Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

Chapter 2

%^Future Line^%

Musim semi tiba, hari baru untuk siswi maupun siswa menengah atas yang telah mengganti seragam mereka. Tak ada perbedaan mencolok dari awal setiap sekolah, pengenalan club terbaru menjadi pemandangan yang tak asing. Ntah itu Club Volly, Renang, Sastra, Music, Basket dan lainnya menggema di halaman sekolah. Walau Seirin merupakan sekolah yang baru, namun club – club yang didirikan telah banyak walau belum ada yang mengukir prestasi gemilang.

Sebuah mobil mewah berhenti tepat tak jauh dari gerbang sekolah, pria bersurai Baby Blue keluar dengan senyuman merekah dan bersiap untuk masuk ke sekolah barunya. Berada tak jauh darinya, pria paruh baya yang senantiasa menemaninya setiap hari terlihat menunduk hormat.

"Arigatou, Tanaka-san. Cukup sampai disin saja, dan nanti aku akan pulang sendiri"

"Tapi Tetsuya-sama"

"Ini musim semi Tanaka-san, aku bisa pulang sendiri dan sekolah ini tak begitu jauh dari rumah." Tetsuya tersenyum, "Aku juga sudah minta izin pada Sei-Nii"

"Wakatta"

"Haii, Ittekimasu"

"Itterasai Tetsuya – sama"

Pria bersurai Baby Blue itu mulai bergegas memasuki gerbang sekolah dengan sebuah light novel dan mengabaikan orang – orang yang sibuk mempromosikan clubnya. Bukannya ia ingin bersikap sombong, hanya saja ia sudah memiliki sebuah club pilihan dan sudah pasti itu adalah Club Basket. Tanpa fikir panjang, ia mendatangi meja pendaftaran Club dengan dua orang yang duduk disana. Seorang gadis berambut coklat pendek dan seorang pria berkacamata tengah sibuk berbincang hingga tak sadar jika Tetsuya telah selesai mengisi formulir pendaftaran Club dan beranjak.

"Sumimasen, apa ini tempat pendaftaran Club Basket?" seorang wanita dengan surai merah muda mendatangi stan Club Basket, sedikit berjengit, gadis bersurai coklat dan pria berkacamata menatap tak percaya gadis yang ada di depannya.

"Haii, ini memang tempat pendaftaran Club Basket" jawab gadis bersurai coklat – Aida Riko.

"Soukka, kalau begitu boleh aku bertanya sesuatu?" tanya di surai merah muda.

"Tentu saja, tapi sebelum itu kau boleh duduk terlebih dahulu" ucap si Pria berkacamata – Hyuuga Junpei.

"Arigatou, Senpai" ucapnya lembut sembari duduk di bangku yang disediakan.

"Karna kau sudah duduk, kau ingin bertanya tentang apa?" Riko mulai berbicara.

"Eumh,, etto.. Aku Cuma ingin tanya satu hal.." Gadis itu terdiam sejenak, sekilas rona merah menghias di pipinya. Riko mengernyit heran namun tak berniat untuk memotong. "Apa Tetsu-kun masuk ke Club Basket?"

"He? Siapa? Tetsu-kun?" ulang Riko tak mengerti.

"Haii, Tetsu-kun, Akashi Tetsuya dari Club Basket Teiko" jelas gadis merah muda itu.

"M-Maksudmu pemain basket berbakat dari Teiko yang mendapat gelas The Phantom Six Man?" Hyuuga bertanya untuk meyakinkan.

"Un! Aku ingin memastikan dia ikut Club basket atau tidak. Karna.." sekali lagi, warna merah menghias di pipi gadis itu. "Karna.." Belum lagi ia melanjutkannya, teriakkan nyaring Riko membuatnya heran.

"KENAPA AKU BISA TAK TAU JIKA ADA PEMAIN BASKET YANG HEBAT MASUK SEKOLAH INI!" teriakknya frustasi.

"Tenanglah Riko, kita akan melihat list anggota baru, belum tentu dia memilih basket" Hyuuga mencoba menenangkan Riko, tapi tak berapa lama, ia berteriak saat nama Akashi Tetsuya terlihat diantara tumpukkan nama anggota baru. "NANI?! BAGAIMANA BISA AKU TAK TAU JIKA DIA MENDAFTAR?!" Mendengar itu, gadis bersurai merah muda menatap dengan tatapan berbinar.

"Hountou desuka? Kalau begitu, aku akan menjadi manager Club Basket Seirin" ucapnya semangat.

"Hah? Kau mendaftarkan diri untuk menjadi manager Club?" tanya Riko tak percaya.

"Haii, aku akan ikut kemanapun Tetsu-kun pergi. Karna Tetsu-kun memilih basket sama seperti dulu, maka aku akan menjadi manager seperti dulu" Gadis bersurai pink itu menjadi ceria.

"Cotto Matte, seperti dulu. Masaka, kau adalah gadis berintelegent tinggi yang di kenal Manager Basket terbaik dari Teiko, Momoi Satsuki desuka?" tanya Hyuuga.

"Sugoii na, Hyuuga Senpai bisa tau namaku" Momoi semakin melebarkan senyumannya.

"Iie, setiap atlit basket yang mengikuti Inter-High SMP maupun SMA pasti tau tentang manager hebat juga tentang satu keluarga yang dijuluki Kiseki No Sedai" Jelas Hyuuga panjang.

