Dia telah kembali. Kembali dari kilas balik yang sedikit banyak gores hati. Kembali dari gundah tentang masa lalu. Mencoba memilah hal terbaik untuk segala kemungkinan.

Dia kembali untuk menata hati.

Pulang dengan gurat tenang sehabis bertemu satu alasan kandasnya hubungan. Sulit, dia akui. Awalnya terasa asing. Seperti kau berada di tengah lapangan tapi terkurung di sekotak kaca, sesak. Tapi akhirnya pun kaca itu hancur dan udara sedikit mulai berhembus dari tepi lapangan.

Hening itu melingkupi keduanya yang tengah duduk berdampingan, menempuh perjalanan pulang dengan mobil kebanggaan.

Dua pemuda dengan jalan pemikiran yang berbeda.

Pertemuan itu tak semenakutkan yang Chanyeol pikir. Pun tak sedramatis yang Baekhyun kira.

Semua berjalan sederhana, apa adanya. Sang wanita yang menyapa Baekhyun dengan ramah, sang pendamping wanita yang mempersilahkan dengan tenang, pun Riri yang menyambutnya riang.

Baekhyun bagai mendapat keluarga baru. Atau memang pada kenyataannya begitu.

Bukankah Chanyeol bisa disebut lebih dari sekadar mantan?

Baekhyun melirik pemuda yang tengah fokus menatap jalanan. Lengan baju hitamnya digulung sesiku, jam tangannya melingkar erat dipergelangan kiri, jeans yang membalut pas keseluruhan kaki. Dia tampan seperti biasa. Baekhyun terpesona seperti pada hari-hari sebelumnya.

Damai itu mungkin masih baru. Belum terlalu pantas untuk disombongkan. Masih terlalu segar untuk dipamerkan.

Damai yang baru Baekhyun putuskan tak seberapa bila dibandingkan pengorbanan yang sudah Chanyeol lalui.

Pada satu sisi dia harus merelakan pacar yang selalu jadi kebanggaan. Lalu pada sisi lain dia harus menopang segenggam kehidupan baru.

Pun pada perjuangan menopangnya, dia harus mempertimbangkan tuntutan keluarga dan kesopanan pada suami sah sang wanita.

Sungguh, semua itu terdengar sangat berat dan rumit.

Tapi kenapa Baekhyun justru meninggalkannya untuk larut sendiri?

Sedikit banyak Baekhyun menyesal. Demi menuruti kesakitan hati, dia rela memberi jarak pada pemuda yang sangat membutuhkannya pada titik terendah kehidupan.

Baekhyun masih ingat tentang enam bulan pertama kandasnya hubungan, keduanya masih mencoba mencari titik nyaman terkait perubahan status. Masih takut membedakan antara tindakan pada saat masih pacar dan telah menjadi mantan.

Lalu pada bulan kedelapan, keduanya mulai abai dan hanya biarkan.

Status mungkin berubah, tapi perhatian itu masih sama. Rasa pun sesungguhnya begitu. Hanya kekecewaan yang terlalu jadi sampul utama yang buat abai pada segala rasa indah setelahnya.

Baekhyun palingkan pandang dari lamunan dan pengamatannya pada Chanyeol. Kembalikan pandang pada arah jalanan di depan mereka.

Hatinya terasa penuh. Tersesaki oleh bahagia. Damai telah dikantongi. Rasa telah diakui. Jadi apa lagi yang harus ditunggu?

"Chan,"

Hanya satu iya pelan yang sahuti panggilan. Pemilik suara masih fokus memegang kendali kendaraan.

"Terimakasih telah berjuang. Terimakasih telah sudi menunggu. Terimakasih untuk tidak merubah rasa,"

Chanyeol tersenyum. Merasa bahagianya berkali lipat mendekap.

"Kukembalikan terimakasihmu. Terimakasih untuk kamu yang mau berdamai dengan masa laluku. Terimakasih telah mau menerima kurangku,"

Sebenarnya Chanyeol merasa cakap ini tak seharusnya diberikan ditengah perjalanan pulang, didalam mobil yang sedikit pengap. Tapi bukankah lebih baik utarakan kejujuran selagi masih ada kesempatan?

"Baek,"

Baekhyun alihkan pandang sekali lagi pada sosok Chanyeol yang meliriknya sebentar, "Iya?"

"Biarkan aku sekali lagi memperjuangkan kita,"

TBC

Sumpah demi apapun aku minta maaf sudah mengabaikan ff ini sekian lama. Terimakasih buat kalian yang mau menunggu.

Karena aku lupa sama alurnya, aku baca ulang dari awal wkwkwk. Terus kaya gemes sendiri. Kok mereka berdua lucu ya wkwkwk.

Aku kangen ngobrol sama kalian, kangen baca komen panjang kalian. Jadi sini sharing-sharing tentang "Kalian sudah berdamai sama apa selama tahun 2020 kemarin?"