Daybreak Mercenary

.

Fanfiction written by A. Amagiri

Summary:

Dungeon Gate. Kala ketika dunia manusia harus menerima dan berbaur dengan keberadaan monster. Apakah dunia kiamat? Tidak. Strata manusia pun berubah dengan kehadiran manusia-manusia yang memburu monster dan melindungi sesama. Merekalah yang disebut sebagai Seeker. "Oh, aku? Tidak. Aku menyebut diriku Daybreak Mercenary."

.

Warn: AU! Typo! OOC! etc.

Rate: T~M

Genre: Adventure, Fantasy, Slight!Comedy, Slight!Romance, etc.

.

Chapter 1: I Hate Notification!


Chapter 1

[...]

Naruto menoleh ke belakang dan mendapati bahwa salah satu patung tidak memegang tombaknya. 'Mungkinkah?' Dan Naruto mendapati salah satu patung itu bergerak dan melempar tombaknya ke arah atas dari pintu masuk ruangan itu. "SEMUA MENJAUH!" Naruto berteriak dan mendorong entah siapa untuk menjauh karena...

BLAM- DUAR- BLAM-

... tombak itu mengenai dinding atas pintu masuk ruangan harta dan menjatuhkan bebatuan yang menutupi satu-satunya pintu mereka untuk keluar. Untungnya tidak ada korban karena Naruto tepat memperingati mereka sebelum tombak itu mengenai dinding.

"A-ada apa i-ini se-sebenarnya..." tanya salah satu penambang yang mengalami shock setelah dua runtutan kejadian itu.

Naruto bangun dari jatuhnya dan menatap dengan raut meringis apa yang terjadi di hadapannya.

"Kurasa...

Patung-patung yang semula hanya diam menatap para manusia mengambil harta dengan wajah yang rakus, kini bangkit dengan tombak di tangan mereka siap menghujam siapapun manusia yang ada di sana. Sinar mata merah mengkilat tanda kemarahan terlihat dibalik helm yang digunakan patung tersebut. Mereka mulai berjalan secara pelan mendekati para penambang yang meringkuk ketakutan menatap apa yang sudah terjadi.

.

"... kita melakukan kesalahan."


Naruto's POV

Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Bencana macam apa ini. Patung-patung itu bergerak, memegang Spear di genggamannya dan menatap kami seolah-olah kami adalah hewan buruan yang siap untuk dibunuh kapan saja. Apa yang sedang terjadi di tempat ini.

"K-ketua Sung, a-a-apakah kita akan m-mati di sini?"

Seorang penambang menanyakan pertanyaan yang mungkin tidak memerlukan jawaban lagi. Kami semua bergetar tatkala patung itu bergerak secara perlahan. Getaran demi getaran dihasilkan ketika patung itu melangkah.

Sial apakah tidak ada jalan keluar di sini?! Aku menenangkan diriku sendiri dan menengok ke segala arah. Namun ruangan ini benar-benar tertutup. Pintu masuk pun sudah tidak bisa kami gunakan karena tertutup reruntuhan batu. Sial, kenapa tak ada petunjuk sedikitpun!

[Worship the Lord]

Siapa berbisik?! Aku menoleh kanan dan kiri tapi tidak ada yang berbicara denganku. Mereka sedang ketakutan dan ada yang sedang berdoa. Sementara para patung itu semakin mengikis jarak di antara kami.

[Praise the Lord]

Praise the Lord? Apa maksud semua ini?! Kepalaku jadi sakit sial!

[Prove your faith]

Kenapa hanya aku yang mendengar semua ini?! Tunggu apakah itu petunjuk? Worship the Lord? Praise the Lord? dan Prove your faith? Apa maksud semua ini? Siapa yang disembah? Siapa yang dipuja? Apa yang harus kami buktikan?! Tunggu. Mungkin aku mengerti. Setidaknya ini patut dicoba. Jika tidak, maafkan aku Kakek. Aku mungkin tidak akan menjengukmu lagi..

