Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

Kuroko Tetsuya

Aomine Daiki

Kise Ryouta

Murasakibara Atsushi

Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 5

%^Little Fail^%

Pria bersurai abu – abu tersenyum remeh saat pandangannya mengedar ke seluruh Stasiun. Hiruk pikuk keramaian ibu kota Jepang menyambutnya seolah ini adalah tempat yang pas untuk menjerat mangsa – mangsanya. Bibir pria itu tak henti – hentinya menyunggingkan senyuman meremehkan. Perlahan ia mulai melangkah melewati orang – orang yang lalu lalang. Langkah kakinya sempat terhenti saat melihat sebuah saluran di telivisi memperlihatkan sosok pemuda dengan surai kuning tersenyum hangat dan ceria. Bibir pria bersurai abu – abu itu berdecih, sungguh ini sangat menyebalkan. Baru saja ia sampai di Tokyo, salah satu makhluk yang menjadi incarannya sudah terlihat. Baiklah, pria itu tak perlu susah – susah mencari keberadaan mangsanya itu kan?

"Tak ku sangka akan semudah ini" Bibirnya menyunggingkan senyuman sadis menatap pria blonde yang masih muncul di layar televisi itu. "Akashi Ryouta, seorang model terkenal tanpa scandal. Hm,, Sepertinya dia bisa jadi kunci menghancurkan si kepala merah itu" Tangan pria itu mengepal erat dengan kejengkelan yang menjadi jadi saat mendengarkan wawancara itu.

Di layar televisi, pria bersurai kuning – Akashi Ryouta – sedang sibuk menjawab pertanyaan – pertanyaan dari para wartawan. Tak luput, jepretan kamera dengan flash menyilaukan menjadi pemandangan yang tak asing untuknya. Tersenyum ramah dan melambaikan tangan ke kamera membuat penampilannya yang tampan semakin tampan.

"Akashi-kun, saat ini kau tengah sibuk dengan pekerjaan sebagai model, lalu bagaimana dengan mimpimu untuk menjadi Pilot?" tanya seorang wartawan.

"Aku bisa mengatur jadwal pemotretan dan juga Academy pilot yang ku jalani-ssu. Lagi pula sebentar lagi aku mendapatkan izin untuk penerbangan secara langsung, dan saat itu tiba mungkin aku akan berhenti sebagai model-ssu" Ryouta tersenyum riang.

"Kalau boleh kami tau, kau memiliki banyak saudara benar?" Salah satu wartawan bertanya dan mendapat anggukkan dari Ryouta. "Aku pernah mendengar jika mereka telah sukses lebih dahulu, lalu kenapa kau ingin sukses juga?"

"Itu benar-ssu, ONii-cchi Tachi memang sudah sukses-ssu. Tapi bukan berarti aku bisa bersantai – santai, Nii-cchi Tachi mengajarkan kami untuk bisa menjadi sempurna karna itulah identitas yang kami sandang dengan marga Akashi"

"Keluarga Akashi memang hebat, kalau tidak salah kalian dijuluki Kiseki No Sedai, benar?" Ryouta mengangguk. "Selain kesuksesan yang kalian dapatkan, apa yang membuat kalian mendapat gelar itu?"

"Itu karna setiap saudaraku berhasil menjadi pemain terbaik dalam basket-ssu. Bahkan Tetsuya-cchi juga masuk Semifinal di Inter-high"

"Tetsuya-cchi?"

"Ah itu adikku-ssu. Sekalian aku ingin kalian melihat Tetsuya-cchi bertanding di Semifinal nanti dengan Timnya Seirin" Ryouta memberikan cengiran yang khas.

Wawancara terus berlanjut dengan berbagai pertanyaan lagi yang lain, ntah itu soal Kiseki No Sedai ataupun tentang kepribadiaan Ryouta sendiri. Pria bersurai abu – abu yang tadi tengah kesal seketika tersneyum lebar dan tertawa renyah, sekali dayung 2 pulau terlampaui. Pria itu mengira hanya akan menemukan satu orang, tapi ternyata ia menemukan dua orang sekaligus. Mungkin jalan yang akan ia lalui akan menjadi lebih mudah untuk membalaskan kekesalan pada kepala merah yang ia benci.

"Seirin, Tetsuya dan Ryouta, Ck, ini lebih mudah dari dugaanku" Pria dengan surai abu – abu mulai beranjak, namun siapa sangka ia akan bertemu beberapa orang yang menjadi incarannya lagi?

Tak jauh dari pria bersurai Abu – abu, terlihat beberapa pelajar dengan Jersey bertuliskan Seirin di punggungnya. Mereka saling bergerombol dan berbincang satu sama lain, diantara mereka terdapat pula 2 gadis muda lengkap dengan seragam sekolahnya. Satu gadis dengan surai coklat sebahu – Aida Riko – dan satu lagi gadis dengan Surai Soft Pink – Momoi Satsuki – berjalan dengan senyuman cerah bersebelahan dengan pemuda dengan tubuh paling kecil diantara yang lainnya dengan surai Baby Blue. Tak jauh dari si surai Baby Blue, terlihat pula seorang pria dengan surai hijau berseragam dokter dengan Bedak bayi di tangan kirinya –sudah pasti ini Lucky Item hari ini, pria bersurai Navy Blue yang masih berseragam polisi lengkap dan satu orang dengan surai ungu menenteng cemilan. Mereka semua mengelilingi pria bersurai Baby Blue, dan dari pandangan Pria bersurai Abu – abu itu, mereka terlihat Protectif.

