Naruto © MK | SasuHina | Romance, Drama, & Hurt/Comfort | Canon | MA
Warning : Standard Warning
Saya mengambil kejadian setelah chapter 699, dimana Sasuke pergi keluar dari desa.
.
.
.
.
Wish © Kurosaki MikasaChapter 2
Hinata akhirnya sampai di depan gerbang Konoha. Setelah melaporkan misinya kepada kedua penjaga pintu gerbang Konoha, Hinata langsung menuju kantor Hokage.
"Masuk." Perintah sang Rakudaime Hokage saat mendengar ketukan pada pintu.
Hinata memejamkan matanya sesaat, menarik nafas lalu menghembuskannya pelan seraya membuka kembali matanya, memperlihatkan manik mutiara indahnya. Ia membuka pintu dan masuk ke ruangan Hokage tersebut.
"Ha'i Hokage-sama. Ini laporan misi saya." Kata Hinata meletakan gulungan hasil dari misinya. Kakashi kemudian mengambil dan membaca isi gulungan itu. Kemudian perhatian Kakashi teralihkan dari gulungan yang tadi ia baca ke arah leher Hinata.
"Hinata, ada apa dengan lehermu?" Tanya Kakashi memperhatikan perban putih yang melilit di leher Hinata.
Hinata terkejut dan segera menutupi lehernya. Ia sangat takut akan ketahuan. Padahal bercak merah yang Sasuke tinggalkan sudah ia tutupi, apakah Hinata malah semakin terlihat mencolok? Bagaimana ini? Jangan sampai ada yang tahu terlebih Naruto yang merupakan pujaan hatinya.
"A-ah! I-ini, -err itu. Saat saya ingin kembali ke desa, saya di serang oleh beberapa nuke-nin. Dan i-ini bekas lukanya." Hinata mencoba berbohong kepada Kakashi.
"Lalu?" Kata Kakashi dengan penuh selidik.
"Um, saya berhasil mengalahkan m-meraka. Su-sudah tidak apa-apa kok. S-saya sudah mengobatinya." Jawab Hinata dengan gugup.
"Hm, Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kakashi.
"Saya baik-baik saja." Kata Hinata sembari mencoba tersenyum sehalus mungkin. Sejujurnya tidak, karena batinnya sangat tertekan.
"Baguslah." Kata Kakashi, lalu menghela nafas pelan.
"A-ano Hokage-sama. Saya ingin bertanya sesuatu, bolehkah?"
"Tentu saja boleh."
"Uchiha-san, ah! Ma-maksudku Sasuke-san. B-bukankah hukuman Sasuke-san telah dihapuskan? Mengapa ia pergi mengembara keluar desa?Apa yang ia lakukan?" Tanya Hinata yang kini nampak gelisah. Ia memainkan jarinya di depan dada.
"Entahlah. Aku juga tak tahu. Sasuke hanya mengatakan ia harus melihat bagaimana dunia ini bekerja. Ini adalah jalan untuk menebus dosa- dosanya. Mungkin saat ini ia sedang dalam perjalanan ke desa yang pernah ia serang untuk minta maaf."
'Aa-apa? Menebus dosa-dosanya? Lalu mengapa kemarin ia menyerangku –err maksudku, tega melakukan hal keji padaku? Apanya yang menebus dosa-dosa?! Ia malah menambah tumpukan dosanya. Dasar Iblis Uchiha!' Hinata membatin dalam pikirannya setelah mendengar jawaban dari sang Rokudaime bersurai silver tsb.
"Benarkah?"
"Ya, begitulah. Memangnya ada apa Hinata? Apakah terjadi sesuatu?" Kakashi bertanya masih dengan tenangnya.
"Ti-tidak a-da apa-apa Hokage-sama." Jawab Hinata tergagap. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah bertanya hal yang akan membuat orang menjadi curiga.
