Chapter 15
Disclaimer :
-Naruto : Masashi Kishimoto
-High School DxD : Iciei Ishibumi
Rate : M
Adventure, Ecchi, Romance, School, Supernatural
Warning : typo,abal,gaje,ada lime & lemon(bukan buah)
Summary : Naruto Uzumaki, pahlawan Konoha yang hampir mengalahkan Kaguya. Tapi ia harus mengorbankan dirinya dan terjebak di dimensi lain untuk selama-lamanya. Dengan kekuatannya yang tidak sengaja tersegel, bagaimana cara Naruto mendamaikan dimensi barunya bersama teman iblisnya ?
.
.
Author not: "Sebelumnya telah author peringatkan dari awal bahwa fic ini mengandung unsur dewasa. Jadi, jika menemukan hal-hal yang bersifat ecchi dan mesum, jangan salahkan author..."
"Baiklah, maaf mengganggu aktifitas membacanya, dan mari kita lanjut ceritanya!!"
.
.
"Hahh~.," helaan napas panjang keluar dari mulut sang tokoh utama kita, Uzumaki Naruto.
Mungkin hari ini adalah hari yang tidak baik menurutnya. Pagi tadi ia diintrogasi habis-habisan oleh Sona. Yahh... Walau pun hanya beberapa pertanyaan, tapi ia terpaksa membongkar jati dirinya. Itu pun demi ketenangan dirinya agar tidak terus-menerus dihadang oleh Rias maupun Sona.
Dan kini ia hanya dapat duduk di bangkunya sambil menatap hujan yang turun dari langit. Merasa bosan dengan 'pekerjaannya', Naruto berniat memasuki alam bawah sadarnya sebelum sebuah suara memasuki telinganya.
"Naru-kun!"
Naruto menatap asal suara dan menemukan Koneko berjalan ke arahnya dengan sekotak bekal di tangannya.
"Ah,.. Koneko-chan." Naruto membenarkan posisi duduknya yang sebelumnya bertopang dagu.
Setelah Koneko berada di samping Naruto, ia langsung duduk di atas meja Naruto, memperlihatkan paha mulus yang bisa membuat si mesum Issei mati bahagia.
"Hahh~.. Karena hujan, kita tidak bisa makan di atap," kata Koneko kecewa.
"Jangan menyalahkan hujan, Koneko-chan. Hujan juga anugerah dari Kami-sama."
Nyett~~
Setelah mengatakan hal tersebut, mendadak kepala Naruto menjadi sakit sampai ia harus terdunduk. "Ugh! Ittai... Sakit, ttebayou," gumam Naruto yang masih mencengkram kepalanya.
"Kau itu Akuma, Naruto-kun. Tidak bisa menyebutkan dan menyentuh benda yang suci," kata Koneko menatap Naruto dengan prihatin.
"Ahahaha.. Aku sempat lupa, Koneko-chan."
"Hahh~" Koneko hanya memutar bola matanya. "Karena jam istirahat hanya tinggal lima belas menit lagi, sebaiknya kita cepat makan, Naruto." Koneko membuka kota bekal berbentuk kepala kucing yang sempat ia bawa tadi. Setelah ia membukanya, ia menyumpit sebuah sushi nasi yang terlilit rumput laut dan menyodorkan kepada Naruto seraya bergumam, "Aaa.."
"Aaa.." Naruto mengikuti Koneko sebelum sushi tadi masuk ke mulutnya dan mengunyahnya.
"Hmm! Oishi ne, Koneko-chan," decak kagum Naruto sambil menatap Koneko dengan mata berbinar.
Koneko hanya terkiki geli sebelum Naruto mengambil sumpit yang ia pegang. "Sekarang giliranmu, Neko-chan." Naruto melakukan hal sama seperti Koneko. Menyumpit salah satu sushi dan menyodorkannya kepada Koneko.
Dan terjadilah aksi suap-menyuap diiringan pemandangan kelas dan derasnya hujan.
"Eh!?"
Naruto dan Koneko menghentikan kegiatan mereka saat sebuah suara menarik perhatian dua insan ini.
Di ambang pitu kelas, berdiri seorang manusia.., ralat.., seorang Akuma yang memiliki surai Kuning dan seragam Kuoh Gakuen.
"Asia? Ada apa kau kemari?" tanya Naruto yang mengenal sosok tersebut.
"Kau mengenalnya, Naruto?" Koneko menyipitkan mata ke arah Naruto.
"Bukannya kau sudah melihat masa laluku, Koneko? Aku yang menyelamatkan Asia," kata Naruto mendapat gumaman dari Koneko.
"Jadi, Asia, ada apa kau kesini?" tanya Naruto lagi.
"Se-sebenarnya a-ku kesini u-untuk menyampaikan pesan da-dari Bochou," kata Asia dengan gugup. Dan hal itu membuat Naruto sweatdrop dan teringat dengan Hinata. "Bo-Bochou memintaku untuk me-menyuruhmu datang ke ruang Penelitian Ilmu Gaib."
"Ah! Baiklah. Nanti setelah pulang sekolah, aku akan kesana," kata Naruto sambil tersenyum manis ke arah Asia, dan hal itu mendapat tatapan tidak suka dari Koneko.
"A-a-a-ano... Ka-kalau begitu, aku pergi dulu, Na-Naruto-san." Asia segera berlalu meninggalkan ambang pitu. Melihat senyum Naruto, membuat wajahnya memerah.
"Apa-apaan senyum itu," gumam Koneko yang masih dapat didengar oleh Naruto.
"Kau cemburu, Koneko?" tanya Naruto menatap Koneko yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hmph!"
Naruto tersenyum sesaat sebelum menarik kepala Koneko ke arahnya dan mencium bibir Nekomata tersebut.
"Hmmhh..," gumam Koneko di sela ciuman mereka. Kemudian, Naruto menjauhkan wajahnya dari Koneko.
"Baiklah! Ayo sambung makannya, Neko-chan. Tinggal sedikit lagi tuh." Naruto menunjuk sisa sushi di dalam kotak bekal Koneko.
Kurang dari 7 menit, mereka telah menghabiskan bekal mereka. Karena sebentar lagi bel tanda istirahat telah usai akan berbunyi, Koneko memutuskan untuk pergi ke kelasnya.
.
.
Hujan telah reda sekitar 2 jam yang lalu. Kini, Naruto dan Koneko telah berdiri di depan sebuah pintu tua. Yap! Sekarang meraka berada di depan ruang ORC.
Tok tok tok
"Siapa?" tanya sebuah suara dari dalam setelah Naruto mengetuk pintu.
"Ini aku,.. Naruto." kata Naruto dengan sedikit keras.
"Masuk."
Setelah mendapat izin, Naruto dan Koneko masuk ke dalam. Di sana ia melihat heberapa makhluk yang kini menatapnya. Walau minim cahaya, tapi Naruto tahu siapa mereka.
"Yo, Naruto," sapa salah satu dari mereka yang memiliki surai kuning dan wajahnya yang tampan.
"Yo, Kiba," sapa balik Naruto sambil tersenyum, kemudian kembali memasang wajah stoick nya.
"Duduklah," ujar seorang Akuma bersurai merah, Geremory Rias.
Naruto langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Rias. Naruto telah duduk, dan tanpa aba-aba, Koneko langsung duduk di pangkuan Naruto sambil menyenderkan punggungnya di dada bidang Naruto.
Alasan kenapa Koneko duduk di pangkuan Naruto karena Akeno menatap Naruto dengan pandangan penuh nafsu.
"Ara, ara... Ternyata aku sudah tertinggal satu langkah darimu, Koneko... Fufufu," kata Akeno diakhiri dengan tawa khasnya.
"Bukan satu langkah, Senpai, tapi sepuluh," kata Koneko dengan wajah datar seperti biasa.
"Fufufufu~"
"Sudah cukup, Akeno." Rias memejamkan matanya sambil memijit batang hidungnya. Ia tak habis pikir dengan tingkah Queennya yang suka menggoda lelaki.
"Jadi, Geremory-san, ada gerangan apa sampai Akuma cacat sepertiku di undang oleh Akuma kelas bangsawan?" tanya Naruto dan sedikit sindiran yang ia ajukan kepada Rias. Namun, sepertinya Rias tidak paham dengan sindirian Naruto.
"Aku memanggilmu kesini untuk menanyakan beberapa hal padamu." Perkataan Rias mendapat decakan malas dari Naruto.
