Chapter 14

Disclaimer :

-Naruto : Masashi Kishimoto

-High School DxD : Iciei Ishibumi

Rate : M

Warning : typo,abal,gaje,lime,lemon

Summary : Naruto Uzumaki, pahlawan Konoha yang telah mengalahkan Kaguya. Tapi ia harus menggorbankan dirinya dan terjebak didimensi lain untuk selama-lamanya. Dengan kekuatannya yang tidak sengaja tersegel, bagaimana cara Naruto mendamaikan dimensi barunya bersama teman iblisnya ?

.

.

Masih lanjutan yang chap lalu

.

.

Warning : Lime & Lemon on(yang gak suka bisa skip)

00 : 04

Malam yang gerah untuk hari ini, terutama untuk sang tokoh utama kita, Naruto Uzumaki. Marilah kita lihat pada ruangan yang ditempati oleh Naruto yang tidur dalam keadaan telanjang.

''Nghh..'' erang Naruto seraya membuka matanya.

''Ahh~'' sebuah desahan bebas meluncur dari Naruto saat merasakan sesuatu yang nikmat dibawah.

Merasa penasaran, Naruto melihat asal kenikmatan dan menemukan 'sesuatu' tanpa pakaian sedang menghisap kemaluannya.

''Ko-Koneko.'' gumam Naruto sedikit terkejut.

Merasa dirinya terpanggil, 'sesuatu' yang bernama Koneko menatap Naruto yang terkejut. Koneko mengeluarkan kemaluan Naruto dari mulutnya.

''Kau sudah bangun, Na-ru-to-kun ?'' tanya Koneko dengan nada menggoda.

''A-apa yang kau lakukan ?'' tanya Naruto mencoba menjauh dari Koneko.

Koneko hanya menatap sayu kearah Naruto, kemudian merangkak keatas tubuh Naruto.

''Ko-Koneko.'' panggil Naruto panik melihat wajah Koneko semakin dekat dengan wajahnya.

Koneko tak menanggapi ucapan Naruto, terus mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto.

''Tunggu Konmmpphh~~'' perkataan Naruto terpotong menjadi gumaman yang teredam bibir Koneko.

Koneko mencuim Naruto tepat dibibirnya, melumat bibir Naruto ganas.

''Hmmh~'' gumam Koneko menikmati permainannya.

Lidah Koneko mencoba masuk kedalam mulut Naruto, tapi belum sempat masuk, Naruto terlebih dahulu mendorong bahu Koneko. Menjauhkan wajahnya dari Naruto.

''Koneko.. Kenapa kau lakukan ini ?'' tanya Naruto menatap mata Koneko.

''Karena aku... Mencintaimu.'' ucap Koneko membalas tatapan Naruto.

''Tapi...aku sudah dimiliki orang lain, dan... Dan aku sudah pernah melakukan ini.'' kata Naruto mencoba membuat Koneko berpikir dua kali untuk bercinta dengannya.

Koneko diam sesaat mendengar pernyataan Naruto sebelum tersenyum manis.

''Aku tidak masalah. Aku rela menjadi yang kedua untukmu, karena aku mencintaimu.'' ucap Koneko kembali mencium Naruto.

Naruto sempat merasa ragu untuk melakukan ini, tapi ia melihat ketulusan yang sama seperti Kunou dimata Koneko. Tak ingin mengecewakan Koneko, Naruto membalas ciuman Koneko, ciuman mesra tiada nafsu. Ciuman yang semakin lama menjadi lumatan lembut, mencoba mendominasi permainan.

Tangan Naruto meraba dada mungil Koneko disamping ciuman mereka.

''Ahmng...'' desah Koneko tertahan bibirnya dan bibir Naruto.

Naruto mengubah posisi mereka, sekarang giliran Naruto yang diatas dan Koneko dibawah. Mereka terus memagut manja ciuman mereka tanpa henti.

''Hnngh~...'' desah Koneko saat Naruto memainkan jarinya didada kiri Koneko, meremas perlahan mencoba memberikan ransangan pada Koneko. Memainkan puting merah jambu Koneko dan sesekali memelintirnya kecil.

Beberapa menit berlalu, mereka membutuhkan pasokan udara yang mengharuskan mereka menghentikan kegiatan mesra mereka.

''Naruto-kun, boleh kau bangun sebentar ?'' tanya Koneko dengan wajah memerah. Naruto hanya mengangguk menjawab pertanyaan Koneko.

Naruto pindah dari atas tubuh Koneko, mendudukkan diri dipinggir kasur. Koneko menuruni kasur sebelum berjongkok didepan Naruto. Naruto mengerti maksud Koneko, melebarkan kedua kakinya agar Koneko leluasa memanjakan Naruto junior.

Tanpa buang waktu Koneko melahap kemaluan Naruto dan menghisapnya seperti menghisap sedotan, sedotan Koneko yang semakin lama semakin kuat.

''Ahnnn~~ Kone-Koneko-chan...'' desah Naruto merasakan nikmat yang dahsyat.

Koneko tersenyum senang berhasil membuat Naruto mendesah dan memanggil namanya.

''Bhaghai wanga lhashanga ?'' tanya Koneko tanpa melepas kulumannya.

''A-aku tidak tau..ugh~..kau bicara apa... Tapi..nghh~..ini nikmat..'' ucap Naruto diiringi desahannya.

Mendengar penuturan Naruto, Koneko semakin semangat menghisap penis Naruto.

Beberapa menit kemudian, penis Naruto berdenyut, menandakan Naru junior akan muntah.

''Ngghh~ Ko-Koneko~ aku~...''

Mengerti maksud Naruto, Koneko lebih kuat mengisap penis Naruto.

''Khgghaah~~ aku.. KELUAR~''

Crot crot crot

Semburan sperma dengan deras masuk kemulut Koneko. Koneko menelan sperma Naruto dengan lahab. Setelah habis menelan sperma Naruto, Koneko melepas kemaluan Naruto.

''Phuahh.''

''Punyamu nikmat, Naruto-kun. Slurpp~~.'' kata Koneko diakhiri dengan penjilat sisa seperma yang meluber dibibirnya.

''Hah..hah..'' nafas berat menderu di mulut Naruto setelah mengeluarkan isi ''adiknya''.

''Koneko, sekarang giliranmu.'' kata Naruto seraya mengangkat tubuh Koneko,

''Kyaa~..'' cerit Koneko saat Naruto mengangkatnya dan menaruh di rancang.

Naruto merenggangkan paha Koneko, menatap kemaluan Koneko yang imut tanpa bulu.

''Na-Naruto-kun, jangan ditatap seperti itu. A-aku malu.'' ucap Koneko menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

''Jangan di tutupi wajah imutmu Koneko, biarkan aku melihat wajahmu yang lucu ini.'' kata Naruto sambil mengalihkan tangan mungil Koneko dari wajahnya.

''Ummu..'' gumam Koneko mengalihkan wajahnya.

Naruto tersenyum melihat kelakuan Koneko yang sangat beda jauh saat di sekolah, yang biasanya berwajah datar, sekarang justru menunjukkan keimutannya.

Ide jail terlintas dikepala Naruto. Mengangkat kedua kaki Koneko dan menaruhnnya dibahu Naruto. Tanpa banyak pikiran, Naruto langsung menjilati kemaluan Koneko, alhasil Koneko terkejut dibuatnya.

''Ahhnn ~~... Na-Naruto-kunh~...'' desah Koneko merasa geli sekaligus nikmat diselangkangannya.

Slurp~~

''Ahhnngg~~..'' desah Koneko dengan wajah yang sudah ekstra merah.

Naruto semakin giat menjilati kemaluan Koneko, sesekali memasukkan lidahnya kedalam vagina Koneko.

''AHHHhmmmhh~~..hah~~...Narhu~..'' desah Koneko semakin menjadi.

Slurphh~~ slurph~

''Naru-kunhh..ahh~~''

Naruto menghisap kuat vagina Koneko, mengakibatkan cairan Koneko lebih banyak keluar. Lidah Naruto menemukan benda kecil didalam vagina Koneko, menggigit pelan benda itu.

''Ahhh~~...Narhu-khun~~ nghhehh~~ sshhaahnngg~~...'' desah Koneko diiringi tubuhnya yang menggeliat seperti lintah terkena garam.

''Na-Naruto,.. Su-shudahhnn~~'' desah Koneko mencoba merapatkan pahanya, tangannya mendorong kepala Naruto agar menjauh dari selangkangannya.

Tangan kanan Naruto menggenggam kedua tangan Koneko agar tidak mengganggu pekerjaannya, sedangkan tangan kirinya memainkan dada kanan Koneko.

''Sudah.. Naruto-kun..'' gumam Koneko memejamkan matanya kala Naruto memasukkan lidahnya lebih dalam.

Tak tahan dengan ulah Naruto, sesuatu ingin keluar dari vagina Koneko.

''Na-Naruto-kun.. Aku ingin...keluar...''

Naruto yang sudah tau Koneko akan klimaks, semakin menguatkan hisapannya.

SLURPPHH~~~

''Na-Na.. NARUTOO-KUNN !'' akhirnya Koneko mencapai klimaks.

Naruto menjaliti cairan Koneko yang keluar sampai habis.

''Hah..hah..hah..hah... Naruto-kun, aku..lelah..'' gumam Koneko dengan wajahnya yang merah dan sayu.

