Chapter 9

Disclaimer :

-Naruto : Masashi Kishimoto

-High School DxD : Iciei Ishibumi

Rate : M

Warning : typo,abal,gaje,lime,lemon

Summary : Naruto Uzumaki, pahlawan Konoha yang telah mengalahkan Kaguya. Tapi ia harus menggorbankan dirinya dan terjebak didimensi lain untuk selama-lamanya. Dengan kekuatannya yang tidak sengaja tersegel, bagaimana cara Naruto mendamaikan dimensi barunya bersama teman iblisnya ?

.

.

Setelah pertemuan peerage Rias dan dua pemuda bertopeng dua hari yang lalu, Kiba sudah sangat yakin bahwa salah satu diantara mereka adalah Naruto. Sekarang Kiba memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertemu sosok itu lagi. Saat Kiba sedang melamun, lamunannya bubar karena...

Plak

...mendengar suara nyaring yang sangat jelas ditelinga.

''Sudah ku bilang berapa kali, Issei, kau tidak boleh berurusan dengan biarawati itu lagi. Dia menganut Tuhan, sedangkan kita adalah iblis. Jika kau terus bersamanya kau akan dalam masalah, Issei.'' kata iblis perempuan berambut merah crimson yang sedang memarahi Issei.

''Tapi Bochou, Asia dalam bahaya, kita harus menyelamatkannya, jika tidak dia bisa...''

''Cukup Issei ! Kau tidak boleh kesana.'' kata Rias lalu menoleh kearah Akeno dan menganggukkan kepala sebagai isyarat sambil berjalan kearah Akeno.

Akeno yang mengerti maksud Rias juga mengangguk dan menciptakan lingkaran sihir dengan Rias yang sudah berada disampingnya.

SIINNGG

Rias dan Akeno langsung menghilang memasuki lingkaran sihir tersebut.

''Baiklah ! Jika tidak ada yang membantuku, aku akan pergi sendiri.'' kata Issei dan langsung pergi keluar.

Melihat kejadian ini, kiba teringat kata-kata Naruto. ''Tidak peduli lawan atau kawan, jika dia berniat baik kau harus membantunya.''

Kiba berdiri dari duduknya dan berlari kearah Issei berlari. Koneko yang melihat Kiba berlari juga ikut menyusul Issei dan Kiba.

.

.

Issei berlari dengan kencang , tidak menyadari dibelakangnya terdapat dua sosok yang mengejarnya.

''Issei ! Tunggu.'' kata salah satu sosok tersebut yang ternyata Kiba dengan Koneko dibelakangnya.

Mendengar teriakan yang tertuju padanya, Issei langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya.

''Mau apa kalian menyusulku ?'' tanya Issei dengan wajah sok datar setelah Kiba dan Koneko berhenti didepannya.

''Tentu saja membantumu. Kau pikir apa ?'' tanya Kiba dengan wajah datar...asli.

''Benarkah ?'' tanya Issei dengan penuh haru dan hilang sudah wajah sok datar miliknya.

''Sudahlah, jangan banyak bertanya. Sekarang kita selamatkan si Asia itu. Issei, kau duluan.'' kata Kiba dan mendapat anggukan dari Issei.

.

.

Didalam sebuah kamar, terdapat pemuda yang seperti orang bersemedi, dengan poni pirangnya yang menutupi mata kirinya.

Poof

Muncul kepulan asap yang berukuran sedang diruangan tersebut, dan muncullah sosok yang identik dengan pemuda sebelumnya.

''Naruto, aku membawa kabar.'' kata pemuda yang baru muncul dan langsung to the point.

''Katakan 'Naruto'.'' kata Naruto kepada 'Naruto'.

''Baru saja aku mendapat kabar. Issei ingin menyelamatkan kenalannya yang bernama Asia Argento, dan juga Kiba dan peerage baru Rias juga ikut bersamanya.'' kata 'Naruto' memberi tau.

''Lalu... Akeno dan Rias ?'' tanya Naruto sambil membuka matanya, menunjukkan kedua matanya yang berwarna biru saffir bagai langit tanpa awan.

''Aku rasa Rias dan Akeno akan membantu Issei, tapi dalam jalur yang berbeda. Karena tidak mungkin Rias meninggalkan peerage yang merupakan pemegang salah satu Sacred Gear true Longinus, Boosted Gear, dan juga merupakan kekasihnya.'' kata 'Naruto' membuat Naruto tersenyum kecut.

'Kekasih heh ?' batin Naruto miris. Tapi ia sudah merelakan semuanya.

''Baiklah, kau boleh pergi.'' kata Naruto mendapat anggukan dari Bunshin miliknya.

Poof

Dan 'Naruto' tadi menghilang menjadi kepulan asap dan ingatan 'Naruto' masuk kepikiran Naruto.

Ternyata 'Naruto' yang baru saja menghilang tadi diperintahkan oleh Naruto untuk memantau ORC. Jika saja sahabatnya dalam bahaya, dia bisa mengetahui dengan cepat.

''Hah~ baiklah, aku juga akan membantu mereka.'' kata Naruto lalu menghilang dengan Hiraishin.

SING

Cklek

Baru sedetik Naruto menghilang, pintu kamarnya terbuka dan menampakkan perempuan berambut hijau sebahu sambil membawa nampan berisi satu mangkok ramen.

''Naruto, ini ramennya sudah...siap.''

''Eh !? Kemana dia ? Kok tidak ada ?''tanya perempuan itu yang ternyata Fuu.

''Ah! Sudahlah, lebih baik aku makan saja.'' kata Fuu, setelah itu langsung keluar dari kamar Naruto.

.

.

Tiga iblis berlari dengan kencang yang melebihi pembalap Moto GP, Valentino Rossi. Mereka berlari kearah Gereja yang tak jau lagi dari mereka bertiga.

''Kiba, Koneko, itu tempatnya.'' kata Issei menunjuk kearah Gereja yang lumayan besar, bahkan sangat besar.

''Hm!'' kata Kiba dan Koneko menganggukan kepala.

Setelah mereka sampai dipintu Gereja, Koneko langsung menendang pintu dengan kuat sampai pintu besar itu rusak dibuatnya.

Tapi yang mereka terkejut adalah banyaknya Da-Tenshin yang berada didalam Gereja tersebut. Bukan sepuluh atau dua puluh, melainkan ratusan.

''Apa yang harus kita lakukan sekarang Issei senpai ?'' tanya Koneko dengan wajah andalannya, tidak menunjukkan emosi alias datar.

''Jika kau bertanya padanya, pasti jawabannya 'Oppai'.'' kata Kiba menyindir.

Sedangkan Issei yang mendengar ejekan Kiba hanya diam saja, karena ia bingung harus melakukan apa.

''Ck ! Kau terlalu lama mikir. Jika kau ingin menyelamatkan Asia, kita harus melawannya.'' kata Kiba, tapi tidak mendapat respon dari Issei.

''Cih! Kau harus mengupgrade otakmu Issei...''

''Sword Birth.''

Muncul lingkaran didepan Kiba, lalu ia memasukkan tangan kedalam lubang tersebut dan menariknya kembali. Terdapat sebuah pedang ditangan Kiba yang berukuran sedang.

''Aku duluan.'' kata Kiba, lalu ia bergerak dengan cepat bagai petir yang menyambar.