"Ka-kalau begitu, s-saya pamit kembali Hokage-sama. Permisi." Sambung Hinata, lalu membungkukkan badannya. Memberi izin hormat kepada sang Hokage. Ia tak bisa berlama-lama di sini. Takut akan membuat Kakashi menjadi curiga.
"Silahkan."
Mendengar satu kata yang keluar dari mulut Kakashi, Hinata segera berbalik menuju arah pintu keluar. Dengan pelan Hinata keluar dari ruangan Hokage, meninggalkan Kakashi sendirian dengan dokumen-dokumen Konoha yang menumpuk. Kakashi menatap tajam ke arah pintu yang baru Hinata tutup. Sejak pertama saat melihat perban yang melilit di leher Hinata, Kakashi sudah mulai curiga. Lalu melihat Hinata yang gugup karena pertanyaannya membuatnya semakin curiga. Kakashi yakin, ada sesuatu yang tengah Kunoichi Indigo ini sembunyikan. Ditambah lagi, ia sempat menanyakan tentang Sasuke. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' Batin Kakashi.
Setelah melapor ke kantor Hokage, Hinata segera menuju ke Mansion Hyuuga. Sesampainya di sana, Hinata langsung memasuki kamarnya dan mengunci pintunya dengan rapat. Segera saja, ia lepaskan seluruh pakaiannya. Menatap tubuh polosnya di pantulan cermin besar di sisi kamarnya.
"Kami-sama..." Lirih Hinata ketika melihat bercak- bercak merah pada leher, dada dan perutnya. Ia sedikit meringis saat menyentuh punggung dan pahanya yang sedikit kebiruan. Apalagi bagian kewanitaanya sangat sakit bila terkena gesekan. Sasuke kasar sekali saat melakukan 'itu' dengan Hinata yang terus menolak dan memukulnya. Untungnya anggota tubuh Hinata masih lengkap. Lama Hinata memandangi cermin, hingga sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Hinata-sama, saya telah menyiapkan air hangatnya." Kata seorang pelayan Hyuuga dari balik pintu kamar Hinata.
Hinata menghembuskan nafas berat. Ia mengambil Kimono mandi yang berada di dalam Oshiire kayunya, dan memakainya. Lalu Hinata keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Merendam dirinya dalam hangatnya air beraroma Lavender kesukaan Hinata, mungkin bisa sedikit mengurangi beban di pikirannya.
Hinata POV
Ku celupkan tubuhku di bak mandi sampai batas leher. Semenjak pergi dari hotel itu, aku terus tepikir, bagaimana dengan hidupku kelak? Apakah Naruto-kun mau dengan diriku yang kini tak lagi perawan? Mengingat Naruto-kun sekarang telah menjadi pahlawan, dan sangat dikagumi oleh penduduk desa. Banyak sekali Kunoichi dan gadis desa lainnya yang menyukai Naruto-kun. Kalau sudah begini, apa aku masih ada harapan? Kembali aku menghela nafas.
Yang lebih penting adalah tentang perbuatan bejat yang telah Sasuke lakukan padaku. Apa mungkin setelah sekali berhubungan, maka aku akan hamil? Ah, tidak tidak! T-tapi aku pernah mendengarnya. Walaupun hanya sekali berhubungan intim, bisa saja wanita itu hamil. AAAAAHK! Bagaimana ini?! Apa nanti aku harus periksa bahwa aku hamil atau tidak? Tapi, bagaimana kalau saat di periksa, aku ternyata hamil?! Apa yang harus ku katakan saat ditanya anak siapa yang telah kukandung? 'Ini adalah anakku dan Uchiha Sasuke.' TIDAK MUNGKIN!
Hm, bagaimana kalau nanti aku membeli alat tes kehamilan? T-tapi, nanti jika ditanya untuk siapa? Aku akan bingung menjawabnya, karena para pegawai itu pasti berpikir untuk apa repot-repot membeli alat seperti itu kalau bukan untuk diri sendiri atau wanita terdekat. Mengingat perempuan yang dekat denganku saat ini hanya Sakura, Ino, Tenten dan Hanabi-chan.