Naruto's POV End

"SEMUANYA DENGARKAN AKU!" Naruto berteriak dan semua menoleh ke arah Naruto dengan tatapan yang benar-benar putus asa.

"Aku tahu kita semua ketakutan dan sedang dalam putus asa, tapi mungkin ini bisa menjadi satu-satunya kita bisa selamat."

"Setidaknya pilihan tetap kita saat ini mungkin adalah kematian, tapi setidaknya kita bisa mencoba ini." Naruto menarik napas pelan. "Seandainya ini gagal, setidakya kita sudah berjuang bukan?" ucap Naruto sambil tersenyum. Berusaha membangkitkan semangat para penambang berusia yang jauh di atasnya. Sebenarnya siapa yang lebih dewasa di sini?!

"..."

"Baiklah aku percaya padamu, tapi apa rencanamu?" tanya Ketua Sung dan menatap serius Naruto.

"Aku ingin kita mendekati patung yang di tengah itu sambil merangkak layaknya kita memuja patung itu," ucap Naruto sambil menunjuk patung besar tanpa kepala yang hanya diam tidak seperti patung yang lainnya. Naruto pun merendahkan badannya dan mulai merangkak menuju patung yang di tengah.

"KAU GILA?! Yang ada kita hanya akan mati dibunuh patung yang bergerak itu!" teriak salah satu dari para penambang.

"Sudah kukatakan tadi, setidaknya kita sudah mencobanya. Ini adalah perjudian!" balas Naruto sambil berteriak juga.

"Kita lakukan," ucap Ketua Sung.

"K-ketua..."

"Apa yang dikatakan Naruto benar, setidaknya ini yang bisa kita lakukan ketimbang menunggu kematian di sana," ucapnya dan mulai merangkak.

Semuanya ikut merangkak dan secara perlahan merangkak menuju patung yang berada di pusat ruangan itu. Benar saja, patung-patung prajurit lainnya yang tadinya bergerak, semua terdiam. Tidak ada yang bergerak, ruangan menjadi sunyi sejenak. Yang terdengar hanyalah suara napas berat para penambang itu yang merangkak menuju patung besar itu. Mereka akhirnya sampai tepat di depan patung yang menjadi pusat ruangan itu.

"Naruto, apakah ini sudah selesai?" tanya Ketua Sung.

'Ada tiga hal yang aku dengar tadi, Worship the Lord, Praise the Lord, dan Prove your faith. Jika patung itu sudah berhenti, apakah artinya satu dari tiga hal itu sudah kami lakukan?' batin Naruto. 'Ini seperti riddle yang biasa aku mainkan di internet. Aku bersyukur sering bermain itu. Tunggu ini hal yang tak patut disyukuri.'

"Aku juga tidak tahu, Paman," Naruto menggeleng pelan dan menengadah ke atas menatap patung tanpa kepala dengan dua tombak di tangannya itu. Entah kenapa setiap ia menatap patung itu, rasanya benar-benar campur aduk di dalam pikirannya. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin mencuat dari pikirannya.

Namun, sesuatu kembali terjadi. Patung tanpa kepala, yang tadinya hanya diam tiba-tiba menggerakan badannya. "Sial. Semuanya LARI!"

Semua orang yang tadinya menunduk dan merangkak bangun dan berlari menghindari serangan brutal yang dilancarkan patung itu. Tombaknya dilempar berkali-kali kemudian ia mencabutnya kembali, lalu melemparnya ke arah kami kembali.

'Praise the Lord, Praise the Lord, Praise the Lord, apa maksud dari riddle ini?' batin Naruto sambil berlari menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan. 'Tunggu patung yang lain...' Naruto menoleh ke arah patung prajurit dengan satu tombak, 'Mereka tidak bergerak!'

"SEMUA IKUTI AKU, LARILAH KE PATUNG PRAJURIT DENGAN SATU TOMBAK!" Naruto berteriak sekencangnya agar semua orang di dalam ruangan mendengarnya. Patung tanpa kepala itu menoleh ke arah Naruto dan mengangkat tangannya untuk menargetkan Naruto. Ia yang melihat hal itu segera berlari sekencang yang ia bisa. Tombak sudah dilemparkan dan Naruto sedikit lagi akan sampai pada patung satu tombak.

