Chapter 15

Disclaimer :

-Naruto : Masashi Kishimoto

-High School DxD : Iciei Ishibumi

Rate : M

Warning : typo,abal,gaje,lime,lemon

Summary : Naruto Uzumaki, pahlawan Konoha yang hampir mengalahkan Kaguya. Tapi ia harus menggorbankan dirinya dan terjebak didimensi lain untuk selama-lamanya. Dengan kekuatannya yang tidak sengaja tersegel, bagaimana cara Naruto mendamaikan dimensi barunya bersama teman iblisnya ?

.

.

Duduk bersila di dalam derasnya air terjun, sesosok pemuda dengan tenang menukmati tubuhnya terguyur air yang dingin.

"Huff~" hembusan napas berat keluar dari mulut pemuda tadi dengan kedua matanya yang terbuka, menampakkan blue saffire yang menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Naruto-kun!" Dari kejauhan, terlihat sosok yang memiliki tubuh pendek tengah berteruak ke arah pemuda tadi.

Sedangkan yang merasa namanya terpanggil segera membuka matanya sedikit agar beberapa bulir air tidak masuk ke matanya. Tak butuh lima detik, pemuda yang diketahui bernama Uzumaki Naruto segera menghentikan kegiatannya dan berjalan dengan santai di atas air.

"Yo, Koneko-chan," sapa Naruto setelah sampai di pinggir sungai tempat dirinya melatih Koneko dulu. "Ada apa?" tanya Naruto dengan heran saat Koneko memanggilnya tadi.

"Tidak, hanya ingin memberitahumu makanan sudah siap!" seru Koneko dengan wajahnya yang bahagia.

"Ah! Begitu. Baiklah, aku juga mulai lapar," kata Naruto dengan tangan nengelus perutnya yang tidak terhalang pakaian atas.

"Kalau begitu ayo kita makan Naruto-kun. Fuu-chan dan Rukia-chan juga sudah menunggu di sana."

Naruto mengangguk mendengar tuturan Koneko. Kemudian mereka pergi ke arah tujuan mereka yang mana Ichigo dan kawan-kawan sudah menyiapkan makanan.

Sebenarnya mereka pergi ke hutan ini hanya untuk pergi berpiknik dan menghilangkan rasa bosan di rumah. Apa lagi di TV tidak ada acara yang menaruk untuk ditonton.

Tak butuh waktu kama, akhirnya Naruto dan Koneko sampai di sebuah tempat yang terdapat empat buah tenda dan sebuah alas besar untuk mereka duduk dan sebagai tempat makan.

"Kau dari mana saja, Naruto?" Seorang pemuda berambut pirang dengan wajah tampan+cantiknya bertanya kepada Naruto yang baru datang.

"Ahahaha... Maaf, Kiba. Tadi aku sedikit menyerap energi Senjutsu." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil memamerkan senyum lima jari andalannya

"Yahh... Baiklah. Karena semua sudah berkumpul, mari kita menyantap hidangannya!" seru Ichigo yang langsung menyomot daging panggang yang ada di depannya.

"Ayoo!" Fuu juga ikut memakan makanan yang ada di dekatnya. "Hmm! Oishi!" kagum Fuu dengan mata berbinar. Kemudian Fuu menatap Rukia dan berkata, "Rukia-chan, masakanmu benar-benar enak!"

"Ahaha... Arigatou, Fuu-chan," kata Rukia dengan wajah senang karena masakannya tidak mengecewakan.

"Naruto, sebaiknya kau cepat sebelum makannya habis dimakan oleh mereka," kata Ichigo dengan sedikit candaan di dalam katanya.

Sedangkan Naruto hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi para peeragenya, kemudian ia masuk ke dalam salah satu tenda untuk mengganti pakaiannya yang basah. Tak berselang lama, Naruto telah kembali dengan pakaian santainya.

"Yosh! Mari makan, ttebayou!" seru Naruto setelah duduk di samping Koneko yang tengah memakan daging panggang yang Ichigo dan Shikamaru panggang.

"Emck.., emck.., slurp~.., hmm... Oishi.. Emck," Sebuah suara asing terdengar di telinga teman-temannya, dan ternyata suara aneh tersebut berasal dari Shikamaru.

Sedangkan yang lain sweatdrop melihat Shikamaru makan sop daging dengan lahapnya. Bahkan Shikamaru kembali memasukkan beberapa daging ke dalam mulutnya yang masih penuh dengan daging yang belum dia telan.

"Pelan-pelan makannya, Shikamaru," saran Gaara yang memakan daging panggang dengan santai.

Shikamaru tidak mengindahkan perkataan Gaara dan terus makan dengan lahap. Namun, hal itu tidak berangsur lama sampai...

"Khough!"

... Dirinya tersedak.

Shikamaru yang panik segera meraih segelas air dan langsung menenggaknya hingga tandas.

"Pfffttt.. BuaHAHAHA!" Naruto yang melihat wajah panik Shikamaru tidak kuat menahan tawanya.

"Hahaha.. Wajahmu seperti orang mau mati, Shikamaru," kali ini sebuah tawa berasal dari seorang penyihir wanita bernama Megumin.

"Ck! Mendokusai," gumam Shikamaru sambil menatap perempuan di sampingnya.

Namun, tawa mereka harus terhenti saat mendengar sebuah suara yang menyita perhatian mereka.

"Ternyata sudah matang masakannya. Hoaaamm..," ucap seorang anak kecil berumur sekitar sembilan tahun yang memasang wajah kusutnya, serta uapan mulut lebar di akhir katanya.