"Kau sudah meminum vitamin yang ku berikan, Tetsuya" Sayup – sayup terdengar suara si surai Hijau – Shintarou – di telinga pria bersurai abu – abu.

"Sudah Nii-san" kali ini suara si surai Baby Blue – Tetsuya.

"Hmm, kalau begitu pertandingan kali ini kau akan baik – baik saja Nodayo" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Tetsu. Aku akan menontonmu di final nanti, jadi berusahalah" Kali ini si surai Navy Blue – Daiki – yang berbicara dengan senyuman khas juga tangan yang mengelus pelan rambut Baby Blue yang lembut itu.

"Tetsu-chin pasti menang karna kita sudah melatih Tim Seirin kan?" Nada malas terdengar dari pria dengan surai Ungu – Atsushi –.

"Haii, Arigatou Nii-san Tachi, aku akan berusaha." Tetsuya tersenyum senang mendapati kakak – kakaknya yang memberikan semangat. "Nii-san, boleh aku meminta sesuatu?" Tanyanya dengan wajah yang datar.

"Kau mau minta apa Nanodayo?" Shintarou antusias.

"Katakan saja Tetsu, aku akan mengabulkan permintaanmu"

"Dai-chin benar, kau ingin minta apa Tetsu-chin?" Atsushi masih setia dengan nada malasnya.

"Bisakah Nii-san Tachi pulang sekarang, sebentar lagi keretanya akan datang dan aku yakin Nii-san Tachi punya kesibukan masing – masing bukan?" Tepat sasaran, dehaman juga ekspresi kikuk tertera di wajah ketiga kakaknya.

"Itu bisa belakangan Nodayo, lagi pula ini salahmu yang tak mau diantar dan memilih naik kereta bawah tanah seperti ini" Shintarou mencari alasan,

"Aku sedang tak ada kasus yang berarti" Daiki memalingkan wajah dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.

"Para pelayan bisa mengurus restoran saat aku pergi" Atsushi yang tak bisa mencari alasan hanya bisa mengucapkan alasan yang klise.

"Nii-san.." Panggil Tetsuya yang membuat ketiga kakaknya harus mengalah karna tatapan Jengkel namun terlihat imut.

"Baiklah, kami akan pulang setelah kau masuk ke dalam kereta api Tetsuya" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya. "Bukan karna aku khawatir Nodayo, hanya antisipasi" Tetsuya mendengus, kakaknya yang satu ini benar- benar Tsundere.

"Nanti setelah aku naik kereta, Nii-san Tachi harus segera bekerja lagi seperti biasa" Ucap Tetsuya.

"Haii" Jawab Daiki, Atsushi dan Shintarou hampir bersamaan, disaat yang bersamaan pada layar televisi terdengar suara sang kakak yang masih diwawancarai dan telah sampai di akhir pertanyaan.

"Kalau Tetsuya-cchi melihat siaran ini, aku ingin mengatakan selamat berjuang dan yakin menang sampai ke Final Inter – High juga persiapkan dirimu untuk Winter Cup nanti-ssu. Seirin Fighting-ssu" Ryouta mengedipkan salah satu matanya dengan tangan yang mengepal pertanda uluran semangat darinya.

Seluruh pemain Seirin yang melihat itu tersenyum senang dan seperti mendapatkan sebuah energi baru, semangat mereka menjadi berkobar. Tetsuya tersenyum manis melihat kakaknya masih sempat memberikan semangat di tengah pekerjaannya. Jika saja Ryouta melihat ekspresi wajah Tetsuya sekarang, semua orang berani bertaruh jika Ryouta akan segera memeluk Tetsuya dengan sangat kuat sampai pemilik Misdirection itu kehabisan nafas.

Seirin langsung beranjak dan menunggu kereta yang akan membawa mereka ke Gym tempat bertanding sementara seorang pria bersurai abu – abu menatap kerumunan itu seperti hewan kecil yang siap ia genggam kapan saja. Sedari tadi keberuntungan berpihak padanya, tak hanya 2 tapi juga ke – 5 nya ia temui dalam satu hari. Bisa dipastikan jika berbagai macam rencana sudah siap ia susun.

"He~~ ternyata sangat mudah menemukan mereka semua. Akan ku pastikan si kepala merah itu tak berkutik dengan berbagai kegagalan yang akan adik – adiknya hadapi. Bahkan Basket yang menjadi olah raga yang kalian kuasai akan dengan mudah ku hancurkan." Pria itu mengepalkan tangannya kuat. "Aku, Haizaki Shogo akan menghancurkan keluarga Akashi dan memberikan pelajaran tentang kegagalan dari orang terdekat si kepala merah itu"

_ooOOOoo_

Pertandingan Semifinal antara Seirin melawan Touo berlangsung dengan menengangkan juga benar – benar membuat siapapun yang melihat menahan nafas serta menebak – nebak siapa yang akan menang. Pengumpulan Score terus menerus, mulai dari serangan balasan 3 Point lalu aksi rebutan 2 Point bahkan Ace dari masing – masing tim saling berhadapan untuk membuat timnya menang menjadikan pertandingan ini semakin seru. Mendekati akhir pertandingan, Seirin tertinggal 3 Point. Tak ada waktu bagi mereka untuk membuat rencana, kali ini mereka benar – benar harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk bisa menang.

Mungkin ini keberuntungan atau mungkin memang Seirin tim yang kuat, mereka berhasil memenangkan pertandingan dengan selisih 1 Point. Benar – benar pertandingan yang menakjubkan. Setelah pertandingan Semifinal, tinggal menunggu pertandingan final yang akan di laksanakan 2 hari dan Seirin bersiap – siap untuk menghadapi Yosen di final nanti. Walau mereka sudah yakin akan menang, tapi setidaknya memberi persiapan.

