Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_White Crystal_
_ooOOOoo_
Chapter 1
^%Akashi Family^%
Langkah kaki kecil mendengung ke seluruh ruangan yang begitu luas. Pemandangan yang pertama kali terlihat ialah kumpulan pria dan wanita berseragam dengan wajah tersenyum juga menunduk untuk memberi penghormatan. Setelahnya, akan terdengar sapaan juga tawaran sebuah bantuan, tak berapa lama akan terdengar helaan nafas dan berujung pada pengacuhan. Jengkel? Sudah pasti, tapi apa daya, ini merupakan aktivitas rutin yang tempo hari dilakukan oleh remaja bersurai Baby Blue.
Kelereng biru lautnya mengedar ke seluruh ruangan, tak ada yang berubah bahkan masih sama seperti dulu. Tatanan perabot, vas yang berjejer, foto keluarga bahkan suasana sunyinya pun tak berubah. Ia mendengus pelan, tas yang tersampir di bahu kanannya ia biarkan terjatuh dan hanya menyeretnya. Tak ada alasan khusus, hanya saja lelah seharian berada di tempat untuk menimba ilmu namun pemandangan yang ia temukan untuk pelepas penat hanyalah kesunyian.
"Tadaima" gumamnya pelan nyaris terdengar seperti bisikan.
Pria Baby Blue itu segera menuju kamar dan melempar tubuhnya ke ranjang berukuran King Size dengan warna Baby Blue Favoritenya. Lengan kanannya menutup kedua mata sedangkan tangan satunya ia biarkan menyentuh kasur empuknyaa. Berkali – kali helaan nafas keluar dari bibir mungilnya. Ayolah, ini terlalu sepi untuk rumah yang lebih cocok di sebut Mansion.
"Lembur lagi, Huh" Gerutunya.
Tak perlu di tanya apa maksudnya, sudah pasti gerutuannya karna jam digitalnya sudah menunjukkan pukul 07:00 malam dan sudah saatnya makan malam tapi tak ada satupun anggota keluarganya terlihat. Ia membuka lengan yang menutup kedua matanya, melirik sekilas ke arah jendela yang menunjukkan langit luas bertabur bintang. Fikirannya melambung jauh namun pandangannya kosong.
"Sei-Nii pasti lembur karna Client penting. Shintarou – Nii beum tentu pulang apa lagi aku dengar dia akan melakukan operasi malam ini. Atsushi – Nii akan sampai rumah jam 11:00 saat Restorannya tutup, Daiki – Nii menginap di Asrama karna pelatihan penting dan…" Pria itu menghela nafas lagi. "Ryouta – Nii masih di Kyoto untuk sesi pemotretan majalah bulan depan"
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan tak sengaja memandang sebuah foto pria bersurai pelangi tengah tertawa sembari tersenyum dengan tangan yang saling berangkulan. Bibir Pria itu terpaut saat memorinya mengulang kembali masa dimana semuanya tak sesibuk ini, bahkan walaupun sibuk, mereka pasti memiliki waktu untuk sekedar makan malam bersama. Segera pria itu menarik salah satu bantal dan menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Menghirup aroma Vanilla yang ia sukai dan membawanya dalam kenyamanan.
"Tetsuya - sama, sebentar lagi makan malam akan siap. Anda ingin makan di ruang makan atau kami bawakan ke kamar?" Tanya seseorang dari luar.
Remaja yang awalnya sudah mulai nyaman dengan posisinya kini menarik kembali kepalanya dari bantal dan menghela nafas lagi. Remaja bersurai Baby Blue dengan pemilik nama lengkap Akashi Tetsuya yang merupakan bungsu dari Keluarga Akashi itu masih tak bergeming. Sebenarnya ia lelah, tapi ia tak ingin mengecewakan pelayan yang sudah membuatkan makan malam, Tetsuya pun segera bangkit.
"Arigatou, Aku akan segera turun" balasnya pelan.
Blazer yang masih melekat di tubuhnya kini ia buka, dasi hitam juga kemeja birunya ia ganti dengan kaos polos berwana Biru langit dan celana selutut berwarna putih polos, cukup sederhana untuk seorang Tuan Muda dari keluarga kalangan atas. Tak perlu menunggu lama, Tetsuya bergegas keluar kamar dan mendapati seorang pelayan menunggunya di sana.
"Tanaka-san?" Seorang pria yang berusia sekitar 50 tahunan bediri di samping kamarnya sembari memberikan senyuman hormat.
"Konbanwa, Tetsuya-sama." Tetsuya terkesiap, ia segera mengangguk kecil.
"Konbanwa" sapanya lagi. "Apa yang Tanaka-san lakukan disini?" lagi dan lagi, pria itu akan membungkuk hormat sembari tersenyum.
"Ini sudah menjadi kewajiban untuk mengingatkan Tetsuya-sama untuk segera makan malam, Seijuurou – sama meminta saya untuk mengawasi Tetsuya-sama saat makan malam." Tetsuya memutar bola mata malas.
