Akatsuki selidiki jadi kami harap kalian anggota baru Akatsuki mau menyelidikinya." Ucap Nagato santai dan setelah mengedipkan mata kirinya dia langsung pergi begitu saja.
"Naruto-kun, kamu yakin dia itu sepupumu?" Sakura memasang senyum canggung, sebenarnya Naruto juga tidak ingin mengakuinya tapi kenyataannya dia memang sepupu Naruto.
"Ya, begitu lah." Naruto pun memegang jidatnya yang tidak terasa pening, lagian Naruto juga sudah memutuskan untuk bergabung dengan Akatsuki.
"Yosh! sepulang sekolah kita akan mendiskusikannya bersama-sama." Ucap Naruto dengan yakin.
"Oke!!" Balas Sasuke dan Sakura secara bersamaan.
Kryuuk
"Tapi sebelum itu kita makan siang dulu bagaimana?" Suara perut Naruto yang tiba-tiba bunyi itu merusak suasana semangat mereka tadi.
"Hahaha!" Dan akhirnya mereka bertiga pun tertawa karena suara perut Naruto.
Yare, yare.
Setelah pulang sekolah Naruto akhirnya menuju keruang klub Akatsuki, Sasuke dan Sakura sudah lebih dulu kesana. Ruangan klub sendiri terpisah dari gedung sekolah dan memiliki bangunan sendiri yang ada dibelakang gedung sekolah, bangunan klub sering disebut sebagai Pemondokan dan memiliki dua lantai. Saat ini Naruto sudah ada didepan pintu ruang klub mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam akhirnya Naruto pun membuka pintunya.
"Osu! ehh?! Asuu!" Naruto kaget dengan yang ada didepannya saat ini, ada laki-laki yang sedang duduk di bangku ketua klub Akatsuki yang lebih mengejutkan lagi laki-laki itu berpakaian seperti Raja Iblis lengkap dengan tanduk, laki-laki itu adalah Uchiha Sasuke.
"Hebat juga kamu bisa sampai disini." Raja Iblis gadungan itu memasang raut wajah sombong sambil menunjuk kearah Naruto.
"Anu Sasuke-san bisa beritahu saya apa yang sedang anda lakukan?" Apakah Sasuke yang maniak game ini diam-diam juga mengidap sindrom Chunnibyo seperti anggota Akatsuki yang lain?
"Huhuhu, diam disana jangan bergerak lingkaran sihirku sudah aktif!" Tiba-tiba Sakura muncul dari tirai jendela dengan pakaian ala penyihir.
Yare, yare.
"Apaan nih gak ada yang ngasih tahu kalo kita ngedadak bikin acara Halloween atau pesta kostum." Saat jam istirahat mereka berdua masih normal apa jangan-jangan ruangan klub ini memiliki efek dimana jika kita terlalu lama disini kita bisa ikutan menjadi aneh itulah yang sedang Naruto pikirkan saat ini.
"Nah ayolah bukankah kita akan membahas soal sesuatu yang tertulis di buku ini?" Naruto pun mengeluarkan buku bersampul merah yang terlihat menyeramkan.
Namun yang lain justru terdiam, apa ada yang salah dengan ucapan Naruto? tentu tidak, jika ada yang salah sudah pasti isi kepala mereka yang salah saat ini.
Yare, yare.
"Kenapa kalian diam saja?" Naruto kembali bertanya.
"Khukhuku.." Sasuke tertawa dengan suara mirip burung hantu dan memasang pose yang khas dari seorang Chunnibyo, iya dia memegang mata kirinya dengan alay.
"Nah Maou-sama sepertinya dia sudah membawa apa yang diperlukan untuk ritual! ayo kita mulai! tolong nyalakan lingkaran sihirnya sekarang!" Sakura juga menanggapi hal yang dilakukan Sasuke sambil mulai memutar tongkat sihirnya dan merapalkan mantra sihir.
"Nah mari kita hentikan drama ini dan mulai fokus.. Ehhh! sejak kapan ada lingkaran sihir disini?!" Naruto terkejut ternyata dia sedari tadi sudah berdiri di tengah lingkaran sihir yang entah sejak kapan sudah mereka siapkan.
