Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 3
%^First Win^%
Beberapa bulan sudah terlewati bagi pemuda bersurai Baby Blue yang sudah memasuki jenjang menengah Atas. Segalanya terasa begitu cepat bahkan sekarang Kejuaraan Inter High sudah di depan mata. Sejauh ini, keadaan fisiknya benar – benar dalam keadaan prima. Nilai – nilai ulangannya maupun harian tetap stabil seperti biasa dan tak ada yang turun. Kegiatan organisasi siswa yang ia ikuti juga berjalan dengan baik bahkan sama seperti Seijuurou, walau masih seorang kouhai, tapi ia di percaya untuk menjadi bagian terpenting di dewan organisasi sekolah. Meski sama – sama mendapatkan kepercayaan, tapi Tetsuya masih sedikit kalah dari Sejuurou karna di awal Seijuurou masuk, dia langsung diangkat sebagai ketua sedangkan Tetsuya masih wakil ketua. Namun Tetsuya tak ambil pusing soal itu, setidaknya ia sudah lebih dekat satu langkah untuk bisa menyamai kemampuan kelima kakaknya.
Setiap hari di habiskan oleh Tetsuya dengan fokus pada sekolah barunya juga basket yang menjadi hoby sekaligus salah satu jalan untuk mengalahkan – setidaknya menyamai – kelima kakak yang selalu menang dalam permainan ini. Latihan yang di jalani si bungsu Akashi ini sedikit berbeda dari latihan sebelum – sebelumnya. Jika di Teiko ia sudah mendapatkan latihan yang berat bahkan keras, di Seirin jauh berkali lipat beratnya dan setiap orang mendapatkan menu latihan yang berbeda. Kemampuan Aida Riko dalam melatih tak bisa di ragukan dan jangan lupakan pencatatan hasil latihan detail yang di tulis Momoi Satsuki, jadi jangan heran jika kemampuan setiap pemain meningkat dengan cepat.
"Tetsu-kun~~" Teriakkan gadis musim semi dengan surai merah muda menyambut selalu menyambt kedatangan Tetsuya dengan pelukkan mautnya.
"Aku tak bisa bernafas Momoi-san" ungkapan yang sama saat Momoi memeluk tubuhnya dengan erat. Walau sudah terbiasa sejak duduk di bangku SMP, tapi tetap saja pelukkan wanita itu setara dengan pelukkan kakak ke lima – Akashi Ryouta –.
"Mou~ padahal aku belum puas memelukmu" Bibir gadis itu di majukan pertanda ia tengah sedikit kesal, bukan Akashi Tetsuya namanya jika berbicara kasar, dengan lembut ia menepuk surai merah muda itu dan tersenyum manis.
"Gomen ne, mungkin lain kali" rona merah langsung menghias di pipi manis Momoi, ia mengangguk dan memandang dengan antusias.
"Un!" Sinar wajah yang berubah itu langsung membuat Tetsuya merasa lega. Tetsuya ingat betul nasihat dari sang ibu yang telah lama pergi, ia selalu berkata untuk bersikap lembut pada wanita dan tak boleh kasar.
'Anggaplah setiap wanita itu adalah Kaa-san, kalau kau menyakiti wanita, maka itu tandanya kau menyakiti Kaa-san' nasihat itu bergaung di kepala Tetsuya dan menjadikannya sosok yang lembut pada setiap wanita.
"Oi Akashi! Sampai kapan kau akan berlama – lama di sana?! Cepatlah, kita akan mulai berlatih untuk pertandingan besok" Teriak Kagami yang sudah sibuk dengan bola basket di tangannya.
"Tunggu Sebentar Kagami-kun" Teriak Tetsuya, beberapa detik setelahnya ia menatap Momoi yang masih setia di hadapannya "Aku berlatih dulu, Momoi-san" Mengangguk kecil dan tersenyum menjadi jawaban dari ucapan Tetsuya barusan. Dengan setengah berlari, Tetsuya menghampiri Kagami.
"Kau terlalu lama, Akashi" Protes Kagami.
"Sumimasen, kalau begitu kita mulai latihannya sekarang" Kagami mengulas senyum dan bersiap untuk mulai latihan dari permainan yang ia cintai, Basket.
Sebelum dimulai latihan, setiap pemain biasanya melakukan pemanasan berdasarkan intruksi dari sang pelatih. Selanjutnya mereka akan mulai latihan kelenturan dan latihan peningkat kekuatan, lalu saat waktu latihan tinggal 50 menit lagi, mereka akan mulai latih tanding sekaligus penyusunan formasi untuk bertanding. Tak jarang 5 menit sebelum pulang mereka akan mengadakan meeting singkat untuk mendengar penjelasan dari Momoi mengenai lawan – lawan yang akan mereka lawan dan tentu saja Momoi sudah memprediksi siapa saja yang akan menjadi lawan mereka selanjutnya.
"Lawan kita yang pertama kali adalah Kaijo dan di hari kedua adalah Shinkyo" jelas Momoi.
"Tunggu dulu Momoi-san. Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Riko.
"Berdasarkan pertandingan – pertandingan sebelumnya dan beberapa tahun belakangan, aku dapat menganalis dan memperkirakan siapa saja yang akan kita lawan. Aku yakin ini tak salah" Momoi menjelaskan percaya diri.
"Untuk pertandingan pertama aku memang yakin jika lawan kita adalah Kaijo, tapi untuk di hari kedua? Aku tak yakin jika kita akan melawan Shinkyo" Hyuuga mengemukakan pendapatnya.
"Huh,," Momoi menghela nafas. "Baiklah, tapi sebelum itu aku akan menjelaskan mengenai Kaijo yang akan kita lawan besok"
"Terserah kau saja siapa duluan, yang penting aku sudah tak sabar untuk bertanding" Celoteh Kagami.
"Tahun lalu Kaijo berhasil menjadi juara di Winter Cup dengan Akashi Ryouta sebagai Ace, tapi tahun ini beberapa pemain baru yang direkrut juga memiliki kemampuan luar biasa jadi mereka tak bisa dianggap remeh. Aku sudah mendapatkan beberapa data pemain, dari hasil yang ku simpulkan, mereka memiliki kemampuan di atas kita"
"K-kau tidak bergurau kan Momoi-san?" Furihata takut – takut mulai bertanya.
