Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
Kuroko Tetsuya
Aomine Daiki
Kise Ryouta
Murasakibara Atsushi
Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 4
%^Real Life?^%
Angin menghembus lembut di kamar dengan warna Baby Blue yang lembut serta beberapa lukisan dinding berupa awan juga malaikat kecil dengan sayapnya. Kain jendela berwarna putih lembut melambai ringan karna tertiup angin. Sinar matahari perlahan – lahan mulai merambat masuk ke dalam kamar itu, perlahan kamar yang tadinya gelap kini terlihat mulai terang. Pemuda dengan surai Baby Blue masih terlelap di kamarnya yang memiliki aroma vanilla dengan tangan kirinya yang harus rela ditusuk jarum infus.
Tak perlu ditanya apa yang terjadi pada pemuda Baby Blue itu, pertandingan Inter-High beberapa minggu terakhir menguras habis tenaganya dan ia berakhir dengan demam ringan juga tekanan darah yang menurun drastis padahal sekitar 3 hari lagi ia akan pertanding semifinal melawan Touou Academy. Mau bagaimana lagi, karna keadaan yang seperti ini ia tak bisa ikut berlatih. Beberapa saat kemudian terdengar ketukkan pintu dan memaksa dirinya untuk menjawab dengan suara yang lemah.
"Masuklah, tidak di kunci" Selesai mengatakan itu, pintu terbuka dan menampilkan sosok pemuda dengan surai hijau dan sebuah gelas dengan gambar gajah – yang diyakini Lucky Item hari ini – di tangan kirinya padahal ia sudah terlihat rapi dengan seragam putih ciri khas seorang dokter.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Tetsuya?" Tanya pemuda bersurai hijau.
"Lebih baik dari kemarin Shintarou-Nii" menghela nafas pelan, pemuda yang dipanggil Shintarou itu mendekat dan memeriksa keadaan sang adik.
"Soukka, lebih baik perbanyak istirahat dan jangan lupa minum obat serta vitamin yang sudah ku siapkan, Nodayo" tangan kanan Shintarou merogoh kantung yang ada di jasnya. "Ini Lucky Itemmu hari ini. Bukannya aku khawatir Nodayo, ini hanya untuk antisipasi" Shintarou menyerahkan gantungan kunci berbentuk anak anjing pada Tetsuya.
"Kalau soal anak anjing, bukannya aku sudah memiliki Nigou, Shintarou Nii-san?" goda Tetsuya.
"Nigou itu anak anjing sungguhan Nodayo, lagi pula apa salahnya membawa gantungan kunci?" Tetsuya tersenyum pertanda ia mengerti maksud dari sang kakak.
"Haii, aku hanya bergurau Nii-san" Tetsuya yang masih berbaring melirik ke arah jam yang tak jauh darinya. "Sebentar lagi mereka akan datang, apa semua kamar yang ku minta sudah di siapkan Nii-san?" Shintarou menaikkan kacamatanya.
"Tentu saja sudah, Nodayo. Total seluruh kamar ada 4, 3 untuk ruangan pria dan 1 untuk wanita" Shintarou melirik ke arah Tetsuya. "Atsushi juga akan libur selama 3 hari ini untuk membuatkan makanan dan membantu teman – temanmu untuk berlatih sekaligus menjaga pola makanmu, Nodayo" jelas Shintarou panjang lebar.
'Protectif' fikir Tetsuya. "Arigatou Nii-san, aku rasa itu lebih dari cukup."
"Cahaya barumu yang bernama Kagami itu sedikit merepotkan. Aku tak menyangka kalau orang yang pernah tinggal di Amerika bisa sebodoh itu, Nodayo"
Ah Tetsuya ingat beberapa hari yang lalu saat mereka ulangan, seluruh pemain basket nilainya di periksa. Untuk Tetsuya, sudah pasti dia mendapatkan nilai sempurna dalam setiap pelajaran, tapi Kagami? Siapapun tak akan pernah mau melihat nilai ulangannya. Nilai Kagami bukan lagi di bawah rata – rata tapi sudah dalam tahap jelek.
"BAKAGAMI! Apa yang ada di kepalamu Hah?!" teriak Riko emosi.
"Mou!~ Kagamin, kalau nilai seperti ini kau tak akan bisa ikut semifinal Inter-High" gerutu Momoi.
"NANI?! Hanya karna nilai aku tak bisa ikut bertanding di semifinal? Benarkah? Kau Serius?" tanya Kagami innocent.
"Tentu saja, Aho! Kalau nilaimu seperti ini terus, kau bisa ikut pelajaran tambahan" Hyuuga menambahkan.
"Serius, Captain? Kalau aku tak bertanding, siapa yang akan jadi Ace?" ucapan Kagami langsung mendapat pukulan telak dari Riko.
"BaKagami! Karna kau yang kami andalkan, aku putuskan untuk mengadakan materi tambahan sebelum ujian semester" Ucap Riko semangat. "Kita akan mengajarimu di rumahku dan akan ku siapkan makanan untuk kalian semua, di bantu Momoi tentunya" Beku, seluruh manusia yang ada disana sontak membeku mendengar ucapan Riko.
"Riko dan Momoi yang akan memasak?" Tanya Kiyoshi dan mendapat anggukan dari Riko juga Momoi.
"IIEEEEEEEEEEEEEE!" teriak mereka bersamaan minus Tetsuya, Kiyoshi, Momoi dan Riko.
"Mou~~ Memangnya kenapa? Tak ada yang salah dari masakkanku" ucap Momoi dengan pipi menggembung.
"Untuk masakan aku rasa kita bisa memesan makanan cepat saji, tapi apa muat menampung semua orang di rumahmu Coach?" tanya Furihata.
"Kau benar, aku yakin tak muat" Riko menghela nafas dan berfikir keras, namun tak menemukan jawaban yang pasti.
"Etto, bagaimana kalau di rumahku? Masih ada beberapa kamar kosong dan sebuah ruangan khusus untuk belajar. Kita juga bisa sekalian latihan di lapangan belakang" jelas Tetsuya dan mendapatkan senyuman lega dari semuanya.
"Bolehkan Tetsu-kun?" Tanya Momoi.
"tentu saja Momoi-san, Nii-san Tachi juga jarang pulang jadi aku rasa tak apa" jawab Tetsuya dengan senyuman. "Tapi, aku sarankan satu kamar untuk dua orang."
"He? Kenapa?" Tanya Kiyoshi.
"Setiap kamar di rumah memiliki 2 tempat tidur kecuali kamar kami masing – masing, tapi kalau kalian ingin satu kamar 1 orang aku rasa juga masih cukup bahkan lebih" Tetsuya menjelaskan dengan wajah datar.
