A R C A N E

Part 1 : Decision


Sinar lampu LED yang menghiasi papan bar—bertuliskan Red Sun—tidak cukup mampu membelah pekatnya kegelapan tengah malam di distrik Seoul. Dingin udara yang menusuk-nusuk kulit tak sedikitpun menghambat keinginan Richard Park untuk mencari kesenangannya.

Kegelapan bar memerangkap karena beberapa lampu remang-remang yang hari ini—merupakan sebuah bentuk spesifikasi—telah disediakan di sudut ruangan bar, dan di atas meja-meja pantry.

Permainan mematikan Russian Roulette akan dimainkan disini.

Tiga tipikal konstelasi: tipikal pertama adalah orang-orang yang datang hanya untuk mengakhiri hidup tak bergunanya. Sedangkan yang kedua berdasar pada perasaan terpaksa, karena lilitan ekonomi yang tak begitu beruntung. Lalu konstelasi yang terakhir hadir dipicu atas keinginan mencari-cari evokasi di hidup mereka.

Richard mengamati wajah-wajah itu untuk merangsang serotonin dan memenuhi keinginannya; mencoba sesuatu yang baru dan menarik. Yang mampu membuatnya merasa puas lebih dari sekedar seks bebas yang telah ketinggalan jaman.

"Saya tidak menyangka Anda benar-benar datang ke tempat ini, Sir Park. Faktanya angka yang saya janjikan jelas bukanlah hal yang seberapa untuk Anda."

Pria paruh baya berambut hitam legam dengan gaya klimis menghampiri Richard seraya mengusap Bretta M9 mahal dengan selembar kain sutra khas Tiongkok untuk tersenyum senang.

"Kedatangan Anda sudah pasti karena adanya suatu tujuan krusial. Benar begitu?"

"Saya hanya merasa tertarik dengan permainan konservatif ini."

"Saya merasa sangat senang dan terhibur saat Anda mengatakan akan mencoba permainan sederhana yang kami siapkan, sir. Karenanya, Anda bisa menikmati wine kualitas terbaik kami selagi menunggu permainan ini disiapkan."

Pria itu menunduk hormat sebagai formalitas, lantas berjalan pergi dan ditelan seluruhnya oleh kegelapan.

Richard berjalan ke arah meja-meja bar. Mereka diterangi cahaya lampu temaram yang cocok sebagai pasangan segelas wine untuk menemani raganya di antara kegelapan dari segala sisi. Rasa vodka yang suam-suam kuku mengalir melewati kerongkongannya yang kering manakala seseorang menghampirinya.

"Excuse me, Sir. "

Sebuah suara yang amat halus mengalihkan atensi. Sementara sepasang obsidian pekat Richard berusaha menilik wajah seseorang dihadapannya.

Ternyata seorang pria yang memiliki light tone vocal.

"Saya hendak menawarkan satu tawaran bagus untuk anda, Sir. "

Sebelah alis Richard terangkat, ia menaruh gelas vodka yang ramping di atas meja bar. "Saya berharap itu cukup relevan untuk dipertimbangkan." Richard terkekeh, "Jika kamu cakap membaca situasi."

" Tentu saja, sir. Saya mengetahui dimana peluru revolvernya akan ditempatkan. Jadi Anda tidak perlu mencemaskan apapun jika berkenan mengikuti saran saya."

"Tidak ada jaminan perkataanmu mengandung esensi yang relevan. Jikapun ya, bukan mustahil prediksimu bisa meleset. Kamu juga bisa melihat itu, ada banyak wanita-wanita tak bernorma yang menawarkan hal ini dengan murah." sepasang obsidian melesat tajam ke arah kerumunan wanita-wanita setengah telanjang yang sibuk menseduktif pria malam mereka. Lantas tangannya kembali meraih gelas vodka yang sexy.

"See? Saya berada di tempat ini hanya untuk kesenangan karena saya seorang rasionalis." Richard tersenyum remeh, kembali menyesap wine nya.

"Memang tidak ada jaminan Sir. Tapi Anda bisa mengandalkan saya." Richard hampir terkekeh ketika telinganya menangkap intonasi persuasif dari pria asing itu.

"Then, tell me the number."

Menyadari pria berkelas di hadapannya tertarik, laki-laki itu menjawab. "Anda bisa memilih urutan ke enam. Jika tepat sasaran, pastikan Anda membayar imbalan yang setimpal untuk saya."

Richard sekalipun tidak terpikir bahwa dia perlu mendengarkan pernyataan konyol laki-laki itu. Tetapi ia menjadi sangat tertarik sesaat setelah wajah laki-laki di hadapannya tersingkir sepenuhnya dari bayangan. Dan dia menyeringai; menarik.

Sebuah meja besar berbentuk lingkaran di sudut lain bar menjadi semakin ramai. Richard berjalan lurus mengabaikan laki-laki itu di depan meja pantry tanpa membuat kesepakatan baik jawaban ya ataupun tidak. Dia berdiri tepat di samping pemilik bar yang sibuk memperhatikan sapi-sapi perah yang rela menonton pria paling expensive—pemegang gelar dari hampir semua jenis permainan pertaruhan—bermain Russian Roulette di barnya.