Sambil menunggu pertandingan final, Seirin kembali menginap di kediaman Akashi. Mereka mengadakan pesta kecil sebagai hadiah karna berhasil memasuki final, secara percuma Daiki kembali mengajarkan Kagami pola permainan tak beraturan juga teknik – teknik yang mungkin bisa ia pakai saat bertanding. Ryouta juga membantu mengajari Kagami untuk mengcopy trik lawan namun berakhir dengan kegagalan karna Kagami sama sekali tak mengerti. Kiyoshi mendapatkan bimbingan dari Atsushi bagaimana menjadi Center yang bisa diandalkan, Hyuuga juga sedikit mendapat pelatihan pencetakkan Three Point dari berbagai jarak, tapi tetap saja tak bisa menandingi Shintarou.

Ada tawa juga canda selama mereka berada di rumah keluarga Akashi itu, Jujur menyenangkan tapi juga terselip aura seram saat mereka tak sengaja melakukan hal jahil pada Tetsuya atau melakukan kesalahan kecil yang berakhir dengan cibiran dari Ryouta yang tajam, tatapan Atsushi yang menyeramkan, dengusan tak suka dari Daiki dan jangan lupakan amukan dari Shintarou setiap kali ada yang mempertanyakan tentang Lucky Itemnya. Walau seperti itu, Seirin cukup mengerti sikap protectif dan juga keangkuhan keluarga Akashi karna mereka dituntut sempurna bahkan dimata mereka, Akashi family benar-benar sempurna.

Tibalah saat yang ditunggu – tunggu oleh Seirin juga Yosen untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Sungguh, mereka benar – benar sempat kehabisan akal untuk menghadapi Yosen yang notabenenya memiliki pertahanan yang kuat. Jika saja mereka tak ingat bagaimana Atsushi mengajari untuk menembus pertahanan yang kuat, mungkin saat ini Seirin akan kalah telak. Quarter pertama dan kedua mereka lewati tanpa memperoleh angka sedikitpun. Di saat babak kedua mulai, Seirin bangkit dengan serangan yang kuat hingga berhasil menyusul dan berakhir dengan kemenangan telak dari Seirin.

"YOSHAAAAAAA!"

Teriakkan penuh kebanggaan juga kelegaan akan kemenangan membuat mereka tertawa bahagia. Piala juga medali diterima oleh para pemain, foto diri mereka sebagai juarapun terpampang di setiap majalah olahraga remaja. Seirin berhasil menjadi sekolah baru yang mencetak nama baik dan tentu saja menjadi sekolah yang perlu diperhitungkan untuk Winter Cup mendatang.

"Omedetou Tetsuya-cchi, kau berhasil memenangkan Inter – high-ssu" teriak Ryouta sembari memeluk Tetsuya, Protectif.

"Arigatou, Ryouta-Nii" Si bungsu memberikan senyuman manisnya.

"Ma, kalau begitu kita akan rayakan di rumah Nodayo" Midorima membenarkan kacamata dan memalingkan wajahnya. "Ini hanya perayaan biasa" lanjutnya lagi.

"Kau hebat Tetsu, aku akan membelikanmu vanilla Milkshake" Daiki mengelus surai lembut Baby Blue yang lembut.

"Ne, dari pada kita rayakan di rumah, kenapa tak kita rayakan di restoranku saja? Bagaimana Tetsu-chin?" Atsushi melirik ke arah Tetsuya.

"Terserah Nii-san Tachi saja" jawabnya pelan.

"Saa, kalau begitu kita putuskan di restoran Atsushi Nii-cchi" Suara Ryouta menggema.

"Berisik Ryouta" Keluh Daiki.

"Hmph, tak ada pilihan lain. Kita akan merayakan di restoranmu, Atsushi" Ucap Shintarou.

"Haii~~ Akan ku siapkan menu special untuk kalian" ucap Atsushi dan bergegas menuju Lexus pribadinya bersama Daiki sedangkan Midorima, Ryouta dan Tetsuya naik mobil Ferarri mewah milik Shintarou.

"Ano, Shintarou – Nii" panggil Tetsuya takut – takut.

"Ada apa Nodayo?" Sedikit menimang – nimang, kedua bola mata Tetsuya bergerak gelisah.

"Eumh, Apa ada ucapan dari Sei-Nii untukku?" Mengerti maksud dari sang adik, Shintarou menghela nafas dan mengecek smartphonenya, tak ada e_mail masuk ataupun e_mail balasan dari kakak tertuanya.

"Seijuurou mungkin sedang sibuk dan belum sempat membalas E_Mail dariku. Kenapa kau tak coba menelfonnya saja Nodayo, mungkin kalau kau yang menelfon dia akan mengangkatnya" Tanpa perlu menunggu, Tetsuya mengambil Smartphone berwarna Baby Blue dan mencari nomor telfon kakaknya.

Tetsuya menunggu panggilan itu tersambung dan seseorang mengangkatnya. Cukup lama bahkan terdengar suara dari operator untuk menyuruhnya meninggalkan pesan., tapi Tetsuya tutup dan mengulangnya lagi. Terus seperti itu dan tak sekalipun panggilan telfonnya diangkat, menyerah dengan suara operator yang menyuruhnya untuk meninggalkan pesan, akhirnya Tetsuya menekan tombol pengirim pesan.

