Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
Kuroko Tetsuya
Aomine Daiki
Kise Ryouta
Murasakibara Atsushi
Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 6
%^Who Are You^%
Sunyi menjadi penggambaran keadaan rumah keluarga Akashi saat ini, bukan sunyi dalam artian tak ada siapapun disana, tapi sunyi karna para tuan muda tak ada di rumah. Para Maid masih tetap sibuk di posisi masing – masing, menyiapkan pekerjaan juga tugas – tugas mereka. Mabuchi – sang kepala pelayan – menunduk hormat saat melihat seseorang memasuki pintu rumah kediaman Akashi.
Pria itu berjalan sembari mendongakkan kepalanya, mata yang tajam dan bibir yang tak menampakkan sebuah senyuman sedikitpun. Apapun yang ia lihat, rasanya seperti ditelanjangi bahkan benar – benar seperti diintimidasi. Para Maid yang tadi masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya masing – masing kini terlihat berbaris rapi sembari membungkuk hormat.
"Mabuchi" suara berat dengan nada dingin terdengar jelas di bibir pria itu.
"Haii, Seijuurou – sama" Mabuchi menunduk hormat juga sopan pada pria yang merupakan putra sulung keluarga Akashi – Akashi Seijuurou.
"Dimana yang lain?" Tanyanya singkat tapi benar – benar membuat para pelayan bergidik ngeri.
"Shintarou – sama sedang ada di rumah sakit, Atsushi – sama sedang bekerja di restoran, Daiki – sama sedang menangani kasus penyebaran Narkoba, Ryouta – sama sedang ada Pemotretan untuk peluncuran Album Musim Gugur dan Tetsuya – sama sedang Training camp bersama Tim Seirin" Jelas Mabuchi Panjang lebar.
"Soukka, jam berapa mereka akan pulang?"
"Menurut jadwal dan perkiraan saya, mereka akan pulang jam 06:00 tepat sebelum makan malam, Seijuurou – sama"
"Hmm.. berarti sekitar 4 jam lagi mereka akan sampai?"
"Haii, Seijuurou – sama"
"Baiklah kalau seperti itu, jangan ada yang mengatakan jika aku sudah pulang."
"Haii, Seijuurou – sama"
Selesai mengatakan hal itu, aura dingin juga berat benar – benar terasa disekitar Seijuurou. Para Maid juga Mabuchi merasakan suhu ruangan yang hangat seketika seperti berada di kutub utara, begitu dingin juga mencekam sampai para Maid tanpa sadar menahan nafasnya. Begitu Seijuurou menghilang dari ruangan itu, para Maid langsung menghirup nafas sebanyak – banyaknya juga ada perasaan lega disana.
Di tempat lain, Shintarou yang berada di ruangannya sedang melihat ramalam Oha – Asa seperti biasanya. Dahinya mengerut saat melihat posisi Libra berada di posisi 8, Cancer berada di posisi 9, Gemini di posisi 10, Virgo di posisi 11 dan Aquarius posisi terakhir 12. Dahinya semakin menukik tajam saat melihat Sagitarius di posisi atas.
"Omedetou, Sagitarius berada di posisi pertama dan kalian akan membuat siapapun tunduk pada kalian. Tapi jangan sampai membuat kesalahan dan bisa membuat anda menyesal. Lucky Item hari ini adalah gunting berwarna merah"
"Keberuntunganku kalah dari Seijuurou" gerutu Shintarou.
"Libra berada diposisi 8, kamu akan mendapat sedikit masalah, tapi tak akan berpengaruh apa – apa selama kamu menurut. Lucky Item hari ini adalah Maiubou rasa Jagung" Suara pembawa ramalan menggema di televisi pribadinya.
"Itu mudah untuk mendapatkannya Nodayo" Gumam Shintarou sembari menaikkan bingkai kacamatanya.
"Cancer, Gemini dan Virgo sepertinya harus bersiap mendapatkan tekanan yang berlebihan. Untuk jaga – jaga, lebih baik membawa Lucky Item hari ini, untuk Cancer Lucky Item hari ini adalah kaus kaki olah raga, Lucky Item gemini adalah majalah model sexy dan Virgo Lucky Item hari ini adalah jepitan rambut berwarna pink" Shintarou menggeser duduknya sedikit.
"Ini akan jadi hari yang berat" Gumamnya.
"Untuk yang paling unlucky hari ini, Aquarius harus bersiap untuk lebih kerja keras karna kesalahan kemarin. Lucky Item untuk hari ini adalah Action figure Iron Man"
"Hmph, aku harus mencari Action figure itu dan memberikannya pada Tetsuya nanti." Shintarou menghela nafas panjang, "Ntah kenapa perasaanku menjadi tak enak seperti ini"
Shintarou menghempas nafas berat dan beranjak dari kursinya, ia keluar ruangan untuk mencari udara segar sekaligus memesan Lucky Itemnya hari ini. Sementara di Training camp, Seirin menghabiskan waktu mereka dengan mengobati luka – luka juga cidera yang mereka dapatkan. Tsuchida yang mendapatkan luka terbanyak terpaksa pulang terlebih dahulu sedangkan sisanya melakukan persiapan untuk menghadapi Winter Cup mendatang.
"Berdasarkan analisisku, babak penyelisihan untuk pertandingan Winter Cup nanti akan di menangkan oleh Shuutoku dan Kaijou. Touo sudah mengamankan tiket menuju Winter Cup, Yosen juga sudah mengamankan tiketnya, dan Rakuzan sudah pasti ikut berpartisipasi." Momoi berdiri di depan sembari menjelaskan.