'sungguh? Seberapa besar rumah keluarga Akashi itu?' fikir Hyuuga.
'1 kamar memiliki 2 tempat tidur, kalau kami semua di hitung ini menjadi tak masuk akal' Fikir Kiyoshi.
'rumahnya memiliki lapangan basket pribadi, ah mungkin aku bisa berlatih disana' fikir Kagami dengan otak yang penuh dengan basket.
'Yokatta, akhirnya aku akan berkunjung dan menginap di rumah Tetsu-kun. Aku juga bisa bertemu kakaknya yang lain' fikir Momoi.
'Hah, kami tertolong oleh Akashi-kun' fikir Riko.
"Ne, Minna? Bagaimana?" Tanya Tetsuya.
"Kami setuju" jawab mereka serentak.
"Kalau begitu, kalian tunggu di sekolah dan aku akan menjemput kalian semua jam 8" jelas Tetsuya.
Itulah alasan kenapa tim Seirin akan berkunjung kekediaman Keluarga Akashi itu, namun rencana untuk menjemput terpaksa batal karna Tetsuya yang terbaring di kamarnya. Sebagai ganti, Tetsuya meminta sang supir – Tanaka – untuk menjemput teman – teman – teman juga para Senpainya di Seirin. Mata Tetsuya yang biasanya biru cerah, kini terlihat sedikit sayu karna tubuhnya yang masih lemas.
"Apa Tanaka-san sudah pergi menjemput mereka Nii-san?" tanya Tetsuya.
"Tanaka-san sudah berangkat dan sebentar lagi akan sampai di gerbang Seirin." Jawab Shintarou.
"Hm,, semoga mereka tak terkejut dengan mobil jemputannya" Shintarou menaikkan kacamatanya.
"Menurut perkiraanku, mereka akan lebih terkejut ketika sampai di rumah kita Nodayo" Tetsuya tersenyum.
"Nii-san Benar, Haah.. aku tak ingat kapan terakhir kali mengajak orang lain datang berkunjung untuk menginap" Gumam Tetsuya yang mendapatkan elusan lembut dari sang kakak.
"Jangan terlalu di fikirkan, Nodayo." Shintarou mulai bangkit. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, sampai jumpa nanti malam dan jangan lupa untuk menguhubungiku jika kau butuh bantuan Nodayo"
"Haii, Shintarou-Nii"
Sementara itu di gerbang Seirin, Tim Seirin berdiri di depan gerbang dengan mata melotot dan bibir terbuka saat melihat sebuah LiMousin berwarna putih terparkir di sana. Dari dalam Limousin itu, keluar pria paruh baya yang tak asing – Tanaka – dengan sapaan dan menunduk hormat.
"Tetsuya-sama sudah menunggu kalian di rumahnya, Saya datang untuk menjemput kalian semua" Ucapnya Sopan dan mendapatkan tatapan percaya dengan mobil jemputan mereka.
"N-Nani? Kita akan ke rumah Akashi dengan Limousin ini?" Ucap Kagami tergagap.
"Haii, Tetsuya sama sendiri yang memintanya" Tanaka menjawab dengan sopan.
"Etto, Tetsu-kun dimana?" Tanya Momoi.
"Tadi sudah saya katakan, Tetsuya – sama menunggu kalian di rumahnya" Berhenti sejenak, Tanaka melanjutkan. "Lebih baik kalian cepat masuk, agar lebih cepat sampai"
"Haii" jawab Seirin serempak.
Mereka memasuki liMousin yang super mewah itu, dalam benar mereka terlintas bagaimana wujud rumah atau mungkin Mansion yang luasnya berpuluh – puluh Km. Yang menginap di rumah Tetsuya untuk 3 hari kedepan adalah Kagami, Kiyoshi, Izuki, Kogane, Tsuchida, Hyuuga, Momoi dan Riko. Tak terlalu banyak mengingat siswa kelas 1 yang lain Tak ikut menginap, hanya ikut latihan seperti biasa saja. Tanpa sadar mereka sampai depan pintu rumah Mansion keluarga Akashi.
Bola mata mereka tak henti – hentinya membulat dengan muulut yang terbuka lebar. Rumah dengan ornamen cat putih berlapis emas dengan lambang keluarga Akashi di dekat pintu masuk – bahkan di setiap sudut tempat terdapat lambang tersebut. Pintu kayu coklat yang menjulang tinggi dengan ukiran detail membuatnya semakin terlihat mewah dan megah, belum lagi pengamanan dengan teknologi tingkat tinggi dan jauh lebih maju. Dengan perlahan, pintu depan terbuka dan menampilkan suasana rumah yang benar- benar mengesankan.
Begitu masuk, seorang kepala pelayan dengan seragam berwarna hitam dan kain putih di saku kanannya membuat pria yang berusia 40 tahunan tersebut terlihat tampan. Tak hanya pria paruh baya, para Maid yang tampan juga cantik menyambut mereka dengan senyuman. Satu langkah mereka masuk, terlihat jelas tangga besar yang bercabang dengan karpet merah juga tatanan lampu layaknya krystal es abadi. Segala perabot juga benda-benda disana terlihat sangat mahal bahkan ada rasa takut bagi Seirin jika menyentuh dan merusak benda – benda yang ada disana.
"Selamat datang, Minna-san" Suara lembut pemuda Baby Blue terdengar ditelinga Seirin.
"Akashi-kun..?" Gumam mereka melihat pria itu berdiri masih dengan piyama berwarna Baby Blue bermotif garis – garis abstrak dan jangan lupakan selang infus yang dipegang salah seorang Maid.
"Tetsu-kun~~" Momoi reflek memeluk Tetsuya tanpa sadar jika ada yang mendelik ke arahnya.
"Aku tak bisa bernafas Momoi-san" Tetsuya sedikit merintih saat tangan Momoi tak sengaja menyentuh jarum infusnya. "Kau juga bisa melepaskan jarum infusku" mendengar kata jarum infus, Momoi langsung melepaskan pelukkannya.
"Gomen Tetsu-kun" ucapnya menyesal.
"Daijoubu" ucapnya lembut dan menatap kearah Seirin. "Aku yakin kalian lelah, lebih baik kalian istirahat dulu di kamar. Jam 10 nanti, kita akan mulai mengajari Kagami" Tetsuya berbicara seperti biasa.
"Soal itu kau tak perlu khawatir, Akashi. Tapi jika boleh aku tau, kenapa kau diinfus?" Kiyoshi memulai pertanyaan.
"Ini sudah biasa Kiyoshi – Senpai, kemarin aku terlalu semangat untuk bertanding sampai lupa minum vitamin. Dari kecil aku memang tak bisa lelah" jelas Tetsuya.
