SEVENTEEN belongs to Pledis Ent.

STORIA by lleekwonie & Starryhana.

No profit gained from this fanwork.

.

ABO Dynamic | Alpha!Lee Jihoon | Omega!Kwon Soonyoung| HoonSoon | Animal Shifter | Underage Sex | Crack | Smut | Side GyuBoo, HaoJun, WonSoon |

.

Enjoy!

.

.

.

Soonyoung sering melihatnya. Siluet misterius di antara semak-semak di samping rumahnya, tepat di bawah jendela kamarnya di lantai dua. Sosok itu bukanlah manusia, ia memiliki ekor dan bulu berwarna hitam. Namun Soonyoung tak tahu makhluk apa itu karena ia terlalu pandai menyembunyikan dirinya di antara dedaunan lebat. Namun yang pasti Soonyoung ketahui jelas, bahwa sosok itu memiliki mata merah yang selalu menatap tajam.

Beberapa kali ia telah memberitahu ibunya soal keberadaan sosok misterius yang suka bersembunyi di balik semak itu, namun tidak pernah ada yang mempercayainya karena setiap diperiksa, tidak ada seekor makhluk pun di balik dedaunan lebat itu.

"Kalau memang benar di sana ada sesuatu yang hidup, ayah pasti sudah mencium baunya bahkan dari kejauhan."

Itu yang selalu dikatakan ayahnya ketika Soonyoung melapor untuk kesekian kali soal siluet misterius itu. Tidak ada yang mempercayainya. Ibunya bahkan memarahinya karena menganggap ia terus berbohong dan mempermainkan ayahnya, padahal Soonyoung benar-benar yakin bahwa sosok yang ia lihat benar-benar ada.

Seperti saat ini.

Ketika Soonyoung tengah duduk di teras samping rumah sambil mengemut es krim mangga yang dibuat oleh ibunya, ia mendapati mata merah itu tengah menatapnya tajam lagi di balik dedaunan. Soonyoung ingin menjerit, memanggil kakaknya yang tengah menonton TV di belakangnya untuk melihat bahwa siluet misterius itu muncul lagi.

Namun teriakan itu segera ditelannya saat itu juga. Tidak akan ada yang mempercayainya, bahkan termasuk kakak perempuannya. Jadi, dari pada memanggil seseorang, lebih baik ia yang pergi dan memeriksanya sendiri!

Dan dengan keyakinan itu, Soonyoung segera memasukkan sisa es krim mangga ke mulutnya lalu menurunkan kaki telanjangnya ke rumput.

Bocah sepuluh tahun itu berjalan pelan menuju ke semak lebat di ujung pagar rumahnya. Tempat siluet bermata merah itu masih diam tak bergerak di sana.

Dalam hati, Soonyoung merasa sedikit takut. Namun karena terhalangi pagar, setidaknya makhluk apapun di balik sana tidak akan bisa langsung lompat untuk menerkamnya.

Kaki kecilnya yang tak beralas terus menapak pelan-pelan menuju pagar putih diselipi dedaunan semak. Mata sipitnya memandang was-was manik ruby yang masih terus menatap tajam, seakan-akan sosok itu memang tengah mengawasi setiap gerak gerik si bocah penasaran.

Ketika Soonyoung akhirnya sampai tepat di depan si makhluk misterius, ia terdiam beberapa saat. Hidungnya mengendus aroma yang belum pernah ia cium sebelumnya.

Asing, namun ia seketika menyukai baunya.

Aroma itu seakan mengitarinya, seolah-olah mencoba membungkus tubuhnya dengan nyaman.

Dan entah kenapa, Soonyoung merasa aroma itu berasal dari sosok yang masih bersembunyi di balik belukar lebat itu.

Aroma itu juga yang membuat tubuhnya rileks dan tanpa pikir panjang melangkah semakin mendekat.

Ia menyentuh dedaunan yang menyelinap masuk ke sela-sela kayu yang disepuh putih itu. Menyingkirkannya pelan-pelan agar bisa melihat dengan jelas pemandangan mata merah yang masih terus menatapnya diam.

Terlalu gelap. Soonyoung tak bisa memastikan sosok apa itu. Namun, bibirnya tanpa sadar mengulas sebuah senyum. Aromanya memang berasal dari sosok misterius ini.

"Kau sepertinya tidak berbahaya. Habisnya aromamu harum sekali! Aku suka! Tapi kenapa ayah tidak bisa mencium baumu, ya? Terus, kenapa kau selalu bersembunyi di sini? Sebenarnya kau itu siapa, sih?"

Tanpa sadar bocah itu berceloteh tanpa henti. Sosok yang ia ajak bicara bahkan tetap bergeming sejak tadi. Sepertinya meski ada angin puting beliung yang menerpanya sekalipun, sosok itu tidak akan ikut tersapu karena tubuhnya sudah terpaku mati di sana.

"Hei, jangan diam saja! Ayo keluar dan mari berkenalan! Namaku Kwon Soonyoung! Kau siapa? Ayo katakan namamu juga agar aku tidak bingung harus memanggilmu apa!"

Bibirnya cemberut, merasa kesal ketika dirinya memikirkan sosok ini, ia selalu kebingungan harus menyebutnya apa. Karena memanggilnya siluet misterius sama sekali tidak keren. Terlebih, ia sangat penasaran wujud sebenarnya dari sosok yang selalu mengintai jendela kamarnya ini.

"Hei, ayolah. Tunjukkan aku siapa dirimu. Aku bisa mati penasaran kalau kau tidak mau keluar. Ya? Ya? Nanti aku akan memberimu es mangga buatan ibuku sebagai imbalan!"

Dia terus membujuk sosok itu, sampai akhirnya siluet itu bergerak perlahan dari persembunyiannya yang gelap.

Wajah Soonyoung seketika cerah. Akhirnya ia akan melihat sosok yang selalu memenuhi isi pikirannya siang dan malam itu.

Dan ketika cahaya matahari akhirnya menimpa hamparan hitam yang menyelimuti si sosok misterius, teriakan ibunya tiba-tiba mengacaukan semuanya.

"Soonyoung! Apa yang kau lakukan di sana? Cepat kembali! Sebentar lagi mau hujan!"

Dan Soonyoung langsung menoleh. "Aku sedang berkenalan dengan sosok misterius yang bersembunyi di balik semak, bu!"

"Hah? Astaga anak ini masih saja! Cepat kembali sekarang! Di sana bisa saja ada ular! Minyeong, cepat bawa adikmu masuk."

"Ah, ibu! Aku sedang menonton!"

Soonyoung buru-buru mengalihkan atensinya ke semak tadi. Bibirnya langsung mendesah kecewa. Sosok tadi sudah lenyap. Tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

"Hei, adik kecil! Jangan suka menyusahkan kakakmu dan cepat kembali ke sini sebelum kau benar-benar dipatuk ular!"

"Iya, iya!"