Cras Cras Cras Cras

''Akkh !''

Bunyi tebasan dan raungan kesakitan terdengar dari beberapa Da-Tenshin yang terkena tebasan Kiba dan mati.

''Issei, Koneko, jangan diam saja, bantu aku.'' kata Kiba dan mendapat anggukan dari yang bersangkutan.

Dan mereka melanjutkan 'permainan' mereka.

.

.

Ditempat Rias dan Akeno~

''Bochou, apa tidak apa-apa Issei datang sendirian ?'' tanya Akeno sambil berjalan disamping Rias.

''Mungkin tidak apa-apa, karena nantinya kita juga akan kegereja itu kan.'' kata Rias dengan senyumnya.

''Wah wah, ada dua wanita sexy yang datang kemari.'' terdengar sebuah suara yang memasuki indra pendengaran Rias dan Akeno.

Rias dan Akeno menghentikan langkah mereka dan membalikkan badannya. Terlihat gadis kecil yang berambut kuning sedang duduk diatas pohon, dan setelah itu ia melompat dari atas pohon.

''Hap.''

Setelah gadis pendek ini telah menginjak tanah, Rias dan Akeno memperhatikan gadis tersebut.

''Akeno, kau tau siapa dia ?'' tanya Rias sambil menatap gadis itu.

''Hanya anak kacil.'' kata Akeno dengan wajah tanpa dosanya yang menyebabkan urat kekesalan muncul didahi sang gadis pirang.

''Siapa yang kau panggil 'anak kecil' hah ? Aku ini sudah besar tau. Umurku 16 tahun.'' kata si pirang sambil menghentakkan kakinya berulang-ulang.

''Ne, Rias ? Apa kau punya permen ? Kurasa ia ingin itu.'' kata Akeno dengan senyum mengejek.

''Permen ? Wah ! Aku tidak punya.'' kata Rias dengan wajah pura-pura menyesal.

''Maaf ya adik kecil, Onee-san tidak punya permen.''

''Fufufufu.'' tawa Akeno dengan gaya khasnya.

''Hei! Ku beri tau ya, namaku bukan anak kecil, namaku Mittelt.'' kata gadis kecil yang bernama Mittelt.

''Hahaha... Kau memang pantas dipanggil anak kecil, Mittelt.'' kata seorang Da-Tenshin berambut biru tua dan pakaian sexynya yang berdiri diatas pohon.

''Kau menyebalkan Kalawarner.'' omel Mittelt menunjuk keatas pohon dimana Da-Tenshin cantik berada.

Kalawarner turun dari pohon dan menapakkan kaki disamping Mittelt.

''Akeno, siapa lagi dia ?''

Akeno melihat tampilan sosok perempuan yang baru datang beberapa detik yang lalu.

''Kalau dilihat dari pakaiannya, mungkin ia hanya pelacur yang sedang menunggu paman-paman yang akan lewat.'' Kata Akeno yang menyebabkan Kalawarner naik darah.

''Apa kau bilang ? Kau ingin berkelahi hah? Rasakan in...''

''Hahaha... Sekarang kau mudah emosi ya, Kalawarner.'' kata sosok yang mengenakan pakaian detektif terbang diatas mereka berempat.

''Diam kau Dohnaseek !'' kata Kalawarner menatap tajam kearah sang detektif yang turun kebawah.

''Wah wah wah. Ternyata adik dari Sirzech Lucifer atau Geremory, serta salah satu dari peeragemu.'' kata Dohnaseek sambil tersenyum.

''Akeno, siapa lagi dia ?'' tanya Rias untuk ketiga kalinya.

''Mungkin seorang detektif yang sedang menyelidiki kasus ''Hilangnya Jejak Kaki di Dalam Air''.'' kata Akeno lagi-lagi membuat yang bersangkutan sedikit emosi.

''Gzzz... Awas kau !'' geram Dohnaseek dan langsung menyerang Rias dan Akeno dengan terbang kearahnya sambil membawa Light Spear ditangannya.

.

.

SING

Muncul Naruto disertai kilatan kuning yang berada disebuah bawah pohon, dengan jubah dan topeng Kitsunenya, disertai telinga dan sembilan ekor rubah yang melambai. Jangan lupakan mata merah yang bersinar dalam gelap. Setelah itu, Naruto langsung membuat handseal.

''Kagebunshin no Jutsu.''

Muncul kepulan asap disamping Naruto berada dan memunculkan 'Naruto' bunshin yang berpakaian identik.

''Kau, cari Rias dan Akeno. Jika mereka ada masalah, segera kau bantu.'' kata Naruto kepada 'Naruto' yang sedang mendengarkan.

''Dan jangan sampai kau menghabisi sesuatu, baik itu Da-Tenshin atau Exorcis. Kemungkinan mereka melakukan ini karena terpaksa.'' lanjut Naruto.

''Tapi bagaimana kalau yang kita biarkan hidup adalah makhluk yang menginginkan hal ini?'' tanya 'Naruto'.

''Itu terserahmu. Bunuh saja yang menurutmu pantas dibunuh dan biarkan hidup jika menurutmu pantas untuk diberi kesempatan sekali lagi.''

''Aku mengerti.'' kata 'Naruto' mengangguk paham.

''Baiklah, kalau begitu segeralah pergi.'' perintah Naruto.

''Baik, Boss !'' kata 'Naruto' dan setelah itu menghilang menjadi kepulan asap mencari dimana Rias dan Akeno berada.

''Lebih baik aku membantu Kiba.'' setelah Naruto berkata demikian, Naruto langsung menghilang dengan Hiraishin miliknya.

.

.

Disebuah ruang gereja, tiga iblis menari dengan para Da-Tenshin yang berjumlah...eee...banyak.

''Knight Sword.''

Cras Cras Cras

''Aaakkhh!'' sebuah teriakan keluar dari Da-Tenshin yang terkena tebasan Kiba.

''Dragon Shot.''

Blamm

''Cih! Meleset.'' decih Issei melihat kekuatannya meleset.

''Hyaaaahhh !'' teriak seorang iblis loli yang menghadapi tiga Da-Tenshin sekaligus.

Buk Buk Bug

Ketiga D-Tenshin tersebut langsung mati terkena pukulan dan tendangan Koneko yang keras.

''Sialan kau iblis kecil. Ayo kita serang dia.'' kata salah satu Da-Tenahin kepada kelima temannya.

Dan keenam Da-Tenshin menyerang Koneko bersamaan yang membuat gadis Nekomata tersebut repot dibuatnya. Sedang serius-seriusnya Koneko menghadapi keenam Da-Tenshin yang menyerangnya, sebuah Light Spear melesat kearah punggung Koneko.

Syuuut

SING

Trank

Light Spear yang tadi mengarah kepada Koneko terpental setelah berbenturan dengan sebuah kunai cabang tiga. Dan pelakunya adalah sosok bertopeng Kitsune (Naruto) yang muncul bersama sebuah kilatan kuning.

Naruto melanjutkan pekerjaan Koneko dengan menghabisi keenam Da-Tenshin hanya dengan sebuah kunai.

Cras jrass jras jleb cras srak

''Aaakkhh.'' teriak para Da-Tenshin setelah terkena tebasan Naruto.

Koneko hanya dapat terkejut ketika sosok bertopeng muncul entah dari mana.