"Kalau begitu, lebih baik kau istirahat dan pelajaran tambahan Kagami kita tunda" Riko berkomentar.
"Kalau itu aku tak setuju, Coach. Aku baik – baik saja, lagi pula ini tak akan membuatku lelah. Setelah cairan ini habis, aku hanya perlu tidur dan kembali seperti semula"
"Benarkah?" Tanya Tsuchida.
"Haii, sekarang kalian bisa meletakkan barang – barang bawaan." Tetsuya menatap para pelayan yang sudah siap sedia. "Bisa kalian antarkan teman – temanku menuju kamarnya?" Para pelayan membungkuk hormat.
"Haii, Tetsuya-sama" Tetsuya tersenyum kecil.
"Kalian ikuti petunjuk dari Maid yang ada dan kita akan bertemu di ruang tengah" Belum lagi mereka beranjak, seorang pria dengan keripik kentang dan mata malasnya berjalan menuju ke arah Tetsuya. Pria dengan tinggi lebih dari 2 meter dengan surai ungunya berjalan dengan fokus pada satu titik.
"Tetsu-Chin~~, Shin Ni – Chii melarangmu untuk keluar kamar, kenapa kau disini?" Tanyanya dengan suara malas.
"Hanya menyambut teman – temanku Nii-san" Tetsuya tersenyum ramah dan menatap ke arah Seirin yang membeku di tempat. Baiklah, mereka seperti melihat raksasa yang tingginya di batas normal, bahkan Papa Mbye Shiki yang pernah mereka lawan seolah terlihat seperti bayi mungil jika di bandingkan pria yang ada dihadapan mereka.
"He~~ Teman – temannya Tetsu-Chin sudah datang" si surai ungu melirik dengan mata malasnya. "Selamat datang, semoga kalian suka tinggal disini. Aku akan menyiapkan cemilan untuk menemani belajar kalian" Si surai ungu melihat ke arah Kagami dan mendekat. "Ne~ Alis cabang"
"N-Nani? Alis cabang?" gumam Kagami terkejut.
"Kau adalah Ace tim Seirin sekaligus cahaya baru untuk Tetsu-Chin, jangan sampai kau menghalangi jalan kemenangannya. Kalau kau sampai menghalanginya, aku akan menghancurkanmu" nada malas terucap, tapi terdapat ancaman di setiap kalimatnya.
"—?!" Kagami yang mendapat ancaman sama sekali tak bisa bergerak, bahkan Seirin menahan nafasnya.
"Atsushi-Nii, jangan membuat mereka takut." Suara Tetsuya serasa oxygen bagi Seirin. "Minna Gomennasai, Atsushi-Nii tak bermaksud seperti itu. Sebaikknya kalian ke kamar yang sudah disiapkan" Mengangguk, Seirin bergegas meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju kamar masing – masing yang di tuntun oleh beberapa Maid.
"Si alis cabang itu cukup Kuat Tetsu-Chin, tapi sayangnya dia mengalami cedera kaki" Tetsuya tertegun mendengar ucapan kakaknya, memang benar terjadi sedikit cidera saat melawan Shutoku karna ia memaksakan diri, tapi apa boleh buat, tujuan mereka sekarang hanya membuat Kagami tak mengikuti kelas tambahan.
"Aku tau itu Nii-san, sejujurnya aku juga tak yakin untuk pertandingan selanjutnya." Tetsuya menghela nafas dalam "Kondisiku juga kurang memungkinkan untuk hari ke depan, terlebih sebentar lagi akan diadakan bunkasai dan aku harus bekerja extra di sekolah" Tetsuya Menunduk pertanda fikirannya sedang melayang ntah kemana, sebuah usapan halus di kepala membuat si surai Baby Blue mendongak.
"Jangan terlalu di fikirkan Tetsu-Chin, kau tak mungkin kalah dan acaramu pasti sukses"
"Haii, Nii-san"
"Saa, aku akan mengantarkanmu ke kamar." Atsushi membungkukkan tubuhnya agar Tetsuya dengan mudahnya ia gendong. "Naiklah"
"Nii-san, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa berjalan dengan kedua kakiku" Tetsuya memautkan bibirnya.
"Tetsu-Chin memang bukan anak kecil, tapi badan Tetsu-Chin sangat kecil" Dengusan di dapatkan saat sang kakak mengunggkapkan kebenarannya. Mau tak mau Tetsuya mengalah dan menjadikan punggung sang kakak sebagai topangan tubuhnya. Kantung cairan infus di pegangnya dengan tangan yang satunya, walau kurang nyaman tapi cukup membuatnya merasa aman. "Arigatou Nii-san"
Jika Tetsuya tengah menikmati punggung sang kakak yang aman, lain hal dengan Seirin yang tak henti – hentinya terkagum dengan Mansion Akashi. Sepanjang perjalanan, mereka bisa melihat foto – foto keluarga yang berjejer rapi. Mulai dari foto kedua orang tua dari Kiseki No Sedai sampai foto kebersamaan Kiseki No Sedai yang terlihat menyayangi satu sama lain. Semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak foto yang terlihat.
Begitu mereka melewati ruangan yang cukup luas menuju kamar mereka, terlihat sebuah lemari besar yang penuh dengan pernghargaan. Di atas lemari terlihat tulisan 'Teiko' yang pastinya nama SMP dimana Kiseki No Sedai pernah menuntut ilmu. Foto mulai dari si sulung hingga si bungsu terjejer rapi disana, tak luput terlihat juga identitas nama mereka satu persatu beserta gelar yang disandang. Rentetan medali emas, piala kemenangan, sertifikat juga beberapa gulungan penghargaan menghias rapi dengan jumlah yang sama.
"Sugoii, mereka memang keluarga yang sempurna" Celetuk Kogane saat melihat lemari itu, kepala pelayang yang mengikuti mereka tersenyum ramah.
"Seijuurou-sama, Shintarou-sama, Atsushi – sama, Daiki-sama, Ryouta – sama dan Tetsuya – sama memang dituntut Sempurna. Kalau kalian lihat, apa yang tuan Seijuurou-sama dapatkan, maka kelima adiknya juga harus mendapatkannya. Begitulah peraturan di rumah ini" jelas kepala pelayan – Mabuchi -.
"Jadi selama ini apa yang Akashi-san tertua lakukan, maka yang lain harus bisa lakukan?" Momoi penasaran.
"Bisa di bilang seperti itu, bisa juga tidak" Mabuchi menjawab dengan senyuman.
"Apa maksudnya?" Riko ikut penasaran.
"Mereka semua memang di wajibkan bisa melakukan apa yang Seijuurou sama lakukan, tapi ketika mereka menemukan apa yang menjadi keinginan terbesar, maka saat itu juga mereka dituntut sempurna." Mabuchi masih menjawab pertanyaan yang terlontar.