"Jadi lawan kita untuk Winter Cup kali ini sangat kuat, Setelah cidera kalian sembuh, akan ku pastikan kita latihan 2 kali lebih keras dari ini" Ucap Riko yang membuat Seirin menatap horor.
"Itu benar, Riko – Senpai. Tapi jika ku teliti lagi, kalau kita berhasil lolos ke pertandingan berikutnya, maka tak akan diragukan kalau kita akan bertanding melawan Fukuda lagi" mendengar kata Fukuda, tatapan mereka menjadi serius. "Ini adalah pertandingan balas dendam dan jangan lupa mereka memiliki kelemahan yang mencolok"
"Kelemahan mereka adalah dalam kerja sama kan Momoi-san?" Celetuk Koganei.
"Benar, kerja sama mereka benar – benar buruk bahkan sangat buruk. Tapi ketika mereka bekerjasama, ini akan menjadi masalah yang besar. Oleh karna itu, untuk menghadapi Fukuda, aku sudah menyiapkan menu latihan yang mengimbangi kerjasama"
"Bisa kau jelaskan menu latihan itu Momoi-san" tanya Hyuuga.
"Hmm,, bukan aku yang akan menjelaskan menu latihannya tapi Riko – Senpai yang akan menjelaskannya" Momoi tersenyum ramah sedangkan Riko memberikan senyuman menyeramkan.
"Jika kalian memaksa, aku akan menjelaskan menu latihannya." Riko berhenti sejenak dan mengambil sebuah kertas. "Latihan kali ini di mulai dengan lari memanjat gunung dengan cara bermain polisi dan pencuri selama 3 jam tanpa henti. Lalu kita latihan berlari secara estafet selama 2 jam, kemudian latih tanding dengan tim acak selama 3 jam secara bergantian berdasarkan Lucky Stick" Mendengar menu latihan yang di katakan pelatih membuat Seirin beku total.
"Tunggu dulu Coach, bukannya itu hanya menu untuk melatih kecepatan kita? Aku rasa itu tak berguna" Celetuk Kagami.
'KAU MAU CARI MATI, BAKAGAMI!' Teriak Seirin Histeris dalam hati.
"Aaa, sepertinya ucapanmu memberikanku ide Kagami-kun. Padahal aku belum selesai membaca menu latihan untuk kalian dalam bekerja sama" Riko tersenyum senang.
"BAKAGAMI!" Teriak Seirin Frustasi – minus Tetsuya yang masih diam.
"Latihan untuk kerja sama ini adalah bermain basket dengan tangan terikat dan juga para pemain harus di tutup matanya. Ini hanya permainan uji coba jadi tidak diaplikasikan dalam pertandingan" jelas Riko.
"Latihan ini juga bertujuan mempertajam indera kalian untuk mengetahui bola terlebih Eagle Eye yang dimiliki Izuki – Senpai bisa terlatih dengan menu ini" Momoi menambahkan.
"Sisa latihan yang lainnya akan diatur oleh Papa ku selama 1 bulan" Riko mengucapkan dengan semangat sementara Seirin bersiap untuk bunuh diri karna yang melatih mereka nantinya adalah Aida Kagetora yang terkenal dengan Overprotectif terhadap putri semata wayangnya – Aida Riko.
Seirin melanjutkan pembicaraan mereka, sering terjadi perdebatan juga meminta penjelasan lebih mengenai Winter Cup yang akan mereka ikut di musim dingin mendatang. Semua ribut untuk saling memberi pendapat, namun Tetsuya yang duduk diantara mereka hanya diam tanpa mengatakan apapun. Memang dia adalah anak yang pendiam, tapi tak pernah sediam ini. Kagami yang menyadari itu langsung menegurnya, walau diawal sulit karna Tetsuya terlihat tak mendengarkan, namun akhirnya Tetsuya mendengarnya.
"Kau kenapa Akashi-teme, tak biasanya kau sediam itu. Apa kepalamu yang terbentur itu membuat otakmu bergeser?" Celetuk Kagami.
"Iie desu, sifatku memang pendiam Kagami-kun." Tetsuya menjawab sopan.
"Aku tau kau memang pendiam, tapi setelah kita melawan Fukuda, kau menjadi lebih diam dari biasanya" Kagami mengingat pertandingannya dengan fukuda yang berakhir dengan kekalahan. "Ah jangan katakan ini karna kita kalah"
"….." Tetsuya diam.
"Jadi benar?!" Kagami tak percaya. "Akashi-teme, itu hanya latih tanding. Anggap saja hanya permainan anak kecil dan kau tak perlu khawatir, ingat kita masih bisa balas dendam"
"Aku tau itu Kagami-kun, hanya saja ini adalah kekalahan pertamaku" Jawab Tetsuya lesu.
"Ini bukan kekalahan baka! Ini hanya kemenangan yang tertunda saja, lebih lagi pertandingan itu seperti bukan pertandingan, apa lagi Score yang terlihat sepertinya tak sesuai dengan Score yang sebenarnya. Nanti di Winter Cup, kita akan mengajarkan mereka apa itu kekalahan yang sesungguhnya" Ucap Kagami bersemangat.
"Aku tak menyangka jika kau bisa berkata seperti itu, Kagami-kun" celetuk Tetsuya datar.
"Nani? Kau mengatakan sesuatu Teme?" delik Kagami.