'Baiklah, lebih baik kau istirahat. Sekarang masih malam.'' kata Naruto melirik jam yang ada di meja yang menunjukkan pukul 01 : 18.

Koneko hanya mengangguk menanggapi ucapan Naruto kemudian memejamkan matanya.

Naruto menatap Koneko yang sudah tertidur pulas. Karena Koneko tidur dipinggir kasur, Naruto memposisikan tubuh mungil Koneko senyaman mungkin sebelum menyelimuti tubuh Koneko dan tubuhnya. Kemudian Naruto tidur menyusul Koneko.

Tik..tiki..tik

03 : 15

Tik..tik..tik,.

05 : 46

Tik..tik..tik

06 : 57

Tak terasa pagi pun tiba, menandakan seluruh manusia harus melaksanakan aktifitas masing-masing. Tapi tidak dengan dua sejoli yang masih larut dalam tidurnya, padahal jam weeker sudah berbunyi berulang kali.

Kriiiingg

Dan untuk kesekian kalinya, alarm berbunyi kembali memanggil, tapi ia harus berhenti kala sebuah tangan kekar menghantamnya hingga hancur.

Jduak

Krak

Si pemilik tangan bangun dari tidurnya, melirik kesebuah jam weeker yang telah remuk.

''Hah~ Mungkin aku akan membeli baru nanti.'' ucap sosok tadi yang sudah diketahui bernama Naruto Uzumaki.

Melirikkan matanya kesamping, menemukan Koneko yang tidur dengan pulasnya. Tapi tak berlangsung lama karena Koneko merasa terganggu dengan sinar matahari yang mengenai matanya.

''Ngh..'' gumam Koneko seraya merenggangkan ototnya disamping acara tidurnya yang kurang nyenyak.

''Koneko. Hey, Koneko, bangun.'' kata Naruto menggoyangkan tubuh Koneko pelan.

''Ngghh..'' gumam Koneko lagi sambil membuka matanya.

''O-ohayou, Naruto-kun.'' ucap Koneko seraya bangun dari tidurnya.

''Ohayou mo, Neko-chan.'' kata Naruto sambil tersenyum.

''Nggk~..'' koneko merenggangkan ototnya untuk kesekian kalinya, menganggat kedua tangannya tinggi-tingi, hinga selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot. Alhasil, berdirilah Naru junior yang masih tertutub selimut. Koneko yang baru sadar dirinya tidak memakai pakaian, wajahnya langsung memerah.

''A-ano.. Neko-chan, lebih baik kau mandi dahulu, hari ini kita harus sekolah.'' kata Naruto gelagapan melihat tubuh mungil Koneko.

Saat Naruto hendak berdiri untuk mengambil celananya, sepasang tangan kecil menggenggak tangannya. Naruto menoleh kearah Koneko yang menatapnya dengan mata yang sayu.

''Tunggu, Naru-kun. Kita masih belum melanjutkan permainan kita yang tertunda tadi malam.'' kata Koneko membuka seluruh selimutnya, memperlihatkan tubuh bawahnya yang menggoda bagi para kaum adam.

''Me-melanjutkan ? Ta-tapi kita harus se-sekolah.'' kata Naruto dengan nada tergagap. Instingnya mengatakan bahwa pagi ini ia akan merasakan masuk kedalam surga dunia.

''Sesekali tidak sekolah tidak masalahkan ?'' kata Koneko yang terus mengajak Naruto melakukan Ikeh Ikeh Kimochi bersamanya.

''Tentu saja tidak boleh, pendidikan itu penting. Bagaimana kalau kita tidak naik kelas ?'' tanya Naruto menatap Koneko.

''Membolos atau tidak, kita tetap akan naik kelas, Naruto-kun. Kau tahu sendiri kan siapa kepala sekolahnya ?'' tanya Koneko dengan wajah kemenangannya.

'Sirzech.' gumam Naruto ndongkol dalam hati.

Tak ingin kehabisan akal, Naruto juga menyertakan waktu agar terbebas dari ini semua.

''Tapi ini masih pagi, Neko-chan.''

''Tidak peduli pagi, siang atau malam, aku hanya mau dirmu.'' kata Koneko sambil menarik tangan Naruto hingga sang empu tertarik dan menimpa Koneko.

''Jadi...bagaimana ? Kau tertarik... Kitsune-kun ?'' tanya Koneko menyeringai menatap wajah Naruto.

''He-hey ! Memangnya wajahku mirip rubah apa ?'' protes Naruto.

''Tidak, kau seperti kucing dengan kumis kucingmu itu.''

''Ini tanda lahir, Koneko !'' protes Naruto mengerucutkan bibirnya.

Akhirnya Naruto terjebak permainan Koneko. Tepat disaat Naruto memanyunkan bibirnya, Koneko langsung menyambar bibir Naruto, melumatnya brutal.

''Khonekmmh~..'huaahh..hah..'' Naruto melepas paksa ciuman Koneko, menatap wajah Koneko yang juga menatapnya dan entah sejak kapan sepasang telinga kucing berwarna putih muncul dikepala Koneko.

''Koneko, jangan bermain kasar.'' protes Naruto.

''Gomen, Naruto-kun. Aku terbawa naluri ''kucing''ku, jadinya seperti tadi.'' kata Koneko menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

''Hah~ baiklah, kita lanjutkan.'' kata Naruto kemudian, sebelum muncul sepasang telinga dan sembilan ekor rubah pada Naruto.

Naruto mencium Koneko perlahan, memasukkan lidahnya kedalam mulut Koneko. Lidahnya bermain bersama lidah Koneko, saling bergulat didalam mulut Koneko. Ciuman Naruto berpindah keleher Koneko, meninggalkan kissmark dileher mulus Koneko.

''Hmmah~ Naru-kun~...'' desah Koneko kala Naruto menghisap lehernya, meninggalkan jejak kemerahan dilehernya.

Ciuman Naruto berpindah lagi, kini ciuman Naruto menyusuri dada mungil Koneko, menghisap dada kanan dan dada kiri yang ia remas dengan tangan kanannya.

''Ahhnn... Narhu...uhh~... Hisap...'' desah Koneko seraya menekan kepala Naruto didadanya.

Naruto semakin bersemangat menghisap dada kanan Koneko, memainkan dada kirinya dengan tangannya, sedangkan tangan kirinya mengorak-abrik vagina Koneko. Kemudian hisapannya pindah kedada kiri Koneko, tangan kirinya memainkan dada kanan Koneko, dan tangan kanan Naruto memanjakan vagina Koneko.

''Hmmhh... Naru-kunh~ ..ughh.. Aku..ingin..ke-KELUAARR !'' teriakan melengking Koneko keluarkan saat dirinya mencapai klimaks.

''Sudah keluar ?'' ucap Naruto seraya menjilati cairan Koneko yang berada dijari kanannya, kemudian Naruto menuju kebagian intim Koneko untuk menjilati cairan bening Koneko.

Slurp~..

''Ahhnn.. Na-Naruto-kun, tunggu dulu, i-itu masih sensitif...''

Naruto tak memperdulikan perkataan Koneko, bahkan semakin kuat menghisap vagina Koneko.

''Na-Naruu~~...berhenthi, Na-NARUTOOO !''

Brak

''Koneko, ada ap...''

Sebuah suara dobrakan dan suara perempuan memasuki kamar Koneko. Fuu, itylah nama perempuan yang mendobrak pintu, dan sekarang Fuu membuka mulutnya tak percaya dengan mata yang melotot terkejut. Bahkan Naruto dan Koneko serempak menatap Fuu yang berdiri di ambang pintu.

''A-a-ano... Ja-jangan pedulikan.''

Blam

Setelah menutup pintu, Fuu berjalan cepat kearah dapur dimana yang lain berada didapur.

''Kau kenapa, Fuu ? Dan kenapa Koneko-chan dari tadi teriak-teriak ?'' tanya Rukia setelah Fuu berdiri disampingnya dengan wajah yang memerah dan badan berkeringat.

''Ko-Koneko dan Na-Naruto-kun, mereka...''

Semua yang ada didapur mendengarkan dengan serius kelanjutan Fuu walau masih berkutat dengan kegiatan masing-masing.

''Mereka kenapa ?'' tanya Rukia tak sabar menunggu kelanjutannya.

''Me-mereka... Ya-yah, bisa dibilang melakukan musim kawin bagi para hewan.'' perkataan Fuu membuat yang lain memerah wajahnya, kecuali Ichigo yang belum ngeh maksud Fuu.

''Musim kawin para hewan ? Maksudnya apa, sih ? Apa mereka memelihara hewan, terus mereka mengawinkan hewan mereka ?'' tanya Ichigo membuat yang lainnya sweatdrop.

''Kalau tidak tau lebih baik kau diam saja.'' kata Rukia setelah kembali dari sweatdropnya.

Kembali kepada NaruNeko...

''Ko-Koneko, lebih baik kita sudahi kegiatan ini.'' usul Naruto mendapat gelengan dari Naruto.

''Tidak, Naruto-kun, aku masih ingin lanjut.'' kata Koneko.

''Tapi kau sudah keluar.''

''Setelah aku istirahat, kita langsung kemenu utama, ne.'' kata Koneko mendapat desahan pasrah dari Koneko.

Sepuluh menit berlalu, dan kini Koneko menginginkan melanjutkan permainan.