"Ck! Mendokusai. Bukan 'kah kau sudah berjanji tidak akan memanggilku lagi hanya untuk menjelaskan jati diriku." Naruto menatap Rias malas, kemudian Naruto memeluk Koneko untuk menghilangkan bosannya.
"Iya itu benar, tapi kali ini bukan keinginanku," ucap Rias yang masih menatap Naruto yang memeluk Koneko.
Naruto mengangkat salah satu alisnya seolah berkata, 'siapa?'
"Jika kau ingin tahu, tunggulah beberapa saat lagi. Issei-kun sedang menjemputnya," kata Rias mendapat anggukan pelan dari Naruto.
Dari arah belakang Rias, muncul Asia yang sedang membawa nampan berisi beberapa gelas dengan hati-hati.
"Pelan,.. Pelan,.. Pelan,.." gumam Asia sambil berjalan ke arah meja. Dan hal itu mendapat tatap sweatdrop dari semuanya, termasuk Koneko.
Satu menit berlalu, dan Asia baru saja meletakkan gelasnya di depan Naruto dan Rias. "Si-silah diminum," kata Asia dengan gugup.
"Terima kasih Asia-chan." Naruto meengambil gelas berisi teh yang Asia sajikan tadi, kemudian meminumnya. "Hmmh... Apa ini pertama kalinya kau membuat teh, Asia-chan?" tanya Naruto setelah meletakkan gelasnya.
"Ah! Ha'i! Ini pertama kalinya untukku," gumam Asia sambil menundukkan kepala. "A-apakah tidak enak, Na-Naruto-san?"
Naruto tersenyum ke arah Asia. "Enak kok, hampir sama seperti buatan Akeno-chan." Perkataan Naruto sukses membuat wajah Asia sedikit memerah.
"A-arigatou, Naruto-san," kata Asia sambil menundukkan kepala.
"Ara, ara... Fufufu.. Kau pintar merayu, Naruto-kun," kata Akeno dengan nada menggoda. Naruto hanya sedikit tertawa kecil
SIINNGG
Sebuah lingkaran sihir muncul di samping Rias, tak berapa lama muncullah dua Akuma klan Sitri/Shitori.
"Akhirnya kau datang juga, Sona." Rias menatap kedua orang yang baru datang, Sona dan Tsubaki.
Sona hanya diam sambil menatap Naruto yang sedang memangku Koneko, kemudian menatap Rias. "Hm. Ya, aku sudah datang." Sona memandang tidak suka ke depan.
"Silahkan duduk, Sona, Tsubaki."
Sona dan Tsubaki segera duduk setelah mendapat izin dari Rias, kemudian menatap Naruto serus.
"Naruto."
Merasa dirinya dipanggil, Naruto menatap Sona. "Ya, Sona-chan."
Sona diam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku ingin bertanya padamu, apa kau Shinobi?"
"Yap." Naruto mengangguk, sebelum menatap Sona. "Bukankah tadi pagi sudah aku kasih ingatan masa laluku? Apa belum cukup?"
"Hanya memas-"
BRAK
Pintu ruangan terbuka secara paksa, menarik perhatian semua orang. Sedangkan sang pelaku hanya membukuk dengan kedua tangan yang ia letakkan di lutut.
"Hahh.. Hahh.. Hahh.. Kaichou... Hah.. Hah.. Ka-kau meninggalkanku," ujar sang pelaku pendobrak dengan napas tersengkal-sengkal. Sepertinya ia baru saja lari.
Sona hanya diam melihat Issei memasuki ruangan, sampai Issei melihat Koneko yang duduk di pangkuan Naruto.
"HAAAHHH! TIDAAAAAAAKK!" teriak Issei mendramatis keadaan. "Kenapa.. Hiks.. Kenapa, Koneko-chan.. Bukan kah kau calon ha-"
"Aku tidak sudi."
Jderrr
Perkataan Koneko yang dingin sukses membuat Issei pundung di sudut ruangan dengan aura suram di sekitar tubuhnya, sedangkan yang lain hanya sweatdrop, kecuali Sona dan Koneko.
"Lupakan saja kejadian absurd tadi," kata Sona kembali menatap Naruto. "Aku ingin tahu apa tujuanmu, Naruto. Apa kau ingin menciptakan peperangan? Kau ingin menghancurkan dunia atau kau ing-"
"Perdamaian. Aku ingin menciptakan perdamaian," kata Naruto memotong perkataannya. Kemudian Naruto menundukkan pelanyan sedih. "Aku bosan selalu melihat pertempuran dimana-mana. Aku ingin.. Aku ingin menciptakan perdamaian," ucap Naruto lirih. Ia teringat saat dirinya tidak pernah mendapat ketenangan.
"Walau hanya sesaat.. Aku ingin merasakan apa itu kedamaian.. Hiks.. Tidak ada pembunuhan, tidak a.. Hiks.. Tidak ada pembantaian.. Aku ingin tenang," Terlihat sungai kecil menuruni kedua mata Naruto. Ia tumpahkan semua emosinya. Ia bahkan membiarkan Koneko memeluknya erat.
"Andai semua itu ada... Aku ingin mendapatkannya," kata Naruto mengusap sungai yang ada di pipinya, dab melepas pelukan Koneko. "Baiklah, Neko-chan. Ayo kita pulang. Kita sudah selesai di sini." Naruto menurunkan Koneko dari pangkuannya, kemudian berdiri dari duduknya, Naruto dan Koneko berjalan keluar ruangan tanpa meminta izin dari Rias.
Sona dan Rias hanya diam terksima dengan ucapan Naruto tadi. Dapat mereka lihat segelintir rasa kepedihan pada sorot mata Naruto. Sorot yang menggambarkan seberapa kejam hidup yang ia jalani.
Mereka hanya larut dalam kesunyian yang berjalan dalam waktu yang lama, hingga pintu terbuka kembali, memperlihatkan Naruto dan Koneko kembali masuk.
"Ano... Tasku tertinggal di sofa," kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebelum Naruto menyentuh tas miliknya, sebuah lingkaran dengan lambang burung Phenex muncul di sertai kobaran api.
SIINNG., BRUSS~
"Ahhh~.. Sudah lama aku tidak datang ke bumi." kata sosok tersebut yang memiliki surai kuning, dan wajahnya yang terdapat keriput seperti om-om.
Kemudian, muncul juga lingkaran sihir berwarna putih, memunculkan seorang perempuan berambut silver.
"Riser.., Grafia-nee-sama," gumam Rias menatap kedua sosok tadi. Dirinya sudah berdiri dari duduknya.
"Hai, Rias Hime," sapa pemuda pirang tadi, Raiser.
"Halo, Rias." Kali ini giliran perempuan bersurai putih/silver, Grayfia.
Riser mendekat ke arah Rias, mencoba memeluk Akuma merah tersebut. "Kemarilah, Sayang," kata Raiser.
"Enyahlah dariku, Raiser." Rias mundur satu langkah, menjauh dari Raiser. "Mau apa kau datang ke sini?"
"Tentu saja untuk mengurus pernikahan kita." Raiser menunjukkan seringai di wajahnya.
"Grafia-nee-sama?!" Rias menatap Grayfia dengan pandangan menuntut jawab.
"Benar apa yang di katakan Phenex-ama, Rias. Kalian sudah lama bertunangan, jadi sudah saatnya ka-"
"Aku sudah bilang 'kan, aku tidak mau di jodohkan dengan orang ini!" sungut Rias menunjuk wajah Raiser yang keriput.
Raiser yang sudah emosi karena Rias tidak mau menikah dengannya, menyambar tangan Rias dan menggenggamnya. "Kau harus mau menikah denganku, Rias. Tidak ada yang bisa menolak perintahku. Bahkan dewa sekali pun."
'Heh! Ternyata dirinya angkuh, dan mudah terpancing emosi," batin Naruto mengobservasi Raiser.
Issei yang melihat Bouchou nya di genggam oleh Raiser, mulai menatap Raiser dengan tatapan marah. "Lepaskan Rias-chan!"
"Hoohh.. Ada Akuma rendahan ternyata." Raiser menatap Issei sinis.
"Cih! Ddraig!" Di tangan kiri Issei, muncul sebuah sarung tangan mekanik berwarna merah. "Lepaskan Bouchou atau kau akan tahu akibatnya," ancam Issei.
"Heh! Kau ingin mela-"
"Ck! Aku bosan melihat drama kalian." Perkataan Naruto memotong ucapan Raoser dan sukses menarik perhatian semua makhluk yang ada di ruangan. "Baiklah, Geremory-san. Karena urusanku di sini sudah selesai, aku akan pergi." Naruto mengambil tasnya dan berjalan menjauh, tapi langkahnya terhenti saat Raiser memanggilnya.