Kiba yang melihat sosok yang dinantikannya, mulai tersenyum bahagia. Tapi ia sadar bahwa ini bukan saatnya untuk gembira.

Dan mereka semua berjuang melawan Da-Tenshin yang masih cukup banyak. Walaupun Naruto juga bisa mengalahkan mereka dalam sekejap, tapi ia memilih untuk bersenang-senang semata.

.

.

Disebuah tempat, terdapat Rias dan Akeno , serta tiga Da-Tenshin. Salah satunya terbang kearah Rias dan Akeno dengan cepat sambil membawa Light Spear ditangannya.

''Rasakan ini iblis rendahan !''

Pooff

''Rasengan.''

''Khuakh.''

Seorang pemuda muncul dengan kepulan asap, kemudian sebuah bola angin muncul ditangannya dan langsung ia arahkan kepada Dohnaseek yang membuat Da-Tenshin tersebut terpental dibuatnya.

''Ugh ! Sialan kau!.'' kata Dohnaseek setelah bangun dari jatuhnya.

''Kalian bertiga, hentikan semua ini.'' kata pemuda tersebut dengan sembilan ekor yang melambai.

''Hentikan apa hah!?'' kata Mittelt dan langsung menciptakan tombak berwarna merah jambu.

''Tunggu dulu ! Aku tau, semua ini bukan kehendak dari kalian, tapi kalian melakukan semua ini karena terpaksa kan ?'' kata sang pemuda yang merupakan Naruto, tapi hanya bunshinnya.

Sedangkan ketiga Da-Tenshin hanya diam beberapa saat, dan setelah itu Kalawarner membantah ucapan Naruto.

''Apa maksudmu ? Semua yang kami lakukan adalah kehendak dari kami sendiri, bukan karena Kokabiel.'' kata Kalawarner yang secara tidak langsung memberitau kepada Naruto bahwa mereka terpaksa melakukan ini karena Kokabiel.

'Kokabiel ? Bukankah dia...'

''Sudah ! Jangan banyak basa basi lagi, sekarang aku akan membunuhmu. Hyaahh !'' dengan cepat, Dohnaseek langsug melempar tombak chaya berwarna biru kearah Naruto.

Syuut

Light Spear yang dilempar Dohnaseek melaju dengan cepat kearah Naruto.

Grep

Bezz

Pyar

Light Spear yang dilempar Dohnaseek ditangkap oleh Naruto dan hancur perkeping-keping saat Naruto meremasnya. Tapi tangan Naruto juga berasap dan sedikit melepuh saat memegang Light Spear sebelum hancur.

'Di-dia menangkapnya ?' batin mereka semua kecuali Naruto (bunshin).

'Tidak ada pilihan lain selain membuat mereka tak sadarkan diri.' batin Naruto dan setelah itu ia menghilang.

SING

SING

Naruto muncul kembali dibelakang Dohnaseek dengan sebuah bola cakra ditangannya.

''Rasengan.''

''Aakk!''teriak Dohnaseek merasakan sakitnya terkena bola Naruto. Tak cukup sampai disitu, Naruto menendang punggung Dohnaseek dengan keras yang menyebabkan Dohnaseek terpental.

Brukk

SING

Naruto muncul lagi dengan rasengan ditangannya.

''Rasengan.''

Untuk kedua kakinya Dohnaseek terkena jurus andalan Naruto dan itu membuatnya cukup untuk tak bergerak.

'Mungkin aku berlebihan, atau memang dirinya yang lemah ?' batin Naruto melihat Dohnaseek terkapar tak berdaya.

'Dia hebat.' batin Rias dan Akeno melihat kehebatan dan kecepatan Naruto.

'Siapa dia ?' batin Kalawarner.( author bingung yang bener ''Kalawarner'' atau ''Kalawaner''. Jadi untuk sementara author pakai yang Kalawarner).

''Kamui.''

Kata Naruto lalu Dohnaseek terhisap kedalam pusaran angin Kamui.

''Ka-kau! Kau kemanakan Dohnaseek ?'' tanya Kalawarner sambil menunjuk kearah Naruto.

''Tenang saja, dia aman bersamaku. Mungkin dia sedang berhibernasi.'' kata Naruto santai.

''Ano.. Boleh aku ikut campur ?''

Naruto dan kedua Da-Tenshin menoleh kearah Akeno. Lalu Naruto mengangguk menendakan Akeno boleh ikut nimbrung dalam perkelahian mereka.

''Aku mau tanya, siapa namamu ?'' tanya Akeno membuat Naruto sweatdrop dibalik topeng rubahnya.

'Masih tegang-tengang seperti ini, dia sempat-sempatnya bertanya tentang nama ?' batin Naruto tak menghilangkan sweatdropnya.

''Ano... Namaku... Kitsune.'' kata Naruto yang sweatdropnya masih belum hilang.

''Hei ! Kita masih belum menyelesaikan urusan kita.'' kata Mittelt menarik perhatian Naruto.

''Ya, ya, aku tau. Aku juga tidak ingin berlama-lama disini.'' kata Naruto sambil mendekat kearah Mittelt dan Kalawarner.

''Mau apa ka...''

''Tsukoyomi.''

Perkataan Mittelt terpotong karena ia dan Kalawarner ambruk duluan.

''Kitsune, biarkan aku yang membereskannya.'' kata Rias melihat Naruto mendekat kearah Mittelt dan Kalawarner.

''Itu tidak perlu.'' kata Naruto datar.

''Kenapa ?'' tanya Rias dan Akeno bersamaan. Tapi pertanyaan mereka tidak dijawab oleh Naruto, malah Naruto mengucapkan sesuatu yang Rias dan Akeno yakin itu adalah jurusnya.

''Tsukoyomi kai.''

Setelah mengucapkan pelepasan jurus Tsukoyominya, Naruto langsung mengucapkan sebuah jurus lagi yang menghisap mereka berdua(Mittelt dan Kalawarner).

''Kamui..''

''Akeno, Rias, lebih baik kita menyusul Kiba dan yang lainnya.'' kata Naruto berjalan mendahului Rias dan Akeno.

''Darimana kau tau Issei-kun dalam bahaya ?'' tanya Rias yang tidak dipedulikan oleh Naruto dan yang terus berjalan.

''Sudahlah Bochou, lebih baik kita ikuti perkataannya.''

Dan mereka berjalan dalam diam.

.

.

Beberapa menit sebelum Mittlet dkk KO~

''Ini yang terakhir.''

Jrass

Sebuah tebasan memusnahkan Da-Tenshin yang langsung menghilang disertai beberapa bulu hitam yang menandakan ia telah muanah.

''Apa sudah selesai?'' tanya Issei melihat tidak ada Da-Tenshin lagi diruangan tersebut.

Prok Prok Prok Prok

Sebuah tepuk tangan yang bergema memantul dididinding gereja. Tak berapa lama muncul sosok berpakaian pendeta dan tertawa ddngan gila.

''Kha.. Kha.. Kha.. Kha... Hebat.. Hebat. Hahaha."

''K-kau!'' geram Issei ketika menyadari siapa sosok didepannya ini.

''Hahaha... Apa ini ? Sebuah reuni ? Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi denganmu.'' kata sipendeta gila yang bernama Freed.

''Dimana Asia !?'' teriak Issei penuh amarah.

