Naruto belong to Masashi Kishimoto
I own this story but not the chara
Welcome to my imagination and enjoy
.
.
.
.
.
Summary: "Bangun, bocah!"/ "Boleh aku gigit tangan Paman? Aku jadi lapar paman. Ingin makan permen." / "Wow. Kau sangat hebat mengingat kau jadi pertapa selama beberapa tahun ini."/ "Makanan yang paling kau suka di antara semua itu?"/ "Aku paling suka makan Naruto-nii. Sangat manis hingga membuatku tak bisa berhenti."/ "Pasien bed nomor 5 diagnosanya apa? Cium?"/ "Kami bukan pasangan hangat. Tapi panas dan seksi."/ "Kalau bocah itu melihat ini dia pasti akan berteriak untuk membelikannya rumah permen!"/ "Apa setelah memakan pudingku aku juga bisa memakan puding Naruto-nii dan juga memakan Naruto-nii nanti?"
.
.
.
.
.
.
4. New House
.
Sakura menatap takjub. Bayangan rumah permen (atau setidaknya rumah biskuit dan kue) terwujud dalam desain bangunan yang mirip sekali dengan bangunan tradisional Belanda. Desain bagian depan rumah sedikit mirip dengan kisah Hansel dan Gretel. Suka? Jangan tanya. Naruto bagaikan misteri box dan mampu membuatnya terkejut, jatuh cinta, terkejut lagi, jatuh cinta lagi selama berkali-kali.
"Rumah ini memiliki banyak kamar. Di belakang rumah ada wisma tempat tinggal para pelayan. Mereka akan membantumu bersih-bersih juga memasak. Kau tidak perlu membakar dapurnya."keluh Naruto.
Sakura tau pria itu berusaha menyindir. Tapi mana peduli dia dengan sindiran? Dia memang tidak bisa memasak kecuali membuat aneka puding dan dessert lain. Dia suka makanan manis. Dan tentu saja dia harus pandai membuatnya jika dia ingin berhemat. Dia bahkan bisa membuat permen kunyah dengan cara tradisional dan memiliki rasa yang tidak kalah enak dengan yang dijual di toko.
"Aku tidak akan membakarnya. Aku akan membakar Paman dan memakan Paman."celetuk gadis pink itu tanpa beban. Dia tidak peduli dengan tatapan horror pria itu. Toh memakan suami sendiri tidak akan salah kan? Mereka bisa saling melakukannya.
"Kapan otakmu bisa terakit dengan benar, bocah?"keluh Naruto dengan mata berputar. Dia bisa gila kalau seperti ini.
"Paman tidak ingin memakanku?"
Naruto mulai jengah. Pria itu berjalan menuju kamar utama tanpa menoleh pada sang istri yang sudah kelimpungan mengejar langkahnya yang lebar. Sakura bahkan setengah berlari ketika pria itu sampai dilantai 2 tanpa terlihat kepayahan. Rumah ini luas. Bahkan lebih lebih luas dari rumah yang ditempati Sakura hingga dia dewasa. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan suaminya. Tapi pria itu bahkan tidak kehabisan nafas atau mengeluarkan keringat. Apa suaminya adalah vampir?
"Aku serius. Paman tidak ada keinginan untuk melakukannya?"tanya Sakura lagi. Kali ini mereka sudah ada di dalam kamar utama. Naruto berbalik dan memandang Sakura dengan kedua mata yang menyipit.
"Kalau kau bercanda terus seperti ini kujamin kau akan menyesal."tegur Naruto.
"Aku tidak bercanda. Aku bertanya. Jelas ada bedanya."
Namun ketika kalimat itu baru saja selesai ia katakan, Naruto sudah membaringkan Sakura di atas tempat tidur. Jarak wajah mereka hanya 10 cm. Sangat dekat dan bahkan Sakura nyaris mabuk dengan aroma mint dan citrus yang keluar dari mulut suaminya. Ya Tuhan... Aroma ini membuatnya lapar.