"Kau sudah bangun, Kunou-chan?" tanya Naruto menatap Kunou yang berjalan ke arahnya dengan terseok-seok serta wajah mengantuk. Setelah Kunou sampai di dekat Naruto, Kunou segera duduk di pangkuan pemuda tersebut dengan kepala yang disenderkan ke dada Naruto.

"Yahh.. Begitulah, Naruto-nii. Karena suara berisik kalian, aku jadi terbangun," ucap Kunou seolah menyalahkan pemuda-pemudi tersebut.

"Ahaha.. Maaf, Kunou. Kami tidak berniat membangunkanmu," kata Rukia dengan wajah bersalah.

"Tidak apa-apa, Rukia-nee. Kalau begitu, aku mau tidur lagi." Kunou mencoba mengambil posisi senyaman mungkin di pangkuan Naruto dan bersiap tidur kembali. Namun, dirinya harus terganggu karena Naruto menggoyangkan tubuhnya.

"Kunou-chan, jangan tidur lagi. Kau harus cuci muka dulu, setelah itu makan," kata Naruto menatap Kunou yang hampir tertidur di pangkuannya.

"Nghh~.. Aku tidak nafsu makan, Nii-chan," tolak Kunou sambil menggeliat di pangkuan pemuda pirang tersebut.

"Tidak boleh begitu, Kunou-chan. Bagaimana pun kau harus mau makan, aku tidak mau kau sakit?" bujuk Naruto, namun, sepertinya Kunou tetap tidak mau makan.

"Nanti saja, Nii-chan. Kunou ngantuk."

"Walau Nii-chan suapi?" tanya Naruto yang berhasil membuat Kunou bangun dari duduknya.

"Baiklah, Nii-chan, suapi aku," kata Kunou yang sudah hilang wajah ngantuknya, dan tergantikan dengan wajah berseri-seri bagai senter 271557 Watt.

'Cepat sekali berubahnya.' Sedangkan yang lain hanya swatdrop dengan perubahan wajah Kunou.

Dan kemuduan mereka melanjutkan makan dengan beberapa candaan dari Naruto dan Fuu, serta Shikamaru yang berulang kali tersedak makanan.

.

.

Seorang pemuda berambut coklat duduk termenung di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan dengan cahaya yang minim, seraya memandang segelas teh di depannya.

'Sebenarnya apa impianku?' batin pemuda tersebut mengingat percakapan singkat bersama pemuda yang ia benci tadi malam.

"Issei-kun, kau kenapa?" Suara merdu memasuki gendang telinga pemuda tadi. "Dari tadi pagi kau terlihat murung," lanjutnya menatap khawatir Issei.

"Tidak ada apa-apa, Bochou, hanya teringat sesuatu," ucap Issei mencoba tersenyum ke arah wanita berambut merah, Rias Geremory.

"Begitu." Rias hanya mengangguk sebelum menatap Queen-nya. "Akeno, apa kau melihat Kiba dan Koneko?" tanya Rias mendapat gelengan dari Akeno.

"Tidak, Bochou. Aku tidak melihat mereka."

"Bagaimana denganmu, Asia? Apa kau melihat mereka?" Rias menatap Asia yang sedikit tersentak saat Rias memanggilnya.

"A.. Ano.., tadi Koneko-chan dan Kiba-kun berkata mereka akan Champing bersama teman mereka," ucap Asia mengingat Kiba memintanya untuk menyampaikan pesan kepada Rias.

"Teman? Siapa?" tanya Rias mendapat hendikan bahu dari Akeno dan gelengan dari Asia.

"Yahh... Baiklah, aku akan menanyakan kepada mereka jika mereka sudah kembali." Rias kembali menatap Issei seraya menyerahkan selembar kertas. "Issei-kun, kau ada pekerjaan."

Issei yang sudah tahu maksud Rias, segera menegakkan tubuhnya sebelum mengambil kertas tadi dengan lesu. Kemudian Issei berjalan keluar untuk menuju ke rumah klien-nya.

"Ada yang aneh dengan Issei. Menurutmu dia kenapa, Akeno?" tanya Rias yang masih menatap kepergian Issei.

"Mungkin ditolak wanita, Bochou. Fufufufu..." canda Akeno di akhiri dengan tawa khasnya.

.

.

Waktu di ponsel menunjukkan pukul 09.47, sedangkan Naruto dan yang lainnya sedang rebahan di atas rumput dengan tampang bosan.

"Hey, Ichigo, apa kau tidak ada sesuatu untuk menghilangkan jenuh?" Pertanyaan terlontar dari Fuu yang kini menunjukkan raut ngantuk.

"Tidak ada," balas Ichigo sebelum kesunyian kembali terjadi. Namun, kesunyian yang sempat melanda tidak berlangsung lama hingga Naruto bangun dari tidurnya dengan bola lampu yang menyala di atas kepalanya.

"Aha! Aku ada ide. Bagaimana kalau kita latih kekuatan kita?" usul Naruto membuat yang lain tertarik, kecuali Shikamaru yang sudah pergi ke alam mimpi.

"Hmm... Bukan ide yang buruk." Gaara mengangguk, kemudian berdiri dari rebahannya diikuti yang lain sebelum berjalan mencari lahan yang pas untuk latihan.

.

.

Entah kenapa dan bagaimana mereka(Naruto dkk) menemukan sebuah tempat yang lumayan luas dan tidak terlalu banyak ditumbuhi pohon, sehinggat tempat tersebut pas untuk latihan mereka.

"Baiklah! Kita sudah menemukan tempat yang cocok, jadi mari kita bagi siapa saja lawannya." Naruto menatap satu-satu peeragenya, kemudian ia memanggil Rukia dan Ichigo. "Rukia, Ichigo. Untuk pembukaan, aku mempersilahkan kalian untuk duel terlebih dahulu karena kalian sesama pengguna pedang, atau yang di dunia Shinobi disebut Kenjutsu."

