Niat awal memang hanya cari sarapan untuk Chanyeol. Tapi kok jadi berubah tujuan sampai mengunjungi air terjun segala?

Ya, begitu. Setelah selesai dengan sarapan yang entah kenapa buat keduanya larut dalam canda, Chanyeol memutuskan secara sepihak untuk berkendara selama 15 menit demi mendapat satu pemandangan indah air terjun yang masih asri dan nampak tak terjamah manusia.

Airnya masih sejuk. Bening seakan tidak mengenal kata polusi yang belakangan ini tengah meliputi dunia.

Baekhyun juga tampak suka dengan suara yang dihasilkan air yang jatuh dari ketinggian lalu mengenai batu di bawahnya. Terdengar menenangkan dan seakan memanggil untuk ikut bergabung dalam riak yang tercipta.

Tapi Baekhyun harus berpikir dua kali untuk turun merasakan dinginnya air. Baekhyun harus menelan kecewa saat ingat dia tak membawa pakaian ganti.

Chanyeol yang tengah jongkok menyentuh air nampak tak perhatikan sama sekali raut kecewa yang jelas sekali nampak di wajah Baekhyun. Chanyeol terlalu menikmati dunianya bersama air yang menyentuh telapak tangan dan tidak memperdulikan Baekhyun yang berangsur mundur untuk duduk di atas salah satu batu dengan permukaan datar.

Barulah saat dia berdiri dan ingin hampiri Baekhyun, Chanyeol lihat pandangan kecewa yang Baekhyun beri pada riak air.

Dengan langkah yang dia ambil secara hati-hati, Chanyeol sampai disisi Baekhyun. Ikut duduk disamping pemuda manis itu. Sesekali Chanyeol menatap sekitar yang masih asri khas pegunungan.

Hingga menit kelima, Baekhyun tak beri satu pergerakan berarti. Chanyeol juga seakan hilang akal untuk mulai percakapan. Jadilah kecanggungan itu muncul. Buat Chanyeol lama-kelamaan juga tak nyaman.

Dengan segala ide iseng yang dimilikinya, Chanyeol tiup permukaan pipi Baekhyun dari samping. Minta atensi Baekhyun barang sedetik.

Dan berhasil. Karena setelah tiga kali tiup yang Chanyeol lakukan, Baekhyun memandangnya. Tapi dengan satu kerlip terganggu yang jelas sekali nampak.

Baekhyun marah ternyata.

"Mau berenang?"

Chanyeol mana peduli mau Baekhyun marah atau apa. Yang jelas dia bawa Baekhyun kesini untuk relaksasi. Bukan saling adu emosi.

"Menurutmu?"

Juteknya keluar. Chanyeol mulai siaga.

"Sepertinya ingin. Tapi kenapa tak turun?"

Disitu ucapan Chanyeol buat Baekhyun reflek membalikkan badan sepenuhnya menghadap Chanyeol. Dengan tangan bersedekap, Baekhyun menjawab,

"Coba saja kau beri tahu aku mau kesini. Jadi kan aku bisa siapkan baju ganti,"

Jadi sekarang Chanyeol mengerti. Baekhyun tidak marah kok. Hanya saja merasa kesal karena tidak diberitahu terlebih dahulu.

Eh memang beda yah? Sepertinya sama saja. Intinya Baekhyun tidak lagi sesenang tadi.

"Yasudah. Pulangnya pakai jaketku saja,"

"Lalu kau?"

"Aku pakai baju juga ngomong-ngomong. Lengan panjang pula,"

Jadi, setelah perdebatan yang entah berisi apa saja, keduanya sepakat pada satu hal. Mari berenang dan perihal pulang bisa dipikir nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Toh pada akhirnya Chanyeol dan Baekhyun tetap bisa pulang. Dengan baju total kering meski rambut masih sedikit basah.

Caranya? Simpel. Hanya berjemur selama mungkin di bawah sinar matahari. Menikmati panas yang perlahan membelai kulit dan mengangkat uap air dari pakaian yang mereka jejerkan di atas batu.

Tampak nyaman dengan bahu yang sesekali saling senggol. Tawa yang sesekali terdengar. Serta pandang penuh ungkapan rasa sayang yang selalu terlihat.

Lalu sebelum berkendara untuk kembali ke pusat kota, Chanyeol coba unggah satu foto setelah sekian lama.

Foto yang menampilkan mata sampai ujung kepala keduanya dengan latar belakang air terjun. Sastu caption melengkapi unggahan tersebut.

"Still be my Bae,"

.

.

TBC

.

.

Kolom umpatan dibuka sejak sekarang.

Saya persilahkan,

Phay-phay