Apa yang harus kulakukan? Apakah sebaiknya aku tidak pernah menikah saja? HAAAH?! TIDAK MUNGKIN! L-lalu apa yang harus kukatakan pada Tou-sama? Ah, bukan, tapi apa yang harus kukatakan kalau Tou-sama sampai tahu. Hidupku kacau sudah! Kami-sama, mohon bantu aku. Aku sangat bingung saat ini.
Ternyata walau telah berendam air hangat dengan aroma Lavender cukup lama, tetap saja tak menghilangkan beban pikiranku saat ini. Merasa cukup, aku beranjak keluar dari bak mandi dan membilas badanku. Segera ku akhiri ritual mandiku.
Sebuah yukata berwarna biru dongker dengan corak garis-garis kupakai untuk makan malam bersama keluargaku. Tak lupa aku memerban leherku, karena bercak merah itu masih sangat kentara. Ku langkahkan kakiku pelan menyusuri koridor kayu yang menuju ruang makan. Dengan pelan kugeser pintu fusuma. Tou-sama, Hanabi-chan, dan beberapa Souke Hyuuga telah duduk dengan tenang di ruang makan. Ku ambli tempat kosong di sebelah Hanabi-chan, dan duduk tenang di sana.
Kami makan dengan tenang. Memang suatu tradisi Hyuuga dimana saat makan haruslah dengan tenang, menikmati hidangan yang telah tersaji. Sejujurnya saat ini aku sedang tak terlalu nafsu makan, jadi aku hanya makan sedikit. Satu persatu para Souke Hyuuga meninggalkan ruang makan hingga yang tersisa hanya aku, Tou-sama, dan 2 orang Souke Hyuuga.
"Aku sudah selesai. Terimakasih atas makananya." Kataku, lalu meletakan kedua sumpit yang tadi kupakai di atas meja makan. Saat aku ingin berdiri meninggalkan ruangan makan, sebuah suara memanggilku.
"Hinata." Kata Tou-sama.
"Ha'i. Ada apa Otou-sama?" Tanyaku.
"Apa yang terjadi dengan lehermu?" Katanya dengan nada tenang, tetapi aku masih dapat mendengar ada nada khawatir di sana.
Tuh'kan, ternyata perban ini memang membuatku semakin mencolok. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada mencolok dengan tanda merah di leher, lebih baik mencolok karena perban putih.
"I-itu, sa-saya mendapat luka d-di leher saat kembali d-dari misi hari ini. Beberapa nuke-nin m-menyerang saya." Kataku gugup, jujur saja aku tak pandai berbohong. Aku merasa sangat bersalah saat membohongi orang- orang, terutama Tou-sama.
"Hm, begitu." Masih dengan nada yang tenang.
"Seharusnya kau lebih berhati-hati." Sambung Tou-sama.
Uhm, bolehkan aku menganggap itu sebuah bentuk perhatian Tou-sama padaku? Karena saat ini aku sangat senang. Tetapi, mengingat aku telah membohongi Tou-sama, aku- menjadi sangat merasa tidak enak. Tou-sama aku mohon maafkan aku. Maafkan putrimu ini yang telah membohongimu. Maafkan putrimu yang telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang Uchiha.
"Ha'i, saya mengerti. Saya permisi." Kataku pelan, lalu meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju kamar.
Normal POV
Setelah sekitar 2 minggu sejak kejadian dengan bungsu Uchiha berambut raven itu berlalu, Hinata kini setidaknya dapat bernafas lega karena minggu lalu ia masih datang bulan. Jadi, Hinata saat ini tidak dalam keadaan mengandung.