CRASH- BLAR-

"NARUTO!"

Ketua Sung berteriak ke arah Naruto yang sedang dihujam oleh patung tanpa kepala itu dari sisi penglihatannya. Debu hasil tabrakan antara bebatuan memudar dan menampilkan sosok Naruto yang terduduk di sana dengan napas yang tidak beraturan. Semua terlihat baik-baik saja kecuali kakinya. Ia baru saja kehilangan sebelah kiri kakinya.

'Hah, aku selamat. Walaupun, kaki kiriku menancap di tombaknya, setidaknya aku belum mati,' batin Naruto sambil meringis kesakitan menatap kaki kirinya yang berdarah-darah. Semua bagian dari telapak kaki sampai pergelangan musnah dihujam tombak besar tadi entah dimana sekarang tertancap.

Layaknya sebuah sistem yang dirancang manusia untuk mendeteksi, patung tanpa kepala itu mengurungkan tangannya untuk menargetkan Naruto. Sebaliknya ia berbalik ke samping dan menargetkan ke arah dua orang pada patung yang sama. "TUNGGU, KAMI SUDAH DI PATUNG INI. KENAPA AKHHH,-"

BLAM- DUAR-

Naruto yang mengamati kejadian kematian secara cepat itu menyadari sesuatu. 'Patung itu hanya menyerang yang menggunakan satu patung untuk lebih dari satu orang. Sial, aku terlambat menyadarinya,' batin Naruto menyesali ia terlambat menyadari hal itu

"KALIAN CARILAH PATUNG UNTUK MASING-MASING, JANGAN ADA YANG BERKELOMPOK!" teriak Naruto menginstruksi orang-orang di sana untuk berpencar mencari patungnya tersendiri. Dan tepat setelah semua mendapatkan patungnya masing-masing, patung tanpa kepala itu diam kembali. Tidak lagi bergerak untuk memburu mereka layaknya babi hutan.

Belum selesai di sana, tanah dan langit di dalam ruangan itu tiba-tiba bergemuruh. Sesuatu berbentuk seperti altar mencuat dari tanah tepat di tengah-tengah ruangan itu, tepatnya di tempat awal patung tanpa kepala itu berdiri. Tujuh orang tersisa dari awalnya berjumlah sepuluh orang. Mereka berlari ke arah Naruto yang hanya terdiam menatap patung tanpa kepala itu.

"Demi Kami-sama. N-Naruto kau,- k-kakimu," ucap Ketua Sung sambil menutup mulutnya.

"Tidak apa Paman, aku baik-baik saja. Kurasa ini belum selesai," ucap Naruto sambil berusaha bangun dibantu oleh dua orang. "Hal terakhir yang harus kita lakukan adalah...

"... Prove your faith."

.


Saat ini di luar dari Gate Dungeon, Rias Gremory sedang menatap frustasi Gate Dungeon di depannya. Tim Penambang mereka hilang. Tim Kolektor yang bertugas mengangkut mayat-mayat monster sudah menyelesaikan tugasnya, sementara sudah 3 jam berlalu dan tim penambang belum keluar sama sekali. Setelah mereka mengeceknya ke semua sektor dari Gate Dungeon itu, tidak ada tanda-tanda penambang itu berada.

"Rias-buchou, kurasa mereka memasuki tempat itu. Kita belum mengecek tempat itu kan?" tanya perempuan cantik bersurai hitam dengan model rambut ikat ponytail.

"Kau benar Akeno. Aku juga memikirkan hal yang sama," jawab Rias sambil menatap Gate Dungeon itu. Ia menoleh ke arah kerumunan yang menatap khawatir Gate Dungeon itu. Mungkin salah satu teman atau mungkin keluarga mereka yang tergabung dalam tim penambang, tentu saja mereka khawatir tentang apa yang terjadi di dalam.

