A R C A N E
Part 2 : Red Fraction
'Pesawat Airbus A380 komersial mengalami kecelakaan di kawasan laut kuning. Diduga terjadi pengeboman di dalam pesawat sehingga pesawat meledak di ketinggian enam puluh kaki di atas permukaan laut. Korban belum teridentifikasi.'
Pria dengan mullet hair style meremas lembaran koran pemberitaan. Kemarahan jelas terlihat dengan transparan di wajahnya.
"Anda yakin ini bukan ulah si brengsek itu?"
Tangan kanan-nya mengajukan pertanyaan satire. Semakin menyulut emosi tuannya.
"Dia mencoba bermain-main denganku. Let's see who can win this game."
*
Baekhyun merasakan tubuh dan kepalanya berdenyut nyeri. Terlalu ngilu hingga ia terbangun karena rasa sakit yang amat sangat menyiksa.
Setelah fokusnya kembali, dengan segera ia menyadari sesuatu yang terjadi beberapa waktu lalu. Samar-samar ingatannya berputar, bagaimana terakhir kali ia membiarkan namanya diketahui, lantas berakhir dengan kesadaran yang sangat cepat meninggalkannya.
"Still alive huh? "
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Seorang wanita berambut lurus terurai mengamatinya dari sisi lain ruangan besar yang ia tempati.
Dia succubus yang membakar habis bar, juga orang yang membuatnya tak sadarkan diri.
"Saya tak mengira kalian organisasi bawah tanah yang hidup menculik seseorang tanpa pandang bulu." Baekhyun terkekeh. "Seharusnya saya tak berimplikasi dengan salah satu dari kalian dan berakhir kelewat runyam." ia menghela napas kasihan, berlagak menyesal.
Wanita itu berdecih, "Richard tidak mudah menaruh atensi pada sesuatu. Aku sangat penasaran, kenapa bisa-bisanya dia berpikir manusia lemah sepertimu itu menarik?" wanita itu menoleh—memperhatikannya.
"Beri tahu aku apa yang terjadi di dalam bar. Dan jenis persuasif macam apa yang kau mainkan saat ini?"
Baekhyun berpikir ia harus melawan, "Tidak ada alasan yang bagus sebagai jawaban, begitu juga untuk menjawab kenapa saya harus dibius paksa untuk sampai disini."
Ia berusaha menjaga harga diri dan kehormatannya di hadapan wanita asing yang bahkan tak ia ketahui namanya. Baekhyun tahu pasti orang ini adalah satu dari entah berapa banyak individu yang telah mengabdikan hidupnya di bawah kaki Richard Park. Baekhyun tak akan menunjukkan dirinya di hadapan orang asing, meskipun di hadapannya adalah wanita pengintimidasi yang secara kebetulan salah satu anggota kartel mafia sekalipun. Dan ia cukup keras kepala untuk melakukan itu.
Lawan bicaranya tersenyum sinis, "Richard tidak akan membiarkan seorangpun yang telah mengetahui sesuatu tentang dirinya barang sedikitpun lepas dengan selamat."
Wanita itu beranjak keluar dari ruangan tempat Baekhyun tersadar, "Dia akan menyiapkan tubuhmu yang tak berguna, dan memberikan onghokan rongsok itu untuk makanan penutup anjing-anjingnya."
Baekhyun tak berusaha membela diri, tapi jelas ia merasa tersinggung dengan perkataan wanita sialan ini seakan ia bukanlah sesuatu yang pantas atas harga dirinya.
"Jika kaki lemahmu mampu berjalan, pergilah ke bagian sayap kiri bangunan. Richard menantikan kesempatan untuk membicarakan sesuatu."
Sekelibat informasi, dan wanita itu berjalan keluar ruangan dengan bunyi ketukan heels yang khas.
Setelah bunyi ketukan itu tak terdengar dalam beberapa menit, kesunyian menyelimuti Baekhyun yang terduduk di atas kasur. Di tengah ruangan asing yang tak ia ketahui keberadaannya, ia ditarik paksa untuk menyaksikan kuasa Richard Park yang tak perlu bersusah payah menjatuhkannya dengan kedua tangan pria itu sendiri.
