Chapter 19

Disclaimer :

-Naruto : Masashi Kishimoto

-High School DxD : Ichiei Ishibumi

Rate : M

Adventure, Ecchi, Romance, School, Supernatural

Warning : typo,abal,gaje,ada lime lemon(bukan buah)

Summary : Naruto Uzumaki, pahlawan Konoha yang hampir mengalahkan Kaguya. Tapi ia harus mengorbankan dirinya dan terjebak di dimensi lain untuk selama-lamanya. Dengan kekuatannya yang tidak sengaja tersegel, bagaimana cara Naruto mendamaikan dimensi barunya bersama teman iblisnya ?

.

.

Author note: "Sebelumnya telah author peringatkan dari awal bahwa fic ini mengandung unsur dewasa. Jadi, jika menemukan hal-hal yang bersifat ecchi dan mesum, jangan salahkan author..."

"Ah! Dan satu lagi.. Untuk chapter ini, lebih tepatnya jalan cerita, alurnya dan scane akan sulit untuk dipahami."

"Baiklah, maaf mengganggu aktifitas membacanya, dan mari kita lanjut ceritanya!!"

.

.

Terbaring di atas rumput, Naruto memandang langit yang kian semakin bersemu merah karena hari telah memasuki petang. Wajahnya damai. Rambut bagian poninya yang menutupi iris saphire itu sedikit berkibar tertiup angin.

"Hahh ..." Naruto mengembuskan napasnya dengan perlahan. Sekilas ingatan tentang dunianya yang dulu memasuki pikirannya. "Bagaimana kabar kalian,.. Minna? Dan bagaimana kabarmu, Hinata-chan?" gumam Naruto di dalam tangannya.

"Hufftt ..." Lagi-lagi ia mengembuskan napasnya. Ini sudah yang ke-8 kalinya ia membuang napasnya selama satu menit.

Tap tap

"Ternyata kamu di sini, Naruto-kun."

Naruto segera mengalihkan pandangannya ke asal suara dan menemukan perempuan berparas cantik tengah berjalan ke arahnya.

"Ah! Akeno ... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Naruto sambil mencoba mendudukkan tubuhnya dari berbaring. "Apa ada sesuatu?"

Akeno segera mendudukan dirinya di samping Naruto yang sedang menatapnya. "Tidak, aku hanya menyampaikan ucapan terima kasih dari Rias karena telah menyelamatkannya dari pernikahan tak sepihak tadi malam."

"Katakan kepadanya untuk tidak berterima kasih." Naruto menatap ke depan, ke arah pepohonan yang berada di depannya.

"Hey ..."

Naruto menatap Akeno saat iblis cantik tersebut memanggilnya. "Apa?"

"..." Akeno diam sesaat sebelum ia menatap Naruto serius. "Apa kamu masih mencintai Rias?"

"Tentu saja tidak!" balas Naruto cepat. Apa yang ia katakan benar. Ia sama sekali sudah membuang perasaannya terhadap Rias.

"Benarkah? Lalu,.. kenapa kamu mau menyelamatkan Rias dari pernikahannya? Bukankah pernikahan Rias tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu?" tanya Akeno bertubi-tubi. Sebenarnya Akeno tidak berhak bertanya seperti itu kepada Naruto, namun, rasa penasaran membuatnya untuk memaksa Naruto menjawab pertanyaannya.

"Sirzech memohon kepadaku agar aku menolong Rias. Dan bisa kita bicarakan topik lain? Aku sudah semakin bosan dengan adegan yang sangat dramatis ini."

Akeno terkekeh mendengar perkataan Naruto yang mengatakan 'adegan dramatis'.

"Tidak bisa, Naruto-kun ... Masih banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu." Akeno kembali menatap Naruto serius. "Aku ingin bertanya,.. Jika Rias ingin kamu kembali kepadanya dan menjadi peeragenya, apa kamu masih mau?"

"Tidak!" jawab Naruto dengan cepat dan tegas. "Aku sudah mempunyai anggota sendiri, dan aku tidak ingin memihak kepada iblis klan manapun. Jadi, aku tidak akan mau kembali kepada Rias dan menjadi peeragenya lagi. Jika bekerja sama untuk mencapai kedamaian, aku ok-ok saja."

"Begitu ya," gumam Akeno sambil tersenyum ke arah Naruto.

Kemudian, hawa sunyi menyelimuti mereka. Tanpa mereka sadari, sesosok perempuan cantik berambut merah tengah menatap Naruto dan Akeno dengan mata berkaca-kaca.

"Naruto-kun,.. gomenasai."

.

.

Keesokan harinya

Sprat crip ... Sprat sprat

Bunyi cipratan air terdengar dari sebuah sungai yang terdapat air terjun berukuran sedang. Terlihat juga seorang pemuda berambut kuning dengan poni yang menutupi wajah kirinya, tengah duduk bersila di atas batu. Kedua matanya terpejam meresapi segarnya air terjun yang mengguyur tubuhnya.

Mindscape

Terlihat di sebuah tempat yang sangat luas, terdapat seorang pemuda berambut kuning yang berdiri di depan seekor rubah berekor sembilan. Terlihat juga jika mereka tengah berbincang serius.

"Jadi begitu," gumam pemuda tersebut yang bernama Uzumaki Naruto. Wajahnya memperlihatkan raut kesedihan.

"Maaf, Naruto. Aku sama sekali tidak menemukan cara untuk kembali ke dunia Shinobi," ujar sang rubah, Kyuubi no Kitsune, Kurama.

"Yahh ... Tidak masalah. Lagipula aku sudah menemukan teman baru di sini." Kemudian Naruto terdiam. "Ah! Aku baru ingat! Ophis pernah mengatakan kepadaku bahwa ada seekor naga yang menjaga perbatasan antar dimensi. Kita bisa menanyakan hal itu kepada Great Red apakah kita bisa kembali ke dunia Shinobi atau tidak," kata Naruto dengan wajah senangnya.

"Hmm ... Tapi,.. Bagaimana kita menemui naga yang bernama Great Red itu?" tanya Kurama membuat senyum Naruto menghilang.

"Benar juga," gumam Naruto. Sebuah ide muncul di kepala kuningnya. "Aha! Kita minta tolong Ophis saja! Bukankah kekuatannya sudah pulih kembali, pasti dia bisa membawaku untuk menjumpai Great Red! "

"Hmm ..." Kurama bergumam seraya memejamkan mata. "Boleh dicoba," kata Kurama memperlihatkan senyumnya yang terlihat seperti seringai.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi menemui Ophis di dunia Kamui," kata Naruto sebelum tubuhnya menghilang menjadi serpihan partikel, meninggalkan Kurama yang tertidur setelah menatap Naruto yang menghilang.