"Iie, aku tak sedang bergurau" Momoi menunjukkan foto pemain dan statistik data pemain. "Bisa kalian lihat sendiri bentuk tubuh dan juga dari segi masa otot, kemampuan mereka jauh di atas kita. Tapi kalian tenang saja, aku sudah bisa memprediksi apa saja yang akan mereka lakukan dan dengan menggunakan Kagami juga Tetsu-kun sebagai ujung tombak, kita bisa menang melawan mereka"
"Wakatta, akan kami coba" ucap Tetsuya dan mendapatkan senyuman ramah dari Momoi.
"Selanjutnya Shinkyo, sejujurnya tak ada yang istimewa dari sekolah ini kecuali salah satu pemain yang berasal dari luar negri. Papa Mbye Shiki, tingginya lebih dari 2 meter dan kemampuannya dalam basket juga hebat. Tapi jika di bandingkan dengan yang lainnya, mereka semua memiliki kemampuan rata – rata."
"Papa? Pampa? Papan! Kitakore.." Celoteh Izuki tak jelas.
"Diamlah Izuki" celetuk Hyuuga.
"Tinggi lebih dari 2 meter ya? Seperti Atsushi Nii-san" Gumam Tetsuya yang di dengar oleh Kagami.
"He? Siapa tadi yang kau bilang?" Tanyanya.
"Atsushi Nii-san, tingginya lebih dari 2 meter dan paling tinggi di antara kami" ulang Tetsuya.
"K-Kau mempunyai seorang kakak seperti Titan, Akashi?!" Kagami shock berat dan hampir tak percaya.
"Atsushi – Nii bukan seorang Titan, Kagami-kun. Hanya saja dia memiliki tubuh yang tinggi" Momoi yang mendengar pembicaraan itu sontak melirik ke arah Kagami dan Tetsuya.
"Ne Tetsu-kun, Kakakmu yang ke – 3 mempunyai tubuh yang tinggi. Jika boleh tau, apa kelemahan kakakmu itu?" Tanya Momoi ragu.
"kelemahan?" Tetsuya meletakkan jemari mungilnya di dagu sembari mengambil posisi berfikir. "Atsushi-Nii sering kesulitan memegang benda – benda kecil karna tubuhnya besar, Sei-Nii pernah memberitahuku kalau orang yang lebih tinggi dari kita bisa di kalahkan dengan Ankle Break. Tapi yang bisa melakukan itu hanya Sei-Nii, Hmm" Tetsuya mencoba berfikir lagi, "Mungkin kita tak bisa menghentikannya, tapi kita bisa menghalanginya saat menembak"
"Maksudnya?" Riko yang tak mengerti bergumam pelan.
"Begini Coach…." Tetsuya menjelaskan apa yang menjadi ide untuk mengalahkan pria dengan tinggi lebih dari 2 meter itu.
Sementara itu di kediaman Akashi, Ryouta sibuk menghentak – hentakkan kedua tangan dan kakinya karna bosan setengah mati. Pekerjaannyaa telah selesai dan hari ini juga study-nya sedang tak ada jadwal. Demi apapun yang ada di dunia ini, Ryouta benar –benar bosan. Biasanya jika ia cepat pulang, akan ada sang adik yang bisa ia peluk bahkan bisa ia ajak pergi, tapi sekarang? Ough, adiknya terlalu cepat tumbuh.
"Menyebalkan-ssu, aku tak menyangka jika pulang cepat akan semenyebalkan ini" gerutunya.
Di otak Ryouta saat ini adalah meminta waktu agar cepat berlalu, tapi sayangnya sama sekali tak mempan. Waktu terasa berjalan dengan lambatnya – menurut Ryouta –, Jika saja ia tak mengatakan hal kasar pada tim Seirin saat itu, mungkin sekarang Ryouta sudah menyalakan mesin Lamborghininya dan bergegas ke Seirin untuk melihat adiknya latihan. Baiklah, salahkan saja mulutnya yang tak bisa di rem dan menjadikan sang adik melarangnya untuk ke Sekolah Seirin.
"HAAAAA! Cepatlah pulang Tetsuya-cchi"teriaknya frustasi.
"Berisik Nodayo" Ryouta terperanjat mendengar suara yang familiar untuknya.
"Shintarou Nii-cchi" ucapnya sembari tersenyum saat melihat si surai Hijau datang dengan pisau cukur di tangan kanannya – disinyalir sebagai Lucky Item hari ini –.
"Kau kenapa Nanodayo?"
"Aku bosan-ssu, tak ada yang bisa ku kerjakan. Tetsuya-cchi juga lama sekali pulangnya, Haaah,, aku ingin menjemputnya-ssu" ucap Ryouta mengacak – acak rambutnya.
"Tetsuya akan pulang telat malam hari ini karna mereka sedang membahas strategi permainan untuk pertandingan Inter-High besok"
"Hah?! Jadi Tetsuya-cchi pulang terlambat-ssu?"
"Begitulah" jawab Shintarou singkat.
"Kalau begitu aku akan menjemputnya" Teriaknya semangat, "Tanaka-san, hari ini aku yang jemput Tetsuya-cchi ssu" ucapnya saat melihat Pelayan pribadi Tetsuya tak sengaja lewat.
"Itu tak perlu Nodayo, hari ini aku yang akan menjemputnya. Bukan karna khawatir Nodayo, tapi hari ini aku harus mengecek kesehatan Tetsuya" Semangat berapi – api yang tadinya berkobar, mendadak lenyap mendengar penuturan sang Kakak.
"Nii-cchi Hidoii-ssu, aku juga ingin menjemput Tetsuya-cchi" rengek Ryouta, mendesah pelan, Shintarou terpaksa mengalah.