"Khukhuku sekarang pergilah ke Isekai dan buat partymu sendiri untuk melawan Raja Iblis!" Sasuke pun menunjuk kearah Naruto yang panik.
"Eh, bukannya kau juga Raja Iblis Sasuke! kenapa kau mengirim aku untuk melawan Raja Iblis lainnya!" Naruto tidak terima, mana ada Raja Iblis yang mengutus seorang pahlawan dari dunia lain untuk melawan Raja Iblis juga.
"Pergilah! segera temui rekan partymu! aku akan membiarkan kamu mengetahui rekan partymu, yang pertama dia adalah seorang Dewi yang menyamar sebagai Arch Priest lalu seorang Penyihir dan terakhir adalah seorang Crusader!" Sasuke sepertinya sangat menikmati ini.
"Tidak! aku tidak mau pergi berpetualang di Isekai!" Naruto lebih suka kehidupan normalnya ini ketimbang harus pergi berpetualang di Isekai ya walaupun sejak kedatangan Ophis kemarin hidupnya tidak bisa dibilang normal juga, orang normal macam apa yang tinggal dengan seorang Maid Naga.
Lingkaran sihir yang ada di kaki Naruto semakin bersinar dan mengeluarkan suara berdesing. Tunggu ini bukan lingkaran sihir asli, kan?
"Oh tidak! kita gagal lingkaran sihirnya akan meledak! berlindung!" Sakura dengan panik berteriak dan segera berlindung dibawah meja, begitu pula dengan Sasuke yang berlindung di balik tirai jendela.
"Eh? meledak? tunggu! ngapain kalian pada sembunyi!" Dengan panik Naruto bertanya tapi tidak ada yang menjawabnya.
Kaboom!
Ledakan pun terjadi dan asap putih menutupi seluruh ruangan klub ini.
"Anjir kaget! untung masih hidup." Naruto pun bersyukur karena dirinya masih hidup.
"Yaa, maaf ya kami cuma bercanda." Tiba-tiba ada yang berbicara dibelakang Naruto yang membuat dirinya takut.
"Eeh! lu siapa!"
Yare, yare.
Setelah kejadian tadi Sasuke dan Sakura pun meminta maaf sebenarnya ini adalah ide dari Nagato untuk mengerjai Naruto.
"Jadi karena itu kalian buru-buru keruangan klub?" Naruto tengah membersihkan sisa-sisa dari asap tadi yang ternyata adalah tepung.
"Lagian itu salahmu sendiri bukan karena dihukum untuk menyapu lantai? karena hal itu Nagato-san meminta kita untuk mengerjaimu~." Sakura tersenyum. Naruto sedari tadi terus melamun dikelas dan saat pelajaran terakhir dia tiba-tiba diminta oleh guru untuk menjawab suatu soal, karena Naruto tidak memperhatikan jadi dia tidak bisa menjawabnya dan akhirnya dia pun mendapatkan hukuman.
"Aku tidak bisa membantahnya." Naruto pun terlihat lesu.
"Oke, lupakan soal itu dia ini adalah Sai dari kelas 1-2." Sakura menunjuk kearah laki-laki berambut hitam dan berkulit putih pucat.
"Maaf tadi mengejutkanmu Namikaze-san, aku Sai salam kenal." Sai pun sedikit membungkukkan badannya.
"Ah, ya tidak apa-apa. panggilan Naruto saja , oke?" Naruto tidak terlalu suka sikap formal.
"Jadi Sai alasan apa yang membuatmu bergabung dengan Akatsuki?" Sambil mengelap sisa-sisa dari tepung tadi Naruto bertanya.
"Aku pindah ke sekolah ini saat awal semester jadi aku tidak punya banyak teman." Jarang sekali terjadi memang kasus dimana ada murid pindahan diawal semester.
"Oh pantes aku serasa baru liat kamu Sai, aku kira karena kita kelasnya beda makanya jarang liat. Eh tahunya murid pindahan." Naruto juga mengerti perasaan Sai saat yang lain sudah saling mengenal dan membuat kelompok masing-masing Sai justru masih sendiri.
"Karena itu saat aku diculik ya memang menakutkan tapi saat mereka menawarkan untuk bergabung kesebuah klub dan disana aku pikir aku bisa mencari teman." Sai tersenyum dia memang berpikir jika dia ikut klub dia mungkin akan mendapatkan teman disana, tidak peduli klub aneh semacam Akatsuki sekalipun.