"Arigatou, Tanaka-san. Tanaka-san tidak perlu repot – repot mengingatkanku, lagi pula ini hanya makan malam"
"Tapi – "
"Sudahlah, lagi pula Sei – Nii tak ada di sini." Tetsuya melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang makan di susul Tanaka di belakangnya. "Oh ya Tanaka-san, mulai besok, aku ada pelajaran tambahan hingga malam. Katakan pada Ani-san Tachi untuk tidak khawatir dan aku akan pulang sendiri mulai besok, jadi Tanaka-san tak perlu menjemputku lagi"
"Sumimasen Tetsuya-sama, kalau seperti itu saya tak yakin jika Seijuurou – sama akan setuju, untuk alasan pulang terlambat mungkin bisa di terima, tapi untuk jemputan, mungkin Seijuurou – sama akan menentangnya. Tak hanya itu, yang lain juga tak akan setuju" Tetsuya tersenyum kecil, sangat kecil karna wajahnya yang selalu datas alias minim ekspresi.
"Tenang saja, mereka akan setuju." Tetsuya melangkah sembari tersenyum kecil. "Lagi pula, musim semi tahun depan aku akan masuk Sekolah menengah Atas. Aku rasa ini sudah saatnya untuk mandiri" Jelas Tetsuya dengan penuh rasa percaya diri.
Seulas senyuman bangga terukir manis di wajah pria yang sudah berumur itu, matanya menunjukkan sebuah kepuasan dan rasa bangga yang memenuhi rongga dadanya. Sang Tuan muda yang sejak berusia 5 tahun bersamanya kini telah tumbuh menjadi remaja yang luar biasa. Mungkin ada satu kata yang menggambarkannya, Akashi Tetsuya menjadi lebih dewasa dari yang dulu ia kenal. Terlebih, untuk sekian lama ia akhirnya melihat senyuman di wajah sang Tuan Muda.
Meja makan dengan ukuran Abnormal alias terlalu besar untuk di tempati 6 orang itu kini tertata rapi hidangan yang menggugah selera makan. Namun sayangnya, makanan itu hanya tersedia diatas sebuah kursi, sudah jelas itu kursi sang tuan muda Akashi Tetsuya. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk dan menyantap makanannya setelah berujar "Ittadakimasu".
Tanaka masih setia berdiri disamping sang Tuan Muda yang sibuk menyantap hidangan makan malamnya sendirian. Jujur saja, dahulu ruangan ini tak sesepi ini, bahkan lebih dari kata berisik dan penuh canda tawa. Sang Tuan Besar Akashi akan duduk di ujung meja dengan sang Istri di sebelah kiri sedangkan di kanan ada Si Sulung bersurai merah Seijuurou. Di samping Seijuurou ada putra kedua bersurai Hijau, Shintarou diikuti putra ketiga bersurai Ungu, Atsushi. Di depan Atsushi ada Daiki, putra keempat yang memiliki surai Navy Blue, sebelah Daiki ada Ryouta, sang putra kelima dengan surai kuning yang berhadapan dengan Midorima. Teristimewa ada si Bungsu yang duduk di pangkuan sang Tuan besar. Walau usianya sudah menginjak 2 tahun, tapi tubuhnya yang kecil membuatnya mendapatkan tempat yang istimewa.
Setiap makan malam berlangsung, ada saja candaan juga tawa yang menggema, terlebih karna tingkah si Bungsu yang polos juga jarak usia yang cukup jauh dengan saudara lainnya. Di saat Tetsuya berusia 2 tahun, Seijuurou sudah berusia 12 tahun, Shintarou berusia 11 tahun, Atsushi 10 Tahun, Daiki 8 tahun, dan Ryouta 6 tahun. Perbedaan yang cukup mencolok tapi memberikan warna yang baru. Senyuman polos dari surai Baby Blue akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kelima kakaknya.
Walau penuh dengan tawa juga kehangatan, sejujurnya keenam atau lebih tepatnya kelima putra Akashi di didik secara keras oleh Tuan Besar Akashi. Selain untuk mempersiapkan masa depan, juga ini demi motto keluarga yang menjunjung tinggi kesuksesan dan kemenangan. Tetsuya yang masih berumur 3 tahun tentu saja mendapatkan prilaku istimewa karna sang Ibu yang membelanya. Namun saat ia berusia 3 tahun, didikan keras di mulai. Mulai dari memberikan peraturan juga pendidikan tentang tata krama yang mengikat.
Awalnya Tetsuya memang sulit di kendalikan, tapi setelah usianya 4 tahun, ia sudah mulai terbiasa, terlebih kelima kakaknya ikut membantunya. Sedikit demi sedikit, aturan itu mulai mengikat Tetsuya kecil, bahkan untuk kelima kakaknya, aturan itu seperti Borgol permanen yang tak akan bisa mereka lepas jika mereka tak berhasil menemukan kunci keberhasilan seorang Akashi.
Tetsuya kecil dipaksa untuk menjadi lebih dari sang kakak yang terlebih dahulu meraih kesuksesan dalam segala bidang yang di kuasai saat seumur dengannya. Perlombaan mewarnai, olympiade lari bahkan segalanya sudah di capai kelima kakaknya. Tapi Tetsuya kecil mendapatkan nasihat kecil dari sang Ibu.