''Baiklah, akan aku beritau dimana biarawati itu berada. Ada tangga dibawah altar itu, kau bisa langsung pergi menuju ketempat mereka mengadakan ritual.'' kata Freed memberi tau jalan rahasia menuju kelantai bawah.

'Dia langsung membedi tau tempatnya.' batin Naruto sweatdrop.

''Kalau begitu biarkan kami lewat.'' kata Issei.

''Tidak semudah itu, kalian harus melawanku terlebih dahulu.'' kata Freed lalu ia mengeluarkan pedang cahaya dan pistol yang beraura kuat.

''Baiklah! Demi menyelamatkan Asia. Dragon Shot.''

Issei menembakkan Sacred Gear yang langsung mengarah kepada Freed. Sedikit lagi tembakan Issei mengenai Freed, tapi berhasil Freed tangkis dengan pedang cahayanya.

''Hahaha... Lemah. Sekarang giliranku.'' kata Freed sambil mengarahkan sebuah pistol kearah mereka berempat.

Senjata Freed menambakkan beberapa peluru chaya tanpa mengeluarkan suara.

''Biar ku urus.'' kata Naruto dan melompat kedapan Issei.

''Menyingkirlah kau peluru pengganggu. Futton : Daittopa.''

Muncul sebuah angin tornado setelah Naruto menyebutkan jurusnya. Tapi tornado tersebut langsung menghilang, karena itu hanya untuk menangkis peluru.

''Giliranku.'' kata Koneko sambil melempar sebuah bangku yang panjang dan beratnya berlipat-lipat dari tubuhnya.

Sebuah bangku melayang kearah Freed. Tak tinggal diam, Freed menghindar sambil berdansa sedikit dan memotong bangku yang dilempar Koneko menjadi dua.

''Hampir saja. Lain kali jangan main lempar-lemparan ya adik kecil.''kata Freed tidak terima dirinya dipanggil adik kecil.

''Adik kecil kau bilang...'' geram Koneko, terlihat ada penekanan disetiap perkataannya.

''Kenapa ? Kau marah ? Haha, dasar anak kecil, dada rata.'' perkataan Freed kali ini tidak akan dimanfaatkan oleh Koneko.

Aura kehitaman keluar dari diri Koneko menandakan ia sedang marah. Bahkan suhu diruangan menjadi berubah, juga termasuk Naruto yang menatap Koneko ngerih.

'Dia menyeramkan kalau sedang marah. Baiklah, akan aku ingat dipikiranku syarat yang dilakukan jika berbicara dengan Koneko. Satu, jangan pernah menyinggung ukuran tubuhnya. Dua, jangan pernah membicarakan hal buruk tentang dadanya. Ok, fix.' batin Naruto aneh.

Koneko mendekat kearah bangku lain.

''Rasakan ini dasar keparat!'' kata Koneko, setelah itu ia melempar beberapa bangku kearah Freed.

Freed yang mendapat kiriman sejumlah bangku hanya bisa memotong dan sesekali menendang bangku yang mengarah padanya.

'Ini kesempatanku. Perhatian mereka teralih kepada pendeta itu.' bati Naruto dan langsung membentuk handseal.

''Kagebunshin no Jutsu.''

Pooff

Muncul 'Naruto' satu lagi lengkap dengan pakaian dan topeng Kitsunenya, dan sembilan ekor yang sama persisi dengan Naruto satu lagi.

''Naruto, aku serahkan situasi ini padamu.'' kata Naruto mendapat anggukan dari bunshinnya.

SING

Naruto menghilang dengan Hiraishin, tapi tidak ada yang menyadarinya kecuali 'Naruto'.

''Hahaha...tidak kena.'' kata Freed dengan nada mengejek. Sedangkan Koneko ia mendecih karena tidak ada yang kena.

''Pendeta gila ! Sekarang giliranku!''

Kiba berlari kearah Freed dengan pedang ditangannya. Freed yang melihat kiba berlari kearahnya juga ikut berlari kearah Kiba. Mereka berdua sama-sama mengayunkan pedang sehingga beradu.

Tingggggg

Pedang Kiba dan Freed beradu dengan kerasnya, menimbulkan sebuah suara yang nyaring dan memekakkan telinga. Tak sampai situ, Kiba menendang perut Freed yang menyebabkan Freed terpental walau tidak sampai jatuh.

Setelah Kiba menjaga jarak dari Freed, Naruto maju diddpan Kiba.

''Naru...''

''Kitsune. Namaku kisune.'' kata Naruto memotong ucapan Kiba.

''Kitsune, apa yang akan kau lakukan?'' tanya Kiba yang tidak terjawab oleh Naruto, namun tubuh Naruto langsung memancarkan cahaya warna kuning dan pakaiannya juga berubah menjadi sebuah jubah dengan akses warna kuning dan garis hitam dibeberapa tempat. Walaupu ada perubahan dalam gaya pakaiannya, tapi topeng anbu Kitsunenya masih berada ditempatnya.

''Aku yang akan mengurusnya.''

.

.

Diruang bawah tanah~

SING

Muncul kilatan kuning yang mengeluarkan Naruto beserta topeng dan ekornya.

''Pendeta gila itu mengatakan tempatnya ada dibawah altar, jadi kemungkinan disini tempatnya. Aku juga merasakan beberapa Da-Tenshin dan Exorcis.'' kata Naruto sambil berjalan menyusuri lorong yang sudah ada penerangannya.

''Apa itu tempatnya ?'' tanya Naruto entah kepada siapa setelah melihat sebuah pintu.

Setelah sampai didepan pintu, Naruto langsung membuka pintu tersebut lalu masuk kedalam.

''Ada tamu rupanya.'' kata salah satu Exorcish yang berdiri didekat sebuah seorang gadis yang sedang tersalib.

'Jadi dia yang bernama Asia.' batin Naruto melihat kearah gadis pirang yang sedang dalam proses ritual. Asia juga melihat kearah Naruto dengan pandangan sayu.

Melihat hal ini, membuat Naruto marah karena mereka tega melakukan semua ini kepada manusia yang tak berdosa.

''Kalian...akan mati.'' kata Naruto dan setelah itu ia mengeluarkan kunai bercabang tiga dan kunai biasa.

SING

SING

Naruto menghilang dan muncul kembali di belakang salah satu Da-Tenshin berbadan kekar dan menebas lehernya. Dan seperti itu seterusnya, menghilang-muncul-tebas, menghilang-muncul-tebas. Satu persatu dari mereka tumbuh kurang dari dua detik.

.

.

''Rasakan ini pendeta gila ! Bijuu RasenSuriken.''

Sebuah pusaran angin berwarna kuning berbentuk suriken mengarah kepada Freed yang hanya menampilkan senyum gilanya.

Blam

Lantai yang terkena jurus Naruto hancur berkepig-keping, sedangkan Freed yang berhasil menghindar langsung berlari menyerang Naruto.

''Belum sampai Freed menyentuh Naruto, Freed sudah terpental menerima tinju keras dari Naruto.

SING

Muncul Naruto dibelakang tubuh Freed yang masih melayang dan menendang kiri wajahnya. Dan begitu seterusnya. Dimana Freed terjatuh, disitu Naruto muncul dan menghajarnya.

Bruk

Freed sudah babak belur mendapat serangan bertubi-tubi dati Naruto.