Yare, yare.
Dan setelah itu mereka merapihkan bekas kekacauan yang mereka buat, Naruto mulai merasa ikut kegiatan klub tidak, lah terlalu buruk tapi jika dia harus sering mengalami kejadian seperti tadi maaf saja dia tidak mau lagi mengalaminya.
Setelah selesai merapihkan semuanya, Sakura bilang dia ingin keluar sebentar untuk membeli sesuatu jadi dia tidak ada diruangan ini sekarang.
"Oke, ayo mulai semuanya sekarang ketua." Sasuke menyenderkan badannya di kursi lipat sambil mengeluarkan headset dan juga laptop dari tasnya kemudian dia mencolok, kan headsetnya ke laptop. Sasuke sepertinya akan mulai bermain game.
Yare, yare.
"Iya ayo mulai Haruno-san mungkin akan lama pergi keluar." Sai mengatakan itu tapi dia sama sekali tidak melihat kearah Naruto, dia saat ini sedang duduk dipojok dekat kaca sambil membaca sebuah buku.
Ruangan Akatsuki berada di lantai dua pemondokan jadi mendapatkan penerangan dari sinar matahari dengan baik.
"Aku tidak yakin kalian akan mendengarkan apa yang aku katakan dan sejak kapan aku jadi ketua." Bagaimana mereka mau mendengarkan Naruto jika mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, Sasuke yang sekarang sedang main game, Sai yang membaca buku dan entah sejak kapan Naruto menjadi ketua dari klub gak jelas ini, Naruto hanya bisa menghela nafas berat.
Yare, yare.
"Jadi yang ada disini itu tempat-tempat yang belum Akatsuki selidiki dan kita diminta menyeledikinya. Bagaimana menurutmu Sasuke?" Naruto bertanya ke Sasuke yang saat ini tengah santai sambil main game di laptopnya.
"Kenapa kamu menanyakan hal yang merepotkan seperti itu padaku." Sasuke yang terlihat tidak peduli dan sepertinya tidak mau peduli.
Naruto masih berusaha untuk bersabar menghadapi temannya yang satu itu. walaupun sebenarnya dia ingin sekali menghajar Sasuke saat ini.
"Jadi menurutmu Sai?" Memijat keningnya, Naruto pun bertanya ke Sai.
"Semua keputusan ada padamu ketua." Sai juga tidak peduli dan tetap fokus membaca bukunya, Naruto penasaran buku apa yang Sai baca karena terkadang wajahnya menjadi sedikit aneh.
Dengan perlahan Naruto bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Sai secara diam-diam, belum ada tanda-tanda Sai menyadarinya. Isi dari buku itu membuat Naruto terkejut tentu saja ini, kan Doujin.
"Hei, Sai ini, kan komik Hentai!" Naruto kaget ternyata Sai begitu fokus karena membaca komik laknat yang dia tutupi dengan buku lainnya agar sampulnya tidak ketahuan.
"Mhmm bagus untuk pembelajaran masa depan." Sai melihat ke Naruto yang saat ini ada dibelakangnya.
Naruto pun menyita buku laknat itu tapi Sai tidak terima dan terus melawan.
"Sialan kau Naruto-san!" Sai menangis dengan lebay, Naruto berhasil merebutnya. Naruto sendiri heran kenapa buku ini bisa lolos dari razia Osis.
Oke sekarang giliran mengecek Sasuke dia memang terlihat seperti sedang main laptop biasa tapi ada yang aneh dengan wajahnya.. ada sedikit semburat merah dipipinya. Naruto pun menarik headsetnya..
Ahhh!!
"Anjir!" Tiba-tiba muncul suara desahan yang sangat kencang yang cukup mengejutkan Naruto.
"Oii Dobe ngapain tiba-tiba ditarik!" Protes Sasuke.
"Lu sendiri ngapain Teme! malah main Eroge!" Naruto memang tahu Sasuke ini maniak game tapi dia tidak tahu kalo Sasuke juga hobi bermain Eroge.
"Aku baru aja download lostlife jadi penasaran buat cepet namatin ini game!" Oh, ya seingat Naruto Sasuke juga mengatakan sesuatu tentang game lostlife saat berbicara ditelpon kemarin malam.