Sore ini Hinata dipanggil ke kantor Hokage. Apalagi kalau bukan ada misi? Misinya cukup mudah, hanya mengambil gulungan di kuil Shinto desa kecil yang terletak di dekat Otogakure. Sebenarnya ia bisa melakukan misi ini sendiri, namun mengingat misi terakhir yang ia jalani berujung mengenaskan, Hinata meminta untuk melakukan misi berdua bersama Shino. Dan pemuda itu juga tidak sedang terlibat dengan misi apa pun. Sebenarnya Hinata malas dan sangat tidak ingin misi yang membuatnya harus keluar dari negara api, apalagi di dekat Otogakure. Mengingat bahwa mimpi buruknya kini sedang berkeliaran di sana. Tapi, mau bagaimana lagi? Alasan bagus apa yang bisa Hinata pakai untuk menolak misi ini?
Setelah mempersiapkan segala keperluan untuk misinya, Hinata segera tidur di atas futonya. Tak lupa ia berdoa agar besok misi yang akan ia jalankan berjalan dengan baik, tanpa ada hambatan. Hinata berharap agar ia tak bertemu dengan Bad Boy Uchiha itu.
.:: Impossible Love ::.
Pagi yang tenang, dengan suara kicapan burung yang merdu, dan hangatnya mentari pagi. Sang Heiress Hyuuga dan rekannya Aburame itu baru saja pergi dari Konoha untuk menjalankan misinya.
Hinata dan Shino berlari menuju desa tersebut. Hingga matahari tepat berada di atas langit yang biru, akhirnya mereka berdua memutuskan berhenti sejenak untuk istirahat. Mereka memasuki salah satu kedai makan yang berada di desa itu. Mengambil tempat duduk sebelah jendela dan memesan makanan.
Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Hinata dan Shino makan dalam diam, tak seorang pun yang berbicara. Hinata meminum ochanya dengan tenang hingga telinganya mendengar sebuah percakapan dari empat perempuan yang berada di meja kedua di belakang mejanya dan Shino.
"Ne, kau tahu Uchiha Sasuke?" Kata seorang perempuan berambut hitam panjang.
"Uhuk, Uhuk!" Hinata langsung tersedak ocha ketika mendengar nama orang yang amat ia takuti.
"Hinata? Kau tidak apa?" Shino bertanya ketika melihat Hinata tersedak.
"Aa'. A-aku tak apa." Jawab Hinata yang kemudian mengelap mulutnya dengan tisu.
"Tenanglah." Kata Shino, dan dibalas anggukan dari Hinata. Sepertinya Shino tidak mendengar perkataan gadis tadi.
"Kalau begitu aku permisi ke belakang sebentar." Sambung Shino.
"Silahkan."
Setelah Shino beranjak dari tempatnya, Hinata menajamkan pendengarannya berusaha untuk mencuri dengar percakapan keempar perempuan tersebut. 'Kenapa dengan permuda Uchiha itu?' Batin Hinata.
"Kalian tahu, Nana kemarin mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak Uchiha Sasuke, dan dia berniat melakukan aborsi. Uchiha brengsek itu tak mau tanggung jawab." Kata seorang perempuan berambut coklat ikal.
"Aih, iya kalau dia berhasil melakukan aborsi, kalau tidak? Kemungkinan terburuknya Nana bisa mati'kan?"
"Ya, seperti Anashi yang meninggal karena aborsi." Timpal perempuan lainnya.
"Entahlah, Ingat tidak saat 1 tahun lalu Hime keturunan Sakuragi juga pernah ditiduri oleh si bangsat Uchiha itu. Walaupun tak sampai hamil, akhirnya ia ketahuan dan menjadi aib keluarganya."
"Ah iya, aku ingat. Lalu Shizumu yang bunuh diri karena menahan rasa malu. Dikucilkan karena dianggap wanita rendahan, padahal ia tidak sampai hamil lho." Timpal perempuan bersurai pirang pucat yang diikat dua ke bawah.