"Maa, kau boleh ikut tapi jangan berisik Nodayo"
"Haii-ssu"
Waktu berlalu dengan cepat, tiba saatnyaa mereka pulang. Matahari yang tadinya bersinar terang kini tergantikan oleh cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Suasana sekolah juga sudah mulai sepi karna siswa maupun siswi telah pulang ke rumahnya masing – masing. Tim Basket Seirin yang baru saja menyelesaikan latihannya kini berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, saling bercerita mengenai hal kecil juga segala hal menyangkut basket. Begitu sampai di depan gerbang, mobil ferarri mewah terparkir dan menampakkan 2 orang yang Tetsuya kenal. Teriakkan cempreng yang khas memenuhi gendang telinganya dan jangan lupakan anggota tim Basket Seirin juga ikut mendengarkannya.
"TETSUYA-cchi! Kochi – kochi" teriak Ryouta sembari melambaikan tangan.
"Ryouta-Nii?" Tetsuya menyipit, bukankah yang menjemputnya hari ini adalah Shintarou? Lalu kenapa Ryouta juga ikut?
"Berisik Nodayo" Gerutu Shintarou yang langsung bergegas keluar mobil untuk menghampiri Tetsuya. "Tetsuya, cepat masuk. Sebentar lagi aku ada jadwal operasi, Nodayo" begitu melihat surai hijau yang bertubuh tinggi, Momoi yang tadinya memeluk lengan Tetsuya sontak melepaskannya.
"Haii, Nii-san" Tetsuya berbalik dan membungkuk untuk berpaitan pada yang lainnya. "Mata Ashita" Tetsuya langsung mengikuti langkah Shintarou menuju mobil mewahnya diikuti senyuman ceria dari Ryouta.
Begitu mobil mewah itu melaju, anggota Seirin saling berpandangan. Baiklah, mereka memang tak asing dengan si surai kuning, tapi dengan si surai Hijau? Ini untuk pertama kali mereka melihatnya. Kesan pertama yang mereka lihat adalah kakaknya yang tinggi juga terlihat perfectionist. Dari postur tubuh, mereka tak akan berani bertaruh mengenai kemampuan Top Shooter-nya. Jika Seirin masih sibuk dengan apa yang di lihat, lain halnya dengan Tetsuya, Shintarou dan Ryouta yang tengah dalam perjalanan menuju AKASHI HOSPITAL, tentu saja rumah sakit yang saat ini di kelola sang kakak nomor 2.
"Shintarou-Nii, kenapa Ryouta-Nii ikut menjemputku? Bukanya hari ini Cuma kita berdua?" Tetsuya membuka pembicaraan.
"Hidoii-ssu, aku juga ingin menjemputmu-ssu"
"Bukan seperti itu Nii-san, hanya saja Nii-san kan sudah ku larang untuk menjemputku" Protes Tetsuya dan mendapatkan tatapan dengan air mata buaya dari Ryouta.
"Sudahlah Nodayo, yang penting kami menjemputmu dan masih sempat melakukan Check Up seperti biasa." Shintarou berbicara sembari fokus menyetir. "Nanti kita juga akan pulang sama, jadi selama menunggu, kau tak akan bosan karna Ryouta menemanimu Nodayo" Tetsuya menghela nafas kecil,
"Satu gelas Vanilla Shake sudah cukup untuk mengusir rasa bosanku" ucap Tetsuya polos.
"TETSUYA-cchi!" Gerutu Ryouta dan mendapatkan tawa jahil dari Tetsuya dan berakhir dengan gurauan juga candaan.
_ooOOOoo_
Hari yang ditunggu tiba, kejuaran Inter-High di mulai. Seluruh pemain berbakat dalam olahraga basket berkumpul menyambut kejuaran Inter-High sekaligus tiket menuju kejuaraan tingkat nasional yang ditunggu tiap tahun, Winter Cup. Dengan mengenakan jersey Seirin, Tetsuya tampak begitu tampan terlebih ada kesan imut karna Jersey yang sedikit kebesaran. Dukungan tak henti – hentinya mengalir dari bibir kakak - kakaknya terlebih Ryouta dan Daiki yang sudah siap sejak pagi untuk menonton pertandingan pertama adiknya di jenjang Senior High School.
"Jangan kalah Tetsu!" Daiki mengusap surai lembut Baby Blue dengan senyuman cerahnya.
"Haii, Daiki-Nii" walau terkesan berlebihan karna masih mengikuti bahkan sebelum pertandingan, Tetsuya tetap bersikap tenang juga sopan sekaligus mengerti bagaimana sifat kakak-kakaknya dan rela menjadi sasaran maut Ryouta yang dari tadi tak mau melepaskan pelukkannya.
"Tetsuya-cchi tak boleh kalah-ssu" celoteh Ryouta riang.
"Haii, Ryouta-Nii karna yang akan menang adalah Seirin. Tapi…" Tetsuya menatap datar ke arah Ryouta "Bisa lepaskan pelukkan Ryouta-Nii? Aku yakin Kouhai Tachi Ryouta-Nii di Kaijo sedang menatap ke arah sini" Mendengar kata Kouhai, Ryouta langsung melepaskan pelukkannya dan menggaruk tengkuknya canggung.
"Gomen-ssu, dan seperti kau benar Tetsuya-cchi" Ryouta masih dalam posisi canggungnya.
"Baka Ryouta! Saa, kita ke bangku penonton dan melihat pertandingan dari sana" Daiki menarik kerah belakang baju Ryouta yang masih sibuk dengan senyuman kikuknya.
"Daiki Nii-cchi, Ittai-ssu yo. Jangan menarikku dengan cara seperti itu-ssu, nanti fansku lihat bagaimana?" Protes Ryouta.
"Aku tak peduli, lebih baik kau mempermalukan dirimu sendiri di depan fans daripada kau mempermalukan Tetsu dengan tingkah bodohmu" Daiki terus menarik Ryouta dengan posisi yang sama.
"Hidoii-ssu! Akan ku adukan pada Atsushi Nii-cchi dan Sei Nii-cchi" rengek Ryouta.
"Adukan saja, mulai minggu depan aku akan pindah ke Academy untuk sementara. Imayoshi – Senpai menyuruhku untuk ikut pelatihan penjinak Bom dan Penembakkan jarak jauh" Daiki menjawab santai sedangkan Ryouta sudah kesal setengah mati.