.

.

Dunia Kamui

Ssyuuuut

Sebuah pusaran angin tercipta di suatu tempat yang yang tergolong indah. Kemudian terlihatlah seorang pemuda —Naruto— setelah pusaran tadi menghilang.

"Naruto!"

Naruto mengalihkan pandangan ke asal suara dan menemukan gadis loli yang memakai pakaian Gothic berwarna hitam, Ouroborost, Ophis.

"Oh! Ophis." Naruto segera menghampiri Ophis yang tengah duduk tenang di pinggir sungai.

"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Ophis setelah Naruto duduk di sampingnya.

"Tidak ada,.. Hanya saja aku ingin meminta tolong kepadamu."

Ophis hanya menatap Naruto kosong, tapi Naruto tahu jika Ophis sedang heran dengan perkataannya.

"Meminta tolong apa?"

"Dulu kamu pernah bilang jika ada naga penunggu perbatasan ruang dimensi 'kan?" tanya Naruto dibalas anggukan kecil oleh Ophis. "Aku ingin meminta tolong kepadamu untuk mengantarkanku menemuinya."

"Untuk apa?" tanya Ophis menatap Naruto lekat. Ia mencoba mencari tahu tujuan Naruto menemui Great Red.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan dengannya," kata Naruto serius.

Ophis diam sesaat sebekum mengangguk mau. "Baiklah."

Kemudian Naruto dan Ophis menghilang ditelan pusaran angin.

Dunia Kamuii end

.

.

Terdapat sesosok siluet berpakaian putih tengah berdiri melayang di ruangan yang minim cahaya. Matanya terpejam, memperlihatkan ekspresi serius. Mata merah yang berada di dahinya senantiasa terbuka, memancarkan aura yang sangat kuat.

"Dimanakah engkau wahai anakku, reinkarnasi Ashura?" gumam sosok tersebut sambil membuka matanya, memperlihatkan iris putih seperti bulan.

Syuuutt..

Kemudian sosok tersebut menghilang tertelan oleh mulut dimensi yang seperti puzzle.

.

.

Perbatasan dimensi,.. adalah ujung dunia yang sekarang dijaga oleh seekor naga merah bernama Great Red.

Terlihat Great Red tengah berenang-renang di udara hampa. Tubuh besarnya meluncur santai seperti berenang di air. Kegiatannya terhenti saat melihat portal yang muncul tak jauh di depannya.

Great Red menatap serius portal tersebut sebelum ia merasakan aura yang sangat familiar. Dan benar saja, setelah portal tadi menghilang, keluarlah Naruto dan Ophis dari portal tersebut.

"Halo, Great Red. Lama tidak jumpa," ujar Ophis kepada Great Red yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.

"Ouroborost Dragon, ternyata itu kau." Great Red segera memasang sikap waspada saat merasakan aura Naruto yang menurutnya asing dan kuat. "Siapa kau?" tanya Great Red kepada Naruto.

"Aku ...?"tanya Naruto sambil menunjuk dirinya sendiri. "Namaku Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang berasal dari dunia Shinobi. "

"Kau memiliki aura yang sangat kuat," kata Great Red yang hanya dibalas hendikan bahu oleh Naruto. "Jadi, mau apa kalian datang menemuiku? Apa kalian akan berniat mengambil alih perbatasan ini?" tanya Great Red.

"Tidak. Aku sama sekali tidak berminat lagi untuk menjaga perbatasan dimensi. Lagipula aku sudah memiliki Naruto," ujar Ophis dengan suara kecil di akhir kalimatnya.

"Hah?" Naruto hanya menatap Ophis dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Hmm ... Begitu ya. Lalu, apa yang kalian inginkan?" Great Red menatap Naruto dan Ophis bergantian.

Ophis menatap ke arah Naruto. Naruto yang masih melayang di ruang hampa, mulai memajukan tubuhnya untuk mendekat ke arah Great Red.

"Aku ingin pergi ke dunia asalku, Elemen Nation," kata Naruto membuat Ophis terkejut.

'Naruto ... akan pergi?' batin Ophis menatap Naruto terkejut.

"Maksudmu, kau ingin aku mengirimmu ke dunia Elemen Nation?" tanya Great dibalas anggukan oleh Naruto. "Tidak mudah untuk sampai dengan selamat."

"Maksudnya?" tanya Naruto yang masih belum paham.

"Melewati ruang dimensi itu sangat mustahil untuk berakhir dengan selamat. Setiap makhluk yang melewati ruang dimensi tidak semua berhasil, karena kebanyakan orang yang melewati ruang dimensi akan mati. Kemungkinan selamat hanya 1%."

Mendengar ucapan Great Red, Naruto terdiam. Ia masih mencerna perkataan Great Red.

'Hanya 1%, ya," gumam Naruto. Ia baru tahu jika keselamatan keluar dari portal antar dimensi sangat kecil. Hanya orang-orang beruntung saja yang bisa selamat melewati portal dimensi.

"Naruto,.. kau akan pergi dari dimensimu sekarang?" tanya Ophis menatap Naruto yang hanya diam. Entah kenapa ia tidak rela jika kehilangan Naruto. Walau ia tidak mengenal Naruto lebih jauh, tapi Ophis merasa nyaman bersama Naruto.

"Entahlah, Ophis. Aku sudah sangat rindu dengan Konoha, dan semua teman-temanku di Element Nation." Naruto menatap Ophis yang tengah menunduk.

"Jadi,.." Suara Great Red menarik perhatian Naruto, "... kau masih ingin nekad untuk pergi?"

"Huufftt ... Aku akan coba," ujar Naruto menjawab pertanyaan Great Red.

"Hm, bersiaplah, aku akan membuka portal untukmu. Dan ingat, keselamatanmu hanya 1%," kata Great Red memberi peringatan.

SRRIINNGG

Sebuah portal muncul beberapa meter di depan Naruto. Ia bisa merasakan hisapan portal tersebut sangat kuat.

"Naruto," gumam Ophis lirih. Pandangannya sudah tidak menyiratkan kekosongan lagi, melainkan kesedihan.

Naruto menatap Ophis balik. "Gomenasai, Ophis, aku harus pergi. Dan semoga kau memujudkan impian kita, membuat perdamaian. Kamu tahu, walau aku tidak mengenalmu lebih jauh, tapi aku senang saat bersamamu. Jadi, jangan lupakan aku, ya."