Bocah sepuluh tahun itu segera berlari menjauhi pagar. Menaiki teras kembali dan menutup pintu kaca yang mengarah tepat ke belukar tempat ia melihat sosok misterius tadi.

Soonyoung tersenyum puas. Meski tak dapat melihat sepenuhnya wujudnya, namun bocah itu yakin itu adalah serigala.

Sosok misterius yang selalu menyembunyikan diri di balik dedaunan itu adalah seekor serigala besar dengan bulu hitam sekelam malam.

.

.

Keesokan harinya ketika Soonyoung pulang dari sekolah, dia bercerita dengan semangat pada ibunya tentang teman sekelasnya yang hari ini presenting menjadi seorang alfa. Temannya itu berubah menjadi anjing yang besar dengan warna bulu putih keemasan. Satu kelas—bahkan sekolahnya—langsung heboh saat mengetahui tentang hal itu. Mata Soonyoung berbinar saat menceritakannya dan dia juga mengucapkan dengan lantang bahwa hal tersebut sangat keren baginya. Sang ibu hanya terkekeh melihat tingkah anak bungsunya.

"Bu, kapan aku bisa berubah menjadi harimau? Bukannya sudah lewat satu bulan dari ulang tahun kesepuluhku?" tanyanya pada sang ibu, nyaris seperti rengekan.

Ibunya tersenyum, lalu mengelus kepala Soonyoung dengan lembut. "Mungkin, presenting-mu sedikit terlambat, Sayang. Jangan berkecil hati, oke? Tunggu saja waktunya, pasti akan datang."

Soonyoung mengangguk dengan semangat. Mendapat kalimat yang menghibur seperti itu dari sang ibu membuat hatinya membaik. Dia kembali melanjutkan ceritanya. Menceritakan banyak hal yang tadi terjadi di sekolahnya. Baik itu hal-hal yang lucu dan menghibur, sampai ke hal-hal yang membuatnya marah. Sang ibu mendengarkan cerita Soonyoung dan sesekali menanggapinya.

Selesai Soonyoung bercerita, anak itu pergi ke ruang tamu untuk menikmati pemandangan hutan di sore hari, sedangkan ibunya berkutat di dapur untuk membuat makan malam. Pintu di ruang tengah yang terbuat dari kaca sengaja dibuka, memudahkannya melihat pemandangan di luar. Dia tidak sendiri, ada mainan-mainan dan boneka pemberian orangtua serta kakaknya yang menemaninya.

Cuaca di luar sedang mendung, tapi tidak membuat Soonyoung takut. Dia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Saat Soonyoung sedang berbicara sendiri—bertingkah seakan-akan mainannya menanggapi ocehannya—telinganya menangkap suara berisik dari arah semak-semak di depannya. Atensinya teralihkan, dia menatap lekat ke arah dedaunan yang bergoyang-goyang. Soonyoung yakin goyangnya semak itu bukan karena angin, melainkan karena hal lain. Sebab, semak-semak lainnya tidak bergerak sedikitpun.

Soonyoung pun melihatnya. Siluet seekor serigala dan sepasang mata merah indah seperti batu ruby; yang mampu membuatnya seakan tersihir. Namun, saat Soonyoung menoleh sejenak ke arah dapur karena mendengar ibu memanggil namanya, siluet itu kemudian menghilang. Seolah-olah lenyap tersapu oleh angin.

.

.

Serigala itu selalu bersembunyi di sana. Hampir setiap hari dia datang dan duduk di tempat yang sama untuk mengawasi Soonyoung. Bocah itu yakin bahwa dirinyalah yang tengah diawasi karena mata itu tak pernah sekalipun beralih dari tempat Soonyoung berada.

Terkadang, ada hari-hari di mana Soonyoung tidak melihat serigala itu di sana. Namun, ketika malam, ia samar mencium aroma harum yang begitu disukainya. Dan benar saja, serigala itu ada di sana. Di tempat ia biasa menyembunyikan diri. Namun bedanya, sosok itu tak menutupi dirinya dengan semak-semak lagi. Mungkin karena sekitarnya gelap dan bulunya menyatu dengan keadaan sekitar, ia berpikir tak akan ada yang bisa melihatnya. Namun dia salah. Soonyoung bisa melihatnya jelas dari balik jendela kamarnya. Dan dia yakin si Tuan Serigala juga tahu Soonyoung tengah menatapnya—membalas pandangannya.

Mereka saling bertatapan selama beberapa menit, sampai akhirnya si serigala berbalik pergi dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan hutan. Aroma wangi yang menenangkan sarafnya sejak tadi juga ikut pergi meninggalkannya.

Soonyoung mendesah kecewa.

Beberapa hari yang lalu kakaknya membeli lilin aroma terapi dan memasangnya di ruang tamu serta di kamarnya sendiri. Dan menurut Soonyoung aroma itu hampir sama persis dengan aroma si Tuan Serigala.

"Ini aroma lavender," jawab kakaknya begitu Soonyoung bertanya aroma apa itu. Dan saat itu juga Soonyoung langsung merengek meminta kakaknya memberinya satu lilin agar bisa ia taruh juga di kamarnya sendiri.

Namun aroma lilin itu sedikit agak berbeda dengan milik Tuan Serigala.

Soonyoung tidak tahu apa yang membuatnya jadi berbeda. Padahal jelas-jelas aromanya terasa sama di indera penciumannya.

Tapi milik Tuan Serigala terasa lebih hangat dan tebal, juga ada campuran aroma yang agak lembab namun segar, seperti bau hutan yang habis diguyur hujan.

Soonyoung mencebikkan bibir. Lilin aroma terapi ini sama sekali tak membantu.

.

.

Saat itu usia Soonyoung sudah menginjak sebelas tahun. Ia sudah tidak pernah lagi menggunakan lilin aroma terapi itu karena meskipun harumnya sama, namun tak benar-benar membuatnya senyaman ketika ia mencium aroma Tuan Serigala. Dan lagi, kakaknya sudah mengganti lilinnya dengan aroma lain yang berbau lumayan tajam. Soonyoung ingat kakaknya mengatakan itu adalah aroma bunga jasmine, dan kakaknya hanya meletakkannya di kamarnya saja karena ibu tak begitu menyukai aroma bunga itu.

Soonyoung masih tetap bisa mencium aroma samar lavender. Namun bukan dari lilin aroma terapi, melainkan dari arah semak tempat Tuan Serigala biasa bersembunyi.

Saat itu Soonyoung tengah bermain dengan mainannya di teras. Ketika ia mencium aroma yang sangat ia kenali, kakinya langsung meluncur begitu saja ke tanah. Berlarian kencang menuju pagar pembatas antara rumahnya dan hutan yang gelap.

"Tuan Serigala! Kau datang lagi!" Ia berseru senang. Matanya semakin berbinar bahagia saat 'Tuan Serigala' tidak lagi menyembunyikan wujudnya.

