Bayang ketakutan itu masih ada. Masih menghantui. Masih mendekapnya erat hingga detik ini.
Baekhyun bukan tipikal manusia naif yang akan memaafkanmu dalam sekejap mata. Entah kesalahan kecil maupun besar. Dia masih ingat.
Pendendam, ya memang. Baekhyun akui itu.
Meski senyum si kecil kini terpampang di depan matanya, tapi tetap. Sekelebat kesalahan dari si papa membayangi binar matanya. Pula sang mama yang ikut andil dalam terwujudnya satu sosok manusia.
Baekhyun tersenyum sambil membiarkan jari telunjuknya digenggam si kecil. Tapi dalam angannya justru membayangi hal lain. Bukan potret Riri yang dia tangkap. Justru sebuah memori. Yang seharusnya tak muncul pada saat ini.
Satu setengah tahun yang lalu, satu momen menggoreskan memori yang membekas terlalu dalam. Menancap terlalu kuat. Melekat sangat erat.
Baekhyun masih ingat, tentang hubungan yang berjalan lancar. Tanpa ada sebuah rintangan maupun halangan yang berarti. Selalu hangat dan terkadang menyerempet panas pada beberapa waktu. Tapi selalu, mesra jadi kata utama dalam hubungan keduanya.
Hantaman itu hadir seminggu setelah Baekhyun kembali dari kunjungannya ke rumah orang tua Chanyeol. Menilik sedikit soal kondisi bunda pemudanya. Memberi salam pada ayahnya. Dan sedikit berangkulan dengan kakak perempuannya.
Lalu pada hari ketiga setelah kembali kunjungan tersebut, Chanyeol menghilang. Seharian penuh. Meninggalkan dua kelas dan satu rapat besar organisasi.
Sama sekali bukan tipikal Chanyeol.
Oleh karena itu, Baekhyun penasaran. Pula peduli dan khawatir mengenai alasan menghilangnya sang kekasih.
Teror berkali-kali Baekhyun terima. Mulai dari kawan sekelas Chanyeol yang kebetulan mengenalnya, hingga bawahan Chanyeol di organisasi. Mereka sama-sama bertanya mengenai absennya Chanyeol dari rutinitas.
Baekhyun yang tak mengetahui apapun hanya menjawab akan mencari Chanyeol dan menemukan secepatnya.
Jadi dia berkali-kali menelepon, mengirim pesan, mendatangi kosan. Berharap temukan jawaban. Tapi justru kosong yang didapatkan.
Chanyeol mengilang. Tiga hari tak kembali.
Semua berubah jadi misteri. Tanya dari sana-sini tak henti berdatangan. Baekhyun hampir berteriak kesetanan menyuruh mereka pergi, saat Chanyeol kembali pada hari ketiga.
Datang dengan muka kusut, badan kurus tak terurus, serta rambut mencuat tak tersentuh.
Kacau. Chanyeol berantakan.
Lalu Baekhyun menemukan diri membawa Chanyeol masuk ke kamar kos pemuda itu. Menuntunnya dengan hati-hati dan menahan diri untuk tak bertanya.
Belum waktunya untuk membahas alasan pemuda itu menghilang. Yang terpenting sekarang adalah mengembalikan Chanyeol seperti dirinya yang sedia kala.
Satu persatu hal Baekhyun lakukan. Mulai dari membantu pemuda itu melepaskan sepatu, mengusap wajah Chanyeol dengan handuk basah, hingga menyiapkan air untuk kemudian menyuruh si pemuda untuk mandi.
Makan pun tak luput Baekhyun siapkan. Meski hanya porsi hasil pesan antar. Yang terpenting perut Chanyeol terisi, karena Baekhyun sendiri ragu kapan terakhir kali Chanyeol makan.
Chanyeol menuruti berbagai hal yang Baekhyun lakukan untuk merawatnya. Dalam diam, dia menggerakkan badan. Melakukan ini itu yang Baekhyun perintahkan. Melangkah, mandi, makan, dan berbaring dengan Baekhyun di sisinya.
Lelapnya hadir bersamaan usapan Baekhyun pada punggungnya. Senandung jadi penghantar tidur. Bisik tak apa, semua akan baik-baik saja jadi penguat diri. Bahkan Chanyeol tak sadar air matanya menetes pada kali terakhir kesadarannya hadir.
Lalu mimpi itu datang menghantui. Membuat Chanyeol gelisah dalam lelapnya. Merengek tak tenang. Membuat Baekhyun yang mendekapnya terganggu.
Pukul tiga pagi. Terlalu dini untuk terbangun. Tapi Chanyeol tak mungkin dibiarkan begitu saja larut dalam mimpi buruknya. Jadi Baekhyun menggoyangkan badan pemuda itu dengan pelan. Menyuruhnya tersadar.
Chanyeol akhirnya membuka mata pada usaha kesekian. Dengan napas yang memburu, air muka yang panik luar biasa, dan keringat dingin menghias dahinya.
Mata dia edarkan ke beberapa arah, gerakan yang menggambarkan ketakutan. Gelisah.
Baekhyun di sisinya masih diam. Hanya mengusap bahunya perlahan. Mungkin Chanyeol masih belum sadar akan kehadirannya. Jadi dia biarkan.
Barulah saat Chanyeol membisikkan namanya dengan pelan, Baekhyun menyahut. Membiarkan pemuda itu menariknya dalam dekapan yang diiringi bisik maaf berulang kali.
Maaf untuk apa? Itu tanya yang terlintas pada benak Baekhyun.
Tak ada jawab yang didapat. Hanya dekapan yang melonggar dan Chanyeol yang merosot perlahan. Duduk bersimpuh dihadapan Baekhyun, memeluk kaki kekasihnya dan menenggelamkan wajah pada paha Baekhyun.
Tentu saja Baekhyun penasaran. Mengapa Chanyeol harus menangis sebegitunya? Mengapa dia harus bersimpuh seakan memiliki kesalahan besar padanya?
"Chanyeol, kenapa?"
Akhirnya Baekhyun bertanya dalam suaranya yang bergetar. Sedikit banyak dia juga ikut ketakutan melihat Chanyeol sebegini mengkhawatirkan.
Chanyeol menarik diri. Memberi jarak masih dalam simpuhnya.
"Baek,"
Entah, disini Baekhyun merasa sesuatu mengganjal tenggorokannya. Menahan napasnya, membuatnya tercekik.
"Maaf,"
Tanpa alasan yang tepat, Baekhyun mulai ikut menangis. Isak keduanya bersahutan. Tak ada lagi kata yang terucap setelahnya. Hanya isakan yang jadi penghias pada hening dini hari waktu itu.
Baru pada menit kelimabelas, Chanyeol mengucap. Sepenggal kalimat yang jadi penjelas segalanya. Tentang menghilangnya diri, kacaunya saat kembali.
"Aku menghamilinya,"
Pula jadi jawab atas kelanjutan hubungan keduanya.
Tiga dini hari waktu itu, Baekhyun tersadar. Semua tak lagi sama.
TBC
Hehehehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheehehehehehehehehehehehehhehehheeheheheheheheheheheheheh
Ngilang lama bgt ya akunya? Maaf huhu, kena WB kemaren. Buntu banget mau nerusin. Terus kemarin dapat email.
Ada yang komen ff ini. Trus aku kaya "loh masih ada yang baca?" trus jadi aku ngetik ini hehehe.
Btw aku lagi magang, doakan lancar yaa.
Btw (lagi) siapa tau ada yang mau mutualan di twitter. Cari aja .baerryriana . Nanti dm aja, bilang pembaca Mazy.
Udah ya, phay-phay.