''Naruto-kun, ayo kita lanjutkan.'' kata Koneko menatap Naruto yang rebahan disampingnya.

''Baiklah, tapi kalau kau tidak kuat jangan dipaksakan.''

Naruto bangun dari rebahannya, menuju keatas tubuh Koneko. Kemudian mengarahkan kemaluanya kearah vagina Koneko yang rapat, menggeseknya dipermukaan bibir vagina Koneko, mencoba mengeluarkan cairan Koneko agar memudahkan Naru junior masuk.

''Hmm... Naru, cepat masukkan..hmmh..''

Naruto hanya mengangguk menanggapi perintah Koneko. Mengarahkan kepala penis Naruto dibibir vagina Koneko, memasukkannya secara perlahan dengan halus.

''Hmm...hh, Naruto-kun..'' desah Koneko seraya menahan sakit saat penis Naruto memasuki kewanitaannya.

''Apa sakit, Koneko-chan ?'' tanya Naruto memberhentikan dorongannya, membiarkan vagina Koneko merilekskan diri.(?)

''Tidak apa, Naruto-kun, lanjutkan saja.'' kata Koneko.

Naruto hanya melakukan apa yang Koneko katakan, mendorong pinggulnya lebih dalam dengan perlahan.

''Hngk.. Susah.. Koneko-chan..'' ucap Naruto yang terus mendorong pinggulnya.

''Te-terus, Naruto-kun. Ahhn..''

Akhirnya penis Naruto menyentuh selaput dara Koneko. Menatap Koneko untuk memastikan apa Koneko yakin dengan semua ini. Mengerti maksud Naruto, Koneko menganggukkan kepala menandakan ia yakin. Naruto mengarahkan pergelangan tangannya dibir Koneko.

''Ini, salurkan rasa sakitmu dilenganku.''

''Bersiaplah, Neko-chan, ini akan sakit.''

Dengan sekali hentakan, robek sudah penanda keperawanan Koneko.

''Ugh.. Akhh...'' rintih Koneko menggigit tangan Naruto.

''Ukgh...''

Desah Koneko dan Naruto menahan sakit bersamaan.

''Shakith...'' gumam Koneko tertahan tangan Naruto.

Melihat Koneko kesakiatn, Naruto tidak tega melihatnya. Mengarahkan wajahnya kedada mungil Koneko, menghisapnya perlahan. Mencoba mengalihkan pikiran Koneko dari rasa sakit dibawahnya.

Merasa sudah mendingan, Koneko melepas tangan Naruto, mengangguk pelan kearah Naruto menandakan Naruto boleh bergerak.

Naruto menggerakkan pelan pinggulnya naik turun, memompa dengan perlahan agar vagina Koneko terbiasa dengan penis Naruto. Semakin lama semakin cepat tempo goyangan Naruto, menyodoknya lebih dalam hingga menyentuh dinding-ding rahim Koneko.

''Ahh... , begitu Naru-kun..uhh~ lebih..dalam..laghii..ahhh...''

Naruto terus menggenjot Koneko dibawahnya, tak lupa tangannya salah satu tangannya meremas dada Koneko bergantian.

''Ahh~..Naruto ~.. Aku.. Aku mencintaimu...uhh...'' kata Koneko disamping desahannya.

''Aku..juga, Koneko-chan~'' kata Naruto yang terus bergoyang.

Sekitar lebih dari setengah jam, Naruto dan Koneko merasakan sesuatu ingin keluar dari kemaluan mereka masing-masing.

''Koneko, aku ingin keluar...''

''Aku..ahh..juga, Naruto-kun. Kita, keluarkan sama-sama.'' kata Koneko yang wajahnya sudah memerah.

''Ti-tidak,, aku tidak ingin kau..ugh..hamil diusiamu yang masih..ahn..be-belia.'' kata Naruto.(usia Koneko udah lebih dari belia, woy!)

''Itu tidak masalah, aku ti...''

''Tidak!'' kata Naruto memotong ucapan Naruto.

Naruto hendak mencabut penisnya dari dalam tubuh Koneko, tapi kedua kaki Koneko melilit pinggang Naruto agar Naruto tidak mencabut penisnya dari vaginanya.

''Ko-Koneko, ja-jangan...'' kata Naruto yang tidak dipedulikan oleh Koneko.

''Ughh.. Ko-Koneko..lepas ! Aku sudah ingin..ugh..keluar.''

Koneko tetap melingkarkan kakinya dipinggang Naruto, bahkan kebih erat.

'Tidak ada pilihan lain.' batin Naruto sambil menatap dada kanan Koneko.

Naruto mendekatkan wajahnya didada kanan Koneko, kemudian menggigit puting Koneko dengan keras. Alhasil Koneko menjerit kesakitan dan refleks melepaskan ikatan kakinya pada pinggang Naruto. Tanpa membuang waktu, Naruto segerap mencabut kemaluannya dan keluarlah sperma Naruto dipaha Koneko dan sprey yang mereka tiduri semalam.

Crotcrotcrot

''Itai...'' rintih Koneko sambil menghosok-nggosok dada kanannya.

''Kau terlalu kasar, Naruto-kun.'' ucap Koneko yang masih menggosok dadanya.

''Maaf. Habisnya kau tidak ingin melepas lilitanmu.'' kata Naruto meremas dada kanan Koneko.

''Aku tidak ingin kau hamil sekarang.'' lanjutnya.

''Hmmp... Sebenarnya Naruto-kun menggeluarkannya didalam tidak masalah, aku tidak dalam masa subur, kok.'' ucap Koneko mengerucutkan bibirnya.

''Oh.. Gomen. Aku tidak tau.'' kata Naruto yang masih tetap meremas dada Koneko, mencoba menghilangkan rasa sakit akibat ulahnya.

''Tadi saat aku ingin mengatakannya, kau terlebih dahulu memotongnya..nghh..'' ucap Koneko.

''Iya, iya.. Aku minta maaf. Tapi ka...''

Tok tok tok

Sebuah ketukan memotong perkataan Naruto.

''A-ano... Siapa ?'' tanya Naruto dengan gugup.

''Ini aku. Megumin.'' kata si pengetuk pintu yang tak lain dan tak bukan adalah Megumin.

''Oh, Megumin. Ada apa ?'' tanya Naruto yang masih berada didalam kamar.

''Ee... A-aku ingin tanya, apa kalian pergi sekolah ?'' tanya Megumin

''Sebenar...''

''Tidak, Megumin-san. Kami banyak kerjaan.'' kata Koneko memotong perkataan Naruto.

''O-ohh... Ba-baiklah, kalian lanjutkan saja.'' kata Megumin sembari berlalu pergi.

''Nah! Naruto-kun, ayo kita masuk ronde kedua, dan kali ini kau harus keluar didalam ya.''

''...''

Warning : Lemon &Lime off (yang gak suka lemon diatas bisa baca dari sini)

.

.

Masih di kamar Koneko ~

11 : 13

''Nghh~..''

Sebuah erangan kecil keluar dari mulut sang pemuda pirang yang tak lain adalah Naruto, dan disampingnya tergeletak gadis loli kawaii yang tertidur pulas dalam keadaan bugil. Padahal hari sudah hampir memasuki siang total.(karena pukul 11 itu masih tergolong pagi, tapi kebanyakan orang berpikir 09:00-12:00 itu siang).

''Uahh~'' Naruto menguap dengan lebar, menyalurkan rasa kantuk dan lelahnya dalam uapan yang lebar. Mungkin saja itu hasil kerjanya tadi bersama Koneko. Bahkan ia sudah tak ingat berapa ronde yang sudah ia lakukan bersama Koneko pagi tadi.

''Ugh... Usshh... Aku lelah sekali..'' ucap Naruto merenggangkan ototnya sebelum melihat Koneko yang tertidur sangat pulas, bahkan cahaya matahari pun tak ia hiraukan.

''Lebih baik aku mandi dahulu.''

''Nggh~'' sebuah lenguhan panjang terdengar kala Koneko membuka matanya, mungkin ia sudah cukup tidur.

''Ohayou, Neko-chan. Kau sudah bangun ?'' tanya Naruto yang baru saja ingin beranjak dari ranjang tidurnya.

''Ohayou mo, Naru-kun.'' balas Koneko lemah seraya bangun dari tidurnya.

Ah~ Sepertinya mereka mempunyai panggilan sayang sendiri.

''Kau... mau kemana, Naru-kun ?'' tanya Koneko yang sekilas melihat Naruto hendak angkat pantat dari ranjang.

''Tidak kemana-kemana, hanya ingin pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.'' ucap Naruto.

''Aku ikut !'' kata Koneko seraya angkat tangan.

Naruto hanya menatap Koneko heran.

''O-oke...'' kata Naruto dengan wajah aneh.

Koneko langsung tersenyum mendengar perkataan Naruto, kemudian merentangkan tanganya seperti meminta gendong.

''Kenapa ?'' tanya Naruto yang masih belum ngeh dengan maksud Koneko.

''Mou~ Naru-kun tidak asik. Gendong~'' manja Koneko seraya menggembungkan pipinya.

''Kenapa harus minta gendong ? Kan kamu bisa jalan sendiri.'' kata Naruto sengaja. Padahal dia sudah tahu kalau Koneko tidak bisa jalan saat ini.

''Aku susah jalan, Naru-kun. Gendong~.'' kata Koneko lagi-lagi dengan merentangkan tangannya kedepan.