"Hei, kau! Berani sekali Ningen rendahan sepertimu memotong perkataanku," kata Raiser degan urat kepala yang menonjol.
"Begitukah? Kalau begitu, aku minta maaf, Oji-san," kata Naruto membuat yang lain sweatdrop, kecuali Raiser yang langsung mengeluarkan api di tangannya.
"Beraninya kau! RASAKAN!" Raiser melemparkan bola api ke arah Naruto.
Naruto merentangkan tangan kanannya kedepan, kemudian muncul dinding air yang menangkis api Raiser hingga menciptakan ledakan kecil yang menimbulkan asap.
Semua terkejut melihat Naruto dengan mudah menangkis serangan Raiser, kecuali Koneko dan Kiba yang sudah tahu seberapa kuat Naruto.
"Maaf saja, Ji-san, tapi aku harus segera pergi untuk makan. Perutku sudah lapar. Jadi aku tidak ada waktu untuk melayanimu."
Mendengar perkataan Naruto, tubuh Raiser langsung terselimuti api. "Kau.."
"Hentikan, Raiser-sama!" perintah Grayfia yang membuat Raiser menghentikan sihirnya. "Hahh~.. Sebenarnya aku sudah tahu pasti Rias akan menolak. Maka dari itu, akan diadakan Rating Game untuk menentukan Rias akan menikah dengan Raiser Phenex atau tidak." lanjut Grayfia.
"Heh! Rating Game? Aku pasti menang," ucap Raiser percaya diri.
"Aku tidak akan membiarkan kau menang!" teriak Issei menunjuk Raiser.
"Kau tidak akan bisa menang. Kalian hanya terdiri dari beberapa orang saja, sedangkan aku punya satu set lengkap." Raiser menjentikkan jarinya, kemudian muncul lingkaran sihir Phenex dan mengeluarkan 15 sosok berjenis wanita.
Issei hanya menatap ke-15 perempuan dengan pandangan kagum. "Uwohh! Dia adalah sang raja harem!"
"Hey! Kenapa dia?" tanya Raiser entah kepada siapa sambil menatap Issei aneh.
"Yahh.. Begitulah Issei. Dia mesum dan akan mendirikan harem." Kali ini Naruto yang menjelaskan dan mendapatkan seringai dari Raiser.
Kemudian Raiser menjentikkan jarinya. Salah satu peerage Raiser maju ke depan dan mendekat ke arah Raiser. Raiser langsung merengkuh pinggan sang Queen dan mencium bibir perempuan tadi. Tak lupa tangan kanannya yang bermain di dada kiri Queen Raiser.
"Cih! Sial!" gumam Issei.
Raiser melepaskan kulumannya, kemudian menatap Issei dengan seringainya. "Apa kau iri denganku?"
"Kau!" desisi Issei marah. "Kau akan tahu ak-"
"Hentikan Sekyuuretei!" seru Grayfia membuat Issei mendecih, kemudian ia menatap Rias. "Baiklah, Rias. Rating Game akan dimulai dalam dua minggu," kata Grayfia membuar Rias dan yang lainnya terdiam. "Baiklah, Phenex-sama. Saatnya kita kembali."
"Tunggu!" cegah Raiser, kemudiam ia menatap Naruto. "Kau... Siapa kau sebenarnya? Aku tahu kau bukan manusia sembarangan." Raiser menatap Naruto intens, mencoba menebak aura apa yang tepancar dari Naruto selain aura manusia.
Naruto diam sesaat, kemudian menutup matanya. "Aku... Seorang Youkai." Tepat setelah Naruto membuka matanya, sepasang telinga dan sembilan ekor rubah muncul di belakang Naruto.
Hal ini membuat Raiser dan Grayfia terkejut. 'A-apa ia pemimpin para Youkai?' batin Grayfia dan Raiser bersamaan sambil menatap sembilan ekor Naruto. 'Tidak mungkin! Pemimpin para Youkai masih Yasaka no Kitsune, tapi kenapa lelaki itu juga mempunyai sembilan ekor.' Grayfia dan Raiser masih larit dalam pikirannya.
"Baiklah. Jika tidak ada urusan, aku pulang saja." Naruto melangkahkan kaki meninggalkan ruangan diikuti Koneko di belakang.
"Baiklah, Rias-sama.., kami permisi." Grayfia kemudian menghilang diikuti Raiser dan peeragenya menggunakan lingkaran sihir masing-masing.
Kemudian Issei menatap Rias. "Siapa pemuda tadi, Bouchou?" tanya Issei.
"Dia tunangan Rias." Bukan Rias yang menjawab, tapi Akeno. "Sebenarnya Rias tidak ingin dijodohkan dengan Raiser, makanya akan diadakan Rating Game untuk menentukan takdir Rias."
"Begitu," gumam Issei menundukkan kepala, kemudiam menatap kedepan dengan pandangan serius. "Yosh! Jika begini, aku akan berlatih untuk menggagalkan pernikahan Bouchou!"
.
.
Naruto dan Koneko telah berdiri di depan rumah mereka. Naruto mememutar kenop pintu dan membukanya, memperlihatkan seisi ruang tamu yang luas dan terdapat beberapa hiasan.
"Tadaima!" seru Naruto dan Koneko sambil memasuki rumah.
"Okaeri!" Terdengar sahutan dari dalam, kemudian muncul seekor Youkai kecil yang menghampiri mereka.
"Hai, Kunou-chan." sapa Naruto saat melihat Kunou berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Mou~ Nii-chan dan Nee-chan lama sekali pulang," ucap Kunou sambil menggembungkan pipinya yang imut.
"Gomen, Kunou-chan. Tadi kami ada urusan sebentar," kata Kunou sambil mengelus kepala Kunou.
Naruto melepas pelukan Kunou. "Oh, ya,.. Yang lain lain ke mana?" tanya Naruto.
"Yang lain sedang mencari kerja, Nii-chan." Perkataan Kunou membuat alis Naruto terangkat.
"Kenapa mereka tidak bilang dahulu denganku?" gumam Naruto yang masih bisa di dengar Koneko dan Kunou. "Baiklah, Ayo masuk. Tidak baik berdiam di pintu." Naruto menggendong Kunou dengan gaya pengantin dan membawanya masuk ke dalam.
Naruto dan Koneko memutuskan untuk mengganti pakaian, kemudian mereka hanya diam sambil menonto televisi. Namun, kegiatan mereka harus teralih saat bel pintu berbunyi
Ting tong
Mereka saling pandang sebelum Naruto berdiri dari duduknya dan berjala ke arah pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
Cklek
Pintu terbuka oleh Naruto, tapi Naruto harus terjungkal ke belakang saat sesuatu menghambur ke arahnya dan memeluknya erat sambil berteriak, "NARUTO-KUN!"
BRUK
"Akh! I-ittai..," rintih Naruto merasakan sakit di punggungnya karena berbenturan dengan lantai.
"Halo, Naruto-kun!" seru sosok yang memeluk Naruto sambil menatap Naruto.
"Eh!? Mi-Mittelt!" Mata Naruto membola saat menatap sosok yang sedang menindihnya sambil menunjukkan senyumannya.
"Jangan lupakan kami, Naruto," ujar seorang lelaki berpakaian ala detektif. Di sebelah lelaki tadi, terdapat seorang perempuan berambut biru kehitaman yang mengenakan pakaian sexy. Di sebelah wanita sexy tadi, juga terdapat perempuan cantik berambut hitam.
"Dohnaseek, Kalawarner, Reynare,.. Kalian-"
"HAHH!" Sebuah teriakan memotong perkataan Naruto, kemudian terlihat Kunou yang berdiri mematung menatap Naruto dan Mittelt. "Menyingkir dari atas Naruto-nii!" Kunou mendekat ke arah Mettelt dan mendorong paksa tubuh gadi loli untuk menjauh dari Naruto. "Naruto-nii milikku," kata Kunou sambil memeluk Naruto yang masih terduduk di laintai.
"Milikmu? Dengar ya, anak kecil. Kau itu terlalu polos untuk mendapatkan Naruto-kun. Kau masih anak-anak," kata Mittelt setelah berdiri menatap Kunou.
"Hmph! Aku sudah dewasa!" bantah Kunou merapatkan pelukannya pada Naruto.
"Apa buktinya, bocah?" tanya Mittelt sambil berkacak pinggang.