"Benar-benar terkutuklah Iblis Uchiha itu, entah sudah berapa desa yang ia hancurkan, berapa banyak nyawa yang telah ia bunuh dan berapa banyak perempuan yang ia tiduri?!" Kata perempuan yang bersurai hitam gelap dengan sedikit emosi.
Hinata yang mendengar percakapan keempat perempuan itu bergidik ngeri. Membayangkan hal-hal yang telah para gadis –err wanita dalam cerita itu alami. Beruntunglah ia karena tak sampai hamil, namun harga dirinya sebagai seorang gadis telah ternodai. Hinata juga sependapat dengan keempat perempuan itu, bahwa Uchiha Sasuke memang seorang iblis yang brengsek.
Tetapi sedetik kemudian Hinata malah teringat dengan kenangan kelam klan Uchiha dan perkataan Kakashi tentang Sasuke. Entah dorongan darimana, Hinata bangkit dari kursinya dan menuju ke tempat para perempuan itu merumpi.
BRAAAAAK!
"Sudahlah hentikan!" Kata Hinata menggebrak meja yang ditempati empat orang perempuan itu.
"Aku tahu, Uchiha Sasuke sangat brengsek. Tapi dia adalah salah satu pahlawan saat perang dunia shinobi ke- 4. Lalu, asal kalian tahu, Sasuke-san melakukan itu karena dibutakan oleh dendam masa lalunya. Ia sekarang menyesal dan berniat memperbaiki kesalahan yang telah ia buat." Kata Hinata dalam satu tarikan nafas. Perkataan Hinata sangat jelas dan tegas, tak ada sedikit pun keraguan atau kegagapan seperti Hinata biasanya.
Keempat perempuan itu tersendak kaget dengan perbuatan dan perkataan Hinata. 'Apa- apaan perempuan ini?' batin mereka. Hinata yang baru sadar segera pergi dari meja itu dan mengambil tasnya di kursi yang tadi ia duduki. Kebetulan sekali, saat itu Shino mau saja kembali dari belakang. Setelah membayar makanan mereka, Hinata segera keluar kedai disusul Shino di belakangnya.
"Ada apa Hinata?" Tanya Shino bingung dengan tingkah Hinata.
"T-tak ada apa-apa, dan tak perlu di-dipikirkan." Jawab Hinata.
"Hm?" Gumam Shino yang masih bingung.
"S-sudahlah, ayo ki-kita lanjutkan saja perjalannya." Kata Hinata mulai melangkahkan kakinya.
'Baka! Apa yang tadi aku lakukan? Kenapa aku tadi membela Sasuke? Jelas- jelas Sasuke yang salah, dan telah berbuat hal keji padaku, ta-tapi mengapa aku malah membelanya?! Dasar Payah!' Batin Hinata merutuki dirinya sendiri.
.:: Impossible Love ::.
Hinata dan Shino akhirnya tiba di desa yang mereka tuju pada sore hari. Mereka disambut dengan hangat oleh penduduk desa itu. Udara desa ini bersih dan segar. Terdapat banyak berbagai macam bunga yang mengeluarkan harum semerbak di pekarangan rumah penduduk. Anak- anak desa pun terlihat sangat senang ketika mereka bermain dan tertawa bersama. Keadaan desa ini sangat tenang dan membuat nyaman.
Shino menyarankan agar mengambil kertas gulungan itu besok pagi saja, setelah itu baru mereka kembali ke Konohagakure, karena sepertinya Shino sedang dalam kondisi kurang bugar semenjak mereka dari kedai tadi. Apakah Shino salah makan atau makanan yang tadi ia makan tidak cocok dengan perutnya? Hm, mungkin. Saran Shino disetujui oleh Hinata. Lagipula Hinata ingin melihat- lihat desa yang sangat indah ini.