"Baiklah, bagi kalian tim kolektor yang sudah selesai bekerja, dipersilakan kembali dan meninggalkan Gate Dungeon ini. Terima kasih atas kerja keras kalian. Kami akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini," dengan ucapan itu, kerumunan itu bubar dan meninggalkan kelompok Rias Gremory di sana. Hari sudah menjelang sore dan mereka harus segera membereskan ini.

"Apa yang akan kita lakukan, Buchou?" kali ini seorang pria cantik, maksudnya pria dengan raut yang sangat tampan dan sekiranya mampu memikat hati wanita manapun bertanya pada ketuanya.

"Kita hubungi dulu Kakak, lalu kita coba masuk ke dalam untuk mengevakuasi mereka dan menutup Gate Dungeon ini," ucap Rias dan dibalas anggukan oleh para anggotanya.

.

"Apa kita harus mengorbankan diri?"

"Siapa yang akan menjadi korban di antara kita?"

"Seharusnya Ichiro yang menjadi korban, tapi ia sudah meninggalkan kita lebih dahulu."

"Tenanglah semua!" ujar Ketua Sung. Ia menarik napas pelan. "Aku yang akan berkorban," lanjutnya lagi. Ketua Sung melangkahkan kakinya ke arah altar itu. Tepat ketika ia menginjakkan kaki di dekat altar, muncul bola api berwarna kebiruan melayang. Satu menit, tidak terjadi apa-apa. Dua menit kemudian, tidak terjadi apa-apa. Tiga menit kemudian, tidak juga terjadi apa-apa.

"Kurasa kita semua harus ikut ke sana," ujar Naruto sambil meringis kesakitan karena kakinya.

Mau tidak mau mereka semua pun melangkah ke arah altar itu. Dan hal yang sama terjadi ketika mereka menginjakkan kaki di dekat altar itu, api kebiruan yang sama muncul dan mengitari mereka. Sesuatu yang luar biasa tiba-tiba terjad. Tanah bergemuruh dan bercahaya membentuk suatu pola yang aneh.

BLARRRRR-

Ledakan terjadi pada pintu dimana mereka tadi masuk dan pintu yang seharusnya bisa membuat keluar. "Pintunya terbuka! Tidak terhalang reruntuhan itu lagi!" Namun, secara bersamaan, patung-patung dengan satu tombak yang tadinya diam bergerak. Yang berbeda, mereka tidak lagi mengarahkan tombaknya, mereka hanya mendekati para penambang itu.

"T-t-tunggu, m-mereka bergerak lagi. Tapi pintunya terbuka," ucap salah satu penambang itu. Patung-patung itu bergerak dan semakin mendekat ke arah altar. Suara dentuman kaki yang berat benar-benar membuat mereka bergetar ketakutan.

"Maafkan aku, tapi aku tidak mau mati di sini," Satu orang pergi melarikan diri dari altar dan menuju pintu keluar. Patung-patung itu tidak mengejar sama sekali penambang yang kabur itu dan tetap bergerak menuju arah altar.

"TUNGGU APA YANG KAU LAKUKAN! KITA HANYA PERLU MENUNGGU DI SINI" teriak Naruto berusaha mencegah orang itu pergi. Namun, melihat ia tidak dikejar sama sekali oleh patung itu membuat para penambang yang lain menjadi semakin tidak bisa menahan diri.

Satu persatu para penambang itu melarikan diri dari altar dan tampaknya perkumpulan patung itu juga tidak mengejar mereka. "TUNGGU JANGAN PERGI! SIAL!"

Dari tujuh menjadi enam, enam jadi lima dan empat, empat menjadi tiga. Dan saat ini hanya tersisa Naruto, Ketua Sung, dan satu orang penambang lainnya.

"Maafkan aku juga Ketua Sung, Naruto-san, t-tapi aku juga sudah tak tahan," tepat setelah mengucapkan itu, ia menjatuhkan Naruto dari papahannya dan berlari keluar meninggalkan Ketua Sung dan Naruto berdua.

"Sial!"