''Hah~. Kau ini.'' ucap Naruto meraih Koneko, menggendong ala brithstyle(g tau apa nama tuh gaya, pokoknya gaya ala pengantin gitu deh).

Naruto, Koneko menuju kearah kamar mandi yang letaknya di kamar itu sendir. (Beberapa chap lalu udah dijelasin, masing-masing kamar mempunyai kamar mandi sendiri).

.

.

Scriciksricik

Sebuah suara air mengalir di sebuahdanau yang hijau dan luas. Didalam danau tersebut, terdapat sesosok rubah raksasa berekor sembilan tengah berendam menikmati sejuknya air.

''Hei, Kurama.'' Sebuah suara cempreng memasuki gendang telinga sirubah yang sudah diketahui bernama Kurama.

''Ada apa, gaki ?'' pertanyaan singkat terlontar dari bibir Kurama.

''Kemarilah, Kurama. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.'' Ucap sipemilik suara tersebut.

''Ck. Kau menggangguku saja, Naruto.'' Omel Kurama kepada Naruto sambil keluar dari danau.

Setelah Kurama tiba didepannya, Naruto lengsung mengeluarkan unek-unek nya.

''Kurama, kau tahukan sosok siluman naga yang kita selamatkan kemarin ?'' tanya Naruto seraya mendudukkan dirinya direrumputan.

''Maksudmu siluman loli yang kau simpan kemarin ?''

Entah kenapa mendengar perkataan Kurama, Naruto adalah seorang pedofil yang menyimpan anak kecil.

''Eeee... Ya.'' Kata Naruto singkat. Ia sudah tertohok dengan perkataan Kurama barusan.

''Lalu ?'' ucap Kurama bosan. Padahal ia ingin berendam lagi, bahkan ia sudah melupakan kebiasaannya yang malas itu(tidur).

''Bagini Kurama, apa tidak masalah kita 'memelihara'nya ?'' Naruto benar-benar bingung saat ini. Ia berencana membantu Ophis untuk mendapatkan kekuatannya kembali, agar ia bisa membantunya untuk membuat perdamaian. Tapi yang ia khawatirkan ketika Ophis sudah mendapat kekuatannya kembali, ia akan melenceng dari niat awalnya.

''Itu terserahmu saja, Naruto. Lagi pula aku tidak ikut mengurusnya.'' Acuh Kurama.

''Hey ! Aku kan hanya minta pendapat.'' Protes Naruto. Tentu saja ia protes, Kurama hanya bersikap acuh menanggapi keseriusannya.

''Hah~ Baiklah, baiklah. Mungkin tidak masalah, kau hanya perlu yakin ia tidak akan melanggar niat awalnya.'' kata Kurama.

''Hah~ Terima kasih, Kurama. Aku akan berpikir positif. Lebih baik aku menemuinya untuk melihat keadaannya.'' Kata Naruto sebelum matanya berubah menjadi Mangekyou Sharingan.

''Kamui.''

Sebuah pusaran angin menghisap Naruto setelah Naruto mengucapkan sebuah jutsu.

''Hah~ Akhirnya aku bisa berendam lagi.'' Kurama kemudian menceburkan lagi dirinya kedalam danau yang terbilang indah.

.

.

Syu~t..

Sebuah pusaran angin muncul dipinggir sungai yang jernih dan luas, mengeluar sesosok pemuda pirang dengan poni yang menutupi wajah kirinya. Naruto Uzumaki, itulah nama dari pemuda tersebut.

Memandang alam dunia Kamui nya yang indah dan sejuk (Naruto sudah mengubah suasana dunia Kamui menjadi alam yang elok dipandang, jadi reader jangan heran). Naruto mencari sosok yang sudah ia niat temui.

''Ophis !'' teriak Naruto mencari cari sosok yang bernama Ophis.

''Ophis ! Keluarlah !'' teriak Naruto lagi seraya menyusuri pinggiran sungai.

Blubblub

Beberapa gelembung udara muncul diatas permukaan air sungai, serta air sungai yang bergelombang seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

''Si-siapa di sana ?'' tanya Naruto menatap air yang semakin bergelombang.

Brass

Keluarlah sebuah siluet hitam yang memunggunginya.

''Ophis ?'' gumam Naruto menatap tak percaya sesuatu didepannya ini.

Sosok yang dipanggil Ophis membalikkan badannya, menatap Naruto yang hanya terbengong didaratan.

''Oh, ternyata kau Naruto.'' Ucap Ophis santai seraya berjalan menuju pinggir sungai. Ia tak memperdulikan saat ini ia sedang tidak menggunakan pakaian.

''E-e-.. EEEeehhh !'' teriak Naruto histeris menyadari Ophis tidak menggunakan pakaian, kemudian membalikkan tubuhnya.

''Pa-pakai pakaianmu, Ophis!'' perintah Naruto dengan tergagap seraya memunggungi Ophis yang telanjang bulat.

''Memangnya kenapa ?'' tanya Ophis memandang Naruto polos.

''Te-tentu saja untuk menutupi tubuhmu.''

Ophis yang terheran-heran hanya memasang wajah polos.

''Disini tidak ada orang lain selain kita, kenapa harus menutupi tubuhku segala.'' Tanya Ophis melangkahkan kakinya kearah Naruto.

'Apa-apaan dia ini, pada dia tidak tau hasrat lelaki?' batin Naruto sedikit merutuki si pencipta sosok Ophis.

''A-ano... Bukan masalaha ada orang atau tidak, tapi.. Uahh!'' Naruto secara spontan langsung berteriak kala Ophis sudah berdiri didepannya.

''Naruto, cepat katakan apa tujuanmu kesini?'' Ophis mendudukkan dirinya direrumputan setelah bertanya kepada Naruto.

Sedangkan Naruto sendiri, ia sedang menormalkan detak jantungnya, dan akhirnya Naruto juga duduk direrumputan depan Ophis.

''Baiklah. Jadi...kedatanganku kesini...'' Naruto tak kunjung menjelaskan tujuannya, dikarenakan tubuh Ophis yang polos merusak fokus Naruto.

''Cepat katakan!'' tuding Ophis bersedekap dada, menyembunyikan kedua dadanya dibalik lengan kecilnya.

''Khkhemh...'' Naruto mencoba menormalkan dirinya dengan berdehem dengan gaya cool ala Uchiha.

''Jadi begini, kedatanganku kesini hanya ingin menanyaimu tentang kemarin itu.'' Kata Naruto.

''Yang mana?'' sedangkan Ophis masih belum paham arah pembicaraan Naruto.

''Yang kau bilang akan mendamaikan dunia setelah kau mendapatkan kekuatanmu kembali.'' Wajah Naruto seketika serius, bahkan pandangan genit pun tidak terpasang diwajahnya yang tegas+imut.

''Ohh... Yang itu ya? Memangnya kenapa?'' Ophis yang belum paham maksud Naruto, bertanya kembali.

''Tidak kenapa-napa, hanya saja aku ingin kau menepati janjimu. Aku tidak ingin setelah kau mendapatkan kekuatanmu kembali, kau malah berbuat onar dan ingin menghancurkan dunia.'' Jelas Naruto menatap mata Ophis dalam.

''Tidak. Aku tidak akan mengingkari janjiku.'' Ophis menaruh kedua tangannya dibahu Naruto, mencoba memberikan keyakinan dihati Naruto.

Setelah Ophis mengatakan hal tersebut, keadaan menjadi sunyi hingga Naruto menyadari sesuatu. Yap, Ophis masih belum memakai pakaian. Dan kali ini mata Naruto memandangi kedua bukit mungil Ophis dengan ujung yang berwarna pink, semakin lama pandangan Naruto beralih menuju selangkangan Ophis, menemukan pemandangan indah disana.

'Naruto, kau semakin mesum.' Batin Naruto berbicara pada dirinya sendiri.

Ophis yang melihat Naruto terus memandangi selangkangannya, semakin membuka lebar kedua pahanya.

''Kau mau melihat ini?'' tanya Ophis menunjuk kearah selangkangannya. Naruto hanya dapat meneguk air liurnya kasar saat Ophis membuka kedua pahanya lebih lebar.

'Aku harus kuat. Aku harus kuat. Aku tidak akan tergoda dengan keindahan dan kemolekan tubuh Ophis.' Batin Naruto nista.

''Bagaimana kalau aku masukkan jariku?'' pertanyaan yang terdengar polos keluar dari mulut Ophis seraya memasukkan tangannya kedalam lubang surganya.

''Ahhnn~~''

''Ophis, hentikan ini. Aku sama sekali tidak tergoda dan lebih baik kau memakai pakaianmu.'' Kata Naruto menahan hasratnya setengah mati.

''Hah~ Baiklah.'' Sebuah pakaian muncul dari tubuh Ophis dan langsung menutupi hampir seluruh badannya.

''Sudah.'' Kata Ophis merentangkan tangannya.

Naruto memandang Ophis yang sudah memakai pakaian Gotcha miliknya. Walaupun ia sudah memakai pakaian, namun tetap saja pakaiannya tidak menutupi dadanya. Dadanya hanya tertutup sebuah benda seperti lakban hitam yang berbentuk menyilang, dan Naruto tatapan tidak lepas dari benda itu.

'Ayo Naruto, fokus..fokus..fokus' lagi-lagi pikiran kotor terus berputar didalam otak Naruto.