"Kiseki No Sedai? Jangan katakan jika Akashi Tetsuya salah satu dari anggota Kiseki No Sedai" Momoi buru – buru mengangguk mendengar ucapan Riko.

"Tetsu-kun adalah generasi ke – 6 dari Kiseki No Sedai" Jawaban dari Momoi sontak membuat Hyuuga dan Riko berteriak seperti melihat makhluk menyeramkan karna sekolah mereka yang baru di buka 2 tahun yang lalu berhasil mendapatkan generasi ke – 6 dari Kiseki No Sedai.

"HEEEEE? MAAAJIIII?!"

Di saat Riko dan Hyuuga sibuk dengan ketidak percayaan mereka dengan anggota baru, seorang pria bertubuh tinggi dengan surai merah gelap dan alisnya yang bercabang sibuk memantul – mantulkan basket di Gym. Dari segi fisik, Pemuda itu benar- benar atletis apa lagi saat dia melakukan dunk, sungguh seperti bukan siswi SMA. Tanpa pemuda itu sadari, Si Surai Baby Blue tengah duduk santai di sebuah kursi dengan light novel masih di genggamannya.

'Sepertinya aku akan bisa mengalahkan Nii-san Tachi' gumam Tetsuya dalam hari.

Ntah karna hawa keberadaannya yang tipis atau memang pria bersurai merah itu yang terlalu fokus pada permainan basketnya, ia sampai tak menyadari keberadaan Tetsuya yang duduk santai. Beberapa menit berlalu dan tetap saja pria bersurai merah hitam itu tak menyadari keberadaan Tetsuya hingga akhirnya, tersadar saat bola basket menggelinding di kaki Tetsuya.

"Permainan yang menarik" Komentar Tetsuya saat menyentuh bola basket yang ada di kakinya, pria bersurai merah itu berjengit kaget.

"Hah? Kau sejak kapan disana?" Dengan tatapan datarnya namun tersirat senyuman tipis, Tetsuya berdiri dari tempatnya.

"Sekitar 30 menit yang lalu" Tetsuya melempar bola basket itu dan dengan mudahnya Pria bersurai merah gelap itu menangkapnya.

"NANI?! Itu tandanya kau lebih dulu datang dariku? Tidak mungkin, kau pasti bergurau"

"Iie, aku berkata jujur. Bahkan aku sudah memperhatikan pola permainan juga bakatmu dalam permainan Basket" Alis bercabang itu tertaut.

"Eh? Kau sudah mengetahuinya, berarti kau memang sudah disini dari tadi tapi aku tak menyadarinya?!"

"Haii, aku kira seperti itu" Tetsuya berjalan mendekat, menunduk sopan dan menatap pria bersurai merah. "Boku wa Akashi Tetsuya desu, Yoroshiku"

"Ore wa Kagami Taiga" perkenalan yang singkat juga sedikit canggung.

"Kagami-kun, boleh aku bertanya satu hal padamu?" raut wajah Tetsuya berubah menjadi lebih serius.

"Nani?"

"Bisa pinjamkan kekuatanmu untukku?"

"Hah? Kekuatanku?"

"Haii, aku adalah bayangan dalam permainan basket, aku butuh cahaya yang kuat untuk membuatku menjadi lebih kuat pula. Jadi, aku berharap kita bisa bekerja sama" Pria bersurai merah gelap bernama Kagami terlihat memasang wajah bingung, ayolah, siapa yang tak bingung saat bertemu seseorang yang belum di kenal tapi langsung ingin bekerjasama?

"Aku benar – benar tak mengerti, kau ingin kita bekerja sama sedangkan aku sama sekali tak tau kemampuanmu yang sesungguhnya. Jawabannya hanya satu, Tidak" Kagami bermaksud meninggalkan Tetsuya, namun ucapan Tetsuya sedikit membuatnya tertarik.

"Soukka, sebaiknya kita lakukan One On One" Kagami menyeringai kecil

'Sepertinya menarik' Kagami memutar bola basket di ujung jarinya dengan seringai yang semakin lebar. "Ini yang ku tunggu, siapa yang berhasil mendapatkan 10 poin, maka dia yang akan menang"

"Baiklah"

Tetsuya meletakkan tas tangannya di bench, tak luput Light novelnya juga ia letakkan di sana. Dengan mengenakan kemeja dan celana panjang sekolahnya, Tetsuya bersiap One On One dengan Kagami. Awalnya Tetsuya dengan mudahnya melewat Kagami dengan Vanishing Drive lalu mulai menembak dengan Phantom Shoot. Melihat kemampuan Tetsuya, tentu saja membuat Kagami bersemangat. Mereka saling mengejar angka, tapi saat Tetsuya mendapatkan 5 Poin, ritme permainannya melambat dan berakhir dengan kegagalan Shoot maupun Drive. Kemenangan tentu saja sangat mudah di dapat oleh Kagami, awalnya ia tersenyum senang tapi sekarang ia tersenyum meremehkan.

"Aku kira kau pemain yang hebat, tapi ternyata tak seperti itu" Kagami menatap rendah pria mungil yang di depannya. "Aku akui di awal kau cukup bagus, tapi di akhir kau hanya orang yang lemah"

"Aku rasa ada kesalahan dari ucapanmu"

"Kesalahan?"