"Pria tidak akan menunggu komando jika dia memang 'lapar', Sakura. Dia akan sangat menikmati prosesnya dengan menjadi dominan."terang Naruto masih dengan wajah datar. "Dia akan memulainya dari sini untuk membungkam mulut gadisnya."ujar Naruto sembari memegang bibir penuh Sakura. "Oh pria itu pasti akan menghabiskan semua yang ada di dalamnya. Dan jika ada waktu sebelum gadisnya menjerit, dia akan mengecupi semua permukaan wajah itu. Bahkan disini."jelasnya sembari menyentuh cuping telinga Sakura.
Alih-alih merasa takut, Sakura malah tersihir dengan warna biru mata suaminya. Kami-sama... Dia benar-benar ingin tenggelam di dalam mata itu. Memastikan dirinya tidak akan pernah keluar dari sana. Mencintai pria ini selamanya dan menjadi apapun yang pria itu inginkan. Terdengar gila memang. Abaikan saja.
"Ketika si gadis sudah mulai kehilangan dirinya, dia akan menjelajahi denyut di sepanjang leher gadisnya. Terus ada disana sampai sang gadis menjerit. Dan kau pikir pria akan memberi ampun pada saat semua sudah terjadi? Jawabannya tidak. Dia bahkan akan menyambungnya di tempat favorit nomor 2 sebelum menu utama." Terang Naruto. Tangannya turun dari leher Sakura menuju dada gadis itu. Membiarkan tangannya berlama-lama di di tengah-tengah sembari menatap mata gadis yang sejak tadi tidak mengedip menatapnya.
"Kau tau hal lain yang akan dilakukan pria itu? Dia akan memakan semua bagian yang tadi kukatakan dengan penuh penghayatan."terang Naruto sembari mengelus perut datar Sakura. "Setelahnya si gadis akan gila ketika pria itu memakannya seperti puding. Kakimu akan lemas seperti jelly. Dan aku harus mengatakan padamu. Itu semua dilakukan tanpa mendapatkan komando."
Sakura tidak tau bagaimana bisa seorang pria menerangkan hal seperti ini pada istrinya dengan cara yang sangat... manis? Atau bahkan sangat menantang hingga Sakura ingin sekali tenggelam. Oke, dia mesum. Tolong kembalikan kesucian otaknya!
Naruto menyeringai mendapati wajah gadis itu memerah. Dasar gadis naif. Bisa-bisanya memancing pria tua sepertinya dengan kata 'makan-memakan'. Bagaimana bisa pria tua sepertinya tidak tau bagaimana caranya membuat bayi? Dia hafal di luar kepala sekalipun dia belum pernah melakukannya. Dia tidak suka 'bermain' seperti kebanyakan rekan kerjanya. Dia hanya akan melakukannya dengan orang yang memang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Jangan bermain-main dengan api kalau kau masih belum sanggup melihat konsekuensinya. Hm?"ujar Naruto dengan senyum sebelum bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi dan tidak memedulikan Sakura yang mematung.
Kami-sama! Sakura semakin ingin memakan suaminya!
.
000
.
Naruto mengerutkan alisnya. Kali ini diam menemukan Sakura tertidur dengan wajah yang mengendus dadanya. Gadis itu terus melakukannya entah dengan tujuan apa? Dia selalu mengatakan kalau aroma Naruto mengingatkannya dengan pancake. Apa gadis itu tidak bisa tidak makan barang 1 jam saja?
Terbangun dengan liur Sakura yang ada di dadanya adalah hal biasa. Naruto bahkan sudah tidak merasakan geli seperti ketika pertama kali Sakura melakukan itu. Gadis yang selalu lapar sangat wajar jika merasa lapar hanya dengan melihat ke arahnya (sebenarnya Chiyo juga nggak paham kenapa bisa ada kemakluman model begini. -_-").
"Bangun, bocah. Ini sudah pagi."
Sakura mengerang dan terbangun. Melihat Naruto yang menatapnya membuat rasa lapar semakin menjadi. Dia harus segera melahap pancake atau dia akan kehilangan diri dengan memakan Naruto. Dia malu jika dia lebih agresif. Bukankah agresif adalah tugas pria dan egonya?