Kunou menatap tajam Mittelt dengan wajah memerah karena marah. "Aku telah memperkosa Naruto-nii!"
"Eh!"
Yang lain hanya memasang wajah blank mendengar pernyataan Kunou yang terbilang intim. Kemudian Miitelt dan ketiga temannya menatap Naruto.
"A-ahaha.." Naruto hanya dapat tertawa gugup. "Se-sebaiknya kalian masuk. Tidak baik baik berdiri di depan pintu," kata Naruto mengalihkan topik.
Kemudian Naruto dan yang lainnya masuk ke dalam, tapi harus terhenti saat Koneko telah berdiri di depan Naruto dan yang lainnya.
"Kalian.. Da-Tenshin?" Koneko memasang posisi bertarung saat merasakan aura dari keempat Da-Tenshin.
"Maa, maa, tenanglah, Koneko-chan," kata Naruto mengibaskan tangannya tanda tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemudian Naruto menatap Dohnaseek. "Dohnaseek, ajak ketiga temanmu duduk di sana. Aku akan membuatkan teh." Naruto berjalan ke arah dapur, sedangkan Reynare langsung duduk di sofa diikuti yang lain.
Koneko tak henti-hentinya menatap mereka dengan tatapan intimidasi. "Sebenarnya.., apa niat kalian datang ke sini?" tanya Koneko memecha keheningan.
"Kami tidak ada urusan denganmu, Kucing. Urusan kami hanya kepada Naruto-kun," kata Kalawarner membuat Koneko berdecak kesal.
Tak berapa lama, akhirnya Naruto datang dengan nampan berisi tujuh gelas teh. "Silahkan dinikmati." Naruto menaruh gelas di meja, kemudian duduk di samping Koneko.
"Ehm!" seru Mittelt setelah menyesap teh buatan Naruto. "Enak."
"Hahaha.. Arigatou." Naruto menatap keempat tamunya dengan senyum simpul. "Oh, ya. Kedatangan kalian ke sini itu ada apa ya?" tanya Naruto.
"Bukannya beberapa minggu yang lalu sudah di beri tahu oleh Azazel-sama bahwa kau akan mengajarkan kami berperilaku baik." Perkataan Dohnaseek membuat Naruto mengingat malam penyelamatan Asia yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu.
Flash Back
Malam penyelamatan Argento Asia.
Di pinggir sebuah sungai, terlihat enam makhluk astral yang memiliki surai berbeda-beda. Keempat makhluk tersebut, terlihat tengan memohon kepada seorang lelaki paruh baya yang memiliki rambut hitam dan poni kuning.
"Azazel-sama, mohon beri kami kesempatan lagi.'' kata seorang perempuan bersurai biru tua, Kalawarner.
''Hah~ Baiklah, aku akan memberi kalian kesempatan," kata Azazel menatap keempat anak buahnya. "Tapi kalian jangan berbuat sesuka kalian lagi." Perkataan Azazel mendapat persetujuan dari pria bertopeng, Naruto.
''Hm. Itu benar.'' kata Naruto sambil menganggukan kepala dan memejamkan mata.
''Kalian harus belajar menjadi orang yang baik," kata Azazel ke arah keempat anak buahnya.
''Hm. Itu juga benar," kata Naruto lagi.
''Dan yang akan mengajari kalian menjadi baik adalah Naruto," kata Azazel yang asal cakap. Namun anehnya, Naruto mengangguk menanggap perkataan Azazel.
''Hm. Itu benar.''
Beberapa detik kemudan..
''EEEEEEHHHH ! Ke-kenapa harus aku !?'' teriak Naruto dengan mata yang terbuka lebar. Ternyata dirinya baru sadar dengan perkataan Azazel.
''Bukankah kau yang memberi saran agar mereka diberi kesempatan untuk merubah sikap mereka?'' kata Azazel santai.
''Ta-tapi kau kan pemimpin mereka," ucap Naruto yang masih belum terima.
''Walaupun aku pemimpin, tapi aku bukan orang yang tepat. Aku yakin kau bisa memberi pengajaran kepada mereka, jadi aku memilihmu.," kata Azazel sambil memejamkan mata.
''Tapi itu tidak adil.''
''Aku tidak terima penolakan.'' kata Azazel ngotot yang membuat Naruto pasrah.
''Yah~ baiklah.''
Flash Back End
Kini terlihat Naruto memijit kepalanya. "Hahh~.. Mengingat hal itu membuatku ingin menghajar wajah Azazel," gumam Naruto, kemudian menatap keempat Da-Tenshin yang tengah melihatnya. "Jadi.., kalian akan tinggal di sini?"
"Yahh.. Begitulah," kata Dohnaseek menghendikkan bahu acuh.
Koneko yang mendengar bahkan keempat Da-Tenshin akan tinggal di rumah Naruto, menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. "Apa kau yakin, Naruto? Mereka itu Da-Tensih. Mereka siap membunuh Akuma kapan saja."
"Tidak, Neko-chan. Aku percaya kepada mereka," ucap Naruto membuat Koneko pasrah.
.
.
Malam telah tiba.
Di depan rumah Naruto, terdapat beberapa Akuma yang berjalan dengan lemas.
"Hah~.. Susa sekali untuk mendapat pekerjaan. Aku heran, kenapa Naruto mudah untuk mendapat pekerjaan, ya?" tanya seekor iblis berambut orange entah kepada siapa.
"Ahh~.. Aku juga tidak tahu," ujar iblis yang bersurai gaya nanas, Shikamaru. Kemudian ia membuka pintu.
"Tadaima~.." seru mereka dengan malas sambil memasuki rumah.
Mereka akhirnya terus berjalan hingga tidak menyadari 2 Akuma, 1 Youkai, dan 4 Da-Tenshin yang sedang duduk di sofa.
"Mereka kenapa?" tanya Dohnaseek menatap segerombol Akuma yang terlihat lesu.
"Entahlah..," gumam Naruto sambil menghendikkan bahu. Kemudian pandangannya teralih saat Reynare memanggilnya.
"Naruto-kun. Apa kau tahu di mana Issei?"
"Kenapa kau bertanya tentang Issei?" tanya Naruto bingung saat mendadap Reynare bertanya tentang Issei.
"Ano.. Aku ingin meminta maaf karena aku telah membunuhnya." Reynare menundukkan kepalanya. "Aku.. Aku menyesal... Aku benar-benar Malaikat kotor! Aku Malaikat tidak berguna! Hiks.. Aku.. Aku.. Hiks.."
Puk
Reynar mendongakkan kepala merasakan tepykan pelan di kepalanya. Ia menatap sang pelaku, yaitu Naruto yang berdiri dari duduknya untuk meraih kepala Reynare.
"Jangan kau berkata seperti itu, Reynare-chan. Di dunia tidak ada yang sempurna. Membuat kesalahan itu wajar. Jadi, jangan kau menghina dan merendahkan diri sendiri," kata Naruto dengan senyum lembut.
"U-ummu..," gumam Reynare tidak jelas sambil menundukkan kepalanya lebih dalam, serta semburat merah di kedua pipinya.
"Ahh~.. Baiklah. Karena sudah malam, sebaiknya kita tidur," kata Naruto dibalas anggukan oleh yang lain. "Oh, ya. Kalian tinggal pilih kamar kalian. Di lantai atas masih ada empat kamar kosong, dan di lantai bawah ada tiga kamar kosong."
"Baiklah.., nanti kami akan memilih kamar kami masing-masing." Naruto hanya menangguk menanggapi kata Mitelt.
"Kalau begitu aku tidir dulu, ya." Naruto pergi meninggakanl keempat Da-Tenshin yang masih duduk. Kunou dan Koneko mengikuti kepergian Naruto.
"Hey. Ternyaga Naruto-san baik juga ya," kata Dohnaseek kepada teman-temannya.
"Kau benar. Padahal kita sudah melawannya dan berniat membunuhnya, tapi dia tetap membantu kita," timpal Reynare.
"Yosh! Kalau begitu, kita tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan Naruto-kun!" seru Mittelt seraya mengepalkan tangannya.
"YOSH!.
.
.
Keesok harinya, lebih tepatnya setelah pulang sekolah...
Naruto berjalan menyusuri jalan yang begitu sepi, hingga beberapa menit ia berjalan, Naruto telah sampai di pinggi sungai yang terdapat seekor Malaikat Jatuh berambut nyentrik tengah fokus menatap sungai sembari memegang gagang pancing. Sosok itu tidak menyadari kehadiran Naruto yang sudah berdiri di belakangnya.