Tujuannya sejak awal adalah menemukan Richard Park, pemimpin kartel Fraksi Merah yang paling disegani. Bahkan jika ia harus melalui pengorbanan sekali lagi, tujuannya tak boleh gagal.
Baekhyun diam-diam memikirkan berbagai hal untuk melancarkan tujuannya berada di Fraksi Merah—berkeliaran di sekitar Sang Pemimpin—sementara tubuhnya terus melangkah menemui orang yang dicari-carinya selama ini.
*
Baekhyun tak menduga, setelah ia keluar dari ruangan itu, di hadapannya hanyalah lorong berarsitektur klasik yang nampak tak berujung.
Beberapa orang maid dan penjaga berlalu-lalang dengan langkah tergesa. Namun mereka telah dilatih mengerjakan sesuatu dengan cepat dan efisien.
Baekhyun berniat mengajukan pertanyaan perihal letak bagian sayap kiri mansion, namun sesegera mungkin ia mengurungkannya. Ia sadar semua orang yang berlalu lalang tak mempertanyakan keberadaannya di lorong. Karena itu, Baekhyun memutuskan untuk menemukannya sendiri dibandingkan menjatuhkan harga dirinya lagi.
Di sepanjang lorong, lampu-lampu gantung berukuran besar terpajang menghiasi langit-langit mansion dan karpet beludru mahal berwarna merah di atas lantai lorong semakin memperkuat kesan expensive mansion super fantastic ini.
Jelas tidaklah mustahil ketika ia mendapati barang-barang mewah di dalam mansion jika menilik bahwa Richard Park merupakan pemimpin kelompok mafia seberpengaruh Fraksi Merah. Baekhyun tak akan terkejut sama sekali.
"Richard telah menunggu terlalu lama."
Ketika sbuah suara menginterupsi, ia dapat merasakan dinginnya lubang pistol di kepala belakangnya.
Baekhyun stagnan hampir terkejut meskipun pada akhirnya ia tetap memegang penuh kendali dirinya. Ia menghela napas jengah, mengalihkan atensinya pada wanita di belakangnya.
"Lucu juga, tidak terkejut sama sekali meskipun kutodong pistol."
Baekhyun melihat wanita berambut panjang yang membiusnya dengan tatapan datar—menyembunyikan semburat merah yang menjalar dari lehernya. Ia bersyukur succubus itu tak mendapati wajahnya sama sekali.
Tak akan ada gunanya menunjukkan emosi di depan keroco-keroco Park yang tak penting. Ia akan menyimpan itu sampai waktu yang bagus untuk Sang Pemimpin kartel. Sebuah kejutan yang tak pernah diduga khusus darinya.
"Ikuti aku."
Baekhyun tak menjawab, namun ia mengikuti langkah wanita itu. Setelah beberapa saat berjalan melewati pintu-pintu kokoh setinggi lima meter, wanita itu berhenti di depan sebuah pintu besar dengan ukiran emas berbentuk burung mitologi—phoenix merah yang cukup kontras dengan pintu berwarna hitam.
"Sepertinya waktu berjalan agak lamban dan aku mulai menjadi tidak sabaran akhir-akhir ini."
Getaran suara barithone mengambil alih atensi Baekhyun. Suara khas Richard Park yang pertama kali ia dengar di dalam sebuah bar tak pernah membuatnya terbiasa.
Netranya tertaut dengan milik Richard, obsidian hitam yang memperlihatkan ketertarikan—jauh di dalam ekspresi diktatoris—sekaligus rasa ingin tahu pada pahatan tegas wajah Sang pemimpin yang terfiksasi sempurna.
"Saya merasa tersanjung karena berkesempatan berdiri di tempat ini Sir. Tetapi, hal yang kini mengganjal pikiran saya hanya perihal apa agaknya alasan anda memilih melakukan tindakan semena-mena seperti ini?" Baekhyun melayangkan pertanyaan tanpa basa basi—dengan maksud yang sama—pada pria di hadapannya. Penting baginya memastikan apakah Richard Park mengetahui rencana rahasianya atau tidak.