"Tidak ada" Tetsuya mengalihkan pandangannya kesamping, "Arigatou, Kagami-kun" Kagami langsung mengelus rambut Baby Blue yang halus juga lembut itu.
"Yosh, tetaplah semangat Akashi dan kita akan pulang sebentar lagi. Aku yakin kakak – kakakmu sudah menunggu terlebih aku tak mau lihat Seirin di gantung hidup – hidup karna terlambat membuatmu pulang ke rumah." Kagami memberikan senyuman manisnya.
"Haii" Jawab Tetsuya singkat.
Tetsuya tersenyum kecil menanggapi cahaya barunya itu. Memang Kagami terkadang bersikap bodoh atau mungkin memang dia adalah orang yang bodoh? Tapi dibalik itu semua, Kagami memiliki jiwa pertemanan yang erat walau terkadang sikapnya terlalu berlebihan. Seperti bola basket dan Ring Basket, seberapa jauh bola itu bergulir namun berujung masuk kedalam ring juga. Singkat, tapi kai ini Tetsuya mendapatkan teman yang benar – benar tulus dari hati tanpa memandang ia berasal dari keluarga Akashi.
_ooOOOoo_
"Pemotretan kali ini benar – benar membuatku tak nyaman-ssu, kenapa mereka menjadikanku model untuk produk tak bermutu seperti itu? Menyebalkan" gerutu pria bersurai kuning saat memasuki ruangan yang terasa sunyi.
"Berisik Ryouta. Itu salahmu sendiri karna menerima tawaran untuk produk itu"" Celetuk Pria berkulit Tan dengan surai Navy Bluenya.
"Haaah,, sudahlah. Aku masih kesal dengan Produser yang tadi-ssu" Ryouta mengacak kesal surai kuningnya. "Daiki Nii-cchi sendiri dari tadi terus – terusan menguap-ssu, aku yakin Nii-cchi mendapatkan pekerjaan yang membosankan"
"Begitulah, bandar Narkoba yang ku kejar ternyata tak sesulit yang ku kira. Mungkin aku akan mencoba menjadi penangkap teroris agar lebih menantang" Celetuk Daiki.
"Kalian terlalu banyak Mengeluh Nanodayo, nikmati saja pekerjaan yang sudah kalian dapatkan" Si surai Hijau menyela. "Dan Kau, Ryouta. Kapan kau akan mulai pekerjaanmu sebagai Pilot? Kalau kau terus fokus pada pekerjaanmu sebagai model, aku tak yakin tujuanmu menjadi pilot akan tercapai"
"Aku tak terlalu memikirkannya-ssu, aku hanya ingin menikmati ketenaranku sebagai model" Ryouta bersikap acuh.
"Hah, kau ini" Shintarou terlihat menghela nafas berat. "Maa, terserah kalian, selama itu tak menyalahi peraturan keluarga kita, aku tak masalah Nodayo. Ne, Atsushi, sebentar lagi Tetsuya akan pulang, lebih baik kau siapkan makan malam untuk kita semua" Shintarou memberikan intruksi.
"Okey, Shin Nii-chin" Jawab si surai ungu dengan nada malas andalannya.
4 bersaudara itu terlihat berjalan berdampingan menyusuri Mansion mereka yang luas bermaksud untuk istirahat setelah seharian bekerja, begitu mereka sampai di ruang tengah, seseorang terlihat duduk dengan angkuhnya dan menatap mereka remeh. Surai merah dengan sepasang mata berbeda warna terlihat berwibawa namun ntah kenapa membuat suhu ruangan menjadi dingin mencekam. 4 bersaudara itu sempat membulatkan mata tak percaya melihat orang itu, bukan karna aura yang mencekam, tapi mereka terkejut melihat orang itu disana tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
"Sei Nii-cchi~~~~!" Teriak Ryouta senang, bermaksud untuk memeluk tapi ia urungkan saat sebuah gunting berwarna merah teracung di depan matanya. Sungguh, jika saja Ryouta bergerak maka Gunting itu akan menancap di matanya.
"Jangan pernah mendekat jika hasil yang kau dapat tak memuaskan Ryouta" Dingin bahkan terkesan tak memiliki perasaan, alis ke 4 saudara ini tertaut satu sama lain, bingung juga tak mengerti.
"Sei – Nii, kau menakuti kami dengan gunting itu, bisa Sei-Nii jauhkan dulu gunting itu" Daiki mencoba memberi pendapat.
"Kau memerintahku Daiki?" Daiki menggeleng.
"Iie, hanya memberi saran" Jawabnya was – was.
"Hn,,, aku tak mengizinkanmu melakukan itu" Seijuurou berdiri dari tempatnya dan memandang ke – 4 adiknya yang diam mematung karna bingung sekaligus tak mengerti akan sikap sang kakak.
"S—" Shintarou mencoba untuk berbicara tapi terpotong oleh ucapan Seijuurou.
"Kalian tau aku sudah lama meninggalkan Tokyo bukan?" Ryouta, Daiki, Shintarou dan Atsushi mengangguk. "Kalian tau alasan aku pulang karna apa?"
"Tentu saja tidak-ssu" Jawab Ryouta takut – takut.
"Akan ku jelaskan, Aku pulang karna kalian hampir mempermalukan nama Akashi"
Deg'
'Mempermalukan? Apa maksudnya?' fikir Ryouta, Daiki, Shintarou dan Atsushi bersamaan.