"Yakinlah, sesulit apapun tujuan yang ingin kau raih, dengan usaha keras pasti akan tercapai. Jangan menyerah dan lampaui kelima Aniki-mu"
Bagaikan mengukir di atas batu besar, kata – kata itu tertempel di benak Tetsuya dan menjadikannya motivasi saat ia ingin melakukan segala hal yang berhubungan dengan sang Kakak. Ia yakin bisa lebih dari sang kakak yang notabenenya mudah melakukan segala hal tanpa susah payah, tapi bagi Tetsuya itu butuh perjuangan, apa lagi dari segi fisik. Tetsuya yang lahir secara prematur tentu saja memiliki tubuh yang rentan terhadap penyakit. Ia mudah lelah bahkan bisa saja pingsan jika tenaganya terkuras habis. Beruntungnya, ia memiliki kecerdasan yang sama bahkan sebenarnya lebih dari sang kakak. Tapi karna pencapaian dalam tingkat kecerdasan sudah menjadi hal umum untuk keluarga Akashi, jadi kecerdasan saja tak akan cukup untuk menyaingi kelima kakaknya.
Lupakan tentang kecerdasan mereka yang di atas rata – rata, persaingan antar saudara sesungguhnya ialah keistimewaan mereka masing – masing. Seijuurou yang selalu benar dan Absolut, Shintarou yang memiliki prediksi yang tak pernah meleset, Atsushi yang dengan cepat menyadari kesalahan dan secara refleks memperbaiki, Daiki yang bisa melakukan segalanya dengan mudah dan Ryouta yang bisa meng-copy gerakan yang selalu dilihatnya. Lalu bagaimana dengan Si bungsu? Kemampuan apa yang ia miliki? Hanya tidak mudah menyerah? Ah itu bukan jawaban, tapi satu yang selalu terukir dalam lubuk hatinya.
"Akan ada saat dimana ia mampu menemukan sesuatu yang tak akan dimiliki kakaknya"
Remaja bersuarai Baby Blue selalu percaya akan ada saat untuknya, kesempatan emas itu akan datang seiring berjalannya waktu. Walau tak tau kapan, atau bahkan masih terlalu jauh untuk ia capai. Tetsuya meyakini satu hal, kerja kerasnya tak akan sia – sia.
"Terima kasih atas makanannya" Tetsuya meletakkan sumpit dan merapikan sisa malamnya dalam seuah nampan agar pelayan tak sulit membawanya. Ia melirik k earah jarum jam, masih pukul 07:30. Segera ia melirik ke arah Tanaka yang masih berdiri di sampingnya. "Tanaka-san"
"Haii, Tetsuya-sama" jawab Tanaka cepat.
"Aku mau keluar sebentar, ada beberapa buku yang harus ku beli. Jika ada yang datang atau Ani-Tachi ada yang pulang, katakan aku tak akan lama"
"Sumimasen Tetsuya-sama, sebaiknya saya mengantar Tetsuya-sama."
"Tidak usah Tanaka-san, ini hanya sebentar. Tokonya juga tak terlalu jauh, jadi Tanaka-san tak perlu khawatir"
"Tapi Tetsuya-sama –"
"Aku janji akan pulang cepat dan akan baik – baik saja" Tetsuya menatap penuh harap ke arah Tanaka yang masih menunjukkan ekspresi ragu. "Hmm, bagaimana kalau seperti ini, Tanaka-san susun jadwalku bulan ini secara detail selama aku pergi nanti. Mulai dari jadwal sekolah sampai kegiatan rutin tiap bulan, jika aku belum pulang saat Tanaka-san selesai menyusunnya, Tanaka-san boleh menjemputku." Tetsuya menunjukkan Smartphone berwarna Baby Bluenya. "Nomorku akan selalu aktif, Tanaka-san"
Mengalah adalah salah satu cara untuk menangani sang tuan muda yang keras kepala. Walau Tanaka adalah pelayan pribadi Tetsuya dan merupakan orang kepercayaan kedua oragtua Keluarga Akashi yang telah tiada, tapi tetap saja, jika berhadapand dengan sifat keras kepala si bungsu, ia akan mengalah.
"Wakarimasu, Tetsuya-sama boleh pergi tapi segeralah kembali sebelum saya selesai menyusun jadwal rutin Tetsuya-sama"
"Arigatougozaimasu, Tanaka-san"
_ooOOOoo_
Surai Baby Blue berjalan pelan menuju sebuah Kasir untuk membayar beberapa buku yang beberapa menit lalu ia beli. Sekitar 5 buku pelajaran wajib dan 3 Light Novel terbaru, tak luput alat tulis juga ia beli sebagai cadangan jika sewaktu – waktu ia kehilangan salah satu alat tulis saat ujian. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, ia langsung keluar dari toko tersebut. Baru beberapa langkah keluar dari Toko, sebuah Limousin putih berhenti tepat di depannya.
Pemilik rambut Baby Blue tentu saja langsung mengenali siapa pemilik Limousin mewah itu, tapi kenapa di saat seperti ini? Baru saja ia tersadar dari keterkejutannya, pintu Limousin itu terbuka dan menampakkan 5 surai berwarna pelangi keluar dengan wajah setengah kesal, protectif juga ekspresi yang membutuhkan penjelasan lebih.
"Tetsuya-cchi" pria bersurai kuning – Akashi Ryouta – langsung menerjang sosok mungil di Baby Blue dengan pelukkan maut.
"Oi Ryouta! Jangan memeluknya seerat itu, kau ingin membunuh Tetsu!" teriak si surai Navy Blue – Akashi Daiki – yang menarik kerah bagian belakang Ryouta untuk melepaskan pelukkan mautnya.
"Hidoii-ssu! Aku masih ingin memeluk Tetsuya-cchi" dengus Ryouta.