Serigala itu ternyata tidak terlalu besar, mungkin sebesar tubuh Soonyoung sendiri. Rahangnya kokoh, mata ruby-nya seperti biasa selalu menyorot tanpa keraguan. Bulunya mengkilap dan hitam kelam seperti malam. Terlihat halus dan hangat, membuat Soonyoung gatal ingin mengelusnya.

"Tuan Serigala, bolehkah aku menyentuhmu?"

Si serigala tak menjawab. Namun, sebaliknya ia memajukan langkah.

Soonyoung tersenyum. Mengulurkan tangan kecilnya melewati celah pagar demi bisa menyentuh dahi sang serigala.

Awalnya, ia menyentuhnya dengan ujung jari. Bola mata sipitnya melebar takjub begitu merasakan sentuhan halus di atas kulitnya, lalu tanpa ragu ia mulai mengelus wajah serigala itu dengan perlahan.

Mata serigala terpejam, seakan menikmati sapuan lembut ketika tangan mungil itu mengelus bulu di sepanjang lehernya.

"Bulumu sangat halus."

Soonyoung masih mengelus-elus hamparan gelap itu. Terasa nyaman dan lembut di jari-jarinya. Ia menyukai sensasi itu.

Namun waktu yang bisa ia gunakan untuk menyusuri keindahan serigala di hadapannya ini rupanya hanya sebentar. Karena tiba-tiba sang serigala menarik diri. Soonyoung kaget, lebih-lebih ketika makhluk itu berlari meninggalkannya begitu saja.

"Tuan Serigala! Kenapa kau pergi!?" pekiknya, kakinya seketika memanjat pagar.

"Soonyoung, apa yang kau lakukan di sana?"

Ia bisa mendengar suara ibunya meneriakinya. Namun Soonyoung sepenuhnya mengabaikan dan justru memanjat kayu putih itu dengan cepat sampai ia akhirnya berada di sisi lain pagar.

"Tuan Serigala, tunggu!" Kaki kecilnya yang tak beralas berlari secepat mungkin mengejar hewan besar itu.

Melewati rimbunnya pepohonan tinggi dan daun-daun kering yang berserak di mana-mana.

Soonyoung berusaha mengejar serigalanya yang berlari begitu kencang menjauhinya.

Meninggalkannya.

Soonyoung seketika kehilangan jejaknya.

Berdiri sendirian di tengah hutan belantara yang menakutkan, Soonyoung merasakan matanya berembun. Dadanya naik turun karena terengah ketika berlari tadi.

"Kenapa kau tiba-tiba pergi?"

.

.

Hari itu di penghujung musim semi, Soonyoung genap berusia 12 tahun. Namun ia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan segera presenting menjadi alfa. Karena khawatir ada yang aneh dengan anaknya, orangtua Soonyoung memutuskan untuk membawanya ke klinik.

"Semuanya normal. Malah dia anak yang sangat sehat," kata dokter wanita cantik yang memeriksanya barusan. Soonyoung duduk di hadapan mejanya bersama ibunya di samping. Sementara ayahnya berdiri tepat di belakangnya.

"Lalu kenapa anak saya belum presenting menjadi alfa? Usianya sudah 12 tahun. Apakah mungkin dia adalah omega?" tanya ibunya hati-hati.

"Tapi berdasarkan keturunan, Soonyoung harusnya akan presenting menjadi alfa. Di keluarga bapak dan ibu, belum pernah ada laki-laki yang presenting menjadi omega, kan?"

Keduanya menggeleng. Dan si dokter beta kembali berpikir.

"Kemungkinan ini karena hormonnya. Boleh saya tahu apa saja kegiatan Soonyoung di rumah?"

Ibunya langsung menjawab tanpa berpikir lama, "Menggambar, bermain video game, dan menonton TV."

"Tidak bermain di luar?"

"Rumah kami berada di tepi hutan. Tidak ada anak seumurannya di sana."

"Lalu di sekolah? Apa saja kegiatannya?"

"Bermain bola! Kadang bermain petak umpet, kejar-kejaran, kadang aku juga suka main lompat tali dengan anak-anak perempuan! Itu seru!" Soonyoung menjawab langsung dengan antusias.

Dokternya kembali berpikir, kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas.

"Tidak ada yang aneh dengan Soonyoung. Tapi kemungkinan yang menghambat presenting-nya adalah hormonnya. Jadi aku merekomendasikan beberapa obat ini."

Ibunya menerima kertas itu dan menunduk untuk berterima kasih pada dokter.

Si dokter beta lalu mengelus rambut hitam Soonyoung.

"Jangan khawatir. Memang sedikit terlambat, tapi dokter yakin kau pasti akan menjadi alfa yang hebat nanti."

Mata sipit Soonyoung berbinar. "Apakah aku akan menjadi harimau yang besar dan keren seperti ayah?"

"Tentu. Kau pasti akan sangat keren."

Wajah murung tadi seketika berubah cerah. Bocah mungil itu cengengesan hingga mata sipitnya menghilang tertekan pipi gembulnya. "Terima kasih, Kakak Dokter!"

Mereka lalu keluar ruangan dan pergi ke bagian farmasi untuk menebus obat.

.

Sore harinya, Soonyoung berdiam diri di kamarnya dan merenung sambil menatap keluar jendela. Dia memikirkan kenapa dirinya belum presenting sampai saat ini. Bahkan muncul pemikiran bahwa dirinya akan menjadi seorang omega, bukan seorang alfa. Namun, pemikiran itu ia hilangkan karena menurutnya tidak mungkin jikalau nanti seekor harimau akan menjadi seorang omega.

"Aku tidak mau jadi omega. Aku maunya menjadi alfa!" rutuknya sendirian di kamar, merasa kesal karena hanya dia sendirian yang belum menjadi alfa. Teman-teman sekelasnya sudah presenting menjadi alfa semua, hanya dia seorang laki-laki di kelasnya yang belum. Membuatnya sering diejek untuk bermain dengan anak-anak perempuan saja.

Soonyoung kesal sekaligus sedih. Kapan ia akan menjadi alfa? Dia sudah tidak sabar untuk menunjukkan wujud harimaunya pada teman-teman sombongnya itu!

Sambil memikirkan banyak hal, tidak jauh darinya terdapat dua buah lilin aroma terapi dengan bau lavender yang dibelikan oleh ibunya tadi. Dia merengek pada ibunya untuk dibelikan lilin aroma terapi itu lagi dengan alasan agar tidurnya nyenyak. Ibunya tidak terlalu curiga dan membelikan apa yang anak bungsunya mau.

Padahal hampir setiap hari Soonyoung dan si serigala bertemu, tapi ia masih merasa rindu akan kehadiran hewan tersebut. Sengaja Soonyoung menyalakan dua lilin agar bau lavender bisa menyengat memenuhi kamarnya. Sedikit banyak, aromanya mampu meredakan kekesalannya yang tiap hari berkobar karena teman-temannya di sekolah.