''Ugh! Si-sial. Jika seperti ini, lebih baik aku pergi.'' kata Freed lalu mengeluarkan sesuatu seperti bola peladak dan membantingnya kelantai.

Boff...clingggg

Bole kecil tersebut meledak menjadi cahaya. Dan detik itu juga Naruto dan yang lainnya terbutakan oleh sinar yang menyilaukan.

''Sialan, bom cahaya.'' kata Issei sambil menutup matanya.

Ketika pandangan mereka sudah sedikit normal, mereka melihat sekeliling dan pendeta tersebut sudah tidak ada. Setelah pandangan mereka sudah normal total, mereka melihat Freex sudah berada dijalan kepuar, bersiap untuk kabur.

''Hah~ karena aku tidak bisa menahan kalian jadi aku kabur saja. Oh ya, seingatku kau bernama Issei. Suatu hari kita akan bertemu dan aku akan mengalahkanmu. Sayangnya sekarang aku harus pergi, jadi...selamat tingal. Bye bye.'' setelah mengatakan hal itu, Freed langsung kabur dari ruangan tersebut.

''Cih ! Dia kabur.'' decih Issei.

''Naru... Ma-maksudnya Kitsune, lebih baik kita kebawa untuk menyelamatkan Asia.'' usul Kiba setelah hampir menyebut nama Naruto.

''Tidak usah, kita tunggu disini saja.'' kata Naruto yang hampir mendapat protes dari Issei.

''Tapi kita harus...''

''Aku bilang kita menunggu disini saja.'' kata Naruto tegas mendapat anggukan dari Kiba dan Issei.

Sedangkan Koneko hanya menatap sosok bertopeng didepannya dengan penuh tanya. Siapa sebenarnya dia ? Kenapa Kiba memanggilnya 'Naru' ?

Mengingat nama 'Naru', itu membuat wajah Koneko memerah, karena Naru sering muncul dimimpinya dan terkadang melakukan 'itu'. Karena mimpi tersebut, nafsu Koneko menjadi sedikit menonjol. Terlihat saat setiap mandi, ia meremas dadanya sendiri. Tapi dari banyaknya pertanyaan, ada pertanya yang lebih besar, yaitu...

'Apa dia seorang Yokai ?' batin Koneko menatap punggung pemuda bertopeng tersebut. Pertanyaan tersebut tidak asal terlintas, tapi karena Koneko melihat sembilan ekor dan sepasang telinga rubah dikepala pemuda tersebut.

.

.

Bruk Bruk Bruk

Beberapa Da-Tenshin jatuh dan menghilang, mengakhiri pertarungan Naruto. Tapi masih ada satu Da-Tenshin lagi yang tersisa berdiri disamping Asia.

''Kau...yang terakhir.''kata Naruto penuh ancam disetiap katanya.

''Hahaha... Kau ingin melawan ku ? Kau tidak akan bisa. Aku akan mendapatkan Sacred Gear gadis ini dan aku akan menjadi Da-Tenshin yang terhebat. Hahahaha.'' kata Da-Tenshin yang bernama Reynare.( kalau salah mohon dikasih tau ya reader-san).

''Kau tidak akan mendapatkannya.'' kata Naruto dan setelah itu Naruto mwnghilang dan muncul lagi dibelakang Reynare. Naruto langsung menendang punggung Reynare hingga terpental.

Bug

''Akh!''

SING

Muncul lagi Naruto didepan Reynare dan menendang perut Reynare. Dan Naruto melakukan itu berulang-ulang.

''Ini yang terakhir.'' kata Naruto memukul tengkuk Reynare yang membuat Da-Tenshin tersebut pingsan.

Setelah memastikan Reynare sudah pingsan, Naruto memasukkan Reynare kedunia Kamuinya.

Kamui

Reynare terhisap kedalam pusaran angin. Setelah Reynare aman didunia Kamuinya, Naruto mendekat kearah Asia dan melepas rantai yang mengikat Asia.

Ckrak Ckrak

Setelah semua rantai terlepas, tubuh Asia terhuyung kedepan. Untung saja Naruto cepat menangkap tubuh Asia, jika tidak biarawati itu akan merasakan kerasnya lantai tersebut.

''Kau tidak apa-apa ?'' tanya Naruto menatap Asia dengan mata merahnya.

''A-aku tidak apa-apa.'' jawab Asia lemah.

''Syukurlah kalau begitu. Kalau tidak salah, namau Asia?'' tanya Naruto dibalas anggukan pelan oleh Asia.

''Kalau boleh tau, siapa anda ?'' tanya Asia mencoba untuk duduk.

Setelah membantu Asia duduk, Naruto melepas topengnya.

''Aku Naruto Uzumaki.'' kata Naruto membuka topengnya memperlihatkan wajah tampannya yang membuat Asia tersipu.

''Te-terima kasih Uzumaki-san.'' kata Asia mendapat gelengan dari Naruto.

''Jangan panggil aku 'Uzumaki', panggil dengan namaku saja.'' kata Naruto memejamkan mata. Dan setelah Naruto membuka matanya, mata merah tergantikan dengan mata biru yang seindah dan sebiru samudra, membuat pemuda didepannya menjadi lebih tampan. Pemandangan didepannya membuat wajah Asia tambah memerah melihat betapa tampannya pemuda yang berjongkok didepannya.

''Asia-chan, lebih baik kita segera keluar dari sini.''kata Naruto menambahkan suffix '-chan' yang membuat Asia lagi-lagi tersipu.

''Apa kau kuat untuk berjalan ?'' tanya Naruto, tapi Asia hanya diam menandakan ia tidak sanggup berjalan. Terpaksa Naruto harus menggendong Asia dengan gaya Bride...(bodo amat, pokoknya gaya pengantin gitu dah).

.

.

Didalam sebuah gereja, berdiri empat iblis yang sedang larut dalam pikiran masing-masing.

''Kkhhah ! Sampai kapan kita akan berdiri saja disini ? Asia dalam bahaya, tapi kita malah berdiri saja disini. Apa kau tidak berniat memban...'' marah Issei, tapi saat terakhir ia ingin protes, ia urungkan niatnya karena mendapat tatapan tajam dari Naruto dengan mata Sharingannya.

''Dari pada kau cerewet, lebih baik kita keluar.'' kata Naruto berjalan keluar gereja diikuti Koneko dan Kiba.

Issei diam beberapa saat lalu melihat kesebuah tempat menuju kelantai bawah dan melihat kearah Naruto, Kibadan Koneko pergi. Akhirnya Issei pergi keluar mengikuti Naruto.

.

.

''Itu gerejanya.'' kata sosok bertopeng bernama Naruto (yang bunshin lo) berjalan bersama dua primadona Kuoh High School.

''Ya, benar itu gerejanya.'' kata Rias sambil mengangguk.

''Bochou, bukankah itu Issei, Kiba-kun, Koneko-chan dan...''

Rias dan Akeno menoleh kearah Naruto ketika melihat sosok yang sama berdiri disamping Koneko.

''Kalian jangan heran. Sosok yang disana sama sepertiku, kami hanyalah bunshin.'' kata Naruto terus berjalan.

''Bunshin ?'' tanya Akeno dan Rias bersamaan.