Pakaian tidur Sakura yang berwarna merah serta tipis terlihat berantakan. Berikut dengan rambut sebahunya yang sudah terlihat bagaikan surai singa. Naruto yang topless dan hanya mengenakan boxer tipis berwarna hitam. Hm... mereka terlihat seperti pasangan panas kan? Siapa juga yang akan percaya kalau keduanya masih suci? Kata halus yang mengatakan bahwa mereka belum melewati malam pertama.
"Aku akan memberitahukan Mio untuk menyiapkan gula-gula. Tapi ingat, kau harus sarapan dengan normal di siang hari. Makan malam dengan salad. Jadi yang masuk ke tubuhmu seimbang."cerewet Naruto. Sakura mengangguk dengan senyum. Makanan apapun akan masuk ke dalam mulutnya secara sukarela kalau itu artinya dia harus makan dengan suami. Dia bahkan rela tidak makan permen selama 1 bulan jika itu artinya dia bisa makan bersama suaminya.
"Paman juga jangan makan ramen terus. Umur Paman harus panjang agar bisa menemaniku yang masih muda."
Naruto mendengus dan mengacak rambut berantakan Sakura tanpa ampun. "Umurku akan jauh lebih panjang kalau kau bertingkah normal." Naruto bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Sakura duduk dan menatap punggung suaminya. "Apa dengan begitu Paman juga mengharapkan aku pergi?"tanyanya pada keheningan dengan wajah sedih.
.
000
.
Sakura diam menatap fluffy pancake dengan toping madu dan juga buah berry. Dia tidak berselera memakan makanan yang sudah dibubuhi bubuk kayu manis itu. Membuat Naruto mengerutkan dahinya. Apa dia salah bicara sampai gadis berisik itu berubah menjadi pendiam?
"Ada apa?"
"Sikap Paman sama sekali tidak oke."
"Apa maksudmu?"selidik Naruto. Kali ini dia menurunkan koran dan melipatnya. Tidak ada gunanya konsentrasi membaca berita sementara gadis yang ada di hadapannya terlihat ingin memuntahkan itu di depan sarapannya. Well itu sangat tidak biasa mengingat betapa rakusnya Sakura selama ini.
"Paman kan mengatakan akan umur panjang kalau aku bersikap normal. Memangnya normal itu seperti apa? Yang tidak memakan pancake dan tidak ingin terlihat memakan suaminya?"
Naruto nyaris saja menyemburkan kopi karena perkataan gadis itu. Para maid sampai menunduk malu mendengar Sakura berceloteh semaunya.
"Kalian pergilah. Aku akan memanggil kalian jika kami membutuhkan."usir Naruto pada para maid. Dia tidak ingin keanehan istrinya dilihat oleh makhluk lain selain dia dan keluarganya.
Para maid tersenyum dan mengundurkan diri dari ruangan itu. Naruto segera berbalik menatap istrinya sejurus. Sakura masih cemberut dengan memainkan garpunya. Seolah makanan yang sedang ia hadap sama sekali tidak membangkitkan selera.
"Ada apa?"tanya Sakura.
"Apa Paman terganggu dengan kehadiranku?"tanya Sakura sejurus.
Naruto berpikir sejenak dan mengambil nafas beberapa kali sebelum menunduk kembali. "Kau menyebalkan tapi bagaimana lagi? Kau istriku. Menolak, tidak terima, terganggu pun rasanya tidak bagus. Jangan berpikir macam-macam."
"Apa Paman membenciku?"
"Kami-sama... Dari mana kau dapatkan pemikiran itu?"
Sakura menggelengkan kepala sebelum menunduk sedih. "Aku tidak tau apa yang Paman pikirkan. Aku kan hobi makan. Bukan hobi membaca perasaan orang."
"Kalau hanya karena kau suka makan aku jadi membencimu, bukankah aku akan jadi manusia paling rendah? Kau hanya berisik. Itu saja."
"Apa itu artinya Paman akan mencintaiku?"
Naruto mematung beberapa detik. "Jangan konyol."ujarnya setelah pulih dari rasa terkejutnya.