"Naruto, boleh 'kah kami tidak menggunakan sihir kami? Aku sangat lelah saat ini, jadi malas untuk menggunakan kekuatan. Lagi pula aku dan Rukia baru saja melakukan 'itu' tadi malam, pasti Rukia masih kelah," ucap Ichigo tanpa beban sehingga membuat Rukia memerah wajahnya. Dalam hati Rukia, ia ingin menjitak kepala Ichigo.

"Hahh~.. Baiklah, tapi jangan ada yang saling membunuh." Naruto tidak mempermasalahkan alasan Ichigo. Naruto pun sudah tahu kekuatan Rukia dan Ichigo beberapa minggu yang lalu saat latihan di dimensi buatan Naruto. "Pertarungan akan segera di mulai," ucap Naruto mendapat anggukan dari UchiRuki.

"Baik!" jawab Rukia dan Ichigo sebelum mereka berjalan ke arah arena dan saling menjaga jarak.

"Baiklah! Peraturannya sederhana, jangan ada yang saling membunuh karena ini hanya latihan." Perkataan Naruto dibalas anggukan paham dari Ichigo dan Rukia yang sudah siap dengan pedang mereka. "Bersiap!" Jeda Naruto beberapa saat, kemudian berteriak, "Hajime!"

Dengan cepat, Rukia dan Ichigo melesat ke depan bersama katana yang masih tersarung di pinggang.

Trank

Suara nyaring terdengar setelah Ichigo dan Rukia saling beradu katana yang sudah mereka cabut dari sarungnya, kemudian mereka melompat ke belakang menjauhi lawan agar tidak mendapat serangan dadakan.

Rukia yang sudah menapakkan kaki di atas tanah, segera berlari ke arah Ichigo yang hanya berdiri bersiap menahan serangan Rukia. Dengan gesit, Ichigo berpindah tempat ke belakang tubuh Rukia sebelum berniat menebas punggung gadis tersebut.

Merasa dalam bahaya, Rukia sedikit memajukan tubuhnya ke depan sehingga ujung katana Ichigo hanya mengenai pakaian belakang Rukia.

Cres

"Ahk!" Ichigo sedikit terkejut mengingat pakaian yang Rukia kenakan adalah pakaian kesayangan wanita itu.

Sedangkan Rukia hanya membelakangi Ichigo sambil menundukkan kepalanya. Jangan lupakan aura mengerikan yang terpancar dari tubuh Rukia.

"I-CHI-GO." Entah sejak kapan suasana semakin buruk bagi Ichigo.

Glek

Ichigo hanya dapat menelan ludah dengan kasar. 'Kami-sama, semoga engkau memberikan hari esok buatku.'

Dan pertarungan Ichigo dan Rukia di akhiri dengan Ichigo yang pingsan kelelahan karena Rukia menyerangnya bertubu-tubu.

Skip

"Baiklah, berikutnya Kiba dan Shikamaru."

Setelah perkataan dari Naruto, Shikamaru dan Kiba segera berjalan ke arah tengah arena.

"Pertandingan akan segera dimulai," kata Naruto mendapat anggukan Kiba, sedangkan Shikamaru hanya menggumamkan kosa kata andalannya, 'mendokusai'. "Bersiap... Hajime!"

Dari atas Kiba, muncul lingkaran sihir yang menjatuhkan sebuah pedang dan segera ditangkap oleh Kiba.

"Ayo, Shikamaru, kita menari," ucap Kiba sambil tersenyum dengan mata terpejam.

"Hooaamm... Mendokusai. Apa tidak bisa lain kali? Aku mau tidur." Shikamaru menguap dengan lebar membuat Naruto dan yang lain swatdrop.

"Aku inginnya seperti itu, tapi aku sudah mengeluarkan pedangku, jadi tidak bisa ditunda."

"Baiklah, baiklah." Akhrinya Shikamaru mengalah sebelum memasang kuda-kuda.

Kiba tersenyum mendengarnya, kemudian memasang wajah serius. Sedetik kemudian, ia sudah berada di belakang Shikamaru berkat kecepatan dirinya sebagai Knight. Kiba segera mengayunkan pedangkan, namun berhasil ditahan dengan sebuah Kunai Shikamaru.

Naruto yang melihat kecepatan sahabatnya hanya tersenyum simpul. 'Kecepatannya luar biasa, namun itu masih belum cepat dibandingkan dengan Raikage,' batin Naruto mengobservasi kemampuan Kiba.

Melihat serangannya ditahan, Kiba mendorong pedangnya yang senantiasa ditahan oleh Shikamaru. Tak ingin terus bertahan, Shikamaru mengambil satu kunai lagi dengan tangan kirinya dan ia ayunkan ke perut Kiba.

Ting

Kiba membuat lingkaran sihir di perutnya sebagai perisai agar tidak terkena serangan Shikamaru, kemudian dari lingkaran sihir tadi, keluar tiga buah pisau yang mengarah kepada Shikamaru.

Poof

Jleb

Tiga pisau Kiba tidak mengenai Shikamaru, melainkan hanya mengenai sebatang kayu yang tiba-tiba muncul di depannya.

"Hah?!" Kiba terkejut Shikamaru tidak ada di depannya lagi.

"Kagemane no Jutsu." Sebuah suara terdengar dari arah belakang Kiba.

Kiba yang ingin berpaling ke arah belakang, merasakan tubuhnya tidak dapat bergerak dan hanya berdiam dengan posisi yang masih sama.

"Kagemane no Jutsu, sukses. Mendokusai," seru Shikamaru di akhiri dengan 'Mendokusai' andalannya.