''Bisa dibilang seperti klon atau tiruan sementara. Atau seperti plankton yang bisa memecah tubuhnya menjadi ribuan.'' perkataan Naruto membuat Akeno dan Rias sedikit pusing, tapi mereka juga sedikit paham. Intinya sosok yang ada disampingnya dan sosok yang ada disamping Koneko itu palsu, dan yang asli pasti berada disuatu tempat.

''Jadi bisa dibilang kau dan Kitsune disana itu palsu ?''

''Kau benar.'' kata Naruto mengangguk membenarkan pertanyaan Akeno.

Rias jadi teringat ketika dia dan peeragenya pertama bertemu sosok tersebut. Dimana pemuda bertopeng melempar Koneko kearah pohon, sebelum Koneko membentur pohon, sosok bertopeng yang identik muncul dan menangkap tubuh Koneko.

'Pembagian tubuh ya ? Aku baru tau itu.' batin Rias.

''Bochou.'' panggil Issei membuyarkan pikiran Rias.

Setelah mereka bertiga sampai ditempat Kiba dkk, Naruto1 bertanya kepada Naruto2.

''Kitsune, dimana Asia ?''

''Dia ada didalam, mungkin sebentar lagi mereka akan keluar.'' kata Naruto2 yang membuat para iblis Geremory bingung.

'Mereka ?' bati Rias dan peeragenya bersamaan.

Tak berapa lama, keluar dua sosok dari dalam gereja. Salah satu mereka digendong oleh sosok satu lagi.

''Asia !'' panggil Issei melihat Asia digendong pemuda bertopeng ala bridestyle.

Setelah sampai ditempat mereka semua, Naruto menurunkan Asia dan membantunya duduk.

''Asia, kau tidak apa-apa ?'' tanya Issei sambil memepuk Asia.

''Aku mencemaskanmu.'' kata Issei lagi, masih memeluk Asia.

''Aku tidak apa-apa Issei-san.'' kata Asia membalas pelukan Issei.

''Kau yakin ?'' tanya lagi Issei melepas pelukannya.

''Aku sangat yakin. Untung saja ada pemuda itu yang menyelamatkanku sebelum ritualnya selesai. Dan juga terima kasih Naru...''

''Kitsune. Panggil aku Kitsune. Dan juga jangan berterimakasih.'' kata Naruto memotong perkataan Asia yang membuat Asia bingung, tapi ia hanya menurutinya.

Lagi-lagi timbul pertanyaan dikepala putih Koneko.

'Naru ? Kenapa Kiba-senpai dan Asia memanggil Kitsune dengan nama 'Naru' ?'

Setelah itu, Naruto menghadap kearah kedua bunshinnya.

''Baiklah, kalian berdua boleh pergi.'' kata Naruto kepada kedua bunshinnya yang langsung dituruti oleh mereka.

Poof Poof

''Kitsune, terima kasih sudah membantu kami.'' kata Rias mendapat anggukan dari Naruto.

''Sama-sama. Dan soal Asia, itu terserah dirinya ingin tetap menjadi manusia atau menjadi iblis. Itu saja. Kalau begitu, sampai jumpa.'' kata Naruto lalu melangkahkan kaki menjauhi Rias dan yang lainnya.

Melihat sosok yang dinanti-nantikannya pergi, Kiba berlari mengejar Naruto yang sudah sedikit jauh. Setelah lumayan jauh dari Rias, Kiba memanghil sahabatnya.

''Naruto! Tunggu !'' teriak Kiba ketika Naruto sedikit jauh darinya.

Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Kiba.

''Naruto. Aku tau itu kau.'' kata Kiba setelah sampai didepang Naruto yang hanya diam saja.

''Kau... Naruto kan ?'' tanya Kiba memastikan.

''Hahaha... Ternyata aku gajah yang bersembunyi dibalik batu ya.'' kata Naruto mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dengan cengiran dibalik topengnya.

''Jadi benar kau Naruto ? Kalau begitu kembalilah ke...''

''Tidak sekarang Kiba, tidak sekarang. Tapi sebentar lagi. Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa besok.'' kata Naruto. Tapi yang membuatnya heran adalah mengapa ia mengatakan ''sampai jumpa besok'', mungkin firasatnya mengatakan bahwa mereka akan bertemu besok.

Dan setelah itu Naruto menghilang menggunakan Hiraishin.

''Tunggu...'' terlambat Kiba mengatakannya, karena Naruto sudah pergi duluan.

Terpaksa Kiba harus kembali dan berkumpul dengan Rias dan lainnya. Dan Asia sudah dijadikan Akuma menggunakan bidak Bishop. Asia menjadi Akuma karena keinginannya sendiri dengan alasan ''Aku ingin selalu bersama Issei-san, aku ingin menjadi teman Issei-san''. Yah, begitulah kurang lebihnya.

.

.

SING

Muncul Naruto disebuah sungai yang tak asing lagi baginya. Melihat sekeliling, dan akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya.

''Azazel.'' panggil Naruto langsung mendapat perhatian dari sosok yang dipanggil Azazel yang sibuk memancing.

''Siapa kau ?'' sedangkan Azazel tidak mengenali sosok pemuda bertopeng didepannya.

''Aku Naruto. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.'' kata Naruto sambil mendekat kearah Azazel.

''Sesuatu ? Apa itu ?'' tanya Azazel menghentikan acara memancingnya dan berdiri didepan Naruto.

Dan Naruto menceritakan kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu.

''Apa benar begitu ?'' tanya Azazel menahan amarahnya mendengar kelakuan anak buahnya.

''Itu benar. Dan aku membawakan hadiah untukmu.'' kata Naruto. Dan seketika muncul pusaran angin didepan Naruto dan Azazel yang mengeluarkan Mittelt, Kalawarner, Dohnaseek dan Reynare.

''Naruto, bangunkan mereka.'' kata Azazel bersiap menyemprot mereka dengan amukan.

Naruto mengambil air sungai dan mencipratkan kewajah mereka.

''Ngh..''

''Ughk ! Kepalaku pusing.

Mereka bangun dari pingsannya. Ketika melihat sosok bertopeng yang telah mengajarnya, mereka langsungsung berdiri dan berdiri berniat menyerang Naruto. Tapi sebuah deheman membuat mereka membeku ditempat.

''Gkhem gkhem.''

Mereka berempat menoleh kebelakang dan menemukan lelaki paruh baya beambut hitam dan berponi pirang sedang menatap mereka garang.

''A-Azazel-sama.'' kata mereka terkejut.

Ketika mereka hendak melarikan diri, empat orang telah mengekang pergerakan mereka satu-satu. Ternyata Naruto sudah menciptakan empat bunshin dan sekarang bunshin Naruto telah mengunci pergerakan mereka.

''Aku ingin bertanya, kenapa kalian melakukan ini ?'' tanya Azazel menaikkan auranya yang membuat nafas Dohnaseek dan yang laiinya sesak, kecuali Naruto.

''Ka-kami... Kami melakukan ini katena kami ingin.'' kata Dohnaseek.

''Ingin hah !? Lalu kenapa kalian bertindak semau kalian !? JAWAB !'' bentak Azazel yang membuat keempat anak buahnya mengkerut dalam kekangan bunshin Naruto.

''APA KALIAN INGIN MENCIPTAKAN PERANG LAGI HAH !? APA KALIAN BOSAN HIDUP ?!'' kata Azazel dengan aura meledak-ledak yang membuat mereka semua merinding, termasuk Naruto melihat betapa seramnya pemimpin malaikat jatuh ini.

