Ruang tamu itu berubah jadi hening. Tapi bukan hening yang menegangkan. Sedikit canggung, tapi tetap nyaman.

Hanya ada lima orang di ruangan tersebut. Baekhyun duduk bersisian dengan Chanyeol. Ada Riri di pangkuan pemuda tersebut. Berucap papa berulangkali yang membuat dua orang lainnya tersenyum gemas.

Mama kandung Riri ada disana, tepat dihadapan Chanyeol. Sesekali dia juga menyahuti ucapan Riri yang masih berantakan.

Baekhyun bisa melihat gambaran rumah tangga yang bahagia dari interaksi ketiganya. Tipikal keluarga idaman. Papa tampan, mama yang cantik dan elegan, dengan anak yang lucu menggemaskan.

Ahh, andai semudah itu untuk wujudkan.

Senyumnya ikut berkembang saat Riri condongkan badan ke arahnya. Memberi gestur meminta perhatian. Menunjukkan sebuah squishy berbentuk burger sebesar genggaman orang dewasa.

Baekhyun memberi apa yang dimintanya. Sebuah perhatian.

Tangannya teracung mengusap kepala Riri. Senyumnya mengembang seiring pekik gembira dari gadis kecil tersebut.

Baekhyun sungguh-sungguh soal ingin berdamai. Bukan melupakan, melainkan menerima. Apa yang ada di masa lalu, biarlah tinggal di sana. Biarkan kini dia menikmati apa yang ada pada masa sekarang.

Seperti dulu, saat dia putuskan.

Tiga pagi saat dua tangis saling bersahutan, genggam tangan yang enggan bersambut, dan mimpi indah yang berujung berkabut.

Baekhyun kala itu adalah sesosok kekasih yang tak bisa berpikir jernih. Hanya bisa bangkit dan menarik diri. Menjauh dan mencengkeram helaian rambutnya. Menahan pening yang tiba-tiba menghantam.

Kepalanya terasa ingin pecah. Menatap langit-langit dalam rasa frustasi, Baekhyun berteriak tanpa suara. Benar-benar meronta.

Kalut. Bingung entah apa yang harus dilakukan.

Sedang Chanyeol pada sisi lain, masih dalam simpuhnya. Menangis terisak lirih yang bila didengar benar-benar menyayat hati.

Keduanya buntu. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bisa berpikir jernih.

Jadi Baekhyun putuskan, pamit dan pergi. Berkata aku akan kembali lalu pintu tertutup meninggalkan Chanyeol dalam kalut.

Bagaimana bila Baekhyun tak kembali? Bagaimana bila Baekhyun memutuskan untuk lari? Bagaimana bila dia harus melewati ini sendiri?

Dan masih banyak bagaimana lain yang menggerogoti.

Tapi Chanyeol tak biarkan diri tenggelam dalam masalah yang tak berujung. Meski hati masih berkabut, diri memaksa bangkit untuk tuntaskan kewajiban lain.

Pukul 8 dia berjalan melintasi koridor. Hadir pada kuliah pagi, menjawab sapa satu dua yang menanyakan kemana dia pergi.Senyumnya selalu terpancar, walau mata itu tak ada binar.

Pun hingga 10 malam, Chanyeol masih beraktifitas seperti biasa. Seakan tak ada yang salah dalam hidupnya. Seakan tak ada yang kurang.

Padahal bila menilik lebih dalam, ganjil itu akan sangat terlihat.

Satu sosok yang biasa menggelayuti itu menghilang. Sosok yang biasa mengisi roomchat -nya itu bungkam. Kosong. Hening. Hilang.

Baekhyun seharian tak ada kabar. Sedang Chanyeol tak punya sedikit pun keberanian untuk datang memastikan.

Ini kesalahannya, dan tidak seharusnya dia mengemis.

Hingga akhirnya, Chanyeol paksakan diri terlelap di tengah kalut yang tak kunjung surut.

Mimpi buruknya tak datang. Kosong, hanya hitam. Tapi itu justru lebih menakutkan. Tenggelam dalam sebuah gulita yang dia sendiri tak tahu hal apa yang ada di sekitarnya.

Benar-benar mengganggu. Hitam itu memaksa Chanyeol bangun pada pukul 4 dan mandi pada setengah putaran jam selanjutnya.

Terlalu pagi. Biarlah toh hanya sesekali.

Selepas mandi, Chanyeol membawa diri untuk coba lari beberapa putaran pada gedung olahraga kampus. Larut dalam pelampiasan amarah hingga pukul 8. Lalu pulang untuk kembali hadir dalam kelas pukul 10 nanti.

Dalam bayang yang Chanyeol pikirkan, harinya akan kembali seperti kemarin. Kemarinnya akan terulang. Sendiri, hening, kalut, takut.

Tapi ternyata tidak begitu.

Sosok yang biasa menggelayut, melintas pada koridor. Berjalan berlawanan arah darinya. Berpapasan pada akhirnya.

Senyum Baekhyun mengembang. Itu kali pertama Chanyeol takut dengan arti senyum yang diberikan.

Berhadapan. Saling tatap. Ada tanya dalam mata Chanyeol. Ada pancar ragu dari mata Baekhyun.

Hal yang dilakukan Baekhyun sangat jauh dari yang Chanyeol bayangkan. Kekasihnya itu hanya mengusap kepala dan berkata, "Luangkan waktu pada jam makan siang nanti. Aku rasa kita perlu bicara,"

Kemudian berlalu masih dengan senyum yang mengembang.

Itu kali pertama Chanyeol takut dengan senyum Baekhyun.

TBC

Kemarin ada satu komentar panjang yang isinya sangat teramat gak aku prediksikan akan hadir di ff-ku ini.

Dear kamu yang membayangkan orang terkasihmu menghamili wanita lain, jangan biarkan dirimu larut dalam kalut yang sebenarnya hanya hadir karena takut. Khayalmu itu tidak nyata. Begitu pula ceritaku. Jangan terlalu kamu bawa ke duniamu. Jangan biarkan kisah ini mengganggu hidupmu. Cukup nikmati dan berlalu. Sudah.

Udah ah, ga mau terlalu serius.

Magangku baik-baik saja kok. Selama ini lancar tanpa hambatan. Enjoy juga.

Btw, sempat terlintas ingin bikin grup wa wkwk. Tapi aku mah siapa sok-sokan wkwk.

Oh ya, aku mau minta kalian kasih kesan soal Mazy dari part awal sampai part ini. Momen mana yang paling membekas yg bikin kalian ingat "oh ini ff yg judulnya Mazy"

Ayo komen sampai 20 lebih, nanti aku up lanjutannya ehehehe.

Phay-phay