Putaran jarum jam terasa melambat bagi Chanyeol. Ceramah dosen tiba-tiba terasa memuakkan di telinga. Pula materi yang secara mendadak menjadi berat.
Chanyeol sulit untuk berkonsentrasi.
Berkali-kali melirik, berkali-kali memastikan menit yang berlalu. Gugup, takut, kalut itu muncul lagi untuk kesekian kali.
Chanyeol muak. Ingin keluar dan lari. Kemanapun. Yang terpenting dia bisa keluar dari situasi ini. Atau mungkin pada beberapa hal dia mengharap hadirnya Baekhyun. Mungkin untuk dapatkan penjelasan dan bila perlu jalan keluar.
Sungguh, satu hal ini sangat mengganggu. Satu kesalahan ini buat kacau. Hidupnya tak lagi setenang air dermaga. Tiba-tiba menjadi keruh dan tak tenang bagai gelombang menghantam karang.
Hembus kasar napas itu muncul begitu dosen menutup pertemuan kali itu. Chanyeol diam termenung. Haruskah bangkit dan temui. Atau bangkit untuk hindari?
Bukan bualan semata bila dia menginginkan pertemuan. Tapi pada sisi lain dia takut hadapi kenyataan.
Ayolah, dia baru saja jujur sehabis menghamili anak orang. Mana mungkin perlakuan yang diberikan pacar akan sama seperti biasa?
Jangan mengkhayal!
Pada akhirnya Chanyeol ditemukan telah berjalan melintasi koridor pada siang yang terik. Langkah ragu seperti dihitung.
Ingin kemana, untuk apa?
Mungkin saat kau baca ini akan alami sedikit kebingungan. Tapi sumpah bukan kau saja, Chanyeol juga. Ayo beritahu, apa yang sebaiknya dilakukan!
Lalu mendadak langkahnya terhenti begitu sadar tujuannya tak pasti. Faktanya keberadaan Baekhyun saja Chanyeol tak tahu.
Untuk pertama kali, Chanyeol merasa asing pada Baekhyun dan segala teka-tekinya. Mana yang dikenal, mana yang belum diketahui.
Chanyeol mengambil ponsel yang tersimpan rapi di celana. Baterainya sekarat. Chanyeol lupa kapan kali terakhir benda itu makan.
Kontak Baekhyun terpampang di layar. Hanya butuh satu sentuhan dan sambungan akan terhubung. Seakan ada hal yang menahan, Chanyeol ragu untuk lakukan hal tersebut.
Ya. Rasa bersalah itu mendominasi. Membekukan segala gerak yang tadinya ingin dia buat.
Alih-alih buat panggilan, Chanyeol justru menyimpannya lagi dan berjalan menuruni tangga. Melintas koridor lain dan berhenti pada lobby utama.
Tengok kanan-tengok kiri, semua sama. Sibuknya kampus dan segala anteknya. Coba cari mungkin ada satu hal yang bisa dilakukan untuk bunuh waktu selagi menunggu.
Nihil. Tak ada.
Jarum jam masih menunjukkan setengah dua belas. Masih setengah putaran untuk benar-benar menginjakkan tengah hari.
Lobby pun terlihat sepi. Kampus memang selalu begitu. Ramai hanya pada jam menjelang kelas dan selepas kelas. Tak ada mahasiswa yang sudi menghabiskan waktu luangnya di kampus.
Mereka cenderung akan kembali ke kos begitu kelas usai. Atau bila ingin bersantai, mereka lebih memilih kedai kopi daripada koridor kampus.
Mungkin masih ada beberapa yang terduduk diam di koridor. Biasanya mereka adalah mahasiswa yang memiliki keterpaksaan untuk tetap tinggal. Entah organisasi, UKM, atau malah dosen yang tak kunjung terkejar demi sebuah bimbingan.
Chanyeol bukan satu diantara mereka. Dia hanya sedang mencoba peruntungan. Menanti Baekhyun yang siapa tahu pulang lewat lobby utama.
Jam sudah melewati angka dua belas lebih seperempat, tapi Baekhyun tak kunjung muncul.
Hembuskan napas, Chanyeol menyandarkan diri dan coba menutup mata.
Gelap kini menjadi mimpi buruk. Tiap mata tertutup, kalut itu menyelimuti. Ini adalah alasan mengenai absennya lelap yang berkualitas pada hari-hari Chanyeol belakangan.
Dering itu hadir saat Chanyeol tengah memijit pangkal hidung yang terasa memberat. Mungkin sebentar lagi dia akan terserang flu ringan.
Nama Baekhyun terpampang. Menunjukkan sebuah panggilan yang memburu ingin dapat sahutan.
Chanyeol mengangkatnya dengan tenang. Berusaha sebisa mungkin menjaga suara.
"Kau dimana?"
Suara Baekhyun terdengar dari seberang. Suara yang dia rindukan pada beberapa hari terakhir.
"Lobby utama,"
"Mari bicara di kosmu,"
Lalu panggilan itu terputus tanpa tunggu jawaban lebih lanjut. Nadanya kurang bersahabat dan Chanyeol hanya bisa iyakan apapun nanti keputusan yang dihasilkan.
Baekhyunnya sampai di kos tepat saat Chanyeol tengah memindahkan pakaian kotor ke keranjang. Sebuah usaha untuk beri kesan bahwa tidak semua hal menjadi berantakan.
Tampak satu tangan menenteng plastik dengan logo restoran cepat saji yang terkenal. Memindahkannya dengan cepat ke piring lalu menghidangkan secara sederhana di meja lipat.
Chanyeol hanya menurut saat Baekhyun kedikkan dagu untuk dia duduk. Dalam diam keduanya makan. Suapan kesatu, kedua, kesekian, lalu tandas.