"Apa Paman mencintai orang lain?"desak Sakura lagi.
"Itu bukan kapasitas yang bisa kau tanyakan."
Setelahnya, Sakura harus cukup puas dengan berlalunya Naruto dari hadapannya. Pria itu membuat Sakura kehilangan kata-katanya. "Kau punya cinta masa lalu dan belum bisa melupakan. Ironi benar ceritaku ini."bisik gadis itu sembari menjauhkan piringnya. Sakura harus berangkat ke Rumah Sakit sekarang.
"Tapi pegang kata-kataku, kita akan saling memakan pada akhirnya!"
Sumpah demi apapun, jika seseorang mendengarnya, sudah pasti orang itu akan mengantarkan Sakura ke rumah sakit untuk diperiksa kejiwaannya. Otaknya benar-benar butuh disucikan!
.
000
.
Memiliki rumah yang seperti itu memang membuat Sakura senang sekaligus susah. Senang karena dia bisa menjadi nyonya rumah tanpa ada komando untuk membuat bayi, dan susah karena setiap dia melangkah ke dapur, dia bisa didorong oleh para maid agar tidak menginterupsi kerja mereka disana.
Uff... Paman menyebalkan itu sudah memberi komandoo kepada semua pegawai yang ada di rumah ini untuk menyingkirkannya dari semua aktivitas memasak. Ya ampun! Kenapa dia tidak dipercaya bahkan ketika dia ingin membuat kue sendiri. Itu bisa menghemat uang sakunya (sekalipun Sakura juga tidak pernah menghitung berapa banyak uang yang Naruto kirim untuknya dalam satu bulan).
Sakura bosan. Naruto juga sering sekali melakukan perjalanan dinas dan membuatnya menunggu layaknya istri kesepian dalam drama istri yang dikhianati. Menyebalkan! Dia ini masih muda dan terlalu muda untuk diselingkuhi. Naruto bisa menunggunya keriput dan menua dulu bukan? Setidaknya saat itu terjadi, Sakura bisa yakin tidak akan ada gadis lain yang mau memakan Naruto selain dirinya yang juga sudah keriput. Bukankah itu ide yang bagus?
Setiap hari Sakura hanya akan bergelut dengan urusan kuliahnya. Dalam 6 bulan kedepan masa studinya benar-benar selesai. Dia hanya perlu melalui ujian untuk mendapat gelar profesinya, sumpah dokter, dan kemudian dia bisa bekerja di rumah sakit. Atau jika dia ingin, dia bisa melanjutkan pendidikannya. Tidak akan ada yang melarangnya.
Ah! Sakura bosan!
Gadis itu memutuskan melangkahkan kaki ke arah ruang kerja Naruto. Pria itu tidak akan marah karena Sakura tau pasti kalau suaminya itu akan pulang 2 hari lagi. Dia ingin tau rahasia apa yang disembunyikan suaminya yang hingga 3 bulan pernikahan mereka tampak tidak tertarik dengannya yang sudah nyaris setengah telanjang setiap harinya.
Jika dikatakan tidak normal pun tidak bisa. Karena Sakura sering melihat Naruto 'berdiri' di pagi hari. Dan ketika Sakura menggodanya dengan melompat ke arahnya, Sakura merasakan 'benda' itu bereaksi. Tapi bagaimana bisa pria itu tidak menyentuhnya? Mereka bahkan tidak pernah berciuman sejak pernikahan terjadi. Artinya, Sakura benar-benar masih tak tersentuh, virgo immaculata, jika meminjam istilah dari salah satu novel yang ia baca.
Dengan pelan-pelan dia memasuki ruang kerja itu. Oke, ruangan ini sangat rapi. Dia bahkan tidak menemukan berkas yang berantakan di atas meja. Dia hanya menemukan beberapa note yang ditempelkan di papan yang menunjukkan aktivitas apa yang harus Naruto lakukan. Reminder yang sangat kuno. Seharusnya pria itu bahkan bisa mengaturnya dalam ponsel pintarnya.