"Lalu kapan mereka menemukan keinginan itu?" Hyuuga ikut dalam rasa penasaran pula.
"Nanti saat mereka sudah lulus jenjang menengah atas. Jadi selama mereka belum lulus, mereka di wajibkan untuk bisa menjadi yang terbaik dengan Sekolah yang mereka pilih." Mabuchi terdiam sejenak. "Sejauh ini yang saya ketahui, perjuangan Tetsuya-sama lah yang paling berat. Selain karna ia anak bungsu, Tetsuya sama juga memilih sekolah baru yang masih berkembang, berbeda dengan kelima kakaknya yang memilih sekolah ternama seperti Rakuzan, Shutoku, Yosen, Touou dan Kaijo. Tetsuya – sama bertekad menaikkan nama Seirin sama seperti kelima kakaknya" Mabuchi mengakhiri penjelasannya.
"Jadi selama ini Akashi memiliki beban yang berat, tak hanya demi Seirin tapi juga karna tuntutan keluarganya?" Mendengar pertanyaan Kiyoshi, Mabuchi mengangguk cepat.
"Itu benar, tapi tak mudah bagi Tetsuya-sama. Kalian lihat sendiri jika Tetsuya-sama tadi diinfus" Seirin mengangguk. "Tetsuya-sama sering terkena sakit jika terlalu lelah, tapi tuntutan dari peraturan Akashi memaksa Tetsuya-sama bekerja extra. Tapi di balik itu semua, baik Seijuurou – sama, Shintarou-sama, Atsushi – sama, Daiki-sama dan Ryouta – sama akan membantu Tetsuya – sama. Bahkan Shintarou-sama yang bersifat Tsundere rela melepaskan ekspresi wajah khawatir saat keadaan Tetsuya sama seperti ini. Bahkan jika keadaan Tetsuya sama semakin parah, tak jarang mereka semua melepas pekerjaan masing – masing"
"Beruntungnya Akashi mendapat saudara yang seperti itu" Gumam Izuki.
"Itu benar, tapi berhati – hatilah jika menyangkut Tetsuya-sama karna kelima lainnya akan menjadi Brother complex akut. Mereka sebenarnya baik nan lembut, tapi bisa menjadi sosok yang mengerikan saat menyangkut Tetsuya-sama" Seketika wajah Seirin berubah menjadi wajah yang penuh ketakutan. "Apa lagi nona yang berambut merah muda" Mabuchi menatap ke arah Momoi.
"Aku?" Tanya Momoi innocent.
"Saat nona memeluk Tetsuya-sama, Atsushi – sama tadi sempat melihat dan tatapannya menjadi tak suka" Momoi menahan nafas membayangkan bagaimana seorang Atsushi marah padanya, Oh hal mengerikan sudah berputar di kepalanya. "Beruntung nona seorang wanita, karna biasanya mereka akan marah pada siapapun yang memeluk Tetsuya – sama"
"Mereka terlalu overprotectif" Hyuuga bergidik ngeri.
"Memang seperti itu, beruntung saat ini Seijuurou – sama, Daiki – sama, Ryouta –sama dan Shintarou – sama tak ada di rumah, jadi kalian bebas melakukan apapun." Mabuchi masih memasang senyuman di bibirnya sembari berjalan terus menuju kamar tamu yang telah di siapkan.
"Memangnya kenapa kalau mereka ada di rumah" Mabuchi tersenyum jahil mendengar pertanyaan sang Coach, Riko.
"Seijuurou-sama, Daiki - sama dan Shintarou sama adalah orang yang disiplin jadi apapun yang kalian lakukan akan di nilai. Kalau Ryouta – sama, dia tak akan peduli dengan hal seperti itu, tapi jangan harap bisa menyentuh Tetsuya-sama, dia bahkan sangat overprotectif" Mabuchi berhenti saat sampai di depan kamar yang dituju. "Satu lagi, pastikan kalian menang untuk kejuaraan Inter-High kali ini. Kalau kalian kalah, Tetsuya sama akan di pindahkan di tahun kedua" Mabuchi menunduk pelan, "Silahkan kalian meletakkan barang – barang bawaan kalian, kalau begitu saya permisi"
Seirin mematung di tempat, benar – benar peraturan yang mengerikan. Hanya karna kekalahan, salah satu pemain terbaik mereka harus di pindahkan? Yang benar saja, walau dituntut sempurna, mereka tak harus mengikatnya dengan peraturan yang benar-benar gila bukan? Beberapa saat setelah mereka tersadar, masing – masing anggota Tim basket Seirin itu memasuki kamar dan mempersiapkan mata pelajaran yang akan mereka ajarkan pada Kagami. Fokus tujuan mereka kini adalah membuat Kagami menjadi ujung tombak dalam pertandingan yang tak hanya membuat nama Seirin naik juga untuk membuat Tetsuya tak dipindahkan.
_ooOOOoo_
Angin lembut menyapu perkotaan yang terkenal akan budaya yang kental, Kyoto. Tak banyak ditemui gedung pencakar langit seperti di ibu kota Jepang , Tokyo. Sebaliknya, sejauh mata memandang, Kyoto terlihat seperti memutar waktu ke jaman dahulu yang masih terlihat asri Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan bangunan – bangunan dengan artistik kebudayaan yang kental. Orang – orang berlalu lalang dengan senyuman terlebih di akhir pekan untuk sekedar pergi ke kuil atau mencari jajanan pinggir jalan.
Di lantai paling atas salah satu gedung tertinggi dengan AKASHI CORP menghias di luarnya, terlihat seorang pemuda tengah bergulat pada tumpukkan dokumen juga berkas – berkas penting yang harus di tangani. Surai merah yang biasanya terkesan rapi kini terlihat lebih berantakkan. Jas berwarna hitam dibiarkan begitu saja tersampir di sandaran kursi sementara mata, otak juga tangannya tak henti – hentinya bekerja. Stress, Frustasi juga lelah menjadi pemicu energi buruk pada pria itu. Tak seperti sebelum – sebelumnya, perusahaan cabang yang baru ia bangun mengalami penurunan yang drastis.
Penjualan juga proyek – proyek yang sedang ditangani diambang batas kehancuran. Walau ini hanya perusahaan cabang yang tak berpengaruh signifikan pada perusahaan induk, tapi tetap saja membuatnya frustasi. Tuntutan kesempurnaan Akashi yang selama ini menjadi prioritas akan menjadi masalah besar, ia bisa saja menghancurkan kesempurnaan itu. Jujur, Akashi Seijuurou takut akan kehancuran juga kegagalan yang harus siap ia terima jika proyek yang sedang ditangani bawahannya gagal. Baru saja ia menghempas nafas lelah, terdengar ketukan pintu yang memaksanya untuk bersikap tenang.