Ketika malam mulai merangkaki langit, Soonyoung memutuskan turun ke bawah sambil menenteng buku PR-nya. Kakaknya seperti biasa duduk di spot favoritnya di depan televisi, namun matanya sama sekali tak sekalipun melirik benda kotak bersinar di hadapannya. Bibirnya tak henti meloloskan tawa pelan sembari jari-jari lentiknya bergerak lancar mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.

Soonyoung menebak kakaknya tengah berkirim-kirim pesan dengan pacar omeganya—yang pernah beberapa kali datang ke sini. Seorang gadis cantik berambut seputih kapas dengan aroma jasmine yang menguar harum dari tubuhnya.

Bocah dua belas tahun itu duduk di bawah, lalu meletakkan bukunya di meja. Soonyoung berniat mengerjakan tugasnya. Ia memang tidak terlalu suka mengerjakan tugas di kamarnya sendiri karena nanti dia harus berteriak jika membutuhkan pertolongan untuk membantunya mengerjakan soal.

Awalnya Soonyoung diam saja, sampai akhirnya dia berdecak kesal karena suara cekikikan kakaknya yang agak mengusiknya. Dia melirik kakak perempuannya itu sekilas, wajahnya memerah karena tertawa terus sejak tadi dan beberapa kali menggumamkan betapa lucunya pacarnya.

Soonyoung memandangi sosok kakaknya itu nyaris tak berkedip, sampai sang objek merasa sendiri kalau dirinya sedang ditatapi.

"Apa?"

"Kak, omega itu seperti apa?"

Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, kedua alis kakaknya langsung bertaut. "Apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"

Mengangkat bahu. "Aku penasaran soalnya omega di sini hanya ibu."

Kakaknya terdiam, mengalihkan atensinya dari ponsel yang ada di genggaman ke sang adik yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh dengan rasa keingintahuan. "Setahuku, omega itu biasanya orang yang imut, manis, baunya wangi dan memikat. Seperti Chaeyeonie~"

Soonyoung sempat memutar mata mendengar nama pacar kakaknya itu disebut, tapi memang benar sih kak Chaeyeong imut, manis dan wanginya enak.

Ia diam sejenak. Menopang dagunya dengan jari telunjuk seakan-akan tengah berpikir untuk memecahkan suatu misteri. "Kalau begitu, apa aku nanti akan menjadi omega?"

"Hah? Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena … aku imut dan juga manis?"

"Siapa yang bilang kau imut? Kau itu cerewet, manja, suka merajuk, dan juga cengeng."

"Aku tidak begitu!"

"Iya! Kau begitu!"

"Aku tidak! Ibuu! Lihat kakak!"

"Dasar tukang mengadu! Iya, iya kau imut! Puas?"

Soonyoung mendengkus kesal. Dilihatnya kakaknya kembali menyibukkan diri dengan ponselnya lagi, tak memedulikan muka cemberut adiknya yang memerah kesal.

"Kak, kak!"

"Apalagi, Soonyoungie?" Kakaknya menoleh dengan malas.

"Kalau aku manja dan cengeng, bukankah itu berarti aku omega?"

Kakaknya menghela napas. "Tidak juga. Ada banyak juga alfa yang luarnya imut dan manis bahkan juga cengeng tapi memiliki sisi lain yang menyeramkan. Aku yakin kau pasti akan menjadi salah satu dari mereka. Percayalah padaku."

"Tapi ini sudah lewat dua tahun! Katanya presenting menjadi alfa itu di usia 10 tahun. Teman-temanku di sekolah sudah banyak yang presenting menjadi alfa. Wujud mereka bahkan keren-keren! Aku juga ingin! Kapan aku jadi harimaunya? Aku tidak mau menjadi omega dan bermain masak-masak selamanya dengan anak-anak perempuan!"

Kakaknya menghela napas lagi dan akhirnya turun dari kursi untuk menepuk kepala hitam adiknya. "Jangan cemberut begitu. Kau tahu itu sama sekali tidak akan mempan padaku."

"Aku tidak cemberut untukmu! Aku sedang sedih!"

"Orang kalau sedih itu menangis, kau malah cemberut. Kau aneh."

"Biarlah! Suka-suka aku! Ibu! Lihat kakak mengejekku terus!"

"Hah? Kapan aku mengejekmu? Bohong, bu! Jangan percaya dengan macan mini ini!"

"Sudahlah kalian jangan bertengkar. Minyeong, ke mari dan bantu ibu menata meja makan!"

Kakaknya menghembuskan napas berat. Namun sebelum bangkit, dia menyempatkan diri menarik dua pipi gembul adiknya.

"Dengar, ya. Kau tahu Choi Baekri? Kim Hanbin? Min Jinyoung? Jelas pasti kau tidak tahu karena kau tidak suka belajar sejarah. Mereka itu alfa-alfa yang dulunya sangat terkenal dan hebat pada masanya. Dan kau tahu apa? Mereka juga mengalami keterlambatan presenting sepertimu. Choi Baekri bahkan baru menjadi alfa saat usianya 17 tahun! Dan dia adalah beruang alfa yang menjadi pegulat paling hebat di zamannya."

Soonyoung melepaskan tangan kakaknya dari pipinya.

"Apa kau sedang membohongiku sekarang?"

"Lihat saja sana di buku pelajaranmu! Sudah, jangan tanya-tanya lagi. Aku mau membantu ibu!"

Gadis lima belas tahun itu segera beranjak menuju dapur. Meninggalkan Soonyoung dengan sejuta pertanyaan dan rasa penasaran yang berkobar-kobar dalam benaknya.

Soonyoung mendengkus kesal lalu berdiri. Pergi membuka pintu kaca kemudian duduk di teras. Mencoba untuk memperbaiki mood-nya yang tadi dirusak oleh kakaknya sendiri.

Ia mendongak memandangi langit gelap yang ditaburi bintang. Pikirannya langsung berkelana jauh entah ke mana. Kaki kecilnya yang terbalut celana piyama panjang bermotif harimau kartun berayun-ayun bergantian. Suara jangkrik serta suara ibu dan kakaknya di dapur bercampur menjadi simfoni yang perlahan-lahan merilekskan sarafnya.

Di tengah lamunannya yang tak berujung, angin malam berembus lembut menerpa tubuhnya. Menerbangkan helaian-helaian halus poni dan rambutnya. Mata Soonyoung terpejam, hidungnya menghirup dalam harum lavender yang datang terbawa pawana malam. Membuatnya rileks dan tenang. Tidak perlu ditanyakan lagi, Soonyoung sudah tahu dari mana asal bau ini. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Soonyoung tersenyum ke arah semak-semak gelap di ujung pagar sana. Tepat ke arah sepasang mata merah darah yang berkilat tajam menatapnya.