Di bench, Seirin tengah melakukan persiapan. Sebagian pemain melakukan pemanasan, sebagian lagi tengah sibuk mempersiapkan P3K sekaligus handuk untuk para pemain. Riko menyiapkan strategi cadangan dan Satsuki mempersiapkan Lemon madu yang di bantu oleh Furihata – jika tidak, bisa saja Satsuki tidak memotong lemom madunya-.
Starter untuk pertandingan kali ini adalah Kagami, Hyuuga, Izuki, Kiyoshi dan Tetsuya. Ryouta sudah berteriak heboh di bangku penonton sedangkan Daiki menggerutu dengan adiknya yang super berisik. Lawan kali ini cukup berat, tapi karna sudah ada pertemuan serta pembahasan mengenai para pemain, setidaknya Seirin sudah mendapatkan gambaran mengenai permainan Kaijo tanpa ada yang Ace – Akashi Ryouta – yang sudah lulus pastinya.
"Yoroshiku Onegaishimasu!" teriak para pemain saat berhadapan dalam barisan.
Peluit tertiup panjang dan bola melambung tinggi, begitu bola mencapai titik tertinggi, Kagami dengan lihai melompat setinggi mungkin dan berhasil mendapatkan bola. Pertandingan pun dimulai dengan sengit dari kedua tim. Ritme permainan benar – benar cepat bahkan hanya dalam waktu 5 menit, rasanya seperti sudah 20 menit bertanding. Serangan demi serangan di lancarkan oleh Seirin dan Kaijo tanpa memperdulikan pertahanan mereka. Beruntungnya Seirin memiliki Kiyoshi Teppei sebagai Center, Rebound berhasil dengan cepat ia dapatkan. Sungguh ini pertarungan yang sengit, bahkan keringat sudah mengucur deras dari para pemain.
"Gawat, para pemain sudah mandi keringat. Ritme permainan ini sungguh menguras banyak tenaga, Momoi-san, bagaimana?" Tanya Riko.
"Aku sudah menduga permainan seperti ini akan terjadi, tapi aku tak menyangka jika Ritmenya juga akan berubah drastis. Menurutku cara terbaik adalah mengurangi tempo permainan dan mengambil Time Out" Usul Momoi.
"Kau yakin hanya dengan Time Out? Lalu setelahnya?"
"Kita akan mengganti salah satu pemain untuk membuat ritme permainan melambat"
"Kau benar juga, aku akan menarik Akashi-kun keluar dan menggantinya dengan Furihata-kun"
"Iie, kalau kita mengganti Tetsu-kun sekarang, sama saja kita membiarkan mereka menambah poin, kita akan mengganti Izuki-Senpai dengan Mitobe-Senpai untuk sementara sampai ritme menjadi lebih lambat. Ketika sudah semakin lambat, Mitobe - Senpai akan kita ganti lagi dengan Izuki-Senpai. Posisi Point Guard akan digantikan oleh Kiyoshi – Senpai dan Mitobe – Senpai akan berperan sebagai Center"
"Ide bagus, kita akan mengganti mereka" Riko bertindak mengambil Time Out dan sesuai rencana, mereka mengganti Izuki dengan Mitobe.
Pertandingan kembali dilangsungkan, sesuai dengan dugaan Momoi, masuknya Koganei dapat memperlambat ritme permainan karna posisi bertahan di ambil oleh dua orang. Hyuuga dan Kagami berperan untuk mencetak poin sedangkan Tetsuya masih dengan posisinya sebagai bayangan. Pass demi Pass di berikan oleh Tetsuya untuk memberi peluang pemain lainnya dalam mencetak poin. Seirin lebih dahulu unggul walau selisihnya tak begitu jauh. Tak lama setelah merasakan permainan mulai melambat, Mitobe digantikan kembali oleh Izuki. Selisih terus melebar dengan masuknya Izuki dan Pass yang berasal dari Tetsuya hingga babak pertama selesai.
"Bagus, kalian harus mempertahankan ritme permainan seperti ini hingga babak kedua nanti. Akashi-kun, apa kau masih bisa bermain lebih lama lagi?" Tanya Riko.
"Aku masih bisa" jawab Tetsuya singkat.
"Baiklah kalau begitu, strategi kita tak akan berubah sampai pertandingan selesai" ucap Riko.
"Haii!" teriak pemain dengan semangat.
"Etto, Coach" Kagami menginterupsi
"Ne Kagami, Nani?"
"Bukannya sebaiknya kita ganti strategi? Aku yakin mereka sudah mengantisipasi dengan pola serangan kita"
"Kalau soal itu kau tak perlu khawatir Kagamin" Momoi memotong ucapan Kagami, "Mereka tak akan bisa menebak pola serangan kita, benarkan Tetsu-kun?" Momoi memberikan sebuah senyuman penuh arti untuk Tetsuya.
"Tentu saja Momoi-san" Balas Tetsuya dengan lengkungan tipis disana.
"Saa, tidak ada pertanyaan lagi?" Tanya Riko dan di jawab dengan gelengan kepala dari tiap pemain. "Pergi kesana dan bawa kemenangan untuk kita!"
Teriakkan semangat terdengar dari tim Seirin, Babak kedua pun di mulai. Sesuai dengan dugaan, Kaijo sudah tau strategi permainan dari Seirin tapi tetap saja mereka tertipu dengan Pass yang di arahkan oleh Tetsuya. Berulang kali mereka mencoba memberikan Pass, ujung – ujungnya Tetsuya mencuri bola dan memberikan Pass untuk pemain lain.
"Tetsuya-cchi bermain bagus hari ini-ssu" Gumam Ryouta dengan bibir yang mengulas sebuah senyuman manis juga bangga pada si bungsu.
"Tentu saja, Tetsu adalah adikku, wajar jika dia hebat" Komentar Daiki dengan rasa bangganya.
"aku juga adikmu Daiki Nii-cchi" cibir Ryouta.
"Soukka, kenapa aku tak ingat punya adik berwarna Kuning sepertimu?"