'Hah~ Mungkin aku harus membelikan baju untuk Ophis.' Batin Naruto mengingat pakaian Ophis yang kurang bahan.

Ophis menatap bingung Naruto yang melamun, tapi kemudian lamunan Naruto buyar saat Ophis bertanya kepada Naruto.

''Naruto, apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan?''

''Ah! Tidak ada. Baiklah Ophis, aku ingin kembali kedunia manusia. Jadi...aku hanya ingin berpamitan saja.'' Naruto langsung berdiri diikuti Ophis yang juga ikut berdiri.

''Ohh... Baiklah.'' Kata Ophis dibalas anggukan oleh Naruto sebelum Naruto mengilang ditelan pusaran angin, sebelumnya Naruto telah merubah matanya menajdi MS.

.

.

Tak terasa dua hari telah berlalu. Pagi yang membosankan mengelilingi perasaan seorang pemuda yang sedang berjalan menyusuri dalam sekolah.

Tap tap tap tap

Sebuah langkah kaki menggema dilorong KHS, seorang pemuda yang menyita tatapan seluruh wanita yang ia lewati.

''Hei, Naruto.'' Sebuah panggilan menyita perhatian pemuda tadi. Sedangkan sang pemuda menatap seorang pemuda berambut orange yang melambaikan tangan kearahnya, disekitar pemuda orange tadi berkumpul beberapa makhluk yang tak lain dan tak bukan merupakan peeragenya sendiri.

Pemuda yang dipanggil Naruto berjalan menuju kearah suara tadi berasal, ikut berkumpul kepada rombongan tadi.

''Yo, Ichigo,minna.'' Sapa Naruto membalas sapaan teman orangenya dan menyapa teman-teman lainnya.

''Kau sedikit lambat dari biasanya, kemana saja kau ?'' Shikamaru yang terkenal jarang bicara, kini menanyakan satu hal kepada Naruto.

''Tidak kemana-mana, hanya berkencan dengan ramen-chan.'' Ucap Naruto seraya memasukkan kedua tanganya kedalam saku.

''Ohh...'' sedangkan yang lain hanya mengatakan satu kata, 'Ohh'.

''Baiklah, sebentar lagi pelajaran akan dimulai, lebih baik kita menuju ke kelas.'' Naruto melangkahkan kaki mendahului peeragenya yang masih menatap Naruto. Ah! Dan jangan lupakan sosok loli berambut putih disamping Rukia berada, namanya Koneko Tojou.

''Apa lagi yang kita tunggu? Ayo ikuti Naruto.'' Koneko melangkahkan kakinya diikuti yang lain, menyusul Naruto yang sedikit jauh didepan mereka.

.

.

Semilir angin menerpa rambut pemuda pirang dengan poni yang menutupi setengah wajahnya, duduk disebuah bangku putih kesukaannya. Menikmati kesejukan angin yang berhembus perlahan, menggerakkan helai rambutnya kesana kesini.

''Hah~ Kurama, apa kita bisa mendamaikan dunia ini?'' sebuah pertanyaan terlontar dari soskk pemuda kepada sosok rubah ekor sembilan yang berada didalam tubuhnya.

''Jika kau yakin pada dirimu sendiri, aku percaya kita bisa, Naruto.'' Ucap Kurama singkat.

''Yah... Kau benar. Tapi...aku merasa perjalanan ini akan sedikit sulit. Kau tau Kurama?...''

Kurama mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Naruto selanjutnya. Sepertinya partner pirangnya sudah mulai sedikit pintar.

''... Saat ini aku sedang lapar.'' Pernyataan Naruto barusan sukses membuat Kurama swatdrop tingkat tinggi. Sepertinya partnernya masih saja seperti dulu... Bodoh.

''Hahaha... Aku hanya bercanda. Aku yakin kau sedang memaki ku saat ini. Kau tau, Kurama? Semenjak aku tinggal disini...aku mulai memikirkan apa yang terjadi didunia Shinobi sana? Apa yang mereka lakukan disana? Apa disana sudah damai? Hal itulah yang selama ini terbayang dipikiran ku.'' Naruto bersandar disandaran bangku yang memang terbuat khusus untuknya, tapi sekarang bukan untuknya saja, tapi juga ada Koneko yang menempati bangku itu disaat sedang waktu kosong.

''Kau tidak perlu memikirkannya lagi Naruto. Bukankah Shikamaru, Gaara dan Fuu telah mengatakan didunia Shinobi baik-baik saja kan? Dan dunia Shinobi telah damai. Jadi kau harus lepas semua pikiranmu tentang dunia Shinobi dan fokuslah untuk mendamaikan dunia ini. Dunia DxD, Dragon of Dragon.'' Kata Kurama melalui pikiran Naruto.

''DxD?'' Naruto yang belum mengerti hanya mengangkat wajahnya bingung.

''Ck. Walau kujelaskan pun kau tidak aakan mengerti.'' Kurama hanya mengatakan hal itu dengan nada bosan.

''Hey, gaki, ada tamu.'' Kata Kurama merasakan beberapa Akuma dan seekor Yokai menuju keatap sekolah.

''Aku tau itu.'' Naruto hanya memandang langit biru saat menjawab perkataan Kurama.

Tak butuh sepuluh detik, pintu atap terbuka, menampakkan tujuh makhluk supernatural yang berjalan menuju Naruto yang tengah asik menatap langit.

''Ternyata kau disini Naruto. Padahal kami sudah mencarimu kemana-mana. Untung saja ada Koneko yang memberi tau kami tempat kesukaanmu.'' Megumin yang pertama kali membuka pambicaraan, menyita tatapan Naruto dari langit biru, ditambah beberapa awan tipis yang membuat langit bertambah indah.

''Heh... Yah, begitulah.'' Balas Naruto singkat sebelum kembali memandang awan.

Mereka duduk dibangku atap,dengan Koneko yang duduk disamping Naruto, menyandarkan kepalanya dibahu pemuda itu.

''Naruto, apa kita bisa mendamaikan dunia ini?'' sebuah pertanyaab singkat keluar dari bibir Gaara.

''Jika kau percaya pada dirimu sendiri, aku yakin kita bisa, Gaara.'' Ucap Naruto mengulang perkataan Kurama. Sedangkan Kurama yang berada didalam tubuh Naruto hanya mendecih.

''Dasar peniru.'' Ucap Kurama.

''Yah... Kau benar. Tapi...aku merasa perjalanan perjalanan ini akan sedikit sulit.'' Perkataan Gaara sukses membuat Naruto diam seribu bahasa.

''Sulit atau tidak...itu tergantung kita menjalaninya.'' Setelah Rukia mengatakan itu, keadaan menjadi sunyi, mereka larut dalam pikirang masing-masing, kecuali Koneko yang tertidur dibahu Naruto.

''Kedamaian...'' perkataan Naruto yang tiba-tiba menarik pandangan yang lain kearah Naruto, kecuali Koneko.

''...sebuah kata yang biasa, tetapi mengandung makna yang luar biasa.''

''Aku belum pernah merasakan kedamaian.''

''Seperti apa rasanya?''

''Apakah menyenangkan?''

''Apa rasanya bahagia seperti kau diberi permen saat kau masih kecil?''

''Aku yakin, pasti lebih dari itu semua.''

Yang lain hanya diam mendengarkan. Menjadi penyimak yang budiman.

''Apa ini semua memang takdirku? Apa aku bisa merubah takdirku?'' setetes liquid mengalir disudut mata kiri Naruto, mencerminkan betapa berat hidupnya.

''Naruto. Kau pernah berkata kepada Neji, bahwa takdir bisa diubah.'' Perkataan Shikamaru langsung meresap dikepala Naruto.

''Kau benar... Takdir bisa dirubah, tergantung cara kita merubahnya.'' Seulas senyum tercetak diwajah tampan Naruto.

Tak terasa waktu begitu cepat. Suara bel menandakan waktu istirahat telah usai. Memaksa seluruh siswa masuk kekelas masing-masing.

''Baiklah, minna. Lebih baik kita kembali kekelas sebelum Kaichou muka tembok menegur kita.'' Sebuah candaan keluar dari bi ir Fuu guna untuk mencairka suasana yang sempat mendingin.

''Hahahaha... Dasar kau ini.'' Ichigo hanya dapat tertawa mendengar ejekan yang tertuju kepada Sona. Untung lah Sona tidak ada disini, jika ada...habisalah Fuu.

''Ayo kita kembali kekelas. Kau juga Naruto.''

''Ya, baiklah. Kalian duluan saja, aku ingin membangunkan kucing ini dulu.'' Kata Naruto menunjuk Koneko yang tertidur dibahunya, dengan kedua tangannya yang melingkar dilengan Naruto.

''Terserahmu saja lah, kami akan kembali ke kelas.'' Kata Megumin sebelum berlaru meninggalkan Naruto dan Koneko, diikuti yang lain.

''Koneko. Koneko. Hei, bangun.'' Naruto menggoyangkan tubuh Koneko pelan, mencoba mengembalikan kesadaran kucing kecilnya.

''Ngghh~...'' bukannya segera bangun, Koneko justru mengeratkan rangkulannya dilengan Naruto.

''Koneko, ayo bangun. Bel sudah berbunyi dari tadi.'' Tak ingin menyerah Naruto menyubiit hidung Koneko.

