Nyatanya pernikahan itu sama sekali tak pernah terjadi. Semua itu hanya khayal dari pihak Chanyeol semata. Hanya sebuah ungkapan untuk memenuhi yang mereka bilang tanggungjawab.

Kunjungannya diterima. Tapi pesan yang dibawa tertolak begitu saja. Wanita itu, yang mengandung anak Chanyeol, memilih menggeleng dan dengan tegas berkata tidak.

Malu mungkin jadi muka pertama keluarga Park. Emosi sedikit terlihat pada gurat ayah Chanyeol. Sudah kepalang membuang harga diri demi mengakui dosa anaknya, eh keinginannya untuk berlaku baik, dilepehkan begitu saja.

Orang tua pihak wanita hanya menyanggupi begitu saja saat anaknya menggeleng dengan tegas. Sudah pasti mereka tahu mengenai si jabang bayi.

Sebuah hal yang mengherankan karena mereka tak murka dan menuntut ini itu dari pihak Chanyeol.

Chanyeol sedikit banyak merasa lega. Ayolah, jangan munafik. Satu dari bayang ketakutan soal masa depan yang akan terkunci bersama sang wanita, musnah begitu saja. Bagaimana dia tak lega.

Sekarang yang Chanyeol harus lakukan adalah temui sang wanita. Sapa sebisanya demi sebuah kesopanan.

Jadi Chanyeol memisahkan diri dari kedua orang tuanya. Membiarkan mobil itu berlalu sebelum berbalik dan menghampiri tujuannya.

"Boleh minta waktu sebentar?"

Wanita itu mengangguk. Memutuskan untuk mengikuti langkah yang Chanyeol ambil untuk menepi ke halaman rumah yang lebih lengang.

Tepi kolam ikan dengan bangku pada sisinya jadi pilihan. Duduk berdua dengan jarak yang terbangun, Chanyeol memulai obrolan.

"Sebelumnya aku minta maaf. Atas semua hal yang telah kulakukan. Maaf aku membuatmu begini,"

Wanita itu hanya mengangguk. Bergumam iya dengan pelan. Gesturenya seakan sudah lelah dengan semuanya.

Chanyeol maklum kalau dia lelah. Itu sudah pasti. Chanyeol yang bisa dibilang tak terlalu kena imbas saja sudah sebegini pusing. Apalagi wanita ini yang akibatnya bisa dilihat dengan sangat jelas.

"Boleh bertanya? Apa yang jadi alasanmu menolakku?"

Terdengar arogan. Pertanyaannya seakan menyombongkan diri dan memandang remeh wanita yang menolak dinikahinya.

Tapi toh wanita itu hanya menaikkan satu alis, balis menatap dengan dengus lirih. Lelaki seperti Chanyeol sudah tentu bisa menyombongkan diri semaunya. Tampan, kaya, jadi alasan utama harga diri yang selalu dijunjung tinggi.

Wanita itu hanya menerawang kolam. Melihat riak air yang tenang tak tenang. Seakan memberi gambaran bahwa hidup pun bisa sepertinya.

Jawabannya mengalir begitu saja. Mulai dari alasan memberi tahu Chanyeol hanya untuk memberi tahu bahwa dia memiliki satu keturunan tanpa ada keinginan satu pun untuk terikat.

Wanita itu datang pada Chanyeol dengan maksud memberi tahu, bukan meminta pertanggungjawaban. Hanya saja Chanyeol dengan pemikiran semrawutnya yang buat keadaan diri sendiri menjadi kacau.

Pun wanita itu tak sedikitpun punya pemikiran bahwa Chanyeol akan datang dengan kedua orang tuanya. Pikirnya, Chanyeol pada kali kedua akan datang dengan teriakan mengenai lenyapkan atau hilangkan.

Semua ini terlalu di luar dugaan.

Senyumnya terbersit begitu sadar bahwa Chanyeol tak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai lelaki mata keranjang. Tindak tanduknya membuktikan bahwa dia bisa bertanggungjawab, harga diri yang dipegang teguh masih coba diselamatkan.

Ucapan itu terus mengalir hingga pada perincian rencana. Tentang bagaimana nanti nasib anaknya.

Wanita itu punya rencana. Mengikat diri dengan pemuda yang juga mencintainya. Seorang pemuda yang mau berlapang dada menerima kekurangan dan menyanjung kelebihan.

Seorang pemuda yang nantinya akan menjadi ayah sah secara hukum dari anaknya.

Gambaran sosok sempurna pendamping.

Chanyeol hampir terisak iri begitu memandang secercah binar harap dari pancar mata wanita disampingnya. Sebuah bahagia akan menjemput wanita ini. Sangat berbanding terbalik dengan dia yang harus menelan pahit kandasnya hubungan.

Begitu cakap itu berakhir dan hanya sisakan diam yang canggung, Chanyeol terbatuk dengan sengaja. Coba tarik perhatian untuk kemudian ucapkan selamat dan beberapa junjungan soal harapan kedepan.

Semuanya berakhir disitu. Penolakan yang didapat tak sepenuhnya menyiksa. Ini pilihan yang tepat bagi keduanya.

Chanyeol tak mau jadi egois dengan paksa si wanita untuk pergi ke pelukannya sedang diseberang sana ada pemuda yang bahkan mau dengan sukarela mendampingi wanita dengan sepenuh hati dan cinta.

Tanggungjawabnya masih terus berjalan. Tak mau seenak diri dengan tak tahu malu melepas diri, Chanyeol masih memenuhi kebutuhan sang jabang bayi.

Sekali, dua kali dia belikan keperluan bulanan. Kadang hanya susu ibu hamil, kadang berbentuk bahan pangan. Tak terlalu sering karena dia pun tak mau menyinggung harga diri dari suami sah sang wanita.

Bantuannya masih diterima dengan tangan terbuka. Atas dasar tanggungjawab dan memang tak ingin memutus hubungan antara dia dan anaknya, Chanyeol masih terus memenuhi tagihan yang memang sengaja dibebankan padanya.

Pembagian secara adil antara ayah kandung dan suami sah. Keduanya saling rangkul untuk kenyamanan sang wanita.

Dan hubungan baik itu terus berjalan hingga hari ini. Dimana dia duduk dengan didampingi Baekhyun disisi.

Sosok ini yang tak pernah bertemu secara langsung dengan wanita maupun anaknya. Ini kali pertama. Chanyeol bisa lihat gemetarnya. Ketakutannya akan kelam masa lalu.

Tapi sekali lagi dia yakinkan Baekhyun.

Bila ingin melangkah kedepan, berdamailah dulu dengan masa lalu.

TBC

Kok komennya sepi? Aku sedih nih huhuhuhu. Kalian melupakanku yaaa.

Padahal aku kangen sama kaliyan huhuhuhuh.

Ngambek ah.

Phay-phay