"Ok, cukup!" kata Naruto membuat Shikamaru melepaskan jutsu-nya. "Pertandingan berikutnya, Aku dan Mrgumin."

"Yosh!" teriak Megumin sambil mengangkat tongkatnya.

Naruto vs Megumin

Kini Naruto dan Megumin sudah bersiap di tengah lapangan.

Naruto menatap penyihir tersebut, sebelum membatin, 'Aku masih belum tahu kekuatan apa yang dimiliki Megumin. Mungkin aku bisa mencaritahu nanti.'

"Baiklah, pertandingan Naruto melawan Megumin!" seru Fuu seraya menatap kedua insan yang saling berhadapan dalam posisi yang cukup jauh. "Bersiap..." Fuu menjeda perkataannya, sebelum berteriak, " Hajime!"

Krikkrik.., krikkrik

Fuu dan yang lain swatdrop saat Naruto dan Megumin tak kunjung bergerak atau menunjukan perlawanan dan hanya berdiam di tempat.

"Kenapa kalian hanya diam saja?!" Ichigo yang sudah mulai bosan dengan acara diam-diri tersebut, mulai bosan.

Naruto melirik Ichigo sesaat, sebelum menguap. "Hoaaamm.. Mendokusai," gumam Naruto mengikuti trademark Shikamaru.

"Baiklah, Naruto. Karena kau sama sekali tidak melawan, maka aku yang pertama!" Megumun mengarahkan tongkatnya ke arah Naruto, sebelum mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun yang asik membaca mantra.

Naruto dan yang lainnya menaikkan alis bingung sebelum membulatkan matanya.

"Rasakan! Explotion!"

KBOOOOMMM

Ledakan besar terjadi setelah Megumin melepas kekuatannya.

Tap!

Untunglah Naruto dan yang lain segera berpindah ke tempat yang sedikit jauh dari area ledakan.

"Apa itu tadi?" tanya Ichigo dengan keringat dingin di belakang kepalanya.

"Dahsyat," gumam Fuu kagum.

Asap membumbung tinggi, sebelum menghilang secara perlahan, menampakkan Megumin yang terbaring lemas di atas tanah.

"Lah!" Kini kekaguman Fuu hilang tergantikan oleh sweatdrop saat melihat Megumin pingsan.

Dengan terpaksa, Naruto menghampiri Megumin dan membawanya kembali ke tenda perkemahan.

SKIP

Rumah Naruto, 14.17

Di dalam sebuah rumah yang cukup besar, terdapat berbagai makluk yang melakukan kegiatan masing-masing. Salah satu kegiatan mereka yaitu menonton TV, itulah yang dilakukan Naruto, Koneko dan Kunou.

" Ck! Tidak ada acara yang bagus." Kunou terus mengganti-ganti channel sambil meracau tidak jelas, bahkan ia tak peduli sudah berulang kali ia mengecek channel yang sama.

"Yahh... Begitulah, Kunou-chan, tidak ada yang menarik acaranya," ucap Naruto menimpali.

Koneko yang bersandar di bahu Naruto, tidak berkomentar apa pun tentang acara TV.

"Mou~.. Padahal sudah jam dua lewat, tapi acara itu masih belum mulai."

Naruto yang mendengar perkataan Kunou segera menolehkan kepalanya ke arah jam dinding. Dan benar saja, jam menunjukkan pukul 14.19. 'Gawat! Aku terlambat sembilan belas menit untuk bekerja!' batin Naruto menatap horor jam dinding.

"Eee... Ano.. Kunou-chan, Koneko-chan, aku mau keluar sebentar. Jika Ichigo atau yang lain bertanya, bilang bahwa aku sedang keluar dan akan pulang larut malam nanti."

"Memangnya Naruto-nii-chan ingin kemana? Pasti setiap siang hari, Nii-chan tidak ada di rumah," kata Kunou mendapat anggukan dari Koneko yang membenarkan perkataan Youkai kecil tersebut.

"Itu benar, Naruto-kun. Setiap siang hari kau kemana?" tanya Koneko dengan wajah penasaran. Bahkan ia sudah tidak menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.

"Ahaha... Hanya jalan-jalan." Naruto menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal seraya tertawa garing. Kemudian Naruto berdiri, dari sofa sebelum muncul lingkaran sihir di bawah kakinya. "Kalau begitu, aku berangkat. Ittekimasu."

"Itterasai," jawab Koneko dan Kunou bersamaan sebelum Naruto menghilang.

"Hahh... Aku jadi penasaran kemana Naruto-nii pergi. Bukan 'kah begitu, Koneko-nee?"

Koneko menggangguk membenarkan perkataan Kunou, kemudian meraih toples permen coklat yang terletak di meja. "Kau benar, Kunou-chan. Aku juga penasaran."

"Yahhh... Karena Naruto-nii sudah pergi dan aku bosan berdiam diri di rumah, sebaiknya aku pergi jalan-jalan." Kunou yang berniat beranjak dari duduknya, segera dihentikan oleh Koneko.

"Tunggu, Kunou-chan. Kau mau kemana?"

"Aku mau jalan-jalan Nee-chan. Aku bosan di rumah. Andai Naruto-nii masih ada di rumah, aku bisa bermain 'kuda-kudaan' dengan Naruto-nii-chan." Perkataan Kunou dengan sukses membuat wajah Koneko memerah.

"Eee.. Ba.. Baiklah, kau boleh pergi jalan-jalan." Koneko berbicara sambil tergagap karena fantasy liar terlintas di kepala Koneko.

Mendapat persetujuan dari Koneko, Kunou segera pergi meninggalkan Kunou yang masih duduk di sofa.