"Kalian berdua, bisakah tidak berisik! Ini di pinggir jalan, kalian ingin membuat orang – orang berfikir aneh, Nanodayo" Rutuk pemuda bersurai Hijau, - Akashi Shintarou –.
"Daiki-Chin, Ryouta-Chin, sebaiknya kalian tidak ribut." Ujar pria bersurai ungu dengan nada malas miliknya, ekor matanya melirik ke arah si surai Baby Blue yang masih dalam posisi antara di peluk dan di tarik oleh tangan Ryouta. "Tetsu-Chin, sebaiknya kau masuk. Udara di luar mulai dingin." Si Surai Baby Blue mengangguk, namun belum lagi melangkah, sang kakak Ryouta sudah menariknya ke dalam pelukkan yang berakhir terjatuh di jalanan.
Braaak..
"Itt,ittai-ssu" ringis Ryouta saat tubuhnya berbenturan dengan aspal jalanan dengan si Baby Blue juga terjatuh di sampingnya.
"Dasar Bodoh! Cepat bangkit dari sana, sebentar lagi lampu akan berubah jadi hijau Nanodayo!" gerutu Shintarou. Benar saja, setelah mereka bangkit, lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau dan mobil – mobil dengan kecepatan tinggi langsung melintas.
"Hampir saja" desah Daiki lega, "Kau tak apa – apa Tetsu?"
"Un! Aku baik – baik saja, tapi kenapa kalian datang tau aku disini?" tanya si Baby Blue yang dari tadi hanya diam.
"Kau tau peraturan keluarga Akashi kan, Tetsuya" sebuah suara dingin menjawab pertanyaan si surai Baby Blue. Pria dengan warna rambut merah dan mata merah yang terkadang berubah menjadi heterocrome –Akashi Seijuurou – berjalan pelan untuk mendekatinya.
"Di larang keluar rumah lewat dari jam 08:00 malam tanpa ada yang mengawasi" jawabnya polos.
"Tepat sekali, dan kau lihat sekarang sudah jam berapa?" Tetsuya melirik jam yang tertera di Smartphonenya, cukup dengan mengetahui pukul berapa sekarang, ia tau akan kesalahannya.
"Gomenasai, Nii-san. Aku lupa waktu saat mencari Light Novel terbaru" Tetsuya membungkukan badan sebagai permintaan maaf.
"Permintaan maaf saja tak cukup Tetsuya" Remaja bersurai Baby Blue itu menegakkan kepalanya dan menatap wajah sang Kakak yang tampaknya dalam mood yang buruk.
"Seijuurou" Berusaha untuk menginterupsi, Shintarou menepuk pundak sang kakak yang lebih tua 1 tahun darinya, namun pandangan mata tajam itu menyiutkan nyalinya.
"Untuk kedepannya, aku tak mau mendengar kau pergi keluar sendirian seperti ini saat aku pulang. Dan lagi, ini akhir musim gugur, mantel yang kau gunakan tak cukup tebal." Terdengar hembusan nafas lega terdengar dari 4 surai warna – warni itu, mereka hampir saja berfikir jika sang Kakak akan murka dan mengeluarkan dua tanduk iblis yang membuat mereka tak melihat matahari esok hari nanti.
"Haii" jawab si Baby Blue sembari membungkuk lagi.
"Ayo Tetsu" Daiki segera melingkarkan lengannya di pundak Tetsuya, diikuti Ryouta yang tak mau kalah.
"Geser sedikit Daiki-Nii, aku juga mau merangkul Tetsuya-cchi"
"Heeh? Tetsu sudah ku rangkul, kau bisa merangkul yang lain"
"Hidoii-ssu!" rengek Ryouta.
"Ryouta, Daiki" suara dingin kini membekukan celotehan Ryouta dan Daiki, siapa lagi pemilik suara tajam nan dingin kalau bukan kakak tertua mereka, Seijuurou.
"Haii" jawab mereka kikuk.
Tanpa perlu menunggu lama, ke-6 pria bersurai warna – warni tengah duduk dengan posisi yang sebenarnya sedikit menyebalkan. Masing – masing dari mereka ingin duduk di samping si Bungsu, tapi ujung – ujungnya mereka harus menelan kekecewaan karna si sulung sudah membuat si bungsu duduk disampingnya. Selama dalam perjalanan, tak ada lagi pembicaraan ataupun celotehan Ryouta yang biasanya membuat telinga mereka tuli.
"Tetsuya" panggil si sulung pada si bungsu yang duduk disampingnya, sedikit melirik, surai iris Aqua itu melihat iris ruby di sampingnya.
"Haii, Sei-Nii."
"Aku dengar dari Tanaka-san, mulai besok kau ada tambahan pelajaran dan pulang lebih telat dan kau tak ingin dijemput, benar?" Tetsuya mengangguk. "Bisa kau jelaskan apa alasanmu kenapa tak ingin di jemput Hm?" hembusan nafas pelan terdengar dari bibir mungil Tetsuya.
"Itu.." Tetsuya menunduk sejenak, otaknya sibuk merangkai kalimat untuk memberi penjelas pada si Sulung. "Sebenarnya aku hanya tak ingin merepotkan Tanaka-san saja Sei-Nii" Alis Seijuurou tertaut.
"Merepotkan?"
"Un! Lagi pula, musim semi tahun ini aku akan masuk ke Sekolah menengah atas dan aku merasa sudah cukup kuat untuk menjaga diri sendiri sekaligus belajar untuk lebih mandiri" Sebuah seringai meremehkan tercetak di bibir Seijuurou.
