Perjuangan itu sebenarnya tak bisa disebut total sebagai perjuangan. Bagaimana ya sebutnya? Karena sesungguhnya, tingkah keduanya masih sama. Masih selayaknya hari biasa.

Antar jemput masih berlaku. Satu dua pesan masih terus saling menunggu. Pun peluk hangat untuk buka hari dan penutup petang kala semuanya terasa berat.

Rutinitas tak ada yang berubah, inilah yang jadi alasan perjuangan terasa seperti tak berjuang.

Tak ada beda.

Bingung juga bagaimana Chanyeol harus berlaku demi buktikan bahwa dia memang serius ingin buktikan bahwa kembali memeluk Baekhyun merupakan tujuan utama saat ini.

Hendak bertingkah seperti awal melakukan pendekatan pun terasa percuma. Dia sudah terlalu tahu dengan betul bagaimana diri Baekhyun.

Baekhyun bukan remaja tanggung yang masih tergila-gila hanya karena sebuket bunga atau sepaket bingkisan makanan ringan.

Dia layak mendapat lebih dari itu. Baekhyunnya indah dan layak untuk disanjung serta diperlakukan lebih agung.

Memikirkan ini itu hingga mempertanyakan hal yang sebaiknya dilakukan kepada salah satu teman, Kai, akhirnya Chanyeol memperoleh jalan keluar.

Bila ingin membuktikan kesungguhan diri, lakukan sesuatu yang lebih dari kata berarti.

Ambil tindakan yang keluar dari zona nyaman. Bukan hal yang bisa dikatakan lagi sebagai pendekatan. Toh keduanya sudah melewati batas dekat. Sudah pernah erat. Tinggal bagaimana kembali mengembalikan yang retak.

Jadi pada akhirnya Chanyeol putuskan untuk pulang ke rumah. Mencoba peruntungan. Berniat ingin menjelaskan keinginan hati. Meminta maaf pada tindakan di masa lalu, ucap niat untuk masa depan. Berdoa semoga saja niatnya disambut baik oleh orang tuanya sendiri.

Hari itu Chanyeol pulang dengan sedikit alasan ingin menengok orang tua setelah sekian lama yang langsung dipercayai begitu saja oleh Baekhyun. Toh nyatanya juga begitu.

Baekhyun tak banyak melarang ketika ada hal yang berhubungan dengan keluarga. Mau sebagaimana pun cintanya, sosok pasangan (atau yang saat ini belum) tidak seharusnya membuat pasangannya jauh dari keluarga.

Jadi Chanyeol lakukan sebagaimana rencananya untuk habiskan hari di rumah orang tuanya. Duduk, berdiskusi, dan beri penjelasan soal keinginan.

Lalu pada petang di hari yang sama, Chanyeol menelepon Baekhyun. Ingin dengar suara katanya.

Padahal dalam hati berkata rindu dan ingin menjaga hubungan tetap hangat serta erat. Takut saja dibiarkan renggang sedikit malah berakhir sia-sia.

Sebagaimana pemuda kasmaran, satu dua bisik menggelikan terdengar. Benar-benar tipikal pemuda jatuh cinta. Bedanya ini jatuh cinta kedua kali pada sosok yang sama.

Chanyeol merubah posisi berbaringnya. Telungkup sambil membenamkan kepala ke bantal. Mendengar sayup suara Baekhyun yang jelaskan kegiatan selama sehari kebelakang.

Tiba-tiba saja, terpikir hal random dalam benak. Selain tingkah yang sering manja dan kekanakan, Baekhyun juga hapal soal kejujurannya.

Jadi Baekhyun tak kaget saat Chanyeol ucapkan hal random tersebut.

"Baek, besok kalau balikan, pindah satu kosan ya?"

Yang hanya dijawab ketus khas Baekhyun sekali.

"Tidak ah. Bosan. Kuliah liat kamu, sampe kosan kamu lagi,"

TBC

Bukannya buru-buru. Tapi emang udah planning dari awal nulis kalau story ini ga akan lebih dari 40 chapter.

Jadi yaa, 2-3 chapter lagi ini bakal end. Hehe

Phay-phay