"Masuklah" Nada lelah benar – benar terdengar dari bibir mungilnya, begitu pintu di buka, pria tinggi bersurai putih silver masuk dengan ekspresi kacau.
"Permisi" Pria itu masuk dan berdiri di hadapan si surai Merah pemilik Akashi Corp – Akashi Seijuurou.
"Ada ada apa Mayuzumi?" Tanyanya dengan nada tenang.
"Sumimasen, president. Kita mengalami masalah mengenai penjualan saham juga kita kalah dalam memenangkan proyek baru" Seketika Seijuurou berdiri tegap, tangannya mengepal frustasi, kalah? Itu pasti gurauan.
"Maksudmu kita kalah?" Tanya Seijuurou dengan mata mendelik tajam.
"Haii, karna ulah Haizaki Shogo-san yang memanipulasi laporan keuangan, para investor juga Client merasa dibohongi dan mereka tak mau memberikan proyeknya kita" Kesal juga frustasi membuat si surai Merah merasakan sebuah ketakutan yang besar.
'aku… kalah?' gumamnya, sesuatu yang sama sekali tak bisa di terima, seorang Akashi Seijuurou kalah. 'Tidak, aku tak mungkin kalah. Aku seorang pemenang. Ini tidak mungkin! Aku tak akan pernah kalah, aku tau karna aku selalu benar. Aku absolute'
Seketika ketika keinginan menang mencuat, Seijuurou memejamkan mata dan membukanya kembali. Iris mata merah ruby berubah menjadi iris mata merah – emas yang berbeda. Tatapan yang menghangat kini terlihat dingin juga tajam. Ia menghela nafas dan menatap ke arah Mayuzumi.
"Chihiro, aku mau kau mengatur ulang jadwal pertemuan dengan Para investor dan Client yang tadi. Kita akan merebut kembali kemenangan itu, katakan padanya aku yang akan menemui mereka langsung" Mayuzumi terkejut dengan ucapan Seijuurou, mau tak mau ia harus setuju.
"Haii, President"
"Ah satu lagi, siapkan surat pemecatan Haizaki Shogo sekarang juga. Aku tak mau orang tak berguna seperti dia menghalangi kemenangan yang harusnya ku dapatkan" Dingin menusuk, seperti orang lain yang tak kenal ampun, Akashi Seijuurou bertindak begitu tegas. "Kemenangan adalah segalanya, siapapun yang menentangku akan ku bunuh meski itu adalah saudaraku sekalipun"
Ntah dari mana Seijuurou mendapatkannya, sebuah gunting berwarna merah bertengger di tangan kanannya. Sesekali ia memutar dan menyeringai tajam, Mayuzumi yang melihat itu sontak bergidik ngeri. Perasaannya mendadak tak enak melihat sang pemimpin berubah menjadi sosok yang mengerikan seperti itu. Membungkuk sedikit, Mayuzumi pamit keluar ruangan untuk menyelesaikan tugasnya. Hanya berselang satu jam, apa yang di perintahkan Seijuurou selesai dikerjakan, bahkan urusan surat pemecatan pun sudah di terima Haizaki.
"Sial! Apa – apaan ini Mayuzumi?!" Teriak Haizaki menerima surat pemecatan dirinya.
"President yang menyuruhku untuk mengeluarkan surat pemecatan itu" Mayuzumi mengucapkan dengan sopan.
"TEME! Memangnya apa salahku?" Haizaki mengepalkan tangannya erat.
"Tanpa perlu ku beritahu, kau juga pasti sudah tau Haizaki-san"
"Tchk! Jangan katakan ini karna kita gagal mendapatkan proyek itu?" Mayuzumi mengangguk.
"Benar, President menyuruhku langsung memecatmu karna itu"
"Sialan si kepala merah itu" Dengus Haizaki dan langsung bergegas menuju ruangan Seijuurou.
"Kau mau kemana, Haizaki?!" Teriak Mayuzumi.
"Ke ruangan kepala merah itu, aku mau minta penjelasannya" Haizaki terus berjalan tanpa peduli panggilan Mayuzumi dari belakang. Pintu dengan warna coklat yang tertutup rapat menjadi sasaran emosi Haizaki yang memuncak, tanpa mengetuk, Haizaki langsung menggebrak pintu itu dengan kasar dan berteriak kecang. "OI AKASHI! Apa maksudnya surat ini Hah?!" teriak Haizaki.
"Hmm.." Alis Seijuurou terangkat sebelah, matanya memicing tajam melihat pria dengan surai abu – abu yang berantakkan. Tanpa menunggu perintah untuk masuk, Haizaki berjalan dengan menghentak – hentakkan kakinya.
Braak!
"Jelaskan alasan kau memecatku!" Teriak Haizaki setelah menggebrak meja Seijuurou.
"Kau ingin tau alasannya?" Mata haizaki sontak membulat besar saat sebuah serangan cepat menyentuh pipi kanannya. Begitu cepat sampai Haizaki tak sadar jika pipi kananya tergores oleh benda tajam.
"A-apa yang –" Suara Haizaki tercekat begitu tatapan sang pemimpin terasa seperti menelanjanginya dan siap untuk memutilasi dirinya hidup – hidup.
"Pertama, aku paling tidak suka kekalahan. Ke dua, aku tidak suka dengan orang yang masuk tanpa izinku dan terakhir, aku benci dengan siapapun yang berteriak di depanku" Seijuurou terdiam sejenak. "Aku memecatmu karna perusahaan yang ku pimpin tidak membutuhkan orang tak berguna sepertimu. Bagiku, sebuah kekalahan tak akan pernah termaafkan"
"K-Kau.."
"Aku menyuruhmu untuk membuat laporan keuangan dengan benar, tapi karna cara kerjamu yang menjijikkan itu menyebabkan kesalahan dan berakhir dengan kekalahan. Proyek ini menentukan kelangsungan perusahaan cabang yang baru saja ku buka, kegagalan bisa menyebabkan perusahaan ini diambang kehancuran. Lebih baik kau bereskan semua berkasmu dan untuk laporan keuangan, aku sudah selesai mengurusnya" Tatapan dingin benar – benar menusuk ke arah Haizaki, otaknya menjadi beku dan tak bisa melakukan apapun. Bahkan sinyal – sinyal untuk bergerakpun tak bisa.