Yare, yare.
Tiba-tiba Sakura datang dengan membawa sebuah bungkusan ditangannya dan terkejut melihat Sasuke dan Sai menangis.
"Naruto-kun sebenarnya apa yang terjadi?" Sakura penasaran apa yang terjadi selama dia keluar untuk membeli cemilan.
"Ketahuilah Sakura aku tidak bisa mengatakan ini kepadamu demi kebaikanmu!" Naruto dengan air mata lebay mengalir dipipinya menepuk pundak Sakura, tapi bukannya paham Sakura justru merasa ketakutan.
Dan setelah semuanya tentang mereka melanjutkan pembicaraan yang sebenarnya belum dimulai sama sekali.
"Jadi disini ada kolam memancing milik seorang warga bernama Ebisu yang konon katanya di kolam itu hidup ikan raksasa yang memiliki rasa enak." Naruto pun mulai menjelaskan isi dari buku yang Nagato berikan tadi pagi.
"Ikan ini memang sudah menjadi legenda bagi para pemancing di Konoha rasa ikan ini katanya jika sekali kamu mencobanya maka kamu akan ingin makan lagi." Ucap Sakura sambil menaruh teh di atas meja.
"Nah Sakura kamu bilang kamu beli teh ini di Distrik belanja Konoha, kan?" Naruto mengangkat cangkir teh miliknya.
"Iya memangnya kenapa?" Sakura bingung dan memiringkan kepalanya.
"Bukannya untuk sampai kesana kamu harus naik kereta?" Distrik belanja Konoha itu jaraknya sangat jauh dari sini, itu artinya Sakura harus turun bukit sekali naik kereta sekali untuk mencapai Distrik belanja Konoha dan Sakura harus mengulanginya lagi untuk bisa kembali ke Konoha Highschool. Kurang kerjaan juga Sakura beli teh jauh-jauh padahal didekat sini ada toko kelontong yang menjual teh. sama seperti kedua temannya yang lain Sakura juga memiliki keanehannya sendiri itu yang Naruto pikirkan.
"Apa kamu tidak kerepotan? itu cukup melelahkan bukan?" Naruto bertanya khawatir pada Sakura.
"Jangan khawatir Naruto-kun aku tidak akan mudah lelah begitu saja! lagipula disana ada toko yang baru buka jadi aku pikir sekalian saja kesana pasti ada diskon begitu." Sakura sepertinya baik-baik saja.
"Lupakan tentang itu mari segera selesaikan pembicaraan ini dan kembalikan laptopku!"
"Bukuku juga!"
Sasuke dan Sai protes sepertinya mereka sudah tidak sabar lagi ingin melanjutkan hal yang tertunda tadi.
Yare, yare.
"Ya, sebenarnya selain kolam pemancingan Ebisu masih ada lagi tempat yang tertulis disini, seperti Goa misterius di Tebing Wajah Hokage, teriakkan misterius di hutan Konoha dan masih banyak lagi." Sai melihat kearah buku bersampul merah itu sambil menikmati teh buatan Sakura.
"Untuk hari Minggu lebih baik kita ke pemancingan Ebisu dulu yang dekat, gimana?" Usul Sakura.
"Oke, baik aku setuju, yang lain gimana?" Naruto setuju.
"Ya udah setuju! cepet selesain sini balikin laptopnyaa!!" Sasuke sudah tidak sabar untuk melanjutkan gamenya.
"Ah, jangan lupa bukuku juga." Sai bahkan sampai memasang raut wajah memelas.
Sementara Sakura sendiri masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi ketika dia beli cemilan barusan?
"Oke hari Minggu kita kumpul di Ramen Ichiraku, tempat itu yang lokasinya cocok buat tempat berkumpul." Naruto menyarankan tempat ramen kesukaanya itu untuk tempat berkumpul.
"Sebenarnya kau hanya ingin makan ramen saja, kan Naruto?" Curiga Sasuke.
"Eeh ya itu salah satu alasannya tapi lokasi itu cocok buat kumpul karena dekat sama pemancing Ebisu dan kita juga bisa makan siang dulu!" Naruto berusaha mencari alasan.
"Ahhh baiklah rumahku juga dekat disitu." Sakura menghela nafas.