"Haii" Mata biru langit menatap tajam ke arah Kagami, tatapan mata tajam seperti saudara lainnya. "Gaya permainanku bukan individu, tapi gaya permainanku adalah permainan Tim"

_ooOOOoo_

Seminggu setelah perkenalan antara Kagami dan Tetsuya, Latihan pertama tim Basket sudah di mulai, sama seperti sebelumnya banyak yang tak menyadari jika Tetsuya ada disana – kecuali Momoi Satsuki yang notabenenya adalah teman satu sekolahnya. Pelatih – Aida Riko – sempat berfikir jika Akashi Tetsuya hanyalah seorang yang lemah dan tak mungkin bisa menjadi pemain First String. Hal ini tentu saja berdasarkan analisis yang ia dapatkan dari kemampuan matanya. Tapi analisis itu runtuh saat Uji coba pertandingan, Kagami terlihat mencolok awalnya, tapi lama kelamaan, Riko menyadari jika Tetsuyalah yang membuat kesempatan untuk membuat Poin adalah Tetsuya.

"Uso, bagaimana bisa dia membalikkan keadaan seperti itu?" gumam Riko tak percaya.

"Itu memang kemampuan Tetsu-kun, Misdirection" Momoi memberikan jawaban.

"Misdirection?"

"Haii, kemampuan seperti sulap. Dulu waktu kami bertanding, banyak pemain yang terkecoh dengan Pass yang Tetsu-kun berikan. Namun karna itu pula, kemenangan Teiko menjadi lebih mudah dan saat kelulusan Tetsu-kun diresmikan sebagai Phantom Six Man Teiko Basket Club"

"Aku sudah dengar soal Phantom Six Man, tapi aku tak pernah menyangka jika cara bermainnya seperti ini"

"Tentu saja, tapi ini bukan hanya kemampuan Tetsu-kun yang sesungguhnya. Aku yakin dia masih memiliki kemampuan yang lain dan belum diperlihatkannya" Riko menatap Momoi sekilas.

"Apa maksudmu dengan kemampuan lainnya?" Momoi sedikit terkejut dengan pertanyaan Riko, oh mungkinkah siswa dan siswi di sekolah ini tak tau marga yang disandang pemain bayangan itu?

"Aida-san, jangan bilang kau tak tau tentang Keluarga Akashi"

"Memangnya ada apa dengan keluarga itu?" Momoi melebarkan kedua matanya, benar- benar tak bisa dipercaya jika wanita di depannya ini tak tau sama sekali mengenai keluarga Akashi.

"Kau benar – benar tak tau tentang mereka?" Riko menggeleng. "Hm,, baiklah, akan ku beri tahu sedikit tentang mereka" Momoi menghela nafas pelan dan mulai penjelasan. "Saat pertama kali mendaftar Club ini, aku sempat menyinggung tentang Kiseki No Sedai bukan?" Aida mengangguk, "Nah, satu keluarga yang disebut sebagai Kiseki No Sedai adalah keluarga Akashi"

"Matte, untuk itu aku sudah mengerti dan bisa tergambar bagaimana mereka, tapi aku tak mengerti dengan siapa keluarga Akashi yang sebenarnya" gerutu Riko, dengan menghela nafas Momoi mulai menjelaskan dari awal.

"Akashi merupakan keluarga keturunan bangsawan yang terkenal seantero jepang, pemilik Akashi Corp yang sedang berkembang pesat dan tentu saja memiliki banyak anak cabang perusahaan. Tak hanya itu, soal kekayaan, aku bisa jamin mereka tak akan merasakan miskin untuk 100 tahun kedepan."

'100 tahun? Uso!' Fikir Riko.

"Walau aku belum pernah berkunjung ke rumah Tetsu-kun, tapi aku sudah bisa mengkhayalkan betapa besar Mansion yang ia tinggali bersama saudaranya"

"Akashi-kun punya saudara? Apa mereka adalah Kiseki No Sedai Sebelumnya?"

"Haii" Momoi mengangguk, "Ada 5 orang dan berdasarkan intuisiku, mereka semua sangat luar biasa"

"heh? Darimana kau tau?"

"Tentu saja aku tau, dari mulai kakak pertama sampai ke Tetsu-kun, anggota keluarga Akashi selalu mencetak foto wajah mereka sebagai siswa terbaik dan pemain basket terbaik"

"S-Sugoii"

"Walau aku belum pernah bertemu, tapi aku tahu siapa saja mereka" Momoi mengingat satu persatu foto yang terpampang pada dinding Gym saat mereka latihan, foto 5 surai warna – warni dengan gelar juga ketangkasan yang mereka miliki. "Yang pertama Akashi Seijuurou, dia memiliki gelar Emperor Eye dan merupakan Captain termuda yang pernah ada. Kedua Akashi Shintarou, pemilik Gelar Top Shooter. Ketiga Akashi Atsushi, pemilik Gelar The Best Center, ke empat Akashi Daiki dengan gelar Unstoppable Scorer dan terakhir, Akashi Ryouta dengan gelar Perfect Copy. Tetsu-kun sendiri, kalian sudah tau kan jika dia mendapat gelar Phantom Six Man. Dengan gelar yang di dapat Tetsu-kun, saat upacara kelulusan mereka semua mendapatkan gelar Keluarga Kiseki No Sedai."

"Emperor eye, Top Shooter, The Best Center, Unstoppable Scorer dan Perfect Copy juga julukan Keluarga Kiseki No Sedai? Apa mereka sehebat itu?"