"Kau yakin cukup kuat Hm?" tanyanya dengan nada meremehkan.
"Tentu sa—Hachim!" Hanya bersin kecil tapi membuat sebuah senyuman hangat juga elusan halus di surai Baby Bluenya membuat iris aqua itu menjadi sendu.
"Kau mengertikan, alasan kenapa aku tak mengizinkanmu keluar lewat dari jam 08:00 malam juga mengenai jemputan sekolah Hm?" Tetsuya mendesah kecil namun sekali lagi ia bersin. "Dengan ini kau sudah pasti bisa menebak jawaban dari permintaanmu itu"
"Tapi Sei-Nii" Seolah mengacuhkan ucapan si bungsu, Seijuurou melirik Shintarou yang sudah siap sedia dengan tangan yang menaikkan kacamata yang tak turun sedikitpun.
"Shintarou.." belum lagi selesai berbicara, Shintarou memotongnya cepat.
"Aku sudah tau, Nanodayo" Seijuurou tersenyum sementara Ryouta, Daiki dan Atsushi terlihat kebingungan dengan maksud pembicaraannya dengan si Bungsu – Tetsuya kecuali tentang peraturan di larang keluar lewat jam 08:00 malam.
Perjalanan dari toko buku hingga rumah memang tak memakan waktu yang cukup lama, setelah sampai di Mansion keluarga Akashi, segera enam surai warna – warni itu keluar dengan sambutan puluhan pelayan. Mereka berjalan beriringan sembari menatap lurus Mansion yang begitu luas. Berniat untuk segera ke kamar, Tetsuya melangkahkan kaki menuju tangga ke lantai dua, tapi sebuah tangan besar menghentikan langkah kakinya.
"Atsushi-Nii?"
"Kau mau kemana Tetsu-Chin?"
"Aku mau langsung ke kamar, Nii-san"
"Aku membuatkanmu beberapa Cookies, kau tak ingin mencobanya?" kebiasaan yang kakak nomor 3 adalah membawakannya cemilan manis, untuk saat ini sepertinya ia sedang tak ingin makan apapun, tapi ia juga tak bisa menolaknya.
"Arigatou Nii-san, mungkin aku akan membawa beberapa ke kamar" Elusan lembut kembali mengacak – acak surai Baby Bluenya yang lembut.
"kalau begitu nanti akan ku antarkan"
"Arigatou Atsushi-Nii" Lagi, ketika ia akan beranjak, sebuah pelukkan sudah membatasi gerakkannya. Tak perlu di tanyakan lagi, sang pelaku sibuk menghirup aroma Shampo Vanilla si Bungsu. "Ryouta-Nii"
"Gomen Tetsuya-cchi, 3 hari tak pulang membuatku ingin terus memelukmu-ssu. Apa lagi tubuhmu kecil-ssu" belum lagi sempat Tetsuya protes karna di katakan kecil, Daiki menarik – lebih tepatnya menyeret paksa- Ryouta untuk menjauh. "Daiki-Nii~"
"Cepatlah menjauh dari Tetsu, kau lihat tatapan Sei-Nii" bisik Daiki di telinga Ryouta, dan sudah pasti Ryouta segera menjauh dengan tatapan tajam si Sulung. Merasa sudah terbebas, Tetsuya membungkuk sebentar dan langsung bergegas menuju kamarnya.
Kaki kurusnya berjalan pelan menuju kamar dengan langkah perlahan, ia tau dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Sedikit kesal, ntah kenapa ia bisa selemah ini sedangkan kelima kakaknya begitu kuat. Hanya dalam waktu singkat, bersin yang tadinya hanya sesekali, dalam hitungan menit lebih sering terjadi. Tak hanya itu, begitu masuk kedalam kamar ia juga bersin berulang – ulang. Sedikit mengutuk udara dingin yang begitu cepat datang, tapi ia sadar jika ini tak sepenuhnya salah udara dingin, tapi ini salah tubuhnya yang begitu lemah.
"Jika sepert ini terus, aku tak bisa mengalahkan Nii-san Tachi" gerutunya.
Buku – buku yang ia beli segera di letakkan di atas meja belajar, menyusun ulang tatanan buku yang tersusun rapi di rak dan menyisihkan buku yang akan ia baca. Tak jauh darinya, sebuah kertas berukuran HVS sebanyak 10 lembar tergeletak di atas meja belajarnya. Ia menghela nafas membaca tulisan di sana, jadwalnya untuk bulan depan yang telah di persiapkan Tanaka telah selesai. Sangat penuh bahkan hari libur hanya bisa di hitung dengan jari. Tetsuya meletakkan kembali kertas itu, segera ia mengeluarkan buku Matematika, merobek plastik tipis yang membungkusnya dan membuka halaman pertama.
"Logaritma dan hitungan Aritmatika" gumamnya pelan.
Segera ia mengambil buku catatan khusus untuk meringkas rumus – rumus penting dari buku yang tebalnya hampir 5cm itu. Sekotak tisu sudah ia sediakan jika bersinnya tak kunjung berhenti. Tangan pucatnya tanpa henti mengukir rumus – rumus dan menjadikan catatannya sangat rapi serta mudah di baca. Baru saja akan membalik ke halaman yang selanjutnya, sebuah ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Tetsuya" Panggil seseorang dari luar.