"Hidoii-ssu, aku berbeda 2 tahun darimu Nii-cchi"
"Warui, tapi aku benar – benar tak ingat punya adik dengan suara berisik sepertimu" Daiki menggoda sang adik dengan nada malas.
"Daiki Nii-cchi!" Dengus Ryouta kesal dan mendapat tawa renyah dari Daiki.
Setelah pertengkaran kecil, mereka kembali fokus pada pertandingan yang sudah berjalan selama 4 menit. Namun begitu masuk ke menit ke 5, di luar dugaan kecelakaan terjadi. Tetsuya tak sengaja terkena benturan keras di dahi sebelah kanan sehingga cairan kental berwarna merah keluar dari dahi dahinya. Ryouta dan Daiki yang duduk di bangku penonton sontak berdiri tegap.
"Tetsu!" teriak Daiki.
"Tetsuya-cchi" teriak Ryouta hampir bersamaan dengan Daiki. Mereka tak bisa langsung turun ke lapangan, jadi mereka hanya bisa melihat dari jauh. Sementara itu di lapangan…
"Oi Akashi, Daijoubuka?" Tanya Hyuuga Khawatir, Tetsuya mencoba berdiri dengan sedikit terhuyung.
"Daijoubu desu" ucap Tetsuya dengan sebelah matanya yang menutup karna darah yang mengalir melewati matanya. "Hanya sedikit pusing" Baru saja ia berdiri tegap, tubuh mungil itu sontak kehilangan keseimbangan dan kehilangan kesadaran saat itu juga.
"Akashi!" Teriak Kagami yang tak jauh darinya, beruntung sebelum tubuh Tetsuya menyentuh lantai, Kagami dengan cekatan menangkap tubuh Tetsuya. "Oi Akashi, Akashi" Kagami mengguncang – guncang tubuh Tetsuya namun tetap tak ada respon.
"BaKagami! Cepat bawa kesini!" Teriak Riko panik, "Mitobe-kun, gantikan kau menggantikan Akashi" Mengerti dengan perintah sang pelatih, Mitobe segera masuk menggantikan posisi Tetsuya.
"Tetsu-kun" gumam Momoi khawatir saat melihat Riko mengobati luka di dahi Tetsuya.
"Bagaimana ini Captain?" Tanya Kagami.
"Kau tenang saja, serahkan ini pada semua Senpai-mu" Jawab Hyuuga Santai.
"Iie, Demo…" Kagami bermaksud protes, tapi melihat sisi gelap menguar dari tubuh Hyuuga menciutkan nyalinya.
"Lebih baik kau bersiap untuk melakukan Offence, defence akan kita serahkan pada Kiyoshi dan Mitobe, selebihnya kita akan menyerang" Celoteh Hyuuga. "Terkadang aku jadi bingung siapa Kouhai dan siapa Senpai, seharusnya mereka mengerti posisi mereka. Aho" rutuk Hyuuga berulang – ulang saat kembali ke lapangan.
"Kau terlalu berlebihan Captain" komentar Izuki.
"Daijoubuka na?" Gumam Kagami.
"Kau tenang saja, dia bisa menjadi orang yang serius di saat seperti itu" Izuki mulai memasuki lapangan. "Saa, kita selesaikan pertandingan ini"
"Haii" jawab Kagami
"Ayo kita bersenang – senang" Kiyoshi memberi semangat.
"Kau terlambat Aho!" komentar Hyuuga.
Pertandingan di mulai tanpa Tetsuya yang saat ini masih belum sadar, Riko beserta pemain lainnya sibuk memperhatikan jalannya pertandingan sementara Momoi masih memperhatikan keadaan Tetsuya dan sesekali melihat ke arah mata yang tertutup rapat. Tak beda jauh dari bench, di bangku penonton Ryouta dan Daiki sudah gelisah tak menentu. Ryouta bahkan terus – terusan mondar mandir tak jelas, beruntung saat itu penonton tak terlalu banyak di tempatnya duduk, jika tidak mungkin ia sudah terkena lemparan sepatu.
"Oi Ryouta, bisakah kau duduk. Kau mengganggu penglihatanku!" Gerutu Daiki.
"Datte, Tetsuya-cchi terluka-ssu. Aku takut lukanya parah-ssu"
"Tenanglah, mereka juga sudah merawatnya"
"Daiki Nii-cchi, mereka hanya merawat luka luarnya saja-ssu, bagaimana kalau Tetsuya-cchi kena gagar otak?"
"Baka! Tak mungkin benturan itu menyebabkan gagar otak"
"Nii-cchi, kita tak pernah tau apa yang sering atlet dapatkan saat bertanding-ssu. Contohnya saat itu kau cedera siku dan aku cedera kaki, ingat saat Shintarou Nii-cchi merawat kita selama 1 bulan penuh-ssu? Bagaimana jika Tetsuya-cchi—"
Plettak
"Kau berpikir terlalu Jauh Ryouta! Tunggu sampai pertandingan selesai, baru kita bawa Tetsu ke tempat Shintarou-Nii" Daiki mencoba menenangkan.
"Ittai-ssu, aku juga akan ikut di periksa"
"Heh? Memangnya kau kenapa?"
"Nii-cchi baru saja memukul kepalaku, aku takut ketularan bodoh"
"N-Nani?!" Daiki mendelikkan matanya, sontak saja membuat nyali Ryouta Ciut hingga akhirnya memilih duduk diam walau hatinya berontak khawatir.
Pertandingan berjalan dengan penuh ketegangan, masing – masing Tim tak ada yang mau mengalah sama sekali, saling berlomba memasukkan bola ke Ring untuk menambah point dan memenangkan pertandingan. Seirin berusaha sekuat mungkin untuk melebarkan seisih angka dengan ke unggulan, namun di luar dugaan mereka malah tersusul bahkan mereka berhasil di kalahkan dengan selisih poin yang cukup jauh.
"Gawat! Kita bisa kalah jika seperti ini, andai Akashi-kun bisa bermain" gumam Riko.