Ophis terdiam sesaat sebelum menarik kerah baju Naruto, menempelkan bibirnya dengan bibir Naruto. Ophis mencium bibir Naruto lembut, seolah bibir itu adalah sehelai benang sutra yang mudah rusak.

Great Red harus memalingkan wajah agar ia tidak melihat kejadian absurd di depannya.

Naruto diam membeku mendapat perlakuan tak terduga dari Ophis. Ia bisa merasakan bibir manis Ophis yang beradu dengannya.

"Hah ..." Ophis melepas ciumannya, kemudian bergumam, " Aishiteru, Naruto-kun."

"Eh!"

Ophis segera mendorong Naruto hingga tubuh pemuda pirang tersebut tersedot dan memasuki portal.

SRRIINNGG

Setelah Naruto masuk ke dalam, protal tadi langsung menghilang. Ophis hanya menatap bekas portal dengan tatapan sedih.

"Sudah lama kita tidak bertemu, dan kau sudah banyak berubah, Ophis," kata Great Red tiba-tiba.

"Dialah yang membuatku berubah. Naruto-kun... mengajarkan banyak hal kepadaku." Ophis balik menatap rivalnya dengan tatapan kosong.

"Cinta memang aneh," gumam Great Red.

Ophis hanya diam mendengar gumaman Great Red. Tapi, ia harus dibuat penasaran saat sesuatu muncul di depannya.

SRRIINNGG

Sebuah portal muncul kembali dengan cepat hingga mementalkan sesuatu dari dalam.

Bruk

"Ugh!"

"Naruto-kun!/pirang!" seru Ophis dan Great Red melihat sesuatu yang terpental itu adalah Naruto.

"Khugh!" Naruto mencoba bangun dari tengkurapnya dengan susah payah. Tubuhnya penuh dengan sayatan.

"Kau tidak apa-apa, Pirang?" tanya Great Red setelah sampai di dekat Naruto yang tengkurap walau dalam posisi mengambang.

"Aku tidak apa-apa," gumam Naruto lirih. "Ugh.." Ia sedikit merintih saat Ophis membalikkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di paha Ophis.

"Bertahanlah, Naruto-kun." Ophis menaruh kedua telapak tangannya di depan dada Naruto, kemudian terlihat sesuatu berwarna hitam memasuki tubuh Naruto.

Beberapa menit kemudian, luka-luka yang ada di tubuh Naruto menghilang entah ke mana.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Great Red?" tanya Naruto yang sudah mendudukkan tubuhnya.

"Portal itu menolakmu."

"Menolak?" beo Naruto saat mendengar penuturan Great Red.

"Kau tidak bisa kembali lagi ke dunia asalmu, karena itu, portal itu mengirimmu kembali ke sini. Beruntung kau tidak terlempar ke dimensi lain, dan kau masih hidup." Great Red menatap Naruto yang hanya diam.

"Begitu, ya," gumam Naruto. "Yahh ... Tidak apalah. Lagipula aku sudah nyaman di dimensi baruku, dan aku sudah mempunyai banyak teman." Walau sedikit berat, Naruto harus terbiasa dan melupakan tentang Elemen Nation.

"Lalu untuk apa kamu ingik kembali ke dimensi lalamu?" tanya Ophis dengan nada jengkel.

"Hanya iseng," ujar Naruto polos.

Ophis tersenyum mendengar petkataan Naruto. Ia tidak khawatir jika Naruto akan kembali ke dunia asalnya, karena itu tidak mungkin dilakukan.

"Hey, Great Red. Terima kasih sudah mau membantuku untuk mencoba kembali ke dunia asalku," ujar Naruto membuat Great Red tersenyum, atau lebih terlihat menyeringai.

"Ya, sama-sama. Lagipula aku kasihan padamu, karena dari kecil kau selalu dianiaya, makanya aku memberimu kebaikan.. Kha kha kha," kata Great Red di akhiri dengan gelak tawa.

" Yahh ... Begi— ... Tunggu! Darimana kau tahu masa laluku?" tanya Naruto menatap Great Red penasaran.

"Itu rahasia." Great Red menatap Naruto dengan tatapan polosnya, tapi entah kenapa bagi Naruto itu seperti tatapan yang menjijikkan.

"Kau membaca ingatanku, hah?!" tanya Naruto sambil menunjuk wajah Great Red.

"Iyap." Great Red membusungkan dadanya bangga, tapi itu justru membuat perempatan muncul di kening Naruto.

"Kau jangan seenaknya membaca pikiran orang lain, Baka!"

"Heh! Memangnya kenapa? Apa kau keberatan?"

"Tentu saja! Itu tidak sopan tahu!"

"Suka-suka aku mau melakukan apa. Lagipula yang memiliki kekuatan itu aku."

"Dasar Kadal Merah!"

"Siapa yang kau panggil kadal, Pirang?"

"Tentu saja kau. Dan apa-apaan pirang itu? Namaku Naruto, N,.. A,.. R,.. U,.. T,.. O."

"Pirang."

"Kau brengsek!"

Mereka asyik berdebat hingga melupakan keberadaan Ophis yang kini menatap mereka berdua bosan.

"Entah kenapa aku ingin memukul kepala mereka," gumam Ophis dengan tatapan malasnya.

"Ghah! Baiklah, cukup! Kita akhiri saja perdebatan ini!" teriak Naruto frustasi karena Great Red tidak ingin mengalah.

"Hn."

'Entah kenapa aku jadi ingat si Teme,' batin Naruto mendengar kata 'Hn' milik rivalnya, Sasuke.

"Naruto," panggil Great Red setelah terdiam beberapa detik. Great Red menatap Naruto dengan serius, terlihat dari kedua alisnya yang hampir menyatu. "Aku membaca dari ingatanmu bah—"

"Aku sudah bilang jangan seenaknya membaca pikiranku!" potong Naruto sebelum Great Red menyelesaikan ucapannya.

"Dengar dulu, Baka!" Bentak Great Red membuat nyali Naruto ciut. "Aku tahu kau ingin membuat perdamaian di dunia yang sekarang ..."

"Lalu?"

"Jangan menyela!" Great Red memejamkan kedua matanya sesaat, sebelum membuka kedua matanya kembali. "Aku mendukung tujuanmu, karena itu aku memilihmu sebagai partnerku. Kau mau?"