"Aku tidak tau pasti, jelasnya kemampuan kakak – kakak Tetsu-kun itu luar biasa. Tak hanya dalam bidang basket, rata – rata dari mereka lulus dari Teiko dengan nilai yang tinggi di atas rata – rata"

"Jangan bilang kalau Akashi-kun juga lulus dengan nilai tertinggi"

"Benar, Tetsu-kun lulus dengan nilai lebih dari kata Sempurna. Jujur saja, aku pernah dengar kalau Anggota keluarga Akashi d tuntut sempurna dan Tetsu-kun berniat membuktikan jika ia bisa mengalahkan kakak – kakaknya yang sudah sukses"

"Sukses?"

"Mou~~, tadikan sudah ku katakan jika kekayaan mereka itu tak akan habis dalam waktu 100 tahun, tentu saja itu karna kelima kakaknya terus – terusan menimbun kekayaan"

"aku tak mengerti apa maksudmu Momoi-san"

"Aku masih belum terlalu tau dengan kakak yang lainnya, tapi ada satu orang yang sering ku lihat." Momoi berhenti sejenak, ia langsung menunjukkan foto seorang pemuda bersurai kuning yang menjadi sampul majalah. "Kakak Kelima, Akashi Ryouta dan merupakan Seorang model terkenal"

"Nani?! Maji?!"Riko hampir membuat tuli Momoi karna teriakkannya, oh ayolah ini masih hari pertama dan kenyataan mengenai salah satu pemainnya benar – benar membuat terkejut.

Karna mendengar teriakkan Riko, Seluruh pemain langsung menghampiri secara bergerombol. Wajah – wajah bingung juga heran terpampang jelas dari para pemain yang baru saja menyelesaikan pertandingan. Dari raut wajah mereka terlihat jelas jika mereka ingin menanyakan apa yang terjadi, dengan susah payah akhirnya Riko membuka suara.

"Momoi-san, ada apa ini? Kenapa Coach berteriak" Tetsuya bertanya seperti biasa.

"Etto, aku hanya memberitahumu mengenai Akashi Ryouta" jawab Momoi kaku, belum lagi Tetsuya berbicara, Furihata menginterupsi.

"Akashi Ryouta? Maksudmu model terkenal dan juga pebasket dengan gelar Perfect Copy dan merupakan anggota Keluarga yang dijuluki Kiseki No Sedai?"

"H-Haii" Momoi mengangguk. "Dan Aida-san berteriak karna tau Akashi Ryouta adalah kakaknya Tetsu-kun" untuk beberapa saat suasana Gym terasa sunyi, namun berikutnya teriakkan menulikan menyerang pendengaran Momoi, Tetsuya dan Kagami yang masih tak mengerti.

"Kau adiknya Akashi Ryouta, Akashi-kun?"

"Eh,, etto.. Haii" jawabnya singkat.

"Benar- benar tak bisa di percaya, kenapa aku tak menyadari dari tadi jika kau adalah adik salah satu pebasket hebat. Ah Iie, seharusnya dari marga yang kau sandang aku pasti tau, tapi kenapa aku tak sadar" gerutu Hyuuga.

"Sugoii, Akashi-kun, pantas kau memiliki kemampuan yang hebat, ternyata kau memiliki kakak yang hebat" Kogane ikut memberikan pujian.

Setelahnya terdengar ucapan – ucapan klise yang berdengung di telinga Tetsuya. Sedikit kesal juga begitu menyebalkan, ough! Berterima kasihlah pada sang kakak yang berprofesi sebagai model dan dengan terang - terangan membuka sebuah kenyataan yang ingin Tetsuya simpan. Terkadang ia berharap jika tak ada satupun orang yang percaya jika dia adalah bagian dari keluarga dengan julukkan Kiseki No Sedai dengan menyandang nama Akashi. Di tengah keributan mereka, suara gadis – gadis terdengar mendengung di sekitar Gym. Tersadar akan apa yang terjadi, semua yang ada di Gym terfokus pada pria bersurai kuning yang sibuk memberikan Sign pada para gadis yang mengantri.

"Heh? K-kenapa dia ada di sana?" Riko terkejut setengah mati melihat orang yang dari tadi di bicarakan tengah berdiri dengan senyuman manis dan terus memberikan Sign.

"Ah, GomenGomen, sepertinya aku mengganggu latihan kalian. Eumh, bisa beri aku waktu 5 menit untuk menyelesaikan ini" Sebuah anggukan menjadi jawaban dari permintaan pemuda bersurai kuning itu.

Semua yang ada di sana benar- benar tak menyangka jika orang yang di juluki Perfect Copy itu ada disana. Semua memandang heran, terkejut juga ekspresi yang tercengang, terlebih Momoi yang sudah mengenal Tetsuya sejak lama tapi baru kali ini ia melihat kakaknya Tetsuya dengan mata kepalanya sendiri. Setelah selesai, Si Surai kuning mendekat dan tujuan utamanya adalah Si surai Baby Blue.

"TETSUYA-CCCHIIIII" Teriakknya melengking dan langsung memeluk Si surai Baby Blue dengan gemasnya.

"Ryouta-Nii lepaskan, aku tak bisa bernafas" Tetsuya berusaha melepaskan pelukkan Ryouta, tapi tetap saja kalah kuat.