"Hahh~.. Sebaiknya aku ke belakang rumah bersama yang lain." Koneko yang berniat meninggalkan ruang tamu, harus mengurungkan niatnya saat suara bel rumah berbunyi.

Ting Tong

"Iya, sebentar!" Koneko berjalan ke arah pintu untuk membukanya.

Cklek

Pintu terbuka, menampakkan dua perempuan berambut hitam dan berkacamata. Yang membedakan hanya tinggi badannya.

"Oh! Kaichou. Ada apa sampai Kaichou datang siang hari begini?" tanya Naruto sambil menatap perempuan yang tingginya hampir sama dengan dirinya.

"Toujo-san, apa yang kau lakukan di rumah Uzumaki-san?" tanya sang Kaichou a.k.a Sitri Sona. (A/N: Sengaja Author buat terbalik namanya karena jika di Jepang, maka marga/klan dahulu yang disebutkan. Contoh : Uzumaki Naruto, Senju Tsunade, dll. Namun, jika di luar Jepang, maka nama dahulu yang di panggil. Contoh : Naruto Uzumaki, Tsunade Senju, dll).

"Secara teknis, ini juga rumahku, Kaichou." Perkataan Koneko segera dipahami oleh Sona dan Tsubaki.

"Kau tinggal di sini, Toujo-san?" tanya Tsubaki mendapat anggukan dari Koneko.

"Jadi, Kaichou, ada urusan apa Kaichou datang ke sini?"

"Aku ingin bertemu dengan, Uzumaki-san. Apa ada di rumah?"

"Tidak. Naruto-kun baru saja pergi. Jika urusan Kaichou sangat penting, bisa di sampaikan kepadaku atau teman-teman Naruto-kun yang lain."

Sona diam sebentar mendengar pertanyaan Koneko. 'Dia sudah berubah,' batin Sona menatap Koneko dengan pandangan datarnya. Koneko yang ia kenal sekarang berbeda jauh dari Koneko yang dulu. Dulu Koneko sangat irit bicara dan terkenal cuek oleh setiap orang. Namun, semenjak bertemu dengan Naruto, Koneko mulai sedikit terbuka dengan orang lain.

"Kaichou!"

Sona sedikit tersentak saat Tsubaki memanggil Sona yang diam.

"Ekhem! Baiklah. Jika Uzumaki-kun tidak ada, aku ingin bicara dengan kalian semua."

"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memanggil yang lain," kata Koneko mendapat anggukan dari Sona.

Skip

Koneko dan yang lainnya sudah berkumpul di ruang tamu, kecuali Naruto, Kunou, dan Megumin yang tengah terbaring di kamarnya.

"Jadi, Kaichou, apa yang ingin kau sampaikan?" Rukia memulai pembicaraan setelah sekian menit berdiam.

"Sebelumnya aku minta maaf jika kedatangan kami mengganggu aktifitas kalian."

"Tidak masalah. Tapi langsung saja ke intinya saja, Kaichou."

"Baiklah. Walau pun aku tidak berhak untuk tahu, tapi aku harap kalian mau memberitahuku. Aku ingin tahu siapa Uzumaki-san itu? Dan kenapa ia masih hidup setelah melepas jati dirinya sebagai iblis dari keluarga Geremory?" Setelah Sona mengatakan itu, suasana kembali sunyi, hingga Ichigo membuka suara.

"Baiklah, aku akan memberitahu mu tanpa ada kebohongan sedikit pun."

"Ichigo!" ucap Rukia sambil melirik Ichigo.

"Tidak apa-apa. Lagi pula Naruto tidak melarang." Ichigo tidak menatap Rukia, tapi menatap serius Sona dan Tsubaki.

"Jadi, bisa kau beritahu aku, Kurosaki-san?" pinta Sona dibalas anggukan oleh Ichigo.

"Naruto adalah seorang manusia yang lahir bukan dari dimensi ini, tapi ia lahir dari dimensi para Shinobi atau yang biasa di sebut Ninja. Shikamaru, Fuu, dan Gaara juga berasal dari sana." Ichigo menatap Gaara, Fuu dan Shikamaru, kemudian melanjutkan ceritanya. "Naruto itu seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal saat hari kelahiran Naruto." Ichigo mengambil jeda sedikit, kemudian melanjutkan lagi. "Saat Naruto masih balita, ia sering mengalami apa yang dinamakan hinahan, cacian, bahkan pukulan dan tususkan..."

Dan Ichigo menjelaskan semua tentang Naruto dari Naruto masih kecil hingga sekarang.

Skip

Sona yang sudah mendengar cerita dari Ichigo mengenai Naruto, hanya memandang diam segelas teh yang ada di depannya. "Apa kalian tidak berbohong?" Sona mengangkat wajahnya menatap Gaara, Ichigo, dan semua teman Naruto satu-satu.

"Tidak. Dia mengatakan yang sebenarnya," ucap Shikamaru didukung anggukan Gaara dan Fuu.

"Baiklah. Terima kasih atas informasinya. Dan maaf jika mengganggu. Kami permisi." Kemudian Sona dan Tsubaki berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah pintu untuk keluar dari rumah Naruto.

"Hahh... Semoga Naruto tidak marah mengetahui identitasnya terbongkar," gumam Rukia.

Dan kemudian, mereka melakukan aktifitasnya masing-masing.

.

.

"Mou~.. Aku terus berputar-putar kota Kuoh, tapi aku tidak menemukan Naruto-nii." Seorang anak kecil berumur sekitar 9 tahun berjalan menyusuri jalanan seraya meracau tak jelas, siapa lagi kalau bukan si Youkai Kecil, Kunou.