Naruto diam sesaat sebelum tersenyum sambil menundukkan kepala. "Partner? Tentu saja!" kata Naruto seraya menatap Great Red, kemudian ia memajukan kepalan tangannya ke arah Great Red.

Great Red yang tahu maksud dari Naruto, juga memajukan tangan atau bisa dibilang kakinya ke arah kepalan tangan Naruto.

Naruto tersenyum senang saat kedua kepalan tangan mereka beradu. Naruto menarik tangannya kembali sambil menatap Great Red.

"Jadi, kita sudah menjadi parter?"

Great Red menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Naruto. "Belum. Kau harus menjalin kontrak denganku."

Mendengar perkataan Great Red, Naruto teringat dengan dunia Shinobi yang juga harus menjalin kontrak dengan Kuchiyose.

"Bagaimana cara menjalin kontraknya? Apa harus menuliskan nama menggunakan darah?" tanya Naruto menatap Great Red yang menggelengkan kepala.

" Bukan, tapi seperti ini ..." Great Red menyentuhkan ujung jarinya ke dahi Naruto, kemudian terlihat cahaya pendar berwarna merah yang mengalir masuk ke dalam tubuh Naruto. "... Selesai," kata Great Red sambil menjauhkan jarinya dari dahi Naruto.

"Sudah selesai?"

"Sudah. Aku sudah menjalin kontrak denganmu.

"Begitu ya.. Sangat simple," gumam Naruto.

Great Red hanya menatap bosan ke arah Naruto.

"Hey, Great Red... kenapa kau mau menjadi partnerku?" tanya Naruto menatap serius ke arah Great Red.

"Kau tahu sendiri 'kan jika dimensi DxD telah mengalami banyak kekacauan setelah terjadinya Great War berabad-abad yang lalu. Dan aku sudah jengah melihat mereka saling menghabisi, terutama manusia yang tidak bersalah yang turut serta terlibat dalam konflik." Dengan santai, Great Red merebahkan tubuhnya di ruang dimensi yang tanpa batas tersebut.

Naruto dan Ophis senantiasa mendengar penjelasan Great Red dengan serius.

"Aku percaya bahwa dirimu akan membuat perdamaian di dunia barumu. Karena itu, aku ingin membantumu untuk mewujudkan impian semua makhluk hidup yang menginginkan perdamaian," lanjut Great Red mendapat beberapa anggukan paham oleh Naruto.

"Begitu ya ... Baiklah! Jadi,... Ayo kita berjuang bersama, Great Red!" seru Naruto membuat seringai tercetak di wajah naga merah tersebut.

"Ya.."

"Da—"

"Baiklah, Great Red, karena urusan kami di sini telah selesai, kami undur diri untuk pergi," ujar Ophis memotong ucapan Naruto.

"Kenapa terburu-buru? Kita baru saja bertemu," kata Great Red menatap Naruto dan Ophis.

"Mungkin Ophis butuh istirahat."

Ophis mengangguk cepat mendengar perkataan Naruto.

"Baiklah. Dan jika kau butuh bantuan, tinggal sebut saja namaku sebanyak tiga kali."

Naruto hanya mengangguk mendengar perkataan Great Red. Kemudian Ophis menggandeng tangan Naruto sebelum mereka menghilang dari perbatasan dimensi.

.

.

SIINNG

Sebuah portal muncul di sebuah hutan yang cukup lebat. Dari portal tersebut, keluarlah Naruto dan Ophis yang tengah bergandengan tangan.

"Akhirnya sampai," gumam Naruto. Kemudian ia menatap Ophis yang sudah melepaskan tangannya. "Ophis, kamu ingin main ke rumahku dahulu atau ingin ke dunia Kamui?"

"Aku langsung saja 'pulang'. Lagipula aku ingin cepat-cepat mandi, badanku sudah bau," kata Ophis sambil mengangkat tangannya ke atas, memperlihatkan ketiaknya yang mulus.

'Memangnya naga bisa berkeringat, ya?' tanya Naruto di dalam batin.

"Baiklah, Naruto. Kirim aku ke dimensi Kamuimu."

"Sebentar." Naruto melepas bajunya dan memberikannya kepada Ophis. "Pakailah ini. Kau tahu, setiap aku datang menemuimu, pandangaku tak luput dari dadamu. Jadi gunakan itu agar aku tidak menerkammu," kata Naruto dengan jujur. Yahh.. Terkadang ia salah tingkah sendiri saat tanpa sengaja tatapannya mengarah ke dada Ophis yang hanya tertutupi oleh sebuah benda seperti lakban.

"Kau tergoda denganku, ne?" kata Ophis dengan nada sensual.

"Jangan mulai Ophis. Aku bisa saja menerkammu sekarang juga," ancam Naruto menatap Ophis.

"Naruto-kun no ecchi," kata Ophis sambil menutupi area sensitifnya.

"Ck! Sudahlah, lebih baik kamu tidur saja di dalam dimensi," kata Naruto sambil melenggang pergi meninggalkan Ophis sendiri.

"Mou... Kamu menyuruhku untuk tidur, tapi kamu belum memasukkanku ke dunia Kamuimu," ujar Ophis dengan ekspresi cemberut.

"Tidur saja di dimensi milikmu sendiri!" seru Naruto tanpa menghentikan langkahnya.

Ophis hanya mengerucutkan bibirnya melihat kepergian Naruto. Kemudian ia menghilang menggunakan ruang dimensi miliknya sendiri.

Underworld

Di dalam sebuah ruangan, terlihat Sirzech dan ayahnya tengah duduk berhadapan. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti pembicaraan mereka tidak lepas dari kejadian kemarin malam, tepat saat acara pernikahan Rias.

"Jadi namanya Uzumaki Naruto, ya," gumam gumam Zeoticus membuat Sirzech mengangguk.

"Benar, Tou-sama."

"Tapi,.. apa alasanmu menolak untuk menjodohkan Rias dengan Naruto?"

Sirzech terdiam mendengar pertanyaan Zeoticus. "Bukannya aku tidak ingin Rias menikah dengan Naruto, tapi, ada masalah antara Rias dan Naruto saat ini."

Zeoticus menaikkan sebelah alisnya bingung. "Masalah?"

Mendengar kebingungan Zeoticus, Sirzech menjekaskan dari awal masalah Naruto dan Rias. Terlihat juga wajah Zeoticus mengeras mendengar pernyataan Sirzech.