"Naruto, kita harus keluar sekarang juga," ucap Ketua Sung sambil berusaha memapah Naruto dengan tergopoh-gopoh. Ia menatap para patung itu yang jaraknya hanya tinggal sedikit lagi mendekati altar.

"Kurasa hanya salah satu dari kita yang bisa keluar, Ketua Sung," ucap Naruto sambil tersenyum miris. "Tinggalkan saja aku di sini," ujar Naruto.

"Tidak! Kita akan keluar bersama-sama. Bagaimanapun, kau sudah membantu kami bertahan hidup di sini. Aku tak akan,-"

"Ketua Sung! Kau memiliki keluarga. Aku tidak memiliki siapapun untuk menyambutku ketika aku pulang. Kakekku sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, kumohon jika kau berhasil selamat tolong sampaikan pada Kakekku bahwa aku menyayanginya," ujar Naruto sambil tersenyum.

"Tapi, Nar,-"

"Pergilah," Naruto mendorong Ketua Sung untuk pergi, meninggalkan ia jatuh terduduk di sana. Gemuruh kembali terjadi dan sepertinya reruntuhan akan kembali menutup pintu masuk itu. 'Maafkan aku Naruto dan terima kasih untuk segalanya. Aku tidak akan melupakan jasamu.' Bersamaan dengan itu, Ketua Sung berlari dan setelah ia melewati pintu lorong itu, reruntuhan terjatuh dan menutupi akses keluar masuk ruangan tersebut.

Naruto menatap kepergian Ketua Sung kemudian tersenyum kecil. Ia menatap kembali patung-patung yang sudah selangkah di depannya.

"Yo, apa kabar kalia,- OHUAKK!"

Naruto tepat ditusuk di bagian perut lalu diangkat layaknya ia adalah sebuah hewan buruan dan diletakkan tepat di atas altar. Naruto memegang satu tombak yang menancap di perutnya dan mencoba melepaskannya. Sayang, ia sudah kehabisan tenaga dan sebentar lagi adalah ajalnya. Patung-patung itu mengangkat tombaknya dan bersiap untuk menghujamnya. Satu, dua, tiga, empat, sembilan tombak akan menusuk tubuhnya.

"Selamat tinggal."

JLEB-

.

.


Naruto's POV

TES- TES- TES

Gelap. Inikah yang disebut kematian? Jujur saja aku belum siap untuk meninggalkan dunia. Ada banyak hal yang harus aku lakukan dan bahkan aku belum sempat berpamitan kepada Kakek. Maafkan aku Ero-Sannin. Aku meninggalkanmu lebih dulu. Haha..., kau pasti akan sangat marah padaku. Tubuhku terasa mengapung di atas air. Entah apa yang sebenarnya terjadi setelah aku tertusuk entah berapa tombak oleh patung itu, tapi aku berada di tempat yang sepertinya bukanlah Surga ataupun Neraka. Sejauh mataku memandang hanya ada kegelapan.

"Ini menyebalkan."

Entah apa yang terjadi pada Ketua Sung dan orang-orang lainnya. Apakah mereka berhasil selamat? Seharusnya pihak Guild datang menyelamatkan karena kami berada di sana lebih kurang sekitar 4 jam. Atau mungkin 5 jam? Entahlah aku tak ingat pasti. Yang jelas itu bukanlah mimpi, rasa nyeri pada perut dan kakiku masih terasa walaupun saat ini juga itu sudah utuh.

"..."

[Yang mati berlalu, yang datang silih berganti]

"Siapa di sana?"

Aku mendengar suara. Suara yang sama seperti bisikan saat berada di dalam Gate Dungeon itu. Namun, kali ini suaranya terdengar lebih jelas dan berat. Bukan lagi berupa bisikan seperti saat itu. Suaranya terdengar dari atas. Bukan, bukan dari atas tapi bawah. Tidak, dari kanan. Tunggu suara itu terdengar dari segala arah.

"Tunjukkan dirimu yang sebenarnya. Kau adalah orang yang sama saat itu bukan?"