Dengan ekspresi jahil, Naruto mengambil beberapa batu kecil di sekitarnya, kemudian melempar batu yang ia ambil ke arah sungai, dengan otomatis gelombang kecil terjadi membuat Azazel menatap kesal ke arah Naruto yang ada di belakangnya.
"Ck! Kau mengganggu saja, Naruto." Azazel mendengus sebal yang mulai menatap kembali ke arah sungai. "Gara-gara kau, tidak ada ikan yang makan umpanku karena takut," kata Azazel mendapat tatapan sweatdrop dari Naruto.
Naruto hanya menatap Azazel dengan facepalm seraya membatin, 'Emang di sungai ini ada ikan.'
Naruto memang dibuat pusing oleh kelakuan pemimpin Da-Tenshin di depannya. Mana ada ikan di sungai yang dalamnya tidak lebih dari sebatas betis kakinya.
Azazel kemudian kembali menatap Naruto. "Ada apa kau datang kemari?" tanya Azazel yang masih menatap Naruto.
"Aku hanya ingin bicara denganmu." Naruto berjalan dan duduk di samping Azazel, kemudian melanjutkan perkataannya yang terhenti. "Apa maksudmu menyuruh keempat anak buahmu tinggal di rumahku?"
"Ohh.. Yang kemarin itu, ya," kata Azazel yang terdengar tak peduli. "Yahh.. Memang aku menyuruh mereka untuk tinggal di rumahmu agar kau bisa mengajari mereka menjadi makhluk yang baik." Tanpa mengalahkan pandangan, Azazel berbicara, "Itu agar kau tidak perlu mengadakan les untuk mengajari merrka. Dengan merrka tinggal di rumahmu, mereka dapat melihat aktifitas yang yang kau lakukan dan mereka juga dapat berbaur denganmu. Maka dari itu, sifat jahat mereka akan semakin lama semakin menghilang. Dan.." Azazel menjeda perkataannya. "...aku juga ingin mereka merasakan bahagia." Perkataan Azazel sedikit membuat Naruto paham tujuan Azazel.
"Begitu, ya." Naruto menatap langit, kemudian ia berdiri dari duduknya. "Baiklah, Azazel. Terima kasih telah menemaniku menghilangkan bosanku. Sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk menghilangkan bosanku saja, karena di rumah aku merasa bosan. Pekerjaan libur selama beberapa hari," kata Naruto setelah berdiri.
"Yahh.. Tak apa. Lagi pula aku juga senang berbicara denganmu." Azazel tersenyum ke arah Naruto sebelum kembali menatap sungai.
"Oh, ya. Bagaimana kabar si Hakuryuukou? Semenjak aku membuatnya sekarat, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi." Naruto mengingat saat ia mengalahkan Vali dengan mudah.
"Dia baik-baik saja. Bahkan setelah mengetahui kau punya kekuatan besar, dia semakin tertarik denganku," ujar Azazel membuat Naruto sedikit kesal.
"Hey! Aku masih normal! Aku masih tertarik dengan lawan jenis," sungut Naruto mendapat gelak tawa dari Azazel.
"HAHAHAHA.."
"Yahh.. Baiklah. Aku pergi dulu. Semoga dapat ikannya," kata Naruto dengan nada bercanda. Kemudian, sebuah pusaran angin menelan Naruto.
.
.
Dunia Kamui milk Naruto.
Di sebuah tempat yang awalnya indah, kini terlihat berantakan. Api ada dimana-mana, phon-pohon berserakan, tanah yang penuh dengan beberapa kawah kecil maupun besar.
Terbengong.
Itulah yang dilakukan Naruto saat ini. Awalnya Naruto datang je sini untuk mengunjungi makhluk 'peliharaan'nya. Tapi, setelah sampai di dunia buatannya, ia harus berdiri membatu menatap dunia kamiuinya sudah hancur entah-berantah.
"A-apa yang terjadi?" guman Naruto sambil menatap nanar keadaan di sekitarnya.
Wushh~
Seekor naga berwarna hitam terbang dengan bebas ke arah langit. Terbang meliuk-liuk beberapa kali dan kemudian menyemburkan api hitam ke arah pohon yang masih berdiri. Setelah serangan tadi, pohon pun hancur dan terbakar.
Twich!
Perempatan muncul di dahi Naruto.
"HOY, OPHIS! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! KAU INGIN MENGHANCURKAN DUNIAKU?!" teriak Naruto sambil menunjuk-nunjuk naga hitam yang masih terbang di langit.
Mendengar teriakan Naruto, naga yang dipanggil Ophis oleh Naruto tadi langsung melesat dengan cepat ke arah Naruto. Sedangkan Naruto hanya diam dengan kekesalan tercetak di wajahnya yang memerah.
Bumfh!
Setelah sampai di dekat Naruto, naga tadi langsung menapakkan kakinya di depan Naruto.
"Ada apa, Naruto-kun?" tanya naga tadi dengan suara beratnya.
Sedangkan Naruto hanya membayangkan Ophis loli bertanya 'Ada apa, Naruto-kun?' dengan tampang watados-nya. Dan hal itu menambah kekesalan di wajah Naruto.
"Apanya yang 'ada apa'! Kau mau menghancurkan duniaku, hah?!" tanya Naruto sambil mendongak ke atas untuk melihat sang naga yang teramat sangat besar di depannya.
"Ah! Maaf," ujar naga tadi dengan suara berat.
Naruto kemudian memijit pelipisnya untuk mengurangi pusing di kepalanya. Kemudian ia menatap kembali ke depan, menemukan naga yang kini sudah menyamar menjadi gadi loli yang teramat sangat imut dengan pakaian Gothic, dan surai hitam yang terbiarkan tergerai. Wajahnya datar seperti biasa. Pandangannya kosong, hal itu juga sudah biasa.
"Dasar kau ini. Untung saja ini hanya dunia kamui, bukan dunia nyata," kata Naruto memandang Ophis sebal. Kemudian Naruto menutup matanya. Secara ajaib, pohon-pohon yang hancur dan tanah yang hancur, kini kembaki seperti semula. Dan kembali memperlihatkan suasana alam yang indah seperti sedia kala.
"Huhh~" Naruto menghembuskan nafasnya seraya membuka mata. "Lain kali jangan kau ulangi lagi, Ophis," tuntut Naruto dibalas anggukan oleh Ophis.
Kemudian, mereka terdiam hingga Ophis membuka suara.
"Naruto-kun, sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman," saran Ophis dibalas anggukan oleh Naruto.
Kini, Naruto dan Ophis berada di bawah pohon di pinggir danau. Mereka duduk saling berhadapan.
"Jadi, Naruto-kun, ada urusan apa kau sampai datang ke sini? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Ophis membuka pembicaraan.
"Tidak, sih.. Aku hanya datang berkunjung untuk menjengukmu," kata Naruto membuat Ophis tersenyum.
"Begitu, kah? Apa kau merindukanku?" tanya Ophis dengan nada menggoda. "Apa kau hanya datang berkunjung untuk melihat tubuh polosku seperti waktu itu." Perkataan Ophis sukses membuat wajah Naruto memerah mengingat kejadian saat ia menemukan Ophis tengah berendam di sungai.
"Ti-tidak. Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuh palsumu," kata Naruto. Yahh.. Yang dikatakan Naruto memang benar. Ophis adalah seekor naga yang tidak memiliki jenis kelamin. Ia bisa membentuk tubuhnya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Saat ini, Ophis memilih menjelma menjadi gadis loli yang teramat imut seperti boneka.
"Fufufufu.." Ophis hanya tertawa misterius saat mendengar kata Naruto. Hal itu membuat Naruto merinding mengingat Akeno juga selalu mengeluarkan tawa tersebut. "Kau bilang tubuh palsu? Kau benar. Tapi, secara tidak langsung, tubuhku juga sama seperti wanita-wanita yang lain." Ophis kemudian menatap selangkangannya. "Ini juga bisa dimasuki," kata Ophis sambil menunjuk selangkangannya yang masih tertutupi kain bajunya.
Naruto menyadari apa yang dimaksud Ophis hanya memerah wajahnya. 'Kenapa dia sepolos ini, sih?!' batin Naruto dengan setetes keringat menuruni pelipisnya.
"Jadi, tubuhku yang kugunakan bisa dibilang tubuh asli!" kata Ophis dengan bangga dengan kehebatannya.
