Terhitung sudah tiga hari selepas satu moment Baekhyun temui Sehun. Terhitung pula ini tiga hari Chanyeol menghilang. Tak satu pun pesan masuk dan tak satu pun panggilan mampir. Pemuda itu benar-benar hilang bagai kabut menjelang siang.

Inginnya sih Baekhyun hubungi dan tanya, kemana Chanyeol sebenarnya. Tapi sekali lagi dia ragu. Ada hal yang mengganggu.

Ucapan Sehun beberapa hari lalu terngiang. Memberi asumsi pada alam bawah sadar. Membuat diri, sekali lagi, merasakan hal yang tak pasti. Hal yang semula tampak biasa dan ingin terus dia jalani, jadi rumit dan meminta perhatian lebih.

Pada satu sisi sih tak mau lagi urusi perkara hati yang kadang buat keki. Di sisi lain, sulit untuk menyingkirkan Chanyeol dari hari yang Baekhyun rasa, menyenangkan. Sulit untuk singkirkan satu dua perhatian yang dia biasa terima. Sulit untuk abaikan pesan-pesan yang menjadi daftar teratasnya. Dan sulit pula untuk coba gelap mata saat Chanyeol jelas-jelas berdiri di hadapannya.

Baekhyun bingung. Haruskah dia ikuti Sehun yang berkata bahwa dia harus hindari keduanya atau haruskah dia ikuti hati yang masih ragu putuskan dan ragu melepaskan?

Baekhyun terbaring pada lantai kos yang dingin. Maklum baru saja di pel.

Sambil menatap langit-langit yang tampak membosankan, dia pikirkan segala hal. Perkara hati yang masih tak pasti, mengenai Sehun yang kembali menyapa, dan tentang Chanyeol yang hilang tanpa jejak.

Soal hati. Inginnya sih Baekhyun biarkan. Tak usah pikirkan. Kata orang, let it flow. Biarkan mengalir apa adanya. Biarkan berada di zona nyaman dan aman ini sambil memikirkan keputusan nanti. Tapi ya masa mau terus-menerus seperti ini. Lama-kelamaan Baekhyun bisa disebut sebagai orang yang tak punya pendirian. Dan Baekhyun benci perkataan seperti itu.

Lagi, dia harus pikirkan soal Sehun. Kenapa sih pemuda itu harus datang lagi? Tahu sih alasannya datang karena Baekhyun sedang tak ada ikatan. Sehun memang pintar memanfaatkan keadaan.

Masih saja belum menyerah, Sehun tetap berharap. Sempat menghilang saat tahu Chanyeol menang di perlombaan ini. Lalu saat Baekhyun dan Chanyeol saling memutuskan untuk melepas, Sehun muncul. Datang memperingatkan mengenai keduanya yang tak lagi ada ikatan dan tak seharusnya berbuat ini dan itu.

Baekhyun pusing. Sungguh.

Belum lagi soal Chanyeol. Tiga hari pergi tanpa kabar. Tapi Baekhyun yakin, ini bukan soal cemburu atau apa lah itu. Pasti Chanyeol punya kesibukkan yang tak bisa Baekhyun ganggu.

Kesibukkan yang mampu menggeser Baekhyun menjadi prioritas kesekiannya.

Entah itu organisasi, kampus, atau keluarga.

.

.

TBC

.

.

Aku comeback bawa konflik. Mau hujat gak?

Phay-phay