Saat ini Shino lebih memilih beristirahat di salah satu rumah penduduk desa, daripada menemani Hinata melihat- lihat keindahan desa. Selain diberi tempat istirahat berupa futon tebal yang empuk, Shino juga dibuatkan bubur dan salada sayur oleh pemilik rumah. [ Sekesar info : Salada sayur adalah makanan favorit Shino ] Benar- benar ramah para penduduk desa ini.
Hinata kini tengah menyusuri jalan setapak desa. Melihat indahnya bunga- bunga yang beraneka warna dan macamnya. Tak heran jika banyak kupu- kupu dan serangga lainnya berterbangan di desa itu. Lama Hinata berjalan, tak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Perlahan cahaya sang mentari tergantikan oleh gelapnnya malam. Namun, hal itu tak membuat Hinata berhenti melangkahkan tungkainya.
Hingga ia berada tepat di depan kuil Shinto desa itu. 'Gulungan itu ada di dalam kuil ini. Dan besok kami akan mengambilnya.' Kata Hinata dalam hatinya. Hinata menyempatkan dirinya untuk berdoa di kuil itu.
Lalu, Hinata berjalan ke belakang kuil Shinto itu. Ia sendiri tak tahu dorongan dari mana sehingga ia melangkahkan kakinya ke sana. Langkah kaki Hinata berhenti saat melihat indahnya taman belakang kuil. Kunang- kunang yang beterbangan, sedikit menerangi gelapnya malam. Terdapat sungai yang lebarnya sekitar 4 meter di sana. Tak lupa sebuah jembatan kayu melengkung yang menjadi penghubung antara taman belakang kuil dengan tanah di seberang.
Samar Hinata dapat mencium wangi Lavender dari arah seberang. Ia lalu menyeberangi jembatan itu. Semakin mendekat, ia juga semakin dapat menghirup aroma Lavender favoritnya. Hinata mengerjap- ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia terlalu takjub akan apa yang tengah ia rasakan.
"Sugoii ne." Kata Hinata pelan.
Hamparan bunga Lavender memenuhi penglihatannya. Bunga itu tumbuh dengan begitu indahnya. Aroma khas yang mereka keluarkan membuat seulas senyuman manis di wajah sang Hime Hyuuga. Terlebih lagi saat kunang- kunang masih serta menemaninya.
Hinata melihat jalan setapak yang menuju ke sebuah rumah mungil di tengah padang Lavender. Perlahan Hinata mendekati rumah mungil itu.
Rumah mungil itu didominasi warna putih dan sedikit corak berwarna violet. Batu alam abu- abu menjadi ornamen yang menghiasi dinding luar rumah tsb. Tanaman hias menggantung di pot yang diletakan di plafon teras depan. Rumah mungil ini terlihat sangat terawat. Hinata mengetuk pintu yang tingginya hanya 2 meter. Tak ada jawaban, Hinata memutuskan untuk segera kembali mengingat hari sudah semakin gelap.
Hinata POV
Akhirnya aku sampai di salah satu rumah penduduk, tempat dimana aku dan Shino akan bermalam. Aku menggeser pintu depan dan melepaskan sepatuku.
"Tadaima." Kata ku memasuki rumah itu.
"Ah! Okaeri Hinata-san." Balas seorang wanita tua si pemilik rumah, ia menghampiriku.
"A-apakah a-aku terlambat untuk ma-makan malam?" Tanyaku yang sedikit tak enak hati.
"Tidak, Baa-san masih memasak. Sebentar lagi juga sudah selesai. Hinata-san sebaiknya membersihkan diri dulu." Jawab wanita tua itu dengan senyuman ramah di wajahnya yang masih cantik di usia ke 40 tahunnya.
"I-iya. B-bagaimana dengan ke-keadaan Shino?"
"Dia sudah cukup bugar setelah meminum susu segar tadi."
"Hm, syukurlah."
Baa-san melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk melanjutkan aktivitas memasaknya. Kulangkahkan kakiku ke tangga menuju lantai 2, tempat kamarku menginpa berada. Setelah mengambil perlengkapan aku kembali ke bawah dan memasuki pintu kamar mandi.