Zeoticus baru tahu jika anaknya, Rias, telah memiliki hubungan kekasih dengan Naruto 1 tahun yang lalu. Dan ia tidak menyangka jika Rias bisa melakukan hal keji seperti itu kepada Naruto. Walau mereka iblis, tapi tidak perlu seperti itu caranya 'kan?

Zeoticus diam setelah mendengar penjelasan Sirzech. "Kenapa Rias bisa setega itu?" tanya Zeoticus sambil bergumam.

"Itu karena dulu Naruto sama sekali tidak memiliki kekuatan, jadi Rias tidak tertarik dengan Naruto."

"Tapi bagaimana Naruto bisa sekuat itu sekarang?"

"Kata teman Naruto, Kiba, Naruto bukannya tidak memiliki kekuatan, hanya saja kekuatan Naruto tersegel entah karena apa. Dan kekuatan itu sudah terlepas segelnya," jelas Sirzech membuat Zeoticus mengangguk-anggukkan kepala paham.

"Naruhodo ..."

Kemudian mereka larut dalam hening. Hingga Zeoticus memutuskan untuk pergi meninggalkan Sirzech yang tengah duduk sendiri.

At Elemen Nation

Konoha Gakure, sebuah desa daun tersembunyi yang menghasilkan Shinobi-Shinobi hebat dari berbagai ninja. Sebuah desa yang dulunya hanya terdapat bangunan-bangunan kecil, sekarang tumbuh menjadi desa yang sangat modern.

Terlihat di kantor Hokage, seorang pria bermasker tengah duduk dengan dua orang berbeda gender yang berdiri di depan mejanya.

"Bagaimana hasil pencarian kalian, Sasuke, Sakura?" tanya pria tersebut serius.

"Gomenasai, Hokage-sama. Naruto masih belum bisa ditemukan. Berbagai penjuru dunia telah kami lakukan pencarian, namun masih belum diketahui keberadaan Naruto. Terlebih lagi dengan hilangnya Kazekage, Fuu, dan Shikamaru yang menjadi tanda tanya besar bagi Shinobi yang bertugas mencari keberadaan mereka," ujar seorang wanita berambut pink, Haruno Sakura.

"Begitu, ya," gumam sang Hokage ke-6, Hatake Kakashi. Wajahnya menyiratkan raut kesedihan atas hilangnya Shinobi-shinobi yang telah berjasa besar pada perang ke-4.

"Tapi tenang saja, Kakashi-san. Aku telah menyebarkan ribuan bunshin untuk mencari mereka di beberapa tempat," kata lelaki berambut hitam, Uchiha Sasuke.

"Mohon bantuannya," kata Kakashi dengan suara lemah. "Dan kalian harus hati-hati, karena Kaguya masih belum tersegel, ia bebas berkeliaraan di mana-mana. Sepertinya ia tengah mencari keberadaan Naruto."

"Ha'i! Kami paham," kata Sasuke dan Sakura lantang. Kemudian mereka menghilang menggunakan Shunsin

Poft poft

"Di mana 'kah kau, Naruto? "

.

.

Drapdrapdrap.. Tap!

Sasuke dan Sakura berhenti di tengah hutan dalam misi pencarian Naruto. Bukan tanpa alasan mereka menghentikan langkah mereka.

"Sarada! Apa yang kau lakukan di sana?" Sasuke berteriak lantang ke arah sebuah pohon yang di balik pohon tersebut terdapat seorang gadis 13 tahun tengah bersembunyi.

Dengan takut-takut, gadis yang dipanggil Sarada keluar dari balik pohon. "A-aku.. Aku ingin ikut dengan Mama dan Papa," ujar Sarada dengan suara bergetar.

"Lebih baik tidak usah. Perjalanan kami berbahaya," kata Sasuke dengan nada dingin.

"Benar apa yang dikatakan papamu, Sarada-chan. Kami sedang melakukan misi yang berbahaya. Lebih baik kamu pulang saja, ya," bujuk Sakura sambil mendekat ke arah Sarada yang merupakan anaknya.

"Tidak!"

Teriak Sarada membuat Sakura menghentikan langkahnya.

"Aku tetap ingin ikut dengan kalian."

"Jangan keras kepala, Sarada! Lebih baik kau pulang saja!" kata Sasuke dengan dingin dan tegas.

"KALIAN TIDAK MENGERTI! ... Hiks ..."

Sasuke dan Sakura mematung melihat Sarada menundukkan kepala sambil menangis.

"Kalian tidak mengerti betapa kesepiannya aku di rumah! Kalian selalu pergi ... Aku sendirian ... Aku takut saat hujan petir tiba dan tidak ada yang memelukku ... Kalian sangat jarang pulang ke rumah ... Hiks ... Setiap hari ... Setiap hari aku merasakan kesepian! KALIAN TAHU ITU?! Tidak ... Kalian terlalu sibuk mencari keberadaan teman Papa dan Mama.. Hiks ... Aku hanya ingin bersama kalian."

"Sa-Sarada ..." Sakura berjalan pelan ke arah Sarada. Ia merasa bersalah. Benar apa yang dikatakan Sarada, dirinya dan Sasuke sangat jarang pulang ke rumah. Hanya pagi hari mereka pulang, dan selebihnya mereka melaksanakn misi pencarian Naruto.

"Hiks ..."

"Gomenasai, Sarada-chan.. Mama benar-benar menyesal," ujar Sakura sambil memeluk Sarada erat.

Sasuke menatap ke bawah. Perasaan bersalah hinggap di hatinya. Semenjak kelahiran Sarada, Sasuke sangat jarang menimang anaknya, bahkan tidak pernah. Sasuke hanya pulang 5 bulan sekali. Saat Sarada berusia 8 tahun, Sakura ikut bersama Sasuke untuk mencari keberadaan Naruto, dan terkadang Sakura hanya pulang sebulan dua kali.

Sasuke menatap sendu ke arah Sakura dan Sarada. "Kami minta maaf, Sarada. Kami sungguh orang tua yang buruk," ujar Sasuke sambil mendengkat ke arah Sakura dan Sarada, kemudian ia memeluk istri dan anaknya.

Mereka melepas rindu kasih sayang yang selama ini diinginkan Sarada. Pelukan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Beberapa menit berlalu, Sasuke memutuskan untuk melepaskan pelukan mereka. "Baiklah ... Mulai sekarang dan seterusnya, kami akan sering memberikan perhatian padamu, Sarada."

"Benar apa yang dikatakan papamu. Kami akan menyayangimu dan menebus kesalahan kami," kata Sakura menimpali. "Mari kita pulang, Sarada. Kita perbaiki masa lalu kita."