Sedangkan Naruto hanya manggut-manggut sambil menyeruput segelas teh yang tiba-tiba sudah ada di tangannya(Dunia Kamui bebas :v).
"Dan aku juga bisa hamil, loh."
"Ghouk!" Naruto tersedak teh mendengar pernyataan Ophis, kemudian menatap Ophis. "Kau bisa hamil?" tanya Naruto dibalas anggukan oleh Ophis.
"Tapi tergantung wujudku,sih. Jika aku menjelma menjadi laki-laki, aku bisa menghamili wanita. Jika aku menjelma menjadi wanita, aku bisa dihamili oleh lelaki."
Naruto mengangguk paham mendengar pernyataan Ophis. Lalu, terlintas pertanyaan di kepalanya. "Kalau kau menjelma menjadi laki-laki, lalu ada laki-laki lain yang memperkosamu, kau bisa hamil tidak?" tanya Naruto dengan tampang Wajah Tanpa Dosa, (WATADOS).
JDUAK!
"Ittai!" Naruto memegangi kepalanya yang benjol kerena terkena hantaman oleh Ophis.
"Ba-baka! Laki-laki mana bisa hamil, Baka!" kata Ophis setelah memberi bogem mentah kepada Naruto.
Naruto masih asik mengusap benjopan di kepalanya. Ini pertama kalinya Ophis menjitaknya, dan rasanya sakit sekali. Mungkin Ophis menambahka sihir di tangannya sehingga dapat menggandakan kekuatannya.
"Eh!?" Mengingat tentang kekuatan, Naruto langsung tersentak dan menatap Ophis serius. "Ophis."
"Ya? Ada apa?" Ophis menatap bingung yang melihatnya secara intens.
"Tadi.. Kau menghancurkan dunia kamuiku. Bagaimana caranya?" tanya Naruto.
"Dengan kekuatanku pastinya," kata Ophis sambil membusungkan dadanya yang mungil dan menggemaskan.
"Bukankah katamu kekuatanmu telah di ambil oleh Kokabiel?" Naruto ingat saat mengatakan Kokabiel telah mengambil kekuatannya.
"Heh! Apa kau lupa bahwa aku ini sang Ouroborost Dragon. Naga dengan kekuatan tanpa batas." Ophis berdiri dari duduknya dan merentangkan tangannya ke samping, kemudian kembali duduk. "Sebenarnya memang benar Kokabiel telah mengambil kekuatanku. Tapi, kekuatanku dengan perlahan kembali."
Naruto hanya memasang wajah bingung mendengar perkataan Ophis.
"Hahh~.." Ophis memaklumi kapasitas otak Naruto yang tidak terlalu besar. "Hampir sama seperti cakra yang ada di dalam tubuhmu. Ketika ada seseorang menyerap cakramu, kau perlu waktu untuk memulihkan atau mengisi kembali cakramu hingga kembali penuh," kata Ophis sambil mengingat saat Naruto menceritakan tentang cakra padanya. Sebenarnya Naruto telah menceritakan dunia Shinobi kepada Ophis.
"Ahh! Aku paham!" seru Naruto. "Tapi tunggu dulu.. Kau sudah tahu kekuatanmu pasti kembali, lalu, kenapa kau mau ikut denganku?" Pertanyaan itulah yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
"Kalau itu, sih, memang keinginanku. Aku merasakan kekuatan di dalam dirimu walau pun samar. Dan aku dapat merasakan aura yang menenangkan di dalam dirimu sehingga aku dapat menyimpulkan kau bukan makhluk jahat. Untuk itulah aku mengikutimu agar kau bisa membantuku mencapai ketenangan dan kedamaian," kata Ophis menjelaskan panjang lebar.
"Begitu, ya." gumam Naruto. "Yahh.. Kalau boleh jujur, aku sangat menginginkan kedamaian. Itulah cita-citaku sedari dulu." Naruto menundukkan kepalanya. "Tapi.. Tidak mudah untuk mencapai kedamaian. Bahkan... Di dunia Shinobi, aku tidak tahu jika di saja sudah damai atau belum. Saat aku bertanya kepada ketiga sahabatku yang berasal dari dunia Shinobi, mereka hanya menjawab dengan jawaban yang tidak memuaskan, seolah mereka merahasiakan sesuatu padaku." Naruto menundukkan kepalanya.
Ophis yang melihat Naruto seperti itu, berinisiatif untuk memberikan semangat kepada pemuda pirang di depannya. Ia berdiri dari duduknya, dan dengan seenaknya duduk di pangkuan Naruto. "Kita bisa memujudkan bersama-sama," kata Ophis menyandarkan punggung dan kepalanya di dada bidang Naruto. "Aku yakin kita bisa membuat kedamaian. Kita akan terus berjuang bersama yang lain untuk mewujudkan impian kita." Ophis menatap langit dengan kepala yang masih bersandar di dada Naruto.
Naruto tersenyum mendengar perkataan Ophis, kemudian memeluk gadis loli yang ada di pangkuannya. "Kau benar, Ophis-chan." Naruto menyandarkan dagunya di kepala Ophis. "Ahh~.. Aku mengantuk," kata Naruto di sela keheningan.
"Kalau begitu tidurlah, Naruto-kun," kata Ophis mendapat anggukan pelan dari Naruto.
Akhirnya, Naruto dan Ophis tertidur di bawah pohon. Ophis masih tetap duduk di pangkuan Naruto, dan Naruto bersandar di batang pohon. Terdengar dengkuran halus dari mereka berdua.
.
.
Naruto telihat sedang memilih-milih benda yang ada di depannya. Saat ini ia berada di Super Market Kuoh City untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari mereka.
"Ara, Naruto-kun." Sebuah suara membuat Naruto menoleh ke asal suara dan menemukan Akeno sedang berjalan ke arahnya sambil mendorong troll belanjanya.
"Ah! Akeno-senpai," sapa Naruto mendapat tatapan cemberut dari Akeno.
"Mou~.. Jangan memanggilku seperti itu, Naruto-kun~."
"Ahahaha.. Tapi 'kan Senpai adalah Seniorku, jadi aku memanggilmu senpai," kata Naruto yang kembali mendapat tatapan merajuk Akeno.
"Tidak asik," kata Akeno sebal sambil memalingkan kepala.
"Ahaha.. Kau manis sekali kalau sedang merajuk, Akeno-chan." Dengan sukses, perkataan Naruto membuat wajah Akeno memerah. Naruto sendiri reflek memalingkan wajahnya.
"A-arigatou, Naruto-kun."
Akhirnya mereka belanja bersama di sore hari. Setelah selesai, mereka langsung membayar di kasir dan berniat kembali pulang ke rumah masing-masing.
Kini, mereka berjalan beringin sambil menenteng beberapa kantong belanja.
"Ne, Naruto-kun. Sebenarnya kakek yang memberikanmu Evil Piece itu siapa? Sepertinya ia Akuma murni," tanya Akeno mengingat saat Naruto membagi ingatannya dengan Akeno dan teman-temannya.
"Entahlah, Akeno-chan. Tapi melihat dirinya pergi dengan cara melebur menjadi debu, ia mungkin memang Iblis murni. Tapi aku tidak tahu dari klan mana," terang Naruto mendapat anggukan paham oleh Akeno.
Akhirnya mereka sampai di persimpangan, yang mengharusnya mereka untuk berpisah.
"Eee.. Akeno-chan, apa kau mau mampir ke rumahku?" tawar Naruto.
Akeno menimbang-nimbang tawaran Naruto. "Baiklah, aku ikut!" seru Akeno. Terkadang ia merasa bosan berdiam diri di rumah sendirian.
"Lalu bagaimana dengan barang belanjaanmu?" Naruto yang ingat Akeno menenteng barang, bertanya ke arah Akeno.
"Oh, tenang saja." Kemudian, lingkaran sihir berwarna merah muncul di depan Akeno. "Aku bisa menyimpannya di sini."
Dan Naruto haris cengo saat Akeno menyimpan barangnya di dalam lingkaran sihirnya. 'Kenapa aku tidak terpikirkan dari tadi? Dan kenap aku lebih memilih menenteng benda ini? Dan kenapa aku bodoh sekali,' batin Naruto.
.
.
Naruto dan Akeno telah sampai di rumah Naruto.
"Silahkan masuk, Akeno-chan."
Naruto memasuki rumah diikuti Akeno, kemudian Akeno duduk di ruang tamu, sedangkan Naruto menuju dapur untuk menaruh barang belanjanya.