Dia, si Tuan Serigala itu, selalu datang hampir setiap hari. Mengunjunginya, menatapnya, kemudian ketika mata mereka beradu pandang, ia akan pergi begitu saja setelahnya. Sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri bagi Soonyoung diawasi dalam diam oleh hewan tersebut. Tidak, ia tidak merasa risih atau bahkan takut. Malahan Soonyoung merasa seperti ada yang menjaganya setiap saat.

.

.

Soonyoung selalu rutin mengonsumsi obatnya agar hormon yang ada di dalam tubuhnya bisa bekerja dengan baik. Hanya saja, terkadang Soonyoung lupa tidak mengonsumsinya jika tidak diingatkan. Semua obat-obatan diberikan dalam bentuk cair agar mudah dia minum.

Setiap bulan, dia juga rajin check-up ke dokter. Jika biasanya anak kecil enggan bertemu dokter, Soonyoung malah sebaliknya. Bocah yang kini sudah berusia tiga belas tahun itu sangat bersemangat bertemu dengan sang dokter. Bahkan dia juga sering bercerita pada si dokter tentang kesehariannya. Anak itu memang mudah dekat dengan orang lain, maka dari itu Soonyoung juga tidak sungkan untuk bercerita.

Soonyoung merupakan anak yang periang dan juga pemberani. Dia bahkan mengatakan tidak apa-apa jika ditinggal sendirian di rumah saat orangtuanya hendak pergi ke acara yang diadakan oleh teman dari sang ibu, sedangkan sang kakak berniat untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Jika saja saat itu Soonyoung tidak demam, mungkin ibunya tidak akan bertanya dengan pertanyaan yang sama berulang kali. Tubuh Soonyoung panas, tapi dia tidak batuk, pilek, atau merasa pusing.

Ibunya khawatir meninggalkannya sendirian di rumah, tapi dia sudah berjanji dari jauh hari untuk menghadiri pesta temannya bersama sang suami.

"Benar tidak apa-apa? Ah, ibu khawatir. Perasaan ibu tiba-tiba tidak enak."

Soonyoung yang tengah berbaring dengan selimut tebal sampai ke dagu itu tersenyum lemah. Di dahinya terpasang kompres tempel.

"Tidak apa-apa, bu. Aku sudah makan malam sampai kenyang tadi, sebentar lagi pasti akan tertidur lelap sampai pagi."

Ibunya mengusap rambutnya yang basah karena keringat, kemudian mengecup puncak kepalanya.

"Semua pintu akan dikunci serapat mungkin. Kalau terjadi sesuatu atau ada yang aneh di rumah, segera telepon ibu atau kakakmu. Oke?"

Soonyoung mengangguk.

Kedua orangtuanya kemudian berangkat dengan berat hati. Kakaknya sudah berangkat lebih dulu sore tadi dan mengatakan akan menginap di rumah temannya malam ini.

Soonyoung benar-benar sendirian sekarang. Dan kini, baru ia merasakan keheningan yang begitu senyap di rumah dua tingkat itu.

Ia bangkit sedikit untuk mengintip ke jendela samping tempat tidurnya. Berharap ada sepasang manik ruby yang mengawasinya dari bawah sana, namun sayangnya tak ada. Beberapa hari ini Tuan Serigala tidak pernah mengunjunginya lagi, membuat bocah tiga belas tahun itu bertanya-tanya kemana sosok misterius itu pergi.

Ia kembali membaringkan tubuhnya seraya menghela napas. Uap panas keluar dari celah bibirnya yang pecah-pecah. Keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya, membuatnya menendang selimut yang dipakaikan ibunya tadi dan tidur terlentang.

Merasakan sesuatu di bawah kulitnya, namun ia tak mengerti perasaan apa itu. Ia merasa sekujur tubuhnya panas, dan ia tak bisa berhenti menggesekkan kulitnya di permukaan seprai yang dingin.

Ia meminum habis airnya di nakas kemudian kembali berbaring. Memaksa matanya untuk terpejam dan membawanya berpetualang ke alam mimpi sampai besok pagi.

Berhasil.

Ia terlelap. Namun bukan mimpi petualangan hebat yang ia dapatkan, melainkan sebuah mimpi aneh di mana ada seseorang yang mendekapnya. Melebarkan kakinya, mencumbuinya di sana-sini. Ia menjerit tiada henti, namun bukan karena sakit, melainkan karena nikmat dan kepuasan. Tubuh dirinya dan sosok itu sama-sama telanjang.

Soonyoung tidak tahu siapa itu. Wajahnya tidak terlihat jelas, seakan sengaja di-blur agar Soonyoung tak dapat mengetahui identitasnya. Namun, yang pasti bocah sipit itu ketahui, bahwa sosok itu memiliki bola mata merah yang tidak asing.

Soonyoung tersentak bangun dengan sekujur tubuh basah karena keringat.

Ia menyeka wajahnya. Rambutnya basah kuyup, seakan baru saja diguyur seember air di sekujur tubuh.

Ia duduk termenung. Memikirkan apa maksud mimpinya barusan. Kenapa... kenapa ia telanjang dan siapa yang tengah bersamanya itu? Apa yang ia dan orang itu lakukan di mimpinya tadi? Kenapa rasanya... selangkangannya berdenyut di saat ia sama sekali tidak merasa ingin pipis?

"Panas."

Baru ia sadari tenggorokannya kering—sangat kering sampai terasa sakit saat ia bicara. Buru-buru ia meraih cangkir di atas nakas, namun langsung mengeluh ketika air di dalamnya telah tandas.

Karena rasa terbakar tak tertahankan di tenggorokannya, ia memutuskan untuk turun sendiri ke dapur.

Dengan lemas, ia menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang. Piyamanya basah, dan kulitnya masih saja mengeluarkan keringat karena entah kenapa suhu tubuhnya terasa lebih panas dari sebelum ia tidur tadi.

Ketika ia berdiri, dirasakannya sesuatu mengalir di kakinya. Namun Soonyoung tak terlalu mengindahkan. Kepalanya pusing, badannya panas, ia harus segera tidur kembali setelah mendinginkan tenggorokannya.

Soonyoung sedikit kesulitan saat berjalan. Tangannya bahkan sampai meraba-raba dinding dan bertumpu pada susuran tangga saat turun dari lantai dua. Dia melangkah dengan pelan menuruni satu-persatu anak tangga sampai akhirnya sampai di lantai bawah. Sekarang, dia hanya perlu berjalan ke dapur, mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas, kembali ke kamar, lalu tidur sampai esok pagi.

Dia mengira semuanya akan selesai dengan cepat, tapi nyatanya tidak. Ada beberapa hal yang menganggunya saat berjalan, salah satunya adalah cairan yang terus mengalir di pahanya. Soonyoung tidak tahu itu apa, tapi cairan lengket itu cukup mengganggunya. Membuat celananya basah dan pergerakkannya menjadi lambat.