"Eh?!" Kunou terkejut saat sensor Youkai Kunou merasakan aura yang tidak asing baginya. Kemudan ia menunjukkan senyumannya. "Akhirnya ketemu!" teriak Kunou girang sambil berlari ke arah aura sosok tersebut dengan mengandalkan insting sensornya.

Akhirnya ia sampai di depan sebuah toko yang sedikit besar. Tanpa basa-basi, Kunou langsung masuk ke dalam. Namun, ia menghentikan langkahnya saat terdapat seorang wanita cantik yang menghadang jalannya.

"Hai, adik manis. Ada yang bisa Nee-chan bantu?" tanya wanita tadi dengan senyum ramahnya.

Kunou menatap wanita itu sesaat, merasa tidak ada niat jahat dari wanita di depannya, ia langsung mengutarakan niatnya ke sini. "Aku mencari seseorang."

"Seseorang? Siapa?" tanya wanita itu lagi.

"Naruto-nii-chan," kata Kunou.

"Naruto?" gumam wanita tetsebut sambil menaruh telunjuknya di dagu, kemudian ia berseru, "Aha! Uzumaki Naruto, ya?" tanya balik perempuan tersebut dan dibalas anggukan oleh Kunou.

"Iya"

"Ahhh.. Tunggu sebentar, akan saya panggilkan." Wanita tadi berniat pergi ke area dapur untuk memanggil Naruto, tapi niatnya terurungkan saat ia melihat Naruto menghampirinya dan Kunou.

"Nii-chan!" teriak Kunou sambil berlari ke arah Naruto dengan riang dan memeluk remaja tersebut.

"Kunou, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto ke arah Kunou yang ada di pelukannya.

"Mou~.. Habisnya di rumah Kunou merasa bosan, jadi Kunou ingin mencari Nii-chan," ujar Kunou setelah melepas pelukannya pada Naruto.

"Rupanya itu adikmu, ya, Naruto?"

Percakapan mereka berdua terhenti saat wanita yang tadi bertanya kepada Naruto.

"Ahaha.." Sedangkan Naruto hanya tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Nii-chan."

Naruto mengalihkan pendandannya ke arah Kunou saat Kunou memanggilnya. "Ya, Kunou?"

"Ayo kita jalan-jalan di taman, Nii-chan, Kunou bosan di rumah." Kunou menatap Naruto dengan berharap.

"Gomen, Kunou-chan. Sepertinya tidak bisa. Nii-chan harus bekerja, jadi Kunou-chan pulang ya," bujuk Naruto ke arah Kunou yang memasang wajah murung.

"Yang sabar ya, adik kecil. Kakakmu bekerja juga untuk kehidupanmu. Kau seharusnya bangga dan senang mempunyai kakak seperti Naruto," ucap wanita tadi menyemangati Kunou.

"Benarkah? Kalau begitu aku ingin ikut kerja agar Nii-chan tidak kelelahan bekerja." Perkataan Kunou membuat Naruto dan wanita tadi terkekeh pelan.

"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang salah?" gumam Kunou menatap polos Naruto dan wanita cantik tadi.

"Khekhekhe... Tidak, tidak. Hanya saja kau masih kecil, Kunou-chan. Tunggu dirimu sudah dewasa, baru kau boleh bekerja. Jadi untuk saat ini, biarkan Nii-chan yang bekerja, ya." Naruto mengusap kepala kecil Kunou, mencoba membuat Youkai kecil paham maksudnya.

"Baiklah, Nii-chan. Tapi Kunou akan di sini sampai Nii-chan selesai bekerja." Kunou menatap Naruto serius, seolah mengatakan tidak boleh ada bantahan.

"Hmm... Baiklah, tapi jangan membuat masalah, ya," kata Naruto mendapat tatapan ceria dari Kunou.

"Yeahh!" teriak Kunou.

"Tsuki-san, tolong jaga Kunou, ya. Bisa bahaya jika Kunou ikut ke dapur, nanti bisa kenapa-napa." pinta Naruto dibalas senyum lembut oleh wanita tadi yang bernama Tsuki.

"Tenang saja, Naruto-kun. Kunou akan aman dan nyaman bersamaku."

"Aku mengandalkanmu."

Akhirnya Naruto kembali ke dapur, sementara Kunou dan Tsuki kembali ke kasir.

.

.

Seorang iblis muda keturunan Sitri(Shitori) tengan duduk termenung di ruang Osis bersama Queen nya, Shinra Tsubaki.

"Apa benar yang mereka katakan, Sona."

"Entahlah, Tsubaki. Hahh~.. Aku pusing sendiri memikirkannya."

"Kenapa kau tidak menanyakan langsung kepada Naruto, Sona? Bukankah itu lebih baik?"

Sona hanya diam mendengar perkataan Tsubaki, kemudian menatap Tsubaki. "Mungkin aku akan bertanya besok saja.

"Terserah kau saja," ucap Tsubaki malas. "Sepertinya nanti malam kita harus membasmi Iblis Liar. Banyak warga yang kehilangan anggota keluarganya tanpa diketahui."

"Baiklah, akan aku kabari nanti anggota yang lain."

.

.

Kuoh, 21.47

Seorang lelaki remaja berjalan dengan gembira, di sampingnya juga terdapat seorang anak berusia sekitar 9 tahun. Mereka terlihat begitu menikmati perjalan, bahkan dinginnya udara malam sama sekali tidak mereka hiraukan.

"Ahahaha... Mana bisa, Nii-chan. Makan mie menggunakan hidung itu mustahil," ucap dan tawa anak tadi yang bernama Kunou, sambil menatap remaja yang bernama Naruto.