"Iie, aku tak akan melepas Tetsuya-cchi sebelum aku puas-ssu" Ryouta masih memeluk Si Baby Blue tanpa peduli tatapan semua orang padanya.

"Le-paskan Nii-san, atau aku akan menyuruh Daiki – Nii untuk datang" ancam di Baby Blue.

"Hidoii-ssu, kalau ada Daiki-Nii, dia pasti akan menarikku untuk menjauh" Ryouta melepaskan pelukkannya dan langsung memberikan senyuman ceria.

"Kenapa Nii-san datang?"

"Aku Cuma ingin melihat – lihat sekolahmu sekaligus menjemputmu-ssu."

"Menjemputku? Bukannya aku sudah katakan pada Tanaka-san kalau aku ingin pulang sendiri selama musim semi sampai musim panas ini?"

"Memang benar, Tanaka-san sudah mengatakannya tadi, tapi Sei-Nii mengirimiku E_mail untuk tetap menjemputmu-ssu."

"Tapi Sei-Nii kan ada di Kyoto, jadi tak masalah" Keras kepala, sepertinya cocok untuk penggambaran Tetsuya sekarang.

"Iie, Sei-Nii sekarang ada di rumah bahkan Shintarou-Nii juga-ssu. Mereka menyuruhku untuk menjemputmu sekaligus kita akan merayakan masuknya Tetsuya-cchi ke Seirin"

"Soukka, wakatta. Aku akan ganti baju dulu" jawab si bungsu sopan. "Minna, Sumimasen, aku harus pulang sekarang"

"Tak masalah, silahkan" jawab Riko sekenanya. Di saat Tetsuya sedang mengganti pakaian, Kagami mulai bertindak.

"Ne, Ikemen-san. Mau One On One? Aku dengar kalau kau pebasket yang hebat" tantang Kagami pada Ryouta.

"KAGAMI!" Teriak para Senpai.

"Boleh juga-ssu, sepertinya aku harus mengujimu untuk bisa menjadi Cahaya baru Adik kesayanganku" Ryouta memberikan senyuman kecilnya, sangat kecil namun jika dilihat lebih jelas, itu lebih seperti Seringai.

One On One antara Kagami dan Ryouta berlangsung dengan cepat, setiap gerakan yang dilakukan oleh Kagami dengan mudahnya Ryouta tiru dalam sekali lihat. Semua yang ada di Gym benar- benar terkejut dengan kemampuan penyandang nama Akashi Ryouta tersebut. Kagami benar – benar kalah telak, di saat pertandingan berakhir, Tetsuya keluar dengan penampilan yang lebih rapi.

"Nii-san, apa yang terjadi" Ryouta memperlihatkan wajah kasihan juga kecewa.

"Sebaiknya kau pindah sekolah saja Tetsuya-cchi, di tempat ini tak ada yang bisa kau jadikan Cahaya. Mereka semua terlalu lemah-ssu, bahkan keinginanmu untuk membuat sekolah ini menjadi luar biasa sepertinya akan sulit. Aku akan mencarikan sekolah yang terbaik untukmu-ssu, lagi pula aku tak ingin tenagamu terbuang percuma hanya untuk sekolah ini-ssu"

"Apa maksudnya Nii-san?"

"Dengan kemampuanmu yang sekarang, aku tak yakin kau bisa membuat tim basket ini menyamai Tim basket yang telah Nii-san Tachi lambungkan namanya-ssu. Jadi kau harus pindah dan kita cari yang lebih baik-ssu" Dengan sopan Tetsuya membungkuk hormat.

"Gomennasai Nii-san, tapi ini pilihanku. Lagi pula aku yakin jika ucapanku itu bukan omong kosong"

"Tapi –ssu."

"Daijoubu, jika ini menyangkut kesehatan, aku yakin aku bukan orang lemah" Tetsuya memberikan tatapan mata yang serius, mau tak mau Ryouta harus mengalah, jika sudah seperti ini, tak ada cara lain selain menuruti keinginan si bungsu.

"Wakatta-ssu" Ryouta menghela nafas dan menatap ke arah Kagami. "Kagami-kun desuka?" Kagami mengangguk. "Latihlah kemampuanmu dan buktikan kau akan menjadi cahaya yang bersinar untuk Tetsuya-cchi jika tidak-ssu, lebih baik kau berhenti menjadi pemain basket-ssu" Ryouta berbalik dan meninggalkan Gym, Tetsuya mengepalkan kedua tangannya. Kesal, ntah kenapa ucapan menusuk dari kakaknya membuatnya sangat kesal. Tetsuya membungkuk 90 derajat dengan wajah menyesal.

"Gomennasai Minna-san, Senpai-Tachi dan Kagami-kun. Tolong jangan diambil hati ucapan Ryouta-Nii, dia memang seperti itu jika menyangkut orang – orang yang akan dekat denganku." Sembari berdiri tegap, Tetsuya berbisik kecil. "Brother Complexs"

"Tetsuya-cchi, Cepatlah, Sei-Nii tak suka menunggu" panggil Ryouta saat Tetsuya tak kunjung berada di dekatnya.

"Haii" Teriaknya kecil, Tetsuya mengangguk kecil, "Mata Ashita" pamitnya. Semua yang ada di Gym mengangguk.

