"Papa!"

Ya, benar. Papa. Kau tak salah dengar, kau tak salah baca.

Begitu pula Baekhyun. Yang saat ini tengah meyakinkan diri. Menenangkan diri. Bahwa hal yang dilihatnya adalah sesuatu yang benar.

Dihadapannya, tepat dua langkah, Chanyeol tengah berjongkok. Merentangkan kedua tangan selebar mungkin untuk menyamput anak kecil berusia sekitar satu tahun yang tengah tertatih mengayunkan kakinya.

Anak itu tampak lucu dengan baju serta rok pinknya. Baekhyun bahkan lihat rok itu sesekali bergelombang naik-turun seiring langkahnya yang semangat.

Sedikit melirik, Baekhyun lihat Chanyeol tersenyum dengan lebarnya. Tampak bahagia.

Lalu sekelebat memori muncul dalam ingatannya.

"Baek,"

Tentang seberapa putus asa keduanya waktu itu.

"Maaf,"

Tentang tangis yang saling bersahut namun tangan enggan bertaut.

"Aku menghamilinya,"

Tentang hantaman besar yang meruntuhkan dinding hubungan.

Kini Baekhyun melihatnya. Wujud asli dari entitas yang mereka sebut darah daging. Milik Chanyeol.

Anak Chanyeol.

Sulit untuk percaya. Tapi itu faktanya.

Seorang anak perempuan yang tampak sangat menggemaskan itu jadi alasan kandasnya suatu hubungan.

Berulang kali Baekhyun meyakinkan diri. Anak itu tak tahu apapun. Tak seharusnya disalahkan. Tak seharusnya dia anggap dosa.

Ingatkan diri sekali lagi. Dia telah memutuskan untuk berdamai. Menerima. Menyambut. Dan kembali.

Jadi sekali lagi Baekhyun teguhkan diri. Mantapkan langkah mendekat. Lalu ikut berjongkok disamping Chanyeol yang masih memeluk erat.

Balas menatap mata bulat berbinar yang sangat menggemaskan. Ulurkan tangan untuk sentuh lembut punggung sempit yang tampak rapuh belum terjamah dunia.

"Hay, Riri,"

Ya, damai itu ada.

TBC

Nah loh nah loh.

Ahh gaseru, kemaren udah ada yang nebak.