"Masuk saja Shintarou-Nii" ucapnya pelan – atau lebih tepatnya lemah.
CIieettt..
"Apa yang sedang kau lakukan? Eumh, bukannya aku peduli Nanodayo" Tetsuya tersenyum kecil mendengar ucapan kakaknya yang Tsundere ini.
"Hanya membuat catatan kecil Nii-san" jawabnya singkat.
"Souka?" Shintarou mendekat dan memperhatikan buku catatan sang Adik yang menurutnya sangat rapi untuk ukuran catatan anak laki – laki. Ia membenarkan posisi kacamatanya dan tangannya yang sebelah kini mengelus pucak kepala dengan surai Baby Blue. "Sebaiknya jangan terlalu paksakan dirimu, Nanodayo. Dari perkiraanku, kau saat ini terkena flu ringan. Lebih baik kau istirahat dan minum vitamin yang ku bawakan."
"Arigatou, Nii-san. Tapi aku baik – baik saja, setelah minum vitamin darimu aku yakin akan baik – baik saja"
"Kau ini, jangan keras kepala. Sekarang sudah hampir jam 10:00 malam, jika kau dalam keadaan baik, aku tak akan melarangmu belajar hingga larut. Lagi pula, lebih baik kau istirahat dari pada besok kau tak masuk sekolah, Nanodayo" Tetsuya kembali tersenyum.
"Haii, aku akan segera tidur." Ia segera menutup bukunya, menandai halaman yang baru saja dipelajari dan mulai bangkit dari kursinya. Mengambil sebutir vitamin dan meminumnya cepat, "Sudah kan Nii-san, sekarang aku tinggal tidur"
"Baguslah kau mengerti, Nanodayo. Jika kau sakit, kau taukan bagaimana sifat Seijuurou" Tetsuya mengangguk. "Kalau begitu, aku tinggal dulu. Besok pastikan kau tak terlambat bangun, kita akan sarapan bersama"
"Tentu saja Nii-san, oh ya sebelum lupa, katakan pada Atsushi – Nii untuk membuatkan bento khusus untukku besok" godanya.
"Kau ini" Tetsuya mengulum tawa kecil dan segera naik ke tempat tidur, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada, "Oyasumi, Tetsuya" bisik Shintarou saat mematikan lampu kamar Tetsuya.
"Oyasumi, Nii-san"
Tetsuya menutup mata dan mulai menyelam ke alam mimpinya, hanya dalam hitungan menit ia telah terlelap. Shintarou yang baru saja keluar dari kamar si bungsu, kini langkahnya terhenti saat melihat Atsushi yang berjalan membawa satu toples cookies dengan rasa Vanila. Refleks ia menghentikan langkah kaki Atsushi sebelum masuk dan membangunkan si bungsu.
"Ada apa Shin Nii-Chin?" tanya Atsushi dengan nada malas.
"Tak ada, hanya ingin memberitahumu kalau Tetsuya sudah tidur. Lebih baik jangan menggangunya, bukannya aku khawatir Nanodayo" Shintarou memalingkan wajahnya.
"Eh~~? Tetsu-Chin sudah tidur, baiklah, mungkin aku akan memberikannya esok"
"Itu lebih baik dan tadi Tetsuya menitip pesan untukmu"
"Pesan?"
"Haii, dia ingin besok kau membuatkan Bento untuknya"
"Wakatta, saa~~ Aku akan membawa ini ke dapur"
"Matte, apa kau melihat yang lainnya?"
"Apa maksudmu Sei Nii-Chin, Daiki-Chin dan Ryouta-Chin?" Shitarou mengangguk.
"Siapa lagi kalau bukan mereka, Nanodayo?"
"Daiki-Chin dan Ryouta-Chin sedang One On One di Gym, kalau Sei Nii-Chin aku melihatnya di ruang tengah"
"Begitukah? Arigatou"
Tanpa menjawab, Atsushi langsung bergegas menuju dapur sedangkan Shintarou menuju ruang tengah. Langkah kakinya terdengar menggema keseluruh ruangan yang mulai terlihat sepi. Walau ini belum terlalu larut, tapi beberapa pelayan rata – rata telah bersiap untuk bergantian berjaga. Bodyguard untuk menjaga rumah juga telah bersiap di tempat masing – masing. Walau jumlahnya tak terlalu banyak, tapi cukup untuk menjaga seluruh Mansion.
Shintarou memperhatikan seluruh ruangan, penerangan yang redup membuatnya harus melangkah pelan jika tak ingin sesuatu terjadi. Tepat saat ia sampai di ruangan tengah, terlihat surai merah tengah duduk diam dengan memegang setumpuk dokumen perusahaan. Merasa jika ada seseorang yang mendekat, Pria bersurai merah itu bergemin pelan.
"Apa dia sudah tidur Shintarou?" sedikit terkesiap, Shintarou mengedipkan beberapa kali kedua matanya.
"Sesuai dugaan, kau selalu cepat menyadari keadaan sekitarmu, Nii-san" Seijuurou tersenyum kecil.
"Kau tak perlu seformal itu, Shintarou. Kau bisa memanggilku dengan nama kecil seperti biasa"
"Huh, kau memang tak bisa ku tebak, Nanodayo"
"Duduklah, aku sudah menyiapkan papan Shogi untuk menemani pembicaraan kita" Shintarou menaikkan kacamatanya dan berjalan mendekat. "Apa dia terkena demam?" Tanya Seijuurou tanpa basa – basi.