"Sei-Nii, aku berhasil memenangkan Kejuaraan Inter-high. Aku berhasil seperti Nii-san Tachi lakukan, Winter Cup nanti aku juga akan memenangkannya, aku tak akan kalah seperti Nii-san Tachi bahkan lebih dari Nii-san Tachi. Eumh,, Nii-san" Tetsuya berhenti sejenak dan menghela nafas. "Aku merindukanmu"

Pip

Tetsuya langsung menutup sambungan telfonnya, wajahnya yang tadinya dipenuhi kebahagiaan seketika luntur begitu saja. Ryouta melirik kearah si bungsu dengan tatapan sendu, jujur saja ia tau perasaan Tetsuya saat ini, usianya yang masih menginjak 15 tahun tentu saja masih menyimpan sifat kenak – kanakkan mengingat si sulung adalah kakak yang paling dekat dengannya walau 4 yang lain selalu disampingnya.

"Kau tak perlu memasang wajah seperti itu Nanodayo, Seijuurou memang tengah disibukkan dengan urusan perusahaan cabangnya. Kalau perusahaan cabang itu sudah mendapatkan pemimpin yang dapat dipercaya Seijuurou serta mampu berkembang, dia pasti akan kembali ke Tokyo. Kau tenang saja Nodayo" Shintarou memfokuskan pandangannya ke arah jalanan. "Bukannya aku ingin menghiburmu, tapi itu hanya sekedar firasatku saja Nodayo"

"Shintarou Nii-cchi benar Tetsuya-cchi, kami akan selalu ada disampingmu-ssu" Tetsuya mendongakkan kepalanya menatap sang kakak yang masih tersenyum.

"Haii" jawabnya lemah,

"Sekarang lebih baik kita bersenang – senang-ssu, dan untuk Seirin, hadiah dari kami akan datang besok 2 hari lagi saat kalian latihan-ssu"

"Hadiah?"

"tentu saja Nodayo, itu hanya sebagai penambah semangat kalian saja" Shintarou menambahkan.

"Arigatou Nii-san"

Perjalanan kembali berlanjut dan mereka berhenti tepat di bangunan sebuah restoran yang sangat mewah. Di atasnya tertulis "AKASHI PURPLE" sebagai identitas restoran, begitu memasuki tempat itu, seluruh pengunjung akan disuguhkan tempat makan yang benar – benar lebih dari sekedar kata nyaman juga sangat membuat siapapun berdecak kagum. Lampu – lampu krystal yang menghias di setiap sudut, meja – meja yang berjejer rapi dengan tatanan table maner juga para pelayan dengan seragam yang sangat rapi. Terlihat bagi merela menunduk hormat saat sang pemilik datang dengan saudara – saudaranya.

Tanpa perlu menunggu perintah, para pelayan menyiapkan sebuah meja khusus yang sebanarnya Atsushi siapkan hanya untuk keluarganya saja. Sebuah tempat tepat di tengah – tengah ruangan dan tempatnya sedikit lebih tinggi juga luas dengan 5 anak tangga di depannya. Mejanya yang besar dengan kain bermotif basket dan sofa lembut yang jika di perhatikan secara detail terdapat tulisan seluruh nama anggota keluarga Akashi di mulai dari si sulung hingga si bungsu.

Peralatan makan yang disiapkan juga berbeda dari tamu yang ada, setiap peralatan makan yang ada sengaja dibuat khusus oleh pembuat peralatan makan terkenal. Piring yang mereka gunakan juga bukan piring yang sama, tetapi berbeda dengan masing – masing nama anggota terukir di piringnya. Tak hanya piring, Sendok, garpu, piring, sumpit juga sendok teh juga terukir nama masing – masing keluarga Akashi. Makanan yang disediakan tentu saja langsung berasal dari buatan tangan Atsushi dan menjadikan makanan itu 1000 kali terasa lebih enak. Ntah kenapa, para tamu yang melihat keluarga itu berkumpul dengan segala kemewahan juga canda tawa sedikit merasa iri dengan mereka juga ada terselip kekaguman disana.

"Ittadakimasu" ucap mereka serentak dan mulai makan bersama dengan sedikit candaan juga tawa disana.

"Nii-cchi Tachi, Tetsuya-cchi. Besok aku akan datang ke Entertaiment Award, aku masuk 5 nominasi-ssu" Celoteh Ryouta semangat.

"5 nominasi? Benarkah?" Daiki tak percaya.

"Tentu saja-ssu. Aku masuk dinominasi Model paling tampan, model berpengalaman, fans terbanyak, model dengan pose terbaik dan satu lagi model berbakat-ssu." Ryouta menjelaskan semangat.

"Minggu depan aku juga mendapatkan tantangan dari Chef hebat dunia untuk membuat menu masakan baru dan itu merepotkan" Atsushi ikut berceloteh.

"Aku juga ada jadwal operasi juga seminar mengenai teknik terbaru dalam operasi Nodayo, aku harus memberikan seminar yang menarik agar banyak orang yang percaya pada rumah sakit kita" Shintarou menaikkan kacamata yang tak turun sama sekali.

"Tak hanya kalian, mulai minggu ini aku akan berpartisipasi dalam pemecahan kasus pembunuhan berantai. Ini menyenangkan dan aku merasa tertantang untuk membongkar siapa pelakunya" Daiki begitu bersemangat.

"Sepertinya minggu depan kita semua sibuk" Ucap Tetsuya dan membuat kakak – kakaknya menoleh kearahnya.

"Maksudnya-ssu?" Ryouta tak mengerti.

"Coach menyuruh kami mengikuti Training camp untuk mempersiapkan diri di Winter Cup nanti" Penjelasan dari si bungsu membuat tatapan protectif kelima kakaknya menguar.