"Aku juga tidak keberatan." Sasuke juga tidak masalah.
"Agak sedikit jauh dari rumahku sih tapi masih wajar, oke!" Sai juga setuju.
Mereka semua telah setuju hari Minggu nanti mereka akan memulai penyelidikan mereka tentang ikan misterius di kolam pemancingan Ebisu.
Yare, yare.
Naruto hari ini kembali pulang terlambat sama seperti kemarin, dirinya sendiri tidak masalah dengan hal itu karena dirumah pun tidak ada yang menunggunya. Orang tua Naruto mereka berdua pergi untuk melakukan perjalanan keliling dunia saat Naruto masih di bangku SMP, mereka tidak melupakan Naruto dan mereka juga masih sering mengirimkan uang serta oleh-oleh dari segala tempat yang pernah mereka singgahi untuk Naruto.
"Mereka berdua bersenang-senang dan melupakan anaknya disini." Naruto melihat kearah foto keluarga yang ada di ponsel lipat miliknya. Ada sedikit rasa rindu di hati Naruto yang ingin bertemu dengan mereka, tapi dia tidak bisa melakukan apapun dengan itu, Naruto sendiri tidak tahu ada dimana mereka sekarang.
Saat Naruto sampai didepan rumahnya ada suasana yang berbeda, lampu yang biasanya mati kini menyala dan bahkan tercium aroma masakan dari dalam rumah Naruto.
Dirinya sudah tidak sendiri lagi dengan senyum Naruto pun melangkah untuk membuka pintu. Biasanya jika dia mengatakannya tidak ada yang menjawabnya tapi kini berbeda.
"Aku pulang!"
"Selamat datang" Dari dalam ada yang membalas salam Naruto, seorang gadis berambut hitam berwarna mata sama seperti rambutnya dan mengenakan pakaian maid berlari kecil kearah Naruto.
Sudah lama dirinya tidak merasa seperti ini. Ophis yang kini sudah ada dihadapan Naruto sedikit tersenyum.
"Master kamu pulang telat." Ophis langsung memeluk Naruto.
"Ah, maaf Ophis-chan." Naruto mengelus kepala Ophis, dirinya kira Ophis ini hanya Naga yang akan membawa suatu masalah baginya tapi selain itu ada suatu perasaan yang tidak bisa Naruto jelaskan tentang Ophis.
Ophis pun melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh.
"Jadi Master mau makan dulu, mandi dulu atau d-i-r-i-ku!" Ophis mengatakan itu dengan ekspresi seperti biasa tapi lenganya membentuk simbol Love.Yare, yare.
Semua pemikiran bagus tentang Ophis langsung lenyap seketika.
"Yare, yare dari mana kamu belajar seperti itu? aku lebih memilih untuk mandi dulu." Naruto merasa lelah hari ini semua masalah yang terjadi tadi pagi atau di klub Akatsuki semuanya membuat dirinya lelah tapi..
"Itu tidak buruk juga." Naruto dengan masih tersenyum melangkah masuk.
"Master hari ini aku memasak masakan spesial daging ikan paus." Ophis mengikuti Naruto dari belakang.
Ophis sepertinya sudah memasakan masakan spesial hari ini jadi Naruto mungkin akan sedikit memujinya.
"Iya iya itu masakan favoritku.. Eh! apa?" Naruto terkejut dengan apa yang dikatakan Ophis.
Ophis pun segera belari menuju dapur.
"Ophis-chan tadi kamu bilang apa!" Naruto segera lari menyusul Ophis.
Yare, yare.
Sepertinya walaupun sudah ada dirumah Naruto tetap mendapatkan masalah.
Tbc, To be Countinue.
Yo, ketemu lagi sama saya Musafir Kuburan maaf kalo ceritanya garing, humornya kurang dan masih banyak kesalahan. saya update cepat karena mungkin beberapa hari ke depan enggak bisa update. Ophis-chan sepertinya enggak terlalu banyak dapet peran di chapter ini ya wkwk mungkin nanti bakalan ada chapter khusus buat Ophis.
Oh, ya makasih yang udah mau review saya seneng banget baca review dari kalian, cerita di fic ini emang terinspirasi dari Kobayashi-san Chi no Maid Dragon dan sedikit dari Haruhi Suzumiya.
