Pernah dengar soal jatuh untuk kesekian kali? Entah itu jatuh akan kesialan atau jatuh pada kesenangan.

Baekhyun sedang merasakannya sekarang. Lagi, dia jatuh cinta pada Chanyeol. Visualnya malam ini sungguh buat sesak.

Ingin dekap rasanya.

Dengan sipu yang masih ada di pipinya, Baekhyun menunduk. Menengguk habis cola yang ada di gelasnya. Ikut berbaur dalam obrolan yang semakin kacau.

Pada putaran jarum di angka duabelas, sekumpulan mahasiswa itu bukannya bubar justru semakin bersemangat.

Yang semula hanya obrolan, kini berubah jadi permainan. Kartu uno ada digenggaman. Mereka mulai heboh. Menu cemilan terus diisi ulang. Seakan tak peduli pada tagihan. Santai saja, ada pangeran yang siap membayar.

Beberapa botol alkohol bahkan sudah mulai ikut menjadi teman cemilan.

Baekhyun bukan mahasiswa polos yang tak tahu soal hal-hal seperti ini. Baekhyun mengerti soal kebiasaan pemuda saat berkumpul. Alkohol bukan hal yang baru baginya.

Tentu dia ikut meminumnya. Namun sekadar bentuk penghormatan. Bukan benar-benar ingin.

Diseberangnya, Chanyeol terlihat ingin menuang lagi alkoholnya. Belum sampai tahap yang buat pemuda tinggi itu mabuk. Tapi sudah pada tahap yang cukup buat Baekhyun mual.

Chanyeol sangat kuat minum ngomong-ngomong.

Jadi saat Chanyeol mulai mengangkat gelasnya, tangan Baekhyun maju. Menahan. Lalu menggeleng melarang.

Chanyeol menurunkan gelasnya. Menggesernya menjauh. Tak jadi minum.

Kadang Baekhyun tak sadar. Segala hal yang dilakukannya beri kesan yang bisa buat salah paham. Baekhyun pikir tindakannya hanya sebatas peduli. Chanyeol pikir tindakan Baekhyun sebuah pencegahan. Tapi orang sekitar pikir lain.

Mereka anggap itu sebuah perhatian.

Yang sebenarnya tak seharusnya dilakukan oleh seorang mantan.

Segelas alkohol yang akhirnya menganggur itu total diabaikan. Chanyeol berpaling pada permainan yang tengah berlangsung. Belum ada keinginan untuk buka cakap dengan Baekhyun.

Tidak. Bukan tak peduli.

Hanya saja tidak mungkin kan menjelaskan hal pribadi di tengah lautan mahasiswa yang mulai meracau tak sadar diri?

Baekhyun sendiri bergerak mundur. Berdiri lalu menyingkir dari kerumunan. Ambil sedikit ruang yang longgar. Merebahkan diri lalu mengeluarkan ponselnya.

Niat hati ingin menghibur diri. Game atau chat dengan yang lain tak masalah. Apapun. Yang penting tak merasa bosan.

Awalnya Baekhyun pikir pulang bukanlah opsi terbaik saat ini. Mustahil. Merasa tak enak bila harus hengkang lebih dulu padahal dia yang terakhir datang.

Tapi berselang dua jam kemudian, saat Baekhyun tengah membaca satu thread di twitter, satu sentilan menyapa dahi. Membuatnya berpaling dari layar ponsel yang sudah jadi fokus selama dua jam lalu.

Baekhyun mengernyit saat dilihatnya Chanyeol bersila disebelahnya. Diam beberapa detik, sebelum akhirnya berucap, "Ayo pulang."

Lengan ditarik, badan sedikit dipaksa untuk bangkit, hati sedikit banyak menjerit. Katanya sih rindu.

Oke, abaikan.

Baekhyun cuma bisa diam saat Chanyeol pamit pada Bobby. Lalu ikut mohon diri begitu Chanyeol mulai ijin pada yang lain.

Tidak ada yang istimewa dari kepulangan mereka malam itu. Cakap itu ada, namun tidak sampai pada perkara hati. Chanyeol masih menahan diri, Baekhyun masih coba hati-hati.

Biar, simpan saja untuk besok. Toh sekarang Baekhyun hanya ingin lelap bersandar nyaman di dada Chanyeol.

Iya, Baekhyun menginap. Chanyeol tak ijinkan pulang. Katanya mau tebus rindu.

.

.

TBC

.

.

Gatau aku mabok