"Kau tak boleh ikut Training camp (-ssu, Nanodayo)!" Teriak kakaknya bersamaan.

"Eh? Kenapa?" Tanya Tetsuya terkejut. Shintarou menghela nafas.

"Ingat kondisi tubuhmu Nanodayo, kau bisa saja terkena demam jika aku tak disampingmu" Protes Shintarou

"Ini kan musim panas Nii-san, jadi tak masalah jika aku ikut Training camp" Celetuk Tetsuya.

"Kau tak ingat kemarin sempat diinfus dan musim panas tahun lalu kau sempat terserang demam" Daiki menambahkan.

"Tetsu-chin bisa sakit kalau tak dijaga" Atsushi berbicara dengan nada malas tapi tetap tersirat khawatir disana.

"Tetsuya-cchi tak boleh pergi sendirian-ssu, ajak Seirin berlatih di rumah!" Ryouta berteriak protectif.

"Kalau soal itu tak bisa Ryouta-Nii, Coach mengatakan jika disana ada latihan khusus dengan Kagetora-san" Tetsuya buru – buru menyela.

"Tapi Tetsuya-cchi" Belum lagi Ryouta menyelesaikan ucapannya, Tetsuya kembali menyela.

"Sebelum kami berlatih, kami ada latih tanding dengan salah satu sekolah Nii-san" Speechless, baik Ryouta, Daiki, Atsushi dan Shintarou sama – sama tak bisa berkata apapun lagi. "Onegaishimasu, Nii-san Tachi. Aku akan baik – baik saja, aku janji" menghela nafas, Shintarou yang paling tua mengambil keputusan.

"Baiklah, tapi aku akan tetap memeriksamu sebelum berangkat dan menyiapkan obat – obatan untuk antisipasi" Shintarou mengalah.

"Haii, Arigatou Nii-san" Tetsuya langsung memeluk sang kakak nomor 2 dan membuat Shintarou senang tapi menutupinya dengan bersikap formal seperti biasanya.

"Sama sama Nodayo." Jawabnya pelan namun bisa di dengar oleh si Baby Blue.

Disisi lain, aura – aura kecemburuan tercium dari balik punggung 3 orang pria yang melihat adegan kakak dan adik itu. Sungguh melihatnya membuat mereka iri setengah mati, Daiki sudah mengepalkan tangan kuat, Ryouta sudah siap menumpahkan airmata sedangkan Atsushi bersiap untuk menghancurkan kacamata kakaknya itu. Merasa terintimidasi, Tetsuya mengalihkan pandangannya kearah ketiga kakaknya yang menatapnya dengan ekspresi yang benar – benar cemburu.

"Apa Nii-san Tachi juga ingin ku peluk?" tanya Tetsuya takut – takut, tanpa berbicara mereka mengangguk. "k-Kalau begitu" bukannya memeluk ketiga kakaknya, Tetsuya malah mempererat pelukkannya pada Shintarou. "Nanti setelah aku puas memeluk Shintarou-Nii" Canda Tetsuya dan membuat ekspresi kesal yang menjadi jadi.

"TETSU!" Daiki geram.

"TETSUYA-cchi!" Teriak Ryouta dengan airmata yang menggenang di matanya.

"TETSU-chin~~" Nada malas juga marah menggema menjadi satu saat itu juga. Tetsuya yang menjadi biang dari teriakkan – teriakkan aneh itu seketika memasang senyuman polos dan terus – terusan berlindung di balik punggung Shintarou. Malam itu mereka dipenuhi dengan kegembiraan walau tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

_ooOOOoo_

Akashi Seijuurou sedang duduk sembari menatap keramaian kota dari lantai atas gedung AKASHI Corp. Wajahnya menampakkan seringai tajam dengan kebanggaan yang memenuhi rongga dadanya, kegagalan beberapa waktu lalu berhasil dia ralat dan dengan mudahnya perusahaan yang saat ini masih berkembang kini menuju jalan kesuksesan dalam sekejab mata. Ketika Seijuurou terhanyut dalam suasana tenang dan bangganya, ketukkan pintu membuatnya sedikit terusik.

"masuklah" ucap Seijuurou pelan.

"Permisi President" Seorang pria bersurai hitam memasuki ruangan dengan membungkuk hormat.

"Ada apa Chihiro?" Mayuzumi Chihiro memasuki ruangan lebih dalam dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.

"Apa itu?" Mayuzumi menggeleng.

"Tidak tau president, amplop itu saya temukan di depan kantor dan ditujukan untuk anda" Jelas Mayuzumi.

"Soukka?" Seijuurou membuka amplop itu, matanya membulat sempurna melihat isinya, namun tak berlangsung lama ketika bibirnya mengulas senyuman meremehkan. "He? Dia memulai serangan? Kita lihat saja nanti." Gumam Seijuurou. "Mayuzumi, jika ada amplop seperti ini lagi untukku, aku mau kau segera memberikannya padaku, sepertinya aku sudah bisa menebak siapa yang mengirimkan amplop ini"

"Haii, President"

Mayuzumi segera bergegas meninggalkan ruangan Seijuurou, disisi lain pria bersurai abu – abu yang menjadi pengirim kini tersenyum puas. Pria yang bernama Haizaki Shogo tengah tertawa terbahak – bahak menatap kertas copy-an juga beberapa bawahannya yang telah ia tugaskan untuk membantunya dalam memulai misi menjatuhkan keluarga Akashi. Jangan salah paham, Walau Haizaki merupakan bawahan Akashi, tapi ia juga memiliki kekayaan dari warisan kedua orangtuanya dan dengan mudahnya ia menyewa orang untuk membuat rencananya sukses.