[Kelahiran seorang Daybreak Mercenary]

Dia tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Lalu, Daybreak Mercenary? Aku tidak pernah mendengar istilah itu. Itu terdengar seperti sebuah dongeng untuk para tentara yang akan berperang pada masa revolusi.

"Siapa kau? Dan apa maksudmu?"

[Aku adalah kau dan kau adalah aku]

TWITCH

Makhluk itu entah jenis apa dia benar-benar membuatku emosi. Entah apa sebenarnya dia, aku bersumpah akan membuatnya merasakan kesakitan. Jika aku bertanya ini, apakah ia akan menjawabnya? Mari kita coba.

"Hey, jawab pertanyaanku. Apakah aku sudah mati?"

[Belum saatnya]

"ARGHHH! KAU MEMBUATKU FRUSTASI!"

Cahaya terang tiba-tiba muncul dan menyilaukan mataku. Itu adalah satu-satunya cahaya yang menerangi gelap gulitanya tempat yang tak aku ketahui ini. Dari cahaya itu lahirlah sesuatu. Memiliki siluet layaknya sebuah tombak. Dual Spear. Itu adalah Dual Spear. Dual Spear itu bergerak ke arahku, tepatnya ke kedua tanganku seolah-olah memintaku untuk menggenggamnya. Aku langsung mengambilnya dan sesaat setelah itu, cahaya yang menyilaukan itu melahapku.

[Ini saatnya kau kembali]

.


PATS

"Hosh... hosh..."

Di mana aku? Aku menatap sekeliling, bau obat-obatan tercium oleh indra penciumanku. Ini..., rumah sakit? Aku menatap perutku dan menggerakan kaki kiriku yang masih utuh. Tidak ada bekas luka apapun yang terjadi.

"Mimpi... ?"

Apakah itu semua mimpi? Semua kejadian itu benar-benar nyata terjadi padaku. Pintu kemudian terbuka dan keluar sosok pria bersurai abu-abu dengan menggunakan masker. Siapa dia?

"Kau sudah sadar rupanya," ucapnya.

"Siapa..., siapa Anda?" tanyaku pada pria ini.

"Maaf membuatmu terkejut. Namaku adalah Hatake Kakashi, aku adalah Departemen Pengawas Seeker Jepang. Kedatanganku ke sini untuk bertanya beberapa hal mengenai kejadian tiga hari lalu," ucap pria yang namanya kalau tidak salah dengar adalah Kakashi. Tapi tunggu, tiga hari?

"Saya tidur selama tiga hari?!"

Pria Kakashi itu mengangguk pelan. "Lalu, apa yang terjadi saat evakuasi berlangsung? Apa kalian berhasil membasmi monster patung itu?" Aku langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. Aku memerlukan sebuah jawaban terkait tentang kejadian itu. "Dan apakah semuanya berhasil selamat?"

Kakashi menarik napas pelan. "Semuanya selamat tidak ada korban jiwa. Mengenai monster patung yang kau sebutkan dan para saksi selamat katakan, kami mengecek tempat itu dan tidak ada apa-apa di dalamnya."

"Setelah menerima laporan dari Tim Rias Gremory, kami segera mengecek tempat itu dan yang kami temui hanyalah dirimu tidak sadarkan diri. Kami tidak menemukan jejak-jejak patung yang kalian sebutkan."

Mataku membulat. Tidak mungkin, itu tidak mungkin hanya sebuah mimpi bukan?

"T-tidak mungkin. Itu tidak mungkin sebuah mimpi bukan?" tanyaku dengan raut horor.

"Itu bukan mimpi karena kenyataannya, kau dan tim penambang benar-benar sempat masuk ke sana dan juga ada kesaksian tersendiri dari Tim Rias Gremory serta dari tim kolektor. Namun, keberadaan monster patung itu yang benar-benar kami ragukan kebenarannya," ujar Kakashi.

"Apa kau tidak menemukan mayat lain selain aku?" tanyaku lagi memastikan. Seingatku ada tiga orang yang terbunuh saat itu.