"Iie, hanya Flu ringan. Aku sudah memberikannya Vitamin dan setelah istirahat ia akan baik – baik saja" Mereka mulai menata bidak – bidak Shogi dan menjalankan satu persatu.
"Syukurlah, lalu bagaimana Check Up Kesehatannya?" Seijuurou menjalan bidak lainnya.
"Masih sama, tak ada perubahan signifikan. Masih lemah terhadap musim dingin seperti biasanya, tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda." Dahi Seijuurou tertaut.
"Apa itu?"
"Mungkin ini belum pasti, tapi aku kira di musim lain, ketahanan tubuhnya lebih kuat."
"Kau yakin?"
"Tentu saja Nanodayo, dibandingkan tahun lalu, sekarang dia jauh lebih kuat menghadapi akhir musim gugur dan hanya terkena Flu ringan setelah keluar 2 jam." Shintarou memulai serangan di bidak Shoginya. "Jujur saja, biasanya dia akan langsung demam tinggi walau tubuhnya sudah menggunakan mantel dan syal yang tebal. B-Bukannya aku melebihkan Nanodayo, tapi itu kenyataan"
"Aku tau Shintarou, lagi pula siapa yang merawatnya selama 10 tahun ini Hm?" Shintarou mendengus kecill.
"Bukan hanya kau saja Seijuurou, aku, Atsushi, Daiki dan Ryouta juga mengurusnya." Shintarou menjalankan satu bidaknya lagi, begitu pula dengan Seijuurou.
"Tapi yang paling sering bersamanya siapa Shintarou?" Seringai kecil tersungging di bibir Seijuurou.
"Haii, Haii. Berhentilah menyombongkan dirimu, Nanodayo" Shintaro berhenti memainkan bidak Caturnya dan mendengus kesal. "Kau menang dan kau selalu benar" Seijuurou terkekeh pelan.
"Itulah aku, besok kita akan tau sekolah mana yang Tetsuya pilih"
"Dia pasti akan memilih Shuutoku, Nanodayo"
"Aku tak yakin, bisa saja dia memilih Rakuzan"
"Bukannya aku berharap, tapi aku yakin dia memilih Shutoku karna menurut ramalan Oha Asa besok, jika keberuntungan Aquarius adalah warna Orange. Shuutoku memiliki jersey warna Oranye, jadi aku yakin dia akan memilih Shuutoku" Seijuurou kembali terkekeh.
"Kita lihat besok, Shintarou"
Tak ada lagi yang mereka bicarakan, suara sunyi menyeruak ke seluruh ruangan. Hanya detikkan jarum jam juga ketukkan bidak shogi yang saling berpindah tempat. Ruangan itu semakin sunyi seiring dengan waktu yang berlari secara bergantian, menyisakan seluruh kesunyian dan dengkuran ringan dari penghuni rumah hingga esok menanti mereka.
_ooOOOoo_
Dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar di ruangan luas. 6 pria bersurai warna – warni tengah sibuk menikmati santapan sarapan pagi mereka sebelum melakukan kegiatan sehari – hari – Seijuurou dengan pekerjaan kantor, Shintarou dengan jadwal operasi, Atsushi dengan restorannya, Daiki dengan pelatihannya, Ryouta yang mengikuti pelatihan sekaligus pemotretan untuk sampul majalah terbaru dan si bungsu dengan sekolah juga persiapan kelulusan –. Semua terdiam tanpa suara hingga suara berat menginterupsi.
"Tetsuya, apa hari ini kau akan mulai pelajaran tambahan Hm?" merasa dipanggil, si surai Baby Blue mendongakkan kepalanya.
"Haii, Nii-san." Jawabnya jujur.
"Soukka, kalau begitu, boleh aku tanya satu hal padamu?" Tatapan serius terpancar dari kedua mata Seijuurou, iris ruby merah itu menampakkan sebuah pancaran yang penuh harap juga kewibawaan. "Sebentar lagi kau akan lulus dari Teiko, untuk selanjutnya kau akan melanjutkan kemana Hm?" Seijuurou tersenyum lembut. "Aku menyarankanmu untuk masuk ke Rakuzan karna mulai tahun depan aku akan ke sana dan mengurus perusahaan cabang untuk sementara. Bagaimana?"
"He~~? Tetsu-Chin tidak boleh ke Rakuzan, lebih baik dia ikut aku ke Akita. Aku akan memasukkannya ke Yosen, lagi pula aku baru membuka cabang baru di sana." Atsushi memberikan pendapatnya.
"Kaijo, Tetsuya-cchi lebih baik di Kaijo. Aku akan pastikan fasilitas di sana juga segala yang Tetsuya-cchi inginkan akan terpenuhi kalau masuk ke Kaijo" Ryouta ikut berisik memberikan pendapat.
"Berisik Ryouta" Daiki membuka suara, "Aku rasa sebaiknya di Touo lebih baik, dengan kemampuan Tetsu yang sekarang, aku yakin ia lebih cocok di Touo yang sudah pasti akan membuat Tetsu lebih kuat. Benarkan Tetsu?" belum lagi Tetsuya membuka mulut, Shintarou ikut memberi pendapat.
