Tiba-tiba saja pening terasa. Hantaman besar seakan menerpa. Sebuah gundam telak dihantam.
Baekhyun lupa.
Seakan amnesia.
Atau sebenarnya sadar keberadaannya namun menolak untuk iyakan.
Bagaimana bisa dia melupakan satu nama itu?
Sore itu, hari Rabu, duduk termenung pada tepian ranjang. Baru selesai dari kelas terakhir. Baekhyun menatap langit diluar yang samar menguning. Belum mencapai senja. Bahkan masih sejam menuju matahari pulang ke peraduan.
Sepi itu mencekam. Hening itu mencekik.
Tangan Baekhyun saling menggenggam. Berkeringat. Sesekali dia usap pada celana bahannya.
Sialan.
Baekhyun benci pada suasana sore yang sepi dan hening. Menariknya pada kekosongan. Terasa tak nyaman. Ingin lari pada kegiatan lain tapi terasa percuma.
Sorenya gelisah.
Benci sekali.
Kosong ini mau tak mau buat dia berpikir pada seribu kemungkinan buruk. Tentang studinya yang mungkin tak selesai tepat waktu, tentang hasil IP yang mungkin jauh dari keinginan, tentang judul skripsi yang masih belum ketemu.
Seribu keburukan itu hadir pada diamnya dia di sore yang kosong. Buat Baekhyun gelisah dan ingin bergerak. Namun badan terasa enggan. Dia justru diam dan hanya duduk menatap sekeliling secara liar.
Saat sore kosong itu hadir, Baekhyun akan mulai diam merenung. Mempertanyakan diri mengenai segala langkah yang diambil. Tepatkah segala keputusannya?
Lalu dia ingat. Dia telah beri bisikan jawab pada Chanyeol.
Lalu dia ingat nama yang disebut namun enggan dia ucap.
Lalu dia gelisah sendiri.
Haruskah pergi dan temui? Atau justru berbalik dan lari untuk menolak kesekian kali?
.
.
TBC
.
.
