Paginya tak seperti di drama. Jauh juga dari cerita fiksi yang sering kalian baca.

Tak ada lengan yang mendekap pinggang. Tak ada wajah yang jadi sapa begitu mata terbuka. Tak ada juga deru napas yang menyapa tengkuk.

Jangan mimpi. Yang begitu tak akan ada.

Karena hal pertama yang menyapa penglihatan Baekhyun justru kaki.

Iya, kaki.

Apalagi sih yang diharapkan dari dua pemuda yang tidur satu ranjang? Mana ada adegan mesra. Yang ada gulat berebut luas ranjang.

Baekhyun menengok ke bawah. Melihat Chanyeol yang mendekap sebelah kakinya. Dalam hati sedikit banyak Baekhyun bersyukur semalam sebelum tidur sudah cuci kaki.

Kalau tidak, bisa-bisa Chanyeol bukannya terlelap malah pingsan.

Kaki Baekhyun gerakkan. Coba-coba buat Chanyeol tersadar. Tapi gagal. Manusia satu itu lelap bagai batu.

Jadi Baekhyun hanya bisa pakai cara terakhir untuk buat mata Chanyeol terbuka.

Geser ke belakang, angkat, tendang.

Dukk!

Chanyeol jatuh dari ranjang. Ringisan terdengar. Tapi Baekhyun enggan peduli.

"Baek!"

Baekhyun berjalan ke kamar mandi. Cuci muka sambil bicara, "Aku mau pulang."

Lalu sambil meringis, menguap, dan mengumpat, Chanyeol hanya mengangguk.

"Sendiri ya? Total masih mengantuk,"

Baekhyun iyakan. Berjalan ambil barangnya dan bersiap berlalu. Chanyeol ikut berdiri mengiringi sampi gerbang kos. Bersandar malas, mata setengah tertutup, dan jari menggaruk hidung.

Lucu sih, tapi juga ingin menendang.

Dua langkah dari gerbang, Baekhyun berbalik. Menatap lekat pada pemuda yang bisa saja tiba-tiba terlelap.

"Chan,"

Hanya dengungan yang jadi balas. Tapi Baekhyun tak punya opsi lain. Biarlah mantannya ini masih bernyawa setengah. Yang penting tujuannya tersampaikan. Masalah didengar atau tidak, itu belakangan.

"Kemarin-kemarin aku bertemu Sehun,"

Chanyeol sedikit tersentak. Yang semula bersandar lemas, jadi berdiri tegak. Tangannya menggapai tudung jaket untuk dibuka. Seakan bersiap untuk ucapan selanjutnya.

"Katanya, aku harus pastikan. Kembali atau berlalu. Menetap atau berpaling. Kamu atau Sehun,"

Chanyeol masih mematung. Fokus pada Baekhyun.

"Awalnya aku ragu. Masih tak tahu,"

Chanyeol akhirnya maju. Berdiri dihadapan Baekhyun. Mengusap lembut sisian kepalanya. Gestur memberi nyaman.

"Tapi belakangan aku sadar,"

Tatapan Baekhyun tertuju tepat di mata. Retina bertemu retina. Dan ada satu ungkapan yang tersirat disana.

"Jadi apa?" Chanyeol bertanya. Masih dengan tangan yang membelai nyaman.

Senyum itu timbul di wajah Baekhyun. Tangannya terangkat. Ikut mengusap sisian kepala Chanyeol.

"Kamu tahu jawabannya. Aku bukan orang yang akan membuang waktu untuk hal percuma. Kamu disini dan waktu itu tak pernah jadi sia-sia,"

Langit yang membiru, angin yang menyapu debu, daun yang gugur itu jadi saksi. Terukir kebahagiaan di wajah tampan Chanyeol. Dan kaki yang coba ditanam kuat pada gravitasi jadi bukti. Chanyeol tengah menahan diri dari perayaan hati.

Inginnya sih melompat seperti balita yang diberi mainan baru. Tapi hell Chanyeol masih pemuda tahu diri untuk tak buat heboh di pagi hari.

"Kalau begitu ayo bertemu Riri sabtu nanti,"

.

.

TBC

.

.

Hehehehehehe.

Guys, aku tuh abis sakit. Niatnya sih update tiap hari. Eh tapi tumbang.

Jadi, jangan ngumpat ya wkwk. Gabaik.

Mending kalian komen yg panjang tentang kesan kalian pas baca ff ini. Dari awal baca sampai sekarang. Kesan nunggu updatenya jg mungkin bisa di masukkin.

Tapi guys, jangan minta aku update lebih panjang. Karena aku belum bisa nulis yg panjangnya sampai ribuan kata.

Dah ya,

Phay-phay