Rencana pertama adalah membuat pamor Akashi Ryouta jatuh dengan sebuah scandal, sesuai jadwal Ryouta menghadiri Entertaiment Award sebagai acara yang memberikan penghargaan pada mereka yang berdedikasi di bidang Entertaiment dan model salah satunya.

Sesuai dengan dugaan, Ryouta menyabet seluruh nominasi yang ditujukan untuknya. Semua berhasil ia menangkan, namun begitu ia bersiap untuk menerima penghargaan terakhir dengan nominasi model tertampan, seseorang dari penonton berteriak dan mengatakan jika Ryouta menyabotase hasil penghargaan.

"Tak mungkin Akashi Ryouta bisa memenangkan seluruh penghargaan" teriak salah satu penonton.

"Benar, Aku yakin itu karna dia berasal dari keluarga Akashi" teriak lainnya dari sudut kanan.

"Dia menang hanya karna menyandang marga Akashi" Teriak dari sudut kiri dan kini banyak orang yang mulai ikut terpengaruh dengan ucapan – ucapan itu.

Ryouta yang menjadi bulan – bulanan pun dibuat terkejut dengan ucapan yang sejujurnya tak benar itu. Jika ia menghindar, otomatis akan banyak wartawan yang akan mengejar – ngejarnya juga ini akan mencoret nama baik Akashi. Acara yang ia hadiri merupakan acara terbesar di Jepang, otomatis seluruh penjuru Jepang melihatnya saat ini. Dengan menghela nafas dalam, Ryouta mengeluarkan sisi aslinya yang bermulut tajam pada orang – orang yang tak ia anggap.

"Berisik!" nada dingin menggema dari microfon tempat Ryouta berdiri. "Kalian semua memang benar, aku memang menyandang marga Akashi dan bukankah itu keuntungan untukku-ssu" Ryouta menyisir surai kuningnya dengan tatapan meremehkan. "Jika aku tak berasal dari keluarga Akashi, mungkin saat ini aku tak akan menjadi model-ssu. Tapi bukan berarti hanya karna berasal dari keluarga terpandang, kalian meremehkan kemampuanku-ssu" Ryouta menatap tajam ke arah kamera yang menyala. "Kalian yang bermulut besar dan mengumpat di balik layar maupun di jejaring sosial media, apa kalian bisa melakukan seperti yang aku dan keluargaku lakukan-ssu?" Ryouta tersenyum licik.

"Hah, dia kelepasan lagi Nodayo" Gerutu Shintarou yang sedang menonton di depan layar televisi bersama Tetsuya disampingnya.

"Ryouta-Nii memang seperti itu kalau soal menyinggung keluarga kita Nii-san" Tetsuya menambahkan.

"Ma, kita lihat saja dulu" Ucap Shintarou.

"Un" Tetsuya mengangguk dan fokus pada siaran televisi.

"Ne, kalian semua, apa kalian pernah mendapat gelar Kiseki No Sedai dari mulai kakak tertua sampai si bungsu dalam 1 bidang olah raga?" Ryouta memandang rendah semua dengan wajah angkuhnya. "Bercerminlah sebelum kalian mengatakan jika kami hanya mengandalkan nama keluarga kami itu. Lagi pula, aku juga butuh kerja keras untuk mencapai titik ini-ssu" Ryouta kembali memberikan sebuah senyuman miring sembari menyisir kembali surai kuningnya. "Seekor anjing liar saja tahu di mana tempatnya sebelum mereka menginjakkan kaki di tempat asing. Bukan hanya omong kosong yang dinilai, tapi hasil dari kerja keraslah yang berhak mendapatkan nilai" Ryouta mengakhiri ucapannya dan turun dari panggung sembari meletakkan penghargaan yang ia dapat tepat di tempat ia berbicara tadi.

Terpukau dengan ucapan Ryouta, bukan sebuah hinaan lagi tapi tepukkan tangan kekagumanlah yang ia dapatkan. Sontak saja penyelenggara acara itu memberikan bonus tambahan penghargaan pada Ryouta. Seijuurou yang melihat itu sontak tersenyum walau masih belum puas dengan penghargaan yang sang adik dapatkan sementara Haizaki mengumpat kesal. Rencana pertamanya gagal dan berlanjut ke rencana kedua.

Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Akashi Atsushi yang diundang untuk berlomba membuat menu makanan baru. Beberapa staff telah dipersiapkan Haizaki untuk menyabotase menu yang akan dibuat oleh atsushi, dimulai dari menghilangkan beberapa bahan masakan, memanipulasi resep yang dibuat dan terakhir memalsukan makanan yang telah dibuat. Atsushi yang menyadari ada kejanggalan, berusaha mengacuhkan hingga ia tak sadar mengucapkan sebuah ide karna kemalasannya.

"Ne Juri-chin~~ Kenapa kalian tak melihat proses memaksanya dan mencicipinya langsung" sedikit lagi Haizaki berhasil membuat Atsushi gagal memenangkan kompetisi Chef yang berhasil membuat menu baru.