"Tidak ada, yang tersisa hanyalah kau dengan kondisi tak sadarkan diri."

Ini benar-benar sulit dipercaya. Kejadian itu bahkan terasa seperti baru kemarin terjadi. Tapi kenapa..., apa mungkin patung-patung itu membereskan kekacauan yang terjadi? Sial, ini membuatku semakin sakit kepala.

"Lalu, apalagi yang ingin kau ketahui?" tanyaku lagi pada Kakashi karena sepertinya masih ada yang ingin dibahas jika melihat gelagat mereka belum ingin pergi dari sini.

"Ini hanyalah pendapat kami, tapi kami yakin bahwa kau mengalami Awakening."

"Huh, Awakening?" beoku.

Awakening setahuku adalah suatu kejadian dimana terjadi peningkatan besar-besaran pada manusia ataupun Seeker. Sederhananya Awakening itu membuat kenaikan rank pada Seeker, misal dari yang semula adalah E-rank, menjadi B-rank. Tapi, aku adalah seorang manusia tanpa bakat seorang Seeker, apa ini artinya aku berubah menjadi Seeker?

"Kami membawa alat untuk mengukur Mana. Silakan letakkan tangan anda pada alat ini."

Aku meletakkan tanganku di sana. Terakhir yang aku ingat, ketika aku melakukan pengecekan dengan ini, nilai Mana-ku adalah 0 dengan artian aku tidak bisa menjadi Seeker. Dan tak lama, angka berputar dan menunjukkan angka 63. Tunggu ini artinya ada aliran Mana di dalam tubuhku. Apakah ini akibat dari Gate Dungeon itu?

"Apa sebelumnya kau memiliki aliran Mana tertentu?" tanya Kakashi padaku. Aku menggeleng. "Sebelumnya aku tidak memilikinya. Aku bukanlah seorang Seeker dulunya."

"Baiklah, dengan begini kau sudah bisa menjadi Seeker E-rank. Kami akan mengurus Kartu Identitasmu. Terima kasih atas kerja samanya." ucap Kakashi sambil membungkukkan badan 90 derajat. "Dan satu lagi, saat kami menemukanmu, tanganmu menggenggam dua buah Spear. Kami membawanya karena kami pikir itu milikmu," ujarnya.

"Lalu di mana itu sekarang?"

"Tepat di pojok ruangan sana. Dual Spear itu tetap kembali walaupun kami menjauhkannya darimu."

Aku menoleh ke pojok ruangan dan mendapati Dual Spear yang sama seperti saat di ruangan gelap itu. Mereka mengikutiku?

"Baiklah, kami harus pergi. Sekali lagi terima kasih."

"Tunggu, sebelum itu. Apakah Anda melihat sesuatu yang aneh di sekitar wajah saya?" tanyaku karena bisa dibilang ini sangat mencolok.

"Apa maksudmu? Tidak ada yang aneh di sana," jawabnya.

"Begitu kah? Baiklah, Arigatou."

Orang itu akhirnya pergi. Sebenarnya sesuatu yang kumaksud adalah hologram ini. Tidak ini bukan hologram, terlihat seperti layar status ketika kau bermain game MMORPG.

.

-[NOTIFIKASI]-
Anda sudah memenuhi semua persyaratan dalam Hidden Quest: "The Courageous of Weak"

.

-[NOTIFIKASI]-
Anda mendapatkan title "The Courageous One"
Persyaratan untuk Quest baru terbuka.

.

Apa ini? Notifikasi. Apakah benar Kakashi tadi tidak melihat sesuatu seperti ini. Ini benar-benar seperti di dunia game.

.

-[NOTIFIKASI]-

Anda mendapatkan Quest Harian Baru: "Prepare to Be The Strongest"
Lakukan hal-hal berikut demi persiapan menjadi yang terkuat.
- Lari (0/5km)
- Push Up (0/50)
- Sit Up (0/50)
- Squat (0/50)
Warning: Penalti akan diberikan jika tidak menyelesaikan sesuai batas waktu
Sisa waktu: 11 jam 52 menit 08 detik

.