"Sir Park, Anda merupakan keberadaan yang teramat spesial untuk semua orang di sini. Oleh karenanya, saya dengan senang hati memberikan kesempatan pertama kepada Anda untuk memilih nomor." dia tersenyum dalam, merupakan sebuah senyum menjijikkan.

"I'd like to choose number five." keputusan itu tak lain merupakan kesengajaan untuk memancing reaksi laki-laki yang bersikeras menawarinya nomor; tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang itu tidak mempunyai hasrat untuk membunuhnya.

Ekor mata Richard yang tajam melihat laki-laki itu. Dia terlihat terkejut namun terkesan ditutup-tutupi.

"Anda tidak mendengarkan saya Sir." Pemuda itu berbisik ketika dia telah berhasil bergerak mendekati Richard.

"Ini adalah pertaruhan. Apakah peruntunganku atau prediksimu yang akan memenangkan permainan ini." Richard menatap netra lawan bicaranya, mencari-cari celah dari ketenangannya mengendalikan emosi.

Pemuda itu tidak membalas, dan pergi menghilang di antara lautan manusia. Sementara Russian Roulatte dimulai.

Dua orang algojo berada di belakang pemilik bar. Bersiaga dengan revolver di tangan masing-masing dari mereka.

"Let's start the game."

Si pemilik bergeser untuk setelahnya mempersilahkan kedua algojo peliharaannya mengambil alih permainan. Gemuruh tepuk tangan dan seruan-seruan di dalam bar mendadak berkumpul meramaikan situasi malam panjang tanpa akhir.

Pria paruh baya yang mendapat giliran pertama tampak tidak mempunyai gairah hidup. Ukiran luka di sekujur tangannya mendeskripsikan seperti apa agaknya kisah hidup orang itu di dengan cukup transparan; opsi bunuh diri yang paling menggelikan.

"Eins." (satu)

Seorang algojo menodongkan revolvernya ke arah pelipis pria itu dan suara tembakan menggema. Stigma kepanikan telah hidup di antara lautan manusia yang memutuskan berimplikasi dalam permainan. Tentu saja selalu ada sekumpulan orang awam yang langsung memutuskan ikut menonton tanpa mencari tahu apa yang dilakukan russian roullate game pada pemainnya, karena mereka hanya ingin melihat Richard memperoleh kekalahan setidaknya untuk yang pertama kali.

Permainan baru saja dimulai, dan seseorang telah mendapat lubang di tulang tengkoraknya.

"Zwei." (dua)

Selongsong peluru menembus tengkorak peserta lain—pria bertubuh kekar—di sisi lain meja. Telak menembus kepala sebelum reflek simpatis pertahanan diri berhasil dibangun. Maka nyawa orang itu direnggut tanpa pernah ada perlawanan.

"T-tunggu dulu—"

Kini seorang pemuda mencoba bergerak menjauh dengan kaki gemetar. Mendadak tidak percaya diri akan keputusannya malam ini karena telah menerima serangan perasaan enggan mati di usia muda.

"Drei." (tiga)

Napas Sang Algojo terhembus dan percikan darah segar menempel pada sebagian kemeja mahal Richard Park.

"TIDAK!! AARGH SIALAN!! AKU TIDAK MAU MATI!! LINTAH DARAT SIALAN!! MEREKA MENCOBA MEMBUNUHKU!"

"KALIAN SEMUA SINTING!!"

Pria tambun pecandu alkohol berlari dari kerumunan orang-orang, menghindari kematian atas ketamakan di dalam pikirannya. Tetapi di tengah-tengah upaya pelarian diri yang mustahil, kedua kaki gempal itu tersandung mayat-mayat berlumur darah yang tergeletak di atas lantai bar.

"H-HIYYYY!!" berjingit ngeri, pria itu bergerak lusuh menatapi onggokan mayat di sekitarnya yang telah menyerang telak mentalnya.

Sebelum pria itu berusaha keras bangkit dari jatuh, bunyi tembakan menggema untuk kesekian kali. Cipratan darah segar menempel semu di beberapa sisi tembok untuk dan mengalir membasahi lantai sedikit demi sedikit sementara tubuh pria itu ambruk sejak lima detik lalu.

"Vier.. " (empat)

Algojo berjubah hitam mengganti silinder revolvernya, bersiap untuk mendapat kehormatannya; menodong Richard Park tanpa merasa takut mati.

Richard sedikit banyak mengerti bahwa inilah bagiannya. Sebuah tujuan pasti atas alasan keberadaannya di sini ialah untuk melihat sesuatu yang menarik—dan Richard telah menemukan itu. Obsidian hitam setajam elang jatuh pada kerumunan. Mereka semakin banyak berdatangan meski keputusan sembrono itu harus mengeluarkan harga yang sama sekali tidak sedikit. Harga untuk menyaksikan eksekusi terimplisit seorang Park, pemilik tingkat kepercayaan diri tertinggi dengan nol persen kewarasan yang tidak tertandingi.