"Tsk!" Haizaki menggertakkan gigi – giginya, begitu menyebalkan bahkan benar – benar membuatnya kesal. "Baik, aku akan pergi dari sini. Dan satu hal yang harus kau ketahui Akashi, aku akan mengajarkan kekalahan pada keluargamu"
"Coba saja, aku yakin kau tak akan bisa"
"Cih! Jangan meremehkan aku" Haizaki segera beranjak dari tempat itu, sebelum benar- benar keluar, Hazaki bergumam kecil. "Jangan fikir aku tak tau siapa saja anggota keluargamu, Akashi. Akan ku pastikan mereka mengalami kegagalan juga kekalahan"
Braakk
Suara bantingan pintu menjadi penutup dari perselisihan itu, Mayuzumi menatap Akashi dengan tatapan yang sulit diartikan. Presidentnya terlihat berbeda dari biasanya, senyuman yang ramah bahkan pada siapapun kini berbeda dari biasanya. Apa ini pengaruh dari Stress atau mungkin ini efek dari kekalahan pertamanya dalam memenangkan proyek? Ntahlah, Mayuzumi tak mengerti dengan jalan fikir presidentnya.
Sementara itu di kediaman Akashi yang ada di Tokyo, susana ricuh juga berisik terdengar di ruangan yang luas. Terdapat beberapa orang tengah mengajari satu orang mengenai materi pelajaran yang akan di ujiankan nanti. Satu orang sudah siap dengan kipas kertas untuk memukul, satu orang siap dengan pengawasan ketat, satu orang mencatat hal – hal penting dan sisanya sibuk membantu materi, oh jangan lupakan Seekor anjing lucu dengan seragam basket yang lucu namun mengganggu konsentrasi pria bersurai merah gradasi hitam.
"Oi Akashi! Bisa kau bawa pergi Nigou! Aku tak bisa mengerti pelajaran ini karnanya" Teriak Kagami frustasi, Tetsuya yang dipanggil malah menatap Kagami dengan tatapan datar.
"Kau mengusirku dan Nigou, Kagami-kun?" Ucapnya datar.
"B-Bukan mengusirmu, tapi aku mengusir Nigou. Aku tak bisa konsentrasi" Kagami masih bergidik ngeri menatap anjing lucu itu.
"BaKagami! Kalau kau mengusir Nigou, kau berarti mengusir Akashi dari rumahnya. Baka!" teriak Riko sembari memukul kipas kertasnya ke punggung Kagami.
"Mou~ Kagamin, Nigou terlihat lucu kenapa kau usir?" Momoi menatap dengan mata yang sayu di ikuti Nigou dan Tetsuya tentunya.
"Jangan menatapku dengan mata yang sama seperti itu?! Tchk, menyebalkan" Gerutu Kagami.
"Lebih baik kau fikirkan pelajaranmu, Aho. Atau kau lebih memilih memeluk nigou saat tidur nanti hm?" Hyuuga mengancam.
"Hah?! Kau pasti bercanda kan Kapten?" Hyuuga menunjukkan senyumannya, senyuman yang terlihat menyeramkan di mata Kagami.
"Tentu saja tidak, Aho." Jawab Hyuuga dengan wajah yang menatapnya seram.
"H-Haii" ucap Kagami tercekat.
"Saa, lebih baik kau pelarjari matematika denganku" Izuki mengambil alih.
"Yosh! Aku akan bersiap memukul Kagami kalau dia tertidur" Kogane menyiapkan kipas kertas yang lebih besar.
"Eumh, karna yang lain belum ada tugas, aku sarankan kalian berlatih di lapangan belakang. Mungkin itu lebih baik daripada menunggu" usul Tetsuya.
"Ide bagus, ayo kita bersenang – senang" Kiyoshi memasang senyuman semangat namun mendapat gerutuan dari Kagami karna ia tak diperbolehkan bermain basket karna cideranya. Belum lagi mereka beranjak, Atsushi datang dengan nampan penuh berisi Cookies juga beberapa cemilan dan beberapa botol minuman dingin yang di bawa oleh Maid.
"He~~ Kalian mau kemana?" tanyanya dengan nada yang masih saja malas.
"Kami akan menggunakan lapangan belakang untuk berlatih Nii-san, bolehkan?" Tanya Tetsuya lembut.
"Boleh saja, tapi Tetsu-Chin tak boleh ikut berlatih." Bibir Tetsuya sedikit terpaut mendengar ucapan kakaknya.
"Tapi Nii-san –" ucapan itu terpotong saat sebuah suara berat dan cempreng memasuki gendang telinga Tetsuya.
"TETSUYA-cchiII!" seru pria bersurai kuning.
"Yo, Tetsu!" Pria bersurai Navy Blue menyapa ramah.
"Ryouta – Nii, Daiki – Nii?" Baru beberapa detik mendengar dua suara itu, Sebuah pelukkan sudah di dapatkan si surai Baby Blue. "I-ttai" gumam si Baby Blue.
"Ryouta-Chin, jangan peluk Tetsuya-Chin. Kau bisa melepaskan jarum infusnya" Atsushi memperingatkan.
"Lepaskan Tetsu, Ryouta" Si Navy Blue langsung menarik kerah belakang model yang masih mengenakan pakaian Casual untuk kepentingan pemotretan langsung melepaskan pelukkannya. Bola mata coklat madunya menatap ke arah tangan kiri Tetsuya yang terluka karna jarum yang tadi menancap terbuka secara paksa.
"Tetsuya-cchi" gumam Ryouta terkejut.
"Apa yang kau lakukan Baka?!" Seru Daiki setengah kesal dan menatap Tetsuya khawatir. "Daijoubuka Tetsu?" Tetsuya mengangguk dan memegang jarum yang terlepas.
"Daijoubu desu, tapi jarumnya terlepas" Tetsuya menunjukkan jarum yang tadi tertancap kini terlepas dari tangannya.
"He~ Shin Nii – Chin masih di rumah sakit dan aku tak bisa memasangnya. Bagaimana ini?" Atsushi mendekat
"Tenang saja Nii-san, ini lebih baik. Aku sulit bergerak jika memakai ini" Tetsuya memberikan jarum dan juga kantung infus pada Tanaka yang selalu disampingnya. "Dengan seperti ini aku bisa latihan basket dengan yang lain"
"Heh? Kau tak boleh berlatih Tetsuya-cchi, aku tak mengizinkanmu-ssu" Ryouta melarang.
"Aku juga melarangmu Tetsu" Daiki memberikan tatapan larangan.
"Tapi Nii-san, Coach sedang membantu Kagami, jadi aku menggantikan tugasnya" Tetsuya masih keras kepala.
"Untuk itu, kami bisa berlatih sendiri Akashi-kun" Kiyoshi mencoba berbicara.
"Kiyoshi – Senpai benar Akashi-kun, kami bisa berlatih sendiri" Tsuchida berbicara takut – takut.