"Tidak, Mama. Sekarang kita cari teman papa yang hilang itu," kata Sarada membuat Sakura bingung.

"Tapi,.. Jika kita mencari teman mama dan papa ..." Sakura menggantungkan kalimatnya saat melihat Sarada tersenyum ke arahnya.

"Jika mama dan papa cepat menemukan teman kalian, kita tidak perlu lagi memikirkan pencarian dan kita bisa tetap bersama," kata Sarada membuat Sakura dan Sasuke tersenyum.

"Baiklah ... Ayo kita bergegas mencari teman papa!" Sasuke dengan cepat melesat melompati cabang-cabang pohon diikuti Sakura dan Sarada di belakangnya.

'Dobe,.. aku akan menemukanmu cepat atau lambat', kata Sasuke di dalam hati.

.

.

Kuoh, at Naruto home

Stak

"Hah! Kau kalah!"

"Tidak! Ini tidak benar. Pasti ada yang salah tadi. Kita coba ulang."

"Mana bisa begitu. Kalah tetap kalah!"

Shikamaru tertidur di atas sofa dengan kurang nyaman. Terlihat dari raut wajahnya yang merasa terganggu dengan kebisingan kedua rekannya.

"Aku belum kalah, tahu!" Suara Ichigo menggelegar saat dirinya tidak mau dibilang kalah.

"Ini ada buktinya!" Rukia tidak mau kalah dan ikut berteriak ke arah Rukia.

"Tapi—"

"Jangan membantah atau kau akan tahu akibatnya!"

Ichigo langsung terdiam mendengar ancaman dari Rukia. Ia tidak ingin mati konyol hanya karena kalah bermain Shogi.

"Bisakah kalian diam!" Shikamaru yang tidak tahan dengan keributan yang terjadi berteriak frustasi sebelum melanjutkan acara tidurnya.

Tep tep tep

Derap langkah terdengar dari Fuu saat ia dengan santainya berjalan ke arah sebuah sofa sambil membuawa sekotak snack.

Ketiga Da-Tenshin yang beberapa hari yang lalu tinggal di rumah Naruto, kini terlihat mereka tengah rebahan di lantai. Entah apa yang tengah mereka lakukan di sana, yang pasti mereka terlihat kepanasan karena udara hari ini cukup panas.

Di salah satu pojok ruangan, Megumin tampak serius membaca sebuah buku tentang sihir yang entah ia dapat dari mana.

"Hey, Apa Naruto belum kembali?" Sebuah pertanyaan berasal dari Gaara yang tengah berjalan ke arah sofa.

"Belum."

Gaara hanya dapat sedikit sweatdrop saat pertanyaannya dijawab serentak oleh teman-temannya dengan nada yang berbeda-beda. Ada yang membentak, malas, bosan, bahkan ada yang dekedar dengkuran.

"Baiklah ... Aku akan pergi keluar untuk mencari angin," kata Gaara sebelum dirinya pergi dengan meleburkan tubuhnya menjadi pasir dan menghilang bagai tersapu angin.

SIINNGG

Sebuah lingkaran sihir tercipta di lantai sebelum memunculkan seseorang.

"Ahh ... Akhirnya sampai juga," gumam sosok tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto. Dirinya harus dibuat sweatdrop saat kedatangannya tidak dihiraukan oleh yang lain. "Hey!"

"Hm?"

Setetes keringan dingin mengalir dari pelipis Naruto saat teman-temannya hanya bergumam dengan nada bertanya.

"Aku sudah pulang, apa tidak ada yang menyambutku?" tanya Naruto dengan ekspresi kesal.

"Okaeri."

Naruto hanya memijit kepalanya sebelum memutuskan untuk pergi ke kamarnya.

.

.

Tap tap tap

"Hmm ... Semenjak aku tinggak di Kuoh, aku sama sekali belum melihat-lihat lingkungan sekitar," gumam Gaara yang kini menapakkan kakinya di atas semen yang berada di sebuah taman.

Seulas senyum terpatri di wajahnya yang tampan melihat beberapa anak bermain kejar-kejaran sambil tertawa senang. Kenangan pahit di masa kecilnya mengalir bagai air di kepalanya. Ingatan saat dirinya dijauhi oleh anak-anak sebayanya sehingga dirinya tidak mengetahui makna persahabatan. Namun, berkat Naruto, ia mengerti apa yang disebut teman.

"Andai dirimu tidak hadir di kehidupanku waktu itu, entah seperti apa diriku sekarang," gumam Gaara memejamkan matanya.

Degdeg!

Sepi.

Beberapa detik ia memejamkan mata, keadaan sekitar telah sepi. Tidak ada seseorang pun selain dirinya dan makhluk bersayap hitam yang terbang beberapa meter darinya. Dengan pakaian jas hujan, dan sebuah kain yang mengelilingi pinggang hingga ujung kakinya.

"Hahaha ... Tak kusang aku menemukan Akuma sepertimu."

Gaara mengarahakan pandangannya ke asal suara. 'Da-Tenshin, kah?' batin Gaara menatap ke atas. Dilihat dari sayapnya, ia sudah tahu makhluk apa yang terbang di atasnya. "Mau apa kau?"

"Hahaha ... Berani sekali kau bertanya padaku. Tapi tak masalah. Jika kau bertanya padaku apa mauku, makan aku akan menjawab, membunuhmu!"

Cring

Sebuah tombak cahaya hijau tercipta di tangannya. "Dengan membunuhmu, eksistensi Da-Tenshin akan semakin berkembang di permukaan bumi ini. Dan sekarang ... matilah!" Dengan sekuat tenaga, Da-Tenshin tersebut melemparkan tombaknya ke arah Gaara.

Srep

Sebuah dinding pasir berdiri di depan tubuh Gaara sebelum tombak suci yang dilempar oleh Da-Tenshin tadi mengenai tubuhnya.

"Hohoho ... Hebat juga untuk iblis rendahan sepertimu bisa menangkis seranganku. Tapi itu masih belum seberapa." Untuk kedua kalinya, tombak cahaya muncul di kedua tangan malaikat jatuh yang kini menampakkan seringainya. "Namaku Justin. Da-Tenshin yang akan membunuhmu hari ini. Hahaha ..."

"Hmm... Sudah lama aku tidak bersang-senang," gumam Gaara pelan. Kemudian Gaara merentangkan tangannya ke depan, tanah-tanah di sekitar Gaara mulai bergetar sebelum ribuan serpihan tanah melesat ke arah sang Da-Tenshin.