Hawa panas di sekitar tubuhnya semakin menjadi, membuat Soonyoung kegerahan. Dia bahkan sengaja membuka kancing teratas piyamanya. Bocah sipit itu langsung menenggak rakus air dalam botol besar yang diambilnya dari dalam kulkas. Tidak ia habiskan seluruhnya karena Soonyoung hendak membawa botol itu ke kamarnya.

Soonyoung mengeluh dalam hati. Sebab, ia harus menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya dalam keadaan celana dan paha dalamnya yang basah. Ia harus mengganti celana dan bajunya juga setiba di kamarnya nanti. Keringatnya tak berhenti mengalir, membuat pakaian yang dikenakannya sangat tidak nyaman.

Telinganya mendengar suara rintik hujan yang mengenai atap rumahnya. Semakin lama semakin deras dan suaranya juga semakin kencang. Malam yang tadinya hening, sekarang berubah berisik dengan suara air membentur genting dan pepohonan. Seharusnya, dengan turunnya hujan ini, hawa di sekitar Soonyoung bisa berubah dingin. Namun, nyatanya tidak. Masih terasa begitu panas. Bagaikan ada gumpalan api yang menyala-nyala dalam tubuhnya.

Soonyoung tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia sendiri tidak yakin bahwa demam lah yang menyerang tubuhnya karena sedari tadi tidak ada gejala-gejala penyakit itu seperti pilek ataupun batuk.

Seharusnya, kakinya pergi ke tangga, tapi entah mengapa Soonyoung malah mengarahkannya ke ruang keluarga tempat pintu kaca besar berada. Pintu itu terkunci rapat dan terutupi oleh gorden cokelat yang tebal, membuat pemandangan di luar sana sama sekali tak dapat terlihat.

Soonyoung berjalan mendekat. Ada suatu dorongan yang membuatnya pergi ke sana. Dia melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan, yaitu membuka pintu lebar-lebar. Angin kencang langsung menerpanya beserta air hujan yang masuk ke rumah, seketika membasahi lantai dan juga pakaiannya.

Soonyoung tiba-tiba jatuh terduduk di ambang pintu, botolnya terlepas dari tangan dan menggelinding entah kemana. Tubuhnya lemas, kakinya bagai berubah menjadi jelly. Ia bersandar di ambang pintu sambil memeluk tubuh, mulai terasa sejuk karena angin kencang malam ini. Membuatnya mendesah lega karena panas di tubuhnya sedikit mereda.

Matanya terpejam, menikmati sensasi guyuran air yang tak berhenti menerpa tubuhnya. Bajunya seketika basah. Sama halnya dengan keadaan di rumah yang mulai kemal oleh air hujan yang menerjang masuk bersama angin kencang. Gemuruh langit dan guntur bersama-sama memeriahkan suasana hujan lebat malam itu.

Pikirannya terbang. Membawanya berkelana ke awang-awang. Sebuah gambaran sosok tak dikenal tiba-tiba merasuk ke dalam hayalannya. Di mana lelaki misterius bermata merah itu menggandeng tangannya menuju suatu tempat yang dipenuhi bunga lavender di mana-mana. Wajahnya lagi-lagi blur seperti di dalam mimpinya. Namun Soonyoung dapat melihat dengan jelas senyuman lelaki itu, tampan dan manis.

"Sudah waktunya," ucap sosok itu.

Dan Soonyoung kembali pada kesadarannya. Di mana hujan masih membasahi sekujur tubuh dan rumahnya, serta suara gemuruh dari langit merah.

Kelopak matanya kembali membuka, dengan perlahan-lahan. Memperlihatkan sepasang mata biru safir yang berkelip indah menggantikan manik gelapnya. Cairan yang mengalir di bawah tubuhnya keluar kembali, kali ini dalam jumlah yang lebih banyak. Harumnya sungguh manis, seperti campuran susu dan lemon.

Sekujur tubuhnya kembali panas. Bahkan lebih panas dari sebelumnya. Ia kembali memejamkan mata dan bersandar pada tepian pintu kaca. Bibirnya bercela, membisikkan sebuah nama dengan suara yang teramat kecil.

"Tuan Serigala …."

Angin kembali berembus kencang menerpa tubuhnya. Menggoyangkan lampu gantung di tengah ruangan serta melipat taplak meja yang terbentang.

Tempat Soonyoung duduk mulai becek, namun itu bukanlah karena air hujan. Cairan kental itu menggenang dan beraroma manis, benar-benar manis sampai menusuk penciumannya sendiri.

Angin membawa air hujan masuk ke rumah. Dan angin juga yang membawa aroma tubuhnya ke sepenjuru hutan belantara.

Harum citrus dan susu menyerbak ke mana-mana. Seiring dengan udara panas yang terus berembus dari celah bibir merah yang tak berenti memanggil sebuah nama.

"Tuan Serigala... di mana… Tuan Serigala, tolong aku... panas... Tuan Serigala, aku membutuhkanmu... Tuan Serigala—" Dan terus menerus seperti itu bagaikan rentetan mantra.

Mata birunya mulai menggelap. Bajunya basah kuyup. Selangkangannya berdenyut sakit. Sekujur tubuhnya menjerit kesakitan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang hanya ada di pikirannya hanyalah sesosok serigala hitam bermata semerah darah. Ia ingin Tuan Serigala ada di sini bersamanya.

"Di mana kau? Tuan Serigala... kumohon... aku... aku kesakitan... argh..."

Soonyoung mendesis ketika pahanya menggesek selangkangannya yang berdenyut. Rasanya nikmat, dan terlampau nikmat saat ia mulai menurunkan celananya dan menggenggam miliknya yang entah bagaimana menjadi keras di tengah semua rasa sakit ini.

"Tuan Serigala... ah! Tuan Ser—" ia menggerakkan tangannya dengan cepat, mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin dan merasakan cairan kental itu semakin deras keluar dari lubang bawah tubuhnya.

Air mata tak berhenti menetes dari mata sipitnya yang buram. Pipinya memerah, sementara bibirnya biru pucat karena kedinginan.

Namun lebih dari semua itu, tubuhnya saat ini seakan terbakar. Panas yang sempat reda tadi kini kembali lagi disertai dengan rasa sakit dan pusing yang sangat menyiksa.

Gerakan tangannya semakin cepat. Punggungnya melengkung dan pahanya seketika merapat saat klimaks datang menghampirinya. Cairan putih menyembur keluar dan bergabung dengan genangan manis di bawah tubuhnya.

Soonyoung terengah. Dadanya naik turun. Matanya berkunang-kunang. Tangannya tak berhenti bergetar. Miliknya masih keras, dan rasanya begitu sakit saat ia menyentuhnya kembali.

Lampu di tengah ruangan tiba-tiba berkedip beberapa kali, sampai akhirnya mati bersamaan dengan lampu-lampu di ruangan lain. Sekelilingnya seketika gelap. Seluruh penerangan di rumah mati total. Sementara di luar sana, hujan dan petir masih bersahut-sahutan. Angin dan air masih tak berhenti menghajar tubuh kecil Soonyoung.