Sebelum bibir seduktifnya terbuka, suara tembakan bergema sedikit lebih cepat bersama dengan selongsong peluru yang melesat tanpa disadari seorangpun. Dan jeritan kesakitan menggelegar di tengah-tengah ramainya gerombolan orang yang menyaksikan permainan membunuh ini. Sementara pemilik bar memegangi perutnya yang dilubangi peluru berkaliber 0,33 mm.

Richard memerhatikan pria paruh baya itu dan menikmati kerumunan massa yang terserang panik atas penyerangan mendadak pemilik bar. Mereka berlarian seperti kerumunan semut yang disiram timah panas tepat di sarang mereka sendiri.

"Mereka curang!"

Richard merasakan tarikan pada lengannya, dan dengan intelektualitas di atas garis normal, dia telah mengenali suara ini. Suara satu-satunya orang yang beberapa waktu lalu menawarkannya sebuah nomor dan dengan lancang menuntut imbalan. Pandangannya mengarah ke beberapa penjaga dan pegawai bar yang sibuk menyelamatkan boss mereka. Richard menyeringai, ia sadar bahwa lelaki itulah pelaku yang telah melubangi perut pemilik bar.

"Mereka sama sekali tidak berniat mengosongkan satu-pun silinder dalam revolver itu, Sir."

"Prediksi?"

"Bukan," pemuda itu menggeleng singkat, "semacam insting barang kali?"

Di luar bar seorang wanita berbalut jas hitam dengan rambut panjang tergerai lurus menghampirinya.

"Berisik sekali." dia berdecak kesal dan mulutnya menghisap gulungan tembakau.

"Bereskan semua orang di dalam sana! Semua." Richard mengatakan itu sebagai titah mutlak diktatoris yang jauh dari tipikal permintaan secara baik-baik.

Dia—si wanita itu—menghela napas jengah. Dan dua berjalan ke arah bar membawa sebuah tombol bom otomat.

"Kamu menginginkan sebuah imbalan?" Richard mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki itu. Dia dibuat semakin penasaran pada pusaran elusif kebiruan milik lawan bicaranya.

"Meskipun saya benci berhutang sesuatu pada seseorang dalam bentuk apapun, berikan saya sebuah alasan logis: apa yang sedang direncanakan oleh seorang pemuda yang tidak punya ketertarikan pada dunia malam di dalam bar Red Sun? Jika kamu mempunya jawaban bagus, maka kamu bisa mendapat imbalan tanpa batas." Richard memantik sebatang tembakau, memposisikannya di antara apitan jari telunjuk dan middle finger.

"Kenapa Anda berasumsi bahwa saya adalah orang yang seperti itu?"

"Pertama, kamu bukan peminum alkohol. Karena itu, tak ada segelaspun alkohol yang terlihat sejauh ini. Atau kemungkinam terburuknya kamu ingin tetap menjaga kesadaran di antara lautan manusa yang dikendalikan alkohol?"

Richard menyeringai. Dia telah mengamati sejak awal keberadaan laki-laki itu; jika orang ini tidak cukup mampu bertahan dari pertanyaannya, maka semua telah selesai bahkan sebelum semua itu dimulai.

"Kedua, kenyataan bawah kamu merasa saya telah dipermainkan sementara komunitas yang memainkan permainan Russian Roulette sendiri ialah tempat penuh tipuan." Richard Park menahan diri untuk tidak menyeringai.

Laki-laki itu stagnan, tampak lagi-lagi merepresikan ekspresinya. "Baiklah, anggap saja gagasan itu benar Sir."

"Saya baru-baru ini memang pergi dari rumah untuk mencari kekayaan. Apakah Anda mampu memberikan imbalan itu kepada saya? Berdasar pada sebuah fakta bahwa saya baru saja menembak pemilik bar demi menyelamatkan nyawa Anda." laki-laki itu menjawab pertanyaannya yang lain.

Richard mengangkat sebelah alisnya, hendak mengajukan tanya, "Kekayaan ada banyak jenisnya—"

"Sesuatu yang bisa membeli kebebasan." sebuah jawaban tanpa keraguan menyela pertanyaan itu.

Kini ia paham, "Bagaimana dengan sebuah nama?"

Laki-laki di hadapannya tampak bingung.

"Dimulai dengan namamu." sebuah kejelasan abstrak.

"Baekhyun, Byun Baekhyun."

"Kamu mungkin telah tahu saya Richard Park. Senang bisa bekerja sama denganmu, Baekhyun."

Baekhyun ambruk di atas aspal jalanan yang kasar dan dingin setelah jabat tangan itu.

Wanita berjas itu menarik alat suntik dari leher Baekhyun.

"Kamu sungguh ingin pria asing seperti dia masuk ke dalam afiliasi kartel?"

"Dia terlalu menarik untuk dibunuh, SuA Kim." Chanyeol membawa langkahnya sementara beberapa orang keroconya menyeret pria itu ke dalam mobil.[ ]


Feed backs are highly appreciated!!

To be continued...