"Ryouta" yang namanya disebut sontak menahan nafas. "Lebih baik kau bekerja lebih keras lagi, kejadian saat Entertaiment Award itu membuatmu seolah – olah memanfaatkan marga Akashi yang kau sandang. Aku ingin kau memberitahu seluruh Jepang jika kau bisa menjadi model sekaligus pilot yang berbakat. Bekerjalah 2 kali lipat dari ini atau marga Akashi yang kau sandang akan hilang"
"….." Ryota yang mendengar itu membulatkan mata dan membuka mulutnya tak percaya, usaha yang ia lakukan harus menjadi 2 kali lipat lebih berat? Yang benar saja?
"Shintarou, aku tau kau sudah menjadi dokter yang bisa diandalkan, tapi aku tak mau mendengar kau gagal dalam mempertahankan reputasimu yang sekarang. Kembangkan potensi rumah sakitmu saat ini, jadikan warga jepang lebih percaya untuk berobat di rumah sakitmu dari pada di tempat lain"
'Hah? Apa – apaan ini Nodayo?' gerutu Shintarou dalam hati.
"Daiki, pekerjaanmu sebagai polisi aku kira itu sangat mudah. Bagaimana jika kau ikut menangani setiap kasus yang ada. Bahkan kau harus menjadi anggota pelindung negara dengan pekerjaan 4 kali lipat lebih berat, dengan begitu orang – orang akan mempertimbangkan lagi kemampuanmu"
'Dia berguraukan?' fikir Daiki.
"Atsushi, diantara semuanya, kau paling menurut dengan apa yang kukatakan. Untukmu aku memberi keringanan karna dengan sikapmu yang seperti itu, kau berhasil membuat orang – orang memilih restoranmu sebagai restoran terbaik"
'Mou~~ Sei Nii-chin terasa berbeda. Kenapa?' fikir Atsushi malas.
"Dengar, Akashi menuntut kesempurnaan dan jika ada sedikit saja kecacatan yang kalian lakukan, maka hukuman yang akan kalian dapatkan adalah menambal kecacatan itu dengan kerja keras 3 kali lipat."
Tak mengerti juga bingung, ada apa denagn kakak tertua mereka ini? Baru saja pulang, tanpa bertegur sapa secara normal kini malah memberikan mereka pekerjaan yang 3 kali lipat menguras tenaga dengan alasan kesempurnaan keluarga Akashi. Tak hanya itu, bibir Shintarou, Ryouta, Daiki dan Atsushi serasa terkunci rapat dan tak berani terbuka karna bisa saja saat sebuah kalimat meluncur, maka gunting yang bertengger di kantung Seijuurou akan merobek bibir mereka. Di saat ketegangan memuncak, sebuah suara membuat semua orang menatap ke arah pintu.
"Tadaima…"
Surai Baby Blue terlihat memasuki rumah dengan jersey Seirin yang melekat di tubuhnya. Luka gores di dahinya tertutupi oleh poninya yang panjang, hanya luka di pipinya saja yang masih terlihat. Pria dengan surai warna – warni itu terlihat menatap dengan tatapan berbeda, disisi lain mereka merasa lega dengan kepulangan sang adik bungsu, tapi di sisi lain mereka juga merasa khawatir dengan sang adik yang akan menemui Seijuurou yang berbeda.
"Sei-Nii?" Gumam Tetsuya begitu melihat sang kakak bersurai Merah berdiri membelakanginya, binar mata yang awalnya lelah juga kecewa seketika berganti dengan pandangan mata cerah.
Setengah berlari, Tetsuya menghampiri sang kakak yang masih membelakanginya. Ia tak memperdulikan bagaimana tubuhnya yang lelah bahkan tas yang tadinya ia bawa di punggung kini ia lempar secara acak. Begitu dekat dengan si sulung, tiba – tiba saja Tetsuya berhenti mendadak karna serangan gunting merah sang kakak. Terkejut juga tak percaya, bagaimana bisa sang kakak bisa begitu mengerikan?
"Tetsuya/Tetsuya-cchi/Tetsu/Tetsu-chin!" Teriak ke-4 kakaknya yang panik begitu melihat serangan itu. Tetsuya yang terkejut hanya bisa mematung dan tanpa ia sadari pipinya tergores, jika saja tak menghindar, mungkin luka itu lebih dalam.
"Sei-Nii.." Bisik Tetsuya tak mengerti.
"Akhirnya kau pulang Tetsuya" Seringai muncul di bibir Seijuurou, langkahnya mendekat ke arah Tetsuya, dan dengan gerakkan cepat sebuah pukulan membuat Tetsuya terpental ke arah Shintarou, Daiki, Atsushi dan Ryouta.
"Apa yang kau lakukan Seijuurou!" Bentak Shintarou saat tubuh Tetsuya berada dalam pelukkannya dan merintih pelan.
"Itu hanya hukuman untuk sebuah kekalahan" Dahi seluruh adik – adiknya mengerut tajam, tak mengerti apa yang di maksud sang kakak. "Bagiku sebuah kekalahan adalah salah satu kecacatan dalam keluarga Akashi, untuk selanjutnya, aku tak mau mendengar jika kau kalah walau itu hanya latih tanding"
"Apa maksudnya Sei-Nii?! Kalah? Tetsu memenangkan kejuaraan Inter-High dan segala yang ia lakukan sudah sesuai dengan ucapannya" Daiki menatap tajam ke arah Seijuurou.