Tak terlalu difikirkan, Haizaki ke rencana selanjutnya. Mengacaukan Operasi pasien yang dilakukan oleh Shintarou juga menggagalkan pembongkaran kasus pembunuhan berantai yang sedang Daiki tangani. Ah sungguh sial bagi Haizaki, tak semudah yang ia bayangkan. Shintarou ternyata jauh lebih cerdas dari yang ia duga, ia berhasil mengoperasi pasien walau arus listrik sudah dimatikan, ntah karna kelihaiannya atau memang karna sudah terbiasanya dia, jadi tanpa penerangan yang cukup, Shintarou berhasil mengoperasi Pasien bahkan dengan hasil memuaskan. Presentasi yang dilakukan Shintarou juga berhasil dan membuatnya menjadi Dokter yang paling diandalkan.

Sementara pada kasus Daiki, Haizaki tak menyangka jika Daiki berhasil dengan cepat menangani kasus itu bahkan berhasil menangkap seluruh pelaku hanya dalam hitungan hari. Daiki langsung naik pangkat dengan cepat juga mendapatkan Predikat Polisi muda paling berpengaruh. Seijuurou yang mendapat kabar itu sontak tertawa keras, bahkan ia semakin merasa dirinya dan keluarganya juga tak akan bisa di kalahkan.

"Yang bisa mengalahkan aku, adalah aku sendiri" Gumam Daiki setiap selesai menyelesaikan kasus – kasus yang sulit.

"TCH! SIALAN!" Gerutu Haizaki kesal, "kalau begini tinggal satu orang lagi." Haizaki meremas foto seorang pemuda yang menjadi targetnya selanjutnya - Akashi Tetsuya -.

_ooOOOoo_

Tim Seirin telah bersiap – siap menuju pantai tempat mereka latihan, tas ransel bertengger di punggung beserta segala perlengkapan yang mungkin dibutuhkan. Diantara yang lain, Tetsuyalah yang terlihat membawa begitu banyak perlengkapan padahal ia sendiri tak tau itu untuk apa. Ini semua karna ulah Ryouta yang seenaknya memasukan barang – barang tak penting yang berujung barang bawaannya menumpuk. Diam – diam Tetsuya meninggalkan barang bawaannya di mobil dan membawa satu tas ransel perlengkapan yang telah ia siapkan.

"Kita berangkat sekarang" Seru Riko.

"Haii" Balas satu Tim Seirin. Mereka saling bersenda gurau satu sama lain, bahkan sesekali anggota Seirin mengganggu Momoi yang terus bergelayut di lengan Tetsuya, dan tentu saja Tetsuya tak merasa risih dengan hal itu. Ia sudah terbiasa bahkan sejak mereka duduk di bangku SMP.

"Aku benar – benar tak percaya kalau saat ini Tetsu-kun bisa ikut Training camp bersama"

"Sebenarnya Nii-san Tachi tak mengizinkanku untuk ikut Training camp, tapi karna ini untuk kepentingan Tim, jadi tak masalah walau aku harus membawa benda – benda yang tidak terlalu penting" Tetsuya melirik ke arah Momoi yang masih bergelayut di lengannya.

"Ini akan menjadi Training camp yang menyenangkan karna kau ikut tapi ini juga bisa jadi Training camp yang menyeramkan" Momoi menunduk.

"menyeramkan? Maksudnya?"

"Lawan kita untuk latih tanding nanti adalah Kirisaki Dai Chi dan Fukuda. Untuk informasi yang ku dapat, Fukuda tak terlalu berbahaya tapi Kirisaki Dai Chi memiliki pola serangan yang brutal, jujur aku sedikit takut dengan mereka walau ini bukan pertandingan resmi" Momoi menautkan alisnya khawatir.

"Kirisaki Dai Chi?" Tetsuya memperjelas.

"Haii, dan aku mendapatkan beberapa informasi kalau banyak lawan yang cidera parah karna ulah mereka. Jujur aku tidak setuju jika kita latih tanding dengan mereka, tapi karna salah satu pemain mereka adalah teman Kiyoshi - Senpai, Coach terpaksa menyetujuinya."

"Kalau begitu kau tak perlu khawatir Momoi-san, aku yakin mereka akan bermain sportif"

"Un, aku harap begitu" Momoi menghela nafas pelan 'mungkin'

Tak lama mereka sampai di sebuah penginapan yang sudah dipesan terlebih dahulu, mereka langsung merapikan seluruh barang – barang di kamar yang telah dibagi lalu berganti pakaian untuk segera memulai latihan. Rata – rata mereka mengenakan celana pendek selutut dan kaos polos tapi ada beberapa yang mengenakan kaos tanpa lengan karna matahari yang menyengat. Sungguh, mereka benar – benar ingin mengumpat dan mengutuk pelatih mereka yang cantik juga menyeramkan karna latihan yang ia berikan benar – benar seperti neraka.

Berlatih di atas pasir tanpa bisa mendrible maupun membuat Dunk membuat beberapa pemain merasa tersiksa, Tetsuya sendiri tak bisa mengoper karna bola yang tak bisa memantul di atas pasir. Latihan 3 kali terasa berat setelah mereka latih tanding lalu dipaksa untuk berlari mengitari seluruh pantai. Riko yang mengenakan rok mini dengan atasan tanpa lengan dan Momoi yang mengenakan Rok pendek dengan atasan yang sama membuat setidaknya bagi para pemuda itu mendapat angin sejuk.

"Yosh! Latihan kali ini selesai, nanti kita akan lanjutkan di gedung lapangan seperti biasa" teriak Riko memperingatkan.

"Haii" teriak mereka serentak.

"Haaah! Aku benar – benar merasa lelah" Gerutu Kagami.

"Tubuhku terasa sakit" Fukuda Hiroshi ikut menggerutu.

"Coach memang mengerikan" Koganei menambahkan.

"Lebih baik kita istirahat sebentar, 10 menit lagi kita akan latihan di dalam ruangan" Izuki mengingatkan.

