Baru sejam yang lalu, Chanyeol antarkan Baekhyun ke kelasnya. Baru sejam yang lalu mereka berdua bertemu. Baru sejam yang lalu Chanyeol lepas rindu.
Tapi entah kenapa, sekarang masih saja ingin bersua. Ingin kembali habiskan waktu bersama. Ingin lihat tawanya.
Iya, Baekhyun memang seadiktif itu. Buat candu. Ingin terus liat pipi bersemu.
Ya tapi apa dikata. Fakta buat keduanya harus sesaat berpisah. Baekhyun yang kembali lanjutkan kelas, Chanyeol kembali ke kos untuk sejenak lepas lelah.
Rasanya tulang ingin lepas. Otot ingin terputus. Otak ingin meledak. Memang begini resiko mengikuti banyak kegiatan sekaligus. Waktu istirahat pasti tersita. Makan pun jadi tak selera. Efeknya hampir sama seperti kali pertama nyatakan cinta. Sama-sama berdebar tak karuan. Tapi yang kali ini sungguh tak mengenakkan.
Semua tentang rasa tanggung jawab. Tentang mandat yang diterima. Tentang sebuah percaya yang diberikan.
Mungkin bagi beberapa mahasiswa, organisasi bukanlah sesuatu yang menarik. Masih di pandang sebelah mata. Masih diragukan manfaatnya. Tapi bagi Chanyeol, organisasi ajarkan dia banyak hal.
Organisasi beri dia arti menghargai waktu, organisasi ajarkan dia berbagi ilmu, organisasi ajarkan dia tanggungjawab, organisasi ajarkan cara bersabar. Organisasi juga beri tahu dia seperti apa rasanya kehilangan.
Chanyeol menatap jam sejenak. Masih pukul tiga, mungkin dia bisa lelap meski sesaat sebelum rapat pukul lima nanti. Perkara beberapa tugas yang belum dia kerjakan, bisa dia pikir terakhir. Sekarang yang terpenting adalah mengistirahatkan badan. Seperti apa yang dipesankan Baekhyun sebelum keduanya berpisah tadi.
"Tidur dulu sebelum rapat,"
Itu kalimat pertama yang Baekhyun ucapkan saat keduanya menginjak lantai tiga gedung D. Chanyeol hanya tersenyum seperti biasa. Beri satu gusakan lembut di puncak kepala yang buat Baekhyun mengernyitkan tanya.
"Iya iya. Jangan memandangku seperti itu,"
Baekhyun raih tangan Chanyeol yang masih diam di puncak kepalanya. Menggenggamnya pelan dan hati-hati. Memperlakukan Chanyeol layaknya benda rapuh yang mudah hancur. Meski kenyataannya, pemuda itu tangguh.
"Kenapa, Baek? Ragu?"
Baekhyun mengangguk. Menyetujui ucapan yang Chanyeol lontarkan. Jujur Baekhyun ragu kalau Chanyeol mau saja menurut untuk tidur sejenak. Baekhyun tahu sifat apa yang Chanyeol miliki. Seberapa keras kepalanya si jangkung itu jika diingatkan untu berhenti sejenak. Sulit ingatkan Chanyeol untuk menjaga badan.
"Sungguh. Sehabis ini aku pulang ke kos, cuci muka sebentar, lalu pergi ke kasur untuk tidur. Percaya padaku. Pegang kata-kataku,"
Baekhyun menunduk. Tatap kedua tangan yang saling genggam. Tanpa sadar, ibu jarinya bergerak mengelus punggung tangan Chanyeol. Menatap punggung tangan itu yang tampak keras namun juga kelelahan. Mungkin karena terlalu sering digunakan.
"Benar ya langsung tidur,"
Chanyeol mengangguk. Menarik Baekhyun kedalam dekapan. Semata-mata dia lakukan demi buat Baekhyun percaya.
Dekapan itu masih akan terus berbalas jika saja taka da satu tarik keras hampiri rambut bagian belakang kepala Chanyeol. Sontak Chanyeol mengaduh dan jauhkan Baekhyun dari dekapan.
"Permisi. Orang pacaran mau lewat. Yang mantanan harap minggir,"
Itu Kai yang tanpa sedikitpun punya perasaan menginstruksi keduanya. Memisahkan dengan cara keji yang buat Kyungsoo meringis. Ikut prihatin pada Chanyeol yang masih mengusap belakang kepala.
"Bangsat,"
"Haram mengumpat. Pamali mengumpat depan mantan. Nanti susah balikan,"
Kadang Chanyeol tak habis pikir tentang dia yang mau-mau saja punya teman seberingas Kai. Mana punya mulut sulit dijaga. Daripada dijaga justru lebih sering digunakan untuk lempar hinaan padanya.
"Berisik setan,"
Tapi makin dipikirkan, makin ingat Chanyeol bahwa Kai juga pernah berjasa padanya. Pernah bantu dia dan Baekhyun waktu masih bersama.
Jadi yah, daripada berkeluh dan makin buat dia dendam pada Kai, Chanyeol lebih pilih berbaring. Menatap langit-langit kamar kosan. Bayangkan sejenak senyum manis Baekhyun. Sebelum akhirnya perlahan terlelap dan tidur.
Berbisik sebentar, ucapkan "Selamat sore, Baek,"