Kurasa aku sudah menjadi gila karena bisa melihat ini. Dan apa-apaan itu, kondisi sedang sakit begini malah diminta melakukan lari, push up, sit up, dan squat? Ini benar-benar bercanda.

"Sudahlah, aku akan tidur saja. Kepalaku pusing."

[...]
Sisa waktu:
11 jam 50 menit 49 detik

.

.

Batas waktu: 0 jam 0 menit 1 detik

.

Entah kenapa aku seperti dipaksa membuka mataku. Dan kali ini aku terbangun bukan di rumah sakit. Aku terbangun tepat di gurun. Entah bercandaan apalagi yang diarahkan kepadaku.

"Ini bercanda kan? Pasti ini hanyalah mimpi biasa, sebentar lagi aku akan bangun." aku bermonolog sendiri.

Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, dan tidak terjadi apa-apa. Sial! Aku mengambil pasir dibawahku dan ini..., sungguhan. Aku berada di gurun pasir. Tiba-tiba tanah di bawahku bergemuruh. Astaga apalagi yang akan terjadi. Dan tepat dibelakangku, muncul sesosok monster Scorpion raksasa yang berukuran jauh lebih besar dariku. Sebuah notifikasi muncul di kepalaku.

.

[NOTIFIKASI]
Quest Penalti:
Bertahan hidup selama 4 jam!
Quest Harian tidak dilaksanakan sehingga Quest Penalti diberikan!

Sisa waktu: 3 jam 59 menit 55 detik.

.

"Kurasa..., ini bukan bercanda ataupun mimpi..." ucapku horor.

.

.

TBC


A/N:

Yo~ update kilat!

Ahahaha, sebenarnya tadinya aku mau gabung dengan Prologue yang awal. Tapi di tengah jalan aku mengurungkan niatku dan membaginya menjadi 2 Chapter. Satu untuk Prologue dan ini Chapter 1.

Aha Solo Leveling! Jujur aku demen banget sama manhwa yang satu itu. Respect for the Creator/Authornya!

OKE ADA NOTIFICATION, jujur aku suka banget sama part notification itu. Yah, mungkin sudah ada yang pernah ngelakuin ini, tapi itu satisfying banget dah ahahaha.

Aku agak insecure sama bagian di mana terjadi konflik-konflik bersama para patung itu. Puas sama hasilnya tapi insecure lihatnya T-T

Disini aku buat kakeknya Naruto itu adalah Jiraiya. Alasannya simpel, Jiraiya itu sosok yang pas buat jadi Guru, Ayah, Mentor, bahkan Kakek itu sendiri karena sifatnya yang konyol. So, I decided to put Jiraiya as his Grandfather.

Okey untuk design Dual Spear sendiri sih, aku pakainya Dual Spear Karl Heron dari Seven Knights (Game MMORPG) karena keren aja.

Anyway, thanks buat kalian yang sudah review dan sempet baca. I really appreciate that. Kedepannya aku masih butuh saran dan kripik kalian, sampaikan di kolom review yaa. Semoga masih bisa update kilat ohoho, karena disibukkan oleh ujian sebentar lagi T-T.

Sekali lagi thanks a lot! Dan jangan lupa jaga kesehatan!

See ya~


Vocabulary

Gate Dungeon: Bencana besar lima tahun lalu dimana bermunculan portal-portal yang menghubungkan dimensi manusia dengan dimensi lain yang penuh akan monster, masih belum diketahui penyebab Gate Dungeon muncul.

Seeker: Manusia yang diberkahi kekuatan untuk membasmi para monster di dalam Gate Dungeon.

Raid: Kegiatan membasmi monster di dalam Gate Dungeon sekaligus mengambil semua sumber daya yang ada di dalamnya.

Mana: Aliran energi yang mengalir di dalam tubuh manusia. Masih belum ditemukan asalnya dan hanya terdapat pad Seeker.

Daybreak Mercenary: ? ? ? ? ?