Da-Tenshin tersebut berhasil menghindari pasir Gaara dengan mudah. "Hoo ... Hanya segitu kemampuanmu? Sungguh disayangkan."

'Tempat ini minim tanah dan pasir. Hal ini menyulitkanku untuk menyerangnya,' batin Gaara dengan tatapan tajam yang terarah kepada Justin. 'Terpaksa aku harus menggunakan pasir cadanganku.'

Gaara merentangkan tangannya ke depan, kemudian terciptalah lingkaran sihir berwarna kuning dengan lambang kunai cabang tiga, kunai Hiraishin.

Srcctctctct

Dari dalam lingkaran tersebut, keluarlah gumpalan pasir yang seukuran truk.

Justin menatap Gaara dengan minat. "Jadi kekuatanmu pasir? Menarik. Jarang sekali seorang Akuma mempunyai elemen pasir, atau bahkan tidak ada. Ini akan menjadi semakin menarik."

"Hanya aku iblis yang dapat menggunakan pasir," kata Gaara sebelum pasir yang menggumpal tadi melebur. Gaara mengarahkan tangan kanannya ke depan, sejumlah pasir membentuk tomak dan melesat ke arah Justin.

Tidak ingin tubuhnya terluka, Justin melindungi dirinya dengan menggunakan sayapnya. Namun, dirinya harus dibuat terkejut saat ia merasakan ada yang melilit kakinya. Dan benar saja, pasir milik Gaara telah sukses melilit kaki Justin.

Gaara menggerakkan pasir-pasirnya menarik Jutsin ke bawah.

Tubuh Justin melesat ke bawah mengikuti tarikan pasir Gasra yang mengikat kakinya.

Jdum

"Ugh!"

Cukup kuat benturan yang diterima Justin hingga dirinya harus merintih kesakitan. Setelah itu, Jistin ingin berdiri dari terjatuhnya, namun, niatnya tertunda saat Gaara telah berada di depannya seraya menggenggam pasir yang berbentuk tombak.

"Aku benci makhluk yang banyak omong kosong," gumam Gaara sebelum mengahunkan pasirnya yang telah memadat menjadk tombak.

Jleb

"ARGGHH!!!"

.

.

"Tadaima!"

"Okaeri!"

Sambutan selamat datang berasal dari dalam saat Gaara memasuki Rumah. Sampainya di ruang tamu, Gaara melihat Naruto tengah duduk di sofa dengan Mittelt yang duduk di pangkuan Naruto. Di samping kanan-kiri Naruto, terdapat Rayner dan Kalawarner yang merangkul tangan pemuda pirang tersebut. Pandangan mereka terarah kepada TV yang menampilkan acara kartun.

"Oh, kau sudah pulang, Gaara," kata Naruto sambil melihat Gaara yanh berjalan ke arahnya.

"Yahh ... Begitulah. Aku butuh bersenang-senang sedikit," kata Gaara mendapat kekehan oleh Naruto.

"Khekhekhe ... Bersenang-senang dan merenggangkan otot." Naruto tahu arti bersenang-senang yang dikatakan Gaara.

"Hoaaam ... Mendokusai."

Dari arah dapur keluar Shikamaru yang terlihat tengah menguap seraya membawa secangkir kopi hangat untuk menghilangkan kantuknya. Tapi sudah berulang kali ia melakukan hal itu, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa kantuknya.

"Kau sudah pulang, ya, Gaara? Hoaamm ..." Shikamaru kembali menguap lebar dan sukses membuat Gaara dan Naruto berkeringat dingin.

Naruto hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan teman nanasnya yang sangat pemalas, namun entah kenapa bisa secerdas itu. Bersukurlah karena gen Nara mengalir di darahmu.

Kemudian Naruto teringat sesuatu. "Oh, ya, apa Koneko-chan belum pulang?"

"Entahlah. Kami tidak melihat kucing itu dari tadi." Mittelt menjawab pertanyaan Naruto dengan nada tidak suka.

"Begitu ya," gumam Naruto. "Mungkin dia sedang di ORC."

"Naruto!"

Naruto tersentak saat sebuah suara yang menyeramkan memanggil namanya. "Ada apa, Kurama?"

"Temui aku," balas suara Kyuubi dari pikiran Naruto.

Naruto mengangguk sebelum menutup matanya.

Mindscape

Naruto muncul di tempat padang rumput yang luas. Di depannya berdiri seekor rubah dengan sembilan ekor yang melambai ke sana ke mari.

"Akhirnya kau datang juga, Gaki," ujar Kurama menatap Naruto dengan mata merahnya.

"Ya ... Lalu, ada apa sampai kau memanggilku, Kurama?" tanya Naruto to the point.

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata Kurama. Kemudian sebuah cakra api berwarna putih berkobar di samping tubuh Kurama.

Api putih tadi langsung berubah menjadi seseorang dengan pakaian putih dan terdapat tanda tomoe di beberapa bagian. "Halo, reinkarnasi Ashura."

"Eh? Rikuudo-jiji?" Naruto terkejut melihat Hagoromo.

"Itu aku."

"Kenapa Jiji ingin menemuiku di sini? Kenapa tidak di dunia nyata saja?"tanya Naruto penasaran.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua."

Naruto dan Kurama menyimak dengan seksama apa yang Hagoromo ingin katakan.

"Kalian sudah tahu bukan jika ibuku Kaguya belum tersegel," kata Rikuudo membuat Naruto terdiam. "Aku yakin pasti ibuku akan mencarimu terlebih dahulu sebelum reinkarnasi Indra."

"Kenapa begitu, Jiji?" Naruto menatap penasaran ke arah Hagoromo yang hanya menggelengkan kepala.

"Entahlah. Tapi aku yakin itu. Kau ingat bukan saat kau dan Sasuke melawan Kaguya?" tanya Hagoromo dibalas anggukan oleh Naruto. "Kaguya lebih memilih melawanmu terlebih dahulu. Itu terbukti dari Kaguya yang membuang Sasuke ke dimensi lain dan lebih baik melawan dirimu, Naruto."

"Tapi, bukankah itu hanya untuk menjauhkan kami? Karena jika aku dan Sasuke bersatu, itu menyusahkan Kaguya. Jadi, Kaguya lebih memilih melawan satu lawan satu." Naruto menatap Hagoromo dengan tatapan bingung.

"Mungkin saja apa yang kau katakan benar. Tapi aku menyarankanmu untuk lebih hati-hati."