Sedangkan Naruto yang susah bernafas, menggelengkan kepala sebelum membuka matanya.

''Nggh... Kau menganggu tidur ku saja, Naru-kun.'' Gerutu Koneko seraya menegakkan tubuhnya.

''Dasar kau ini. Bel sudah berbunyi, dan kau ingin tidur kembali ?'' pertanyaan Naruto hanya dijawab anggukan singkat oleh Koneko.

''Hah~ Ayo kembali ke kelas masing-masing, dari pada kita terkena masalah dengan Kaichou.'' Naruto hendak berdiri dari duduknya, tapi tangan Koneko menariknya memaks untuk duduk kembali.

''Humm... Aku masih ingin bersamamu.'' Kata Koneko manja, dan lagi-lagi tangan Koneko merangkul lengan Naruto.

''Koneko, nanti jika Kaichou datang dan menegur kita bagaimana ? Aku malas selalu diceramahi.''

''Aku tidak perduli, aku masih ngantuk.'' Koneko menyandarkan kepalanya lagi dibahu Naruto, memejamkan mata mencoba tidur kembali.

''Jika kau ngantuk, lebih baik kau pergi ke UKS. Kau bisa tidur sepuasnya disana.'' Perkataan Naruto berhasil membuat Koneko menegakkan kepalanya.

''Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi ya ?'' pertanyaan Koneko hanya dibalas hendikan bahu oleh Naruto.

''Naru-kun, bisa kau antarkan aku ?''

Naruto hanya mengangguk setuju. Lebih baik mengantar Koneko ke UKS daripada terkena ceramah dari sang Kaichou.

Naruto dan Koneko berjalan menuju pintu yang mennghubungkan lantai bawah dengan atap. Tapi ketika hendak meraih kenop, pintu atap terbuka, menampakkan sesosok gadis pendek dengan kacamata yang bertengger manis diatas hidungnya.

''Kalian. Kenapa kalian belum kembali ke kelas?'' tanya sosok tadi yang ternyata Kaichou KHS.

''Koneko ingin pergi keUKS, dan kami berniat kesana..'' Kata Naruto sambil menatap Sona.

Sona menatap wajah Koneko, dan ia hanya menemukan wajah yang terlihat polos.

''Baiklah, nanti aku akan bilang kepada Sensei yang mengajar dikelas Tojou-san. Dan aku...''

''Sensei kelas Naru-kun juga.'' Kata Koneko memotong ucapan Sona.

Sona menatap Koneko sekali lagi, tapi kali ini dengan perasaan bingung.

''Maksudnya agar Naru-kun bisa menemaniku disana.'' Terang Koneko.

Sona mengangguk mengerti dengan perkataan Koneko.

''Baiklah, nanti akan aku bilang juga kepada Sensei yang mengajar dikelas Uzumaki-kun.''

''Baiklah Kaichou, kami minta izin untuk pergi.'' ucapan Naruto hanya dibalas anggukan pelan oleh Sona, menandakan ia boleh pergi.

Setelah diperbolehkan pergi, Naruto dan Koneko melangkahkan kaki menuju lantai bawah, meninggalkan Sona yang menatap punggung Naruto.

'Aku tidak percaya Naruto-kun masih hidup. Tapi bagaimana bisa?'' batin Sona. Sudah selama ini ia menyimpan pertanyaan itu dikepalanya. Sepertinya Rias belum mengatakan tentang Naruto.

.

.

Suhu dingin malam hari menusuk tulang seorang pemuda pirang yang sedang membawa beberapa kantong plastik. Berjalan dengan menghiraukan cuaca yang semakin dingin, seorang pemuda yang bernama Naruto Uzumaki terus melangkahkan kaki menerobos dinginnya angin. Bahkan jaket orange yang ia kenakan tak cukup untuk mengurangi suhu udara saat ini.

''Huuufftt... Dinginnya..'' komentarnya entah kepada siapa.

Disisi lain, seorang pemuda berambut coklat sedang berjalan dari sebuah gang jalan. Dilihat daru ciri-cirinya sudah diketahui ia bernama Issei Hyodou. Pandangan Issei tanpa sengaja melihat Naruto yang melewati dirinya. Issei segera menyusul Naruto, sebelum berteriak kepadanya.

''Hei, kau !''

Naruto yang merasa dirinya dipanggil, menolehkan kepalanya jebelakang, menemukan Issei yang sedang berdiri tegap.

''Yo, Issei.'' Sapa Naruto .

''Jangan sok ramah, kau !'' kata Issei. Wajahnya menampakkan ekspresi tidak suka.

Naruto hanya menghendikkan bahunya acuh.

''Keparat ! Kau ingin berkelahi, hah !? Jika itu mau mu, akan kukabulkan. Ddraig !''

Balance Breaker

Sinar merah menyelimuti tubuh Issei sebelum menghilang dan dengan seketika armor mekanik warna merah membungkus badan Issei, dengan bentuk seperti seekor naga.

Melihat Issei telah berubah bentuk, Naruto sudah mengetahui bahkan disini akan ada sebuah pertarungan dadakan. Menurunkan barang belanjaannya, kemudian membuat segel Kekkai agar aura mereka yang keluar tidak menyebar.

''Issei, aku tidak tau apa yang kau inginkan. Jika kau ingin bertarung, aku tidak bisa melayanimu saat ini.'' Ucap Naruto menatap Issei malas.

''Jangan banyak alsan, kau ! Bilang saja kalau kau takut ! Dasar pengecut !'' kata Iseei dibalik armor merahnya.

'Naruto, aku bosan mendengar ocehan bocah mesum itu.' Ucap sebuah suara yang terdengar difikiran Naruto.

'Baiklah, Kurama. Kali ini aku akan menanggapinya.' balas Naruto.

''Hoii ! Jangan diam saja kau, keparat !''

''Issei, jika kau hanya berniat memaki ku, lalu buat apa kau melapisi tubuhmu dengan armor?'' tanya Naruto, tapi di telinga Issei seperti sebuah hinaan.

''Gghh ! Brengsek ! Aku akan membunuhmu ! Dragon shot !''

'Hah~ Sinar itu lagi.' batin Naruto bosan menatap sebuah laser mengarah kepadanya. Tapi dengan segap, Naruto melompat kebelakang menghindari ledakan yang timbul dari kekuatan Issei.

Bumm

'Untung saja aku sudah memasang kekkai, jika tidak bis gawat.' Batin Naruto setelah melompat kebelakang.

''Naruto, cepat lawan, kau hanya diam saja dari tadi.'' Ucap Kurama yang hanya dibalas senyum miring dari Naruto.

'Yah..baiklah. Aku juga bosan saat ini.' balas Naruto melewati pikiran.

''Heh ! Apa segitu saja kemampuanmu, Issei ?'' tanya Naruto mencoba memanas-manasi Issei.

''Awas kau dasar pecundang !'' Issei menyiapkan kuda-kuda, kemudian dimulut armor naga yang Issei kenakan, berkumpul sebuah energi yang berwarna merah. Namun kali ini sllebih besar dari sebelumnya, kemudian menembakkan sinar tadi kearah Naruto.

Wushh

'Cih ! Jurus itu lagi. Apa ero-gaki itu tidak punya kekuatan lain ? Selalu saja itu.' batin Kurama menatap sebuah layar seperti televisi diatas.

Naruto merentangkan tangan kedepan, kemudian sesuatu seperti sebuahbtangan raksasa berwarna kuning keemasan muncul ditangan Naruto dan menangkis serangan Issei.

''Jika kau hanya terus menggubakan kekuatan itu, kau akan menyakiti dirimu sendiri.'' Ucap Naruto setelah menurunkan tangannya.

''Aku tidak perduli ! Yang aku mau... KAU MATIII !'' Issei berlari dengan kencang kearah Naruto yang ada didepannya, sebuahbtinju ia layangkan kewajah Naruto.

''RASAKAN !''

Blamm

Ledakan kecil tercipta ditempat Naruto dan Issei berada, asap tipis mengelilingi nereka.

Secara perlahan kabut asap debu tadi menghilang, menampakkan Naruto yang tubuhnya telah terlapisi cahaya kuning, menangkap tangan Issei yang berlapis armor.

Issei hanya menatap terkejut tangannya yang digenggam erat oleh Naruto.

''Itu saja...? Dasar. Dengan kekuatan seperti ini kau ingin membunuhku ? Jangan mimpi Issei.'' Naruto mempusatkan cakra ditangan kirinya, kemudian meninju perut Issei dengan keras hingga...

Pyarr

''Khugh !''

Armor Issei hancur berkeping-keping, bahkan tidak ada sisa yang melekat dibadannya. Darah segar keluar dari mulut Issei.

''Khuk..khuk.!''

Issei hanya dapat terbatuk seraya berlutut didepan Naruto.

''Issei...'' panggil Naruto seraya menatap Issei yang terbatuk.

Issei menatap Naruto, menatap mata biru yang menyala di gelapnya malam.

''Keangkuhan bukan segalanya, keegoisan belum tentu bisa kau dapatkan semua, kemarahan bukan solusi dari seluruhnya. Hilangkan semua keburukanmu, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau ingin membunuh ku ? Bukan. Keinginanmu bukan itu. Keinginanmu hanya ingin menjadi King Harem... Lalu, apa untungnya bagimu setelah kau berhasil menghabisiku ?''