"Maaf menunggu lama, Akeno-chan," kata Naruto setelah sedikit lama di dapur.
"Tidak masalah, Naruto-kun," kata Akeno seraya tersenyum.
"Silahkan dinikmati tehnya, Akeno-chan." Naruto menaruh teh yang ia bawa di depan Akeno, kemudian ia duduk di sofa yang letaknya di depan Akeno.
"Kau sendirian, Naruto-kun?"
"Ah! Tidak. Yang lain sepertinya sedang keluar," ucap Naruto yang sedari tadi tidak melihat teman-temannya, terutama Kunou.
"Begitu, ya." Mendengar penjelasan Naruto, Akeno menyeringai seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Naruto. "Jadi,.. Kau sendirian ne, Naruto-kun~," ucap Akeno dengan nada manjanya. Kini ia duduk di samping Naruto sambil menempelkan tubuhnya di lengan Naruto.
"Eee.. Y-yahhh... Be-begitulah..." Entah kenapa firasatnya tidak enak. "A-ano.. Sepertinya aku ingin ke kamar mandi," ujar Naruto mencoba untuk kabur, namun tangannya telah ditahan oleh Akeno yang memandang sayu ke arahnya.
"Ke kamar mandi? Apa kau ingin melakukan itu denganku ne, Na-ru-to-kun."
Glek
Naruto harus menelan ludahnya saat mendengar penekanan di setiap kata Akeno.
"Ti-tidak.. A-aku.." Naruto tidak melanjutkan kata-katanya karena ia tidak memiliki alasan untuk lari selain buang air kecil. "Aku.. Mau buang air kecil."
"Ara.. Aku juga ingin ikut, Naruto-kun. Boleh 'kan~." Tanpa aba-aba, tangan Akeno menyelinap memasuki baju Naruto, mengelus dada sang pemuda.
"A-Akeno,.. Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto mencoba mengeluarkan tangan Akeno dari dalam bajunya. Namun, Naruto harus dibuat terkejut saat Akeno menciumnya dibibir. Melumat bibir Naruto yang masih diam.
"Hmmhh~.." Akeno mengerang di sela ciumannya. Lidah Akeno mencoba masuk ke dalam mulut Naruto yang masih tertutup.
"Ukh!" pekik Naruto saat Akeno menggigit bibir bawah Naruto dan dengan cepat Akeno memasukkan lidahnya ke dalam mulut Naruto. Mereka bersilat lidah dengan lihainya.
Hampir 3 menit mereka melakukan ciuman, hingga harus terhenti karena pasokan udara yang menipis di paru-paru.
"Hahh,.. Hah,.. Akeno, ke-kenapa kau menciumku? Hah,.. Hah," tanya Naruto diiringi napasnya yang terngkal.
Akeno hanya mencium bibir Naruto singkat, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Naruto. "Karena... Aku mencintaimu, Naruto-kun."
"Tapi-"
"Aku sudah tahu," potong Akeno cepat membuat Naruto terdiam. "Aku sudah tahu kalau kau sudah pernah melakukan itu dengan orang lain. Tapi itu tidak masalah." Akeno memeluk Naruto semakin erat.
Naruto hanya diam. Ia sebenarnya merasa bersalah karena memainkan wanita. Tapi,.. Ia juga tidak menyangka akan hal ini.
Akhirnya mereka hanya berbicara mengenai Iblis liar sampai hampi menjelang malam. Akhirnya perbincangan mereka harus terhenti karena Akeno harus pulang. Naruto diam di depan pintu seraya menatap hilangnya Akeno.
"Hahh~,.. Kami-sama-"
"Ugh!" lenguh Naruto merasakan saki di kepalanya. "Sial! Aku lupa kalau aku ini adalah Iblis," gumam Naruto.
Untungnya teman-teman Naruto kembali pada malam hari, termasuk Kunou yang dibawa jalan-jalan oleh teman-temannya. Awalnya Naruto hampir mati karena panik dan cemas dengan Kunou yang tak kunjung pulang, tapi dirinya bisa tenang karena Kunou sudah kembali
.
.
T.B.C (Bukan nama penyakit-_-")
Di dalam sebuah ruangan, berkumpul beberap makhluk dari berbagai ras. Salah satunya adalah ras Ningen(Manusia) yang kini berdiri di depan makhluk lain. Dengan beberapa kamera yang terus menyorotnya dan suasana ruangan.
"Yosh! Bertemu lagi dengan saya Hashaka Lio, cowok terkeren dan tertampan se-antero dunia!"
Krikkrik.., krikkrik
Hening. Sosok yang bernama Lio hanya tersenyum canggung saat makhluk yang lain menatapnya aneh.
"A-ahahaha... Baiklah! Langsung saja, kita memasuki sesi 'Balas Review'!"
Krikkrik.., krikkrik
Dan sekali lagi suasan kembali senyap.
Twitch!
Perempatan muncul di dahi Lio karena tidak ada respon yang meriah dari para aktor pinjamannya.
"KENAPA KALIAN TIDAK TEPUK TANGAN, HAH?"
Sedangkan yang lain hanya saling pandang sebelum bertepuk tangan dengan malas.
Prok prok prok
Dan kemudian hening lagi.
"Hahh~.." Lio menghembuskan napas berat sebelum mengalihkan pandangannya ke belakang. Lebih tepatnya layar lebar yang menampilkan beberapa review.
"Review pertama, dari Guest. Aku tidak tahu siapa Guest ini. Asia-chan, tolong bacakan." Lio menatap Asia yang duduk di sebelah Issei.
Asia sedikit tersentak saat Lio menyuruhnya membaca review. "U-um. Ano.. Re-review dari Guest-san, yang isinya, 'Tsukoyomi itu setengah harga'."
Lio diam sesaat, kemudian ia ke kamera dengan tawa renyah. "Ahaha.. Se-sebenarnya aku tidak tahu maksud dari setengah harga. Tapi aku sedikit paham maksudnya." Lio diam sesaat. "Oh, ya. Saya lupa menjelaskan, kalau Tsukoyomi milik Naruto sedikit berbeda. Tsukoyomi milik Naruto aku buat lebih simpel. Ia juga dapat menghentikan ilusi Tsukoyomi kapan saja, dan.. Dan.. Dan.. ARGHH! KENAPA SUSAH SEKALI MENJELASKANNYA, TTEBAYOU!" teriak Lio di akhiri dengan trandmark milik Naruto.
"Hey! Itu trendmark milikku," sengit Naruto yang tidak terima kata 'Ttebayou'nya dipakai.
"Urusai!" dengus Lio, kemudian melihat lagi review yang lain.
"Mari kita lihat. Review dari fazakhi indra. Fuu, tolong bacakan." Lio menatap Fuu yang mengangguk dengan semangat.
"Akhirnya up! Yay!" ujar Fuu dengan gerakan senang seolah dirinyalah yang berbicara. "Saran dari saya sih jangan lah bikin naruto bego bego amat, pasti setelah sona bicara sama rias abis itu rias minta balik atau sona minta naruto jadi budaknya dan naruto mau. Fic itu gimana ya... mainstream lah (ingat ini saran, mau dipake ya sudah kalo gak pun ya sudah)"
" Kalo bisa buat naruto gak jadi iblis atau bekerja sama sama rias atau sona atau siapapun lah pokoknya."
"TETEP SEMANGAT DAN LANJUTIN NI FIC!" seru Fuu di akhiri dengan teriakan ala Rock Lee.
"Sebelumnya, terima kasih telah mereview dan memberikan semangat kepada Author." Lio menatap kamera dengan senyum menawan+tampannya(?).
"Dan mohon maaf lagi, Zakhi-san, sepertinya tidak menjadikan Naruto sebagai iblis sudah terlambat. Dari chapter satu, saya sudah menjadikan Naruto iblis lagi," ujar Lio dengan wajah menyesal.
"Dan tenang saja, Naruto tidak akan menjadi budak atau peerage dari Sona maupun Rias. Lalu untuk tidak bekerja sama dengan Rias atau Sona..." Naruto diam sesaat, sebelum kembali berucap, "Mungkin bisa lebih parah."
"Tunggu dulu, Nii-chan." Kunou mengangkat tangan seperti ingin mengatakan sesatu. "Maksudnya lebih parah itu apa, ya? Apa semua Akuma, Da-Tenshin, dan juga Tenshin, termasuk Youkai akan bekerja sama dengan Naru-"
"Ssstt..," desis Lio memotong perkataan Kunou. "Untuk sementara, biarlah menjadi rahasia." Kemudian Lio kembali menatap layar lebar.