"Wakarimasu, aku akan kembali bermain" Tetsuya yang sudah sadar dengan sempoyongan bangkit dari tempatnya.
"Heh? Matte Tetsu-kun, kau tak boleh bermain lagi" Momoi memberitahu.
"Demo, Coach bilang kita tak akan menang jika aku tak ikut." Ucap Tetsuya polos.
"Iie, Aku hanya bergumam tak jelas" Riko mencoba menghalangi.
"Kalau begitu aku ingin main, ini mungkin akan menjadi kemenangan yang menentukan Seirin kedepannya" Jelas Tetsuya.
"Mou~~ Tetsu-kun selalu seperti itu. Senpai, biarkan Tetsu-kun ikut bermain" menghela nafas berat, Akhirnya Riko mengalah.
"Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu padamu aku akan menarikmu keluar"
"Haii! Ittekimasu" Tetsuya melangkah masuk sedangkan Mitobe keluar dari lapangan. Kagami dengan wajah serius melihat ke arah Tetsuya yang jalan menuju ke arahnya.
"Yo, Sekarang saatnya pertunjukkan bukan?" Tetsuya mengangguk, sementara di bangku penonton, Ryouta tengah mencengkram erat jaket yang dikanakan Daiki.
"Apa yang mereka fikirkan-ssu! Kenapa Tetsuya-cchi diizinkan bermain?! Aku akan protes pada pelatihnya-ssu!" gerutu Kise yang mengumpat tak jelas.
"Diamlah Ryouta, aku yakin ada alasan di balik ini semua"
"Aaah! Bagaimana kalau Sei Nii-cchi tau, kita bisa di gantung-ssu"
"Tenang saja, Sei-Nii tak ada disini. Nanti setelah pertandingan selesai kita akan tanyakan alasannya pada Tetsu"
"Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu, aku akan tuntut mereka-ssu"
Plettak.
"Kau berlebihan"
"It-Ittai" Gerutu Ryouta sembari menyentuh kepalanya yang sudah 2 kali dipukul Daiki.
Pertandingan kembali berjalandengan sengit, saling susul menyusul dan memperlebar jarak antara poin mereka masing – masing. Semenjak Tetsuya masuk, pertandingan menjadi tak tertebak sedikitpun. Hingga akhir, selisih angka yang mereka dapat benar – benar menganggumkan dan membawa kemenangan pertama untuk Seirin. Setelah memberi hormat, mereka langsung bergegas keluar dari lapangan, dan di saat itu pula si surai kuning menerjang Tetsuya dengan pelukkan maut.
"Tetsuya-cchi, lebih baik kita ke tempat Shintarou-Nii!" teriak Ryouta yang tentu saja mendapatkan amukan dari Daiki.
"Berhenti berteriak Ryouta" Gerutunya, "Saa, Tetsu, sekarang kita periksakan dulu lukamu. Kau masih harus bertanding besokkan?" Tetsuya mengangguk.
"Besok mungkin aku akan melawan Shinkyo"
"Mereka lawan yang tak terlalu kuat, jadi aku yakin kau menang. Tapi sebelum itu kita tanyakan dulu pada Shintarou-Nii" Daiki menatap ke arah pemain Seirin. "Kami akan membawa Tetsu, jadi kalian tak perlu khawatir"
"Matte, kau siapanya Akashi?" Tanya Kagami Innocent.
"Eh?" Kedua mata Daiki membulat kaget, jujur saja ia ingin melempar bola basket pada orang yang ada di depannya saat ini.
"Etto maksudku, Akashi Ryouta-san adalah kakaknya Akashi, lalu kau siapanya?" Ryouta yang tadinya khawatir keadaan Tetsuya sontak saja menahan tawa mendengar penuturan Kagami sedangkan perempatan merah muncul di dahi Daiki.
"Dia kakak nomor 4, Akashi Daiki" Celetuk Tetsuya.
"Oh, Akashi Daiki" Kagami mengangguk – anggukkan kepalanya mengerti, namun setelahnya ia terkejut setengah mati. "HAAH?! AKASHI DAIKI?!" Tetsuya mengangguk. "K-Kau Unstoppable Scorer, Ace dari Touou Academy?"
"Ternyata kau mengenalku, Kagami desuka?"
"Eh? Kau juga tau namaku?"
"Kenapa tidak, siapapun yang dekat dengan Tetsu dan menjadi cahayanya tentu saja aku tau." Daiki memandang malas orang yang ada di depannya. "Saa, kami tak punya waktu. Aku akan memberikan hasil pemeriksaan nanti."
"Bagaimana caranya kalian memberitahu kami?" Daiki melirik ke arah gadis bersurai pink – Momoi Satsuki.
"Itu mudah, jangan remehkan Keluarga Akashi" ucap Daiki sembari menghardikkan bahunya.
"Sudahlah Daiki Nii-cchi, sekarang kita ke tempat Shintarou-Nii saja" ucap Kise.
"Baiklah, Jya ne. Seirin"
Sambil berjalan menjauh, Daiki melambaikan tangannya pelan. Tetsuya berjalan berdampingan dengan Ryouta yang membawakan tasnya. Seirin menatap punggung Akashi bersaudara itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Pelan tapi pasti, punggung itu semakin menjauh dan menghilang saat berbelok di lorong.
Tak ada pembicaraan berarti antara Ryouta, Daiki dan Tetsuya, hanya bunyi langkah kaki yang menemani mereka hingga sampai di depan Mobil Sport dengan gradasi berwarna Navy Blue dan campuran warna merah juga kuning sedikit. Mobil yang terlihat sangat mewah di parkiran terlihat begitu mencolok, jika Ryouta menyukai Lamborghini, Shintarou menyukai Ferarri, maka Daiki lebih menyukai mobil Sport. Selain lebih terlihat keren dimatanya, Mobil Sport juga menjadi identitasnya.
"Baru pertandingan pertama tapi kau sudah terkena benturan Tetsu" Daiki membuka pembicaraan.
"Ini kecelakaan kecil Daiki-Nii, tak perlu khawatir" Jawab Tetsuya.
"Kalaupun kecelakaan kecil, tetap harus diperiksa-ssu" Ryouta menyahut dari bangku belakang.