"Tentu saja bisa. Apalagi jika temanku Lee yang melakukannya. Hahahaha." Naruto juga tertawa terbahak-bahak saat membayangkan Rock Lee makan mie dengan hidung sambil mengacungkan jempol.

"HAHAHAHA..." Sebuah tawa menarik perhatian Naruto dan Kunou. "Lawakanmu lucu sekali, Naruto," ujar sosok yang sempat menarik perhatian Naruto dan Kunou.

"Sudah kuduga ternyata aura yang kurasakan tadi adalah dirimu,.. Ayumu." Naruto tersenyum ke arah sosok tadi yang memiliki sayap berwarna hitam seperti sayap gagak, Da-Tenshin.

"Kau masih mengingatku rupanya." Ayumu turun ke bawah setelah mengikuti Naruto dengan cara terbang.

"Tentu saja. Siapa yang bisa melupakan sosok yang kalah bermain Shogi denganku," canda Naruto membuat Ayumu tertawa.

(A/N: Ayumu pernah nongol di antara Chapter 1 sampai Chapter 5).

"Hahahaha... Aku datang untuk membalas kekalahanku waktu itu, jadi, mari kita bermain babak kedua." Ayumu menatap Naruto dengan tatapan percaya dirinya.

"Aku ingin sekali, tapi sepertinya tidak bisa. Sekarang sudah malam, aku harus menemani Kunou-chan pulang," tolak Naruto sambil menatap Kunou yang ada di sampingnya.

"Hoh.., Aku tidak tahu kau punya adik, Naruto," ucap Ayumu menatap Kunou.

"Aku bukan adik Naruto-nii, aku kekasih Naruto-nii."

"HEHEHE?!" Ayumu sempat diam sesaat sebelum berteriak dengan mata melotot.

"Ahahaha..." Sedangkan Naruto hanya tertawa canggung mendengar perkataan Kunou.

"Ternyata kau pedofil, Naruto."

"Bu-bukan! Aku hanya.. Argh! Sudahlah!" Naruto mengerang frustasi saat otaknya tidak mau memberi bantahan dari perkataan Ayumu.

"Hahaha.. Baiklah, baiklah. Jadi, kau tidak bisa bermain dengaku, ya," kata Ayumu dengan wajah yang dibuat-buat kecewa.

"Yahh... Begitulah. Gomen ne." Naruto menggaruk belakang kepalanya.

"Baiklah, tapi lain kali ayo kita main."

"Yap! Tentu." Naruto memberikan jempol ke arah Ayumu.

"Kalau begitu, aku pergi dulu menemui Azazel. Aku diperintahkan untuk menemaninya memancing," ujar Ayumu dengan wajah sengsara.

"Ahaha... Ternyata hobinya tidak pernah hilang," gumam Naruto dengan setets keringat dingin di belakang kepalanya.

"Baiklah, Naruto. Aku pergi dulu, jaa." Setelah mengatakan hal tersebut, Ayumu terbang kembali untuk menuju ke sebuah sungai yang biasa tempat Azazel memancing.

"Kunou, ayo kita pulang," ajak Naruto yang dibalas anggukan oleh Kunou.

Dan akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah.

.

.

Di sebuah ruang dimensi, terbanglah sesosok berambut putih panjang yang tengah menutup kedua matanya, dan satu mata di dahinya yang berwarna merah.

Kini kedua matanya yang tertutup, mulai terbuka, memperlihatkan pupil mata berwarna putih pucat.

"Tunggulah aku, Reinkarnasi Ashura."

.

.

Deg

"Kenapa, Nii-chan?" Kunou menatap Naruto yang berhenti tiba-tiba.

"Ahahaha... Ti-tidak ada apa-apa," ucap Naruto sambil tersenyum. "Baiklah, ayo kita lanjutkan jalan." Naruto kembali melangkahkan kaki sambil menggandeng tangan Kunou.

'Entah kenapa perasaanku tidak enak,' batin Naruto sambil menatap ke sekitar.

.

.

Kuoh Gakuen, 07.15

Dinginnya cuaca yang tidak bersahabat timbul di pagi hari. Beberapa orang tengah asik bergemul di balik selimut, tapi tidak bagi orang pekerja keras. Hal ini juga berlaku bagi siswa dan siswi sekolah Kuoh yang harus datang ke sekolah jika tidak ingin nilai mereka buruk.

Seperti biasa, Naruto dan peeragenya, serta Koneko berjalan dengan santai memasuki Kuoh Gakuen.

Suasana area sekolah begitu sepi. Murid-murid lebih memilih untuk meringkuk di dalam kelas untuk menghangatkan tubuh mereka.

"Naruto."

Sosok yang dipanggil Naruto tersentak saat salah satu temannya memanggil.

"Ada apa, Ichigo?" tanya Naruto menatao Ichigo yang menampakkan raut wajah khawatir.

"Kau dari tadi melamun. Apa ada masalah?" tanya Ichigo dibalas gelengan dari Naruto.

"Tidak, hanya sedikit pusing."

"Begitu."

Kemudian suasana kembali senyap, hanya terdengar langkah kaki mereka yang bersahut-sahutan. Tapi langkah mereka harus terhenti saat perempuan berkacamata menghadang mereka.

"Kaichou?" gumam Gaara menatap Sona yang ada di depan mereka.

"Uzumaki-kun, bisa kau ikut aku ke ruang Osis?" Sona menatap Naruto dengan wajah datarnya.

Naruto hanya mengangguk sebelum berjalan melewati teman-temannya diikuti Sona yang mengekor di belakang Naruto.

"Gaara, apa kau tahu apa yang terjadi dengan Naruto? Dari tadi malam ia terlihat memikirkan sesuatu."