"Bocah ini terus menanyakan pertanyaan yang sama sejak awal. Itu menjadi sangat memuakkan." wanita itu duduk di atas sofa hitam mewah dengan gestur elegan.
"Aku pernah mengatakan, aku telah berhutang sesuatu. Sayangnya kedatangan seseorang yang tak diketahui alasannya membuatku berpikir lebih jauh. Terutama ketika melihat kamu berhasil menjadi seorang pembunuh demi mendapatkan imbalanmu. Bukankah kartel ini pantas skeptis?" Richard menjelaskan dengan tenang,
"Kamu jelas harus bekerja untuk kartel ini, Baekhyun. Sebuah simbiosis yang cukup baik bukan? Kartel ini membiarkanmu hidup, dan kamu membalasnya dengan tetap berada disini." lantas ia tersenyum puas.
Baekhyun merasa lega dan dipermainkan dalam satu momentum, "Begitu juga dengan saya Sir Park, saya sendiri pernah mengatakan sebelumnya—jika anda ingat Sir—saya berada disini untuk membeli kebebasan. Bukan menjadi budak atau seseorang yang terikat kontrak." ucapnya menentang.
Perkataannya ini memang berpotensi menyulut emosi Richard, Baekhyun tahu konsekuensi dari berhubungan secara langsung dengan orang sekelas Richard Park adalah siksaan—atau hal yang paling buruk, seperti berada antara keadaan hidup dan mati. Namun ia tak bisa membiarkan harga dirinya dipermainkan hanya karena Richard sangat menginginkan itu.
Terlalu banyak yang sudah ia korbankan, maka ia tak boleh mundur bagaimanapun situasinya.
Ketika Richard menatapnya, seakan-akan ruangan tempatnya berdiri mengikuti netra obsidian itu untuk menyerang psikis-nya. Memaksanya membocorkan sedikit saja kegoyahan dan membiarkan Richard Park menang atas kendali dirinya.
"Aku tidak bermaksud melakukan negosiasi denganmu, Byun Baekhyun. Keputusanku adalah titah mutlak, tak seharusnya dipertanyakan dan diragukan. Jika aku melihat sebuah usaha pelarian diri darimu, kupastikan tubuhmu akan berguna untuk kudapan rottweiler-rottweiler ku." Richard menjelaskan sekali lagi. Sebuah batas kesabaran yang sampai sejauh ini masih bisa ia berikan secara cuma-cuma.
Aura mengintimidasi menekan dadanya, Baekhyun merasakan setiap tarikan inspirasi menjadi semakin berat dan sulit saat ini. Sebuah jenis tekanan yang begitu astral dan abstrak menghinggapi raganya. Baekhyun tak paham, meskipun ia jelas merepresi dengan baik setiap emosi yang ia miliki, Richard yang menyombongkan tirani dengan penuh percaya diri di hadapannya jelas merupakan abstraksi ancaman dalam bentuk halus, paling halus. Seakan Baekhyun tak memiliki daya sedikitpun untuk melawan kekuasaan krusial seorang Richard Park.
Ia sangat tak menyukai kondisi dirinya yang payah seperti ini. Hanya berdiam menunggu dan menyerang ketika musuh memunggunginya, seperti seorang pecundang. Batinnya berdecih memikirkan betapa pengecutnya tindakan-tindakan itu saat ini.
"SuA akan membuatmu siap, mungkin memberimu beberapa misi sederhana ketika kamu sudah cukup berguna anak baru." Richard menyesap gulungan tembakau yang terapit di sela-sela jarinya, "Hanya pastikan kamu mengerti apa yang baru saja kita bicarakan mengenai konsekuensi jika kamu tetap berpikir melarikan diri adalah solusi terbaik." Richard menekankan setiap perkataannya.
Wanita yang ia ketahui bernama SuA tersenyum puas di sisi ruangan. Sama sekali tak berniat menutupi rasa senangnya di atas tirani Richard Park dan kartel Fraksi Merah yang mendominasi ketidak berdayaan Baekhyun.[ ]
Feed backs are highly appreciated!!
To be continued..