"Tapi itu tadi pertandingan yang menarik Tetsu, Omedetou atas kemenangan pertamamu" ucap Daiki seraya tersenyum tulus.
"Omedetou Tetsuya-cchi" Ryouta ikut bersemangat dan memeluk Tetsuya dari belakang.
"Arigatou Daiki-Nii, Ryouta-Nii"
"Aku sudah memberitahu Atsushi – Nii dan Sei-Nii. Mereka juga mengacapkan Omedetou untukmu" ucap Daiki pelan.
"Soukka? Lalu bagaimana dengan Shintarou-Nii?" tanya Tetsuya.
"Aku sudah mengabarinya-ssu, termasuk kecelakan kecil itu. Dan dia mengatakan untuk membelikanmu Tedy Bear dengan Mata Berilian berwarna merah sebagai Lucky Item-ssu" Celoteh Ryouta membaca e_mail dari kakaknya.
"Tedy Bear dengan mata berlian berwarna merah? Shintarou-Nii pasti bercanda"
"Iie, Shintarou-Nii serius-ssu"
"Ya Ampun, Bersiaplah untuk membawa benda itu besok Tetsu jika kau tak ingin mengecewakan Shintarou-Nii dan segala ramalan Oha Asa-nya" Tetsuya mendengar itu hanya mengulas senyum di bibirnya.
Tetsuya tau betul kalau kakak keduanya yang memiliki Hoby dan ketertarikkan sendiri dengan Oha Asa itu pasti akan memberikannya Lucky Item jika ramalan mengatakan Aquarius berada di paling bawah. Tetsuya tak keberatan dengan itu semua, hanya saja Lucky Item yang kakaknya berikan selalu aneh dan tentu saja Limited Edition. Contohnya saja saat ia masih SD dulu, Shintarou memberikannya gantungan kunci berbentuk katak yang memegang bola basket. Lalu ia sangat ingat saat mulai masuk di Teiko dulu, Shintarou memberinya rantai pengikat anjing sebagai Lucky Item untuk bisa masuk ke dalam First String.
Aneh juga terkesan mengejutkan, tapi yang namanya seorang kakak yang peduli dengan adiknya, tentu saja Tetsuya menerimanya dengan senang hati. Ia sadari jika sang kakak Tsundere itu perhatian padanya, menyayanginya dengan cara yang berbeda. Ah kalau bicara soal berbeda, Kelima kakaknya juga menyayanginya dengan cara yang berbeda dan unik.
"Kita sampai" ucap Daiki memberitahu.
"Saa, kita turun Tetsuya-cchi" Ryouta membantu Tetsuya untuk keluar dari mobil, tanpa basa – basi lagi, mereka berjalan menuju ruangan Shintarou. Selalu dan sama, setiap mereka berkunjung, seluruh perawat maupun dokter di rumah sakit akan menunduk hormat pada mereka.
"Shintarou – Nii" panggil Daiki saat sampai di depan ruangan dan membukanya, di dalam Shintarou sudah menyiapkan segala peralatan.
"Kalian lama sekali Nanodayo" Shintarou menaikkan bingkai kacamata yang sama sekali tak turun
"Gomen-ssu, tapi sekarang kami sudah datang, jadi Shintarou-Nii bisa memeriksa Tetsuya-cchi"
"Baiklah, duduklah Tetsuya" mengangguk dan mengikuti perintah sang kakak. "Ini baru pertandingan pertama Nodayo, tapi kau sudah terkena cidera. Lain kali kau harus membawa Lucky Itemmu dan bukan masalah berat untuk mencarinya" ucap Shintarou.
"Daijoubu Shintarou-Nii, aku tadi hanya kurang hati-hati" Tetsuya menjelaskan.
"Aku tau Nodayo, tapi jika membuat Seirin menjadi nomor satu harus mengorbankanmu seperti ini, lebih baik kau menyerah Nodayo"
"Kalau itu aku tak mau Nii-san, aku akan tetap berjuang dengan kemampuanku"
"Keras kepala, tapi baiklah." Shintarou mengalah sembari terus memeriksan keadaan Tetsuya. "Hah, ini hanya luka kecil dan tak perlu dikhawatirkan, mungkin dalam 2 hari akan kering, tapi kau tak boleh memaksakan diri untuk bermain, Nodayo. Mengerti?"
"Haii Nii-san" Jawab Tetsuya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Nah dengan ini sudah selesai" Shintarou selesai membalut perban pada luka kepala Tetsuya, selanjutnya ia mengambil kotak dengan bungkusan kertas coklat. "Ini untukmu, Nodayo" Shintarou menyerahkan kotak itu pada Tetsuya.
"Apa ini Nii-san?" dahi Tetsuya mengerut bingung sedangkan Ryouta di belakangnya sudah berbinar melihat kotak itu, Daiki melihatnya hanya bersikap acuh.
"Bukalah, kau akan tau isinya." Dengan cepat Tetsuya membuka kotak itu, dahinya mengernyit saat melihat sebuah boneka beruang dengan warna Baby Blue dan Mata yang berwarna merah ruby sedang memegang bola basket.
"Ini—"
"Itu Lucky Item untuk besok Nodayo. Bukan karna apa, aku hanya ingin mengantisipasi kejadian – kejadian yang mungkin kau alami saat bertanding" Jelas si surai Hijau sembari menaikkan kacamata.
"Sugoii-ssu, ini adalah barang teraneh dan ku yakin limited edition-ssu" Ryouta berteriak ceria.
"Ck, dari mana Nii-san mendapatka benda – benda seperti ini?" Tanya Daiki.
"Aku mendapatkannya dari Lelang di Paris 4 jam yang lalu, beruntung mereka dengan cepat mengirimnya tanpa harus bersusah payah menunggu" Jelas Shintarou yang masih setia dengan bingkai kacamata yang tak turun sedikitpun.
"L-lelang?" Ryouta dan Daiki terkejut secara bersamaan.