Issei hanya dapat terdiam menunduk mendengar perkataan Naruto.

''Kau tidakan akan mendapatkan keuntungan lebih. Ingat itu.'' Naruto menghilang disertai sebuah kilatan kuning, meninggalkan Issei yang tertunduk dengan mulut yang mengeluarkan darah.

'Keinginan... Apa keinginanku ?...' batin Issei mengepalkan tangannya kuat.

Beberapa saat kemudian, kilatan kuning muncul didepan Issei, membuat Issei sedikit terkejut.

SING

Issei menatap sosok yang baru saja muncul didepannya, memiliki rambut kuning dengan poni yang menutupi setengah wajah kirinya. Dan orang tersebut adalah Naruto Uzumaki.

''Ano... Belanjaanku ketinggalan.'' Kata Naruto seraya mengambil barang yang sempat ia tinggal tadi, kemudian menghilangang kembali.

'Benar... Aku angkuh. Aku egois. Aku Pemarah. Aku buruk. Aku... Aku... Aku lebih buruk daripada Akuma.'

.

.

T.B.C

Balas review bersama chara NaruDxD

Ditempat yang sama a.k.a ruang rapat, berkumpul berbagai fraksi yang duduk dengan rapi. Didepan mereka duduk, terdapat sesosok pemuda berumur 17 thn duduk dengan wajah seperti belum disetrika alias kusut. Yah, kalian taulah ulah siapa. Yap, Kunou dan Koneko.

''Ohayou, minna-san.'' kata sang pemuda bernama Lio.

''Ohayou, Lio/-kun/san/nii.'' jawab mereka serempak.

''Baiklah, hari ini kita akan melakukan rapat seperti kemarin, dan juga balas review.''

''Ano.. Lio-kun, aku ingin tanya. Apa Lio-kun akan mendatangkan lagi karakter dari luar ?'' tanya Tenshin cantik bernama Gabriel.

''Mungkin tidak, Gabriel-chan. Dilihat dari segi karakter disini saja sudah terlalu banyak, apalagi karakter dari luar.'' kata Lio menjelaskan, sedangkan Gabriel hanya menganggukkan kepala.

''Tapi bukankah jika mengambil karakter dari luar juga seru, apalagi jika karakternya perempuan beroppai besar, seperti Tsunade-cha...''

''Rasengan.''

Sebelum Issei menyelesaikan ucapannya, sebuah putaran angin mengenai perut Issei. Issei terpental hingga membentur tembok ruangan.

''Ugh ! Apa yang kau lakukan hah !?'' teriak Issei setelah bangun.

''Itu salahmu, kenapa kau membawa-bawa nama Tsunade Obaa-chan ?'' tanya Naruto.

''Ghh ! Awas kau.'' geram Issei sebelum muncul sarung mekanik muncul ditangan kirinya.

Disisi Naruto, matanya berubah menjadi mata katak(Sannin Mode).

''Balance Breaker.'' dengan cepat, tubuh Issei dibungkus oleh pakaian mekanik yang menyerupai naga.

''Kagebunshin no Jutsu.'' muncul dua klon Naruto disampingnya berdiri.

Para peserta sedikit menjauh dari tempat pertempuran dadakan.

Tangan kedua bunshin Naruto membuat sebuah putaran ditangan kanan Naruto, sedangkan Issei mengambil sebuah kuda-kuda. Naruto dan Issei meluncurkan kekuatan masing-masing.

''Rasengan Suriken.''

''Dragonshoot.''

''Gawat. Raiton : Inabikari.'' sesosok manusia bergerak dengan cepat melebihi sang Raikage menuju ketengah-tengah Issei dan Naruto berada.

''Kekkai no Shishi.''

Bumm

Sebuah ledakan terjadi diruangan tersebut, menyebabkan beberapa barang berantakan. Tak berapa lama, asap pun menghilang, menampakkan kepala singa besar transparan berwarna kuning kehitaman. Didalamnya berdiri sosok berambut hitam panjang hingga kedepan lehernya dan menutupi dadanya, bagaikan rambut singa. Dikepalanya terdapat sepasang telinga singa serta sebelas ekor singa yang melambai dengan berantakan. Matanya berwarna kuning keemasan, serta gigi taring yang sedikit keluar dari mulut.

''Naruto, Issei, hentikan tindakan kalian. Itu membahayakan yang lain.'' kata sosok tersebut dengan suara beratnya,

''Ha-ha'i, Lio-san.'' jawab Naruto dan Issei bersamaan.

Kemudian sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Lio, kembali kewujud semulanya.

''Hah~ Baiklah, bereskan semua ini, setelah itu kita lanjutkan rapat.'' kata Lio.

''Ha'i.'' jawab mereka semua serempak, termasuk Naruto dan Issei.

.

.

Setelah pertempuran dadakan tadi, keadaan sudah kembali sempurna.

''Baiklah, kita lanjutan rapat yang sempat tertunda tadi. Baiklah, kita lihat pada review yang terpampang disini.'' kata Lio menatap layar lebar yang ada dibelakangnya.

''Ophis, tolong bacakan.''

''Ophis kan ketidakbatasan... Kenapa hilang yah? '' kata Ophis membaca review didepannya.

''Hey ! Apa-apaan itu ? Aku menghilang ? Jangan bercanda.'' kata Ophis berdiri dari duduknya.

''Sabarlah Ophis, atau kau tidak akan mendapatkan jatahmu.'' anjam Lio.

''Cih.''

''Hah~ Baiklah KingBochum-san, biar saya yang akan menjelaskannya lebih detail. Sebenarnya Ophis sang Ouroboros Dragon tidak menghilang, setelah dikasih racun Samael kekuatan Ophis menghilang dan hanya menyisakan sedikit saja. Ophis merupakan jelmaan dari sang Ouroboros Dragon, yang dapat memanipulasi bentuk dan ukuran tbuhnya sesuai yang ia inginkan tanpa memandang usia, ras, golongan, atau jenis kelamin. Tidak diketahui Ophis berjenis kelamin jantan atau betina, namun saat ini Ophis menjelma sebagai gadis loli. Ingat, Ophis bukan menghilang, melainkan sedang menjelma menjadi gadis loli. Pada cerita aslinya, Ophis tinggal dirumah Issei sebagai maskot dirumah Issei dan Ophis bekerja dirumah Issei. Baiklah, sekian dari saya. Maaf jika ada kekurangan atau salah informasi.'' kata Lio menjelaskan panjang lebar.

''Baiklah, minna... Are ?'' saat memandang kearah yang lainnya, Lio sweatdrop dibuatnya

''Zzzzzz.''

Yah, mereka semua tertidur.

''BANGUN WOYY !'' teriak Lio membahana.

''Ah ? Apa ? Promo kolor ?'' kata Michael bangun dari tidurnya.

''Ayo, kita lanjutkan rapatnya.'' kata Lio.

''Perhatikan pada review ini. Kiba, tolong kau bacakan.'' kata Lio mendapat anggukan dari Kiba.

''Baiklah. Dari Uzunami1, isinya ''Hn, yang kurang dari cerita ini. Menurut pandanganku masalah itu ada di alurnya yang berantakan. Bukan masalah kecepentan atau apa, tapi seperti terlalu dipaksakan! dan itu membuat fanfic ini kurang menarik. Contohnya saja pertemuan Naruto sama Ophis di chapter ini! Gak ada Kesannya, masa mereka bisa langsung bertemu tanpa ada kejelasan kenapa Ophis bisa ada disana. Setidaknya di chapter kemarin Author-san harus selipin sedikit scane/percakapan tentang yang terjadi pada Ophis sebelum bertemu dengan Naruto di chapter ini.

Dan juga untuk masalah penulisan, menurutku sudah mulai [sedikit] meningkat/lebih baik meskipun Typonya itu dalam pandanganku termasuk dalam kategory absolute bahkan semi OP! tapi, ya sudahlah. Semoga kesalahanmu itu bisa kau perbaiki di chapter selanjutnya. #Uzunami1 Jejak''...'' kata Kiba membacakan review yang ada dilayar lebar.

''Yosh ! Inilah yang membuatku bersemangat, kritik tanpa ada kalimat yang kotor.'' kata Lio sumringah.

''Ghm..ghm.. Baiklah. Pertama masalah alur ya ? Hmm... Sebenarnya dari chapter lalu Lio udah nyadar bahwa jalan ceritanya bakalan berantakan, jadi sekali lagi maaf, dan mudah-mudahan dichap ini bisa menutupi kesalahan kemarin. Dan kedua alur yang terlalu dipaksakan. Ok, kalau masalah ini Lio tidak ada niat untuk memaksakannya, mungkin karena Lio kurang detail maka jadilah seperti ini, hehe. Dan untuk awal kenapa Ophis bisa bertemu dengan Naruto... Hmm.. Lio lupa untuk menambahkan scane sebelum Naruto dan Ophis bertemu. Sebagai gantinya akan Lio buat Flashback. Dan yang ketiga masalah tulisan atau typo. Hehehe, memang jika menyangkut masalah typo itu tidak akan luput dari penulisan yang sudah Lio posting. Coba cek dari chap 1 sampai chap seterusnya, pasti ada typo. Sekian penjelasan Lio, terima kasih Uzunami1.'' kata Lio menunduk hormat.

''Eh ? Tunggu dulu. Uzunami1, sepertinya aku kenal dia siapa. Kalau tidak salah... Angga permana ya. Mungkin.''