"Aku juga tidak tahu." balas Gaar menanggapi kekhawatiran Ichigo.

"Begitu, ya. Hahh~.. Lebih baik kita segera ke kelas."

Mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas mereka masing-masing.

.

.

Pagi yang sial bagi Naruto. Duduk terdiam di ruang Osis dan ditatap intens oleh penghuni ruangan. Dirinya seolah tersangka kasus kejahatan di sekolah.

"Baiklah, Sona, apa yang kau inginkan dariku?" Naruto yang sudah bosan ditatap penuh selidik, mengeluarkan unek-uneknya.

"Aku hanya ingin tahu siapa dirimu."

Naruto memutar bola matanya bosan, sebelum berucap, "Aku Uzumaki Naruto. Pemuda berumur 17 tahun, kelas XI-A. Aku bekerja di-"

"Bukan itu yang kumaksud," kata Sona memotong perkataan Naruto.

"Lalu?"

Mata Sona menatap Naruto serius. "Aku ingin tahu jati dirimu."

"Huff~.." Naruto menghembuskan nafasnya, sebelum menatap Sona tak kalah serius. "Baiklah, aku tahu maksudmu. Tapi, sebelum itu, aku ingin kalian melihat mataku." Naruto memejamkan kedua matanya, kemudian kembali membuka mata, memperlihatkan pupil merah darah yang terdapat tiga tomoe.

Sring

Dalam sekejap, seluruh penghuni ruang Osis terdiam dengan pandangan kosong. Ternyata Naruto menggenjutsu Sona beserta peeragenya. Beberapa detik kemudian, Mata Naruto kembali normal, memperlihatkan pupil yang berwarna biru sebiru samudra.

"Jadi, kalian sudah melihat siapa diriku dan masa laluku 'kan?" Naruto melipat tangannya di depan dada.

Sona dan peeragenya memegang kepala mereka yang pusing karena menerima ingatan dari Naruto.

"Ekhem!" Sona berdeham sebentar sebelum melihat Naruto dengan wajah datarnya. "Apa aku bisa mem-"

"Jika kau tidak percaya, itu terserahmu saja, Sona. Yang pasti, aku sudah menunjukkan masa laluku padamu," ucap Naruto santai, kemudian berdiri dari duduknya. "Jika tidak ada hal yang ingin kau tanya lagi, aku permisi untuk kembali ke kelas." Naruto membalikkan badannya sebelum berlalu meninggalkan ruang Osis.

Setelah kepergian Naruto, Sona menatap seluruh raut wajah peeragenya. Ada yang menunjukkan ketakutan, bingung, murung, dan lainnya. Sejujurnya dirinya juga merasakan hal yang sama seperti peeragenya. Mengingat ingatan Naruto tentang Perang Dunia Shinobi keempat, membuat dirinya menggigil takut.

"Tsubaki, aku akan menemui Rias." Setelah mengatakan itu, Sona menghilang menggunakan lingkaran sihirnya.

Dan kini sisa iblis yang berada di ruangan hanya diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

.

.

T.B.C

Jum'at, 28 Juni 2019

Sebuah kamera dengan perlahan menyorot seorang pemuda berambut hitam degan dengan gaya jabrik. Rambutnya yang sedikit panjang dari beberapa bulan yang lalu, menambah kesan tampan pada sosok pemuda tersebut. Dengan baju T-Shirt dan celana Jeans yang melekat pada tubuhnya. Tak berapa lama, terdengan suara dari pemuda tadi.

"Konnichiwa! Jumpa lagi dengan saya Hashaka Lio yang merupakan seorang Author dari fanfic ini," ucap pemuda tersebut menatap kamera dengan wajah tenangnya.

"Tak terasa sudah hampir empat bulan saya menelantarkan fic yang satu ini. Bukan tanpa alasan saya tidak bisa update." Dengan wajah menyesal, pemuda yang bernama Lio memasang wajah sedih dan menyesal karena ia merasa menjadi Author gagal yang dengan mudahnya menelantarkan fic nya yang cantik rupawan(?).

"Sebenarnya Author ingin mengUpdate fanfic Tsuki( yang sebelumnya berjudul Watashi) terlebih dahulu. Awalnya begitu. Tapi tanpa perintah atau komando(?), SmartPhone Author rusak entah karena apa. Mungkin mesinnya rusak, atau ada beberapa komponen yang rusak, atau mungkin kurang Author manjakan(?)." Lio mencoba memberi sedikit bumbu lawakan yang akan membuat reader 'tertawa'.

"Yahh... Mungkin banyak tidak terima dengan alasan Author, tapi,.. Itulah nyatanya. Untunglah saya sudah bisa update karena... Ada teman yang meminjamkan ponselnya kepadaku. Namun, itu tidak gratis. Dia memang meminjamkan ponselnya padaku, tapi dengan syarat aku harus melanjutkan fic yang berjudul Kimochi," kata Lio menunduk lesu karena harus berimajinasi dengan fic laknat tersebut.

"Sebelumnya, Author mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin," kata Lio merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Walau pun Lebaran sudah lama berlalu, tidak ada salahnya 'kan meminta maaf dan memaafkan?"

"Baiklah, hanya itu yang dapat saya sampaikan dan Author minta pendapat tentang chapter ini. Tulis komentar kalian di kotak Review dan jangan lupa untuk yang belum memfavoritkan dan menfollow Author dan karya-karya Author yang lain, segera follow dan favoritkan ya, guy's! Dan terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan dari fic ini dan fic saya yang lain. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa! Jaa~"

Dan kemudian, kamera tersebut menjauh dari Lio dan menyorot puluhan bangku kosong di ruang rapat tersebut.