Tetsuya berlari kecil mengikuti langkah kaki Ryouta, mereka berjalan berdampingan dan terkadang Ryouta terlihat merangkul pundak kecil Tetsuya. Langkah mereka beriringan keluar Gym hingga tak terlihat lagi oleh anggota Club Basket Seirin. Helaan nafas lega serta keterkejutan menggema di Gym itu, antara percaya dan tidak, salah satu anggota keluarga Akashi yang hebat menampakkan wajahnya. Mereka kira ia orang baik, namun ternyata bermulut tajam.

"Tchih! Apa – apaan Ikemen Baka itu?! Sial! Memangnya aku lemah apa?" Gerutu Kagami.

"Aho! Wajar jika dia lebih kuat dari kita, latihan yang dia dapat jauh lebih banyak dari kita dan dia lebih tua 4 tahun darimu" Hyuuga memberi penjelasan.

"Tapi tetap saja menyebalkan! Akan ku butikan kalau aku pantas menjadi cahayanya si Akashi itu dan menjadi nomor 1 di Jepang!" Teriak Kagami dan mendapat hadiah sebuah pukulan di punggung.

"BAKAGAMI! Kalau kau ingin membuktikannya, lebih baik kau berlatih mulai dari sekarang, bukan berteriak seperti itu. Baka!" Gerutu Riko.

"Humh.. Aida-Senpai benar. Kau harus banyak berlatih Kagamin" ucap Momoi, Kagami sedikit meringis karna pukulan Riko yang kuat.

"Aku tau itu, tapi kenapa Kagamin? Sebutan macam apa itu?!"

"Hehehe" Momoi hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan dari Kagami.

"Hm.. kita masih memiliki waktu 20 menit lagi untuk latihan. Lebih baik kita mulai latihan lagi" perintah Riko.

"Haii"

Sementara seluruh tim Basket Seirin sibuk latihan, Tetsuya dan Ryouta sedang berjalan pelan menuju mobil Lamborghini terbaru yang terparkir di gerbang sekolah. Siswa dan Siswi yang belum pulang terdengar saling berbisik melihat kedua anggota Akashi itu. Sudah biasa, bahkan ini adalah hal yang wajar mengingat ada idola remaja yang berjalan santai di sampingnya.

"Nii-san, kau terlalu mencolok" Komentar Tetsuya.

"Apanya yang mencolok-ssu? Aku rasa ini biasa" Ryouta tak menghiraukan ucapan sang adik.

"Mungkin menurutmu itu tak terlalu mencolok, tapi mobil yang baru saja Nii-san beli dan penampilan Nii-san saat ini bagiku terlihat terlalu mencolok."

"Bukannya itu tak masalah Tetsuya-cchi, lagi pula ini bagus-ssu. Mereka yang ada disini jadi tahu siapa dirimu dan mereka tau posisi mereka-ssu" Tetsuya menghela nafas kecil.

"Berhentilah membanggakan apa yang kita punya Nii-san, lagi pula aku tak seperti Nii-san Tachi. Aku memilih sekolah ini bukan untuk membuat mereka tunduk padaku, tapi untuk menikmati masa sekolah seperti remaja di seusiaku." Tetsuya berbicara panjang.

"Maa, terserah Tetsuya-cchi. Tapi kalau aku boleh tekankan satu hal, kau boleh menikmati masa sekolah sesuai keinginanmu tapi tetap ingatlah motto keluarga kita-ssu. Jadilah yang terbaik, pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan dilupakan-ssu"

"Haii, dan lawanku adalah Nii-san Tachi" Mendengar jawaban Si bungsu, Ryouta langsung mengelus surai Baby Blue dengan lembut dan menghadiahi sebuah pelukkan maut sebelum bergegas pulang dengan mobil mewahnya.

_ooOOOoo_

"Jadi kau sudah memilih siapa yang akan menjadi cahaya untuk permainan Basketmu, Tetsuya?" suara si sulung mengintimidasi suasana makan malam yang tenang.

Si surai Baby Blue yang ditanyai masih sibuk mengucah sup Tofu yang menjadi menu makan malam hari ini. Otaknya berfikir sembari menimbang – nimbang jawaban yang akan ia sampaikan, ia tak ingin ada kata – kata yang salah terucap dari bibirnya dan membuat Seijuurou – kakak pertamanya – memindahkan dirinya ke sekolah yang lain.

"Haii, Sei-Nii. Aku sudah menemukan Cahaya yang akan menjadi patnerku" jawabnya pelan.

"Soukka, seperti apa orangnya?" tanya Seijuurou lagi.

"Namanya Kagami Taiga, tingginya sekitar 190 Cm dan tinggal di America sampai kelas 2 SMP. Dari analisisku, dia memiliki bakat dan kemampuan yang hebat dalam permainan basket meskipun masih banyak yang harus dikembangkan lagi" jelas si bungsu panjang lebar.

"Apa Cuma itu?"

"Sumimasen, tapi yang masih ku ketahui hanya sebatas itu Sei-Nii" Tetsuya menjawab jujur.

"Hm.. Ryouta, bagaimana menurutmu siswa yang bernama Kagami itu?" Pandangan Tetsuya sontak menatap ke arah kakak nomor 5 – Akashi Ryouta yang duduk tak jauh darinya.

"Untuk saat ini tak ada yang istimewa Sei-Nii. Kemampuannya mungkin di atas rata – rata siswa menengah Atas-ssu, tapi sayangnya masih terlalu lemah untuk mengikuti kejuaraan Inter – High dan tak menutup kemungkinan jika mustahil untuk mereka bisa ikut Winter Cup-ssu" Penjelasan Ryouta sontak membuat Tetsuya mendelik tajam.

