"Loh Chanyeol balikan dengan Baekhyun?"

Adalah satu tanya yang mampir pada keduanya begitu kaki menginjak ubin perpus universitas. Salah satu mahasiswa yang berjaga disana memang sudah mengenal pasangan ini. Maklum, sama-sama mahasiswa FISIP.

"Tidak tuh, kata siapa,"

Itu Chanyeol yang sahuti. Baekhyun si hanya geleng kepala lihat tingkah konyol si jangkung itu. Tangan yang semula saling genggam, Chanyeol lepas begitu saja kala dengar ledek dari si penjaga. Bukan karena malu atau enggan. Hanya saja Chanyeol memang sering begitu saat sahuti gurauan.

Baekhyun hanya mengedikkan bahu saat si penjaga itu memberinya gestur tanya. Langkah dia bawa untuk susul Chanyeol yang mulai tenggelam diantara rak buku. Si jangkung itu tampak telusuri satu persatu deret buku yang nampak sudah tua.

Baekhyun iseng ambil satu. Jarinya buka lembar buku. Tampak begitu tua dengan kertas yang telah menguning. Baunya pun sudah tak sewangi buku baru. Baekhyun lebih suka toko buku di lantai empat mall yang biasa ia kunjungin daripada perpus universitas ini. Andai disini tak lebih lengkap dan andai pula dia tak ada niat untuk temani Chanyeol, Baekhyun pasti lebih memilih ke toko buku.

Lewat ekor matanya Baekhyun lihat Chanyeol berlalu. Menghampiri salah satu komputer pencari dan tenggelam dalam tampilan monitornya.

Bisa Baekhyun lihat dengan jelas tampilan Chanyeol dari tempatnya berdiri. Tubuh tinggi dengan bahu yang sedikit membungkuk. Ransel yang tampak dia bawa dengan enggan di bahu kanan. Serta kaos berbalut kemeja dan celana jeans yang tampak lusuh melekat di badan.

Chanyeol jauh dari kata mahasiswa rapi. Sangat jauh. Dandanannya apa adanya. Kadang malah tidak pas antara atasan dan bawahan. Terlalu cuek pada penampilan. Baekhyun pernah tanya apa kiranya alasan yang jadikan pemuda tampan itu berpakaian berantakan. Jawabannya sederhana atau rumit jika kau terlalu cerna.

Chanyeol hanya ambil pakaian yang ada di tumpukan paling atas.

Sederhana jika dengar kata itu sambil lalu. Tapi jika mau sedikit saja lebih perhatian, pasti akan temukan beberapa alasan lain dibaliknya.

Chanyeol itu suka kegiatan kampus. Entah organisasi, entah diskusi, entah debat dengan pendek sesi. Dia selalu habiskan waktu luang untuk kegiatan semacam itu. Kadang dia bisa ditemukan di sekre hima lantai tiga kala jam tunjukkan pukul lima. Lalu akan berpindah ke sekre lantai satu begitu jam tunjukkan pukul tujuh. Dan pada pukul sembilan sampai sebelas, dia akan mudah di cari di warung makan Mak Yen. Sambil habiskan pengganjal perut kala malamnya, Chanyeol akan coba buka obrolan bersama kawannya. Bicarakan seputar keadaan sekitar sampai isu global.

Chanyeol memang begitu, suka sekali habiskan waktu untuk sekedar mengobrol dengan diselipi kegiatan bertukar ilmu. Memang berguna. Tapi kadang Baekhyun ingin batasi saja jika ingat sampai jam berapa pemuda itu habiskan waktunya demi diskusi dengan kawannya.

Baekhyun ingat, dulu saat masih jadi pasangan, dia pernah sekali iseng coba buat panggilan pada pukul tiga pagi. Terlalu larut untuk hubungi seseorang. Tapi Baekhyun penasaran. Jadi dia paksakan. Pada dering ketiga, panggilannya terhubung. Chanyeol ada di seberang sana. Menjawab diantara berisik suara. Saat dia tanya, Chanyeol jawab bahwa dia masih di pusat kegiatan mahasiswa.

Sejak itu Baekhyun tahu, alasan dari pakaian yang semrawut dan muka mengantuk.

"Hallo, Baek. Heyy, melamunkan apa?"

Mungkin pikirannya terlalu lama berkelana hingga tak lihat Chanyeol sudah hampiri dia.

"Eh iya, Chan. Tidak kok tidak,"

Chanyeol hanya pamerkan satu senyum. Manis sekali. Masih semanis dulu.

"Sudah ketemu?"

"Belum, tunggu ya,"

Baekhyun mengangguk. Ikut melangkah kala Chanyeol berlalu. Pandangi punggung itu dari belakang. Punggung yang sama dengan yang dulu jadi sandaran. Yah, sampai sekarang pun sebenarnya masih. Hanya saja status yang sudah tak lagi sama.

"Cari apa si?"

"Buku Empat Essay Etika Politik,"

Baekhyun mengangguk. Pura-pura mengerti saja.

"Habis ini aku antarkan kau ke kelas lagi kok. Jangan khawatir terlambat,"

"Iya iya,"

Baekhyun bukannya khawatir terlambat. Justru dia lebih khawatir pada kondisi Chanyeol. Dia yakin sekali lingkar mata di wajah tampan itu karena kelelahan. Baekhyun tahu belakangan ini Chanyeol sibuk urusi seputar seminar yang akan dilakukan minggu depan. Baekhyun juga yakin si tampan itu kurang tidur.

"Chan,"

Chanyeol berbalik. Atensi yang semula ia beri pada deret buku dihadapannya, ia alihkan sepenuhnya ke Baekhyun. Baekhyun lihat sedikit kerling bahagia yang memang biasa ada di kedua retina. Namun kerling itu kini kabur, tertutup kabut lelah.

"Seminar bagaimana?"

Chanyeol senyum, lagi.

"Oke,"

"Kau oke?"

Kali ini Chanyeol diam. Tak balas. Hanya langkah yang dia bawa maju mendekat. Coba hilangkan sekat. Meski hanya sesaat.

"Aku oke, Baek. Jangan khawatir,"

Tangan yang semula diam disisi badan, Chanyeol ajukan untuk sejenak menyapa tengkuk Baekhyun. Mengelusnya pelan. Untuk kemudian membawanya mendekat.

Sekadar beri satu kecup. Di kening.

Manisnya.

TBC

Selamat hari minggu, mblo wkwk