''Baiklah, kemudian review berikutnya.'' kata Lio mengeser layar smartphone-nya yang menyebabkan layar dibelakangnya juga bergerak.

''Eh !?'' setelah membaca review berikutnya, Lio membeku ditempat.

''A-ano... Kenapa Lio-san ?'' tanya Sirzech khawatir.

Kemudian Lio berdiri dan berjalan dengan lesu kearah pojok ruangan. Setelah sampai, Lio menjongkokkan tubuhnya dan menggores-nggores lantai pelan sambil menggumam...

''Aku bukan lolicon...aku bukan lolicon..aku bukan lolicon...''

Seluruh peserta rapat yang ada diruangan tersebut sweatdrop dibuatnya.

.

''Baiklah, kita lanjutkan.'' kata Lio dengan suara lesu.

''Review kali ini akan dibacakan oleh Naruto. Naruto, tolong kau bacakan.'' kata Lio mendapat anggukan dari Naruto.

''Review dari Guest, yang berisi '' Maksa banget alurnya ketemu sama ophis wkwk, dan lagi? Hell Kokabiel bisa dapet racun samael dari mana huh? Sedangkan Samael sendiri ada di tangan si Hades wkwk, Ophis serasa jadi karakter tolol disini, sama tipuan ampas kaya racun gitu aja kena wkwk, pahami LN dulu jangan asal gini aja, Fict si fict cuma yang fans sama DxD kan kesel liatnya. Maen asal jebret bae, lu pikir Ophis powernya cuma kaya sampah doank gitu? Hell, orang ga pernah baca LN Dxd dan cuma ngikutin gitu aja ya kaya gini ni. Dan lagi hahaha Kokabiel keliatan OP banget sampe geli gua ngeliatnya, Issei di bashingin, Rias juga wkwkw aduh ngakak gua.''...'' kata Naruto membacakan review.

''Apa maksudnya itu !? Aku karakter tolol ? Power sampah ? Hah ? Itu tidak bisa diterima.'' protes Ophis dengan wajah memerah.

''Tenanglah Ophis, jangan mudah emosi.'' ucap Lio mencoba menenangkan.

''Tenang apanya. Dia dengan berani menghinaku, terus menghina kekuatanku. Apa itu bisa dimaafkan ?'' kata Ophis.

''Dia tidak bermaksud untuk menghinamu atau mencoreng nama baikmu. Review itu tertuju padaku, bukan untukmu.'' kata Lio berhasil menenangkan Ophis.

''Jika itu tertuju pada Lio-nii, berarti makhluk itu menghina Lio-nii, ya ?'' tanya Kunou.

''Bu-bukan seperti itu Kunou-chan, menghina dengan memberi tau itu berbeda.'' kata Lio bersedekap dada.

''Ya, ya, ya, selalu saja seperti itu. Kau harus bisa membedakan yang mana pemberithuan dan yang mana flame. Kau terlalu baik Nii-chan.'' cibir Kunou.

''Sudahlah Kunou-chan, lebih baik kujawab dulu pertanyaan ini agar rapat cepat selesai.'' kata Naruto sebelum menghela nafas.

''Hah~ Baiklah, akan kujawab semampuku dan apa adanya. Ok, alur dipaksakan itu bukanlah niatku. Aku hanya menyingkat jalan ceritanya agar tidak terlalu banyak chapter. Mungkin ini tidak akan bisa diterima oleh para reader dan senpai sekalian, jadi harap maklumi saja. Bukan berarti saya tidak ada niat untuk membuat ini fic, tapi saya sangat ingin.''

''Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk memaksakan alurnya, tapi hanya ingin menyingkat cerita. Masalah alur, saya memang sengaja tidak membuat jalan cerita sama seperti dicannon, dan mungkin hanya beberapa saja. Para reader menganggap fic ini alurnya memaksa karena mereka berpatokan kepada cerita aslinya. Contohnya pada penokohan, sebagian dari mereka berpikiran seperti ini 'Issei kan orangnya baik, kenapa bisa jadi sombong ?'. Ingat sekali lagi, tidak semua alur, penokohan/watak, dan karakter memiliki kesamaan seperti cerita aslinya. Seperti Issei, yang seharunya baik, malah menjadi iblis yang sombong. Rias, yang aslinya baik dan suka menolong, disini Rias menjadi bringas dan egois. Koneko yang tidak suka dengan sesuatu yang mesum, disini dia sendiri yang sedikit mesum. Coba kalau mereka (reader) membaca sambil merenung 'jika Ophis sudah diracuni oleh racun samael, berarti Samael sudah tidak bersama Hades'.''

''Ok lah, saya menyadari kesalahan saya. Maaf bagi penyuka anime High School DxD kalau alurnya tidak sama seperti yang kalian tonton.

''Warning ! Dilarang ngeflame di fic saya. Hey, ayolah. Ane udah bosan dengan flame yang banyak terpampang di kolom review. Yah.. Walaupun cuma bilang ''fic anda bagus'' itu aja udah seneng, walau ngereview cuma setengah hati. Hahay.''

''Hmm.. Boleh-boleh saja kalau kalian mau nge-flame fic saya, tapi jangan di sini, mending d wa aja ne. 0822 4844 6764. Silahkan..hm. Bagi yang minat nyata sesuatu seperti kapan update nya, siapa aja pairnya, dan lainnya, biar cepat terjawab. Yah walau pun saya tidak On setiap hari.''

''Bukannya saya melarang ngeflame di sini, boleh-boleh saja sih, hanya saja...ee..ya gitu deh pokoknya. Ok, lupakan.''

''Dan sepertinya di chapter ini yang paling banyak flame, coba saja lihat kedepannya. Kenapa saya bilang begitu ? Itu di karenakan saya membuat fic lemon, padahal alurnya belum terlalu jelas. Sekali lagi maaf minna.''

''Baiklah, review selanjutnya. Review ini dari akrom azjh. Shikamaru, tolong bacakan.'' kata Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.

Krikkrik krikkrik

''Zzzz''

Dong

Entah saking malasnya atau ngantuknya, Shikamaru tertidur dan seluruh peserta sweatdrop masal dibuat.

''BANGUN, SHIKA !'' teriak Naruto yang selesai dari sweatdropnya.

''Ha ? Apa ? es doger ?'' kata Shikamaru celingak celinguk cari abang doger.

''Kenapa jadi es doger !? Baca tuh review !'' emosi Naruto nunjuk layar kebar.

''Ohh. Dari Uciha, isinya ''Mueheheh lemon~~ mueheheh #abaikan.''

''Thor bisa update kilat gak ? And next.''

''Owe dukung fic ini.''...'' Kata Shikamaru sebelum ingin tidur kembali, tapi sayangnya Naruto terlebih dahulu nabok kepala tuh nanas.

''Kau membaca review yang salah tau !'' kata Naruto.

''Hah~ Shikamaru, lebih baik kau tidur saja.'' kata Lio, dan Shikamaru pun langsung tidur dengan nyenyak.

''Baiklah. Terimakasih Uciha-san, anda telah mendukung fic saya. Dan sepertinya anda Lemon Lovers ya...hehe terlihat sekali oleh mata batin saya. Hehe..bercanda.''

''Sekali lagi terima kasih, dan jangan bosan untuk menunggu fic saya.''

''Kalau up kilat...sepertinya tidak bisa, karena saya sibuk dengan pekerjaan. Walau saya masih sekolah, tapi saya juga bekerja. Yah~ sebagai pelayan dan belajar jadi koki restoran tidak masalah, asal ada kegiatan. Soalnya kalau di rumah aku selalu bosan, seperti tidak mempunyai masa depan. Jadi maaf tidak bisa up cepat. Sekali lagi terima kasih.'' ucap Lio mengakhiri pemberitahuannya

''Gaara.'' panggil Lio.

Gaara yang tau maksud Lio membacakan review.

''Dari akrom azjh, isinya..'' Next thor.''

''Perasaan peerage Naruto jarang banget ngomong...tolong di perbaiki.''...'' kata Gaara.

''Terima kasih akrom azjh telah memberi kritikan. Ternyata anda sangat teliti ya. Peerage Naruto jarang bicara dikarenakan...ee..karena.. Ane bingung mau bikin percakapan seperti apa. Mungkin peerage Naruto akan banyak bicara waktu menyusun rencana mengalahkan Kokabiel.''

''Ok, next review..''

''Ini dari Fahzi Luchifer. Saudaranya Vali Lucifer mungkin ya, haha. Dan isi review-nya..''Apa gak masalah...soal harem dan pair kedepannya dibeberkan ?''

''Tidak masalah. Itupun agar para reader mengerti bahwa di fic ini haremnya bukan cuma loli doang. Saya bosan selalu diberi perranyaan 'kok isinya loli semua?'. Aku juga mau kasih tau buat para reader, dific ini saya lebih menampakkan loli terlebih dahulu, setelah itu baru yang bukan loli. Sekian dari saya.'' kata Lio menatap kamera yang ada disampingnya(kameraman-nya si Drago a.k.a temen Lio).

''Baiklah, minna, kita akhiri saja acara ''Balas review bersama chara NaruDxD'' kali ini. Kita lanjutkan lain kali. Saya Hashaka Lio pamit undur diri.''

Dan setelah pesan-pesan tersebut, ruangan telah kosong dengan tiba-tiba.