"Iie, Dia kalah saat Training camp dan latih tanding bersama tim Fukuda." Gila, ini benar – benar gila, hanya karna kalah latih tanding Tetsuya mendapatkan pukulan seperti itu? Apa sang kakak masih waras? "Akashi dituntut untuk sempurna, jika kau mengacau kesempurnaan itu, maka kau harus membayarnya berpuluh kali lipat. Tetsuya.." Seijuurou menatap ke arah si bungsu yang berada di rangkulan Shintarou. "Winter Cup akan di mulai dalam waktu 6 bulan lagi, aku minta kau lebih bekerja keras daripada ini. Seirin tak akan bisa menjadi juara jika kau mudah dikalahkan." Sejuurou berbalik dan mulai berjalan menjauh. "Ingat, jika kau kalah, maka kau akan pindah ke Rakuzan tanpa menunggu pergantian semester"
"Haii" Lirih Tetsuya dan masih bisa di dengar oleh Seijuurou.
"Ah, hampir aku lupa" Seijuurou yang sudah melangkah kini menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kelima adiknya yang masih bingung dengan keadaan. "Kau harus menjadi yang terbaik Tetsuya, ingat segala prestasi yang kakak – kakakmu lakukan. Kau tak akan bisa mengalahkan kami jika usahamu hanya setengah – setengah. Seorang Akashi harus sempurna dalam bidang academic juga non-academic, kemenangan adalah segalanya dan itu berlaku untuk kalian semua juga, aku tekankan untuk tak ada yang mencoba membantu Tetsuya. Siapapun bahkan sedikit saja kalian turun tangan, akan ku bunuh. Lakukan segalanya sendiri, karna itu lebih baik karna setiap keluarga Akashi mampu melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain maupun saudara sendiri." Seluruh mata membulat tak percaya, apa – apaan kakaknya ini. Si Baby Blue yang masih berada diantara ke-4 kakaknya yang lain menatap sang kakak sulung dengan tatapan tak percaya.
"Nii-san" Panggilnya.
"Kau memanggilku Tetsuya?" jawab Seijuurou dengan tatapan intens.
"Tidak, tapi kau siapa?" Seketika ke – 4 saudara itu menatap tak percaya dengan apa yang ditanyakan oleh si bungsu.
"Kau menanyakan aku siapa Tetsuya?" Nada meremahkan juga kesombongan mendominasi di suara Seijuurou. "Aku, Akashi Seijuurou. Pemimpin AKASHI CORP dan kesempurnaan keluarga Akashi tercermin dariku, bahkan kesuksesan kalian itu karna aku. Aku tau karna aku tak pernah salah, aku selalu benar karna aku absolut"
Seringai mengerikan terpampang dari wajah Seijuurou, mendadak suasana menjadi tegang bahkan udara dingin menyergap walau suhu ruangan itu hangat. Seijuurou kembali berbalik dan meninggalkan kelima adiknya yang masih diam mematung, antara percaya dengan tidak percaya dengan kelakuan Seijuurou yang menurut mereka jauh berbeda. Ketika Seijuurou tak terlihat lagi, saat itu lah mereka tersadar dengan keadaan yang ada. Buru – buru mereka mendekat ke arah sang adik yang masih meringis karna pukulan yang dilakukan oleh Seijuurou.
"Tetsu-chin, Daijoubuka?" Tanya Atsushi saat melihat luka di pipi Tetsuya.
"Daijoubu desu, Atsushi-Nii" Tetsuya menjawab pelan, bahkan sangat pelan nyaris seperti bisikan.
"Kalau kau sakit, katakan saja Tetsu. Kami tak ingin kau menderita" Daiki mendekat dan menatap luka di wajah Tetsuya.
"Sei Nii-cchi keterlaluan-ssu. Aku tak menyangka dia memukul Tetsuya-cchi sekeras itu" Ryouta ikut mengelilingi si bungsu.
"Lebih baik kau ku obati dulu dan akan ku periksa bekas pukulan Seijuurou tadi, aku takut berdampak buruk padamu Nanodayo" Shintarou yang paling dekat dengan Tetsuya langsung membantuya untuk melangkah, namun di luar dugaan, Tetsuya malah menepisnya.
"Arigatou Nii-san, Daijoubu desu. Ini hanya luka kecil, tak perlu diobati nanti juga nanti mengering." Tetsuya segera membungkuk dan pamitan. "Sesuai yang Sei-Nii katakan, harusnya aku bisa menangani hal kecil seperti ini sendirian. Bahkan melawan Fukuda yang tak terlalu kuat saja kami bisa kalah, padahal melawan Kirisaki Dai Chi yang kuat kami menang walau ada konsekuensinya" Tetsuya menghela nafas, "Aku mau ke kamar dulu Nii-san, aku lelah" Tetsuya pergi menuju kamarnya, ia mengambil tas yang ia sempat lempar acak dan bergegas pergi diikuti Nigou yang mengekor di dekatnya.
"Tetsuya-cchi" Lirih Ryouta sedih.
Shintarou, Daiki dan Atsushi tak bisa berbuat apa – apa, terlebih jika si sulung yang mereka hormati juga sayangi sudah berkata, tak ada alasan untuk membantah walau kali ini rasanya berbeda. Makan malam yang biasanya diwarnai dengan canda tawa atau mungkin pelepas rindu antara Ke-6 saudara karna kini berkumpulpun tak ada. Tetsuya melewatkan makan malam dengan alasan lelah, sedangkan yang lain beralasan tak ingin membuang makanan. Sejak hari itu, mulai detik itu juga keadaan keluarga Akashi berubah 180 derajat.