''Kalian pantas untuk dimusnahkan.'' kata Azazel memndapat tatapan terkejut dari bawahannya+Naruto.

''Tu-tunggu Azazel. Ano.. Bukankah sebaiknya kau beri kesempatan sekali atau dua kali lagi untuk mereka ? Aku yakin, mereka melakukan ini karena terpaksa. Iya kan ?'' tanya Naruto kepada Dohnaseek dan yang lainnya.

''Benarkah begitu ?'' tanya Azazel dengan nada dingin kepada Dohnaseek.

Sedangkan mereka hanya diam, tetapi Naruto melihat sangat jelas dimata mereka bahwa ada rasa takut untuk mengungkapkan sesuatu. Naruto mendekat kearah Dohnaseek dan memegang pundak Dohnaseek.

''Katakan saja, siapa yang menyuruh kalian ? Kalian jangan takut, aku akan melindungi kalian.'' kata Naruto membuat perasaan mereka sedikit tenang dan nyaman. Terutama para gadis. Lalu Dohnaseek mulai bicara.

''Se-sebenarnya yang menyuruh kami adalah... Ko-Kokabiel.'' kata Dohnaseek dengan sedikit takut.

''Apa ancaman Kokabiel sehingga kalian tega melakukan ini ?'' tanya Naruto lagi.

''Jika kami tidak melakukan yang dia perintahkan, kami akan dihabisi.''

''KO-KA-BIEEELL !'' kata Azazel dengan penuh penekanan disetiap katanya.

''Tenanglah Azazel. Dan kalian jangan taku, aku akan melindungi kalian.'' kata Naruto dan menganggukkan kepalanya kepada keempat bunshinnya sebagai tanda agar mereka melepas kunciannya.

Setelah keempat bunshin Naruto menghilang, Mittelt, Kalawarner, Dohnaseek dan Reynare menundukkan badan dan meminta maaf kepada Azazel dan berterima kasih kepada Naruto.

''Azazel-sama, mohon beri kami kesempatan lagi.'' kata Kalawarner disetujui oleh yang lain dengan menganggukkan kepalanya.

''Hah~ Baiklah, aku akan memberi kalian kesempatan. Tapi kalian jangan berbuat seauka kalian lagi.'' kata Azazel.

''Hm. Itu benar.'' kata Naruto sambil menganggukan kepala dan memejamkan mata.

''Kalian harus belajar menjadi orang yang baik.

''Hm. Itu juga benar.'' kata Naruto lagi.

''Dan yang akan mengajari kalian menjadi baik adalah Naruto.'' kata Azazel seenak jidat sendiri.

''Hm. Itu benar.''

1...

2...

3...

''EEEEEEHHHH ! Ke-kenapa harus aku !?'' teriak Naruto dengan mata yang terbuka lebar.

''Bukankah kau yang memberi saran agar mereka diberi kesempatan untuk merubah sikap mereka ?'' kata Azazel santai.

''Ta-tapi kau kan pemimpin mereka.'' kata Naruto yang masih belum terima.

''Walaupun aku pemimpin, tapi aku bukan orang yang tepat. Aku yakin kau bisa memberi pengajaran kepada mereka, jadi aku memilihmu.'' kata Azazel.

''Tapi itu tidak adil.''

''Aku tidak terima penolakan.'' kata Azazel ngotot yang membuat Naruto pasrah.

''Yah~ baiklah.''

''Ano.. Kitsune-san, kalau boleh tau siapa anda ?'' tanya Kalawarner.

''Aku Naruto Uzumaki, dan sesuai yang kalian ketahui, aku seorang Akuma.'' kata Naruto sambil membuka topengnya, matanya yang merah berubah menjadi semula, mata biru seindah langit dan sebiru samudera. Naruto melepas jepit rambut yang menjepit poninya, dan tergerailah poni panjang Naruto.

Wajah para gadis memerah melihat ketampanan Naruto sertanya, karena ada sepasang telinga rubah dikepala Naruto. Sedangkan Azazel yang baru menyadati kalau ada sepasang telinga rubah dikepala Naruto langsung tertawa.

''Pfffttt... Hahahahah.''

''Jika kau tidak menghentikan tawamu, aku akan merobek lehermu.'' ancam Naruto dengan Ki yang dinaikkan serta sebuah kunai yang ia arahkan ke Azazel yang membuat Azazel terdiam.

''Baiklah Azazel, kalau begitu aku pergi dulu.'' kata Naruto mendapat anggukan dari Azazel. Tapi sebelum Naruto pergi, seseorang memanggilnya.

''Tunggu.'' kata Mittelt sambil mendekat kearah Naruto.

''Ano... Sekali lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih.'' kata Mittelt dengan wajah memerah sambil memainkan jarinya.

''Tidak usah berterima kasih, ini memang tugasku.'' kata Naruto sambil tersenyum.

''Tepi tetap saja aku akan berterima kasih. Terima kasih Naruto...-kun.'' kata Mittelt dengan suara pelan pada kata '-kun'. Tapi masih bisa didengar oleh mereka semua.

''Baiklah. Sama-sama Mittelt-chan.'' kata Naruto menambahkan suffix-chan dan mengelus kepala Mittelt yang membuat wajah si loli tambah memerah. Dan itu membuat Reynare dan Kalawarner cemburu.

''Karena sekarang sudah lumayan larut, lebih baik aku pulang dulu. Sampai jumpa semua.'' kata Naruto dan pergi dengan menggunakan...kaki.

.

.

Seorang pemuda berada didepan pintu, dan setelah itu membukanya.

''Tadaima.''

''Okaeri.'' kata keenam iblis yang duduk disofa sambil menonton TV.

''Kau dari mana saja Naruto ?'' kata salah satu dari mereka berambut orange.

''Aku habis bersenang-senang.'' kata pemuda pirang yang dipanggil Naruto kepada temannya, Ichigo.

''Oh ya, apa kalian sudah makan ?'' tanya Naruto setelah duduk disofa samping pemuda nanas yang berwajah ngantuk.

''Sudah. Fuu, Rukia dan megumin yang memasak. Kalau aku, Gaara dan Shikamaru hanya makan.'' kata Ichigo membuat Naruto teringat dengan Fuu.

''Fuu, apa ramen pesananku tadi sudah siap ?''.

''Ano. Tadinya sih sudah, tapi kau entah pergi kemana tadi, jadi kumakan saja. hehe.'' kata Fuu membuat tubuh Naruto merosot.

''Lagi pula, jika kau memakannya sekarang pasti sudah dingin.'' kata Fuu.

Tak berapa Naruto muncullah sebuah dimensi yang mengeluarkan kakek berjubah dan berambut putih, membawa sebuah tongkat hitam ditangannya. Fuu, Rukia, Ichigo dan Megumin menatap bingung kakek yang baru saja datang. Shikamaru dan Gaara terkejut melihat sang legenda datang kesini. Naruto sudah tau siapa sosok yang datang dan langsung mendekati kakek tersebut. Dan namanya Rikuudo Sannin.

''Rikuudo Jiji ? Kenapa Jiji kesini ?'' tanya Naruto.

