Chanyeol berdiri bersandar pada tepian beranda. Kedua tangan saling terlipat untuk topang berat badannya. Hembus angin sesekali menerpa. Membuat helai rambut berkali-kali bergoyang secara acak.
Tampilannya kali ini tampak santai. Khas anak rumahan. Celana jeans selutut, kaos putih yang berbalut kemeja sebagai atasannya.
Lingkar hitam yang biasa tampak di wajahnya menghilang. Berkat healing yang dia lakukan selama tiga hari ini.
Katanya sih penyembuhan. Entah untuk apa. Mungkin sembuhkan lelah atau malah hati yang perlahan goyah?
Ya Chanyeol sih tidak pungkiri kalau kejadian tiga hari lalu buat dia sadar diri. Status mantan memang lama-kelamaan memberatkan. Terlalu sulit untuk dia yang masih ingin beri Baekhyun sejuta kebahagiaan.
Beri bahagia sih bisa dilakukan siapa saja. Tapi kalau cinta? Memang boleh dia yang berstatus mantan lakukan itu semua?
Sepertinya tidak. Karena seperti definisi mantan yang ada di kamus Sehun, dia tak seharusnya beri bahagia, perhatian, dan cinta sebegitu banyak pada Baekhyun yang kata orang merupakan bagian dari kisah masa lalu.
Padahal bila dirunut, Baekhyun bukan masa lalu. Mana ada masa lalu yang masih terus ukir kisah bersama di setiap harinya?
Chanyeol jadi mendengus memikirkan itu semua. Tawa sinis kecil terdengar. Miris sekali kisahnya.
Tarik napas panjang, Chanyeol tatap keadaan sekitar. Pasir putih, laut biru, dan awan senja jadi hal yang tertangkap retina. Terlalu indah.
Pantas Chanyeol putuskan kemari untuk obati segala beban yang mulai buat cidera. Tempat ini memang nyaman untuk sekadar mampir.
Iya, mampir. Bukan menetap. Karena dia sendiri tak siap jika harus diam disini untuk waktu yang lama.
Hatinya, mentalnya, dan raganya pasti akan menolak bila dia harus disini dalam jangka waktu yang panjang. Belum lagi Baekhyun. Aah, dia jadi tak bisa bayangkan seberapa sakit hati pemudanya itu bila dengar berita Chanyeol menetap.
