Pukul dua siang, sehabis survey bus yang sangat menguras tenaga, Chanyeol putuskan untuk mampir barang sejenak ke salah satu cafe. Duduk dengan tenang sembari nikmati segelas kopi.
Alun lembut musik menyapa telinga. Membuat sejenak diri lupa akan segalanya. Tentang beban organisasi, tentang beban studi, serta perkara hati.
Jujur saja dia lelah. Ingin sudahi segala hal yang buat pusing kepala. Tapi itu tak mungkin. Bagaimana bisa dia lari dari sesuatu yang memang sudah dia pilih dan menjadi tanggungjawabnya?
Jadi, untuk sementara biarlah begini adanya. Chanyeol yang pusing setengah mati karena organisasi yang makin hari makin runyam.
Di tengah kemelut pikiran yang melalang entah kemana, seorang wanita duduk dihadapannya. Tanpa permisi tanpa kata, menaruh segelas kopi dan menatapnya dengan kerlip manja.
Chanyeol hanya bisa putar mata saat wanita itu mulai lempar senyum padanya.
Dia Intan, anak Hubungan Internasional yang Chanyeol kenal lewat kegiatan sosial di kampusnya.
Atau lebih tepatnya, sang mantan gebetan yang hampir dia pacari andai saja Baekhyun tak datang untuk porak porandakan hati.
"Sedang apa kau disini?"
Tanya Chanyeol, nadanya hampir sinis seakan mengusir. Tapi Intan mana peduli. Kan jarang sekali dia bertemu mantan gebetan yang punya segudang kesibukkan.
"Tidak sengaja lewat lalu lihat kau disini. Jadi aku mampir. Lama tidak bertemu ngomong-ngomong,"
Chanyeol ambil cangkirnya, sedikit dia sesap kopi. Entah tujuannya apa, untuk menghilangkan haus atau justru tutupi gugup. Tapi untuk apa dia gugup? Toh hanya mantan gebetan.
"Lelah sekali kelihatannya,"
Komentar Intan buat Chanyeol sedikit menyugar rambut. Sejenak dahinya terlihat yang tanpa sadar buat Intan terpesona.
"Memang,"
"Masih ikut organisasi?"
Chanyeol mengangguk. Di hadapannya Intan membasahi bibir. Tampak ragu ingin berucap.
"Tanya saja apa yang mau kau tanyakan,"
Ucapan Chanyeol buat Intan menegakkan badan. Tampak yakin dengan kata yang mungkin ingin dia lontar.
"Kalau Baekhyun? Bagaimana?"
Chanyeol sudah duga, Intan pasti bertanya seputar ini. Tidak jauh soal status Chanyeol yang memang tampak menggoda untuk segera di isi.
"Belum balikkan,"
Kening Intan berkerut, heran dengan jawaban.
"Kenapa?"
Chanyeol menggeleng. Tanda kehilangan alasan tentang penyebab dia yang ragu untuk kembali pada satu status yang mengikatnya dengan Baekhyun.
"Jangan kelamaan ragu begitu. Jujur aku tergoda untuk gantikan posisi yang kau sediakan untuk Baekhyun,"
Tak berapa lama, ada satu pemuda yang hampiri keduanya. Menepuk pundak Intan yang masih serius menghadap Chanyeol. Intan alihkan pandangnya, mengangguk pada pemuda itu dan bangkit hendak pergi sebelum ucapan Chanyeol hentikan sejenak keinginannya.
"Itu kau sudah punya,"
Intan tersenyum, menawan layaknya wanita dewasa yang sering Chanyeol idamkan.
"Cadangan jika tak berhasil denganmu,"
Lalu dia pergi tinggalkan Chanyeol yang ingin sekali mengumpat. Intan memang begitu. Sering goda dan ledek untuk gantikan posisi Baekhyun. Tampak yakin jika suatu hari dirinya berhasil.
Tapi meski begitu, dia masih hargai adanya Baekhyun di sisi Chanyeol. Cukup tahu diri untuk tak merebut. Hanya posisikan diri sebagai penunggu. Tunggu satu dari Baekhyun atau Chanyeol mundur dari hubungan yang terlalu runyam itu.
Chanyeol lihat permukaan cangkir, tinggal sedikit. Ragu, dia goyangkan cangkir. Airnya bergerak, permukaannya tak lagi tenang. Seperti hatinya kini. Yang awalnya masih tenang dengan zona nyaman dan sekarang bergetar hanya karena ucapan mantan gebetan.
Satu tanya muncul dalam benaknya,
Sampai kapan dia dan Baekhyun akan bertahan dalam zona nyaman yang tak punya kejelasan ini?
.
.
TBC
.
.
Hallowww, apa kabar?
Maaf ya baru sempet update, hehe.
Btw, tanggal 28 kemarin aku ultah. Ga ada yang mau ngucapin gitu :((