Masih hening hingga Chanyeol selesai membersihkan piring.
Baekhyun terlihat mempertimbangkan sesuatu. Menyusun kata demi kata hingga terwujud kalimat yang mungkin jadi opsi terbaiknya.
Sedang Chanyeol sendiri duduk kaku di ujung ranjang. Bermain kuku selayaknya anak kecil yang dimarahi ibu.
"Aku sudah memikirkannya," lontaran itu terucap dari Baekhyun dan Chanyeol masih sibuk dengan kukunya.
"Ya," hanya sahut tak pasti yang diberikan.
Mau bagaimana lagi. Dia yang salah. Masa iya dia yang menuntut.
Hembusan napas kasar terdengar. Entah itu marah atau muak.
"Ayo putus,"
Dan kata itu pun akhirnya terlontar. Tak ada jalan lain, pun tak ada jalan memutar untuk kembali ke hari lalu.
Reaksi yang Chanyeol berikan hanya anggukan. Lalu perlahan menatap Baekhyun masih dengan tangan yang memainkan kuku. Ditilik lebih jauh, Baekhyun bisa lihat bibir itu bergetar.
Ya Tuhan! Bagaimana bisa pemuda ini menghamili orang dengan wajah kekanakannya?
Baekhyun hanya menggeleng. Maju mendekat untuk genggam tangan yang tak henti saling mengadu kuku. Bila dibiarkan, ujungnya akan berdarah.
"Aku punya beberapa opsi untuk menyelesaikan ini,"
Chanyeol kembali mengangguk. Lisan sama sekali tak bisa diajak bekerjasama untuk ucapkan barangkali satu kalimat saja. Seakan tenggorokannya ada yang mengganjal.
"Menghilangkannya tak termasuk dalam opsi,"
Baekhyun tak menginginkan untuk menggugurkan anak itu. Dia tak ingin salah satu dari mereka jadi pembunuh. Bagaimana pun opsi ini hanya akan menyakiti.
"Bertanggungjawablah. Bilang ayahmu atas dosa yang kau buat. Akui, jangan lari,"
Pandangan itu jadi mengawang, kosong. Sebuah gurat bahwa Chanyeol ragu atas usul yang diberikan. Masih terlalu takut dengan beban yang akan hadir seiring dia menyetujui.
"Aku akan berada disampingmu. Jangan takut,"
Dan tangis itu pecah. Chanyeol hanya tak sangka. Baekhyun bisa semalaikat ini. Dia sudah menyakiti tapi mantan kekasihnya ini masih setia disisi.
Tanggungjawabnya besar. Sebuah masa depan dari seorang wanita baru saja dia hancurkan. Pun nasib mengenai nyawa kecil yang bahkan belum sebesar genggaman.
Chanyeol tidak mungkin memikulnya sendiri. Lalu Baekhyun hadir sebagai pihak penopang. Merelakan status kekasih dan merubahnya menjadi teman demi menjaga Chanyeol agar tetap tegap.
Sebuah pengorbanan besar. Keduanya yakin bahwa balasan setimpal akan hadir satu hari nanti.
Jadi pada hari kesekian, Chanyeol memantapkan diri untuk menyambangi rumah kedua orang tuanya. Baekhyun berjalan dibelakang. Menjaga jarak.
Pun saat Chanyeol menghadap. Berbicara cukup serius dengan anggota keluarga, Baekhyun tetap ciptakan jarak. Menepi dan mengasingkan diri pada halaman belakang bersama anjing peliharaan keluarga Park.
Dia hanya mencoba percaya bahwa Chanyeol pasti bisa mengendalikan situasi. Semoga.
Karena sampai lima jam setelahnya, runding itu masih belum selesai. Sedikit banyak pasti khawatir. Hanya saja tiba-tiba terlintas ketakutan bila Chanyeol harus dapat satu dua pukulan atas dosanya?
Bagaimana pun keluarga Park tetap memegang teguh kedisiplinan meski kadang memiliki pandangan liberal. Seks bukan hal yang dilarang dalam keluarga ini. Tapi seks aman tetap jadi pilihan teratas.
Kemungkinan-kemungkinan menyeramkan tiba-tiba menghantui. Kusut, kalut, berbelit. Baekhyun dapatkan diri tiba-tiba kaku berdiri. Meremang seakan keputusan final yang didapat mungkin tak sesuai harapan.
Bahkan remang itu masih ada saat Chanyeol mendekat untuk kabari hasilnya.
Saling berdiri berhadapan dengan Chanyeol yang terus menunduk. Entahlah, rasanya Chanyeol kehilangan rasa percaya diri sejak masalah ini datang.
Baekhyun menatapnya dengan harap. Chanyeol tak bisa baca harap mana yang jadi utama. Kabar baik atau buruk. Ahh mungkin semua jawab berujung buruk karena sebenarnya merugikan Baekhyun.
Memantapkan diri, Chanyeol menatap Baekhyun di mata.
Retina itu masih sama seperti kali pertama keduanya bertatap. Binarnya masih ada, meski saat ini tak seterang biasa. Chanyeol memuji untuk segala kesempurnaan dalam ketulusan pandangnya.
"Aku disuruh menikahinya,"
Final.
TBC
Ini aku gatau ya nulis apa. Part ini aku revisi 3x. Pas aku putusin publish pun masih belum puas. Tapi semoga tidak mengecewakan.
Hayoooo, siapa yang kangen aaakkkuuuwww?
Heheh, aku butuh beberapa masukan nih. Mungkin ada ide yang pengen kalian masukin ke ff ini. Atau mungkin ide buat one shoot atau apapun. Aku butuh beberapa ide dari kalian biar cerita ini gak membosankan.
Ahhh, iyaa! Jangan lupa jaga kesehatan. Aku sayang kalian!
Phay-phay