Melihat betapa mengerikan keadaan di sekitarnya, bocah tiga belas tahun itu akhirnya menangis. Terisak keras dan memanggil semua nama di kepalanya untuk meminta pertolongan.

"Ayah! Ibu! Kakak! Aku takut! Ibu, tolong aku! Sakit! Aku tidak mau di sini...! T-tidak mau merasakan ini... s-sakit... ayah, kenapa tubuhku panas sekali... aku takut... aku tidak mau di sini sendiri! Siapa saja, tolong aku!"

Pening langsung menghantam kepalanya, membuat bocah itu roboh ke samping.

Tak memiliki energi lagi untuk bangkit, ia membiarkan tubuhnya tergeletak seperti itu. Bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya pun ia tak mampu. Pandangannya semakin buram. Bibirnya membeku, wajahnya pucat, namun sekujur tubuhnya sama sekali tak merasa dingin. Justru rasanya bagaikan dipanggang di atas bara api menyala. Rasa terbakar ini seakan enggan meninggalkannya.

"Tuan Serigala... Tuan Serigala... Tuan... Serigala..."

Bibirnya tanpa sadar terus meracaukan nama itu kembali. Bagaikan kaset rusak yang terus memutar bagian yang sama tiada henti.

Hingga ketika ia merasa sudah di ambang kesadaran, tiba-tiba hidungnya mengendus aroma yang begitu familiar. Aroma yang selama ini ia rindukan. Aroma yang sangat disukainya. Bau lavender yang sudah berapa hari tidak ia cium.

Jari-jari Soonyoung bergerak. Bibirnya menarik senyum kecil ketika matanya yang buram melihat sesosok siluet yang datang mendekatinya.

Namun itu bukan seekor serigala. Seorang laki-laki. Dengan rambut hitam legam dan pakaian yang basah kuyup.

Soonyoung tak mengenal laki-laki ini. Tapi ketika sosok itu mendekat, bau lavender favoritnya semakin tajam tercium. Aroma yang lebih pekat dari biasanya. Bercampur dengan aroma hujan di luar sana.

Namun yang membuat jantungnya berdegup kencang karena senang adalah matanya. Mata laki-laki itu merah gelap—merah seperti darah.

"T-Tuan Serigala...?" bisiknya tanpa tenaga.

Sosok itu—lelaki asing itu—menggeram. Wajah tampannya berkerut, rahang kokohnya mengeras. Matanya menyalang, seperti seekor predator yang tengah menatap lapar mangsanya.

"Omega."

Sekujur kulit Soonyoung merinding begitu suara bariton yang dalam itu menghampiri gendang telinganya.

Slick yang meluncur dari celah lubangnya semakin mengalir deras, merembesi paha putihnya yang telanjang.

Soonyoung menelentangkan tubuh. Mengangkat kedua tangannya setinggi yang ia bisa demi meraih sosok yang berdiri tepat di samping tubuhnya itu.

"T-Tuan... t-tolong aku... kumohon... ini sakit sekali... kumohon bantu aku..."

Air matanya kembali mengalir bagaikan tetesan mutiara bening. Bibir pucatnya terisak. Tubuhnya menjerit ingin disentuh. Selangkangannya sakit. Dan lubangnya berdenyut gatal sejak tadi.

Aroma lavender pekat itu membungkusnya seperti selimut, membuat tubuh panasnya sedikit lebih membaik. Namun itu sama sekali tidak cukup.

Dia butuh sentuhan. Dia butuh lelaki ini.

Dia butuh seorang alfa.

"Alfa."

Mata merah itu menatap semakin tajam. Namun mata biru Soonyoung sudah lama kehilangan binar cahayanya. Sepenuhnya telah diambil alih oleh pikiran omeganya yang baru terbangun.

"Alfa... kumohon tiduri aku."

Aroma lavender yang sejak tadi berputar-putar mengelilinginya kini berubah kacau. Soonyoung bisa merasakannya dengan jelas.

Apalagi ketika ia kembali mendengar geraman dari bibir tipis sosok itu.

Laki-laki itu berjongkok di depannya, menangkup dagunya dengan jempol dan telunjuknya.

"Kau akan menyesali ini."

Soonyoung menggeleng kuat, air matanya kembali jatuh. "T-tidak. Aku tidak akan menyesal. Hanya kau yang kubutuhkan di sini. Kumohon, Tuan Serigala. Bantu aku agar merasa lebih baik. Sentuh aku, di mana saja tidak masalah. Kumohon usirlah semua rasa sakit ini. Aku sudah tidak kuat lagi!"

Lelaki itu, dengan mata merah tajam dan raut wajahnya yang keras, mengusap pelan pipi basah Soonyoung. Mengangkat tubuhnya dengan lembut ke atas sofa yang tak terkena percikan air.

"Kau tidak akan bisa lepas dariku setelah ini. Kau milikku, Soonyoung."

Dan Soonyoung belum pernah merasa sesenang itu dalam hidupnya.

Ia mengangguk lemah, tangannya meraih lengan kokoh sang alfa.

"Ya, aku milikmu. Tuan Serigala, kumohon sentuhlah aku!"

Giginya menggertak, taring panjangnya terlihat. Mata merahnya semakin menyalang.

"Jihoon. Panggil aku Jihoon."

Soonyoung terdiam sebentar, memandang wajah tampan itu dengan terpana, sebelum kemudian bibirnya bergerak lagi demi mengucapkan sebuah nama.

"Jihoon. Alfa-ku."

Itu kata terakhir yang terucap di bibirnya sebelum ranum itu dibungkam oleh bibir tipis yang lapar.

Soonyoung menggeliat, tubuhnya seakan berteriak kesenangan. Lubangnya berkedut mengalirkan lebih banyak cairan manis.

Pintu kaca sudah lama tertutup sejak kedatangan si Tuan Serigala berwajah tampan.

Baju basah Soonyoung dirobek kasar, dilemparkan semena-mena dengan sembarangan.

Soonyoung terbaring pasrah dan mendesah. Akal sehatnya hilang ketika benda tumpul dan keras mengetuk lubang berkedutnya yang basah kuyup.

"Argh!" Ia mencakar punggung telanjang laki-laki di atasnya.

"S-sakit, Jihoon!"

Setelahnya ia merasakan kecupan di seluruh wajahnya, lalu bibir hangat yang melumat lembut ranum bengkaknya.

"Aku akan merawatmu. Percayalah padaku."

Soonyoung mengaitkan kesepuluh jari-jari Jihoon dengan sepuluh jari tangannya.

Air mata mengalir keluar saat ia mengangguk. "A-aku percaya."

Jihoon menjilat air mata itu, memeluk omeganya dengan erat saat sosok mungil itu menjerit sakit ketika ereksinya berhasil masuk sepenuhnya.