"Aku rasa kalian semua salah, berdasarkan ramalan Oha Asa untuk Tetsuya hari ini. Ia akan memiliki masa depan cerah jika berdekatan dengan segala hal yang berwarna oranye. Shuutoku memili jersey berwarna oranye dan itu lebih baik." Shitarou menaikkan kacamata yang tak turun sama sekali. "Bukannya aku memaksa Nanodayo, tapi ini yang terbaik untukmu Tetsuya" Menghela nafas panjang, Seijuurou menatap ke arah Tetsuya yang masih belum membuka suara.
"Hm,, sepertinya ini adalah pilihan yang cukup sulit untukmu Tetsuya. Tapi kau harus memilih salah satu sekolah yang terkuat juga terbaik, apa lagi dalam bidang olah raga basket jika kau tak ingin kalah dari kami semua" Tetsuya menutup mata sembari menghela nafas pelan.
"Aku tau itu Sei-Nii. Arigatou Nii-san Tachi memberikan pilihan untuk sekolah yang selanjutnya, tapi gomennasai, aku sudah memiliki pilihan sendiri" jawabnya tenang.
"Kau punya pilihan sendiri, Tetsuya-cchi?" Ryouta tersentak kaget.
"Un" Tetsuya mengangguk. "Aku memilih Seirin"
"Seirin?" ucap kelima kakaknya yang lain.
"Haii, jika aku ingin mengalahkan Nii-san Tachi, mungkin ini salah satu caranya" Seijuurou mengerutkan dahinya bingung.
"Kau yakin dengan pilihanmu itu Tetsuya? Seirin bukanlah sebuah sekolah yang kuat, bahkan baru berdiri 2 tahun yang lalu, bagaimana bisa kau mengalahkan kami dengan masuk sekolah seperti itu?"
"Seijuurou benar, Nanodayo. Aku tak setuju jika kau masuk sekolah itu" Shintarou ikut menentang.
"Tetsu-Chin, lebih baik pilih sekolah yang lain" Atsushi ikut menambahi.
"Itu benar Tetsuya-cchi, Seirin bahkan tak ada apa – apanya dalam permainan basket maupun yang lainnya. Aku pernah mengalahkan mereka di Inter-high dengan Score 110:50 tanpa aku turun tangan, mereka benar – benar lemah" Ryouta mengingatkan tentang pertandingannya melawan Seirin saat itu.
"Kau tak cocok untuk masuk ke sekolah itu, Tetsu" Daiki memberi tanggapan tak suka dengan pilihan adiknya. Tetsuya yang mendengar itu langsung meletakkan pisau dan garpu yang ia gunakan untuk makan tadi. Mendongakkan kepala sembari menatap kelima kakaknya dengan tatapan penuh keyakinan.
"Aku tau Nii-san Tachi akan menentang pilihanku, tapi aku tak akan mengubah pilihanku itu." Tetsuya menghela nafas sejenak, "Memang benar jika Seirin itu adalah sekolah yang baru 2 tahun berdiri dan tergolong dalam sekolah yang lemah, tapi ini akan menjadi tantangan untukku sendiri. Jika aku masuk ke sekolah yang sama seperti Nii-san Tachi, sama saja aku tak akan pernah bisa lebih baik dari Nii-san Tachi. Karna itu…" Ia menghirup nafas dan bersiap mengutarakan keinginan terkuatnya. "Aku akan membuat nama Seirin yang kecil bahkan tak terlihat menjadi lebih besar dengan menjadi nomor satu di Winter Cup. Tidak, tidak hanya di Winter Cup, di pertandingan tiap musim, Seirin akan menjadi pemenang dan aku akan menjadi ujung tombaknya. Sama seperti Nii-san Tachi yang menjadi ujung tombak untuk sekolah Nii-san Tachi dulu. Dengan begini, aku akan mengalahkan apa yang telah Nii-san Tachi raih" Jelas Tetsuya panjang.
Sebuah senyuman tipis tergambar dari wajah Seijuurou juga ke – 4 kakaknya yang lainnya. Mungkin Tetsuya bisa saja mengalahkan Shintarou, Atsushi, Ryouta maupun Daiki, tapi ia belum tentu bisa mengalahkan Seijuurou yang belum pernah mencatat namanya kekalahan. Mata Tetsuya memberikan keseriusan yang tinggi juga kepercayaan diri yang benar – benar membuat Seijuurou tertarik, ternyata si bungsu yang dulunya selalu merangkul kakinya bahkan duduk di pangkuannya kini terlihat lebih dewasa. Ah, sepertinya Seijuurou akan siap kehilangan Tetsuya kecil yang selalu bermanja padanya.
"Soukka, kalau begitu aku menyetujui pilihanmu itu. Tapi dengan satu syarat" Tetsuya mengernyit bingung.
"Apa itu, Nii-san?"
"Buktikan jika kau bisa mewujudkan setiap ucapanmu." Seijuurou tersenyum kecil. "Seorang Akashi selalu menjadi yang sempurna dan bisa membuktikan setiap ucapannya"
"Haii" jawab Tetsuya tegas.
Beberapa bulan yang akan datang, Tetsuya siap untuk mengganti seragam berwarna abu – abunya menjadi seragam baru sekolah Seirin. Guguran kelopak Sakura di musim Semi menjadi langkah pertama bungsu Akashi untuk membuktikan jika ia pantas di sebut bagian dari keluarga Akashi yang identik dengan Sempurna. Tapi yang jadi pertanyaannya..
'Mungkinkah Akashi Tetsuya bisa membuktikannya?'
To Be Continue...