Tak ada lagi tawa, tegur sapa menghilang bahkan tingkah protectif pada si bungsu juga menghilang seiring waktu. Rumah yang biasanya terasa ramai karna suara tuan muda yang sibuk dengan si bungsu tak pernah terdengar. Tak ada teriakkan juga pelukkan maut dari Ryouta, keusilan Daiki, makanan penutup Atsushi dan sikap Tsundere yang diam – diam memperhatikan kini hilang begitu saja. Semua sibuk bahkan mereka pulang larut, atau mungkin tak pulang sama sekali, hal itu juga berlaku pada si bungsu. Keluarga Akashi tak sehangat dulu.
'Mimpi buruk si bungsu telah dimulai'
_ooOOOoo_
Decitan sepatu, bunyi pantulan bola di lantai, tiupan peluit, gemerincing ring basket juga teriakan – teriakan menggema di Gym Seirin. Latihan yang diberikan pelatih semakin berat bahkan jauh lebih berat dari yang sebelum – sebelumnya, menu yang pernah dibahas saat Training camp tiba – tiba saja berubah. Latihan yang Aida Kagetora berikan selama 1 bulan berupa pengembangan teknik, pembelajaran teknik baru juga beberapa hal yang atlit nasional lakukan sudah mereka dapatkan. Tapi, masih ada saja hal yang membuat porsi latihan bertambah setiap harinya.
"Winter Cup masih ada satu bulan lagi, tapi ntah kenapa tulangku rasanya seperti patah" Celetuk Koganei.
"Itu benar, aku tak menyangka latihannya akan seperti ini beratnya. Padahal tahun lalu tak sesulit ini" Kiyoshi menambahkan.
"Menu yang diberikan juga benar – benar membuat tubuhku sakit" Hyuuga mengerang.
"Aku butuh asupan makanan lebih banyak dari ini." Celoteh Kagami. "Coach benar – benar ingin membunuhku"
"eh? Membunuhmu? Maksudnya membunuh kita?" Izuki menimpali.
"Iie Senpai, menu latihanku sedikit berbeda dari kalian." Seketika orang – orang yang ada di sana menatap horor kearah Kagami.
"Apa maksudmu Kagami?" Tanya Furihata.
"Kalian hanya berlatih menganai teknik juga segala yang diperlukan sebagai atlit, tapi menu latihanku adalah untuk membentuk potensi yang sudah ku dapatkan, lebih tepatnya membuat kemampuan basketku lebih matang" Kagami meregangkan otot – ototnya. "Momoi memberitahuku kalau kakak pertama Akashi yang memberikan menu latihan itu untukku"
"Kakaknya Akashi? Maksudmu kakak – kakak yang kita temui waktu itu" Tanya Hiroshi.
"Iie, tapi katanya bernama Akashi Seijuurou"
"A-Akashi S-seijuurou?" tanya mereka bersamaan.
"Haii, tapi beruntung dengan latihan ini kemampuanku setidaknya semakin berkembang" Jawab Kagami polos.
"Ma, kalau seperti itu tak masalah bukan? Kita akan bersenang – senang di Winter Cup bukan?" Kiyoshi mencairkan suasana dan membuat senyuman terlukis di bibir tim Seirin.
"Ah, apa kalian melihat Akashi-kun?" Pertanyaan Kawahara mengalihkan perhatian seluruh tim. "Akhir – akhir ini aku jarang melihatnya"
"Mungkin dia sedang rapat Organisasi dewan siswa atau mungkin ada diantara kita namun tak terlihat" Celetuk Furihata.
"Aho, kalau begitu dia sudah pasti berbicara dari tadi. Hmm,, aku juga jarang melihat anak itu" ucap Hyuuga seraya berfikir.
"Mungkin dia masih berlatih Captain, setelah kekalahan kita dengan Fukuda waktu itu, Akashi - kun sering berlatih lebih lama bersama Momoi" ucap Hiroshi.
"Soukka, anak itu memang pekerja keras" Timpal kiyoshi.
"Apa menurut Senpai begitu? Tapi menurutku tidak" ucap Kagami
Kerutan – kerutan muncul di dahi pemain seirin yang lain, tak biasanya Kagami mengeluarkan pendapatnya sendiri. Sontak seluruh mata menatap Kagami dengan tatapan bingung sekaligus meminta penjelasan lebih darinya. Sedikit menghela nafas, Kagami mengerti apa yang diinginkan oleh rekan satu timnya itu.
"Begini, apa kalian tak merasa aneh dengan sikap Akashi belakangan ini?" Tim Seirin memiringkan kepalanya bingung.
"Apa maksudmu Kagami?" tanya Tsuchida.
"Maksudku, apa kalian tak menyadari perubahan sikap Akashi Tetsuya?" Tatapan bingung masih terlihat di wjaah Tim Seirin, Kagami menghela nafas dan mulai menjelaskan. "Akhir – akhir ini dia sering terlihat lebih diam, aku tau dia memang pendiam tapi tak seperti ini. Biasanya ia akan pulang dengan jemputan minimal 4 kali dalam 1 bulan oleh ke-4 kakaknya bergantian menjemput, tapi beberapa minggu ini yang ku lihat hanya Tanaka-san saja yang menjemputnya"
"Lalu apa yang aneh Kagami?" Hyuuga masih belum mengerti.