"lebih baik kau istirahat saja Tetsu-kun" Momoi memberikan senyuman manisnya.
"k-Kalian.." Belum lagi selesai berbicara, tiba – tiba terasa sebuah elusan di kepala Tetsuya.
"Kalau untuk melatih basket, kau fikir siapa Onii-san Tachi-mu ini?" Daiki memberikan senyuman kebanggaannya.
"Benar-ssu, kami bisa melatih mereka-ssu" Ryouta mengedipkan mata dan menunjukkan senyuman beserta mengacungkan ibu jarinya.
"Kalau untuk Tetsu-Chin, aku juga akan melatih mereka sampai sebelum makan malam" Atsushi ikut berpartisipasi, senyuman Tetsuya mengembang mengetahui kakak – kakaknya ternyata peduli dan mau bergabung dengan teman – temannya.
"Arigatou, Nii-san Tachi" ucapnya dengan senyuman semangat.
"Tapi sebelum itu, Kau Kagami" Kagami berjengit kaget. "Nanti malam kau akan mendapatkan perawatan dari Shintarou – Nii lalu setelah itu aku akan mengajarimu Street Basketball yang benar. Mungkin itu akan membuka peluang untukmu" Jelas Daiki yang membuat Kagami bersemangat.
"Osu!" Seru Kagami.
"Selamat belajar, Kagami-cchi" Ryouta melambaikan tangan sembari berjalan menuju lapangan untuk latihan diikuti oleh yang lainnya.
Tim Seirin yang lain langsung bergegas mengikuti langkah kaki Ryouta, Daiki juga Atsushi. Tim Seirin dilatih oleh ketiga kakak Tetsuya, jika bukan karna sedang kurang enak badan, Tetsuya pasti sudah ikut bermain di lapangan. Taman belakang Mansion Akashi memang lebih dari kata luas. Di sana terdapat aneka jenis macam bunga yang di tanam, tak luput ada sungai kecil yang di bangun mengelilingi taman dengan batu – batu kecil yang unik di sisi kanan dan kiri Sungai itu. Di tengah – tengah taman terdapat Kolam kecil berhias air mancur yang indah, di tengah – tengah kolam terdapat pondok kecil dengan kursi yang melingkar dan sebuah meja bundar di sana, jika di hitung, jumlahnya cukup untuk menampung 6 orang. Jangan lupakan adanya ikan mas juga ikan – ikan keci aneka warna yang terawat ikut menghias di sekitar kolam itu.
Tak hanya itu, di samping kiri taman, terdapat kolam renang dengan 2 buah bentuk yang menjadi satu. Di bagian atas terdapat bentuk lingkaran dengan dasar yang bergambar Bola basket, lalu selebihnya berbentuk persegi panjang dengan lantai yang dilukis dengan garis seperti lapangan Bola basket. Hanya melihat kolam itu, semua yang melihat akan tau olah raga yang di cintai oleh satu keluarga itu. Jika disisi Kiri terdapat kolam renang, maka di sisi kanan terdapat lapangan basket lengkap dengan pagar besi pembatasnya. Tak hanya itu, terdapat pula tempat duduk panjang di setiap sisi sehingga memudahkan siapapun untuk bisa melihat.
"S-Sugoii" Hyuuga bergumam. "I-Ini benar bukan mimpikan?" Hyuuga berbicara sendiri sembari menepuk pipinya.
"Akashi-kun, ini tak salahkan" Tanya Kiyoshi ke arah Tetsuya.
"Tentu tidak, Kiyoshi – Senpai. Eumh,, untuk saat ini, lebih baik Senpai – Tachi memanggilku dengan Tetsuya sudah cukup. Aku yakin kalian susah memanggil kakak – kakakku yang lain" Jelas Tetsuya.
"Bukannya itu tak sopan, Akashi-kun" Tsuchida berbicara.
"Aku rasa tak masalah, ne Nii-san" Tetsuya melirik ke arah kakaknya.
"Aku sedikit keberatan Tetsu, bagaimana kalau mereka tetap memanggilmu dengan Akashi dan mereka memanggil kami dengan julukan kita saja?" Daiki melirik ke arah Tim seirin. "Kalian bisa memanggilku Aomine, sebagai julukan karna warna rambutku yang biru" Daiki melirik Ryouta. "Kalian juga bisa memanggilnya dengan Kise dan Atsushi-Nii kalian bisa panggil Murasakibara"
"Nii-san, kenapa harus pakai julukkan itu?" Protes Tetsuya, "kalau begitu mereka juga harus memanggil aku dengan Kuroko"
"Iie, mereka tak boleh memanggi Tetsuya-cchi dengan julukan itu-ssu. Lagi pula ini hanya untuk pembeda" ucap Ryouta.
"Ryouta-Chin benar, Tetsu-Chin. Itu hanya perumpamaan warna, jadi tak masalah" Nada malas Atsushi menggema.
"Baiklah" Tetsuya menatap teman – temannya. "Senpai – Tachi silahkan memanggil nama ketiga kakakku ini dengan julukkannya. Kalian tenang saja, itu hanya untuk pembeda kalau di rumahku, selebihnya kalian harus memanggil dengan sebutan Akashi"" Jelas Tetsuya panjang lebar.
"Ma, itu lebih baik daripada kami bingung memanggil mereka" Ucap Kiyoshi.
"Yosh! Kita mulai latihannya-ssu" teriak Ryouta semangat.
Tim Seirin mulai latihan bersama Daiki, Ryouta dan Atsushi. Mereka benar- benar kagum dengan gaya bermain ketiga orang dengan sebutan Kiseki No Sedai, mulai dari Perfect Copy yang di tunjukkan Ryouta, Gaya bermain tak beraturan milik Daiki dan jangan lupakan permainan kekuatan dari Atsushi. Banyak pelajaran yang di dapat Seirin dengan berlatih bersama Kiseki No Sedai. Waktu berjalan dengan cepat, dan saat itu pula beberapa permain juga sudah bergantian untuk mengajari Kagami. Atsushi juga sudah mulai ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Seperti tak ada lelah, Daiki dan Ryouta terus – terusan memperlihatkan permainan mereka, bahkan saat yang lain sedang istirahat, dua kakak beradik itu memperlihatkan permainan kompak untuk menghibur sang adik yang senantiasa duduk di kursi panjang.