"M-Memangnya ada yang salah Nanodayo?" Buru – buru Ryouta dan Daiki menggeleng cepat. Mereka tak mau bertanya lebih lanjut, bukan karna mereka tak mau tau bagaimana perjuangan sang kakak mendapatkan boneka itu, tapi mereka malas membayangkan berapa uang yang di keluarkan Shintarou hanya untuk sebuah Lucky Item.
"Etto, Nii-san. Aku lapar, bisakah kita mencari makanan dulu?" Tetsuya mengalihkan pembicaraan.
"Benar juga, kita belum makan malam. Saa, kita mampir ke Maji Burger" Teriak Daiki semangat.
"Saa, kita ke Maji Burger." Ryouta ikut semangat.
"Tidak Boleh Nodayo!" teriak Shintarou.
"Eh? Nani?" Ryouta dan Daiki mengernyit.
"Makanan cepat saji tak baik untuk kesehatan, lebih baik kalian makan di tempat Atsushi. Lebih terjamin dan kalian bisa puas memesan disana" Ryouta merengut kesal, kakaknya yang satu ini memang terlalu ketat soal masakan cepat saji.
"Nii-san, aku sudah lama tak minum vanilla Milkshake. Untuk kali ini, boleh kami makan di Maji Burger?" Demi apapun yang ada di dunia ini, wajah Tetsuya terlihat seperti Puppy lucu yang memohon pada sang Majikan. Untuk Shintarou yang memiliki sifat Tsundere, sudah pasti luluh bahkan tanpa perlu menggunakan wajah itu.
"Kali ini aku izinkan" Shintaro mengalah.
"YATTAA! Kali ini kita akan membayar semua yang kau pilih Tetsuya-cchi sebagai hadiah kemenangan pertamamu-ssu" Ryouta melingkarkan lengannya pada Tetsuya diikuti Daiki yang langsung membawa mereka keluar ruangan.
"Jangan pulang terlalu larut Nodayo" Shintarou mengingatkan.
"Haii" jawab Tetsuya, Ryouta dan Daiki serentak.
Senyuman tipis mengulas dibibir Shintarou, walau kecil bahkan nyaris tak terlihat, tapi senyuman itu memang benar-benar menampakkan kebahagiaan yang terpendam. Sementara itu, Ryouta, Daiki dan Tetsuya menikmati makan malam di Maji Burger yang dekat dengan Rumah sakit keluarga. Tetsuya sibuk dengan Vanilla Milkshake kesukaannya bahkan sampai lupa jika sang Kakak sedang mengajaknya bercerita. Selesai makan malam, mereka berniat untuk pulang, tapi kotak kardus kecil menyita perhatian Tetsuya. Ketika melihat isinya, Tetsuya terkejut dengan anak anjing dengan gradasi warna hitam dan putih pada bagian wajah dan perutnya.
"Nii-san, boleh aku memelihara anjing?" Tanyanya Spontan.
"Anjing?" Daiki mendekat dan melihat anak anjing itu terlihat menggemaskan. "Kau berniat memeliharanya di rumah?"
"Begitulah, sepertinya menarik jika ada hewan peliharaan di rumah"
"Aku tak keberatan-ssu, lagi pula dia terlihat mirip denganmu" Komentar Ryouta yang sudah sibuk mengelus bulu halus anak anjing itu.
"Hm,, tak ada salahnya kalau kita membawanya pulang dan membuatkannya kandang" ucap Daiki.
"Hountou desuka? Jadi aku benar-benar boleh memeliharanya?" Wajah Tetsuya bertanya dengan penuh keseriusan.
"Tentu saja" Jawab Daiki.
"Saa, kalau begitu aku yang akan memberi nama-ssu" Ryouta meletakkan jari telunjuk di dagunya, sesekali ia memasang posisi berpikir. "Bagaimana kalau Tetsuya Nigou-ssu?"
"Kenapa memakai namaku Ryouta-Nii?" Gerutu Tetsuya.
"Dia mirip denganmu-ssu, mata kalian benar-benar mirip. Kalau Tetsuya-cchi tak ada di rumah, aku bisa bermain dengan Nigou-ssu" Ryouta mengacungkan ibu jarinya.
"Benar juga, jadi kita akan memanggilnya Nigou" Daiki menyetujui, Tetsuya yang menjadi korban kejahilan kedua kakaknya hanya bisa memautkan bibirnya, menjengkelkan karna anjing yang baru di temukan menjadi korban Brother Complex kakaknya.
"Menyebalkan" gerutu Tetsuya dan mendapatkan gelak tawa dari Daiki dan Ryouta.
Untuk kali ini, Tetsuya membiarkan sang kakak menjadikannya bulan – bulanan sekaligus menjadi bahan tertawaan karna kemiripannya dengan anak anjing yang baru di temukan. Setidaknya dengan seperti ini, ia tau jika kakak – kakaknya begitu menyayanginya dan tentu saja bangga jika anak bungsu keluarga Akashi bisa seperti kakak lainnya walau masih langkah awal.
'Pertandingan selanjutnya akan seperti apa?'
To Be Continue...
Hai Minna.. Mungkin FF aku memang mengecewakan, tapi aku berusaha untuk yang terbaik.. Jujur, aku berbeda dengan auathor laonnya. FF aku memiliki konflik yang lambat, jadi mungkin chapter depan bakalan mulai konflictnya.. jadi bersabar dulu..
dan untuk tambahan,, lian baru sadar jika disini gak bisa masukkin alamat web.. jadi kalau kalian ingin tahu gimana konflict2 yang terjadi dalam FF lian bisa kunjungi blog pribadi lian di " .com di sana kalian bisa tau gimana konflict dalam FF yang lian ketik...
Lian juga mau ucapin banyak2 terima kasih buat yang follow, Favo sama review.. Masukkan yang kalian kasih lian terima dengan baik... bahkan ini pengalaman pertama bikin FF dengan batasan penceritaan karakter.. Biasanya lian suka ubek2 sesuka hati gimana karakter pemain tanpa terfokus pada sifat aslinya... Saaa... Semoga suka... ^^
Oia,, maaf,, belum semuanya kebalas reviewnya.. Lian masih mau ubek2 lagi... Matta na...