''Tidak. Hanya ingin menyerahkan ini.'' kata Rikuudo sambil memberikan tujuh kertas kepada Naruto.

''Apa ini ?'' tanya Naruto, lalu membacanya.

''Surat pindah sekolah ?'' kata Shikamaru yang sudah berada disamping Naruto.

''Benar. Ini untuk kalian. Dan Naruto, kau jangan bingung. Bukankah aku pernah berkata padamu bahwa aku akan mengurus rumahmu dan sekolahmu. Jadi, besok kalian harus sekolah.'' kata Rikuudo yang dibalas anggukan pelan dari Naruto.

''Baiklah Jiji.''

''Dan kurasa ruangan ini harus ditambah.'' kata Tikuudo melihat sekeliling. Yah memang sih, karena kamar disini ada 10 kamar, 5 kamar lantai atas dan 5 kamar lantai bawah. Serta ruang tamu sekaligus ruang Tv+ruang makan1, dan dapur sekaligus ruang makan yang ke-2. Untuk wc dan kamar mandi itu tidak dihitung, karena masing-masing kamar memiliki toilet sendiri.

''Di tambah ? Ah! Itu tidak perlu Jiji. Kami hanya tujuh orang, sedangkan disini ada sepuluh kamar, jadi masih ada tiga kamar kosong. Itu saja sudah kelebihan.'' kata Naruto.

''Aku tidak yakin kalau dirumah ini akan tetap ada tujuh orang. Tapi itu terserahmu, aku juga harus pergi.'' kata Rikuudo. Sebelum Rikuudo pergi, Naruto menghentikannya.

''Tunggu Jiji.''

''Ada apa Naruto ? Apa kau ingin menyampaikan sesuatu ?'' tanya Rikuudo.

''Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Mm, lebih baik baik Jiji duduk dulu.'' kata Naruto lalu menuju kesebuah sofa dan duduk disitu dan didikuti Rikuudo.

''Etto.. Sebenarnya aku ingin tanya, kenapa aku bisa mengeluarkan telinga dan ekor rubah, Jiji ?'' tanya Naruto sambil mengeluarkan telinga rubah dikepalanya, serta sembilan ekor yang melambai dibelakang tubuhnya.

''Khekhekhe. Jangan khawatir Naruto, itu normal saja sebagai Jinchuuriki.'' kata Rikuudo terkekeh.

''Normal ? Tapi selama aku dikonoha, aku baru beberapa minggu ini mengalami hal semacam ini.'' kata Naruto yang masih belum paham.

''Hah~ memang susah berbicara denganmu. Intinya ekor dan teling itu milik Kurama.'' kata Rikuudo membuat Naruto bingung.

''Intinya kau sama seperti Jinchuuriki lainnya, yang bisa mengeluarkan anggota tubuh Bijuu nya. Contoh pertama Killer Bee, ia bisa mengeluarkan tentakel-tentakel milik Hachibi. Lalu Fuu, dia bisa mengeluarkan sayap dari Comoe yang membuat Fuu bisa teebang. Dan yang ketiga, kau. Kau bisa mengeluarkan telinga dan ekor milik Kurama.'' kata Rikuudo yang langsung dimengerti oleh Naruto

''Oooh.. Jadi seperti itu. Baiklah Jiji, aku paham. Hehe.'' kata Naruto diakhiri dengan cengiran khasnya.

''Nah, kalau begitu aku ingin pamit pergi. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan sesuatu untuk Gaara dan Fuu.'' kata Rikuudo, lalu mendekat kearah Gaara. Lalu Rikuudo menyentuhkan tangannya dikening Gaara dan setelah itu menarikknya kembali. Setelah itu Fuu, Rikuudo melakukan hal yang sama seperti Gaara. Setelah selesai, Rikuudo kembali ketempat semula.

''Naruto, ingat besok kau harus sekolah.''

''Baiklah Jiji.'' kata Naruto dengan lesu.

Tentu saja Naruto lesu, karena dia akan bertemu dengan mantan kekasihnya secara terang-terangan. Sebenarnya ia penasaran, bagaimana reaksi Rias jika mengetahui jika dirinya masih hidup. Naruto yakin, cepat atau lambat ia akan diintrogasi oleh Rias.

''Naruto, Gaara, Fuu, pergunakan sesuatu yang ada didalam diri kalian dengan baik. Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa.'' kata Rikuudo, dan setelah itu masuk kedalam lubang dimensi.

Gaara dan Fuu mencerna kata-kata Rikuudo.

''Didalam didi ? Jangan-jangan...''

Setelah itu mereka(Gaara dan Fuu) berlari kekamar masing-masing, dan langsung melakukan posisi semedi dan memasuki alam bawah sadar mereka. Pertama yang mereka lihat adalah partnernya di Konoha.

''CHOMOE !/ SHUKAKU !'' teriak mereka bersamaan, dalam alam yang berbeda sambil memeluk Bijuu masing-masing. Dengan Fuu yang tertawa kegirangan dan Gaara yang menangis sejadi-jadinya.

.

.

T.B.C

Akhirnya bisa juga Update. Tapi maaf ya minna-san, kerena Updatenya terlalu lama karena masih merangkai sebuah deretan cerita agar lebih baik. Tapi...yah seperti yang sudah kalian ketahui dichap ini, bukannya lebih baik tapi malah lebih buruk. Hah~ , sekali lagi maaf.

Untuk review, author masih belum bisa membalasnya guys. Bukan karna author gak mau atau apa, hanya saja author tidak sempat untuk membalasnya. Tapi walaupun begitu, jangan pernah bosan untuk meninggalkan sesuatu dikotak review, walaupu itu hanya kata ''mantap'', itu tidak masalah bagi author.

Dan untuk hal typo, itu masih banyak yang terjadi di chap 9 ini. Satu lagi, jika ada kejadian yang tidak jelas atau tidak sesuai alur..author mohon maaf, serta sesuatu yang tidak reader inginkan seperti Kitsune dan Taka membuat perjanjian perdamaian seperti chap 8 kemarin, Naruto membantu Issei menyelamatkan Asia, dan yang lainnya lagi.

Baiklah, dari chapter 1-chapter 9, hanya segini yang author bisa berikan. Lebih dan kurangnya, author minta maaf yang sebesar-besarnya. Jika ada salah kata dan salah eja, mohon dimaafkan. Tapi reader-san jangan beranggapan bahwa ini merupakan chapter terakhir, karena kehidupan sang tokoh utama masih panjang. Masih panjang jarak tempuh Naruto untuk mencapai kedamaian, begitupun juga author.

Dan untuk chap-chap selanjutnya mungkin updatenya akan sedikit lama, karena author harus fokus untuk belajar dan menuntut ilmu. Tapi tenang kok, author gak bakalan nelantarin fic ini.

Hah~ entah kenapa hidup sangat sulit, ingin membuat itu malah tertunda dengan hal lain. Contohnya beberapa hari kemarin, mau mbuat chap 9..eh malah harus berkumpul untuk acara osis. Aku heran, apa kegiatan sekolah selalu osis yang mengurusnya ? Akibat hal itu...jadi lama up nya. Baiklah, hanya itu yang author dapat sampaikan, dan selamat tinggal... Oh ! Satu lagi, jangan pernah mengatakan selamat tinggal, karena kemungkinan kita akan bertemu lagi. Jadi..author mengucapkan...sampai jumpa.