Menjelang malam, seluruh Tim Seirin disuguhkan makanan super mewah buatan tangan Atsushi. Mereka makan sepuasnya, bahkan Kagami dan Daiki sempat berlomba kecepatan makan. Sungguh, makan malam itu sangat ramai dan juga berisik. Selesai makan malam, Seirin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan pelajaran untuk Kagami. Tak lama setelah mereka beristirahat, sang kakak nomor 2 pulang. Sempat emosi karna jarum infus Tetsuya terlepas karna ulah Ryouta. Alhasil, Ryouta mendapatkan ceramah panjang dari Shintarou. Selesai memasang jarum infus di tangan kanan Tetsuya – tangan kirinya terluka karna jarum infus di lepas paksa –, Shintarou memeriksa kaki Kagami.
"Hmm.. Ini tak terlalu parah Nodayo. Aku sarankan kau jangan bermain basket untuk 2 hari kedepan" Jelas Shintarou.
"2 hari? Kenapa bisa lebih cepat?" Tanya Kagami
"Aku sudah memasang penyangga pada kakimu, jadi beban yang ditahan bisa diminimalisir. Kesembuhan cideramu juga lebih cepat, Nodayo"
"Sugoii, Arigatou. Eun,, Akashi-san"
"Hmph, bukannya aku peduli Nodayo, aku hanya tak mau cahaya baru Tetsuya tak bisa bertanding di final"
Shintarou menaikkan kacamatanya dan bergegas pergi, memang sifat Tsunderenya tak bisa di netralisir sama sekali, bahkan untuk menunjukkan rasa pedulinya pun sulit. Kagami yang masih diam di tempat sontak teringat akan ucapan Daiki yang akan mengajarinya Street Basketball yang mungkin akan berguna. Tapi belum lagi beranjak, Seirin sudah mempersiapkan berkas pelajaran untuk Kagami. Malam itu, semuanya yang ada di Mansion Akashi menjadi sedkit sibuk bahkan ketika jam menunjukkan pukul 10:00 malam.
Daiki mengajak Kagami untuk latihan sebentar di Gymnasium dalam rumah yang tak terlalu besar, Kiyoshi, Tsuchida, Izuki, Hyuuga dan Koganei tengah menyiapkan materi catatan agar mudah di pelajari oleh Kagami, Riko sendiri sedang berkutat pada Strategi untuk menghadapi semifinal nanti. Atsushi sedang memeriksa bahan makanan untuk esok hari, Shintarou kembali ke rumah sakit karna ada panggilan mendadak sedangkan Ryouta sedang duduk diam nonton TV. Merasa sedikit bosan karna tak ada yang di kerjakan, Momoi keluar kamar menuju taman belakang. Sungguh, taman itu terlihat 2 kali lebih indah dengan lampu yang terpantul dari sungai – sungai kecil.
"Kireii na" Gumam Momoi yang takjub.
"Momoi-san?" Sebuah suara tak asing mengagetkan Momoi, pria dengan surai Baby Blue terlihat duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman itu. Tangannya masih terlihat di tusuk jarum infus.
"Tetsu-kun?" Jika saja Momoi tak ingat pesan dari Mabuchi, bisa saja ia memeluk Tetsuya dan jangan lupakan jika saat ini tangannya masih di infus. "Kau belum tidur?" tanya Momoi takut – takut, Tetsuya menggeleng dan melambaikan tangannya untuk memberi isyarat agar Momoi mendekat kearahnya.
"Aku sedang tak bisa tidur, jarum infus ini sedikit mangganggu" Tetsuya menunjukkan jarum infus yang menancap di tangan kanannya. Momoi tersenyum kecil.
"Kalau begitu, kau harus cepat sembuh biar tak di infus lagi" Canda Momoi.
"Sebenarnya aku sudah sehat Momoi-san, tapi Shintarou – Nii tetap memaksa dan mengatakan, ini untuk kesehatanmu, Nanodayo" Tetsuya mempraktekkan bagaimana kakaknya berbicara.
"hahahahag, terkadang Tetsu-kun bisa bertingkah lucu juga" Tetsuya tersenyum menanggapi ucapan Momoi.
"Tak terlalu sering, Momoi-san" Tetsuya menatap kebawah saat melihat sang anjing kesayangan terngah mengibaskan ekornya dan tangan yang terangkat naik, Segera ia mengambut tangan mungil anjingnya dan tersenyum kecil.
"kau juga terlihat penyayang hewan, Tetsu-kun"
"Mungkin seperti itu, tapi sebenarnya Nigou adalah peliharaanku yang pertama"
"Heh? Hountou desuka?" Tetsuya mengangguk.
"Haii, Sei-Nii tak pernah mengizinkanku untuk memelihara hewan. Ia mengatakan padaku kalau ia tak suka dengan anjing yang tak menurut dengan tuannya, untungnya Nigou adalah anjing yang pintar, jadi aku yakin Sei-Nii akan mengizinkannya"
"Maksudmu Nigou belum dapat izin dari kakakmu?"
"Begitulah, Sei-Nii sedang berada di Kyoto dan aku tak tau kapan ia pulang." Tetsuya menghela nafas sembari menatap langit. "Saat pulang nanti, aku akan mengenalkan Nigou dan meminta izin untuk memeliharanya. Sei-Nii adalah kakak yang paling ku sayang, terlebih dia juga memiliki sikap yang ramah walau sama seperti yang lain, Brother complex"
"Ne Tetsu-kun" panggil Momoi lembut.
"Hm?" Gumam Tetsuya pelan.
"Apa kau sedang merindukan Sei Onii-san mu?" Tetsuya menatap ke Arah Momoi dengan mata yang membulat besar dan senyuman yang begitu manis seperti ice cream yang lumer.
"Sepertinya begitu" Tetsuya melebarkan senyumannya yang lembut. "Aku memang merindukan Sei-Nii"
Angin lembut menyapu helaian rambut berwarna Baby Blue dan Merah muda itu. Pemuda dan pemudi terlihat saling bertatapan satu sama lain, terlebih sang pemuda tersenyum begitu hangatnya. Untuk pertama kali setelah mengenal Tetsuya, Momoi melihat senyuman Tetuya yang begitu menawan seperti ice cream yang cair dan lumer di mulut serta memberikan sensasi sejuk juga manis yang menghipnotis untuk melihat lagi dan lagi.
'Apa ini salah satu alasanku menyukai Tetsu-kun?' Bisik Momoi dalam hati.
To Be Continue...
Thanks for you all... makasih banget udah review.. lian baca semuanya,, dan lian kasih update insya allah tiap hari jum'at... Yaaah,, itu pun kalau lagi ada quota... Hehehehehe
Big thanks untuk yang udah Favo, Review, dan Follow FF ini... dan untuk semuanya,, Yoroshiku...
Winda305dotworpdressdotcom (ettto,,, dot di ganti titik untuk yang ingin tau wordpress pribadi lian) karakter lian nulis ada disana... Saa.. Matta na...
kalau ada masukkan lagi, lian terima koq.. ^^