"Kau tak salah pilihkan Nanodayo? Bukannya aku peduli, tapi kalau seperti ini, ucapanmu waktu itu hanya akan jadi omong kosong Nodayo" Si surai hijau – Shintarou – memberikan pendapat.

"Tetsu, lebih baik kau pilih yang lain saja. Aku yakin dia tak akan cocok denganmu" Si kulit Tan – Daiki – ikut menyetujui.

"Kalau Tetsu-Chin memilih yang salah, nanti mudah dihancurkan" Si surai Ungu – Atsushi – menambah rasa kesal di dalam benak si bungsu.

"Kau dengar Tetsuya, kalau sudah seperti ini, lebih baik kau cari orang lain saja. Atau kalau perlu kau pindah sekolah yang lebih baik dengan pemain hebat. Nii-san akan membantumu" Menunduk sopan, Tetsuya mulai berbicara lembut.

"Itu tak perlu Sei-Nii" Dahi Seijuurou mengerut bingung. "Kagami memang belum menjadi pemain basket yang kuat, tapi bukan berarti dia tak akan menjadi kuat. Aku percaya jika suatu saat Kagami mungkin akan menandingi kemampuan Nii-san Tachi, dan untuk mencapai saat itu, aku akan membantunya" Si bungsu menghela nafas kecil setelah menjelaskan apa yang ada di fikirannya.

"Itu tak mungkin Nodayo, kau mau membuat tubuhmu hancur dengan membantunya juga bagaimana dengan tugasmu yang lainnya Nanodayo? Kau harus bisa menyeimbangkan kegiatan Academy juga non-Academy Tetsuya, dan masih banyak lagi kegiatan rutin yang harus kau jalani." Shintarou berbicara panjang dan setiap ucapannya tentu saja benar mengingat profesinya yang seorang dokter muda.

"Aku bisa Shintarou-Nii, aku tak selemah itu" Masih keras kepala dan tetap pada pendiriannya, Tetsuya tak akan menyerah dengan mudah. Helaian surai Baby Bluenya terasa sedikit nyaman saat seseorang mengelusnya, begitu ia menoleh, ternyata pelakunya adalah Daiki yang sudah tersenyum lebar.

"Kau selalu saja keras kepala Tetsu. Mau bagaimana lagi, kau pasti tak akan pernah mengikuti kemauan Sei-Nii untuk pindahkan?" Tetsuya mengangguk. "Kalau begitu, Ganbatte ne."

"Oi Daiki Nii-cchi, kenapa Nii-cchi mendukung Tetsuya-cchi? Itu tak adil-ssu, aku juga mau mendukungnya-ssu" Ryouta merasa tak terima karna didahului oleh Daiki yang tentu saja ia anggap seperti rival.

"Kau terlalu lama Ryouta, lagi pula kau yang sepertinya terlihat paling tidak setuju kalau Tetsu menetap" Daiki berbicara santai.

"Benar-ssu, tapi mendengar keinginan kuat dari Tetsuya-cchi, aku jadi ingin mendukungnya-ssu"

"Arigatou Ryouta-Nii, aku senang Nii-san mendukungku" Tetsuya tersenyum simpul dan mengundang Ryouta untuk segera menerjangnya dengan pelukkan maut.

"Di larang bergerak dari tempatmu Ryouta" suara berat menginterupsi, tentu saja Ryouta tak berani membantahnya. Niat untuk memberikan pelukkan harus pupus karna suara berat si sulung. "Ryouta dan Daiki sudah mendukungmu Tetsuya, tapi masih ada aku, Shintarou dan Atsushi yang belum memberi jawaban." Tetsuya menunduk takut, ia berharap jika seluruh kakaknya akan mengizinkannya untuk tetap di Seirin. "Atsushi, bagaimana menurutmu?"

"He~~, kalau aku terserah Tetsu-Chin. Apapun yang membuatnya senang, aku akan mengikutinya" Jawab Atsushi dengan nada malas seperti biasanya.

"Apa – apaan itu Atsushi?! Seharusnya kau menentangnya, itu akan buruk untuk kesehatan Tetsuya?!" Shintarou menaikkan kacamatanya yang tak merosot sedikitpun. "Bukannya apa, aku hanya ingin mengantisipasi saja Nanodayo" Sifat Tsunderenya masih saja terbawa.

"Datte~, aku lihat Tetsuya lebih bersemangat jadi aku mendukungnya" Helaan nafas juga dengusan terdengar di bibir Shintarou, kesal karna tak ada yang mengerti dengan keadaan si bungsu.

"Maa, karna semua sudah memberikan pendapat dan sudah sangat jelas keputusannya apa, aku akan mengizinkanmu untuk tetap Sekolah di Seirin. Tapi dengan satu syarat" Tetsuya mendengarkan dengan seksama. "Pegang Janjimu itu, Tetsuya" Senyuman mengembang di bibir Tetsuya sedangkan perempatan merah muncul di dahi Shintarou.

"Nani? Kau menyetujuinya, Seijuurou?" protes Shintarou.

"Haii, selama dia bisa membuktikan ucapannya, aku tak masalah" Seijuurou menghela nafas sejanak. "Aku menanyakan ini untuk meyakinkan diriku kalau Tetsuya akan baik – baik saja tanpa aku"

"Maksudnya Sei-Nii?" dahi Si bungsu mengerut bingung.