Setelahnya, yang terdengar di dalam rumah gelap gulita itu hanyalah teriakan dan desahan yang diredam oleh suara petir dan hujan.

Jihoon bergerak cepat, sedangkan Soonyoung melebur dalam nikmat.

Dua tangan saling bertaut erat.

Dua bibir enggan berpisah.

Dan dua tubuh yang bersatu menciptakan nirwana.

Jeritan Soonyoung tertahan di tenggorokan saat gigi tajam menggigit tengkuknya. Kenikmatan tiada tara mengalir di setiap saraf tubuhnya, bersamaan dengan cairan hangat yang terus menyembur memenuhi rektumnya.

Darah mengaliri kulit pualam lehernya, bersamaan dengan rambut hitamnya yang luntur perlahan, tergantikan oleh warna putih yang kotor.

"J-Jihoon..."

"Kau milikku, Soonyoung. Mulai sekarang, kau adalah milikku selamanya."

Malam itu masih terlalu panjang. Hujan masih enggan untuk berhenti. Kegelapan tak membuat Soonyoung menangis ketakutan lagi. Karena saat ini ada tubuh hangat yang memeluknya dengan aman. Melindunginya dari segala hal jahat di dunia.

Di tengah ambang kesadarannya yang semakin menipis, ia bertanya-tanya, apakah semua ini adalah mimpi?

.

.

Hujan baru berhenti saat langit mulai berganti warna menjadi biru gelap. Embun dan bekas air hujan semalam menetes turun dari dedaunan dan mendarat di atas rerumputan basah serta tanah yang becek.

Mobil orangtua dan kakak Soonyoung bersamaan memasuki halaman rumah ketika matahari baru muncul dari peraduan. Semalam orangtuanya tidak bisa kembali karena cuaca buruk yang menyebabkan jalanan menjadi licin, oleh karena itu mereka terpaksa menginap di penginapan dekat rumah teman sang ibu.

Saat membuka pintu depan, ibu Soonyoung terkejut begitu aroma manis menyapa penciumannya. Aroma lemon, susu, lavender, serta hujan memenuhi seluruh ruangan. Perasaannya yang sudah tidak enak sejak semalam semakin bertambah. Ia segera melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam demi memeriksa putranya di kamar.

Sementara Minyeong yang baru saja masuk, langsung mengerutkan dahi begitu aroma yang dicium ibunya tadi menghampiri hidungnya. Aroma citrus dan susu yang pekat, tebal, sangat manis yang sedikit tercampur dengan wangi lavender yang tipis. Alfa dalam dirinya segera membawa kakinya melangkah menuju sumber wewangian ini. Matanya melebar kaget mendapati kondisi ruang keluarga yang berantakan. Lantai becek dengan genangan air di mana-mana. Perabotan berserak. Gorden, sofa, karpet basah dan lembab.

Namun dari semua kekacauan aneh yang tertangkap oleh retina matanya saat itu, sesuatu di balik meja langsung membuat jantungnya turun ke perut.

Segera saja ia bergegas mendekati tangan yang menyembul di balik meja. Dalam hati merasa was-was, berharap apa yang ada di pikirannya saat ini tidak mungkin terjadi.

Namun sayang sekali. Kenyataan yang ia lihat sekarang bahkan jauh lebih mengerikan.

"Soonyoung!" Minyeong menjerit syok. Ia langsung berhambur menghampiri adiknya yang tengkurap di lantai dengan pakaian-pakaian lembab yang menutupi sebagian tubuhnya yang telanjang.

"Soonyoung! Astaga, adikku! Apa yang terjadi?" Ia menarik tubuh lengket Soonyoung dan menepuk-nepuk pipinya. Namun mata adiknya itu tak mau terbuka. Panik semakin menginvasi dirinya. Matanya langsung kabur oleh air mata ketika menyadari rambut hitam adiknya telah berubah warna menjadi kelabu. "Soonyoung! Hei, sadarlah! Astaga apa yang sudah terjadi di sini? Ibu! Ayah! Tolong!"

Ibunya yang habis memeriksa kamar Soonyoung dan tak mendapati anak bungsunya itu di dalam langsung bergegas menuruni tangga.

"Ibu! Lihat! Soonyoung! Soonyoung—!"

Mata ibunya membola. Ia langsung berlari menghampiri kedua anaknya itu.

"Apa... apa yang terjadi!? Kenapa Soonyoung begini!?"

"Aku tidak tahu! Dia sudah begini ketika kita pulang tadi!"

Sang ayah yang baru datang seusai memarkirkan mobilnya dibuat terkejut dengan keributan sang istri serta anak tertuanya di ruang tengah. Saat menghampirinya, wajah kepala keluarga itu langsung mengeras. Matanya melotot marah dan ia langsung berteriak menanyakan apa yang terjadi. Namun tak ada satupun dari mereka yang tahu bencana apa yang telah terjari semalam. Minyeong dan ibnya menangis, masih mencoba menyadarkan Soonyoung. Sementara sang ayah semakin geram, kesal dengan siapapun yang membuat anaknya jadi seperti ini. Tangannya bergerak untuk memiringkan sedikit kepalanya, mencoba mengecek tengkuk Soonyoung.

Dan benar saja. Di sana, terdapat bekas gigitan seseorang.

Lelaki paruh baya itu refleks meninju meja, membuat sang istri dan anaknya terkejut.

Minyeong segera menenangkan ayahnya. "Ayah, tenang dulu—"

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG SAAT MELIHAT KEADAAN ANAKKU SEPERTI INI?"

Dikarenakan suaranya yang terlalu kencang, membuat Soonyoung tersadar dari tidurnya. Lenguhan yang keluar dari celah bibirnya membuat sang ibu langsung mengembalikan atensinya pada sang anak.

Saat mata birunya terbuka, ia dikejutkan dengan kehadiran orangtua beserta kakaknya. Dia tambah terkejut saat mengetahui bahwa tubuhnya telah telanjang dan hanya ditutupi oleh pakaian lembab.

Ayahnya segera meneriakinya. Matanya melotot marah dan bahkan urat-urat menyembul di lehernya saat ia memaki kasar seseorang yang sudah menyentuh putra kesayangannya. Soonyoung langsung terisak, lalu memeluk tubuh sang ibu. Menangis di pundak wanita itu. Mengatakan bahwa ia tidak ingat apa yang terjadi semalam, dia juga tidak tahu siapa orang yang menyetubuhinya. Semua itu dibalas dengan usapan lembut penuh kasih sayang dari sang ibu yang juga membisikkan kata-kata penenang meskipun dirinya juga ikut menangis.

Hari itu, menjadi hari yang tidak pernah keluarga Soonyoung lupakan. Bagai dijatuhi bencana, seperti kutukan yang memayungi rumah itu dengan penyesalan tak berujung. Awal dari mimpi buruk Soonyoung, yang mengubah kepribadiannya, mengubah hidupnya.

Menutup dunia penuh warnanya.