"kau benar Senpai, latihan ini lebih dari kata neraka" Ucap Kagami, disisi lain, Momoi sudah mengambil ancang – ancang untuk memberikan minuman pada Tetsuya.

"Tetsu-kun, Otsukare" Ucapnya dengan senyuman manis. "Aku membawakan minuman dan Handuk untukmu" Tetsuya menerima itu dan tersenyum manis.

"Arigatou Momoi-san" Tanpa mereka sadari, Hiroshi, Furihata, Kawahara dan lainnya memandang mereka penuh iri. Benar – benar membuat mereka ingin mengubur hidup – hidup Tetsuya karna kesempurnaannya. Kurang apa lagi coba? Lahir dari keluarga kaya juga terpandang, merupakan putra bungsu, kecerdasan yang luar biasa, bahkan mendapatkan perhatian dari sang manager cantik seperti Momoi Satsuki. Ah, sempurnalah hidupnya jika saja mengabaikan fisiknya yang lemah.

10 menit berlalu dan mereka kembali mulai latihan di dalam ruangan yang di sediakan. Perubahan terasa mencolok dari hasil latihan yang mereka lakukan, lompatan Kagami yang tinggi terlihat semakin tinggi juga kecepatan mereka meningkat. Mereka siap untuk latih tanding melawan Kirisaki Dai Chi. Namun, apa yang mereka harapkan sama sekali berbeda, pertandingan yang mereka rasakan bukan seperti untuk latihan tapi sebaliknya, pertandingan itu benar – benar membuat tubuh mereka remuk bahkan beberapa ada yang cidera. Beruntung yang menjadi korban kali ini adalah Tsuchida, tapi tak menutup kemungkinan yang lain juga terkena.

Kiyoshi mengalami luka lebam di bagian punggung, Kagami mengalami luka pada pundak, Izuki mengalami luka di bagian lengan, mitobe mengalami terkilir di bagian kaki dan Tetsuya mengalami luka di dahi juga di pipi sebelah kanan akibat hantaman siku. Hanya Koganei, Furihata, Kawahara dan Hiroshi yang sama sekali tak terluka. Meski keadaan seperti itu, mereka berhasil memenangkan pertandingan ini. Tapi untuk pertandingan selanjutnya, Seirin harus mengaku kalah karna kondisi mereka yang tak memungkinkan.

"Hahahahahaha,, aku menemukan kelemahan keluarga Akashi. Yare yare, ternyata si badan kecil itu bisa menjadi kartu as untuk menghancurkan mereka" Haizaki tertawa terbahak – bahak saat menemukan apa yang ia cari.

Pertandingan tim Fukuda melawan Seirin berakhir dengan kekalahan yang sejujurnya tidak terlalu menyakitkan karna ini hanyalah pertandingan persahabatan, tapi bagi Tetsuya ini pukulan telak untuknya. Ini pertama kalinya timnya kalah saat bertanding bahkan ini benar – benar kekalahannya yang pertama.

"Tetsu-kun, Daijoubu?" Tanya Momoi.

"….." Tetsuya diam, ia tak bisa mengatakan apapun karna kekalahannya ini.

"Oi Akashi teme! Berhentilah diam seperti itu, ini hanya latih tanding baka. Kita akan membalas mereka saat Winter Cup nanti" Kagami menepuk punggung Tetsuya namun ia sama sekali tak bergeming.

"Akashi, kekalahan ini bukan karna kita tidak kuat, ini hanya karna kita sedang cidera. Kau lihat jika kita hanya kalah satu Point" Kiyoshi mengelus surai Baby Blue itu dan tentu saja membuatnya sedikit tenang.

"Gomennasai, Senpai. Aku hanya sedikit terkejut" Elak Tetsuya.

"Aho, lebih baik kita bersihkan tubuh dan istirahat. Besok kita akan pulang dan menyembuhkan luka – luka kita dulu" Hyuuga memberi saran.

"Hyuuga-kun benar, lebih baik kalian istirahat dan jika ada masalah kalian bisa panggil aku" Riko memberikan pendapatnya.

"Haii, Coach!"

Seirin langsung istirahat di kamar masing – masing sedangkan seorang pria terlihat begitu senang saat melihat hasil rekaman yang ia dapatkan tadi. Meski ini bukan pertandingan resmi, tapi cukup untuk mengancam si kepala merah yang membuatnya jengkel setengah mati. Ia membungkus rapi Flashdisk dan menulis di secarik kertas.

Aku akui kalian memang hebat, tapi sehebat apapun satu keluarga itu, aku yakin kalian memiliki kelemahan. Satu orang berhasil membuka jalan untuk menghancurkan yang lain, ingatlah satu hal Akashi, sekeras apapun batu yang menahan laju air, lambat tapi pasti air yang lembut bisa melubangi batu yang keras itu. Aku akan menghancurkan kalian sedikit demi sedikit sampai tak ada lagi yang tersisa, aku akan meruntuhkan rasa percaya diri si Hijau, Mulut tajam si kuning, meretakkan tulang si Navy Blue, meremukkan di Ungu dan akan ku buat di Baby Blue itu menjadi kartu as yang paling mudah dihancurkan.

Ready, Akashi Seijuurou?

_To Be Continue..._

Yo Minna, apa kabar? telat Update? Gomen ne,, soalnya lian lupa kalau ini udah Jum'at.. Sampai juga di Chapter selanjutnya... ^^ Terima kasih udah Review, Follow sama Favo.. XOXO Guys..

Jika masih kurang puas, silahkan Kritik.. ^^