"Maksudku, mulai minggu depan aku akan berangkat ke Kyoto lagi dan menetap disana untuk sementara karna perusahaan cabang sedikit mengalami masalah. Jadi sebelum aku berangkat, aku hanya ingin memastikan kau nyaman di sekolah itu dan bisa menjadi yangg terbaik dengan kemampuanmu. Dan Lagi.. " Seijuurou menutup mata dan membukanya cepat, "Jika terjadi sesuatu padamu maupun kalian semua, aku akan segera pulang secepat mungkin. Jujur, aku harap kalian semua yang ada disini bisa menjaga diri sebaik mungkin dan untukmu Tetsuya" pandangan iris mata Ruby dan Aqua itu bertemu. "Kau yang paling ku khawatirkan"

"Heh? Kenapa?" Tangan Seijuurou mengelus rambut si bungsu dengan lembut – kebetulan kursi mereka berdekatan.

"Karna kau yang paling harus di jaga, Tetsuya. Kau paling muda di antara kami, dan kau pula yang paling rentan terkena demam. Jadi.." belum lagi Seijuurou menyelesaikan ucapannya, Si bungsu langsung memotongnya cepat.

"Daijoubu Nii-san, aku tak akan selemah itu. Aku akan menjaga diri baik – baik, lagi pula Shintarou- Nii ada disini. Tak hanya itu, Daiki-Nii, Ryouta-Nii dan Atsushi-Nii ada bersamaku, yah walau Atsushi-Nii akan sedikit sibuk di Akita. Tapi Nii-san tenang saja, kalau kalian semua tak ada di rumah, aku masih memiliki Tanaka-san dan pelayan lainnya" Senyuman Sijuurou mengembang dengan elusan yang tak berhenti.

"Haii, Kau benar Tetsuya. Akan ku usahakan untuk segera menyelesaikan masalah di perusahaan cabang baru ini, aku tak ingin pergi terlalu lama" Seijuurou menatap satu persatu adik – adiknya yang duduk tenang dengan makanan mereka masing – masing dan berhenti pada si surai hijau - Shintarou. "Shintarou, sebagai yang tertua setelah aku, aku ingin kau menjaga Tetsuya dan yang lainnya. Kau yang paling mengerti kesehatan keluarga kita" Mendengus kecil, Shintarou menaikan kacamatanya.

"Aku sudah tau, Nodayo"

"Baiklah, semoga kau berhasil Tetsuya. Ganbarre" Mata Tetsuya melebar saat mendapat semangat dari si sulung.

"Jadi, Sei-Nii tetap mengizinkan aku sekolah di Seirin?"

"Tentu saja, tapi jika terjadi sesuatu karna kau bersekolah di Seirin, Nii-san sudah menyiapkan surat pindah ke Rakuzan" Jawab Seijuurou dengan nada canda disana.

"heh? Sei-Nii?!"

Tetsuya menggembungkan pipinya dan menatap Seijuurou dengan tatapan sebal, sangat sebal tapi terlihat imut di wajah putihnya. Suasana yang tadinya tegang nan canggung, kini berubah menjadi hangat karna ekspresi wajah limited edition yang dibuat oleh si bungsu. Shintarou tersenyum kecil, Atsushi sebenarnya ikut senang namun tertutupi oleh pandangan mata malasnya, Daiki ikut tertawa dan mengusap surai lembut si bungsu sedangkan Ryouta baru saja akan memeluk si bungsu, tapi mendapat tatapan tajam dari Seijuurou akhirnya ia duduk dengan mengumpat kesal.

"Jadi, apa kau siap untuk melukis masa depanmu Tetsuya?"

"Haii! Aku siap"

To Be Continue...

Haiiiii,... Minnaaaaaaaaaa! \(^o^)/

jujur gak nyangka ada yang follow bahkan ada yang komentar buat FF aku yang masih absurb alias masih baru.. Fandom bahkan pakai ini juga baru pertama pakai. jadi tolong siapapun ajari cara balas Komentar! -_-"" Lian gak tau, lalu lian juga sebenarnya ngetik ff ini hanya untuk dibaca sendiri (awalnya) soalnya lian banyak baca FF yang authornya pada Hiatus, jadi ide lian tumpah begitu sajja.. (^_^)v

Etto,, Lian juga mau ngaku, lian bukan pengguna , tapi lian pengguna Wordpress jadi maklum jika belum ngerti.. Ini ajah ngubek - ngubek dulu baru nemu gimana cara update + cara nyimpen cerita FF Lian...

Nah,, bukan mau promosi, tapi bagi yang suka FF BTS dan EXO genre Brothership + Family, kalian bisa kunjungi .com..

Genre disana itu cuma ada Brothership, Family, Friendship, dan pastinya butuh tisu (kata readersnya).. Jadi kalau mau kunjungi, silahkan.. Lian senang buat kamu yang mau baca.. ^^

Untuk yang follow+Favorite Lian ucapin terima kasih banyak... Lian masih baru dan sangat awam, jadi maaf kalau ada kata - kata juga jalur cerita yang katanya OOC.. Lian hanya numpahin inspirasi ajah... Untuk yang komen, Lian mau ubek-ubek dulu, mau cari tau caranya balas komentar... ^^ See You Guys.. Hope You will be my next Friends... ^^