.:: Impossible Love ::.
Setelah selesai dengan aktivitas membersihkan diri dan telah berganti pakaian, aku segera menuju ruang makan. Kulihat Shino dan Jii-san telah duduk bersimbuh di sisi meja pendek, sedangkan Baa-san baru saja mengangkat panci besar berisikan makan malam. Kuambil tempat duduk di sebelah Shino.
"Hari ini Baa-san memasak Nabe sayur sebagai makan malam. Silahkan Shino-san dan Hinata-san." Kata Baa-san yang duduk di sebelah Jii-san.
"A-arigatou Baa-san." Kataku, dan Shino hanya ikut mengangguk.
Di tengah- tengah aktivitas kami makan, aku mencoba membuka suara.
"Shino-kun, b-bagaimana keadaanmu?" Tanyaku pada Shino.
"Jauh lebih baik." Jawabnya.
"Tadi, kau pergi ke mana?" Tanya Shino lagi.
"A- ah, aku pergi ke mengelilingi desa ini. Ternyata memang sangat indah. Aku sangat suka desa ini " Ku jawab pertanyaan Shino dengan senyuman mengembang di wajahku kala kuingat kondisi desa ini.
"Waaah, syukurlah kalau Hinata-san menyukai desa ini. Kami para penduduk desa juga ikut senang." Kata Baa-san. Aku mengangguk membenarkan.
"Aku pergi ke taman belakang kuil Shinto. Aku sangat tak menyangka ada hamparan bunga Lavender di sana."
"Lavender?" Tanya Shino.
"Iya, di tengah tengah hamparan bunga Lavender, ada sebuah rumah mungil." Kataku mengingat rumah tersebut.
"U-um, apakah Jii-san dan Baa-san tahu rumah siapakah itu?" Sambungku. Menanyakan pemilik rumah yang telah dengan lancangnya kumasuki.
"Oh, rumah mungil di tengah- tengah hamparan Lavender itu milik seorang pemuda." Jawab Baa-san.
"E-eh? Pe-pemuda?"
"Desa ini merupakan salah satu korban dari perang dunia shinobi ke- 4. Namun, beberapa hari setelah perang usai, desa ini kedatangan seorang pemuda. Pemuda itu membantu penduduk desa ini membangun kembali desa ini." Cerita Jii-san.
"Jadi pemuda itu tinggal di sana?" Tanyaku.
"Tidak, ia seorang pengembara. Sebenarnya rumah itu memang telah lama kosong dan , tetapi semenjak kedatangan pemuda itu, rumah itu ia perbaiki. Sebelum pemuda itu pergi dari desa ini, ia sempat menyegel rumah itu dan meminta kami, para warga desa untuk selalu merawatnya. Jadi, kepala desa memegang kunci rumah tersebut" Ucap Jii-san sembari tersenyum..
"Terimakasih atas makan malamnya. Nabenya sangat enak." Sambung Jii-san.
"Ngomong- ngomong Jii-san, siapa pemuda itu?" Tanya Shino setelah ia mengucapkan terimakasih untuk makan malamnya. Jii-san menggeleng.
"Entahlah. Para penduduk tak tahu siapa pemuda itu, siapa namanya, dan dari mana asalnya." Kata Jii-san.
"Begitukah?" Kataku, yang kemudian membantu Baa-san membereskan peralatan makan.
.
.
.
.
Maaf dichapter ini adegan SasuHinanya gak ada :"DGw sangat berterimakasih karena telah menunggu dan mereview fic Wish. Wish akan gw usahakan sampe tamat kali ini :(( Dan jika berkenan, silahkan mereview fic ini. Karena review, follow, favorite yang kalian berikan sangat berarti untuk kelangsungan fic ini :D
28 Maret 2021, Salam Hangat
Kuro_Mikasa