"Sebenarnya, Akashi sering pulang terlambat bahkan ia pernah tak pulang dan menginap di apartementku akhir – akhir ini. Alasannya adalah karna tak ingin merepotkan Tanaka-san"
"Jadi, Akashi sering berada di rumahmu?" Tanya Izuki.
"Begitulah, Senpai. Aku sering bertanya padanya, apa kakak – kakaknya tidak khawatir? Tapi dia menjawab mereka tak akan khawatir bahkan mereka mungkin juga tak pulang"
"Apa terjadi sesuatu pada keluarganya?" Furihata memberikan pertanyaan.
"Ntahlah, dia tak pernah bercerita tentang hal itu dan aku juga tak ingin ikut campur"
"Lebih baik kita biarkan saja terlebih dahulu, nanti ada saatnya ia akan bercerita. Fokus utama kita adalah kemenangan di Winter Cup" Ucap Kiyoshi.
"Haii!" Teriak Seirin semangat dan mulai bergegas menuju ruang ganti baju.
Sementara itu di lapangan Gym tersisa Momoi yang mencatat perkembangan dari setiap pemain juga data – data lawan yang akan mereka lawan nantinya di Winter Cup. Ia mengumpulkan data sebanyak – banyaknya, kemudian dianalisis dan ia akan memprediksi apa yang mungkin akan terjadi saat bertanding nantinya. Aida Riko yang merupakan sang pelatih pulang lebih awal untuk menanyakan strategi terbaik dari Aida Kagetora – papanya – juga untuk menangani kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi.
Di saat Momoi sendirian itulah, Tetsuya masuk ke Gym dengan seragam kemeja putih dan celana panjang. Wajah Tetsuya tampak kusut, helaian surai Baby Bluenya terlihat acak dan langkahnya juga terlihat lelah. Suara langkah kaki Tetsuya terdengar menggema di Gym yang kosong, biasanya tak akan ada yang menyadari kedatangannya, tapi sekarang? Tentu saja mereka akan tau dengan langkah kaki itu.
"Tetsu-kun?" Gumam Momoi saat melihat Tetsuya berjalan menuju keranjang yang penuh dengan Bola basket. Tetsuya melirik sekilas dan membulatkan matanya, ia tak sadar jika Momoi masih duduk disana.
"Ah, Sumimasen Momoi-san. Apa aku mengganggu?" tanyanya lembut.
"Iie" Momoi menggeleng cepat. "Latihan sudah selesai 10 menit yang lalu Tetsu-kun, apa kau mau latihan sendiri?" Tetsuya menghela nafas berat dan mengambil satu bola basket ditangannya.
"Aku sedang tak ingin berlatih Momoi-san" jawabnya singkat.
"Lalu, apa yang akan Tetsu-kun lakukan dengan bola itu?" Tetsuya melihat bola basket yang ada ditangannya.
"Ini?" Tetsuya menunjukkan bola yang ia putar di ujung jarinya. "Aku hanya ingin mengambilnya dan sedikit bermain untuk mengusir rasa lelah"
"Lelah?" Momoi yang tak mengerti tanpa sengaja memiringkan kepalanya bingung.
"Begitulah, aku sedikit lelah akhir – akhir ini. Kegiatan sekolah kita sering mendapatkan pujian juga kunjungan dari siswa dan siswi dari sekolah yang lain, tak jarang juga siswa maupun siswi SMP mulai mengagumi sekolah kita." Tetsuya berhenti sejenak, "Semakin banyak ide kegiatan yang ku tuangkan untuk sekolah ini, semakin banyak pula tuntutan yang ku dapatkan. Apa lagi dalam waktu dekat olympiade shogi, matematika dan Fisika akan di mulai dalam hitungan hari." Tetsuya menghela nafas dalam, "Rasanya semakin berat saja"
"kau akan mengikuti ketiga Olympiade itu Tetsu-kun?" Tetsuya mengangguk.
"Nii-san Tachi pernah mengikuti Olympiade yang sama dan berhasil menjadi juara, jadi…" Ntah kenapa kata – kata itu tertahan begitu saja di tenggorokkannya. Pelampiasan sekarang hanyalah bola basket di tangannya. Belum lagi ia melemparnya kearah ring, sebuah tepukkan di bahu menyadarkannya.
"Kalau kau tak sanggup, lebih baik tak usah kau lakukan Tetsu-kun." Tetsuya mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu Momoi-san? Kau mau mengatakan aku lemah?" Momoi menggeleng.
"Bukan seperti itu maksudku, aku tau kau mampu melakukannya, apa lagi kau memiliki otak yang cerdas. Aku yakin kau bisa melakukannya Tetsu-kun, tapi jangan terlalu memaksakan dirimu." Tetsuya tersenyum getir.
"Kau benar, aku mampu tapi sayangnya Sei-Nii menuntutku untuk melakukan semua yang telah Nii-san Tachi lakukan. Aku tak bisa mundur, Momoi-san" Tetsuya memeluk bola yang sedari tadi ia pegang, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih sendu juga ini pertama kalinya Momoi melihatnya.
"Kau tak harusnya mundur Tetsu-kun, kau hanya butuh sedikit pengertian mengenai kondisimu." Momoi menghela nafas sejenak. "Jujur saja, aku tau sampai mana batas kemampuanmu itu Tetsu-kun. Kau sebenarnya bisa melebihi kakak – kakakmu, tapi kau memiliki batasan dari segi fisik."