Sakura menemukan buku-buku berbau bisnis yang sejujurnya tidak asing baginya karena buku itu juga ada di rumahnya. Dan beberapa hal lain seperti lumrahnya pebisnis. Tapi laci meja kerja Naruto menarik perhatiannya. Laci itu terlihat cukup jarang dibuka. Dengan sangat perlahan, Sakura membuka laci itu. Dan menemukan sebuah album foto. Jiwa ingin tahunya bergetar. Dia ingin tau apa yang tersimpan di dalam album yang sepertinya jarang sekali di buka.
Dan Sakura melihat huruf NH besar bercetak emas di halaman depan album itu. Naruto dan ...? Ha! Sakura semakin penasaran. Dia membalik lembar berikutnya danmerasakan sengatan cemburu yang luar biasa. Wanita yang berada dalam pelukan Naruto dalam versi muda itu sangat cantik. Jika seseorang mengatakan bidadari itu tidak ada, Sakura akan dengan tegas mengatakan bahwa itu tidak mungkin! Wanita ini sangat cantik. Bahkan Miss Jepang saja kalah. Kulitnya sangat putih dan berkilau bagaikan berbalut mutiara di seluruh tubuhnya. Wajahnya bagaikan veela yang ada dalam mitos. Cantik sekali. Rambutnya yang berwarna indigo dan sangat lembut. Warna mata yang lavender pucat membuatnya terlihat tidak nyata sebagai seorang manusia. Proporsi tubuhnya amat sempurna. Dan bonus luar biasanya, dadanya tidak serata Sakura. Tentu saja!
Tahun yang disematkan Naruto pada foto itu tertanggal 12 tahun yang lalu. Astaga... 12 tahun yang lalu dia sedang apa? Dia bahkan masih merengek untuk dibelikan permen pada sang ayah.
Beberapa foto berikutnya benar-benar membakar jantung Sakura. Tidak hanya berpelukan, di foto berikutnya ada gambar kedua insan itu berada di paris. Naruto mengecup dahi gadis itu. Foto lain ketika mereka berciuman. Dan mereka yang sedang mengawasi merpati ketika berada di London. Kami-sama!
Jika wanita seperti ini adalah masa lalu Naruto, pantas saja pria itu tidak tertarik dengan seluruh makhluk berkelamin wanita. Seluruh Jepang saja tidak bisa menandingi kecantikan wanita ini. Bagaimana dia yang sesaat merasa diri sebagai 'potato' bersaing dengan wanita ini? Bahkan Sakura yang berpikir bahwa Kushina, Ino, dan Shion sebagai wanita tercantik yang pernah dia lihat harus mengakui bahwa wanita di foto itu akan menang telak jika dijajarkan.
"Pantas saja!"gerutu Sakura sebal dan melempar album itu sembarangan di laci. Apapun alasan putusnya Naruto dengan gadis di dalam foto itu, Sakura yakin alasannya adalah hal yang cukup menyakitkan.
"Aku harus bagaimana untuk menarikmu dalam pesonaku?"
Sembari menggerutu, Sakura berjalan menuju kamarnya. Membuka seluruh koleksi pakaian seksi yang ia miliki. Dan sekali lagi harus menangis melihat bayangan dirinya yang ada di dalam cermin. Dia memang terlihat seperti bocah SMP!
HWAAAA!
Dia juga ingin terlihat menarik di mata Naruto. Bagaimana dong?
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Minna-san. Maafkan Chiyo yang akhirnya membuat kalian menunggu lama untuk cerita ini. Dalam setahun ini, Chiyo mengalami banyak sekali hal termasuk bekerja dan juga melanjutkan kuliah. Pening juga. Chiyo sangat berterima kasih ternyata FF ini masih ditunggu. Untuk beberapa FF lain akan Chiyo selesaikan. Jangan khawatir karena Chiyo selalu menyicil sekalipun satu paragraf setiap Chiyo sempat.
Mohon maaf dan selamat menikmati. Chiyo tunggu follow, favourite, dan review kalian. Yang banyak ya.
Hontouni Gomennasai!
Jaa matta ne minna.
12/12/2020