Naruto hanya mengangguk mendengar peringatan Rikuudo.

"Soal matamu, apa kau sudah bisa menggunakan mata Sharingan yang kuberikan?" tanya Hagoromo.

"Aku sudah bisa menggunakan mata Sharingan. Tapi, aku tidak bisa menggunakan Susanoo," kata Naruto menatap Hagoromo.

"Begitu. Mau aku ajarkan?" tanya Hagoromo mendapat gelengan dari Naruto.

"Tidak usah, Jiji. Sepertinya aku sama sekali tidak membutuhkannya. Lagipula aku sudah memiliki kekuatan yang cukup," kata Naruto menolak tawaran Hagoromo.

"Baiklah kalau begitu, langsung saja ke inti kedatangaku menemuimu. Naruto, kau sudah tahu 'kan jika lawanmu kedepannya akan semakin kuat?"

"Hm. Aku tahu. Karena seperti itulah dari dulu, Jiji. Satu lawan sudah kukalahkan, lawan lain muncul, dan seperti itu seterusnya sampai aku mengembuskan napas terakhir." Naruto langsung menatap Hagoromo seraya berkata, "Jiji, aku merasakan ada yang tengah membangunkanku. Lebih baik aku segera kembali ke dunia nyata."

Hagoromo hanya mengangguk mengiyakan perkataan Naruto. "Baiklah. Tapi ingat, Naruto, kau berhati-hatilah, Kaguya dapat datang kapan saja," kata Hagoromo mengingatkan.

"Hm! Aku mengerti. Kalau begitu aku permisi, Jiji, Kurama."

Tubuh Naruto langsung menghilang dengan memecah tubuhnya menjadi partikel cahaya kecil yang kemudian melebur dan menghilang tanpa bekas.

Mindscape end

"... Naruto-kun!"

"Ngghh!" Naruto segera membuka matanya saat sebuah suara memasuki gendang telinganya. Di depannya, Koneko tengah menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.

"Kenapa kamu tidur sambil duduk?" tanya Koneko sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Naruto yang kini tengah mengucek kedua matanya.

"Aku tidak tidur, Koneko-chan. Aku baru saja bertemu dengan Rikuudo Sennin," kata Naruto mendapat anggukan paham dari Koneko.

"Apa yang Kakek legend itu sampaikan kepadamu?" Koneko kini duduk di samping Naruto. Ia menatap wajah Naruto dengan tatapan bertanya.

"Dia hanya memberitahuku bahwa Kaguya masih hidup dan kemungkinan dia sedang mencariku." Naruto menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.

"Apa?! Kamu yakin, Naruto-kun?" Koneko menatap Naruto dengan tatapan terkejut.

"Hm. Rikuudo Sennin tidak berbohong, aku yakin itu. Terlebih lagi aku tidak tahu apa seranganku waktu itu berhasil atau tidak," terang Lio mendapat anggukan paham oleh Koneko.

"Kalau begitu kamu harus ekstra hati-hati, Naruto-kun," kata Koneko memperingati. "Kita juga harus memberitahu Fuu-san dan yang lainnya."

"Hm, benar. Untuk sekarang, kita aku dulu soal Kaguya, kita bicarakan itu lain kali. Oh, ya, yang lain ke mana?" tanya Naruto seraya menatap ke sekeliling ruangan yang awalnya ramai dengan para Akuma dan 3 Da-Tenshin, kini hanya ada dirinya dan Koneko.

"Tidak tahu, mungkin sedang jalan-jalan," kata Koneko menghendikkan bahu. "Ahh ... Daripada tidak ada kegiatan, lebih baik kita mandi bareng, saja." Tanpa aba-aba, Koneko segera menarik tangan Naruto hingga membuat sang empu tersentak oleh kuatnya tarikan Koneko.

"Eh! Chotto matte, Koneko-chan!"

"Ayo cepat, Naruto-kun. Manjakan aku!"

.

.

T.B.C

Hai, kembali lagi dengan Hashaka Lio, author keren dan kece.. Wkwkwk

Dan maaf loh kalo lama nggak update. Hmm ... Udah berapa bulan ya? 2 bulan? 3 bulan? Au ah, lupa..

Untuk fict kali ini, sepertinya nggak terlalu penting dan terkesan membosankan, ya. Dan alurnya nggak nyambung.

Untuk yang meminta Gabriel menjadi pair Naruto, masih author pikir-pikir dulu. Dan untuk Rias yang baikan lagi dengan Naruto, ... Hmm... Sepertinya beneran akan baikan.

Baiklah, itu saja yang ingin aku sampaikan. Dan kita jawab review.

Q: Yoo ... Fanfic lu ternyata gokil, gan. Awalnya we kira bakal bosen dan mainstream. Tapi setelah we baca chapter demi chapter, ternyata seru dan asik juga... Dan fix akhirnya fic ini penuh dengan lolicon dan boing boing Senpai..

Ditunggi kelanjutannya gan.. Ganbatte!

Ane request Rossweisse masuk harem Naru... PLEASE, my waifu.. And karna jarang ada fic NaruxRoss, klo ada paling Cuma oneshot atau 1-3 chap dan itu kurang memuaskan...

Salam FNI2019

A: Yahh ... Begitulah. Aku tidak hanya memasukkan loli, tapi juga Oneesan. Dan untuk Rossweisse, pasti akan aku masukkan, tapi butuh beberapa chapter lagi.

And thanks dukungannya!!

Salam FNI2019

Q: Btw, entah knapa saya pengen liat Issei jadi karakter yg keren. Jujur, pengen Issei yang bertarung melawan Raiser, itu memang aslinya sih :v, tapi greget aj liat Issei jadi lemah sedikit.

Saya manggil om aj biar sopan.

Lanjutkan!

A: Di cannonnya emang Issei melawan Raiser, tapi aku membuat Naruto aja yang melawan Raiser. Bukannya aku tidak mau membuat Issei menjadi pahlawan, hanya saja aku hanya ingin Rias menyesal.

Dan panggil aja aku "Lio" biar akrab.

Q: Kamvret, pendek banget pertarungan Naruto VS kakek keriput.

Dan kyaknya bakal nambah loli lagi, nih-_-"

A: Ahaha.. Gomen, senpai. Aku juga bingung mau membuat pertarungan seperti apa, jadi klo kepanjangan takut jelek..

Dan untuk loli, yahh.. Pastinya. Tapi tenang, tambah loli juga tambah Oneesan.. Wkwkwk