"Aku tau itu Momoi-san, tapi jika aku bersikap manja, aku tak yakin akan menyusul mereka dan.. Aku rasa semakin hari terasa semakin berat juga menyiksa" Tetsuya menunduk dalam, ntah kenapa ekspresi itu membuat siapapun merasa sakit karnanya.
"Tetsu-kun?"
"Aku tak mengerti, ntah kenapa aku merasa apa yang ku lakukan belum cukup Momoi-san. Ada saja jarak yang memisahkanku dengan kelima kakakku, bahkan keinginan untuk mengalahkan mereka terasa begitu jauh"
"Kenapa?" Tetsuya tertawa hambar.
"Mereka sekarang sedang memperlebar jarak yang pernah ku pertipis" Ntah kenapa, Tetsuya yang tadinya menunduk kini tubuhnya terasa lemas, mengetahui itu, Momoi buru – buru menarik Tetsuya menuju kursi panjang di dekat mereka.
"Lebih baik kau duduk dulu Tetsu-kun, kau kelihatan tak baik" Tetsuya mengikuti ucapan Momoi, ia tersenyum kecut saat sudah duduk di kursi itu.
"Kau lihat sendirikan Momoi-san, aku bahkan belum mencapai tujuan tapi tubuhku sudah hampir mencapai batasnya. Aku benar – benar tak bisa mengejar mereka"
Tetsuya terus menunduk walau sudah duduk dibangku panjang, disampingnya Momoi hanya bisa diam dan tak mampu mengatakan apapun. Sungguh, ia memang sudah mengetahui sedikit banyaknya peraturan keluarga Akashi itu dan bagaimana pula kerja keras yang harus mereka dapatkan hanya untuk kesempurnaan. Mungkin bagi kelima kakaknya, Momoi bisa mengerti, mereka akan sangat mudah untuk mendapatkannya, tapi Tetsuya? Momoi bahkan bisa merasakan bagaimana perjuangan yang Tetsuya lakukan saat ini.
Momoi tak bisa berkata apapun lagi dan hanya duduk diam memandangi ring basket yang ada didepannya saat ini. Ntah sejak kapan, keheningan terasa menyelimuti mereka berdua. Gym benar – benar terasa kosong karna Tim Seirin sedang berganti baju dan langsung bergegas pulang, Momoi sendiri memang ditugaskan diakhir karna menyiapkan laporannya terlebih kunci Gym ada di tangannya. Momoi bisa merasakan sesuatu yang berat di bahu kanannya, begitu ia melirik kearah tersebut, mata Momoi membulat melihat orang yang selama ini ia cintai tengah bersandar pada bahunya.
"Tetsu-kun…" Gumamnya.
Ia tak keberatan dengan apa yang dilakukan Tetsuya padanya, hanya sekedar bersandar tidak lebih. Dari jarak sedekat itu, Momoi bisa merasakan aroma shampo yang manis seperti vanilla yang membuat betah untuk mencium aromanya. Belum lagi surai lembut itu terlihat begitu indah dari jarak yang dekat dan membuat jantung Momoi berdegub lebih cepat. Tetsuya yang sadar akan pergerakkan kecil dari Momoi, sontak bergumam kecil.
"Gomen ne, Momoi-san. Jika kau tak keberatan, boleh aku bersandar padamu sebentar lagi?" Momoi mengedipkan matanya, tak menyangka jika Tetsuya sebenarnya sadar apa yang tengah ia lakukan, sontak warna merah menghias di pipinya.
"Un, aku tak keberatan" Tetsuya tersenyum kecil.
"Soukka, Arigatou Momoi-san" Setelahnya, Tetsuya memejamkan mata perlahan dan menikmati bahu Momoi sebagai sandarannya. Masih dalam posisi yang sama, Tetsuya bergumam kecil. "Ne, Momoi-san"
"Hm?"
"Aku ingin meminta bantuanmu, bisa?"
"Nani?" jawab Momoi lembut.
"Simpankan hadiah untuk ulang Tahun Sei-Nii dan berikan padanya tanggal 20 Desember nanti"
"Eh? A-aku tak mengerti Tetsu—kun, kenapa harus aku?"
"Karna Momoi-san sudah mengenal Sei-Nii" Momoi terdiam, jujur Seijuurou memang beberapa kali mengiriminya pesan berupa menu latihan untuk Kagami, tapi bukan berarti Momoi mengenalnya.
"A-aku.."
"Aku tau kalau Momoi-san sering mendapat pesan dari Sei-Nii, walau belum pernah bertemu, Setidaknya Momoi-san lebih mengetahui Sei-Nii dari yang lainnya. Karna itu, Aku harap Momoi-san mau melakukannya untukku"
"B-baiklah" Tetsuya kembali tersenyum kecil dan semakin dalam bersandar pada bahu Momoi yang sekarang terlihat seperti kepiting rebus karna wajahnya yang merah padam.
Gym yang biasanya terdengar ramai juga ricuh kini terasa menjadi tempat yang berbeda bagi dua orang yang duduk diam disana. Bola basket yang menggelinding pelan menjadi saksi bisu dua insan yang tengah disibukkan dengan fikiran masing – masing namun saling menumpu. Ring dan Lantai basket menyaksikan bagaimana rasa lelah Tetsuya dengan segala rutinitas juga tuntutan dari keluarganya. Tak ada suara di dalam Gym itu, bahkan peluit yang biasanya berbunyi nyaring rela menghilangkan suaranya untuk tak mengganggu istirahat pria dengan surai Baby Blue yang telah berjuang dengan keras.
To Be Continue...