"Ekhem! Baiklah, review yang ini dari syafiq. Yang akan dibacakan oleh Rukia." Lio menatap Rukia yang mengangguk.
"Dari Syariq, yang isinya, 'Thor, kenapa ane baca setiap chapter yang muncul loli mulu, gak ada yang lain apa? Apa kau lolicon ya thor? Hmm.." Rukia menaruh telunjuknya di dagu, kemudian kembali menatap layar dan melanjutkan membaca. "Cepet up thor! Jangan isi phedofil mulu napa thor sesekali isi milf kek apa kek. Bisa-bisa kena ciduk luh thor kalo jadiin naruto phedo. wkwkwk..."
Sedangkan yang lain hanya menahan tawa melihat Lio yang pundung di pojokan sambil menggumam, 'Aku bukan pedo.., aku bukan lolicon. Aku bukan pedo.., aku bukan lolicon.'
Kemudian Lio kembali ketempatnya. "Baiklah, Syariq-san. Terima kasih telah mereview. Akan saya jelaskan dulu kenapa isinya loli mulu. Begini.., sebenarnya saya mau membuat campuran, ada loli dan ada onee-sama. Alasan kenapa loli mulu yang muncul, karena aku lebih mengutamakan loli, setelah itu baru para onee-sama yang molek dan cantik," kata Lio menjelaskan. "Begitu!" seru Lio membusungkan dada. "Kalo masalah milf sih..., hmm,.. Sepertinya tidak akan saya buat jadi pair Naruto. Bukannya saya benci milf, hanya saya tidak terlalu tertarik sama tante-tante. Ok, sekian." Kemudian Lio kembali menatap layar yang ada di belakang.
"Dan review kali ini dari Raynoval." Lio menatap Raynare. "Rayner-chan, tolong bacakan."
Rayner yang dipanggil dengan suffix '-chan' hanya mengangguk dengan wajah memerah.
"Whoo.., ane kira udah offline ente bang, ternyata update lageh. Assek!" seru Raynare membaca review dari Noval.
"Ok! Arigatou, Rayner, karena telah membacakan review." Lio kembali menarap Kamera. "Sebelumnya maaf karena lama tidak update, Noval-san. Sebenarnya saya ingin online terus, tapi karena handphone saya rusak, harus pinjam handphone teman untuk ngetik. Dan terima kasih reviewnya," kata Lio sebelum sedikit membungkuk dan kembali tegak, kemudian menggeser layar smartphone nya, dan secara bersamaan layar yang ada di belakang juga bergerak.
"Are? Masih ada lagi," gumam Lio karena masih ada lanjutan dari review tadi.
"Dasar iblis kepo, asw. Kadang kesel gue, anjer!" gumam Lio membaca sambungan review dari Raynoval.
'Tak kusangka. Ternyata karyaku juga dapat menarik emosi seseorang,' batin Lio bangga.
"Dan review selanjutnya dari fateseriesd48. Great Red, tolong bacakan."
Sedangkan di salah satu bangku, terdapat seorang pemuda berumur sekitar 20 tahun, berambut merah. "Baiklah." Great Red mengangguk dan menatap layar dengan tampan bosan.
"Aku cuma mau bilang,lanjutkan!"
Donng!
Seluruh peserta sweatdrop setelah Great Red membacakan isi review.
"A-ahaha.. A-arigatou, fateseriesd-san, karena sudah mereview. Dan tenang saja, akan author lanjutkan jika tidak ada hambatan," kata Lio dengan senyum canggungnya.
"Baiklah. Berikutnya dari Kazeryuu yang akan dibacakan oleh Xenovia."
Xenovia mengangguk. "Dari Kazeryuu, yang isinya..," Xenovia sedikit memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya. "Sosok misterius itu Toneri kah?"
Lio mengangguk setelah Xenovia selesai membacakan review. "Hmm... Kalau itu masih dalam rahasia~" lata Lio dengan senyum misteriusnya.
"Ekhem! Rias-chan."
Rias menegakkan tubuhnya mendengar namanya dipanggil. "Review kali ini dari Rain741, yang isinya, 'Wow! Next, senpai! Akhirnya senpai nongol kembali.. Hahaha. Tetep semangat, senpai, dan ditunggu next nya.. Hehe'," kata Rias di akhiri dengan menggaruk belakang kepalanya dan cengiran wajahnya.
"Ahaha... Arigatou dukungannya, Rain senpai. Alasan saya 4 bulan gak nongol gegara smartphone saya rusak, senpai. Tehehe~" kata Lio di akhiri dengan cengengesannya.
"Mari kita lihat review selanjutnya dari Ocan D Law." Lio menatap Riser.
Seakan tahu maksud Lio, Riser mengangguk. "Isinya, 'Thor kenapa gak suruh aja si Ayumu main ama Shikamaru? Dia pasti senang dapat lawan paling sulit. Karena Shikamaru orang no 2 paling jago main shogi. yang pertama bapaknya kwkwk. itu aja."
"Hmm..." Lio mengusap dagunya. "Kenapa tidak kepikiran dari dulu ya," gumam Lio mendapat tatapan sweatdrop dari yang lain.
"Yosh! Sudah di putuskan, besok Ayumu akan melawan Shikamaru!"
"Hoaaam.. Sudah habis, 'kah?" gumam Shikamaru yang baru saja bangun tidur. Ia bangun karena merasa dirinya dipanggil
Sedangkan yang lain hanya menatap Shikamaru malas.
"Baiklah! Terima kasih buat yang sudah mereview. Dan yang reviewnya tidak saya masukkan ke dalam fic, jangan berkecil hati karena review dari kalian semua adalah makanan penambah semangat dari author," ujar Lio seraya tersenyum tampan+ manis(?) ke arah kamera yang bahkan dapat membuat Sasuke diabetes.
BRAK!
Pintu ruang didobrak dengan keras, menampakkan pemuda berambut pantat ayam sebagai pelaku pendobrakan.
"AKU AKAN MUNTAH MELIHAT SENYUMMU!" teriak pemuda tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke. Sedangkan yang lain hanya sweatdrop, kecuali Lio yang hanya tertawa canggung.
"Ahaha.. Yo, Sasuke/Teme," sapa Lio dan Naruto setelah dirinya selesai ber-sweatdrop ria.
"Lio, Dobe, saatnya kita syuting," kata Sasuke dibalas anggukan oleh Naruto dan Lio.
"Kalian mau kemana?" tanya Sirzech sambil menatap kedua pemuda yang sudah berdiri.
"Kami mau mengadakan syuting. Ada fic lain yang harus dilanjutkan,"
"Syuting?" beo mereka kecuali NaruSasuLio.
"Ah! Iya. Aku ada pengumuman untuk kalian. Aku mau melanjutkan fic yang berjudul 'Tsuki'. Dulu namanya 'Watashi', tapi saya sudah saya ubah." Semua mengangguk mendengar kata Lio.
"Henge no Jutsu!"
Poof
Secara bersamaan, kepulan asap menyelimuti tubuh NaruSasuLio. Setelah asap menghilang, terlihatlah NaruSasuLio versi anak kecil.
'Kawaii," gumam seluruh penghuni penatap tiga anak kecil tadi.
"Baiklah, Naruto, Sasuke, ayo berangkat!" seru Lio sambil berjalan keluar ruangan.
"Yosh!/Hn." NaruSasu mengikuti Lio dari belakang.
Kemudian setelah ketiga anak tadi menghilang ditelan pintu(?), suasana menjadi hening.
"Anoo... Jadi, apa yang kita tunggu?" tanya Fuu mendapat hendikan bahu dari semuanya.
Kemudian salah satu sosok berdiri dari duduknya, kemudian berjalan ke depan. "Baiklah, karena sudah selesai, lebih baik kita bubar," kata orang tersebut yang memiliki wajah menyeramkan, Kokabiel.
"Aaaghh~.. Akhirnya," gumam semua makhluk lega.
Bokong mereka seakan mati rasa setelah lama duduk.
Dan dalam hitungan satu detik, ruangan relah kosong, menyisakan bangku kosong dan sang kameraman, Drago.
"Are? Sudah sepi aja," gumam Drago sambil melihat kanan kiri, kemudian mengarahkan kameranya ke arah wajahnya. "Baiklah, karena semua sudah sepi, sebaiknya kita sudahi fic chapter ini. Tapi... JANGAN LUPA REVIEW!"
PIIIPPPP
Dan kamera eror karena teriakan Drago.
